TS
deso123
KARMA
KARMA


Bab 1: Panggung di Bawah Beringin
Langit di atas desa telah memerah, bersiap menelan matahari. Di desa ini, sang surya adalah penguasa waktu.
Tak ada deru mesin atau cahaya listrik yang mampu menandingi titahnya. Ketika ia terbenam, kehidupan pun meredup, menyisakan obrolan di beranda dan cahaya dari lampu teplok yang berkedip-kedip ditiup angin.
Di pusat desa, toko kelontong milik Pak Restu berdiri paling mentereng, satu-satunya bangunan dengan dinding bata.
Restu adalah raja kecil di kerajaannya. Setiap pagi, ia membuka pintu tokonya, dan denyut nadi ekonomi desa pun dimulai.
Ia dihormati, disegani, dan tak jarang, ditakuti. Namun, ketika pintu toko itu ditutup dan ia kembali ke rumahnya yang besar, kerajaannya terasa hampa.
Malam itu, seperti malam-malam lainnya, keheningan menyambutnya. Rumah itu bersih, rapi, namun dingin.
Di ruang tengah, Wati, istrinya, baru saja menyelesaikan salat Isya. Ia melipat mukenanya dengan gerakan perlahan yang sudah seperti ritual.
“Mas sudah makan?” tanya Wati lembut, senyumnya tak pernah bisa menyembunyikan gurat kesedihan di matanya.
“Sudah, tadi di toko,” jawab Restu sambil melonggarkan kancing kemejanya. Ia duduk di kursi rotan, menghindari tatapan istrinya.
Wati mendekat, duduk di sampingnya. “Aku tadi berdoa lagi, Mas. Semoga Allah segera mengabulkan doa kita.”
Restu hanya bisa menepuk pelan bahu istrinya. “Iya, Wati. Sabar, ya.”
Kata ‘sabar’ itu terasa seperti duri di tenggorokannya. Lima tahun mereka menikah, lima tahun pula kata itu menjadi jawabannya. Rasa sabar itu kini telah menipis, berganti menjadi kejenuhan yang menyesakkan. Ia butuh udara.
“Aku ke balai desa sebentar,” kata Restu tiba-tiba, berdiri dari kursinya. “Ada perlu sedikit.”
Wati hanya mengangguk pasrah. Ia tahu, ‘ada perlu’ adalah alasan suaminya untuk lari dari keheningan rumah mereka.
Balai desa adalah satu-satunya pusat hiburan. Di sanalah para lelaki berkumpul, menyesap kopi pahit sambil bertukar cerita.
Malam ini, suasananya lebih ramai dari biasanya. Suara gamelan yang dipukul seadanya mengalun, menjadi penanda bahwa akan ada pertunjukan tari.
Di sudut lapangan, di bawah pohon beringin tua yang dipercaya warga angker, sebuah panggung kayu sederhana telah berdiri.
Restu memesan kopi dan mengambil tempat duduk di barisan depan. Ia tidak peduli pada obrolan di sekitarnya. Pikirannya masih terasa keruh. Lalu, seorang pembawa acara naik ke panggung.
“Hadirin sekalian, mari kita sambut, penari kebanggaan desa kita, Ratih!”
Dari balik panggung, seorang wanita muncul. Tubuhnya dibalut kostum jaipong yang berkilauan diterpa cahaya lampu petromaks. Wajahnya yang berpoles riasan tebal tak mampu menutupi pesona alaminya. Itulah Ratih.
Ketika musik mulai mengalun, Ratih pun menari. Gerakannya lincah namun sarat makna, setiap lirikan matanya seolah bercerita tentang gairah yang terpendam.
Restu terpaku. Ia seperti melihat kehidupan itu sendiri, sebuah energi liar yang tak ia temukan di rumahnya. Ia tak hanya menonton sebuah tarian; ia menyaksikan pelarian.
Restu menjadi sangat royal malam itu. Ia memesankan minuman untuk para pemain gamelan dan memastikan segelas teh hangat sampai ke tangan Ratih saat ia beristirahat di belakang panggung. Perhatian kecil yang membuat Ratih beberapa kali melirik ke arahnya sambil tersenyum tipis.
Pertunjukan selesai disambut tepuk tangan riuh. Saat para penonton mulai beranjak, sebuah keributan kecil terdengar dari belakang panggung.
“Mana uangnya?! Jangan kamu kira aku tidak lihat kamu senyum-senyum sama semua laki-laki di sini!” Suara itu berat dan kasar.
Itu Karto, suami Ratih, yang berjalan terhuyung-huyung dengan napas berbau alkohol.
Ratih, yang masih menyeka keringatnya, tampak ketakutan. “Sabar, Kang. Nanti di rumah,” bisiknya, mencoba menenangkan.
“Tidak mau! Nanti habis kamu pakai beli bedak! Sini!” Karto berusaha merebut kantong kecil dari tangan Ratih, karena tidak berhasil, Karto naik pitam lalu melayangkan tamparan & tinjuan kewajah Ratih.
“PLAKKKKK…..BUKKKKK……”, semua yang ada di sana tertegun, hanya menonton, tidak ada yang berani menghalangi tingkah gila Karto.
Melihat pemandangan itu, Restu merasa ada yang terpanggil dalam dirinya. Ia bangkit dan berjalan mendekat dengan tenang.
“Kang Karto, sudahlah. Jangan buat ribut di sini,” kata Restu, suaranya tenang namun penuh wibawa. Para warga yang hendak pulang berhenti sejenak, menonton.
“Ini, buat beli kopi.” Restu menyodorkan beberapa lembar uang ke tangan Karto.
Karto mendengus, matanya menatap tajam ke arah Restu, lalu ke uang di tangannya. Amarahnya sedikit mereda karena uang.
“Awas kamu nanti di rumah!” geramnya pada Ratih sebelum berbalik dan pergi sempoyongan.
Kini hanya ada Restu dan Ratih yang berdiri dalam keheningan yang canggung.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Restu, suaranya kini lebih lembut.
Ratih mengangkat wajahnya. Di bawah cahaya petromaks, Restu bisa melihat lebam samar di sudut bibirnya yang tertutup bedak. Ada kilat rasa terima kasih di matanya yang lelah.
“Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih,” jawabnya lirih. “Sudah biasa.”
Kalimat “sudah biasa” itu terdengar seperti gema di telinga Restu. Ia menatap Ratih lebih dalam, dan di sana, di balik tatapan seorang penari yang dipuja di atas panggung, ia melihat seorang wanita yang rapuh.
Malam itu, kekagumannya telah berubah menjadi sesuatu yang lain; campuran antara iba dan hasrat. Sebuah benih telah ditanam di bawah pohon beringin tua itu.
Baca cerita lainnya di : Aplikasi Gudang Buku
Diubah oleh deso123 16-01-2026 08:47
alifshorif dan bukhorigan memberi reputasi
2
274
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan