Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat siang kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang 3 cara sederhana untuk peduli kepada anak-anak penderita kanker

.
Kanker pada anak masih menjadi isu kesehatan global yang sering luput dari perhatian masyarakat umum. Berbeda dengan kanker pada orang dewasa yang kerap dikaitkan dengan gaya hidup, kanker anak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis dan genetik yang hingga kini belum sepenuhnya dapat dicegah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahunnya lebih dari 40 ribu anak dan remaja di seluruh dunia didiagnosis menderita kanker. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks, karena keterbatasan akses layanan kesehatan, biaya pengobatan yang tinggi, serta kurangnya dukungan sosial jangka panjang.
Di balik angka statistik tersebut, terdapat realitas kehidupan anak-anak yang harus menjalani kemoterapi, transfusi darah berulang, hingga kehilangan rambut di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar. Pada kondisi seperti ini, kepedulian masyarakat memegang peranan penting. Kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk besar atau mahal. Justru, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberi dampak nyata bagi keberlangsungan hidup dan kualitas hidup anak penderita kanker.
Thread ini mengajak Gan/Sist semuanya untuk melihat 3 bentuk kepedulian sederhana tetapi bermakna, yaitu berdonasi melalui berjualan barang, melakukan donor darah, dan mendonasikan rambut. Ketiganya merupakan aksi nyata yang dapat dilakukan oleh masyarakat luas, tanpa harus memiliki latar belakang medis maupun sumber daya besar.
Quote:
1. Berdonasi dengan Berjualan Barang
Berdonasi sering kali dipersepsikan sebagai aktivitas yang membutuhkan uang dalam jumlah besar. Padahal, donasi dapat dilakukan dengan cara yang lebih kreatif dan inklusif, salah satunya melalui penjualan barang. Konsep ini dikenal sebagai
charity fundraising, yaitu penggalangan dana berbasis aktivitas ekonomi sederhana.
Barang yang dijual tidak harus barang baru. Pakaian layak pakai, buku, kerajinan tangan, makanan rumahan, hingga barang koleksi dapat menjadi sumber dana jika dikelola dengan baik. Dana hasil penjualan kemudian disalurkan kepada yayasan atau lembaga terpercaya yang fokus pada pendampingan anak penderita kanker.
Secara ilmiah dan sosial, pendekatan ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama, metode ini mengurangi limbah konsumsi, karena barang-barang yang masih layak pakai tidak berakhir sebagai sampah. Kedua, aktivitas ini menumbuhkan empati kolektif, karena melibatkan lebih banyak orang dalam satu rantai kepedulian, dari penjual, pembeli, hingga penerima manfaat. Ketiga, penggalangan dana berbasis komunitas terbukti lebih berkelanjutan dibandingkan donasi satu kali dalam jumlah besar.
Penelitian dalam bidang filantropi sosial menunjukkan bahwa donasi berbasis aktivitas (
activity-based giving) meningkatkan rasa keterlibatan emosional dan tanggung jawab sosial masyarakat. Ketika seseorang mengetahui bahwa hasil pembelian barang tertentu digunakan untuk membantu anak penderita kanker, muncul keterikatan moral yang memperkuat solidaritas sosial.
Dana yang terkumpul dari penjualan barang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti biaya pengobatan tambahan, nutrisi pasien, transportasi ke rumah sakit, hingga penyediaan rumah singgah bagi keluarga pasien dari luar kota. Bagi anak-anak penderita kanker, bantuan ini bukan hanya tentang materi, melainkan juga bentuk pengakuan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
2. Donor Darah
Bagi anak penderita kanker, donor darah bukan sekadar kebutuhan medis tambahan, melainkan bagian vital dari proses pengobatan. Kemoterapi dan radioterapi yang dijalani pasien anak sering menyebabkan penurunan drastis sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Kondisi ini membuat pasien membutuhkan transfusi darah secara berkala untuk mempertahankan fungsi tubuh yang optimal.
Menurut
American Cancer Society, anak dengan leukemia atau kanker jenis lainnya dapat membutuhkan transfusi darah berulang selama masa pengobatan. Tanpa ketersediaan darah yang cukup dan aman, risiko komplikasi serius, bahkan kematian, dapat meningkat secara signifikan.
Donor darah memiliki karakteristik unik dibandingkan bentuk donasi lainnya, karena tidak dapat digantikan oleh teknologi buatan. Hingga saat ini, darah manusia tidak dapat diproduksi secara sintetis dalam skala klinis. Artinya, satu-satunya sumber darah adalah sesama manusia yang bersedia mendonorkan darahnya.
Di Indonesia, Palang Merah Indonesia (PMI) mencatat bahwa kebutuhan darah nasional mencapai jutaan kantong per tahun, sementara ketersediaannya masih sering mengalami defisit. Anak penderita kanker termasuk kelompok yang paling terdampak ketika stok darah menipis, karena kebutuhan mereka bersifat mendesak dan berulang.
Dari sisi kesehatan pendonor, donor darah yang dilakukan sesuai prosedur medis terbukti aman dan bahkan memberikan manfaat tertentu, seperti stimulasi regenerasi sel darah, dan deteksi dini kondisi kesehatan tertentu. Namun, yang lebih penting adalah dampak psikososialnya, di mana satu kantong darah dapat menyelamatkan lebih dari satu nyawa melalui pemisahan komponen darah.
Dengan mendonorkan darah setiap 3 bulan sekali, masyarakat berkontribusi langsung pada keberlangsungan hidup anak penderita kanker. Ini adalah bentuk kepedulian yang sangat konkret, berbasis ilmu medis, dan memiliki dampak langsung terhadap keselamatan pasien.
3. Donasi Rambut
Salah satu efek samping kemoterapi yang paling terlihat pada anak penderita kanker adalah kerontokan rambut. Bagi orang dewasa, kehilangan rambut mungkin dianggap sebagai masalah estetika yang tidak terlalu penting. Namun bagi anak-anak, perubahan fisik ini dapat berdampak besar pada kesehatan mental, rasa percaya diri, dan interaksi sosial mereka.
Studi psikologi kesehatan menunjukkan bahwa anak penderita kanker berisiko mengalami gangguan citra tubuh (
body image disturbance), kecemasan sosial, dan penurunan harga diri. Rambut palsu (wig) yang dibuat dari rambut asli dapat membantu mengurangi dampak psikologis tersebut, terutama ketika anak kembali bersekolah atau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Donasi rambut menjadi solusi nyata untuk kebutuhan ini. Rambut yang didonasikan biasanya diolah oleh organisasi nirlaba menjadi wig medis yang dirancang khusus agar nyaman digunakan oleh pasien anak. Rambut asli dipilih karena lebih lembut, tahan lama, dan terlihat alami dibandingkan bahan sintetis.
Syarat donasi rambut umumnya cukup sederhana, yaitu rambut harus bersih, kering, tidak diwarnai, tidak dikeriting atau diluruskan, dan memiliki panjang minimum tertentu (biasanya 20 cm sampai 30 cm). Meski terlihat sederhana, dampak dari donasi rambut sangat besar bagi penerimanya.
Donasi rambut tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga pesan emosional yang kuat. Anak penderita kanker dapat merasakan bahwa ada orang lain yang rela mengorbankan bagian dari dirinya demi membantu mereka. Dalam konteks psikologi anak, perasaan diterima dan didukung ini berperan penting dalam proses penyembuhan secara holistik.
Quote:
PENUTUP
Peduli terhadap anak penderita kanker tidak selalu menuntut tindakan besar atau empati ekstrem. Tiga langkah kecil, seperti berdonasi melalui penjualan barang, mendonorkan darah, dan mendonasikan rambut merupakan bentuk kepedulian yang realistis, berbasis ilmu pengetahuan, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Dalam dunia kesehatan modern, kesembuhan pasien tidak hanya ditentukan oleh teknologi medis saja, tetapi juga oleh dukungan sosial yang kuat. Anak penderita kanker membutuhkan lebih dari sekadar obat, karena mereka membutuhkan harapan, empati, dan rasa aman bahwa masyarakat di sekitarnya peduli.
Melalui langkah-langkah sederhana ini, masyarakat dapat menjadi bagian dari lingkungan penyembuhan yang lebih manusiawi. Sebab, pada akhirnya, kepedulian kecil yang dilakukan bersama-sama dapat menciptakan perubahan besar bagi masa depan anak-anak pejuang kanker.
Quote:
SUMBER
American Cancer Society. (2023).
Cancer in children: Types, causes, and treatments. American Cancer Society.
International Agency for Research on Cancer. (2021).
Global childhood cancer statistics. World Health Organization.
Palang Merah Indonesia. (2022).
Kebutuhan dan ketersediaan darah nasional. Palang Merah Indonesia.
World Health Organization. (2021).
CureAll framework: WHO global initiative for childhood cancer. World Health Organization.
Zebrack, B. J., & Isaacson, S. (2012). Psychosocial care of adolescent and young adult patients with cancer.
Cancer,
118(19), 4884–4891.
@pabuaranwetan @aldo12 @bukhorigan