Kaskus

News

deniswiseAvatar border
TS
deniswise
Mengejutkan 90% Hutan di Stabat Berubah Jadi Sawit, Salman: Alih Fungsi Hutan
Mengejutkan 90% Hutan di Stabat Berubah Jadi Sawit, Salman: Alih Fungsi Hutan


Temuan mengejutkan didapatkan Wakil Ketua DPRD Sumut H.Salman Alfarisi, saat berkunjung Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Stabat, Kabupaten Langkat. Dimana, diperoleh fakta memprihatinkan terkait masifnya alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Salman Alfarisi mengungkapkan dari alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, baik di Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), maupun Hutan Produksi Terbatas (HPT). Hal ini, menjadi perhatian khusus politisi dari PKS itu.

Wakil Ketua DPRD Sumut dari Fraksi PKS ini, berdiskusi dan mendapat penjelasan dari petugas KPH Stabat Sukendra dan Tanta. Berdasarkan data diperoleh ternyata lebih dari 90 persen kawasan hutan pada tiga fungsi tersebut telah berubah menjadi kebun sawit.

Padahal, kawasan hutan ini memiliki luasan yang sangat besar, yakni Hutan Lindung seluas 5.080 hektare, Hutan Produksi 23.938 hektare, dan Hutan Produksi Terbatas 38.350 hektare. Hal ini, tentu dapat merusak ekosistem lingkungan berdampak dengan bencana nantinya.

Salman Alfarisi menilai kondisi ini sebagai alarm serius tata kelola kehutanan di Sumut. Menurutnya, alih fungsi tersebut jelas tidak sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dengan itu, ia meminta Presiden RI, Prabowo Subianto dan Gubernur Sumut, Bobby Nasution harus bertindak tegas.

“Hutan Lindung ditetapkan untuk melindungi sistem penyangga kehidupan dan tidak boleh dialihfungsikan, Hutan Produksi hanya boleh dimanfaatkan secara legal dan berkelanjutan, sementara Hutan Produksi Terbatas memiliki pembatasan ketat demi menjaga keseimbangan ekologi,” ucap Salman kepada wartawan, Rabu 17 Desember 2025.

Ia menegaskan, pengabaian fungsi hutan di kawasan hulu akan selalu dibayar mahal oleh masyarakat di hilir. Salman mengaitkan langsung kerusakan hutan tersebut dengan meningkatnya bencana banjir dan longsor yang kerap melanda Tanjung Pura, Besitang, dan wilayah sekitarnya.

“Jika hulu rusak, maka banjir di hilir bukan sekadar musibah alam, tetapi juga akibat dari kelalaian tata kelola,” tegasnya.

Lebih lanjut, Salman juga menyoroti kondisi hutan konservasi yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kehutanan, yang berdasarkan laporan lapangan telah banyak mengalami pembalakan liar. Menurutnya, persoalan kehutanan tidak boleh dibiarkan menjadi wilayah tanpa pengawasan yang efektif.

Sebagai bentuk kritik yang konstruktif, Politisi PKS Sumut itu mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk segera membuka ruang pembahasan lintas sektor guna mengembalikan fungsi hutan secara bertahap dan terukur.

“Solusinya harus menyeluruh, penegakan hukum yang adil dan tegas, reboisasi dalam skala besar, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar menjadi penjaga, bukan korban kerusakan hutan,” ujar Salman.

Ia menegaskan bahwa penyelamatan hutan adalah bagian dari ikhtiar melindungi keselamatan rakyat, dan menjadi tanggung jawab moral pemerintah."Agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan generasi mendatang," kata Salman Alfarisi dengan tegas.

https://medan.viva.co.id/amp/sumut/1...tikan?page=all

Masa cuma 90%, ga cukup buat bikin makan gorengan
soelojo4503Avatar border
superman313Avatar border
superman313 dan soelojo4503 memberi reputasi
2
280
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan