- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Sebelum Jadi Abu, Aku Ingin Kamu Ingat Cara Kita Menertawakan Hujan
TS
ochuqueena
Sebelum Jadi Abu, Aku Ingin Kamu Ingat Cara Kita Menertawakan Hujan
Pernahkah kamu merasa, orang yang paling mengerti rahasiamu justru orang yang paling mustahil kamu miliki? Kita tidak sedang bicara tentang kematian, tapi tentang sesuatu yang lebih perih: kita masih sama-sama bernapas, masih saling membalas pesan di jam dua pagi, tapi kita sadar bahwa jalan yang kita tempuh hanya akan berakhir sebagai dua garis sejajar yang tak pernah bisa bersinggungan.
Jujur saja, dunia ini kadang punya cara yang aneh untuk mempertemukan dua manusia. Kita dipertemukan saat hati kita sama-sama sudah "penuh". Bukan penuh oleh cinta yang bahagia, tapi penuh oleh tanggung jawab dan komitmen pada orang lain yang sudah lebih dulu ada. Kita seperti dua orang yang menemukan buku favorit di perpustakaan, tapi sayangnya buku itu sudah dipinjam orang lain selamanya. Kita hanya bisa membaca sinopsisnya di sampul belakang, sambil membayangkan betapa indahnya jika kita bisa memilikinya secara utuh.
Malam ini, di teras rumah yang sepi, aku hanya ditemani layar ponsel yang menyala. Di sana, ada namamu, **Kala**. Nama yang unik, sependek waktu yang kita punya untuk merasa bahagia, namun sepanjang ingatan yang akan kubawa sampai aku tua. Kamu sedang mengetik. Aku menunggu. Di luar, hujan turun dengan ritme yang sama seperti saat terakhir kita bertemu di sebuah kedai kopi pinggir jalan, tiga tahun yang lalu.
“Hujannya awet ya,” ketikmu.
Singkat. Sederhana. Tapi entah kenapa, dadaku sesak. Kamu bukan sedang bicara soal cuaca, Kala. Kamu sedang bicara soal rindu yang tidak kunjung reda, meski kita sudah sepakat untuk tidak lagi saling mencari.
Dulu, sebelum segalanya menjadi rumit, kita adalah dua orang yang paling ahli menertawakan hal-hal konyol. Ingat tidak saat motor kita mogok di tengah hujan deras di jalanan menanjak menuju kota? Kita basah kuyup, sepatu kita berubah jadi kolam air kecil, dan riasan wajahmu luntur tak bersisa. Bukannya mengeluh, kamu malah tertawa sampai tersedak, mengejek penampilanku yang katanya mirip kucing kecebur got.
“Kita ini bego atau gimana sih?” katamu waktu itu, sambil mengelap wajah dengan ujung kaos yang juga basah.
“Kita nggak bego, Kala. Kita cuma terlalu bahagia sampai lupa kalau hujan itu dingin,” jawabku.
Momen itu adalah puncak dari segalanya. Sebelum ego, keadaan, dan restu yang tak kunjung datang menghancurkan apa yang kita bangun. Kita punya rasa yang besar, tapi kita hidup di dunia yang menuntut logika. Kamu dengan duniamu yang sudah tertata, dan aku dengan segala ketidaksiapanku. Kita merahasiakan rasa ini begitu rapat, sampai-kadang aku berpikir—apakah rasa ini benar-benar ada atau hanya halusinasiku saja?
Masalahnya, menahan keinginan untuk memilikimu itu lebih melelahkan daripada berlari maraton. Setiap kali kita chat seperti ini, ada bagian dari diriku yang berteriak ingin bilang, *"Ayo pergi, tinggalkan semuanya, kita mulai dari awal."* Tapi kita berdua tahu, kita bukan karakter di film remaja. Kita orang dewasa yang punya hati yang harus dijaga di tempat lain. Kita saling sayang, tapi kita juga saling menyakiti hanya dengan tetap berkomunikasi.
Kadang aku mikir, kenapa aku tidak memperjuangkanmu dari dulu? Kenapa aku membiarkan waktu menarikmu menjauh sampai titik di mana kita hanya bisa terhubung lewat sinyal digital? Ada penyesalan yang selalu datang tiap kali aku melihat status WhatsApp-mu. Kamu sedang bahagia dengan hidupmu, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Dan aku? Aku masih di sini, meratapi skenario "bagaimana jika" yang tidak akan pernah jadi nyata.
"Kala," aku mulai mengetik, jariku sedikit gemetar. "Kalau seandainya waktu itu aku nggak melepas tanganmu di stasiun, apa kita bakal sesakit ini sekarang?"
Butuh waktu lama bagimu untuk membalas. Status *typing* itu muncul dan hilang berkali-kali. Mungkin kamu juga sedang menghapus air mata, atau mungkin kamu sedang mencari kata-kata yang paling tidak menyakitkan untuk diucapkan.
"Mungkin kita nggak bakal sesakit ini," balasmu akhirnya. "Tapi mungkin kita juga nggak bakal menghargai kenangan kita seindah sekarang. Kadang, ada hal-hal yang memang lebih cantik kalau nggak sempat dimiliki sepenuhnya."
Jawabanmu selalu bijak, dan itu yang membuatku makin benci kenyataan bahwa kita tidak bersama. Kamu seperti cermin yang memantulkan semua kekuranganku, tapi dengan cara yang paling lembut. Kita ini aneh. Kita tahu ke depannya hubungan ini tidak akan jadi apa-apa. Tidak ada pelaminan, tidak ada rumah impian dengan taman kecil, tidak ada masa tua bersama. Yang ada hanya chat yang makin lama mungkin akan makin jarang, sampai akhirnya salah satu dari kita lupa untuk membalas, atau terpaksa menghapus nomor karena tuntutan keadaan.
Kita berada di fase di mana kita harus melepaskan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali kita pertahankan seumur hidup. Kamu adalah rumah yang tidak bisa kudatangi, dan aku adalah pelabuhan yang kapalnya tidak pernah kamu tumpangi. Kita hanya dua manusia yang saling menjaga lewat doa-doa rahasia dan percakapan layar sentuh yang terasa dingin.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah—petrichor yang selalu kamu sukai. Aku memandang layar ponselku sekali lagi. Foto profilmu masih sama, senyum tipis yang selalu membuatku merasa tenang sekaligus gelisah.
"Aku cuma ingin kamu ingat satu hal, Kala," tulisku. "Sebelum semuanya benar-benar jadi abu, sebelum perasaan ini terkubur oleh rutinitas dan orang-orang baru di hidup kita nanti... aku ingin kamu ingat cara kita menertawakan hujan waktu itu. Tolong simpan bagian itu saja. Jangan simpan bagian saat kita menangis karena harus berpisah."
Kamu tidak membalas lagi. Hanya ada centang dua biru. Aku tahu kamu membacanya. Aku bisa membayangkanmu mengangguk pelan di seberang sana, di kotamu yang jauh, sambil menatap langit yang sama.
Kita mungkin masih hidup di dunia yang sama, menghirup udara yang sama, dan mungkin suatu saat nanti tanpa sengaja berpapasan di bandara atau pusat perbelanjaan. Tapi kita tahu, saat itu terjadi, kita hanya akan menjadi dua orang asing yang membawa beban kenangan yang sama beratnya. Kita tidak akan saling menyapa, mungkin hanya saling melempar senyum getir yang penuh arti, lalu kembali berjalan ke arah yang berlawanan.
Lucu ya, kita punya semua akses untuk saling bicara, tapi kita tidak punya satu pun alasan untuk tetap tinggal. Kita terjebak dalam ruang tunggu abadi, menunggu sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah datang menjemput.
Aku meletakkan ponselku di meja, membiarkannya gelap. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang sudah menjadi kawan akrab selama beberapa tahun terakhir ini. Besok, hidup akan berjalan seperti biasa. Aku akan bekerja, kamu akan dengan kesibukanmu, dan rahasia ini akan tetap menjadi rahasia yang paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah aku punya.
Ternyata benar kata orang, hal yang paling melelahkan dari mencintai adalah berpura-pura bahwa kamu sudah tidak lagi membutuhkannya, padahal setiap detaknya masih memanggil namanya.
Terima kasih sudah pernah ada, Kala. Meskipun hanya sebagai paragraf yang tak sempat selesai dalam buku hidupku.
Setidaknya, di suatu tempat di masa lalu, kita pernah benar-benar bahagia hanya karena hujan deras dan motor yang mogok. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk menemaniku menua, meski tanpamu.
Sebab pada akhirnya, kita bukan sedang kehilangan satu sama lain. Kita hanya sedang mengembalikan apa yang memang sejak awal bukan milik kita.
Jujur saja, dunia ini kadang punya cara yang aneh untuk mempertemukan dua manusia. Kita dipertemukan saat hati kita sama-sama sudah "penuh". Bukan penuh oleh cinta yang bahagia, tapi penuh oleh tanggung jawab dan komitmen pada orang lain yang sudah lebih dulu ada. Kita seperti dua orang yang menemukan buku favorit di perpustakaan, tapi sayangnya buku itu sudah dipinjam orang lain selamanya. Kita hanya bisa membaca sinopsisnya di sampul belakang, sambil membayangkan betapa indahnya jika kita bisa memilikinya secara utuh.
Malam ini, di teras rumah yang sepi, aku hanya ditemani layar ponsel yang menyala. Di sana, ada namamu, **Kala**. Nama yang unik, sependek waktu yang kita punya untuk merasa bahagia, namun sepanjang ingatan yang akan kubawa sampai aku tua. Kamu sedang mengetik. Aku menunggu. Di luar, hujan turun dengan ritme yang sama seperti saat terakhir kita bertemu di sebuah kedai kopi pinggir jalan, tiga tahun yang lalu.
“Hujannya awet ya,” ketikmu.
Singkat. Sederhana. Tapi entah kenapa, dadaku sesak. Kamu bukan sedang bicara soal cuaca, Kala. Kamu sedang bicara soal rindu yang tidak kunjung reda, meski kita sudah sepakat untuk tidak lagi saling mencari.
Dulu, sebelum segalanya menjadi rumit, kita adalah dua orang yang paling ahli menertawakan hal-hal konyol. Ingat tidak saat motor kita mogok di tengah hujan deras di jalanan menanjak menuju kota? Kita basah kuyup, sepatu kita berubah jadi kolam air kecil, dan riasan wajahmu luntur tak bersisa. Bukannya mengeluh, kamu malah tertawa sampai tersedak, mengejek penampilanku yang katanya mirip kucing kecebur got.
“Kita ini bego atau gimana sih?” katamu waktu itu, sambil mengelap wajah dengan ujung kaos yang juga basah.
“Kita nggak bego, Kala. Kita cuma terlalu bahagia sampai lupa kalau hujan itu dingin,” jawabku.
Momen itu adalah puncak dari segalanya. Sebelum ego, keadaan, dan restu yang tak kunjung datang menghancurkan apa yang kita bangun. Kita punya rasa yang besar, tapi kita hidup di dunia yang menuntut logika. Kamu dengan duniamu yang sudah tertata, dan aku dengan segala ketidaksiapanku. Kita merahasiakan rasa ini begitu rapat, sampai-kadang aku berpikir—apakah rasa ini benar-benar ada atau hanya halusinasiku saja?
Masalahnya, menahan keinginan untuk memilikimu itu lebih melelahkan daripada berlari maraton. Setiap kali kita chat seperti ini, ada bagian dari diriku yang berteriak ingin bilang, *"Ayo pergi, tinggalkan semuanya, kita mulai dari awal."* Tapi kita berdua tahu, kita bukan karakter di film remaja. Kita orang dewasa yang punya hati yang harus dijaga di tempat lain. Kita saling sayang, tapi kita juga saling menyakiti hanya dengan tetap berkomunikasi.
Kadang aku mikir, kenapa aku tidak memperjuangkanmu dari dulu? Kenapa aku membiarkan waktu menarikmu menjauh sampai titik di mana kita hanya bisa terhubung lewat sinyal digital? Ada penyesalan yang selalu datang tiap kali aku melihat status WhatsApp-mu. Kamu sedang bahagia dengan hidupmu, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Dan aku? Aku masih di sini, meratapi skenario "bagaimana jika" yang tidak akan pernah jadi nyata.
"Kala," aku mulai mengetik, jariku sedikit gemetar. "Kalau seandainya waktu itu aku nggak melepas tanganmu di stasiun, apa kita bakal sesakit ini sekarang?"
Butuh waktu lama bagimu untuk membalas. Status *typing* itu muncul dan hilang berkali-kali. Mungkin kamu juga sedang menghapus air mata, atau mungkin kamu sedang mencari kata-kata yang paling tidak menyakitkan untuk diucapkan.
"Mungkin kita nggak bakal sesakit ini," balasmu akhirnya. "Tapi mungkin kita juga nggak bakal menghargai kenangan kita seindah sekarang. Kadang, ada hal-hal yang memang lebih cantik kalau nggak sempat dimiliki sepenuhnya."
Jawabanmu selalu bijak, dan itu yang membuatku makin benci kenyataan bahwa kita tidak bersama. Kamu seperti cermin yang memantulkan semua kekuranganku, tapi dengan cara yang paling lembut. Kita ini aneh. Kita tahu ke depannya hubungan ini tidak akan jadi apa-apa. Tidak ada pelaminan, tidak ada rumah impian dengan taman kecil, tidak ada masa tua bersama. Yang ada hanya chat yang makin lama mungkin akan makin jarang, sampai akhirnya salah satu dari kita lupa untuk membalas, atau terpaksa menghapus nomor karena tuntutan keadaan.
Kita berada di fase di mana kita harus melepaskan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali kita pertahankan seumur hidup. Kamu adalah rumah yang tidak bisa kudatangi, dan aku adalah pelabuhan yang kapalnya tidak pernah kamu tumpangi. Kita hanya dua manusia yang saling menjaga lewat doa-doa rahasia dan percakapan layar sentuh yang terasa dingin.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah—petrichor yang selalu kamu sukai. Aku memandang layar ponselku sekali lagi. Foto profilmu masih sama, senyum tipis yang selalu membuatku merasa tenang sekaligus gelisah.
"Aku cuma ingin kamu ingat satu hal, Kala," tulisku. "Sebelum semuanya benar-benar jadi abu, sebelum perasaan ini terkubur oleh rutinitas dan orang-orang baru di hidup kita nanti... aku ingin kamu ingat cara kita menertawakan hujan waktu itu. Tolong simpan bagian itu saja. Jangan simpan bagian saat kita menangis karena harus berpisah."
Kamu tidak membalas lagi. Hanya ada centang dua biru. Aku tahu kamu membacanya. Aku bisa membayangkanmu mengangguk pelan di seberang sana, di kotamu yang jauh, sambil menatap langit yang sama.
Kita mungkin masih hidup di dunia yang sama, menghirup udara yang sama, dan mungkin suatu saat nanti tanpa sengaja berpapasan di bandara atau pusat perbelanjaan. Tapi kita tahu, saat itu terjadi, kita hanya akan menjadi dua orang asing yang membawa beban kenangan yang sama beratnya. Kita tidak akan saling menyapa, mungkin hanya saling melempar senyum getir yang penuh arti, lalu kembali berjalan ke arah yang berlawanan.
Lucu ya, kita punya semua akses untuk saling bicara, tapi kita tidak punya satu pun alasan untuk tetap tinggal. Kita terjebak dalam ruang tunggu abadi, menunggu sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah datang menjemput.
Aku meletakkan ponselku di meja, membiarkannya gelap. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang sudah menjadi kawan akrab selama beberapa tahun terakhir ini. Besok, hidup akan berjalan seperti biasa. Aku akan bekerja, kamu akan dengan kesibukanmu, dan rahasia ini akan tetap menjadi rahasia yang paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah aku punya.
Ternyata benar kata orang, hal yang paling melelahkan dari mencintai adalah berpura-pura bahwa kamu sudah tidak lagi membutuhkannya, padahal setiap detaknya masih memanggil namanya.
Terima kasih sudah pernah ada, Kala. Meskipun hanya sebagai paragraf yang tak sempat selesai dalam buku hidupku.
Setidaknya, di suatu tempat di masa lalu, kita pernah benar-benar bahagia hanya karena hujan deras dan motor yang mogok. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk menemaniku menua, meski tanpamu.
Sebab pada akhirnya, kita bukan sedang kehilangan satu sama lain. Kita hanya sedang mengembalikan apa yang memang sejak awal bukan milik kita.
defiax dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.9K
24
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan