- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Indonesia Disebut Berada di Jalur yang Tepat dalam Membangun Ketahanan Energip
TS
aleksandronesta
Indonesia Disebut Berada di Jalur yang Tepat dalam Membangun Ketahanan Energip
Quote:
Indonesia Disebut Berada di Jalur yang Tepat dalam Membangun Ketahanan Energi
Penulis : Prisma Ardianto
24 Mar 2026 | 18:16 WIB
BAGIKAN

Ilustrasi harga minyak. (Sumber: istimewa)
JAKARTA, investor.id – Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat dalam membangun ketahanan energi nasional. Berkat diversifikasi yang kuat, masyarakat diminta tidak perlu khawatir terhadap dampak gejolak geopolitik di Timur Tengah, namun tetap diimbau bijak dalam konsumsi energi.
Pakar Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, mengungkapkan hal tersebut sebagai tanggapan atas laporan media internasional asal Inggris, The Economist, bertajuk "Which country is the biggest loser from the energy shock". Laporan itu menempatkan Indonesia sebagai negara berkembang yang paling aman dari dampak krisis energi global.
“Saya kira, ya (on the right track). Karena The Economist tentu lebih fair. Mereka melaporkan berbasis data, evidence based yang ada. Informasi yang dipunyai selaras dengan kebijakan yang mereka ketahui,” ujar Hamid, seperti dikutip dari Antara pada Selasa (24/3/2025).
Menurut Hamid, ketangguhan Indonesia bersumber dari keberhasilan pemerintah melakukan diversifikasi energi secara masif. Langkah tersebut mencakup pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), percepatan ekosistem kendaraan listrik, hingga optimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti panas bumi (geothermal) oleh BUMN seperti Pertamina.
Dalam laporan tersebut, ketahanan energi Indonesia tercatat lebih kuat dibandingkan negara-negara lain di kawasan, termasuk Vietnam. Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kokoh.
“Dari sisi ketahanan energi, kita lebih stabil. Sedangkan untuk ketahanan ekonomi, kita harus melakukan industrialisasi,” tambahnya.
Hamid menjelaskan bahwa Pemerintah melalui BUMN terus aktif mencari cadangan minyak baru di masa transisi ini. Saat ini, Indonesia mengantongi cadangan minyak terbukti (proven reserves) mencapai 4,4 miliar barel yang diproyeksikan mampu memperkuat ketahanan nasional hingga 10 tahun ke depan.
“Kita masih memiliki cadangan minyak yang cukup besar. Untuk jangka menengah, kita tidak terlalu terpapar jika kondisi geopolitik terus berlanjut,” tegasnya.
Meski ketersediaan energi terjamin, Hamid mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam penggunaan energi guna mengantisipasi dampak geopolitik jangka pendek. Hal ini sejalan dengan rekomendasi International Energy Agency (IEA).
Dalam laporan 20 Maret 2026, IEA menyarankan langkah antisipasi gangguan pasokan melalui penurunan permintaan. Strategi yang diusulkan antara lain meminimalkan transportasi darat dan udara, menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH), mendorong penggunaan transportasi publik, hingga beralih ke kompor listrik.
Beberapa rekomendasi kebijakan itu telah dipertimbangkan dan bahkan diterapkan di Indonesia secara masif. IEA menyebut, mengatasi sisi permintaan adalah langkah penting dan segera untuk mengurangi tekanan pada konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi.
Editor: Prisma Ardianto
dorong perkembangan energi hijau kyk Bobibos
Bobibos dari jerami
Lebih tepatnya energi coklat ya
teguhjepang9932 memberi reputasi
1
96
Kutip
2
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan