- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
24 Jam Terakhir : Tentang Waktu yang Terlambat
TS
teddymaulanajr
24 Jam Terakhir : Tentang Waktu yang Terlambat

Gedung SMKN 1 Maja selalu punya cerita di setiap sudutnya, aku --Teddy Maula-- cerita itu sempat terasa sepi. Selama tiga tahun aku menuntut ilmu di sana, aku hanya mengenal lorong-lorong kelas dan bisingnya suara kendaraan yang lewat di depan gerbang sekolah. Di sekolah itu, aku sering melihat Yoma Istifa dan Alvin Hidayat, tapi kami tak lebih dari tiga orang asing yang kebetulan bernapas di bawah atap yang sama. Tak ada tegur sapa, tak ada obrolan, hanya wajah-wajah yang samar-samar aku ingat saat berpapasan di parkiran.
Waktu berjalan dengan caranya sendiri yang ajaib. Lima tahun setelah kami lulus dan melepaskan seragam, akhirnya mempertemukanku dengan Yoma. Pertemuan yang tak terencana itu ternyata menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok kecanggungan selama bertahun-tahun. Kami mulai berteman dan saling berbagi cerita yang dulu terkunci di SMKN 1 Maja. Lalu, tiga tahun setelah keakrabanku dengan Yoma, yoma memperkenalkanku dengan Alvin dan melengkapi kepingan pertemanan ini.
Namun, dunia dewasa ternyata sangat menyita waktu. Selama kami berteman, kami hanya bisa berencana untuk menghabiskan waktu atau membuat bersama, namun selalu gagal karena urusan pekerjaan dan ambisi masing-masing. Kami sadar, waktu terus mengejar. Di depan sana, garis hidup yang lebih serius sudah menunggu .
Maka, kami membuat kesepakatan: satu hari, 24 jam penuh, untuk mewujudkan mimpi-mimpi kecil kami bertiga.
Pukul enam pagi, petualangan dimulai. Sesuai kesepakatan, kami akan mengabulkan satu keinginan utama dari masing-masing . Tanpa banyak bicara, kami memulai dengan keinginan :
1. Alvin Hidayat
Dia membawa kami dalam sebuah kuliner. Kami mendatangi tempat-tempat makan yang dulu hanya bisa kami lihat dari jauh karena uang saku yang pas-pasan saat sekolah. Kami menikmati setiap suapan, berbagi rasa, dan membiarkan aroma makanan menjadi pembuka hari yang penuh tawa.
2. Yoma Istifa
Kami memacu kendaraan meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju hamparan laut. Di bawah terik matahari, kami berdiri di tepi pantai, membiarkan ombak menyentuh kaki kami. Di sana, di depan samudera yang luas, kami merasa kembali menjadi anak remaja yang bebas. Pantai itu menjadi saksi bagaimana kami melepaskan semua beban pekerjaan dan pikiran dewasa yang selama ini menghimpit dan kami juga pergi ke beberapa cafe dan nongkrong disana.
3.Teddy Maula
Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah jingga, giliranku yang memegang kendali. Aku mengajak mereka untuk berkemah. Kami menuju dataran tinggi, tempat udara dingin mulai menusuk kulit. Di bawah naungan pepohonan, kami bekerja sama mendirikan tenda dan menyalakan api unggun kecil.
Malam itu, di sekitar lidah api yang menari, kami duduk melingkar. Inilah momen yang paling aku tunggu. Di bawah taburan bintang, kami mengeluarkan secarik kertas. Tanpa dialog, kami mulai menuliskan keinginan dan harapan kami masing-masing untuk masa depan. Kertas itu bukan sekadar tulisan, tapi janji bahwa sebelum kami memiliki kehidupan baru yang lebih sibuk—seperti menikah atau mengurus rumah tangga— kami pernah sehebat ini.
Setiap coretan pena di kertas itu terasa sangat berharga. Kami mencoret daftar "keinginan 24 jam" yang sudah tuntas dengan perasaan haru yang tak terkatakan. Malam itu, di dalam tenda yang sederhana, kami bukan lagi pekerja yang lelah, melainkan tiga sahabat yang akhirnya berhasil menaklukkan waktu.
Tepat saat fajar menyingsing di ufuk timur, 24 jam itu genap berakhir.
Aku menatap Yoma dan Alvin, menyadari bahwa meski kami terlambat saling mengenal di SMKN 1 Maja, satu hari ini sudah cukup untuk menjadi bekal kenangan seumur hidup. Kami melangkah pergi menuju jalur hidup masing-masing dengan hati yang tenang, tahu bahwa kami pernah memiliki 24 jam paling indah sebelum dunia benar-benar memisahkan kami.
0
93
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan