- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Manufaktur Indonesia Bangkit, Pemerataan dan Ketergantungan Logam Dasar Disorot
TS
aleksandronesta
Manufaktur Indonesia Bangkit, Pemerataan dan Ketergantungan Logam Dasar Disorot
Quote:
Selasa, 24/03/2026 - 11:23:59 WIB
Manufaktur Indonesia Bangkit, Pemerataan dan Ketergantungan Logam Dasar Disorot

Ilustrasi.
IMCNews.ID, Jambi – Sektor industri manufaktur kembali menunjukkan perannya sebagai tulang punggung pertumbuhan Indonesia.
Tapi tantangan struktural menuntut perhatian serius agar momen ini tidak rapuh dalam jangka panjang.
Seorang pengamat ekonomi di Jambi, Noviardi Ferzi, menilai pertumbuhan sektor manufaktur melonjak dari 5,45 persen pada 2021 hingga mencapai puncak 10,75 persen di 2022. Ini menjadi sinyal rebound yang sangat agresif.
Meski kemudian melandai dan stabil di kisaran 5–6 persen hingga 2025, kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional tetap dominan di level 18–19 persen.
“Data beberapa tahun ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi jangkar utama ekonomi nasional. Tapi kita tidak boleh terjebak pada euforia angka agregat, karena di dalamnya ada ketimpangan antar subsektor,” ujar Noviardi, Selasa (24/3/2026).
Ia menyoroti dominasi subsektor logam dasar yang tumbuh paling cepat, bahkan menembus dua digit hingga 15,71 persen pada 2025.
Pertumbuhan ini, kata dia, tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi nikel yang mendorong transformasi ekspor dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah seperti feronikel, stainless steel, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Keberhasilan hilirisasi memang nyata. Nilai ekspor logam melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir. Tapi masalahnya, struktur pertumbuhan kita menjadi terlalu bertumpu pada satu mesin saja, yakni logam dasar,” tegasnya.
Di sisi lain, subsektor lain seperti tekstil dan elektronik dinilai masih tertatih dalam pemulihan, sementara makanan-minuman dan kimia-farmasi tumbuh lebih moderat.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa transformasi industri belum sepenuhnya inklusif.
Noviardi juga mengingatkan adanya risiko eksternal yang dapat mengganggu momentum tersebut, mulai dari fluktuasi harga nikel global, serbuan impor murah terutama dari China, hingga tekanan inflasi pangan yang dapat menekan daya beli domestik.
“Kalau kita terlalu bergantung pada komoditas berbasis hilirisasi tanpa diversifikasi industri, maka ketika harga global bergejolak, kita akan ikut terguncang. Ini yang harus diantisipasi dari sekarang,” katanya.
Selain itu, ia menyinggung ketergantungan terhadap proyek strategis nasional (PSN) sebagai motor investasi yang berpotensi menekan fiskal jika tidak dikelola secara hati-hati.
Meski demikian, Noviardi tetap optimistis terhadap prospek 2026, seiring dengan indikator PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansif pada awal tahun.
Ia menilai permintaan domestik yang kuat serta investasi berkelanjutan di sektor ILMATE dapat menjaga pertumbuhan di atas 5 persen.
Dalam konteks daerah, ia melihat peluang besar bagi wilayah Sumatera, termasuk Jambi, untuk mendapatkan efek limpahan (spillover effect) dari hilirisasi industri, terutama melalui penguatan agro-manufaktur dan potensi pengembangan rantai pasok industri logam.
“Jambi tidak boleh hanya menjadi penonton. Penguatan industri berbasis sumber daya lokal seperti makanan-minuman harus dipercepat agar bisa menyerap tenaga kerja dan memperkuat ketahanan fiskal daerah,” ujarnya.
Noviardi menekankan pentingnya strategi industrialisasi yang lebih seimbang.
“Kita butuh diversifikasi, hilirisasi yang merata, dan stabilitas makro. Kalau itu bisa dijaga, maka manufaktur tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan, tapi juga fondasi menuju ekonomi Indonesia yang lebih maju dan tahan guncangan,” pungkasnya. (*)
dunia yang sedang tidak baik-baik saja perlu dimanfaatkan
teguhjepang9932 memberi reputasi
1
100
Kutip
2
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan