Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang alasan mengapa laki-laki juga bisa terkena kanker payudara

.
Selama ini, kanker payudara hampir selalu berhubungan dengan perempuan. Kampanye kesehatan, simbol pita merah muda, hingga edukasi publik umumnya menempatkan kanker payudara sebagai “penyakit khusus perempuan”. Akibatnya, ketika istilah kanker payudara pada laki-laki muncul, banyak orang langsung menganggapnya mustahil atau sekadar kelainan yang sangat langka dan tidak perlu diperhatikan.
Padahal, secara medis dan biologis, kanker payudara bisa terjadi pada laki-laki, meskipun risikonya jauh lebih kecil dibandingkan perempuan. Fakta ini bukan mitos, bukan pula pengecualian aneh dalam dunia kedokteran. Fakta ini memiliki dasar ilmiah yang kuat, terutama jika kita menelusurinya dari sudut pandang genetika, hormon, dan biologi perkembangan manusia.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat laki-laki tetap bisa terserang kanker payudara?
Jawaban singkatnya adalah karena laki-laki juga memiliki jaringan payudara dan kromosom X, meskipun hanya satu. Namun, penjelasan ilmiahnya jauh lebih menarik dan kompleks daripada itu.
Quote:
Payudara Bukanlah Organ Khusus Perempuan
Dari tahap embrio, semua manusia memulai kehidupannya dengan struktur dan bentuk payudara yang sama, baik laki-laki maupun perempuan.
Bahkan, bisa dikatakan bahwa pada awal terbentuknya janin di rahim, semua manusia berjenis kelamin perempuan. Pada tahap awal perkembangan janin, jaringan payudara terbentuk sebelum diferensiasi jenis kelamin berjalan sempurna.
Artinya, baik bayi laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki puting susu, saluran air susu (ductus mammarius), dan jaringan epitel payudara.
Perbedaan mencolok baru muncul saat pubertas. Pada perempuan, lonjakan hormon estrogen dan progesteron menyebabkan jaringan payudara berkembang pesat. Sebaliknya, pada laki-laki, perkembangan payudara ditekan secara aktif oleh mekanisme genetik dan hormonal tertentu.
Namun, “ditekan” bukan berarti “dihilangkan”. Jaringan payudara pada laki-laki tetap ada, meskipun dalam kondisi tidak bertumbuh sempurna. Dan selama jaringan tersebut masih ada, maka secara teori dan praktik medis, sel-selnya tetap bisa mengalami transformasi ganas.
Peran Kromosom X pada Kanker Payudara
Salah satu faktor biologis terpenting dalam kanker payudara adalah kromosom X.
Perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sedangkan laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY). Inilah alasan utamanya mengapa perempuan jauh lebih berisiko terkena kanker payudara dibandingkan laki-laki.
Namun, fakta pentingnya adalah laki-laki tetap memiliki satu kromosom X.
Mengapa ini penting?
Karena banyak gen yang berperan dalam regulasi pertumbuhan sel payudara dan risiko kanker, termasuk BRCA1 dan BRCA2, terletak pada kromosom X atau berinteraksi erat dengan mekanisme genetik yang dikendalikan kromosom X.
Jika terjadi mutasi genetik pada kromosom X tersebut, laki-laki tidak memiliki cadangan kromosom X kedua seperti perempuan. Akibatnya, mutasi tersebut bisa langsung mengekspresikan efek penyakitnya tanpa perbaikan genetik.
Dalam konteks ini, meskipun risiko keseluruhan kanker payudara pada laki-laki lebih rendah, mutasi gen tertentu justru bisa berdampak sangat signifikan.
Gen SRY adalah Penekan Pertumbuhan Payudara pada Laki-laki
Laki-laki memiliki gen penentu jenis kelamin yang tidak dimiliki perempuan, yaitu gen SRY (
sex-determining region Y) yang terletak pada kromosom Y. Gen inilah yang memicu perkembangan testis dan karakteristik seks sekunder laki-laki (misalnya, pertumbuhan janggut dan kecenderungan mudah mimisan).
Secara tidak langsung, gen SRY dan sistem hormon laki-laki yang dihasilkannya berfungsi untuk menekan perkembangan jaringan payudara, menghambat proliferasi sel epitel payudara, dan menjaga dominasi hormon testosteron.
