- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERBUNG] Ramadhan Terakhir Andre
TS
aurora..
[CERBUNG] Ramadhan Terakhir Andre
![[CERBUNG] Ramadhan Terakhir Andre](https://s.kaskus.id/images/2026/01/13/9481769_20260113020806.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence (ilustrasi Andre dan istrinya)
Quote:
Bab 1
Jam di dinding dapur menunjukkan pukul 03:47 WIB dini hari ketika Andre Wibisanaakhirnya mematikan kompor. Panci kecil berisi air panas untuk menyeduh kopi instan dibiarkannya begitu saja, menguap perlahan. Ia berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada meja dapur, menunduk, menatap lantai keramik yang sudah mulai kusam oleh usia dan pemakaian. Di luar jendela, Jakarta masih gelap dan sunyi, hanya sesekali suara motor lewat di kejauhan.
Ramadhan hari pertama.
Sudah tiga tahun berturut-turut, ramadhan selalu datang dengan suasana yang sama baginya. Sunyi, datar, dan penuh penyangkalan. Tidak ada euforia khusus, tidak ada rasa rindu kampung halaman, dan tidak ada niat untuk mengubah kebiasaan lama. Andre tetap Andre yang sama, pria 29 tahun yang menjalani puasa sebagai kewajiban, bukan perayaan.
Andre menoleh ke ruang tengah. Charlotte Juliana McDonnell, wanita berkulit putih dan berambut pirang itu, masih duduk di sofa, mengenakan mukena krem pucat. Wajah istrinya itu terlihat lelah, tetapi tetap tenang. Noah Timothy Wibisana, bayi mereka yang baru berusia 8 bulan, tertidur di ayunan kecil dekat jendela. Napas kecil itu terdengar teratur, naik turun, seperti metronom yang menenangkan.
Andre mengambil gelas, menuangkan kopi instan, lalu duduk berhadapan dengan Charlotte. Mereka tidak langsung berbicara, karena sudah terbiasa.
Dalam diam itu, Andre merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya, perasaan yang selalu muncul setiap awal Ramadhan. Bukan rasa haru, bukan juga rasa syukur, melainkan tekanan samar yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Seolah-olah, bulan ini selalu menuntut sesuatu darinya, sesuatu yang belum siap ia berikan.
“Mas,” ucap Charlotte, suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh dengungan kulkas
“Habis Lebaran nanti, cuti kantor kamu masih ada, kan?”
Andre mengangkat wajahnya. Nada itu, nada yang terlalu hati-hati, sudah dikenalnya dengan baik. Nada yang selalu mendahului pembicaraan yang tidak ia sukai.
“Ada,” jawab Andre singkat
Charlotte menarik napas. Wanita itu menatap Noah sekilas, lalu kembali kepada Andre.
“Mama sempat nanya lagi soal Lebaran.”
Andre langsung menegakkan punggungnya. Tangannya berhenti mengaduk kopi.
“Kamu sudah jawab apa?”
“Belum. Aku bilang nanti aku tanya kamu dulu.”
Andre menghela napas panjang, lalu berdiri. Pria itu berjalan ke arah jendela, membuka sedikit tirai, membiarkan cahaya lampu jalan masuk ke dalam ruangan. Ia tidak ingin menatap Charlotte saat mengatakan ini.
“Kita kan sudah sepakat,” ucap Andre, suaranya dingin tetapi terkontrol
“Lebaran di Jakarta saja. Aku tidak mau pulang.
Charlotte tidak langsung menjawab. Wanita itu tahu betul, setiap kali topik ini muncul, Andre akan berubah menjadi tembok. Bukan marah, bukan kasar, melainkan keras dan tertutup rapat.
“Mas,” ucap Charlotte lagi, kali ini lebih tegas
“Ini sudah tahun keempat kita menikah. Dan tiga tahun terakhir kamu selalu bilang tidak mau pulang. Tahun ini beda. Kita sudah punya Noah.”
Andre menoleh, tatapannya tajam.
“Justru karena ada Noah, aku tidak mau.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Charlotte mengernyit.
“Maksud kamu?”
Andre mengusap wajahnya, lalu duduk kembali.
“Aku tidak mau anakku lihat aku jadi orang yang bukan diriku sendiri.”
Charlotte terdiam. Ia mengenal Andre cukup lama untuk tahu bahwa kalimat itu bukan sekadar alasan. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih gelap.
Andre menyesap kopinya, lalu berkata.
“Kampung halaman itu bukan tempat pulang buatku, Charlotte.”
***
Andre lahir dan besar di Makassar. Rumah masa kecilnya tidak pernah benar-benar ia sebut rumah. Ayahnya, seorang pria keras yang percaya bahwa disiplin adalah satu-satunya cara mendidik anak, meninggalkan jejak ketakutan yang tidak pernah pudar.
Saat Andre masih duduk di bangku sekolah dasar, ancaman adalah bahasa sehari-hari.
“Kalau kamu nakal, Papa laporin ke polisi.”
Kalimat itu diucapkan berulang kali, entah karena mem-bully teman, entah karena pulang terlambat, entah karena hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu ditakuti oleh anak seusianya.
Andre kecil tidak mengerti hukum. Ia tidak tahu apa itu polisi sebenarnya. Yang Andre tahu hanya satu, bahwa polisi adalah orang yang memasukkan anak-anak nakal ke penjara dan tidak mengembalikannya.
Ancaman itu tidak pernah menjadi nyata, tetapi efeknya jauh lebih besar daripada hukuman fisik. Andre tumbuh dengan rasa waspada yang berlebihan. Ia belajar untuk diam. Belajar untuk tidak menonjol. Belajar bahwa rumah bukanlah tempat yang aman untuk jujur.
Ketika Andre dewasa dan pindah ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah, Andre merasa seolah-olah baru pertama kali bisa bernapas dengan lega. Jarak membuat kenangan itu memudar, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Dan setiap kali Ramadhan datang, setiap kali Lebaran mendekat, kenangan itu selalu kembali. Utuh, jelas, dan tidak bisa dihindari.
***
“Mas,”
Charlotte akhirnya berkata setelah lama terdiam.
“Papa kamu sekarang sudah tua.”
Andre tersenyum kecil dengan pahit.
“Tua tidak selalu berarti berubah.”
Charlotte menggigit bibirnya. Ia ingin mengatakan bahwa setiap orang punya kesempatan kedua. Bahwa Islam mengajarkan silaturahmi. Bahwa memutus hubungan keluarga bukan hal ringan. Namun, ia juga tahu, memaksa Andre dengan dalil agama hanya akan membuatnya semakin tertekan dan menutup diri.
“Aku cuma minta kamu mempertimbangkan,” ucap Charlotte lembut
“Bukan buat Papa kamu, tapi buat kebaikan kamu sendiri.”
Andre menggeleng.
“Aku sudah mempertimbangkan sejak lama.”
Noah tiba-tiba menggeliat di ayunannya, mengeluarkan suara kecil seperti merengek. Charlotte segera berdiri, mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya. Andre memperhatikan mereka, dadanya terasa sesak.
Andre mencintai Noah lebih dari apa pun, dan justru karena itu, ia takut.
Takut menjadi ayah yang sama. Takut kehilangan kendali. Takut mengulang pola yang sama, meski Andre bersumpah tidak akan pernah melakukan itu.
“Mas,”
Charlotte berkata sambil mengelus punggung Noah.
“Aku capek.”
Andre menatapnya. Kalimat itu bukan keluhan biasa. Ada kelelahan yang nyata di sana, kelelahan untuk menahan diri, mengalah, dan memahami tanpa pernah benar-benar dipahami.
“Aku tidak minta kamu memaafkan,” lanjut Charlotte
“Aku tidak minta kamu melupakan. Aku cuma minta kamu pulang dan hadir.”
Andre membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Kata-kata itu menamparnya pelan, tetapi ia belum siap menerimanya.
“Aku tidak bisa,” ucap Andre akhirnya
Charlotte menunduk. Tidak ada air mata, hanya ada napas panjang yang ditahan.
“Ya sudah,” ucap Charlotte pelan
“Kita sahur dulu.”
***
Hari-hari Ramadhan di Jakarta berjalan seperti biasanya. Andre berangkat kerja pagi-pagi, dan pulang menjelang magrib. Andre menjalankan puasa dengan disiplin, salat tarawih sesekali di masjid dekat rumah, dan membaca Al-Qur’an sekadarnya. Dari luar, hidupnya tampak rapi dan teratur.
Namun, di dalam, ada kekosongan yang sulit ia jelaskan.
Setiap kali mendengar rekan kerja berbicara tentang mudik, tentang tiket pesawat yang mahal, tentang rindu orang tua, Andre selalu diam. Ia tersenyum sopan, lalu kembali menatap layar komputer.
Bagi Andre, mudik bukan tentang melepas rindu. Mudik adalah perjalanan ke masa lalu yang tidak ingin ia temui lagi.
Suatu sore, dalam perjalanan pulang, Andre berhenti di lampu merah. Ia melihat seorang pria tua menyebrangi jalan sambil menggandeng cucunya. Sang cucu tertawa kecil, menarik tangan kakeknya dengan penuh percaya.
Andre menelan ludah. Pria itu bertanya kepada dirinya sendiri, tanpa sadar.
“Apakah aku akan jadi seperti itu untuk Noah suatu hari nanti?” gumam Andre pelan
Pertanyaan itu tidak ia jawab. Andre menyalakan gas saat lampu hijau menyala, meninggalkan persimpangan itu dengan perasaan yang semakin berat.
***
Malam itu, setelah Noah tertidur, Charlotte duduk di samping Andre di ranjang. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk.
“Mas,” ucap Charlotte pelan
“Kamu tahu, kan, kenapa aku terus membahas soal pulang kampung?”
Andre tidak menjawab, tetapi ia tidak memalingkan wajah.
“Karena aku lihat kamu selalu lari,” lanjut Charlotte
“Dan aku takut suatu hari nanti kamu capek lari, tapi sudah tidak tahu lagi ke mana harus pulang.”
Andre memejamkan matanya.
“Aku tidak lari,” bantah Andre lirih
“Aku bertahan.”
Charlotte menghela napas.
“Kadang, bertahan dan lari itu cuma beda istilah.”
Andre terdiam. Ia ingin membantah, tetapi kata-kata itu terasa terlalu benar untuk ditolak.
Di luar, suara azan Isya terdengar samar. Ramadhan terus berjalan, tanpa menunggu siapa pun siap atau tidak.
Andre membuka matanya, menatap langit-langit kamar. Andre tidak tahu bahwa Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan terakhirnya. Ia hanya tahu satu hal, bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya, Andre merasa bahwa menolak pulang mungkin bukan tentang kemenangan, melainkan penundaan.
Hari ini berakhir tanpa jawaban, tanpa keputusan. Hanya seorang pria yang berdiri di persimpangan antara masa lalu dan masa depan, di bulan yang selalu menuntut kejujuran.
Dan bulan ramadhan baru saja dimulai.
To Be Continued
@itkgid @regmekujo @sahabat.006
rinandya dan 6 lainnya memberi reputasi
7
1.2K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan