Burung, terbang lah Sebagaimana takdir kepak sayap mu Berbunyi lah, di remang bising pilu dunia Agar senang hati manusia melihat mu Ikan, berenang lah Isi lautan dengan karunia Tuhan kita Di jala nelayan, menari lah Bersama ombak yang mengantarkan kabar-kabar Kuda, berlarilah Temani para petualan...
Sepucuk surat sorgawi tiba di dunia Ketika suara tangisnya membuka gerbang hari baru Mengecup rembulan, ibunya Menangis berawan-awan lamanya Tertanda, bahagia diutus dalam nasibnya... Ayahnya berangkat dengan sabuk perwira Gagah mengelana lintang lantung perundiannya Sejenak sore berkumpul petang...
Sampai berita ini diturunkan Belum terlihat lagi cakrawala Pandanganku membentur beton-beton kota Yang kegagahannya menuding langit mengepal tinju menopang luka Sampai retak hati para pecinta Yang mendamba hidup sederhana saja Aku coba puisikan, tak dapat tertulis Lantas ku doakan, tak tergubris ...
Pernah lihat kah engkau? Bulan di saat sendirinya Bak pengemis menanti kasih dunia Ribuan malam telah sirna Ingatannya mengeja-eja nestapa Duduk memanggil, luka terpasang Membentuk ruang Yang bernama dendam? Pernahkah ia tahu rasa pedihnya hati para sarjana yang putus cinta? Pahamkah ia betapa bete
Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim Menimang rindu, sepanjang jalan ku Entah meniti apa, iman ku yang lugu Semesta menjauh, jiwa ku penuh Diisi denyar-denyar renung wajah Mu Terasing membiru, disepak luruh linang Di sudut sepi menyeka air mata cinta Dunia... Oh, Dunia... Jauh ...
Kau Tulis aku Lelap jatuh Denyut asmara Cinta Terang sudah Tunggu aku Di bukit rindu Kau Tirani ku Ombak agung Samudera jiwa Geram Jerat dendam Wajah-mu remang Terkepung angan panjang Kau Tenang hujan Kilau marjan Di muka hitam bulan Diri ku debu Mengemis kisah Paksakan cinta-cinta
Apa yang kau khawatirkan, kawan? Angin menderu seram di segenap zaman Penggalan aransir kekecewaan terdengar di setiap hulu pagi dan ujung petang Seakan hidup adalah orkestrasi bernada sumbang Yang dibawakan dengan riang oleh para pengacaunya. Apa yang perlu dikeluhkan? Selama tawa masih lebar Se...
Dalam deras arus waktu menggempur Di antara tanaman liar yang menjalar memakan pagar kehidupan Bongkahan mimpi pun tak se cemerlang dulu lagi Hanya sedikit cinta tersisa Tertulis di musim gugur mengering Dan hentakan kaki-kaki itu Yang menginjak-injak harapan.. Dengan angkuh hisapan cerutunya itu...
Seisi dunia boleh terbakar Oleh nafsu dan segala anak turunnya, Di kota ini pun cinta berangsur sirna, Seakan hidup hanya mengambil dan mengambil saja, Jalanan kering dari welas asih, Sorot mata mereka yang berpuasa seumur hidup tajam menukik ke lubuk, Keadilan bagai berlian merah berdarah, Langka
Antara rumah ku dan pintu-pintu langit Banyak jarak diternak Banyak jiwa polos gugur di medan perang nafsu dan dosa Berkeping-keping cahaya telak terinjak neraca yang timpang Bergeming sanubari Namun nutfah terpilih itu, memilih tidur dimanja kelonan neraka yang mereka kira sorga Menyamar dibalik...
Izin numpang nulis, karena suatu ketika ada keinginan untuk menulis. Suatu ketika manusia diciptakan dari tanah, mungkin bukan hanya dari jasadnya tanah, tapi terutama dari sifatnya tanah, Yakni bisa ditanami, bisa ditumbuhi, seperti tanah, Mungkin manusia adalah lahan bagi Tuhan untuk bercocok t...
Kita Unggun yang sejenak menyala Dibakar oleh cinta Berupaya mengukir udara Untuk kemudian berhembus Entah kemana Pada potongan ranting rintihanku Ada doa-doa yang tak pernah jadi abu Dan kelak serupa dupa-dupa Hanya wangi yang dibawa angin Entah kemana Namun, selagi bulan merona, kekasih Mau kah...
Aku rindu dijilat embun pagi Sambil bersepeda bersama desir angin dan mimpi Melaju tinggalkan suapan ibu Demi tawa lepas tanpa dosa Oh sahabat Ada yang tertinggal Dusun kecil di seberang mentari Tawa mu penetap pagi Setiap ku tatap layang-layang yang kita kejar dulu Sungguh aku tak peduli harganya
bila ada bagian dari diri ku yang ingin menetap disini tentu hanya harapan untuk dapat mengubah keadaan sungguh aku lebih ingin lebur bersama buih lautan tetapi sel-sel ku masih terhubung membentuk penjara berwujud raga dan tentu pula titipan ini akan ku pelihara bersama cita-cita orang tua dan s...
mungkin aku seperti malam yang tak begitu menyenangkan tapi kau rindukan mungkin aku seperti angin yang meredakan deru sesal mu tapi tak kau tau mungkin aku bagai pagi yang senang membangunkan mu tapi kau benci mungkin aku bagai daun-daun yang berguguran di kala kau berjalan menghias langkah mu n...
Aku cemburu pada dunia Ia merebut segala yang ku cintai Begitu memabukkan kah pesona mu? Jikalau kau anggap aku buta, tak mengapa Mata ku terbuka bukan untuk mengagumi mu Permisi, hai wanita tua Kita berjumpa bukan sekejap Namun hanya semenit waktu bagian barat negeri tuhan Sudikah kau biarkan aku
sudah lama tidak posting, saya ingin menulis suatu gagasan, ada pepatah, "sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat", tentu "bermanfaat" yang dimaksud adalah bermanfaat bagi orang lain, bukan bagi dirinya sendiri, dan di zaman dimana manusia hidup sudah seperti robot
Aku ingin hidup biasa bahagia dengan tawa yang tak terlalu lebar sedih seadanya sekedar air mata mengalir mengisi kering kenangan gembira dengan mu lewat cara-cara biasa Seperti memayungi mu kala hujan tiba Atau menyuapi mu dengan makanan biasa biar gurih cinta yang membuat nikmat rasa Tanpa perl...
lalu kita bisa dimana saja menghabisi hari-hari dengan basa basi menangisi apapun yang belum sempat ditangisi seluas mata memandang sebanyak kata-kata berkumandang mari menjelma menjadi emosi-emosi sementara bermain pasir dan disapu ombak menikmati sekejapnya tertawa sekejap tangis sekejap basa b...
semegah apapun istana itu, bila tak ada engkau, untuk apa? seindah apapun kota ini, bila kau tak hadir, untuk apa? secantik apapun wajah-wajah itu, bila membuatku lupa kepada mu, untuk apa? semolek dan seputih apapun tubuh mereka, bila tak ku dapati wangi mu di nafasnya, untuk apa? segala yang ada,