Namun, mekanisme penekanan ini tidak bersifat mutlak. Jika terjadi ketidakseimbangan hormon, misalnya peningkatan estrogen atau penurunan testosteron, jaringan payudara laki-laki bisa mengalami stimulasi abnormal.
Inilah alasan mengapa beberapa kondisi seperti sindrom Klinefelter (pria XXY), penyakit liver kronis, kegemukan, dan terapi hormon tertentu diketahui dapat meningkatkan risiko kanker payudara pada laki-laki.
Estrogen Bukanlah Hormon Khusus Perempuan
Kesalahpahaman umum lainnya adalah anggapan bahwa estrogen hanya dimiliki perempuan. Faktanya, laki-laki juga memproduksi estrogen, meskipun dalam jumlah jauh lebih kecil.
Pada laki-laki, estrogen berasal dari konversi testosteron melalui enzim aromatase, jaringan lemak, dan kelenjar adrenal.
Ketika kadar estrogen meningkat, atau rasio estrogen vs testosteron terganggu, jaringan payudara laki-laki dapat mengalami stimulasi dan pertumbuhan berlebihan. Stimulasi jaringan kronis inilah yang berpotensi memicu perubahan sel normal menjadi sel kanker.
Oleh karena itu, kanker payudara pada laki-laki sering kali berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, bukan sekadar faktor genetik semata.
Mengapa Risiko Pada Laki-laki Jauh Lebih Rendah Dibandingkan Perempuan?
Meskipun laki-laki bisa terkena kanker payudara, risikonya memang jauh lebih kecil. Hal ini terutama disebabkan karena jumlah jaringan payudara yang minimal, mempunyai hanya satu kromosom X, tidak adanya siklus menstruasi bulanan, dominasi hormon laki-laki, dan tidak adanya kehamilan atau menyusui.
Perempuan memiliki dua kromosom X dan mengalami paparan estrogen yang fluktuatif sepanjang hidupnya, mulai dari pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, hingga menopause. Semua faktor ini meningkatkan peluang terjadinya kesalahan replikasi sel di organ payudara.
Sebaliknya, laki-laki memiliki paparan estrogen yang relatif stabil dan rendah, sehingga risiko kanker payudara menjadi jauh lebih kecil, meskipun tidak sampai nol.
Masalah Terbesarnya yaitu Diagnosis Terlambat
Ironisnya, meskipun kanker payudara pada laki-laki lebih jarang, tingkat keterlambatan diagnosis justru lebih tinggi. Banyak laki-laki mengabaikan benjolan di dada karena menganggapnya tidak mungkin kanker.
Akibatnya, saat terdiagnosis, kanker sering kali sudah berada pada stadium lanjut. Hal ini bukan disebabkan oleh sifat biologis kanker yang lebih ganas, melainkan oleh kurangnya kesadaran dan edukasi publik.
Quote:
PENUTUP
Kanker payudara bukanlah penyakit khusus perempuan. Kanker payudara adalah penyakit sel, gen, serta hormon, dan selama laki-laki memiliki jaringan payudara serta kromosom X, risiko itu tetap ada.
Perempuan memang jauh lebih berisiko karena memiliki dua kromosom X dan paparan estrogen yang lebih tinggi. Namun, laki-laki tidak boleh dikesampingkan dari masalah kesehatan ini.
Pemahaman ilmiah yang tepat akan membantu menghilangkan stigma, meningkatkan kewaspadaan, dan mendorong diagnosis dini yang pada akhirnya menyelamatkan nyawa.
Quote:
SUMBER
American Cancer Society. (2023).
Breast cancer in men. American Cancer Society.
Fentiman, I. S., Fourquet, A., & Hortobagyi, G. N. (2006). Male breast cancer.
The Lancet,
367(9510), 595–604.
Giordano, S. H. (2018). Breast cancer in men.
New England Journal of Medicine,
378(24), 2311–2320.
National Cancer Institute. (2023).
Male breast cancer treatment (PDQ®). National Institutes of Health.
Weiss, J. R., Moysich, K. B., & Swede, H. (2005). Epidemiology of male breast cancer.
Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention,
14(1), 20–26.
@nubiterz @aldo12 @pabuaranwetan