Ini Dia Mesin Pertumbuhan Ekonomi yang Bikin Indonesia Makin Kaya
Nofilawati Anisa• 2026-03-17 11:55:04

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
RADAR SURABAYA - Sektor pariwisata telah membuktikan perannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh dan menyumbang Rp 945,7 triliun atau setara dengan 3,97 persen dari total PDB Indonesia di tahun 2025.
Keberhasilan ini didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 15,39 juta orang atau tumbuh sebesar 10,7 persen (year on year/yoy).
Secara makro, sektor ini telah mengamankan devisa negara sebesar USD 18,91 miliar dan menjadi tumpuan hidup bagi 25,91 juta tenaga kerja.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ketangguhan sektor pariwisata kini diuji oleh gejolak di Timur Tengah yang mengganggu konektivitas global.
Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan 5.500 wisatawan mancanegara (wisman) dan potensi kerugian devisa Rp 184,8 miliar per hari jika tidak dimitigasi dengan baik.
Laporan terbaru dari InJourney Airports periode akhir Februari hingga 10 Maret mencatatkan gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai, yang berdampak pada mobilisasi 47.012 penumpang.
Tantangan ini juga semakin kompleks dengan meningkatnya harga avtur.
“Untuk itu, Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, dan membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” kata Airlangga dalam keterangan resminya, Selasa (17/3).
Airlangga memaparkan beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah agar pariwisata Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain.
Di antaranya dengan melakukan perluasan Bebas Visa Kunjungan (BVK).
Dimana berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, implementasi kebijakan Bebas Visa Kunjungan di Indonesia kepada 169 negara sejak tahun 2015 lalu, berhasil memacu pertumbuhan wisatawan hingga 15 persen per tahun.
“Dan secara langsung mampu menciptakan 400.000 lapangan kerja baru di sektor pariwisata,” ujarnya.
Kementerian Pariwisata, lanjut Airlangga, telah juga mengidentifikasi 20 negara potensial sebagai langkah respons cepat terhadap situasi saat ini.
Kemudian, Indonesia perlu untuk memperkuat pasar domestik dan memanfaatkan momentum libur lebaran sebagai jaring pengaman utama dengan mengadopsi konsep micro-tourism.
“Yaitu destinasi dalam radius perjalanan darat dikemas untuk memiliki pengalaman yang mendalam,” ungkap Airlangga.
Lebih jauh ia menjelaskan, pemerintah telah memberikan stimulus diskon transportasi pada periode Lebaran 2026 dan kebijakan Work From Anywhere guna menunjang pergerakan wisatawan ke berbagai daerah.
Selain itu, diperlukan juga untuk melakukan negosiasi rute internasional baru, memperkuat branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil
“Serta mempromosikan destinasi bagi Digital Nomad untuk menangkap peluang migrasi talenta digital profesional di wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau atau KEK Kura-Kura Bali yang memiliki potensi untuk ditawarkan sebagai ekosistem kerja yang aman dan berteknologi tinggi,” urainya.
“Dengan gejolak nilai tukar saat ini, seharusnya menjadi potensi tersembunyi dalam menarik wisatawan karena mereka bisa mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka tukarkan. Untuk itu pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high end dengan harga terjangkau perlu digaris besarkan,” imbuh Airlangga. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa
Bahkan Malaysia udah jadi nomor 2R setelah Thailand dengan 25 juta wisman pertahunnya
Padahal nggak ada satupun video yang membuktikan turis bule datang ngumpul berkunjung ke Malaysia sampai tumpah ruah penuh seperti di Bali sedangkan ada ratusan video menunjukkan wilayah di Indonesia penuh sesak bule
Tapi ane mengira kunjungan pajeeet Bangla n serumpunnya yang nguli di Malaysia yang jumlahnya berjuta-juta itu diitung juga sebagai wisman