Quote:
Ekspor RI Diprediksi Tumbuh 5% di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Penulis : Prisma Ardianto
18 Mar 2026 | 18:43 WIB
Kapal kargo bersandar di kawasan pelabuhan dan industri maritim Batam, Kepulauan Riau. (ANTARA FOTO/Teguh Prihatna)
Kapal kargo bersandar di kawasan pelabuhan dan industri maritim Batam, Kepulauan Riau. (ANTARA FOTO/Teguh Prihatna)
Mobile Apps
JAKARTA, investor.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah membayangi stabilitas ekonomi global, namun kinerja ekspor Indonesia diprediksi tetap tangguh. Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan ekspor nasional pada 2026 masih mampu tumbuh di kisaran 4–5%, didorong oleh kenaikan harga komoditas energi dan pangan meskipun biaya logistik dunia membengkak.
Risiko utama bagi Indonesia saat ini bukan berasal dari hubungan dagang langsung, melainkan dampak sistemik berupa kenaikan harga energi global dan volatilitas nilai tukar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), eksposur perdagangan langsung RI ke Timur Tengah relatif kecil, yakni hanya 4,2% dari total ekspor dan 3,9% dari total impor nasional.
Komoditas utama Indonesia ke kawasan tersebut mencakup minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta kendaraan bermotor (HS 8703). Sementara, impor RI dari Timur Tengah didominasi oleh komoditas energi.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menegaskan pihaknya terus memantau stabilitas jalur energi internasional, terutama Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Kawasan ini menyumbang lebih dari 30% produksi minyak global.
“Kami memonitor secara cermat dinamika di Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik global,” ujar Rini dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Ekspor RI Diprediksi Tumbuh 5% di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani. (Dok. Indonesia Eximbank)
Meskipun Indonesia lebih banyak mengimpor minyak dari Singapura dan Malaysia (sekitar 75%), kedua negara tetangga tersebut mengambil pasokan mentah dari Timur Tengah. Jika ketegangan berlanjut, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan melambung ke kisaran US$ 85–120 per barel, melonjak signifikan dari awal tahun yang berada di level US$ 60 per barel.
Konflik ini juga memicu kekhawatiran pada negara mitra dagang utama RI seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan yang merupakan konsumen besar minyak Teluk. Kenaikan biaya energi di negara-negara tersebut berpotensi menekan permintaan terhadap produk industri asal Indonesia.
Ekspor ke Timteng Masih Stabil
Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi justru membawa berkah bagi komoditas andalan domestik. Batu bara, yang berkontribusi 8–9% terhadap total ekspor, serta minyak kelapa sawit (CPO) berpotensi mengalami penguatan harga.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi,” tambah Rini.
Jika tensi geopolitik mereda dan permintaan global pulih secara bertahap, pertumbuhan ekspor Indonesia diprediksi akan semakin menguat ke angka 5–6% pada 2027 mendatang.
Editor: Prisma Ardianto
SDA-nya sudah ada
Kalau pinter cepat bgt Indonesia bakal jadi global player
Contoh yang remeh ajalah
Ekspor ikan hias
Tahun 2023 Singapura terbesar no 2 di dunia n Indonesia no 3
Eh ternyata semua ikan hias Singapura itu dibeli dari Indonesia kemudian diekspor ke LN
Ajg lah