- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rp17.038/US$, Rupiah Ditutup Terlemah Sepanjang Sejarah
TS
jaguarxj220
Rp17.038/US$, Rupiah Ditutup Terlemah Sepanjang Sejarah
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (6/4/2026), rupiah melemah 0,22% ke Rp17.038/US$.
Posisi rupiah dalam perdagangan spot hari ini berada dalam posisi terendahnya sepanjang sejarah. Bahkan melampaui krisis 1998 di Rp14.950/US$ dan pandemi Covid-19 yakni Rp16.310/US$.


Posisi rupiah dalam perdagangan spot hari ini berada dalam posisi terendahnya sepanjang sejarah. Bahkan melampaui krisis 1998 di Rp14.950/US$ dan pandemi Covid-19 yakni Rp16.310/US$.

Defisit fiskal melebar hingga Rp240,1 triliun membuat rupiah capai rekor terlemah sepanjang sejarah pada Senin (6/4/2026). (Bloomberg)
Ketegangan geopolitik masih membayangi pergerakan mata uang di kawasan Asia. Meski begitu, beberapa mata uang Asia berhasil rebound hari ini dengan won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,68%, disusul dolar Singapura, yen Jepang, peso Filipina, yuan offshore, rupee India, dan dolar Hong Kong.
Sebaliknya, rupiah tergerus paling dalam sebesar 0,22% disusul Malaysia tergelincir hanya 0,04%.

Pergerakan mata uang kawasan Asia pada Senin (6/4/2026). (Bloomberg)
Bagi rupiah, tekanan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan geopolitik turut menambah beban fiskal dengan harga minyak yang bertahan tinggi di atas US$100 per barel. Defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun hingga akhir Maret.
“Ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget memang anggaran kita didesain defisit. Kalau saya belanjakan merata sepanjang tahun kan harusnya di triwulan I-2026 lebih besar dibanding tahun lalu defisitnya,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR.
Mengacu pada data Kementerian Keuangan, pelebaran defisit anggaran dicipu oleh lonjakan belanja negara yang mencapai Rp815 triliun, atau tumbuh 31,4% secara tahunan, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp620,3 triliun.
Di sisi lain, realilsasi penerimaan negara baru mencapari Rp574,9 triliun. Sebagian besar berasal dari pajak yang tercatat Rp462,7 triliun, meningkat 14,3%, dibandingkan Maret tahun lalu sebesar Rp404,7 triliun.
Adanya kesenjangan antara pengeluaran belanja dan penerimaan, memperlebar ruang tekanan terhadap stabilitas makro, terutama nilai tukar. Dalam konteks saat ini, defisit yang terjadi bukan sekadar konsekuensi desain fiskal, tapi juga jadi bagian dari kondisi adanya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Pasar keuangan nampaknya akan merespons kondisi ini dengan kehati-hatian yang tinggi. Di pasar obligasi respons pasar memang belum terlalu terlihat dan pergerakan imbal hasil masih beragam.
Di tenor pendek imbal hasil tercatat menurun dengan tenor 1 tahun imbal hasil turun 5,3 bps di 5,84%, tenor 3 tahun turun 0,2 bps ke 6,4%, dan tenor acuan 10 tahun tetap berada di 6,64%.
Sebagai catatan, investor global sempat mencatatkan penjualan bersih obligasi sebesar US$43,1 juta pada Rabu (1/4/2026) secara harian. Namun secara mingguan, investor asing masih mencatatkan pembelian aset obligasi sebesar US$228,9 juta.
Mengacu pada data Kementerian Keuangan, pelebaran defisit anggaran dicipu oleh lonjakan belanja negara yang mencapai Rp815 triliun, atau tumbuh 31,4% secara tahunan, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp620,3 triliun.
Di sisi lain, realilsasi penerimaan negara baru mencapari Rp574,9 triliun. Sebagian besar berasal dari pajak yang tercatat Rp462,7 triliun, meningkat 14,3%, dibandingkan Maret tahun lalu sebesar Rp404,7 triliun.
Adanya kesenjangan antara pengeluaran belanja dan penerimaan, memperlebar ruang tekanan terhadap stabilitas makro, terutama nilai tukar. Dalam konteks saat ini, defisit yang terjadi bukan sekadar konsekuensi desain fiskal, tapi juga jadi bagian dari kondisi adanya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Pasar keuangan nampaknya akan merespons kondisi ini dengan kehati-hatian yang tinggi. Di pasar obligasi respons pasar memang belum terlalu terlihat dan pergerakan imbal hasil masih beragam.
Di tenor pendek imbal hasil tercatat menurun dengan tenor 1 tahun imbal hasil turun 5,3 bps di 5,84%, tenor 3 tahun turun 0,2 bps ke 6,4%, dan tenor acuan 10 tahun tetap berada di 6,64%.
Sebagai catatan, investor global sempat mencatatkan penjualan bersih obligasi sebesar US$43,1 juta pada Rabu (1/4/2026) secara harian. Namun secara mingguan, investor asing masih mencatatkan pembelian aset obligasi sebesar US$228,9 juta.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/105103/rp17-038-us-rupiah-ditutup-terlemah-sepanjang-sejarah/
Kalo ada yg bilang kurs Rupiah lemah bagus buat ekonomi, ngapain BI susah2 membatasi pembelian valas?
Mending bablasin aja sekalian, kasih izin semua investor beli valas tanpa batas.
belerickbelatia dan 3 lainnya memberi reputasi
4
234
9
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan