TS
ifi02
Marie Antoinette Penanda Sebuah Era

By After Jean-Baptiste André Gautier-Dagoty - Unknown source, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/inde...?curid=3875679
Museum Victoria & Albert di London menggelar pameran bertajuk Marie Antoinette Style hingga Maret 2026. Ratu terakhir Prancis ini paling disorot sepanjang zaman. Kehadirannya sebagai ‘orang asing’ dari bangsawan tinggi Austria, menjadi ratu di usia muda, gaya hidup dan politik Prancis hingga tragedi yang mengakhiri hidupnya – sering dikupas di berbagai buku, seni, dan film. Pameran ini tak hanya mengulangi paparan kisah hidup sang ratu tapi menggaris-bawahi mengapa 232 tahun setelah kematiannya, namanya tetap relevan diperbincangkan. Jawabnya, karena Marie Antoinette tidaklah pernah seperti yang kebanyakan orang pikirkan.

By Diliff - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/inde...curid=31813288
Pameran dibuka dengan dinding merah muda, lantai hitam putih gambaran istana Versailles, dan lukisan besar sang ratu dengan gaun sutra putih berornamen keemasan karya seniman favoritnya, Élisabeth Vigée Le Brun. Selanjutnya, kemegahan kehidupan dalam istana tampil lewat kehadiran gaun-gaun indah dan cemerlangnya pantulan sinar dalam ruangan. Marie Antoinette berusia 14 tahun ketika menikahi Louis Auguste, 4 tahun kemudian suaminya naik tahta, menjadikannya ratu – istri Raja Louis XVI. Tak lama, ia menghapus pajak Queen’s belt. Pajak ini merupakan pajak tradisional yang wajib dibayarkan rakyat pada awal pemerintahan ratu baru, yang pada dasarnya merupakan sumber pendapatan pribadi bagi kerajaan. Beberapa ahli sejarah mencatat pada suatu masa Maria Antoinette dikenal sebagai ratu yang baik, istri yang setia, ibu yang sangat dekat dengan anak-anaknya (Ia mendobrak tradisi dengan menyusui bayinya sendiri, hal yang kontroversial di kalangan istana pada zamannya). Tergantung buku apa yang dibaca publik, dalam beberapa biografi tertulis Marie Antoinette seorang socialite sejati. Ia dermawan kepada rakyat jelata, memberikan bantuan kepada lansia, tunanetra, para janda. Anak-anaknya diajarkan welas asih sejak dini, merelakan hadiah natalnya untuk orang-orang yang lapar. Tindakan-tindakan amal ini sering diabaikan dalam narasi sejarah. Sebagian besar berfokus pada pengeluarannya yang boros dan julukan "Madame Deficit," yang digunakan sebagai propaganda selama Revolusi Prancis untuk menyalahkannya atas krisis keuangan negara.
Tak satu pun pakaian Marie Antoinette terselamatkan. Pameran ini dipenuhi koleksi-koleksi pakaian yang mendekati dengan gaya busana yang disiarkannya semasa hidup. Lewat lukisan-lukisan dan catatan tentang jenis kain, siluet, dan model favoritnya, pameran ini mereka ulang potret gaya hidup era 1700-an. Namun, beberapa perhiasan yang berhasil diselamatkan oleh anak satu-satunya yang hidup Marie Thérèse, dipamerkan di sini bersama peti perhiasan untuk pertama kalinya. Sebuah ruang wewangian mengundang pengunjung untuk merasakan selera perawatan kecantikan sang ratu. Aroma mawar, sedap malam, violet, lilac, lavender dan musk – aroma yang dapat ditemui di meja rias, koridor Versailles, atau tempat favoritnya Petit Trianon.
Tak dipungkiri, Marie Antoinette memiliki selera artistik tersendiri yang membuatnya menyolok di antara para bangsawan. Kesukaannya pada seni, haute couture, dan interior mendatangkan perhatian yang di kemudian hari menentukan nasib bagaimana kehidupannya berakhir. Penjarahan dan pengrusakan tak berhenti dengan hukuman penggalnya. Sepasang selop dan sobekan renda - itulah yang tersisa dan dipamerkan di antara kemegahan dan prasangka tentang Marie Antoinette.
Prasangka memainkan peran yang besar dalam hidup Marie Antoinette. Ia bukan pencipta gaya hidup foya-foya. Para bangsawan yang hidup di istana Prancis menghambur-hamburkan uang jauh sebelum dirinya menapakkan kaki di istana.
Raja-raja sebelumnya memiliki selir, media hidup dengan menjual karikatur tak senonoh tentang gosip istana. Raja Louis XVI tak memiliki selir, Marie Antoinette satu-satunya perempuan dalam hidupnya. Ini tak menguntungkan publikasi, maka rumor perlu diciptakan, ia pun jadi bulan-bulanan. Saat rakyat kelaparan, para ningrat berpesta-pora, revolusi tak bisa dihindari.
Dua babak terakhir dalam pameran ini adalah sebuah kontras. Ruangan merah darah berisi buku doa, gaun putih bersahaja yang dikenakannya, serta gulotin yang dipakai untuk memenggal kepalanya. Babak lain adalah dunia yang mengenangnya. Ia menjadi inspirasi seniman sepanjang masa, mereka yang merendahkan dan yang memuja. Satu hal yang kini bisa dijamin ketidakbenarannya: “Let them eat cake.”
Sumber : Tulisan Pribadi
dvayya dan KlNOY memberi reputasi
2
6
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan