- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
MBG Diantar Naik Mobil Alphard & Sealion 7 ke Sekolah, BGN Tak Permasalahkan
TS
lowbrow
MBG Diantar Naik Mobil Alphard & Sealion 7 ke Sekolah, BGN Tak Permasalahkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/mobil-mewah-digunakan-untuk-mengantar-MBG-di-Kabupaten-Sumenep.jpg)
Pengantaran menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sejumlah sekolah di Kecamatan Kota Sumenep, Jawa Timur, viral di media sosial, Kamis (15/1/2026).
Pasalnya, mobil mewah digunakan untuk mengangkut menu MBG ke sekolah hingga videonya menuai sorotan di media sosial.
Video tersebut menuai beragam komentar netizen, dan memicu perbincangan soal pelaksanaan program MBG di daerah.
Dalam video yang beredar, terlihat dua mobil premium jenis Toyota Vellfire dan Toyota Alphard tiba di sebuah sekolah untuk membagikan menu MBG kepada para siswa.
Kedua mobil tersebut tampak dikawal sebuah mobil listrik BYD Sealion 7 dengan pelat nomor bertuliskan M 8 G.
Video tersebut salah satunya dibagikan oleh akun Instagram @inijawatimur.
Hingga kini, video itu telah disukai lebih dari 4.000 kali, mendapat 524 komentar, dibagikan ulang 858 kali, dan 83 kali diposting ulang oleh akun lain.
Beragam komentar muncul dari netizen.
Sebagian menyayangkan penggunaan mobil mewah untuk program yang menyasar siswa sekolah.
Ada pula komentar bernada satire yang menyebut, "guru honorer nangis di pojokan".
Menanggapi video viral tersebut, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumenep, M Kholilur Rahman, buka suara.
Ia membenarkan adanya penggunaan mobil mewah untuk mengangkut MBG.
Dia mengaku sudah mengetahui video tersebut sejak awal viral.
"Iya, saya tahu ada mobil mewah yang digunakan mengangkut MBG," kata Kholilur saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Kholilur menjelaskan, mobil mewah yang terlihat dalam video itu berasal dari dapur SPPG Kolor yang berada di Kecamatan Kota Sumenep.
Menurut dia, penggunaan kendaraan tersebut tidak melanggar aturan yang berlaku.
Badan Gizi Nasional (BGN), menurut Kholilur, tidak mengatur secara rinci spesifikasi kendaraan yang digunakan untuk mengangkut dan mendistribusikan makanan bergizi ke sekolah-sekolah.
"Yang penting syaratnya terpenuhi, asal tertutup dan aman," jelas dia.
Kholilur menambahkan, pemilihan jenis kendaraan sepenuhnya menjadi kebijakan masing-masing dapur SPPG.
Selama kendaraan tersebut layak, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan hingga sampai ke siswa, maka penggunaannya diperbolehkan.
"Spesifikasi mobil yang dipakai itu kebijakan dapur masing-masing, tidak ada larangan soal jenis mobilnya," ucap dia.
Kholilur berharap, polemik ini tidak mengaburkan tujuan utama program MBG.
Yakni memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan makanan bergizi secara rutin.
"Kami tetap fokus pada tujuan program, bagaimana makanan sampai ke siswa dengan aman dan tepat waktu," tutur dia.
MBG bukan bisnis
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dadang Hendrayudha, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar bisnis, tetapi juga kemanusiaan.
Ia meminta pada seluruh pelaksana program MBG ini untuk memperhatikan hal itu.
Mengingat program ini memberikan dampak luas terhadap masyarakat.
Selain menghidupkan perekonomian masyarakat, juga membuka lapangan pekerjaan.
"Saya berharap ibu-ibu, yayasan, maupun mitra ini (MBG) bukan hanya sekadar bisnis. Tapi ini masalah kemanusiaan," kata Dadang di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026) malam.
"Jadi uang yang bapak (pengusaha) miliki investasikan untuk mendukung program MBG bisa dirasakan adik-adik kita. Ingat masyarakat Indonesia belum semuanya beruntung," imbuhnya.
Dia mengajak pengusaha untuk berinvestasi dalam program MBG.
Dengan membuka dapur SPPG, mereka dapat membantu masyarakat sekitar.
Tidak hanya menghidupkan perekonomian masyarakat, tapi juga membuka lapangan pekerjaan.
"Tapi yang jelas dengan bapak menginvestasikan uang bapak ini semua berkah."
"Bapak menjadi pengusaha-pengusaha kecil yang bisa membantu masyarakat di sekitar bapak memberikan pekerjaan," katanya.
Dadang mengajak pemerintah daerah, terutama di wilayah Soloraya, untuk mendukung program MBG.
Untuk mencukupi kebutuhan dapur, Dadang juga meminta Pemda untuk memberdayakan masyarakat.
Di wilayah Soloraya terdapat ratusan dapur SPPG.
"Multipliernya apa, dapur ini butuh sayur, dapur ini butuh telur, dapur ini butuh ayam, butuh banyak sekali. Satu dapur kalau itu ayam kurang lebih 390 kg, kalau butuh lele sesuai jumlah itu berapa kilo," kata dia.
"Artinya kalau di Soloraya ini ada 596 SPPG ini tugasnya pemerintah daerah untuk memberdayakan masyarakat."
"Masyarakat petani, nelayan, peternak ayam, peternak ikan, kalau perlu ajak pengusaha-pengusaha lokal untuk mengembangkan itu," sambung dia.
Bupati Boyolali, Agus Irawan mengatakan, SPPG Gagaksipat menjadi pioner dalam program MBG di wilayah Boyolali, khususnya di Kecamatan Ngemplak.
Terdapat empat SPPG di bawah naungan Yayasan Bangun Gizi Nusantara.
"Pertama mungkin yang ada di Boyolali dengan mencukupi percontohan yang ada di Kecamatan Ngemplak. Hampir Pak Puspo di Kecamatan Ngemplak mendirikan SPPG. Ada empat. Dan mencukupi (MBG) Kecamatan Ngemplak," kata Agus.
Agus juga mengatakan dapur SPPG di Boyolali sudah mencapai 80 persen.
Terdapat 98 dapur SPPG tersebar di seluruh wilayah Boyolali.
Kemudian lanjut Agus selama pelaksanaan MBG tidak pernah ditemukan kasus.
Artinya, kata Agus dapur SPPG di Boyolali harus terus menjaga agar menu makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat di Boyolali aman dan bergizi.
"Kita kabupaten dengan SPPG-nya, MBG-nya yang tidak pernah ada masalah atau kasus. Ini yang harus benar-benar kita perhatikan bersama," ungkap dia.
https://jatim.tribunnews.com/madura/...k-ada-larangan
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
4
1.1K
51
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan