Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN HOROR] Aku Menjadi Milik Dia
[CERPEN HOROR] Aku Menjadi Milik Dia
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi paling mirip dari Hantu Kuroniji)


Bella masih ingat dengan sangat jelas aroma rumah itu, campuran antara aroma kayu tua, bedak bayi, dan sesuatu yang samar, seperti besi basah.

Rumah itu adalah rumah Tante Yuli, adik kandungnya ibunya Bella.

Saat itu, usia Bella baru 5 tahun. Dunia masih terasa sederhana bagi gadis kecil itu, bermain boneka, makan es krim, dan menangis jika tidak dibelikan mainan. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Bella kecil merasa tidak nyaman setiap kali berkunjung ke rumah itu, cara Tante Yuli memandangnya saat siang hari.

“Bella, kalau mau keluar rumah, tidur dulu di kamar Tante, ya,” ucap Tante Yuli suatu siang, dengan suara lembut tetapi tegas

Bella mengerutkan keningnya.

“Kenapa Bella harus tidur siang sih, Tante? Bella kan mau main!”

Tante Yuli tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Kalau Bella keluar rumah dan nggak mau tidur siang, nanti Mama bisa digigit sampai berdarah, terus Mama bisa kehabisan darah.”

Bella terdiam. Ucapan itu terlalu aneh untuk anak seusianya, tetapi cukup menakutkan untuk membuatnya berpikir.

“Digigit… sama siapa?” tanya Bella pelan

Tante Yuli mendekat, berjongkok, dan berbisik ke Bella.

“Hantu laki-laki berjubah hitam. Namanya Hantu Kuroniji.”

Bella langsung mundur.

“Ah, Tante Yuli bohong! Itu bukan hantu! Itu anjing! Kata Bu Guru, kalau digigit sampai berdarah, ya digigit sama anjing tetangga!”

Tante Yuli menggeleng perlahan.

“Itu bukan anjing tetangga, Bella. Itu hantu yang muncul di siang hari. Hantunya nggak kelihatan, kecuali kalau hantunya mau.”

“Yang digigit juga bukan Mama, tapi Bella sendiri!”

Bella membantah dengan polos, mencoba mencari logika dari ketakutannya. Namun, Tante Yuli tetap pada pendiriannya.

“Kalau Bella kasihan sama Mama… Bella harus tidur siang.”

Kalimat itu menusuk. Bella kecil mungkin tidak sepenuhnya mengerti tentang hantu, tetapi ia mengerti tentang rasa sayang. Bella tidak tega melihat ibunya kesakitan. Ia tidak tega kalau ibunya kehabisan darah, meski Bella sendiri tidak tahu seperti apa kehabisan darah itu.

Akhirnya, dengan wajah cemberut dan mata setengah berkaca-kaca, Bella menuruti.

Bella tidur di kamar Tante Yuli, dan setiap kali ia tidur siang di sana, ia selalu bermimpi. Seorang pria berdiri jauh di sudut ruangan. Wajahnya tidak jelas. Tubuhnya tertutup bayangan gelap. Namun, ada satu hal yang selalu sama, yaitu sepasang mata yang menatapnya tanpa berkedip.

***

Delapan belas tahun berlalu.

Bella kini berusia 23 tahun. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota. Hidupnya cukup normal, sibuk, lelah, dan kadang kesepian.

Suatu hari, ibunya berkata.

“Bella, kapan-kapan main ke rumah Tante Yuli, ya. Sudah lama kamu nggak ke sana.”

Bella menghela napas kecil. Ia tidak pernah benar-benar menyukai rumah itu. Namun, demi ibunya, ia akhirnya pergi.

Rumah itu masih sama.

Catnya sedikit mengelupas, pagar besinya berderit saat dibuka, dan udara di dalamnya masih terasa aneh.

“Tante…” sapa Bella

“Bella!”

Tante Yuli, kini berusia sekitar 50 tahun, memeluknya dengan hangat. Anehnya, pelukan itu terasa dingin.

“Sudah besar ya kamu,” ucap Tante Yuli

Bella tersenyum sopan.

Setelah mengobrol sebentar, Bella diantar ke kamar lama Tante Yuli, kamar yang dulu sering ia gunakan untuk tidur siang.

Saat Bella masuk, bulu kuduk Bella langsung meremang. Kamar itu tidak berubah sama sekali. Tempat tidur yang sama. Lemari kayu yang sama. Bahkan tirai jendela yang sama.

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di dinding sebelah kanan, tergantung selembar kain hitam besar.

“Dulu ini nggak ada…” gumam Bella

“Tante ke dapur dulu ya,” ucap Tante Yuli, lalu keluar

Bella mendekati kain itu. Ada rasa penasaran yang aneh, seolah-olah sesuatu sedang memanggilnya.

Perlahan, Bella menyibakkan kain hitam itu, dan seketika, jantungnya berhenti berdetak.

Di balik kain itu, terdapat sebuah foto besar. Seorang pria berambut curly low fade. Wajahnya sangat simetris. Hidungnya mancung, alisnya tebal, bibirnya tipis. Kulitnya pucat, tetapi memancarkan aura yang sulit dijelaskan.

Pria itu mengenakan jaket kulit hitam. Tatapannya tajam. Dan entah mengapa, Bella tidak bisa berpaling.

“Siapa… ini…” bisik Bella

Tiba-tiba, ruangan terasa lebih dingin, dan dari dalam foto itu, pria itu terlihat seolah-olah sedang tersenyum.

***

Seminggu kemudian, Bella mulai merasa ada yang berbeda dalam hidupnya. Ia tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai. Yang ia ingat, suatu sore, saat ia berjalan pulang dari kantor, seseorang berdiri di tepi jalan.

Pria itu, persis seperti di foto.

“Bella.”

Suaranya lembut, dalam, dan menenangkan.

Bella terdiam.

“Siapa kamu?”

Pria itu tersenyum.

“Aku sudah lama kenal kamu.”

Seharusnya, Bella merasa takut, tetapi anehnya Bella tidak takut. Ada sesuatu dalam dirinya yang justru merasa nyaman.

***

Sejak hari itu, pria itu sering muncul. Mereka berjalan bersama dan tertawa bersama, seolah-olah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

Suatu hari, pria itu mengajak Bella ke pantai.

Angin laut berhembus lembut. Ombak berkejaran di kejauhan.

“Ayo, kita main air,” ucap pria itu

Bella tertawa kecil.

“Kamu seperti anak kecil.”

“Tapi kamu suka, kan?”

Bella tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Di saat itu, pria itu memberikan sesuatu.

Setangkai bunga mawar putih.

“Ini untukmu.”

Bella menerimanya. Jantungnya berdebar.

Malamnya, mereka makan bersama di sebuah restoran. Pria itu selalu memperlakukan Bella dengan perhatian dan kelmbutan yang nyaris berlebihan, dan tanpa Bella sadari, ia mulai jatuh cinta.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

***

Tiga minggu kemudian, sesuatu berubah.

Hari itu, Bella sedang berbicara dengan rekan kerjanya, seorang pria.

Mereka hanya bercanda ringan.

Namun, tiba-tiba, ada suara penuh kemarahan.

“Jadi, ini yang kamu lakukan di belakangku?”

Suara itu dingin.

Bella menoleh. Pria itu berdiri di belakangnya. Wajahnya berbeda. Lebih gelap. Lebih tajam.

“Ini cuma teman kantorku,” jawab Bella jujur

Tanpa peringatan, pria itu menjambak rambutnya.

“Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain.”

Bella terkejut.

“Lepas!” teriak Bella

Namun, pria itu semakin kuat menarik rambutnya. Bella merasa sangat kesakitan.

Amarah Bella meledak. Ia menjambak balik.

“Jangan sentuh aku!”

Pria itu terdiam sejenak, lalu membalas.

Mereka saling menjambak dan tarik-menarik. Amarah kini bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, yaitu obsesi.

“Kamu milikku!” bentak pria itu

“Bukan!” marah Bella, berusaha melawan

“Bella! Kamu milikku!”

“Tidak!”

Tarikan demi tarikan terjadi.

Hingga akhirnya, pria itu berhenti. Napasnya berat. Kemudian, pria itu melepaskan Bella.

“Maaf…”

Suara pria itu berubah menjadi lembut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Bella terdiam. Hatinyanya kacau. Namun, entah mengapa, ia masih bertahan.

***

Dua bulan berlalu, dan perlahan, kenyataan mulai merayap masuk.

Bella mulai menyadari hal-hal aneh.

Pria itu tidak pernah muncul di siang hari yang ramai. Bayangannya tidak ada. Dan yang paling mengerikan, ia tidak pernah melihat pria itu terluka atau mengeluarkan darah, seolah-olah pria itu memang tidak punya darah.

Suatu malam, Bella terbangun dan melihat sesuatu di cermin.

Pria itu berdiri di belakangnya, tetapi bayangannya di cermin tidak ada.

Jantung Bella berdegup kencang.

“Siapa kamu sebenarnya?” bisik Bella dengan gemetar

Pria itu tersenyum. Namun, kali ini, senyum itu menakutkan.

“Aku yang selalu menjagamu sejak kecil.”

Bella melangkah mundur. Ingatannya kembali. Kamar itu. Foto itu. Dan…

“Hantu Kuroniji…” gumam Bella

Pria itu tidak menyangkal.

“Sekarang kamu sudah tahu.”

Bella mulai marah.

“Apa yang kamu inginkan dariku?!”

Pria itu mendekat.

“Sejak dulu… kamu sudah menjadi milikku.”

Bella berlari. Ia tidak peduli. Ia harus menjauh.

***

Saat ia sampai di rumah ibunya, Bella langsung membeku. Ibunya terbaring lemah. Wajahnya pucat seperti kehabisan darah, tubuhnya kurus seperti orang yang sakit bertahun-tahun.

“Tante bilang…” gumam Bella

Tangannya gemetar.

“Nggak…”

Bella segera membawa ibunya ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ibunya mengalami anemia berat tanpa tanda-tanda perdarahan. Dokter harus segera melakukan transfusi darah.

Bella hampir pingsan. Semua ini nyata. Semua peringatan itu bukan kebohongan.

Setelah ibunya stabil, Bella membuat keputusan. Ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang itu. Ia mencari bantuan. Mencari cara untuk membebaskan diri.

Dan akhirnya, Bella menemukan seseorang yang mengerti, yaitu seorang kakek tua di sebuah desa terpencil yang mengajarinya ritual pembebasan arwah.

***

Malam itu, Bella berdiri di tengah ruangan. Lilin-lilin menyala. Udara terasa berat.

“Pergilah… lepaskan aku…” ucap Bella dengan suara bergetar

Tiba-tiba, angin berhembus kencang, lilin-lilin bergoyang, dan pria itu muncul.

“Tidak.”

Suaranya menggema.

“Kamu milikku.”

Bella menggigit bibirnya.

“Tidak mau! Aku tidak mau lagi!” marah Bella

Bella melanjutkan ritual.

Pria itu berteriak. Wajahnya berubah. Tidak lagi tampan, tetapi mengerikan, seperti bayangan hitam yang retak.

“AKU TIDAK AKAN PERGI!”

Namun Bella tidak berhenti. Ia menguatkan diri, dan dengan satu teriakan terakhir…

“LEPASKAN AKU!” teriak Bella

Suasana seketika hening. Pria itu menghilang.

***

Beberapa minggu kemudian, hidup Bella perlahan kembali normal. Ibunya sudah pulang dari rumah sakit.

Pada suatu hari, ibunya berkata.

“Ada seseorang yang ingin Mama kenalkan.”

Bella menghela napas.

Seorang pria datang. Namanya Fahri. Usianya 32 tahun. Tubuhnya gemuk. Wajahnya biasa saja. Namun, matanya hangat dan senyumnya tulus.

“Gue nggak seganteng dia,” ucap Fahri jujur

“Tapi gue nggak akan menyakiti lo.”

Bella terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman.

***

Waktu terus berlalu, dan secara perlahan, Bella belajar mencintai. Bukan karena pesona. Bukan karena obsesi. Melainkan karena ketulusan.

Dan pada akhirnya, Bella menikah dengan Fahri. Mereka hidup bahagia.

Namun, di suatu malam, saat Bella menatap cermin, ia sempat melihat bayangan hitam yang muncul sekilas, lalu hilang.

Bella menutup mata dan berbisik.

“Aku bukan milikmu lagi.”

Namun, jauh di dalam kegelapan, sebuah suara menjawab pelan.

“Kita lihat saja…”

TAMAT

@rizkync108 @pabuaranwetan @riodgarp
Diubah oleh aurora.. 09-05-2026 17:22
Double HAvatar border
littlesmithAvatar border
kubelti3Avatar border
kubelti3 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
512
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan