- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Wawancara : Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper, perempuan tangguh di balik Arnold Ap
TS
mabdulkarim
Wawancara : Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper, perempuan tangguh di balik Arnold Ap
Wawancara : Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper, perempuan tangguh di balik sosok Arnold Ap

“Kadang kadang sa ingin bahwa wanita Papua itu harus berdiri disamping laki laki. Apa yang laki laki buat, perempuan jadi tangan kanan. Tidak tinggal diam rumah saja tapi harus berani untuk bikin sesuatu, berdiri sendiri. Supaya kalau laki laki jatuh, perempuan bisa bertahan.”
January 22, 2026 in Indepth Story Reading Time: 13 mins read
0
Penulis: Victor Mambor - Editor: News Desk
Keluarga ap
Corry Bukorpioper (duduk) bersama tiga anaknya, Erisam Ap (kedua dari kiri), Raki Ap (ketiga dari kiri), Oridek Ap (pertama dari kiri) berfoto bersama Jubi - Dok. Jubi
Jayapura, Jubi – Tahun 2025, saya (Victor Mambor) mewawancarai Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper di Den Haag, Belanda. Corry adalah istri mendiang Arnold Clemens Ap yang tewas dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia pada 26 April 1984. Saya berbincang dengannya di rumah keluarga Ap yang sederhana. Kami berbincang tentang masa-masa dia bertemu Arnold, mendampingi Arnold, hingga mengungsi ke Papua Nugini lalu ke Belanda. Banyak orang sudah tahu siapa Arnold Ap, antropolog yang menjadi martir dari harapan Orang Asli Papua. Tapi Corry Bukorpioper, sebagai istri Arnold Ap, adalah sosok dibalik kokohnya Arnold Ap memperjuangkan identitas, budaya dan hak Orang Asli Papua.
Den Haag, 2025
Victor Mambor (VM)
Mama mungkin bisa cerita bagaimana mama memutuskan untuk pergi (ke Belanda) waktu itu? Karena kan mama sendiri ,Anak anak masih kecil-kecil. Bapak (Arnold Ap) sudah tidak ada, tapi mama harus pergi. Bagaimana mama memutuskan untuk pergi?
Carolina Bukorpioper (CB)
Saya tidak putuskan untuk pergi. Waktu kami dua mau pergi kerja, ada Arnold di depan rumah. Dia bilang sama saya, Corry ko (kau) bisa bawa anak anak ke sebelah (Papua Nugini/PNG) kah? Sa (saya) jawab, tapi sa tidak bisa sendiri. Arnold bilang, sa lihat ko (kau) bisa. Makanya sa bawa anak-anak ke sebelah. Bukan keputusan sendiri, Arnold yang suruh sa bawa anak anak ke sebelah supaya bebas. Dia tidak mau anak anak tumbuh dibawah tekanan Indonesia, dia mau anak anak tumbuh bebas. Dari situ kami berangkat. Itu memang keputusan yang berat. Karena waktu itu Arnold masih dipenjara, kami pamit untuk berangkat.
VM
Jadi ke PNG dulu ya
CB
Ia ke PNG. Dia hanya bilang kalau sampai di Papua Nugini, berusaha untuk ke Belanda.
VM
Terus saat mama sampai di Belanda, mama lihat bagaimana?

Corry Bukorpioper – Dok. Jubi
CB
Sa tiba di Belanda, sa tidak pikir apa apa. Sa senang, karna negara ini harus bertanggung jawab apa yang terjadi dengan sa punya keluarga[/]. Waktu saya mulai di interview dimana mana, saya selalu bilang bahwa Belanda harus tanggung jawab apa yang terjadi di Papua. Kalau dulu Belanda kasih kami merdeka, sa punya suami tidak dibunuh. [b]Karena Belanda tidak kasih kami merdeka, sa punya suami berusaha untuk lepaskan bangsa dari tekanan Indonesia.
VM
Anak anak kan masih kecil-kecil toh?
CB
Mereka masih 9-10 tahun waktu kami berangkat.
VM
Waktu sampai Belanda, bagaimana mama menangani mereka (anak-anak)?
CB
Saya hidup di dalam Tuhan. Waktu saya keluar dari Jayapura, saya punya hidup selalu dengan Tuhan.
VM
Jadi maksudnya, mama serahkan kepada Tuhan saja?
CB
Tuhan yg harus pimpin saya. Waktu kami naik diatas perahu, saya bilang Tuhan jadi juru mudi diperjalanan ini supaya kami bisa tiba dengan baik.
VM
Waktu itu anak anak sudah tau situasi yang dihadapi?
CB
Saya belum kasih tau mereka. Waktu Arnold kasih tau saya, saya tanya, saya harus cerita/bilang apa ke anak anak? Dia bilang nanti mereka besar, mereka akan tau dengan sendirinya.
VM
Jadi waktu itu mama tidak merasa berat sampai mau pulang, rindu. Biasa tong (kita) orang orang Papua kalau pergi lama lama jauh, maunya pulang terus toh, pulang ke Tanah Papua. Mama tidak rasa itu?
CB
Selalu saya katakan saya keluar dengan satu misi. Arnold suruh saya keluar dan diluar saya harus suruh anak anak teruskan perjuangan bapaknya. Kami pulang, kalau Papua Merdeka.
VM
Kemudian, anak anak kan sudah mulai beradaptasi. Mama rasa ada kesulitan atau tidak?
CB
Di sekolah?
VM
Ya, di sekolah atau di lingkungan.
CB
Pertama penyesuaian diri, memang berat. Tapi tidak terlalu berat juga, karna kami dulu dibawah Pemerintahan Belanda sebelum Indonesia datang. Baru saya punya generasi tumbuh dengan generasi Belanda, waktu Belanda. Jadi saya sudah ada dasar pengetahuan, pergaulan dengan Belanda, saya sudah sesuaikan diri. Jadi waktu saya datang dengan dengan anak anak, saya tidak terlalu kesulitan.
VM
Mama sudah pulang ke Papua lagi?
“Selalu saya katakan saya keluar dengan satu misi. Arnold suruh saya keluar dan diluar saya harus suruh anak anak teruskan perjuangan bapaknya. Kami pulang, kalau Papua Merdeka,”
CB
Belum pernah. Saya tidak bisa pulang.
VM
Pulang kalau Papua sudah merdeka?
CB
Pulang kalau sa bisa bawa pulang bendera (Bintang Kejora).
VM
Sampai hari ini, mama ada penyesalan atau tidak.
CB
Saya tidak menyesal. Saya rasa misi belum selesai karna Arnold punya misi, Papua harus lepas dari Indonesia. Dia meninggal tapi saya dengan anak anak masih ada tugas.
VM
Kalau mama bisa gambarkan, Arnold ini orangnya seperti apa?
CB
Arnold ini, membela untuk Papua.
VM
Mama masih ingat waktu pertama pergi dari Jayapura? Bagaimana situasinya? Waktu pergi ke Papua Nugini.
Waktu itu Jayapura tegang. Karena waktu tahun 1984 itu, mahasiswa Uncen (Universitas Cenderawasih) mau yang bikin kudeta. Rencanya, sebenarnya tanggal waktu kami keluar (ke PNG), Arnold harus kasih komando di Ifar Gunung. Dong (mereka) harus lepaskan Arnold dari penjara. Dong bawa dia ke Ifar Gunung dan dia bicara di situ untuk seluruh Papua. Rencana itu bocor. Tentara-tentara, intel, kejar Arnold. Jadi langsung dong kejar, dong tidak lepaskan Arnold. Jadi sebenarnya peristiwa 84 itu dong harus bawa Arnold ke Ifar Gunung. Dia akan bicara di Ifar Gunung untuk seluruh Papua, mahasiswa, pelajar sampai sekolah sekolah tutup. Tapi gagal. Semua di dalam tim ditangkap. Kami lari karena mereka (masyarakat Papua) bilang kalau Arnold punya istri/keluarga harus lolos, supaya mereka hanya bisa lihat (tangkap) Arnold saja.
VM
Waktu mama dari Jayapura ke PNG itu naik apa? Naik kapal?
CB
Naik Johnson (perahu dengan motor kecil), 12 jam.
VM
12 jam, dari?
CB
Dari Tobati. Menyebrang sampai masuk Vanimo jam 6 pagi. Jam 6 sore berangkat dari Tobati, jam 6 pagi tiba di Vanimo, 12 jam.
VM
Dengan anak anak semua?
CB
Dengan anak anak. Ini (Raki) masih di perut 3 bulan. Kami harus melompat ke laut baru berenang ke darat.
VM
Luar biasa ya. Mama masih ingat baik baik ya?
CB
Masih ingat baik baik. Itu penting. Tidak bisa lupa itu.
VM
Ia, sejarah. Terus setelah mama sampai di Vanimo, mama lama di Vanimo atau ke Port Moresby juga?
CB
Kami tinggal di Vanimo satu bulan. Baru kami pergi ke keluarga di Moresby. Kami tinggal di Moresby satu tahun sambil urus persiapan ke Belanda.
VM
Mungkin mama bisa cerita tentang perjalanan waktu itu. Karena kami ingin orang tahu bagaimana perjalanan mama yang berat sekali itu.
CB
Sebenarnya perjalanan itu berat. Tapi ada misi dari Arnold. Papua harus merdeka, harus lepas dari Indonesia, harus berdiri sendiri. Karena Arnold punya rencana untuk bangsa, pemerintahannya harus bagaimana, apa yang harus mereka makan. Kalau Papua merdeka harus makan apa? Harus makan makanan Papua, tidak boleh makan beras/nasi
VM
Jadi mama masih pegang sampai hari ini pesan itu
CB
Didalam rumah ini kami selalu, disamping kentang, masih ada nasi, masih ada keladi, masih ada papeda.
“Saya rasa aman. Cuma saya rasa berat. Kadang-kadang saya masuk ke kamar mandi, saya menangis,”
VM
Mama besarkan anak anak di Belanda ini bagaimana?
CB
Besarkan mereka menurut pendidikan Belanda. Disekolah dari jam 8 pagi sampai 4 sore itu mereka ditangan didikan Belanda. Sesudah pulang ke rumah itu saya punya didikan.
VM
Tapi mama rasa, kalau kita besarkan anak anak, saya sendiri rasa bahwa sa punya anak di Jayapura macam tidak aman. Kalau di Belanda mama rasa aman kah?
CB
Saya rasa aman.
VM
Anak anak pergi ke sekolah, tidak ada sesuatu yang mama bisa takutkan kah?
CB
Saya rasa aman. Cuma saya rasa berat. Kadang-kadang saya masuk ke kamar mandi, saya menangis.
VM
Saya ingat juga saya punya mama. Saya punya bapak (John Mambor) ditangkap, sa punya mama harus besarkan 6 orang anak sendirian. Jadi luar biasa. Kadang kadang orang tidak tau apa yang terjadi, dibalik pejuang Papua, ada sosok perempuan yang luar biasa.
CB
Waktu saya bawa anak anak ke sebelah itu saya hamil 3 bulan. Bagaimana saya hamil 3 bulan baru harus pergi? Tapi dia bilang sa rasa ko bisa. Jadi sa pikir itu suatu sugesti supaya berani. Kalau Arnold bilang sa tidak bisa, sa mungkin kecewa dan tidak berani. Tapi dia bilang ko bisa.
VM
Itu yang akhirnya mama pergi ke Vanimo lalu ke Port Moresby. Tapi setelah itu mama yakin bisa pergi lebih jauh lagi sampai di Belanda. Mama tidak ada keinginan untuk pulang ke Papua?
CB
Ingin. Saya pikir, selama saya punya keinginan, saya mau mati di Papua. Karena saya mau dikubur dekat Arnold, di Jayapura.
VM
Kalau mama sendiri dengar pak Arnold punya legacy, musik-musik?
CB
Terhibur, macam rasanya Arnold masih hidup.
VM
Tapi menurut mama bagaimana. Musik musik itu kan masih ada sampai sekarang ini dan saya pikir mungkin orang Papua terlalu banyak belajar di Indonesia, mereka tidak bisa lebih menghargai itu. Menurut mama bagaimana?
CB
Ya itu tergantung dari perkembangan zaman. Waktu generasi yang dulu, yang Arnold punya generasi, pasti mereka tetap mencintai Arnold punya musik. Generasi muda, kalau yg berjuang pasti mereka ingat spirit dari Mambesak (kelompok music yang didirikan Arnold Ap). Karena Mambesak punya spirit masih ada di masyarakat sampai di luar negeri.
VM
Mama bisa cerita lagi, bagaimana waktu pertama Oridek (anak pertama Arnold Ap) lahir . Karena orang bilang oridek dalam bahasa Biak artinya matahari terbit. Kenapa sampai dikasih nama begitu
CB
Dia (Oridek) musti jadi pejuang. Dia musti raising, tidak boleh diam. Dia harus berjuang.
VM
Itu yg kasih nama bapak Arnold atau siapa?
CB
Itu Arnold yg kasih nama. Tapi dia punya tete (kakek) bilang jangan Oridek saja nanti dia pemarah. Musti kasih “kadaun”. Jadi dia punya nama Oridek Kadaun. Matahari dan sumber. Kalau matahari sudah panas, musti jadi sumber untuk orang bisa berlindung. Seumpama satu pohon, tumbuh juga bisa jadi pelindung, biar orang bisa duduk dibawah. Anak yg kedua itu dia kasih nama Mambri. Dia musti jadi tentara. Tapi anak nomor dua takut jadi tentara. Dia tidak mau jadi tentara. Anak yg nomor tiga tentara, angkatan udara. Semua anak anak harus masuk tentara. Satu politik, satu tentara, satu budaya, satu antropolog, tapi tdk ada yang antropolog. Semua tentara. Semua berjuang.
VM
Kalau misalkan mama bisa kembali ke Papua, mama mau bikin apa di Papua?
CB
Saya kalau kembali ke Papua Saya mau kumpul semua perempuan, saya mau bicara dengan mereka. Kadang kadang sa ingin bahwa wanita Papua itu harus berdiri disamping laki laki. Apa yang laki laki buat, perempuan jadi tangan kanan. Tidak tinggal diam rumah saja tapi harus berani untuk bikin sesuatu, berdiri sendiri. Supaya kalau laki laki jatuh, perempuan bisa bertahan. Macam saya, Arnold jatuh, karena saya bidan, saya bisa kerja. Saya jadi suster untuk ibu ibu yg melahirkan , saya bantu ibu ibu di organisasi, karna ada pengalaman di organisasi juga.
“Kalau dulu Belanda kasih kami merdeka, sa punya suami tidak dibunuh. Karena Belanda tidak kasih kami merdeka, sa punya suami berusaha untuk lepaskan bangsa dari tekanan Indonesia,”
VM
Waktu pertama tiba disini (Belanda), anak anak umur berapa?
CB
Oridek 10 tahun, Mambri 9/8 tahun.
VM
Saya ingat saya punya mama juga. Waktu sa pu (punya) bapak ditangkap, sap pu mama sudah jadi guru di Jayapura. Mama kerja perawat dimana?
CB
Di Jayapura. Saya sekolah perawat karena waktu saya umur 9 tahun, saya dirawat di rumah sakit. Waktu masih pendudukan Belanda. Saya punya bapak selalu datang jalan kaki dari Sorido ke rumah sakit di Biak. Jadi bapak datang jam besuk sudah selesai, sa punya bapak tidak bisa masuk. Terus sa janji dalam sa punya hati, sampe sa jadi suster sa akan jadi lebih baik, sa tidak seperti suster-suster ini. Kasih biar orang pulang. Jadi sa jadi suster, tidak pernah di sa punya klinik, perempuan atau ibu hamil atau ibu yang dengan bayi disuruh pulang. Sa kadang kadang masuk kerja jam 9, ada ibu yang disuruh pulang karena sudah tidak terima kartu lagi, kartu pasien. Dan kalau lebih dari jam 9, saya bawa kembali ibu itu ke klinik dan sa suruh dia tunggu, sa periksa dia. Selesai, sa mulai tegur sa punya rekan suster. Sa bilang, lain kali tidak boleh suruh orang pulang. Kalau kamu sendiri hamil 8 – 9 bulan, kamu disuruh pulang, kamu rasa bagaimana? Kamu tolong saja. Nanti sesudah tolong baru bilang lain kali ibu harus datang tempo. Jadi waktu saya kerja disitu, tidak ada pasien pasien yang disuruh pulang.
VM
Kalau mama lihat Papua sekarang terutama yang punya gerakan menuju merdeka itu bgm? Yang mama sendiri lihat. Apakah menjanjikan atau tidak? Atau masih lama lagi?
CB
Itu tergantung di orang Papua. Terutama yg di Papua. Karena kami di luar negeri hanya bisa bantu. Tapi didalam negeri harus berdiri, berjuang. Harus tuntut merdeka. Jadi tergantung di orang Papua.
VM
Oke, sa pikir sementara cukup. Supaya orang tau. Tapi bagaimana mama pikir tentang orang Papua dari dulu dan dimasa depan?
CB
Bangsa Papua harus makan makanan Papua. Harus makan sagu. Bangsa Papua harus berdagang, harus kimpoi orang sendiri. Mungkin sekarang di Indonesia jadi sulit. Tapi kalau Papua merdeka, setiap provinsi punya pemimpin dari orangnya sendiri. Macam Serui dipimpin orang Serui sendiri, Biak dipimpin orang Biak sendiri. Sorong, orang Sorong sendiri. Merauke, orang Merauke sendiri. Tapi kalau dimana ada wilayah yang lemah orang dari tempat lain bisa bantu. Seperti yang dilakukan orang orang Biak waktu masa Belanda. Orang Biak itu, dorang sabar untuk jalankan tugas. Karna sa lihat dengan mata sendiri waktu ke pedalaman tahun 71-74 sa jadi bidan di pedalaman. Kebanyakan orang Biak yang bantu disana. Mereka punya kesabaran dan berani untuk jalankan tugas. Macam disini (Belanda), dikelompok ini, orang lihat komunitasnya ganti ganti tapi kami punya keluarga masih tinggal sudah 48 tahun. Mereka selalu tanya, ibu kok tidak pindah. Saya bilang saya datang ke Belanda bukan untuk pilih tempat. Semua orang pindah pindah, tapi saya tinggal. Saya datang ke negeri ini bukan saya cari tempat, saya datang untuk tempat aman, saya mau jaga sa punya anak anak, besarkan anak anak. Saya minta Tuhan pimpin saya untuk tenang, saya rasa tenang. Arnold bilang saya harus bikin rumah bagus supaya senang untuk tinggal didalam rumah itu. Kalau rumah tidak bagus nanti ko senang (pergi) keluar rumah.
“Waktu di penjara, tiap minggu sa bikin kami selalu bertemu. Dia selalu pura-pura sakit. Pura-pura sakit datang ke klinik biar bisa lihat sa, bisa bertemu. Tapi, sa selalu ada disana tiap minggu, di Ifar Gunung,”
VM
Dimana mama merasa jatuh cinta pada Arnold pertama kali?
CB
Itu sedih, saya ketemu Arnold dan mulai jatuh cinta di penjara.
VM
Dipenjara?
CB
Jatuh cinta untuk seorang dipenjara. Dipenjara Ifar Gunung. Waktu sa pergi di kerja Sentani. Selalu sa kerja untuk pemerintah, tapi sa juga diperbantukan untuk tentara.
VM
Itu Tahun berapa
CB
Sa di Sentani tahun 1971, awal 71. Sa di Sentani satu tahun. Tapi sa di Sentani satu kali seminggu dokter tentara dari Aryoko datang bawa saya. Dokter Gatot Subroto (nama dokter) bawa saya ke Ifar Gunung untuk ibu ibu tentara yg hamil, sa periksa dorang. Tapi sebelum itu, saya ikut dokter pergi ke penjara bersama dokter kasih obat obat untuk para tahanan, jadi saya ikut. Saya masuk, saya jalan, tahanan tahanan duduk sisi, ditengah ada semacam jalan tapi sedikit tinggi. Saya jalan diatas, Arnold dong (mereka) duduk tangan terikat dengan satu teman, dua orang dong ikat tangan. Terus tong (kita) jalan ditengah. Dari situ sa ketemu Arnold. Jadi Arnold biasa disitu, tapi saya belum kenal dia. Saya hanya kenal dia kawan dari keluarga saya. Waktu dia keluar dari Ifar Gunung, baru dia datang ke Sentani untuk tanya saya untuk jadi pasangan hidup. Kemudian saya bilang kasih saya waktu dua bulan untuk berpikir. Terus saya bergumul. Karena pada umumnya sa itu anak perempuan dari penginjil dan kemudian sa punya hidup selalu hidup dalam Tuhan. Sa anak sulung, sa punya bapak selalu terima tamu dan saya selalu di dapur terus. Saya tidak pernah ada waktu untuk keluar rumah. Saya selalu berdoa dibelakang bapak, saya mau keluar dari rumah ini. Saya juga mau bebas macam anak perempuan lain. Tapi sa waktu itu tidak tau berdoa, hanya doa Bapa Kami saja. Tapi betul, sa rasa Tuhan dengar sa punya doa biar cuma doa Bapa Kami, tapi isi hati Tuhan tau. Dari sejak itu sa keluar ke Jayapura sekolah bidan. Tapi sa tidak mau pilih sekolah rumah sakit yang dua tahun, sebab nanti sa keluar dong suruh sa kimpoi. Jadi sa pilih yang lima tahun supaya lama. Sa tidak mau sekolah di Biak. Jadi sa ke Jayapura yang lima tahun. Sesudah lima tahun, sa kerja di pelabuhan sebagai kepala BKIA. Dari Jayapura, terus sa ke Yoka ganti sa punya suster Belanda. Sa ganti dia untuk 6 bulan. Sesudah dia kembali sa harus ke Anggruk, ganti suster untuk 6 bulan. Sa biasanya jadi suster pengganti. Dari situ, sa lebih banyak dikenal di gereja terus sa dikirim ke pedalaman, lalu sa jadi bidan di rumah sakit Anggruk.
VM
Di Yahukimo lama?
CB
Jadi sa di Anggruk enam bulan, dokter tahan sa sampe tiga tahun. Terus Arnold bilang lebih baik ko turun kita kimpoi. Karena Arnold panggil sa untuk tong (kami) dua nikah itu yang saya turun ke Jayapura, kalau tidak mungkin sa tinggal dipedalaman.
VM
Setelah menikah masih kerja?
CB
Masih kerja
VM
Di dok II?
CB
Di Abepura. Rumah sakit Abepura. Pertama di klinik. Baru di rumah sakit. Cukup lama itu
VM
Kenapa mama merasa harus mencintai orang-orang Papua?
CB
Pertama, saya orang Papua dan kimpoi orang Papua. Waktu itu sa pilihan mau kimpoi dokter atau kimpoi pendeta. Tapi sa kimpoi dengan orang antropolog, orang budaya.
https://jubi.id/mendalam/2026/interv...sok-arnold-ap/
wawancara istri dari Arnold AP, tokoh kemerdekaan Papua dan namanya dikenal orang-orang Papua khususnya para pendukung kemerdekaan Papua sekarang.
Kejadian 1984 menyebabkan gelombang pengungsi ke Papua Nugini dan menyebabkan PNG bersuara ke pemerintah Indonesia
Lanjutannya di bawah.

“Kadang kadang sa ingin bahwa wanita Papua itu harus berdiri disamping laki laki. Apa yang laki laki buat, perempuan jadi tangan kanan. Tidak tinggal diam rumah saja tapi harus berani untuk bikin sesuatu, berdiri sendiri. Supaya kalau laki laki jatuh, perempuan bisa bertahan.”
January 22, 2026 in Indepth Story Reading Time: 13 mins read
0
Penulis: Victor Mambor - Editor: News Desk
Keluarga ap
Corry Bukorpioper (duduk) bersama tiga anaknya, Erisam Ap (kedua dari kiri), Raki Ap (ketiga dari kiri), Oridek Ap (pertama dari kiri) berfoto bersama Jubi - Dok. Jubi
Jayapura, Jubi – Tahun 2025, saya (Victor Mambor) mewawancarai Carolina “Corry” Ap-Bukorpioper di Den Haag, Belanda. Corry adalah istri mendiang Arnold Clemens Ap yang tewas dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia pada 26 April 1984. Saya berbincang dengannya di rumah keluarga Ap yang sederhana. Kami berbincang tentang masa-masa dia bertemu Arnold, mendampingi Arnold, hingga mengungsi ke Papua Nugini lalu ke Belanda. Banyak orang sudah tahu siapa Arnold Ap, antropolog yang menjadi martir dari harapan Orang Asli Papua. Tapi Corry Bukorpioper, sebagai istri Arnold Ap, adalah sosok dibalik kokohnya Arnold Ap memperjuangkan identitas, budaya dan hak Orang Asli Papua.
Den Haag, 2025
Victor Mambor (VM)
Mama mungkin bisa cerita bagaimana mama memutuskan untuk pergi (ke Belanda) waktu itu? Karena kan mama sendiri ,Anak anak masih kecil-kecil. Bapak (Arnold Ap) sudah tidak ada, tapi mama harus pergi. Bagaimana mama memutuskan untuk pergi?
Carolina Bukorpioper (CB)
Saya tidak putuskan untuk pergi. Waktu kami dua mau pergi kerja, ada Arnold di depan rumah. Dia bilang sama saya, Corry ko (kau) bisa bawa anak anak ke sebelah (Papua Nugini/PNG) kah? Sa (saya) jawab, tapi sa tidak bisa sendiri. Arnold bilang, sa lihat ko (kau) bisa. Makanya sa bawa anak-anak ke sebelah. Bukan keputusan sendiri, Arnold yang suruh sa bawa anak anak ke sebelah supaya bebas. Dia tidak mau anak anak tumbuh dibawah tekanan Indonesia, dia mau anak anak tumbuh bebas. Dari situ kami berangkat. Itu memang keputusan yang berat. Karena waktu itu Arnold masih dipenjara, kami pamit untuk berangkat.
VM
Jadi ke PNG dulu ya
CB
Ia ke PNG. Dia hanya bilang kalau sampai di Papua Nugini, berusaha untuk ke Belanda.
VM
Terus saat mama sampai di Belanda, mama lihat bagaimana?

Corry Bukorpioper – Dok. Jubi
CB
Sa tiba di Belanda, sa tidak pikir apa apa. Sa senang, karna negara ini harus bertanggung jawab apa yang terjadi dengan sa punya keluarga[/]. Waktu saya mulai di interview dimana mana, saya selalu bilang bahwa Belanda harus tanggung jawab apa yang terjadi di Papua. Kalau dulu Belanda kasih kami merdeka, sa punya suami tidak dibunuh. [b]Karena Belanda tidak kasih kami merdeka, sa punya suami berusaha untuk lepaskan bangsa dari tekanan Indonesia.
VM
Anak anak kan masih kecil-kecil toh?
CB
Mereka masih 9-10 tahun waktu kami berangkat.
VM
Waktu sampai Belanda, bagaimana mama menangani mereka (anak-anak)?
CB
Saya hidup di dalam Tuhan. Waktu saya keluar dari Jayapura, saya punya hidup selalu dengan Tuhan.
VM
Jadi maksudnya, mama serahkan kepada Tuhan saja?
CB
Tuhan yg harus pimpin saya. Waktu kami naik diatas perahu, saya bilang Tuhan jadi juru mudi diperjalanan ini supaya kami bisa tiba dengan baik.
VM
Waktu itu anak anak sudah tau situasi yang dihadapi?
CB
Saya belum kasih tau mereka. Waktu Arnold kasih tau saya, saya tanya, saya harus cerita/bilang apa ke anak anak? Dia bilang nanti mereka besar, mereka akan tau dengan sendirinya.
VM
Jadi waktu itu mama tidak merasa berat sampai mau pulang, rindu. Biasa tong (kita) orang orang Papua kalau pergi lama lama jauh, maunya pulang terus toh, pulang ke Tanah Papua. Mama tidak rasa itu?
CB
Selalu saya katakan saya keluar dengan satu misi. Arnold suruh saya keluar dan diluar saya harus suruh anak anak teruskan perjuangan bapaknya. Kami pulang, kalau Papua Merdeka.
VM
Kemudian, anak anak kan sudah mulai beradaptasi. Mama rasa ada kesulitan atau tidak?
CB
Di sekolah?
VM
Ya, di sekolah atau di lingkungan.
CB
Pertama penyesuaian diri, memang berat. Tapi tidak terlalu berat juga, karna kami dulu dibawah Pemerintahan Belanda sebelum Indonesia datang. Baru saya punya generasi tumbuh dengan generasi Belanda, waktu Belanda. Jadi saya sudah ada dasar pengetahuan, pergaulan dengan Belanda, saya sudah sesuaikan diri. Jadi waktu saya datang dengan dengan anak anak, saya tidak terlalu kesulitan.
VM
Mama sudah pulang ke Papua lagi?
“Selalu saya katakan saya keluar dengan satu misi. Arnold suruh saya keluar dan diluar saya harus suruh anak anak teruskan perjuangan bapaknya. Kami pulang, kalau Papua Merdeka,”
CB
Belum pernah. Saya tidak bisa pulang.
VM
Pulang kalau Papua sudah merdeka?
CB
Pulang kalau sa bisa bawa pulang bendera (Bintang Kejora).
VM
Sampai hari ini, mama ada penyesalan atau tidak.
CB
Saya tidak menyesal. Saya rasa misi belum selesai karna Arnold punya misi, Papua harus lepas dari Indonesia. Dia meninggal tapi saya dengan anak anak masih ada tugas.
VM
Kalau mama bisa gambarkan, Arnold ini orangnya seperti apa?
CB
Arnold ini, membela untuk Papua.
VM
Mama masih ingat waktu pertama pergi dari Jayapura? Bagaimana situasinya? Waktu pergi ke Papua Nugini.
Waktu itu Jayapura tegang. Karena waktu tahun 1984 itu, mahasiswa Uncen (Universitas Cenderawasih) mau yang bikin kudeta. Rencanya, sebenarnya tanggal waktu kami keluar (ke PNG), Arnold harus kasih komando di Ifar Gunung. Dong (mereka) harus lepaskan Arnold dari penjara. Dong bawa dia ke Ifar Gunung dan dia bicara di situ untuk seluruh Papua. Rencana itu bocor. Tentara-tentara, intel, kejar Arnold. Jadi langsung dong kejar, dong tidak lepaskan Arnold. Jadi sebenarnya peristiwa 84 itu dong harus bawa Arnold ke Ifar Gunung. Dia akan bicara di Ifar Gunung untuk seluruh Papua, mahasiswa, pelajar sampai sekolah sekolah tutup. Tapi gagal. Semua di dalam tim ditangkap. Kami lari karena mereka (masyarakat Papua) bilang kalau Arnold punya istri/keluarga harus lolos, supaya mereka hanya bisa lihat (tangkap) Arnold saja.
VM
Waktu mama dari Jayapura ke PNG itu naik apa? Naik kapal?
CB
Naik Johnson (perahu dengan motor kecil), 12 jam.
VM
12 jam, dari?
CB
Dari Tobati. Menyebrang sampai masuk Vanimo jam 6 pagi. Jam 6 sore berangkat dari Tobati, jam 6 pagi tiba di Vanimo, 12 jam.
VM
Dengan anak anak semua?
CB
Dengan anak anak. Ini (Raki) masih di perut 3 bulan. Kami harus melompat ke laut baru berenang ke darat.
VM
Luar biasa ya. Mama masih ingat baik baik ya?
CB
Masih ingat baik baik. Itu penting. Tidak bisa lupa itu.
VM
Ia, sejarah. Terus setelah mama sampai di Vanimo, mama lama di Vanimo atau ke Port Moresby juga?
CB
Kami tinggal di Vanimo satu bulan. Baru kami pergi ke keluarga di Moresby. Kami tinggal di Moresby satu tahun sambil urus persiapan ke Belanda.
VM
Mungkin mama bisa cerita tentang perjalanan waktu itu. Karena kami ingin orang tahu bagaimana perjalanan mama yang berat sekali itu.
CB
Sebenarnya perjalanan itu berat. Tapi ada misi dari Arnold. Papua harus merdeka, harus lepas dari Indonesia, harus berdiri sendiri. Karena Arnold punya rencana untuk bangsa, pemerintahannya harus bagaimana, apa yang harus mereka makan. Kalau Papua merdeka harus makan apa? Harus makan makanan Papua, tidak boleh makan beras/nasi
VM
Jadi mama masih pegang sampai hari ini pesan itu
CB
Didalam rumah ini kami selalu, disamping kentang, masih ada nasi, masih ada keladi, masih ada papeda.
“Saya rasa aman. Cuma saya rasa berat. Kadang-kadang saya masuk ke kamar mandi, saya menangis,”
VM
Mama besarkan anak anak di Belanda ini bagaimana?
CB
Besarkan mereka menurut pendidikan Belanda. Disekolah dari jam 8 pagi sampai 4 sore itu mereka ditangan didikan Belanda. Sesudah pulang ke rumah itu saya punya didikan.
VM
Tapi mama rasa, kalau kita besarkan anak anak, saya sendiri rasa bahwa sa punya anak di Jayapura macam tidak aman. Kalau di Belanda mama rasa aman kah?
CB
Saya rasa aman.
VM
Anak anak pergi ke sekolah, tidak ada sesuatu yang mama bisa takutkan kah?
CB
Saya rasa aman. Cuma saya rasa berat. Kadang-kadang saya masuk ke kamar mandi, saya menangis.
VM
Saya ingat juga saya punya mama. Saya punya bapak (John Mambor) ditangkap, sa punya mama harus besarkan 6 orang anak sendirian. Jadi luar biasa. Kadang kadang orang tidak tau apa yang terjadi, dibalik pejuang Papua, ada sosok perempuan yang luar biasa.
CB
Waktu saya bawa anak anak ke sebelah itu saya hamil 3 bulan. Bagaimana saya hamil 3 bulan baru harus pergi? Tapi dia bilang sa rasa ko bisa. Jadi sa pikir itu suatu sugesti supaya berani. Kalau Arnold bilang sa tidak bisa, sa mungkin kecewa dan tidak berani. Tapi dia bilang ko bisa.
VM
Itu yang akhirnya mama pergi ke Vanimo lalu ke Port Moresby. Tapi setelah itu mama yakin bisa pergi lebih jauh lagi sampai di Belanda. Mama tidak ada keinginan untuk pulang ke Papua?
CB
Ingin. Saya pikir, selama saya punya keinginan, saya mau mati di Papua. Karena saya mau dikubur dekat Arnold, di Jayapura.
VM
Kalau mama sendiri dengar pak Arnold punya legacy, musik-musik?
CB
Terhibur, macam rasanya Arnold masih hidup.
VM
Tapi menurut mama bagaimana. Musik musik itu kan masih ada sampai sekarang ini dan saya pikir mungkin orang Papua terlalu banyak belajar di Indonesia, mereka tidak bisa lebih menghargai itu. Menurut mama bagaimana?
CB
Ya itu tergantung dari perkembangan zaman. Waktu generasi yang dulu, yang Arnold punya generasi, pasti mereka tetap mencintai Arnold punya musik. Generasi muda, kalau yg berjuang pasti mereka ingat spirit dari Mambesak (kelompok music yang didirikan Arnold Ap). Karena Mambesak punya spirit masih ada di masyarakat sampai di luar negeri.
VM
Mama bisa cerita lagi, bagaimana waktu pertama Oridek (anak pertama Arnold Ap) lahir . Karena orang bilang oridek dalam bahasa Biak artinya matahari terbit. Kenapa sampai dikasih nama begitu
CB
Dia (Oridek) musti jadi pejuang. Dia musti raising, tidak boleh diam. Dia harus berjuang.
VM
Itu yg kasih nama bapak Arnold atau siapa?
CB
Itu Arnold yg kasih nama. Tapi dia punya tete (kakek) bilang jangan Oridek saja nanti dia pemarah. Musti kasih “kadaun”. Jadi dia punya nama Oridek Kadaun. Matahari dan sumber. Kalau matahari sudah panas, musti jadi sumber untuk orang bisa berlindung. Seumpama satu pohon, tumbuh juga bisa jadi pelindung, biar orang bisa duduk dibawah. Anak yg kedua itu dia kasih nama Mambri. Dia musti jadi tentara. Tapi anak nomor dua takut jadi tentara. Dia tidak mau jadi tentara. Anak yg nomor tiga tentara, angkatan udara. Semua anak anak harus masuk tentara. Satu politik, satu tentara, satu budaya, satu antropolog, tapi tdk ada yang antropolog. Semua tentara. Semua berjuang.
VM
Kalau misalkan mama bisa kembali ke Papua, mama mau bikin apa di Papua?
CB
Saya kalau kembali ke Papua Saya mau kumpul semua perempuan, saya mau bicara dengan mereka. Kadang kadang sa ingin bahwa wanita Papua itu harus berdiri disamping laki laki. Apa yang laki laki buat, perempuan jadi tangan kanan. Tidak tinggal diam rumah saja tapi harus berani untuk bikin sesuatu, berdiri sendiri. Supaya kalau laki laki jatuh, perempuan bisa bertahan. Macam saya, Arnold jatuh, karena saya bidan, saya bisa kerja. Saya jadi suster untuk ibu ibu yg melahirkan , saya bantu ibu ibu di organisasi, karna ada pengalaman di organisasi juga.
“Kalau dulu Belanda kasih kami merdeka, sa punya suami tidak dibunuh. Karena Belanda tidak kasih kami merdeka, sa punya suami berusaha untuk lepaskan bangsa dari tekanan Indonesia,”
VM
Waktu pertama tiba disini (Belanda), anak anak umur berapa?
CB
Oridek 10 tahun, Mambri 9/8 tahun.
VM
Saya ingat saya punya mama juga. Waktu sa pu (punya) bapak ditangkap, sap pu mama sudah jadi guru di Jayapura. Mama kerja perawat dimana?
CB
Di Jayapura. Saya sekolah perawat karena waktu saya umur 9 tahun, saya dirawat di rumah sakit. Waktu masih pendudukan Belanda. Saya punya bapak selalu datang jalan kaki dari Sorido ke rumah sakit di Biak. Jadi bapak datang jam besuk sudah selesai, sa punya bapak tidak bisa masuk. Terus sa janji dalam sa punya hati, sampe sa jadi suster sa akan jadi lebih baik, sa tidak seperti suster-suster ini. Kasih biar orang pulang. Jadi sa jadi suster, tidak pernah di sa punya klinik, perempuan atau ibu hamil atau ibu yang dengan bayi disuruh pulang. Sa kadang kadang masuk kerja jam 9, ada ibu yang disuruh pulang karena sudah tidak terima kartu lagi, kartu pasien. Dan kalau lebih dari jam 9, saya bawa kembali ibu itu ke klinik dan sa suruh dia tunggu, sa periksa dia. Selesai, sa mulai tegur sa punya rekan suster. Sa bilang, lain kali tidak boleh suruh orang pulang. Kalau kamu sendiri hamil 8 – 9 bulan, kamu disuruh pulang, kamu rasa bagaimana? Kamu tolong saja. Nanti sesudah tolong baru bilang lain kali ibu harus datang tempo. Jadi waktu saya kerja disitu, tidak ada pasien pasien yang disuruh pulang.
VM
Kalau mama lihat Papua sekarang terutama yang punya gerakan menuju merdeka itu bgm? Yang mama sendiri lihat. Apakah menjanjikan atau tidak? Atau masih lama lagi?
CB
Itu tergantung di orang Papua. Terutama yg di Papua. Karena kami di luar negeri hanya bisa bantu. Tapi didalam negeri harus berdiri, berjuang. Harus tuntut merdeka. Jadi tergantung di orang Papua.
VM
Oke, sa pikir sementara cukup. Supaya orang tau. Tapi bagaimana mama pikir tentang orang Papua dari dulu dan dimasa depan?
CB
Bangsa Papua harus makan makanan Papua. Harus makan sagu. Bangsa Papua harus berdagang, harus kimpoi orang sendiri. Mungkin sekarang di Indonesia jadi sulit. Tapi kalau Papua merdeka, setiap provinsi punya pemimpin dari orangnya sendiri. Macam Serui dipimpin orang Serui sendiri, Biak dipimpin orang Biak sendiri. Sorong, orang Sorong sendiri. Merauke, orang Merauke sendiri. Tapi kalau dimana ada wilayah yang lemah orang dari tempat lain bisa bantu. Seperti yang dilakukan orang orang Biak waktu masa Belanda. Orang Biak itu, dorang sabar untuk jalankan tugas. Karna sa lihat dengan mata sendiri waktu ke pedalaman tahun 71-74 sa jadi bidan di pedalaman. Kebanyakan orang Biak yang bantu disana. Mereka punya kesabaran dan berani untuk jalankan tugas. Macam disini (Belanda), dikelompok ini, orang lihat komunitasnya ganti ganti tapi kami punya keluarga masih tinggal sudah 48 tahun. Mereka selalu tanya, ibu kok tidak pindah. Saya bilang saya datang ke Belanda bukan untuk pilih tempat. Semua orang pindah pindah, tapi saya tinggal. Saya datang ke negeri ini bukan saya cari tempat, saya datang untuk tempat aman, saya mau jaga sa punya anak anak, besarkan anak anak. Saya minta Tuhan pimpin saya untuk tenang, saya rasa tenang. Arnold bilang saya harus bikin rumah bagus supaya senang untuk tinggal didalam rumah itu. Kalau rumah tidak bagus nanti ko senang (pergi) keluar rumah.
“Waktu di penjara, tiap minggu sa bikin kami selalu bertemu. Dia selalu pura-pura sakit. Pura-pura sakit datang ke klinik biar bisa lihat sa, bisa bertemu. Tapi, sa selalu ada disana tiap minggu, di Ifar Gunung,”
VM
Dimana mama merasa jatuh cinta pada Arnold pertama kali?
CB
Itu sedih, saya ketemu Arnold dan mulai jatuh cinta di penjara.
VM
Dipenjara?
CB
Jatuh cinta untuk seorang dipenjara. Dipenjara Ifar Gunung. Waktu sa pergi di kerja Sentani. Selalu sa kerja untuk pemerintah, tapi sa juga diperbantukan untuk tentara.
VM
Itu Tahun berapa
CB
Sa di Sentani tahun 1971, awal 71. Sa di Sentani satu tahun. Tapi sa di Sentani satu kali seminggu dokter tentara dari Aryoko datang bawa saya. Dokter Gatot Subroto (nama dokter) bawa saya ke Ifar Gunung untuk ibu ibu tentara yg hamil, sa periksa dorang. Tapi sebelum itu, saya ikut dokter pergi ke penjara bersama dokter kasih obat obat untuk para tahanan, jadi saya ikut. Saya masuk, saya jalan, tahanan tahanan duduk sisi, ditengah ada semacam jalan tapi sedikit tinggi. Saya jalan diatas, Arnold dong (mereka) duduk tangan terikat dengan satu teman, dua orang dong ikat tangan. Terus tong (kita) jalan ditengah. Dari situ sa ketemu Arnold. Jadi Arnold biasa disitu, tapi saya belum kenal dia. Saya hanya kenal dia kawan dari keluarga saya. Waktu dia keluar dari Ifar Gunung, baru dia datang ke Sentani untuk tanya saya untuk jadi pasangan hidup. Kemudian saya bilang kasih saya waktu dua bulan untuk berpikir. Terus saya bergumul. Karena pada umumnya sa itu anak perempuan dari penginjil dan kemudian sa punya hidup selalu hidup dalam Tuhan. Sa anak sulung, sa punya bapak selalu terima tamu dan saya selalu di dapur terus. Saya tidak pernah ada waktu untuk keluar rumah. Saya selalu berdoa dibelakang bapak, saya mau keluar dari rumah ini. Saya juga mau bebas macam anak perempuan lain. Tapi sa waktu itu tidak tau berdoa, hanya doa Bapa Kami saja. Tapi betul, sa rasa Tuhan dengar sa punya doa biar cuma doa Bapa Kami, tapi isi hati Tuhan tau. Dari sejak itu sa keluar ke Jayapura sekolah bidan. Tapi sa tidak mau pilih sekolah rumah sakit yang dua tahun, sebab nanti sa keluar dong suruh sa kimpoi. Jadi sa pilih yang lima tahun supaya lama. Sa tidak mau sekolah di Biak. Jadi sa ke Jayapura yang lima tahun. Sesudah lima tahun, sa kerja di pelabuhan sebagai kepala BKIA. Dari Jayapura, terus sa ke Yoka ganti sa punya suster Belanda. Sa ganti dia untuk 6 bulan. Sesudah dia kembali sa harus ke Anggruk, ganti suster untuk 6 bulan. Sa biasanya jadi suster pengganti. Dari situ, sa lebih banyak dikenal di gereja terus sa dikirim ke pedalaman, lalu sa jadi bidan di rumah sakit Anggruk.
VM
Di Yahukimo lama?
CB
Jadi sa di Anggruk enam bulan, dokter tahan sa sampe tiga tahun. Terus Arnold bilang lebih baik ko turun kita kimpoi. Karena Arnold panggil sa untuk tong (kami) dua nikah itu yang saya turun ke Jayapura, kalau tidak mungkin sa tinggal dipedalaman.
VM
Setelah menikah masih kerja?
CB
Masih kerja
VM
Di dok II?
CB
Di Abepura. Rumah sakit Abepura. Pertama di klinik. Baru di rumah sakit. Cukup lama itu
VM
Kenapa mama merasa harus mencintai orang-orang Papua?
CB
Pertama, saya orang Papua dan kimpoi orang Papua. Waktu itu sa pilihan mau kimpoi dokter atau kimpoi pendeta. Tapi sa kimpoi dengan orang antropolog, orang budaya.
https://jubi.id/mendalam/2026/interv...sok-arnold-ap/
wawancara istri dari Arnold AP, tokoh kemerdekaan Papua dan namanya dikenal orang-orang Papua khususnya para pendukung kemerdekaan Papua sekarang.
Kejadian 1984 menyebabkan gelombang pengungsi ke Papua Nugini dan menyebabkan PNG bersuara ke pemerintah Indonesia
Lanjutannya di bawah.
0
176
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan