- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Untuk Remaja, Jangan Sepelekan Anemia yang Tidak Merespons Zat Besi
TS
aurora..
Untuk Remaja, Jangan Sepelekan Anemia yang Tidak Merespons Zat Besi

Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang anemia pada remaja yang tidak boleh disepelekan, apalagi kalau anemia itu tidak mau merespons pemberian zat besi, karena itu bisa menjadi salah satu gejala kanker darah
.Thread ini ditulis sebagai bagian dari upaya gue untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan remaja. Banyak orang menganggap anemia pada remaja sebagai hal sepele, padahal pada kondisi tertentu, anemia bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, bahkan bisa berakibat fatal.
Thread ini tidak ditulis untuk membuat kalian khawatir berlebihan, tetapi untuk menambah wawasan, supaya kalian lebih peka terhadap tanda-tanda kesehatan tubuh, terutama pada remaja usia sekolah.
Quote:
Anemia pada Remaja adalah Masalah yang Sangat Umum
Anemia adalah kondisi ketika tubuh manusia kekurangan sel darah merah, atau kadar hemoglobin dalam darah manusia berada di bawah nilai normal. Hemoglobin berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Jika kadar hemoglobin rendah, tubuh akan kekurangan oksigen yang cukup untuk menjalankan berbagai fungsi metabolisme.
Menurut World Health Organization (WHO), anemia merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang paling sering ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja. Bahkan, diperkirakan sekitar lebih dari 30% populasi dunia mengalami anemia, dengan prevalensi yang cukup tinggi pada gadis remaja, karena kehilangan zat besi saat menstruasi (WHO, 2020).
Pada remaja usia 10–18 tahun, anemia biasanya disebabkan oleh beberapa faktor utama, antara lain kekurangan asupan zat besi dalam makanan, pertumbuhan tubuh yang cepat, menstruasi yang banyak pada gadis remaja, dan asupan makanan yang tidak seimbang.
Zat besi diperlukan tubuh untuk membentuk hemoglobin. Jika kebutuhan zat besi tidak bisa terpenuhi, produksi sel darah merah akan terganggu, dan terjadilah anemia defisiensi besi.
Quote:
Gejala Anemia yang Sering Diabaikan
Pada praktik sehari-hari, banyak remaja yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami anemia. Bahkan, ada yang justru merasa bangga ketika wajahnya terlihat lebih pucat atau putih dari biasanya, karena dianggap lebih cantik atau tampan. Padahal, kulit yang terlihat terlalu pucat sering kali merupakan tanda kadar hemoglobin yang rendah.
Beberapa gejala anemia yang umum pada remaja, antara lain lemas, lesu, wajah pucat, pusing atau sakit kepala, sulit berkonsentrasi, napas terasa lebih cepat saat beraktivitas, serta jantung berdebar.
Dalam kondisi ringan, anemia memang tidak selalu terlihat jelas. Namun, jika dibiarkan secara terus-menerus, anemia dapat mengganggu tumbuh kembang remaja, termasuk pertumbuhan tulang, perkembangan kognitif, konsentrasi belajar, serta daya tahan tubuh (Lopez et al., 2016).
Quote:
Anemia Normalnya Bisa Pulih dengan Asupan Zat Besi
Kabar baiknya, sebagian besar anemia pada remaja termasuk kategori anemia defisiensi besi. Kondisi ini relatif ringan dan mudah ditangani. Penanganan yang biasanya diberikan oleh tenaga kesehatan, meliputi suplementasi zat besi, suplementasi asam folat, peningkatan asupan gizi pada pola makan harian, dan pemantauan kadar hemoglobin melalui tes darah kecil. Biasanya, jika anemia memang disebabkan oleh kekurangan zat besi, kondisi ini akan mulai membaik dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah suplementasi zat besi dimulai.
Pada remaja perempuan yang mengalami menstruasi, kondisi anemia juga sering membaik sekitar 4–5 hari setelah menstruasi selesai, terutama jika asupan nutrisi cukup.
Oleh karena itulah, dokter anak sering melakukan evaluasi setelah terapi zat besi diberikan. Jika hemoglobin remaja mulai naik, berarti penyebab anemia memang karena kekurangan zat besi.
Quote:
Ketika Anemia Tidak Mau Merespons Zat Besi
Namun, ada satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius, yaitu anemia yang tidak membaik, meskipun sudah diberikan zat besi dan asam folat dalam jumlah cukup.
Dalam dunia medis, kondisi ini sering menjadi tanda bahwa penyebab anemia itu bukan sekadar karena kekurangan gizi.
Beberapa kemungkinan penyebabnya, antara lain penyakit kronis, gangguan sumsum tulang, kelainan darah genetik, infeksi tertentu, bahkan kanker yang bisa berakibat fatal, yaitu kanker darah (leukemia).
Leukemia merupakan jenis kanker yang menyerang sumsum tulang, tempat produksi sel-sel darah. Ketika leukemia terjadi, sel darah putih abnormal akan tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali di dalam sumsum tulang. Akibatnya, produksi sel darah merah dan trombosit menjadi terganggu (Hoffbrand et al., 2019). Salah satu akibat dari permasalahan produksi sel-sel darah adalah terjadinya anemia yang tidak mau merespons terapi zat besi.
Quote:
Mengapa Leukemia Bisa Menyebabkan Anemia?
Sumsum tulang memiliki fungsi utama untuk memproduksi tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan trombosit (platelet).
Pada leukemia, sel darah putih abnormal berkembang secara berlebihan dan memenuhi ruang di sumsum tulang. Akibatnya, produksi sel darah merah menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan penderita leukemia sering mengalami anemia.
Selain itu, produksi trombosit juga bisa terganggu, sehingga muncul berbagai gejala perdarahan seperti mimisan.
Quote:
Ciri-ciri Anemia yang Perlu Diwaspadai pada Remaja
Kalian jangan khawatir berlebihan dulu, karena tidak semua anemia pada remaja berarti leukemia. Namun, ada beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai, terutama jika anemia tidak membaik setelah suplementasi zat besi.
Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Anemia yang tidak membaik setelah terapi gizi
Jika kadar hemoglobin tetap rendah meskipun sudah mendapatkan suplementasi zat besi dan asam folat sesuai anjuran dokter, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter.
2. Mimisan yang sering terjadi
Mimisan yang berulang bisa menjadi tanda gangguan pembentukan trombosit. Pada leukemia, trombosit sering menurun, sehingga mudah terjadi mimisan.
3. Lebam-lebam tanpa sebab yang jelas
Memar atau lebam yang muncul tanpa benturan sering menjadi tanda trombosit rendah.
4. Pembesaran kelenjar getah bening
Pada beberapa kasus leukemia, kelenjar getah bening dapat membesar di leher, ketiak, atau sel4ngk4ng4n.
5. Demam tanpa penyebab yang jelas
Demam yang muncul berulang tanpa infeksi yang jelas juga dapat menjadi salah satu tanda gangguan pada sistem pembentukan darah (terutama komponen leukosit).
Quote:
Tanda Khusus Leukemia pada Remaja Perempuan
Pada remaja perempuan, ada satu gejala tambahan leukemia yang kadang bisa terlihat pada siklus menstruasi. Beberapa tenaga medis mengamati bahwa pada kondisi tertentu, konsistensi darah menstruasi bisa terlihat aneh dan tidak biasa jika terjadi gangguan pada komposisi sel darah.
Misalnya, darah menstruasi tampak lebih kental, banyak gumpalannya, dan warnanya aneh (tidak seperti biasanya). Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan komposisi sel darah dalam tubuh, termasuk peningkatan jumlah sel darah putih abnormal.
Namun, tentu saja, perubahan warna menstruasi tidak selalu berarti leukemia. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Quote:
Dampak Anemia yang Tidak Ditangani
Jika anemia tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa cukup serius bagi remaja, antara lain gangguan konsentrasi belajar, penurunan prestasi akademik, penurunan daya tahan tubuh, gangguan pertumbuhan (stunting), hingga kelelahan kronis.
Penelitian menunjukkan, bahwa anemia pada remaja dapat berdampak pada fungsi kognitif dan prestasi akademik, karena otak membutuhkan oksigen yang cukup untuk bekerja secara optimal (McLean et al., 2009).
Quote:
Pentingnya Pemeriksaan Dini
Kabar baiknya, banyak penyakit darah termasuk leukemia memiliki peluang penanganan yang lebih baik jika didiagnosis lebih awal. Beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter meliputi pemeriksaan darah lengkap (CBC), pemeriksaan hapusan darah tepi, dan pemeriksaan sumsum tulang jika diperlukan.
Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui apakah anemia itu disebabkan oleh kekurangan zat besi, atau karena ada gangguan lain pada sistem pembentukan darah.
Quote:
Peranan Orang Tua, Guru, dan Remaja
Kesadaran terhadap kesehatan darah tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan saja. Beberapa pihak yang memiliki peranan penting, antara lain:
Orang tua:
1) Memastikan remaja mendapatkan asupan makanan bergizi yang cukup
2) Memperhatikan tanda-tanda anemia
3) Mengajak anak remaja bertanya ke dokter atau petugas UKS jika ada gejala yang mencurigakan
Guru:
1) Memperhatikan murid yang tampak sering lelah atau pucat
2) Mengadakan sosialisasi kesehatan di sekolah tentang anemia
Diri remaja sendiri:
1) Mengonsumsi makanan yang kaya asam folat, zat besi, vitamin B12, dan vitamin C
2) Tidak mengabaikan setiap gangguan kesehatan
3) Berani memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika menemukan gejala yang mencurigakan
Quote:
PENUTUP
Anemia pada remaja memang sangat umum terjadi, terutama pada usia 10–18 tahun dan pada remaja perempuan yang mengalami menstruasi. Dalam banyak kasus, anemia dapat diatasi dengan suplementasi zat besi, asam folat, dan perbaikan pola makan.
Namun demikian, anemia yang tidak merespons terapi zat besi perlu mendapatkan perhatian khusus. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk gangguan sumsum tulang seperti leukemia.
Oleh karena itu, penting bagi remaja, orang tua, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda anemia yang tidak biasa, seperti mimisan berulang, lebam tanpa sebab, pembesaran kelenjar getah bening, atau demam tanpa penyebab yang jelas.
Semoga, dengan meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan, kita dapat lebih cepat mengenali tanda-tanda penyakit dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Kesehatan darah bukanlah hal yang bisa dianggap main-main, terutama bagi remaja yang sedang berada dalam masa pertumbuhan penting.
Quote:
SUMBER
Hoffbrand, A. V., Moss, P. A., & Pettit, J. E. (2019). Essential Haematology (7th ed.). Wiley Blackwell.
Lopez, A., Cacoub, P., Macdougall, I. C., & Peyrin-Biroulet, L. (2016). Iron deficiency anaemia. The Lancet, 387(10021), 907–916.
McLean, E., Cogswell, M., Egli, I., Wojdyla, D., & de Benoist, B. (2009). Worldwide prevalence of anaemia, WHO Vitamin and Mineral Nutrition Information System. Public Health Nutrition, 12(4), 444–454.
World Health Organization. (2020). Anaemia in women and children. Geneva: World Health Organization.
American Cancer Society. (2023). Leukemia in children. American Cancer Society.
@aldo12 @itkgid @essyaraz
MemoryExpress dan 4 lainnya memberi reputasi
5
2K
Kutip
3
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan