- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Tokubetsu
TS
aurora..
[CERPEN] Tokubetsu
![[CERPEN] Tokubetsu](https://s.kaskus.id/images/2026/02/10/9481769_20260210092932.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Setiap tanggal 14 Februari, udara di SMP Santa Agatha selalu terasa sedikit berbeda. Bukan karena aroma cokelat batangan atau bunga mawar merah yang bertebaran di kelas-kelas, melainkan karena sebuah tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun dan selalu berhasil membuat satu angkatan murid kelas 8 merasa campur aduk antara gugup, penasaran, dan tertekan.
Tradisi itu bernama program Valentine kesiswaan.
Bagi sebagian murid, hari Valentine hanyalah hari biasa yang dilewati dengan bercanda dan saling menggoda. Namun, bagi semua murid kelas 8, tanggal itu menandai dimulainya sebuah tugas individu yang dianggap sederhana tetapi cukup merepotkan, yaitu menulis esai tentang cinta.
Tugas itu bukan sekadar formalitas. Esai tersebut akan dinilai secara serius, dibaca satu per satu, dan di akhir periode akan dipilih beberapa karya terbaik. Pemenangnya mendapatkan hadiah sederhana, tetapi makna dari tugas itu jauh lebih besar daripada hadiahnya.
Yang menyelenggarakan tugas itu adalah Bu Agnes, guru Agama yang dikenal lembut, teratur, dan selalu tersenyum. Bu Agnes bukan guru yang galak, justru sebaliknya. Namun, justru karena itulah, murid-murid merasa tugas dari Bu Agnes tidak bisa dianggap remeh.
Tahun itu, tema yang ditentukan Bu Agnes adalah satu kata dalam bahasa Jepang, yaitu “tokubetsu”. Artinya, seseorang yang paling istimewa dan paling dicintai.
Deadline pengumpulan adalah dua minggu setelah pengumuman tugas. Jika terlambat, sanksi akan diberikan tanpa toleransi. Dan sebelum esai itu sampai ke tangan Bu Agnes, satu tahap penting harus dilewati terlebih dahulu, yaitu persetujuan wali kelas.
Elizabeth Debora Yosefina atau Debora, 14 tahun, duduk di bangku dekat jendela kelas 8B ketika Bu Agnes mengumumkan tema itu. Rambutnya diikat setengah, wajahnya tenang, dan ekspresinya nyaris tanpa reaksi berlebihan.
Tidak seperti teman-temannya yang langsung ribut membahas siapa yang akan mereka tulis, Debora hanya mencatat tema itu di buku catatannya dengan rapi.
Tokubetsu. Baginya, jawabannya terasa jelas.
Debora sudah memiliki seseorang yang istimewa dalam hidupnya. Seseorang yang membuatnya merasa diperhatikan, didengarkan, dan diterima apa adanya.
Namanya Aldo.
Aldo adalah pacar Debora sejak awal masuk SMP. Hubungan mereka tidak dramatis, tidak penuh konflik seperti kisah cinta remaja di media sosial. Mereka lebih sering duduk berdampingan di kantin, mengerjakan tugas bersama, atau saling bertukar cerita ringan sepulang sekolah.
Debora merasa aman bersama Aldo. Merasa tidak sendirian.
Maka ketika tugas itu diberikan, Debora tidak ragu sedikit pun.
Ia akan menulis tentang Aldo.
***
Selama beberapa hari pertama, Debora menulis dengan penuh keyakinan. Debora menuliskan bagaimana Aldo selalu menunggunya seusai jam pelajaran, bagaimana Aldo tidak pernah mengejeknya saat ia gagal dalam pelajaran matematika, bagaimana Aldo mendengarkannya berbicara tanpa memotong.
Debora menulis tentang cinta dengan bahasa sederhana, jujur, dan polos sesuai usianya.
Ketika esai itu selesai, Debora membacanya ulang sambil tersenyum kecil. Ia merasa tulisannya cukup baik. Tidak berlebihan, tidak lebay.
Dengan penuh percaya diri, ia menyerahkan esai itu kepada wali kelasnya, Pak Edi.
Pak Edi adalah pria paruh baya dengan kacamata tipis dan suara datar. Pak Edi dikenal sebagai guru yang tegas, logis, dan jarang menunjukkan emosi. Banyak murid segan padanya, bukan karena galak, melainkan karena sulit ditebak.
Pak Edi membaca esai Debora tanpa banyak ekspresi. Wajahnya tetap datar, alisnya sedikit berkerut.
Beberapa menit kemudian, Pak Edi mengangkat kepalanya.
“Debora,” ucap Pak Edi pelan
“Esai ini belum bisa saya setujui.” lanjutnya
Debora terdiam.
“Kenapa, Pak?” tanya Debora dengan hati-hati
Pak Edi menutup mapnya.
“Tema tokubetsu bukan sekadar tentang orang yang kamu sukai. Coba pikirkan ulang makna ‘paling istimewa’. Tulis ulang.” titah Pak Edi
Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada kritik rinci. Hanya satu kalimat itu.
Debora keluar dari ruang wali kelas dengan perasaan kosong.
Debora tidak marah. Belum. Ia hanya bingung.
Malam itu, Debora duduk di meja belajarnya, menatap kertas kosong yang baru. Untuk pertama kalinya, ia ragu.
Kalau bukan Aldo, lalu siapa?
Setelah berpikir cukup lama, Debora memutuskan untuk menulis tentang ibunya.
Ibunya adalah perempuan yang selalu bangun lebih pagi, memastikan Debora sarapan, menyiapkan seragam, dan menunggunya pulang dengan wajah lelah tetapi hangat. Ibunya adalah orang pertama yang memeluknya saat Debora menangis, dan orang terakhir yang marah saat Debora membuat kesalahan.
Bukankah ibu adalah sosok yang paling istimewa?
Debora menulis dengan lebih hati-hati kali ini. Debora memilih kata-kata yang lebih dewasa dan lebih reflektif. Debora menulis tentang pengorbanan, ketulusan, dan cinta tanpa syarat dari ibu.
Ketika esai itu selesai, Debora membacanya dengan perasaan campur aduk antara berharap dan cemas.
Namun, hasilnya sama.
Pak Edi kembali menggeleng.
“Maaf, esai kamu ditolak,” ucap Pak Edi singkat
“Esainya masih belum tepat.”
Debora ingin bertanya. Ingin meminta penjelasan lebih detail mengapa esainya ditolak. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Debora hanya mengangguk dan keluar.
***
Hari-hari berikutnya, Debora mulai gelisah. Waktu terus berjalan. Deadline semakin dekat.
Untuk ketiga kalinya, Debora menulis ulang esai.
Kali ini tentang ayahnya.
Ayah Debora bukan tipe ayah yang banyak bicara. Namun, ayahnya selalu ada. Ayahnya selalu mengantar Debora ke sekolah saat hujan, menjemputnya saat hujan tanpa mengeluh, dan duduk menemani Debora belajar meski tidak banyak membantu.
Debora menulis tentang kekuatan yang diam, tentang cinta yang tidak banyak kata.
Namun, lagi-lagi, Pak Edi menolak. Tidak dengan nada marah. Tidak dengan kata kasar. Namun, justru dengan ketenangan yang membuat Debora merasa lebih tertekan.
“Maaf, esai kamu saya tolak lagi karena masih belum tepat,” ucap Pak Edi datar
Itu saja.
Di titik itu, sesuatu dalam diri Debora mulai pecah. Debora mulai merasa dipermainkan. Seolah-olah setiap usahanya tidak pernah cukup. Seolah-olah, Pak Edi sengaja mencari-cari kesalahan.
Debora mulai mudah tersinggung. Suaranya meninggi saat berbicara. Ia marah pada hal-hal kecil.
Di kelas, teman-temannya mulai menyadari perubahan itu. Debora yang biasanya tenang kini sering membanting buku, menghela napas panjang, atau menatap kosong ke papan tulis.
Aldo adalah orang pertama yang benar-benar memperhatikan.
Suatu sore, di halaman sekolah, Aldo mencoba mendekatinya.
“Deb, kamu kenapa?” tanya Aldo lembut
Debora menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa.” jawab Debora defensif
“Kamu kelihatan capek banget,” ucap Aldo lagi
“Aku bisa bantu kalau—”
“Bantu apaan, hah?” potong Debora tajam
“Kamu nggak ngerti perasaanku!”
Nada suaranya membuat Aldo terkejut.
“Debora, aku cuma mau—” ucap Aldo
“Diam kamu!” potong Debora sambil berdiri tiba-tiba
“Semua orang cuma nyuruh aku sabar! Semua orang gampang ngomong!”
Emosinya meledak tanpa peringatan. Aldo mencoba menenangkannya, meraih lengannya dengan lembut.
Namun, sentuhan itu justru menjadi pemicu.
“Jangan sentuh aku! Pergi!” teriak Debora
Debora mendorong Aldo dengan kuat.
Aldo terjatuh ke belakang, terduduk di tanah. Wajahnya terkejut bukan main, lebih terluka secara batin daripada fisik.
Debora terdiam. Napasnya memburu. Dadanya naik turun.
Beberapa detik kemudian, Debora berlari meninggalkan halaman sekolah.
Di rumah, amarah Debora belum juga reda.
Debora membanting tasnya, mengurung diri di kamar, dan menangis dengan keras. Ibunya mencoba masuk, tetapi Debora berteriak supaya ibunya pergi.
Ayahnya akhirnya masuk dengan hati-hati, duduk di lantai dekat pintu.
“Debora,” ucap ayahnya pelan
“Boleh Ayah bicara?”
Tidak ada jawaban.
Namun, ayahnya tetap melanjutkan.
“Ayah dan Ibu lihat kamu capek. Kamu memang sedang marah, tapi bukan sama kami.”
Perlahan, Debora berhenti menangis.
Ibunya ikut masuk dan duduk di samping ayahnya.
“Kamu takut gagal,” ucap ibunya dengan nada lembut
“Itu wajar.”
Debora menggigit bibirnya.
“Aku sudah nulis tentang Aldo, ditolak. Tentang Ibu, ditolak lagi. Tentang Ayah, ditolak lagi,” ucap Debora dengan suara gemetar karena kelelahan
“Aku beneran nggak tahu lagi harus nulis apaan.”
Ayah dan ibunya saling berpandangan sejenak. Lalu, ayahnya berkata.
“Debora, menurut kamu, apakah seseorang bisa benar-benar mencintai orang lain kalau dia sendiri belum tahu bagaimana mencintai dirinya sendiri?” tanya ayahnya
Debora terdiam.
Ibunya melanjutkan.
“Mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan diri, ya. Bukan berarti selalu mencari kesenangan atau selalu merasa ingin memuaskan diri.” ucap ibunya Debora
“Lalu apa?” tanya Debora lirih
“Melatih diri,” jawab ayahnya Debora
“Menguatkan diri. Menghargai proses kamu sendiri.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Kamu itu berharga. Bukan karena kamu dicintai, tapi karena kamu selalu berlatih untuk kuat.”
Kata-kata itu sederhana, tetapi menghantam sesuatu yang dalam.
***
Malam itu, Debora membuka laptopnya lagi. Ia menatap layar kosong sangat lama. Lalu, dengan perlahan, Debora mulai menulis.
Debora menulis tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia sering meremehkan usahanya sendiri. Tentang bagaimana ia mudah merasa tidak cukup. Tentang bagaimana ia belajar bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti berhenti mencoba, melainkan terus kuat bertumbuh meski sangat lelah.
Ia menulis bahwa dirinya sendiri adalah tokubetsu atau spesial, bukan karena sempurna, tetapi karena ia mau belajar, jatuh, dan bangkit.
Ia menutup esainya dengan sebuah kalimat sederhana
[Cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.]
Setelah selesai, Debora menangis lagi. Kali ini bukan karena marah, melainkan karena takut. Takut ditolak lagi.
Keesokan harinya, dengan tangan gemetar, Debora menyerahkan esai itu kepada Pak Edi.
Pak Edi membaca esai itu lama. Lebih lama dari sebelumnya.
Ketika Pak Edi mengangkat kepalanya, ekspresinya berbeda.
Pak Edi mengangguk pelan.
“Ini,” ucap Pak Edi
“Baru esai yang sangat tepat.”
Debora hampir tidak percaya.
Esai itu akhirnya sampai ke tangan Bu Agnes.
Dan untuk pertama kalinya, Debora merasa lega.
***
Dua bulan kemudian, di aula sekolah, Bu Agnes berdiri di depan podium dengan senyum lebar.
“Juara pertama esai Valentine tahun ini,” ucap Bu Agnes
“Diraih oleh… Elizabeth Debora Yosefina.” lanjut Bu Agnes
Debora terpaku.
Teman-temannya bertepuk tangan. Aldo menatapnya dengan senyuman kecil yang penuh pengertian.
Hadiah yang Debora terima hanyalah alat tulis Valentine serba pink. Sederhana, tetapi maknanya besar.
Debora tersenyum.
Kini, Debora mengerti, bahwa sebelum mencintai orang lain, cintailah diri sendiri terlebih dahulu. Sebab, diri sendiri itu spesial dan berharga. Mencintai diri sendiri itu bukan dengan memanjakan diri, melainkan dengan menguatkan diri dan melatih diri untuk menjadi lebih hebat.
TAMAT
@nikmatulsiti319 @siloh @pabuaranwetan
rizkync108 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
928
7
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan