- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Teror Pengguntingan Baju
TS
aurora..
[CERPEN] Teror Pengguntingan Baju
![[CERPEN] Teror Pengguntingan Baju](https://s.kaskus.id/images/2026/02/10/9481769_20260210115618.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Tidak ada yang istimewa dari pagi itu, setidaknya begitulah yang Doni pikirkan ketika laki-laki itu berdiri di depan cermin kosannya yang sempit. Jam dinding menunjukkan pukul 06:10 WIB. Matahari belum sepenuhnya naik, hanya ada cahaya pucat yang menyelinap melalui jendela, memantul di lantai keramik yang dingin. Doni, 19, mahasiswa Keperawatan semester 3, meraih kemeja favoritnya, berwarna abu-abu polos dengan jahitan rapi di pinggiran, lalu memakainya dengan gerakan yang terbiasa.
Doni hendak berangkat ke kampus untuk praktikum pagi. Kepalanya sudah dipenuhi jadwal kegiatan mulai dari briefing, pengecekan alat, lalu observasi pasien. Semua rutinitas itu biasanya menenangkan Doni. Ia anak yang teratur, disiplin, dan cenderung pendiam. Namun, ketika ia merapikan baju dan menunduk sedikit untuk memasukkan ujung kaus ke dalam celana, ada sesuatu yang terasa janggal.
Pinggiran bajunya berbeda.
Doni menarik ujung kaus itu lebih dekat ke mata. Jahitan yang biasanya lurus dan rapi tampak terputus. Bukan sobek karena aus. Bukan pula robek karena tersangkut. Itu robek karena digunting rapi, lurus, panjangnya kira-kira 2 cm.
Doni membeku.
Tangannya bergetar, napasnya tercekat. Ia memeriksa sisi lain. Sama. Dua sentimeter. Seakan-akan seseorang sengaja mengukur sebelum memotong.
“Ini… apa?” gumamnya.
Detik berikutnya, tubuh Doni bergetar hebat. Dadanya sesak, napasnya terengah. Doni terduduk di tepi ranjang, menatap baju di tangannya seperti menatap bukti pengkhianatan. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.
“Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”
Kata-kata itu keluar berulang kali, bukan sebagai doa yang rapi, melainkan sebagai letupan panik. Doni menangis tersedu-sedu. Baju itu tidak mahal. Namun, itu baju kesayangannya. Lebih dari itu, baju itu simbol keteraturan hidupnya, dan kini dirusak tanpa alasan, tanpa jejak.
Doni berusaha berpikir rasional. Mungkin ulah temannya? Namun, ia tinggal sendirian. Tidak ada tanda-tanda orang masuk. Pintu terkunci. Jendela juga tertutup. Gunting? Doni tidak punya.
Di kampus, Doni tampak murung. Teman-temannya bertanya, tetapi ia hanya menggeleng. Ia malu menceritakan sesuatu yang terdengar sepele tetapi terasa begitu mengganggu. Dalam hatinya, Doni merasa diteror, meski belum tahu oleh siapa.
Tiga hari berlalu. Doni mulai mencoba melupakan kejadian itu. Doni membeli kemeja baru, menyimpan yang lama di lemari. Namun, rasa tidak nyaman itu masih ada, seperti bayangan di sudut mata.
Pada sore hari ketiga, telepon Doni berdering. Nama ibunya muncul di layar.
“Doni, kamu di mana?” suara ibunya terdengar panik.
“Di kos, Bu. Kenapa?”
“Vania… roknya… digunting orang.”
Doni terdiam.
“Apa?”
“Rok sekolahnya. Pinggirannya. Sama seperti punya kamu kemarin waktu kamu pulang ke rumah. Vania menangis histeris.”
Doni merasa darahnya dingin. Ia segera pulang ke rumah keluarga mereka, rumah sederhana di pinggir kota, tempat ia dibesarkan.
Vania, 13 tahun, adik kandung Doni, duduk di ruang tamu dengan mata sembab. Rok biru tua SMP-nya tergeletak di meja. Doni mengambilnya, memeriksa dengan tangan gemetar.
Rok itu tergunting tepat 2 cm.
Vania hanya bisa terisak.
“Aku nggak salah apa-apa, Kak. Aku cuma jemur roknya di belakang rumah…”
Doni memeluk adik perempuannya erat. Untuk pertama kalinya, sejak kejadian di kos, Doni merasakan marah bercampur takut. Ini bukan kebetulan. Ini pola.
“Ada yang sengaja,” bisik Doni, lebih kepada dirinya sendiri
Doni menenangkan Vania, meski hatinya sendiri berantakan. Ia mencoba bersikap dewasa, menjadi pelindung yang tenang. Namun, jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, siapa yang begitu teliti, begitu konsisten, dan begitu kejam untuk merusak bukan dengan kekerasan besar, melainkan dengan kerusakan kecil yang berulang?
Kabar itu menyebar pelan di keluarga. Reza, 48 tahun, paman Doni dan Vania, datang menjenguk keesokan harinya bersama istrinya, Bella, 45 tahun. Reza bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta, dikenal rapi dan perfeksionis.
Reza mendengarkan cerita Doni dengan dahi berkerut.
“Aneh,” ucap Reza singkat
Namun, keanehan itu berubah menjadi pukulan telak seminggu kemudian.
Reza pulang kerja dengan wajah pucat. Ia berdiri di ruang makan, memegang kemeja kerjanya yang tergantung di kursi. Bella mendekat, lalu menutup mulutnya.
Pinggiran kemeja itu digunting 2 cm.
“Ini… ini gila,” ucap Reza dengan suara tertahan
“Aku yakin tadi pagi masih normal.”
Bella terduduk lemas.
“Siapa yang berani melakukan ini!” marah Bella histeris
Tidak ada jawaban. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Sejak saat itu, teror terasa nyata. Bukan hanya di satu rumah, bukan hanya pada satu generasi.
Beberapa hari kemudian, Sarti, 78, nenek Doni dan Vania, menangis terisak di kamarnya. Ujung daster tuanya, yang sudah ia pakai bertahun-tahun, digunting rapi di bagian pinggiran.
“Kenapa orang jahat sekali sama nenek…” isak Sarti lirih
Bima, 17 tahun, anak Reza dan Bella, yang biasanya santai, justru meledak marah ketika mendapati seragam SMA-nya mengalami hal yang sama. Ia membanting tasnya, memaki tanpa arah.
“Ini keterlaluan! Gue pengen tahu siapa orangnya! Kalau gue sampai tahu orangnya, akan gue habisin!” marah Bima histeris
Semua korban memiliki kesamaan, yaitu baju mereka digunting rapi, 2 cm, di bagian pinggiran. Tidak lebih, tidak kurang.
Rumah keluarga itu berubah menjadi sarang kecurigaan. Setiap bunyi kecil membuat orang menoleh. Gunting-gunting disimpan. Pintu dikunci dobel. Namun, teror tetap terasa karena pelakunya tidak terlihat.
Tidak ada barang lain yang hilang. Tidak ada coretan. Tidak ada ancaman tertulis. Hanya guntingan kecil yang menghantui.
Doni, dengan latar belakang keperawatannya, mencoba berpikir logis. Doni membuat catatan mental, waktu, tempat, kemungkinan akses. Namun, semakin Doni mencoba menyusun, semakin kabur jawabannya.
Hingga suatu sore yang panas, dua tahun setelah Reza pertama kali menjadi korban, dan kini usia Reza 50 tahun, sebuah teriakan mengguncang lingkungan.
“Woiiii! Jangan! Sudah!”
Reza yang baru turun dari motornya melihat kerumunan massa di ujung gang. Orang-orang berdesakan, suara makian bercampur teriakan.
“Ada anak nakal!”
“Kurang ajar!”
Reza berlari mendekat, jantungnya berdebar. Di tengah kerumunan itu, Reza melihat sesosok tubuh kecil tergeletak di tanah. Rambutnya yang pirang kecokelatan berantakan. Wajahnya pucat dan berlumuran darah.
“Estelle!” teriak Reza panik
Reza menerobos kerumunan. Estelle, 12 tahun, putri angkatnya, terbaring dengan napas tersengal. Hidung mancungnya memar, darah mengalir dari pelipisnya. Tubuhnya kurus, tingginya sekitar 160 cm, warisan darah Belanda dari orang tua kandungnya yang telah tiada.
“Kenapa kalian tega melakukan ini?!” teriak Reza sambil memeluk Estelle
Beberapa tetangga berteriak balik.
“Anak itu! Dia yang sudah gunting baju kami!”
“Sudah berkali-kali!”
“Pak Sobari nangis gara-gara bajunya rusak!”
“Bu Indri juga!”
Bella datang menyusul, menjerit melihat kondisi Estelle. Dengan susah payah, mereka melindungi anak itu dari amukan massa hingga akhirnya berhasil membawanya ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan mengejutkan. Tulang rusuk Estelle patah. Kepalanya perlu dijahit. Estelle selamat, tetapi trauma berat.
Di ruang perawatan, setelah kondisinya stabil, Estelle akhirnya bicara. Matanya kosong, suaranya lirih.
“Aku marah…”
Reza menggenggam tangannya.
“Marah kenapa, sayang?” tanya Reza
Estelle menutup mata. Air matanya mengalir.
“Pak Sobari…”
Semua terdiam.
Estelle menceritakan semuanya dengan terputus-putus, seperti membuka luka lama. Saat Estelle berumur 7 tahun, ia tertular demam berdarah dari Pak Sobari, tetangganya. Ia dirawat di rumah sakit. Dalam kondisi darurat, perawat terpaksa menggunting bajunya sepanjang 5 sentimeter untuk mempermudah pemasangan infus.
“Aku malu… sakit… takut…” ucap Estelle terbata-bata
“Pak Sobari yang nularin aku demam berdarah. Pak Sobari sakit demam berdarah, terus nularin ke aku.”
Di benak Estelle yang masih kanak-kanak, sakit itu berubah menjadi kemarahan yang tidak tahu arah. Estelle merasa bajunya dirusak tanpa izin. Dan ia ingin orang lain merasakan hal yang sama, kehilangan kecil tetapi menyakitkan.
Estelle mulai menggunting baju tetangga diam-diam. Lalu keluarga sendiri. Dua sentimeter, angka yang ia anggap adil.
Doni mendengarkan pengakuan Estelle itu dengan perasaan campur aduk. Marah, iba, lega. Misteri itu terpecahkan, tetapi harganya mahal.
Tidak ada hantu. Tidak ada sihir. Hanya ada luka batin seorang anak, dendam kecil yang tumbuh menjadi teror nyata.
Kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. Estelle menjalani konseling psikologis. Lingkungan mulai belajar memaafkan, meski tidak mudah.
Doni berdiri di depan cermin pada suatu pagi dengan mengenakan kemeja yang baru dibeli. Pinggirannya utuh. Namun, Doni tahu, bekas teror itu akan selalu ada, sebagai pengingat bahwa misteri paling menakutkan sering kali lahir dari hal yang paling manusiawi.
TAMAT
@nikmatulsiti319 @tabraklari81223 @aldo12
tiokyapcing dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.1K
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan