- Beranda
- Komunitas
- Story
- Heart to Heart
Mengeluh di Waktu yang Salah
TS
kandaslaok
Mengeluh di Waktu yang Salah
Raka memandangi layar ponselnya dengan geram. Bar sinyal di pojok kanan atas hanya menyisakan satu garis tipis yang kembang-kempis. Di sekelilingnya, deru mesin bus tua yang ia tumpangi terdengar menyiksa telinga, ditambah aroma campuran minyak telon dan keringat penumpang lain yang menyesakkan.
"Aduh, kenapa sih harus sekarang?" keluhnya pelan, namun cukup keras untuk didengar ibu di sebelahnya. "Sinyal hilang, AC mati, bus telat satu jam. Benar-benar hari yang sampah."
Raka terus mengoceh dalam hati. Baginya, keterlambatan ini adalah bencana. Ia ada janji temu dengan calon investor untuk proyek aplikasinya. Ia merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Ia terus menatap jam tangan mewahnya, lalu kembali menatap jendela yang menampilkan pemandangan sawah hijau yang, menurutnya, membosankan.
Tiba-tiba, bus ngerem mendadak. Bunyi decit ban beradu aspal membuat jantung semua orang mencelos. Raka hampir terpelanting ke kursi depan.
"Apalagi ini?!" bentaknya ketus. "Supir amatir! Bisa-bisa saya makin telat!"
Raka berdiri, hendak memaki sang supir. Namun, langkahnya terhenti. Di depan bus, sebuah pohon besar tumbang menutupi seluruh badan jalan. Di bawah ranting-ranting raksasa itu, sebuah motor ringsek. Di sisi jalan, seorang pria paruh baya terduduk lemas dengan kaki berdarah, memeluk seorang anak kecil yang menangis histeris.
Suasana hening seketika. Penumpang bus yang tadinya riuh mendadak bungkam. Raka tertegun. Ia melihat sang supir bus, yang tadi ia maki dalam hati, langsung meloncat keluar tanpa alas kaki untuk menolong korban.
Raka merogoh kantongnya, hendak menelepon ambulans, namun ia teringat sinyalnya mati. Ia merasa sangat bodoh. Tadi ia mengeluhkan sinyal hanya karena tidak bisa memeriksa email, sementara di depan matanya, seseorang sedang berjuang antara hidup dan mati tanpa alat komunikasi.
Ia melihat ibu di sebelahnya tadi ternyata seorang perawat yang langsung sigap memberikan pertolongan pertama. Raka hanya berdiri mematung. Jam tangan mewahnya masih melingkar, menunjukkan ia telat 15 menit dari jadwal. Tapi tiba-tiba, angka itu terasa tidak berarti.
Ia mengeluhkan panasnya bus, sementara pria di luar sana menahan panasnya aspal dan perihnya luka demi melindungi anaknya. Ia mengeluhkan kenyamanan, sementara maut baru saja lewat satu inci di depan hidungnya.
Hari itu, Raka belajar bahwa mengeluh adalah hak setiap manusia, namun melakukannya tanpa melihat keadaan di sekitar adalah sebuah kesombongan. Ia pun turun dari bus, melipat lengan kemeja mahalnya, dan mulai membantu memindahkan dahan pohon yang menghalangi jalan. Kali ini, tanpa satu kata keluhan pun yang keluar dari mulutnya.
"Aduh, kenapa sih harus sekarang?" keluhnya pelan, namun cukup keras untuk didengar ibu di sebelahnya. "Sinyal hilang, AC mati, bus telat satu jam. Benar-benar hari yang sampah."
Raka terus mengoceh dalam hati. Baginya, keterlambatan ini adalah bencana. Ia ada janji temu dengan calon investor untuk proyek aplikasinya. Ia merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Ia terus menatap jam tangan mewahnya, lalu kembali menatap jendela yang menampilkan pemandangan sawah hijau yang, menurutnya, membosankan.
Tiba-tiba, bus ngerem mendadak. Bunyi decit ban beradu aspal membuat jantung semua orang mencelos. Raka hampir terpelanting ke kursi depan.
"Apalagi ini?!" bentaknya ketus. "Supir amatir! Bisa-bisa saya makin telat!"
Raka berdiri, hendak memaki sang supir. Namun, langkahnya terhenti. Di depan bus, sebuah pohon besar tumbang menutupi seluruh badan jalan. Di bawah ranting-ranting raksasa itu, sebuah motor ringsek. Di sisi jalan, seorang pria paruh baya terduduk lemas dengan kaki berdarah, memeluk seorang anak kecil yang menangis histeris.
Suasana hening seketika. Penumpang bus yang tadinya riuh mendadak bungkam. Raka tertegun. Ia melihat sang supir bus, yang tadi ia maki dalam hati, langsung meloncat keluar tanpa alas kaki untuk menolong korban.
Raka merogoh kantongnya, hendak menelepon ambulans, namun ia teringat sinyalnya mati. Ia merasa sangat bodoh. Tadi ia mengeluhkan sinyal hanya karena tidak bisa memeriksa email, sementara di depan matanya, seseorang sedang berjuang antara hidup dan mati tanpa alat komunikasi.
Ia melihat ibu di sebelahnya tadi ternyata seorang perawat yang langsung sigap memberikan pertolongan pertama. Raka hanya berdiri mematung. Jam tangan mewahnya masih melingkar, menunjukkan ia telat 15 menit dari jadwal. Tapi tiba-tiba, angka itu terasa tidak berarti.
Ia mengeluhkan panasnya bus, sementara pria di luar sana menahan panasnya aspal dan perihnya luka demi melindungi anaknya. Ia mengeluhkan kenyamanan, sementara maut baru saja lewat satu inci di depan hidungnya.
Hari itu, Raka belajar bahwa mengeluh adalah hak setiap manusia, namun melakukannya tanpa melihat keadaan di sekitar adalah sebuah kesombongan. Ia pun turun dari bus, melipat lengan kemeja mahalnya, dan mulai membantu memindahkan dahan pohon yang menghalangi jalan. Kali ini, tanpa satu kata keluhan pun yang keluar dari mulutnya.
0
33
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan