Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang salah satu fenomena psikologis yang sering dianggap aneh, yaitu berbicara sendiri

.
Di ruang kelas, angkot, kantor, halte, atau bahkan di dalam kamar, Agan atau Sista terkadang melihat seseorang berbicara sendiri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya nyaris tidak terdengar, atau justru cukup jelas, seolah sedang berdialog dengan orang lain. Tidak jarang, pemandangan ini memunculkan rasa heran, khawatir, atau bahkan stigma. Sebagian orang langsung mengaitkannya dengan gangguan jiwa, padahal kesimpulan semacam itu sering kali terlalu tergesa-gesa.
Dalam psikologi dan ilmu saraf modern, berbicara sendiri (
self-talk) justru dipandang sebagai fenomena yang umum, manusiawi, dan dalam banyak konteks, bersifat adaptif. Penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kebiasaan ini memiliki fungsi kognitif, emosional, dan perilaku yang penting. Bahkan, banyak ilmuwan menyebut bahwa kemampuan manusia untuk “berbicara kepada diri sendiri” merupakan bagian dari perkembangan berpikir tingkat tinggi.
Thread ini akan membahas tentang 5 penjelasan ilmiah di balik kebiasaan seseorang berbicara sendiri, berdasarkan ilmu psikologi kognitif, neurosains, dan psikologi perkembangan. Dengan memahami penjelasan ilmiahnya, Agan dan Sista bisa melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang lebih objektif dan berimbang.
Quote:
1. Berbicara Sendiri sebagai Alat Regulasi Kognitif
Salah satu tujuan utama manusia berbicara sendiri adalah untuk membantu otak mengatur proses berpikir. Dalam psikologi kognitif,
self-talk dipahami sebagai cara otak seseorang “memberi instruksi” kepada dirinya sendiri.
Penelitian oleh Lupyan (2012) menunjukkan bahwa ucapan verbal (bahkan ketika diarahkan ke diri sendiri) dapat meningkatkan kemampuan fokus, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Ketika seseorang berkata, “Tenang, urutkan dulu,” atau “Langkah pertama, buka file ini,” otak orang itu sedang menyederhanakan informasi kompleks menjadi instruksi yang lebih mudah diproses.
Fenomena ini juga sering terlihat pada anak-anak. Saat mengerjakan tugas, mereka kerap berbicara keras (menyebut angka, membaca instruksi, atau mengomentari tindakannya sendiri). Dalam teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, perilaku ini disebut
private speech, yaitu tahap perkembangan penting sebelum seorang anak mampu mengendalikan pikirannya secara internal.
Menariknya, pada orang dewasa,
private speech tidak sepenuhnya hilang, hanya berubah bentuk (kadang menjadi suara pelan, bisikan, atau dialog internal). Dalam situasi tertentu, seperti stres atau tugas kompleks, ucapan itu bisa kembali terdengar keluar.
Dengan kata lain, berbicara sendiri sering kali merupakan tanda otak sedang bekerja keras, bukan tanda gangguan jiwa.
2. Strategi Mengelola Emosi dan Stres
Selain fungsi kognitif, berbicara sendiri juga berperan besar dalam regulasi emosi. Dalam psikologi klinis,
self-talk dipandang sebagai mekanisme alami untuk menenangkan diri, memproses emosi, dan menjaga kestabilan mental.
Penelitian oleh Kross et al. (2014) menunjukkan bahwa menggunakan
self-talk, terutama dengan sudut pandang orang ketiga (“kamu/dia bisa,” bukan “aku bisa”), dapat menurunkan intensitas emosi negatif. Teknik ini membantu individu menciptakan jarak psikologis dari masalah yang dihadapi, sehingga emosi menjadi lebih terkendali.
Inilah sebabnya, banyak orang berbicara sendiri saat cemas, sedih, atau marah. Kalimat seperti “Tenang, ini bisa dilewati,” atau “Tidak apa-apa, semua orang pernah gagal,” berfungsi layaknya dialog penenang spontan.
Dalam konteks ini, berbicara sendiri mirip dengan teknik konseling kognitif, hanya saja terjadi secara alami tanpa terapis. Selama isi pembicaraannya bersifat realistis dan menenangkan, kebiasaan ini justru mendukung kesehatan mental.
3. Bagian dari Proses Belajar dan Pembentukan Memori
Berbicara sendiri juga berkaitan erat dengan pembelajaran dan memori. Dalam bidang neurosains, ucapan verbal melibatkan banyak area otak sekaligus, mulai dari korteks prefrontal, area bahasa (Broca dan Wernicke), hingga sistem memori kerja.
Menurut Baddeley (2012), memori kerja memiliki komponen fonologis yang memproses informasi berbasis suara dan bahasa. Ketika seseorang mengulang informasi secara verbal (baik keras maupun pelan), orang itu sedang memperkuat jejak memori tersebut.
Inilah alasan logis mengapa banyak orang menghafal dengan cara membaca keras, mengulang sendiri, atau berbicara seolah sedang mengajar. Berbicara sendiri dalam konteks ini meningkatkan retensi informasi, terutama pada materi yang kompleks atau baru.
Fenomena ini juga umum pada mahasiswa, peneliti, dan profesional. Orang-orang itu sering terlihat berbicara sendiri saat menganalisis data, menyusun argumen, atau mempersiapkan presentasi. Secara ilmiah, hal ini merupakan strategi belajar yang sah dan efektif.
4. Ekspresi Kreativitas dan Simulasi Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, dan otak kita terbiasa mensimulasikan percakapan, bahkan ketika tidak ada lawan bicara yang nyata. Dalam psikologi sosial dan kognitif, berbicara sendiri dipandang sebagai bentuk simulasi sosial internal.
Aktor, penulis, dosen, atau orator sering berbicara sendiri saat berlatih. Mereka mensimulasikan dialog, reaksi audiens, atau kemungkinan pertanyaan. Menurut penelitian oleh Alderson-Day dan Fernyhough (2015),
self-talk dan dialog internal membantu seseorang membangun narasi, perspektif, dan empati.
Dalam konteks kreativitas, berbicara sendiri dapat memicu ide baru. Dengan mengucapkan pikiran secara verbal, otak memproses informasi secara lebih luas dibandingkan hanya berpikir diam-diam. Tidak heran, jika banyak ide “muncul” saat seseorang berbicara sendiri sambil berjalan atau bekerja.
Selama orang itu masih menyadari bahwa dialog tersebut berasal dari pikirannya sendiri, fenomena ini bukan gangguan kejiwaan, melainkan bagian dari fungsi imajinasi dan kreativitas manusia.
5. Kapan Berbicara Sendiri Perlu Diwaspadai?
Meskipun pada umumnya berbicara sendiri itu masih normal, ilmu psikologi juga mengakui, bahwa berbicara sendiri dapat memiliki makna tidak normal dalam kondisi tertentu. Perbedaannya terletak pada konten, kontrol, dan kesadaran.
Dalam gangguan psikotik tertentu, seperti skizofrenia, seseorang bisa berbicara sendiri karena merespons halusinasi pendengaran (suara yang dirasakan datang dari luar dirinya dan tidak dapat dikendalikan). Dalam kasus ini, seseorang biasanya tidak menyadari bahwa suara tersebut berasal dari pikirannya sendiri.
Menurut DSM-5-TR (
American Psychiatric Association, 2022), gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
1) Berbicara sendiri disertai keyakinan kuat bahwa ada suara eksternal yang nyata.
2) Ucapan saat berbicara sendiri bersifat memerintah atau mengancam.
3) Disertai gangguan fungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan.
Namun, penting untuk ditekankan, bahwa sebagian besar orang yang berbicara sendiri tidak mengalami gangguan jiwa. Menyamakan semua
self-talk dengan penyakit kejiwaan justru memperkuat stigma yang tidak berdasar.
Quote:
Menyikapi dengan Lebih Bijak
Ilmu pengetahuan modern mengajarkan bahwa perilaku manusia jarang bersifat hitam atau putih. Berbicara sendiri adalah contoh nyatanya, dan hal ini bisa menjadi alat berpikir, penenang emosi, sarana belajar, hingga pemicu kreativitas.
Daripada langsung menghakimi atau merasa khawatir berlebihan, pendekatan yang lebih sehat adalah melihat konteks dan fungsinya. Apakah orang tersebut masih mampu berfungsi dengan baik? Apakah orang tersebut sadar dengan apa yang diucapkannya? Apakah
self-talk tersebut membantu orang tersebut dalam menjalani aktivitas sehari-hari?
Jika jawabannya iya, kemungkinan besar kebiasaan itu hanyalah bagian dari cara unik otak manusia bekerja.
Quote:
KESIMPULAN
Berbicara sendiri bukanlah perilaku aneh yang harus selalu dicurigai. Berdasarkan penelitian psikologi dan neurosains, kebiasaan ini memiliki setidaknya 5 penjelasan ilmiah, antara regulasi kognitif, pengelolaan emosi, penguatan memori, simulasi sosial kreatif, serta (dalam kasus terbatas) indikator gangguan klinis.
Dengan pemahaman ilmiah yang tepat, Agan dan Sista bisa mengubah dari prasangka menjadi pengetahuan, dan dari kekhawatiran menjadi sikap yang lebih empatik serta rasional.
Quote:
SUMBER
Alderson-Day, B., & Fernyhough, C. (2015). Inner speech: Development, cognitive functions, phenomenology, and neurobiology.
Psychological Bulletin,
141(5), 931–965.
American Psychiatric Association. (2022).
DSM-5-TR: Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.). APA Publishing.
Baddeley, A. (2012). Working memory: Theories, models, and controversies.
Annual Review of Psychology,
63, 1–29.
Kross, E., Ayduk, O., & Mischel, W. (2014). When asking “why” does not hurt: Distinguishing rumination from reflective processing of negative emotions.
Psychological Science,
16(9), 709–715.
Lupyan, G. (2012). Linguistically modulated perception and cognition: The label-feedback hypothesis.
Frontiers in Psychology,
3, 54.
Vygotsky, L. S. (1987).
Thinking and speech. Dalam
R. W. Rieber & A. S. Carton (Eds.),
The collected works of L. S. Vygotsky (Vol. 1). Springer.
@bukhorigan @pabuaranwetan @sahabat.006