- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Purbaya Kritik Ramalan World Bank untuk RI: Minta Maaf Jika Salah
TS
jaguarxj220
Purbaya Kritik Ramalan World Bank untuk RI: Minta Maaf Jika Salah
Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan World Bank atau Bank Dunia harus meminta maaf jika proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya 4,7% pada 2026 akhirnya salah.
Purbaya menegaskan sejumlah data yang ia punya tidak menunjukkan kondisi tersebut, lantaran pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 ditargetkan tembus di level 5,6%. Menurut Purbaya, Bank Dunia salah melakukan penghitungan terkait ekonomi Indonesia.
“Kan triwulan pertama saja mungkin 5,5%-5,6% atau lebih. Berarti World Bank menghitung kita mau resesi turun ke bawah sekali. Saya pikir World Bank salah hitung,” kata Purbaya ditemui di Kementerian Keuangan, Kamis (9/4/2026).
Menurut Purbaya, World Bank meramal pertumbuhan ekonomi RI berdasarkan harga minyak dunia yang terus meroket. Proyeksi tersebut, kata dia, menimbulkan sentimen negatif bagi Indonesia.
“Dia [World Bank] sudah melakukan dosa besar. Dia menimbulkan sentimen negatif bagi kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal, kalau dia mau ubah prediksi ekonominya lagi,” tutur Purbaya.
Bukan tanpa alasan, Purbaya optimistis dengan angka pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2026 di level 5,6% lantaran sejumlah program telah dijalankan dengan baik.
Tak hanya itu, bahkan mesin pertumbuhan ekonomi RI terus dioptimalkan hingga sistem keuangan RI juga sudah siap serta iklim investasi yang terus diperbaiki.
“Saya pikir dengan usaha seperti itu nanti juga pertumbuhan ekonomi akan berbalik. Mungkin saja World Bank betul nanti, Tapi saya tidak tahu, yang jelas kalau di angka saya [pertumbuhan ekonomi] sepertinya sudah membaik,” jelas dia.
“Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus rahasia saya, jurus-jurus rahasia Pak Prabowo.”
Purbaya dalam berbagai kesempatan memang selalu menggaungkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5% hingga 5,7% karena ditopang oleh sejumlah data perekonomian khususnya sektor konsumsi yang menunjukan peningkatan.
Bendahara Negara menyebut survei konsumen, survei Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia hingga pembelian motor dan mobil menunjukkan angka cemerlang.
Dalam laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8%.
Perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7%, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor (risk-off)," dikutip dari laporan tersebut. Tekanan tersebut diperkirakan akan menahan laju ekspansi ekonomi domestik.
Meskipun demikian, dampak negatif tersebut dinilai akan sebagian teredam oleh pendapatan dari ekspor komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang dipimpin oleh pemerintah.
World Bank menilai sejumlah negara di kawasan masih memiliki bantalan ekonomi untuk meredam guncangan akibat lonjakan harga minyak. Bagi Indonesia, posisi sebagai eksportir komoditas menjadi salah satu faktor penopang penting.
Pendapatan dari ekspor komoditas dinilai dapat membantu menutupi kenaikan biaya energi yang timbul akibat harga minyak yang lebih tinggi.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...af-jika-salah/
Moody, Fitch, WordBank, Citibank semua dianggap salah ngitung.
Ini yg nggak bisa ngitung mereka apa Purbaya sebenernya?
Purbaya menegaskan sejumlah data yang ia punya tidak menunjukkan kondisi tersebut, lantaran pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 ditargetkan tembus di level 5,6%. Menurut Purbaya, Bank Dunia salah melakukan penghitungan terkait ekonomi Indonesia.
“Kan triwulan pertama saja mungkin 5,5%-5,6% atau lebih. Berarti World Bank menghitung kita mau resesi turun ke bawah sekali. Saya pikir World Bank salah hitung,” kata Purbaya ditemui di Kementerian Keuangan, Kamis (9/4/2026).
Menurut Purbaya, World Bank meramal pertumbuhan ekonomi RI berdasarkan harga minyak dunia yang terus meroket. Proyeksi tersebut, kata dia, menimbulkan sentimen negatif bagi Indonesia.
“Dia [World Bank] sudah melakukan dosa besar. Dia menimbulkan sentimen negatif bagi kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal, kalau dia mau ubah prediksi ekonominya lagi,” tutur Purbaya.
Bukan tanpa alasan, Purbaya optimistis dengan angka pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2026 di level 5,6% lantaran sejumlah program telah dijalankan dengan baik.
Tak hanya itu, bahkan mesin pertumbuhan ekonomi RI terus dioptimalkan hingga sistem keuangan RI juga sudah siap serta iklim investasi yang terus diperbaiki.
“Saya pikir dengan usaha seperti itu nanti juga pertumbuhan ekonomi akan berbalik. Mungkin saja World Bank betul nanti, Tapi saya tidak tahu, yang jelas kalau di angka saya [pertumbuhan ekonomi] sepertinya sudah membaik,” jelas dia.
“Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus rahasia saya, jurus-jurus rahasia Pak Prabowo.”
Purbaya dalam berbagai kesempatan memang selalu menggaungkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5% hingga 5,7% karena ditopang oleh sejumlah data perekonomian khususnya sektor konsumsi yang menunjukan peningkatan.
Bendahara Negara menyebut survei konsumen, survei Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia hingga pembelian motor dan mobil menunjukkan angka cemerlang.
Dalam laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8%.
Perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7%, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor (risk-off)," dikutip dari laporan tersebut. Tekanan tersebut diperkirakan akan menahan laju ekspansi ekonomi domestik.
Meskipun demikian, dampak negatif tersebut dinilai akan sebagian teredam oleh pendapatan dari ekspor komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang dipimpin oleh pemerintah.
World Bank menilai sejumlah negara di kawasan masih memiliki bantalan ekonomi untuk meredam guncangan akibat lonjakan harga minyak. Bagi Indonesia, posisi sebagai eksportir komoditas menjadi salah satu faktor penopang penting.
Pendapatan dari ekspor komoditas dinilai dapat membantu menutupi kenaikan biaya energi yang timbul akibat harga minyak yang lebih tinggi.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...af-jika-salah/
Moody, Fitch, WordBank, Citibank semua dianggap salah ngitung.
Ini yg nggak bisa ngitung mereka apa Purbaya sebenernya?
0
1.1K
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan