Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Kalau membahas tokoh besar Indonesia, nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX pasti tidak asing lagi. Beliau bukan hanya Sultan Yogyakarta, melainkan juga salah satu tokoh penting dalam sejarah Republik Indonesia. Sosok yang dikenal sederhana, cerdas, dan tangguh hingga usia lanjut ini meninggal dunia di Amerika Serikat pada tahun 1988.
Namun, sampai sekarang masih banyak masyarakat yang penasaran mengenai penyebab wafatnya beliau.
Berita resmi saat itu menyebutkan bahwa Sri Sultan HB IX meninggal akibat perdarahan dalam. Sayangnya, tidak dijelaskan secara rinci letak perdarahannya. Oleh karena itulah muncul berbagai dugaan, mulai dari serangan jantung mendadak, komplikasi tekanan darah rendah, sampai kelelahan berat akibat aktivitas yang padat.
Menariknya, jika dilihat dari sudut pandang medis modern, gejala yang dialami Sri Sultan HB IX sebelum wafat justru sangat mirip dengan kondisi aneurisma aorta abdominal atau aneurisma aorta perut yang pecah.
Thread ini akan membahas kondisi tersebut secara ilmiah.
Selamat menyimak

.
Quote:
Apa Itu Aneurisma Aorta Perut?
Aneurisma aorta perut (
abdominal aortic aneurysm) adalah pelebaran abnormal pada pembuluh darah aorta yang berada di daerah perut. Aorta sendiri merupakan pembuluh darah terbesar di tubuh manusia. Darah dari jantung dialirkan melalui aorta menuju seluruh tubuh. Karena tekanannya besar, dinding pembuluh ini harus sangat kuat.
Masalah muncul ketika sebagian dinding aorta melemah. Area yang lemah tersebut bisa melebar seperti balon. Semakin lama ukurannya bisa semakin besar dan rapuh.
Kalau aneurisma itu pecah, darah akan keluar sangat cepat dan banyak ke rongga perut dan menyebabkan perdarahan internal masif.
Nah, inilah yang membuat penyakit ini sangat mematikan.
Quote:
Mengapa Aneurisma Bisa Sangat Berbahaya?
Bahaya terbesar aneurisma bukan hanya pada pelebarannya, melainkan pada kemungkinan robekan mendadak. Ketika aneurisma pecah, penderita bisa kehilangan darah dalam jumlah besar hanya dalam waktu singkat. Karena perdarahannya terjadi di dalam tubuh dan tidak mengalir keluar, orang sekitar kadang tidak langsung sadar bahwa situasinya sangat gawat.
Gejala yang biasanya muncul, antara lain lemas mendadak, mual, muntah, nyeri perut atau punggung, keringat dingin, kulit pucat, tekanan darah turun drastis, serta pingsan.
Dalam dunia medis, kondisi kehilangan darah besar-besaran ini disebut syok hipovolemik.
Yang menarik, laporan mengenai kondisi Sri Sultan HB IX sebelum wafat menyebutkan bahwa beliau sempat lemas dan muntah-muntah. Gejala ini memang sangat cocok dengan syok hipovolemik berat akibat perdarahan internal.
Quote:
Mengapa Banyak Orang Mengira Serangan Jantung?
Banyak kasus aneurisma pecah awalnya memang dikira serangan jantung. Alasannya sederhana, yaitu gejalanya mirip. Penderita bisa mendadak pucat, lemas, berkeringat dingin, lalu kolaps.
Pada usia lanjut, kondisi seperti ini otomatis membuat orang langsung berpikir ke arah penyakit jantung. Padahal, mekanismenya berbeda. Pada serangan jantung, masalah utama berasal dari penyumbatan aliran darah ke otot jantung. Sedangkan pada aneurisma pecah, masalah utamanya adalah darah keluar dari pembuluh besar ke rongga tubuh.
Oleh karena itu, beberapa kasus aneurisma bahkan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan CT scan atau operasi darurat.
Quote:
Kondisi Sri Sultan HB IX Sebelum Wafat
Salah satu detail yang sering dibahas adalah kondisi Sri Sultan HB IX beberapa hari sebelum meninggal. Beliau sempat berada di Tokyo dan dilaporkan menggunakan kursi roda karena kelelahan berat. Menariknya, saat itu tidak ada kabar mengenai penyakit berat tertentu.
Bahkan, Sri Sultan HB IX juga dijadwalkan menjalani
medical check up di Amerika Serikat. Hal ini cukup menarik dari sudut pandang medis. Aneurisma aorta abdominal memang sering berkembang diam-diam tanpa gejala jelas. Banyak penderita masih terlihat sehat dan aktif sampai akhirnya terjadi ruptur atau pecah mendadak.
Kadang-kadang, ada gejala samar sebelum aorta pecah total, misalnya cepat lelah, nyeri perut ringan, nyeri punggung, tubuh terasa tidak fit, nafsu makan turun, hingga mual.
Dalam beberapa kasus, ada kondisi yang disebut
sentinel leak, yaitu kebocoran kecil pada aneurisma sebelum akhirnya benar-benar pecah besar. Gejalanya bisa berupa lemas, mual, atau penurunan kondisi fisik secara mendadak.
Oleh karena itulah, sebagian dokter dan pemerhati medis menduga penyebab wafat Sri Sultan HB IX kemungkinan besar memang berkaitan dengan aneurisma aorta perut yang robek mendadak.
Quote:
Mengapa Bisa Menyebabkan Muntah?
Sebagian orang mungkin bingung, mengapa perdarahan di perut yang tidak ada hubungannya dengan lambung bisa menyebabkan muntah?
Jawabannya berkaitan dengan syok dan gangguan sirkulasi tubuh. Saat tubuh kehilangan banyak darah, tekanan darah turun drastis, otak kekurangan suplai oksigen, sehingga sistem saraf otonom yang mengatur pencernaan terganggu. Akibatnya, sistem saraf otonom kemudian memicu refleks mual dan muntah.
Selain itu, darah yang menggenang di rongga perut juga dapat mengiritasi organ sekitar seperti lambung, sehingga memperparah rasa mual.
Oleh karena itu, kombinasi lemas berat dan muntah mendadak pada usia lanjut sebenarnya merupakan tanda darurat medis yang tidak boleh dianggap sepele.
Quote:
Siapa yang Berisiko Mengalami Aneurisma?
Aneurisma aorta perut paling sering terjadi pada pria usia di atas 65 tahun, penderita hipertensi, perokok, penderita kolesterol tinggi, dan orang dengan riwayat penyakit pembuluh darah. Faktor usia sendiri sudah meningkatkan risiko karena elastisitas pembuluh darah mulai menurun.
Yang menyeramkan, aneurisma kadang tidak memberikan gejala sama sekali sampai ukurannya sangat besar atau bahkan pecah.
Quote:
Apakah Bisa Dideteksi Lebih Awal?
Untungnya, saat ini aneurisma dapat dideteksi melalui USG abdomen, CT scan, dan MRI. Di beberapa negara maju, skrining aneurisma bahkan dianjurkan untuk pria lanjut usia yang punya riwayat merokok atau hipertensi. Kalau aneurisma ditemukan sebelum pecah, dokter bisa melakukan operasi pencegahan secepatnya.
Sekarang juga sudah ada metode EVAR (
endovascular aneurysm repair), yaitu pemasangan
graft melalui pembuluh darah tanpa operasi besar terbuka.
Sayangnya, teknologi medis pada akhir 80an masih belum secanggih sekarang.
Quote:
Mengapa Angka Kematiannya Tinggi?
Aneurisma aorta perut yang pecah termasuk salah satu kondisi gawat darurat paling mematikan dalam bedah vaskular.
Banyak pasien meninggal bahkan sebelum tiba di rumah sakit karena perdarahannya terlalu banyak dan cepat. Kalaupun sempat dioperasi, peluang hidup sangat bergantung pada seberapa cepat penanganan dilakukan, jumlah darah yang hilang, kondisi jantung pasien, hingga usia penderita.
Pada usia lanjut, kemampuan tubuh bertahan terhadap kehilangan banyak darah memang jauh lebih rendah.
Quote:
PENUTUP
Kasus wafatnya Sri Sultan HB IX menunjukkan bahwa penyakit mematikan tidak selalu datang dengan gejala dramatis sejak awal. Aneurisma aorta perut adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa tetap aktif, bepergian, bahkan terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya terdapat kondisi yang sangat berbahaya.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin pada usia lanjut sangat penting, terutama bagi penderita hipertensi, kolesterol tinggi, dan riwayat merokok.
Mudah-mudahan thread ini bisa menambah wawasan GanSist tentang salah satu penyakit pembuluh darah paling mematikan yang sering datang diam-diam tanpa gejala jelas.
Terima kasih sudah membaca thread ini sampai selesai, silakan berdiskusi di kolom komentar

.
Quote:
SUMBER
Johnston, K. W., Rutherford, R. B., Tilson, M. D., Shah, D. M., Hollier, L., & Stanley, J. C. (1991). Suggested standards for reporting on arterial aneurysms.
Journal of Vascular Surgery,
13(3), 452–458.
Kent, K. C. (2014). Clinical practice. Abdominal aortic aneurysms.
The New England Journal of Medicine,
371(22), 2101–2108.
Mayo Clinic Staff. (2024).
Abdominal aortic aneurysm. Mayo Clinic. Diperoleh tanggal 29 Mei 2026, dari:
https://www.mayoclinic.org/diseases-...s/syc-20350688
National Health Service. (2024).
Abdominal aortic aneurysm (AAA). NHS UK. Diperoleh tanggal 29 Mei 2026, dari:
https://www.nhs.uk/conditions/abdomi...rtic-aneurysm/
Sakalihasan, N., Limet, R., & Defawe, O. D. (2005). Abdominal aortic aneurysm.
The Lancet,
365(9470), 1577–1589.
Upchurch, G. R., & Schaub, T. A. (2006). Abdominal aortic aneurysm.
American Family Physician,
73(7), 1198–1204.
@pabuaranwetan @sahabat.006 @bitha