- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Harga emas dan perak anjlok, inflasi melonjak
TS
beacuka1
Harga emas dan perak anjlok, inflasi melonjak

JAKARTA - Harga emas dan perak anjlok ke level terendah dalam satu bulan pada Kamis, melanjutkan tren pelemahan setelah reli kuat di awal tahun. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak dan memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga.
Dikutip NYpost, emas mencatat penurunan tujuh hari beruntun ke kisaran US$4.588 per troi ons, jauh dari puncaknya di atas US$5.600 pada Januari. Sementara itu, perak turun ke sekitar US$70 per ons dari posisi tertinggi sebelumnya di kisaran US$120.
“Kebijaksanaan konvensional mengatakan perang seharusnya bullish untuk logam mulia, tetapi konflik Iran melakukan sesuatu yang tidak dijelaskan dalam teori yaitu memperhitungkan inflasi sekaligus menghapus ekspektasi penurunan suku bunga,” kata Tracy Schuchart dari NinjaTrader.
Lonjakan harga energi kembali mendorong risiko inflasi dan memperkecil ruang pelonggaran moneter. Pasar kini menilai peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
“Tidak ada peluang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dan hal itu kini disadari pasar logam, itulah sebabnya tekanan jual emas begitu besar,” kata Ken Mahoney dari Mahoney Asset Management.
Bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% - 3,75% dan hanya memproyeksikan satu kali penurunan pada 2026. Kondisi ini menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Penyesuaian ulang ini yang penting bagi emas, karena emas tidak hanya diperdagangkan berdasarkan ketakutan. Emas juga dipengaruhi biaya peluang dari memegang aset tanpa imbal hasil, dan biaya itu kini melonjak,” ujar Schuchart.
Kenaikan harga minyak yang dipicu serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah sempat mendorong harga Brent menembus US$119 per barel. Kondisi ini memperkuat tekanan inflasi sekaligus mengangkat dolar AS sebagai aset lindung nilai utama.
“Perak, yang memiliki sensitivitas suku bunga yang sama ditambah permintaan industri yang terpukul dalam kondisi stagflasi, mengalami tekanan lebih besar,” tambah Schuchart.
“Permintaan safe haven akibat Iran hanya bertahan sekitar 48 jam. Penyesuaian suku bunga akan bertahan selama harga minyak tetap tinggi.”
Penguatan dolar dan keluarnya dana dari ETF komoditas turut menekan harga logam mulia.
“Investor leveraged menjual emas untuk menutup kerugian di posisi minyak, investor ETF keluar karena perang Iran menghancurkan harapan penurunan suku bunga, dan dolar menekan seluruh komoditas,” kata Eric Schiffer dari Patriarch Organization.
Meski demikian, sebagian analis menilai penurunan harga logam mulia di tengah ketidakpastian global masih bersifat anomali.
“Ini agak menjadi teka-teki. Penurunan harga emas dan perak di tengah ketidakpastian global terasa bertentangan dengan logika dan mungkin tidak akan bertahan,” kata Kenin Spivak dari SMI Group.(DH)
https://www.idnfinancials.com/id/new...flasi-melonjak
Ada apa nih?

kakekane.cell dan tabraklari81223 memberi reputasi
2
450
20
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan