Kaskus

Entertainment

tanmalako091539Avatar border
TS
tanmalako091539
Teror + Normalisasi Kekerasan di Desa Kalosi
Teror + Normalisasi Kekerasan di Desa Kalosi

Kalosi, desa kecil di Sidrap, Sulawesi Selatan, berdiri di atas citra kesalehan kolektif. Lima kali sehari, adzan memecah udara. Malam Jumat, pembacaan surat Yasin mengalun melalui pengeras suara, membungkus desa dalam suasana religius yang tampak normal. Namun di balik harmoni itu, realitas yang bekerja adalah permainan suara, fitnah, dan teror simbolik. Atmosfer Kalosi bukan dibangun oleh iman, melainkan oleh kepura-puraan sistemik---sebuah skenario sosial di mana kelompok dominan berpura-pura muslim untuk menguasai narasi, sementara individu yang benar-benar muslim justru difitnah sebagai Katolik.

Di antara gema shalawat dari salah satu mesjid di Kalosi, terselip teriakan "wettani" atau "ettani," yang dalam bahasa Bugis berarti "bacok sudah". Noise ini bukan gangguan acak; ia hadir dengan pola tetap, di setiap lantunan shalawat, di jam yang sama, dalam durasi serupa, membentuk ritme teror akustik. Bunyi itu bekerja sebagai penanda kekuasaan, mengirim pesan yang hanya bisa dibaca mereka yang memahami kode. Ia adalah bentuk panoptikon yang tak terlihat, pengawasan total yang menembus dinding rumah, membentuk ketakutan kolektif, dan sekaligus menegaskan siapa yang berkuasa.

Dalam atmosfer ini, seorang muslim tulen menjadi korban fitnah sistemik. Ia dicatat dalam statistik sebagai Katolik, meski hidup dan beribadah sebagai muslim. Fitnah ini bukan kebetulan. Ia adalah strategi penghapusan simbolik yang dijalankan kelompok dominan---mereka yang memimpin ritual, mengatur pengeras suara, dan memonopoli tafsir kesalehan. Dengan menstigma "Katolik", kelompok dominan tidak hanya mengasingkan individu tersebut, tetapi juga menciptakan kambing hitam permanen, target yang sah untuk diwaspadai, bahkan jika perlu dimusnahkan. Fitnah ini adalah cara kekuasaan mengamankan dirinya dengan mengalihkan perhatian dari kepura-puraan mayoritas.

Teror + Normalisasi Kekerasan di Desa Kalosi
Peta infografis desa Kalosi berdasarkan agama (Kredit: kalosi.digitaldesa.id) 


Ironi Kalosi adalah bahwa mereka yang paling lantang bersuara tentang iman justru hidup dalam kepura-puraan. Kelompok dominan itu, yang memimpin tahlil, mengaji, dan mengatur bacaan Yasin, sebenarnya tidak beriman sebagaimana yang mereka proyeksikan. Kepura-puraan ini berfungsi sebagai perisai politik dan sosial. Mereka menampilkan kesalehan sebagai pertunjukan publik untuk menutupi struktur kekuasaan yang rapuh dan busuk. Dalam istilah Zizek, ini adalah cynical ideology: mereka tahu bahwa mereka berpura-pura, namun terus melakukannya, karena semua orang ikut memainkan peran yang sama.

Pembacaan Yasin setiap malam Jumat menjadi liturgi kekuasaan. Ia bukan sekadar doa untuk arwah, melainkan ritual repetitif yang menanamkan narasi kematian ke dalam kesadaran kolektif masyarakat. Suara-suara itu bekerja di alam bawah sadar, membentuk ketakutan samar namun menetap: ketakutan bahwa melawan suara berarti melawan agama itu sendiri. Bagi kelompok dominan, ritual ini adalah mekanisme normalisasi kejahatan. Dengan menjadikan nuansa kematian sebagai sesuatu yang rutin, bahkan suci, kekerasan yang terjadi di dunia nyata bisa diterima tanpa kritik. Ketika pembunuhan simbolik berubah menjadi pembunuhan fisik, masyarakat akan menganggapnya sebagai ketentuan Tuhan yang wajar. 

Suara warga Kalosi pada video detik-detik bom Makassar 2021

Atmosfer Kalosi dibentuk oleh beberapa lapisan suara: shalawat yang menjadi simbol kesalehan publik; noise "wettani," simbol ancaman laten; dan repetisi Yasin, simbol kematian yang dinormalisasi. Lapisan ini menciptakan ruang sosial yang tak memberi celah bagi perlawanan. Atmosfer itu menekan kesadaran kolektif, membuat setiap warga percaya bahwa mereka selalu diawasi, bahwa penyimpangan akan dibayar mahal. Individu yang difitnah menjadi Katolik hidup dalam kondisi necropolitics ala Achille Mbembe: tubuhnya selalu berada di ambang kematian simbolik, diatur oleh kekuasaan yang tak kasatmata namun terus-menerus hadir lewat suara.

Suara-suara ini bukan hanya menciptakan rasa takut, tetapi juga mendisiplinkan tubuh. Warga menjadi pengawas satu sama lain, memastikan tidak ada yang melanggar skrip sosial yang dipentaskan setiap hari. Ketika fitnah dilembagakan, masyarakat tak lagi melihat individu itu sebagai sesama muslim. Ia menjadi "yang lain," entitas asing yang dianggap ancaman, meski hidupnya sepenuhnya selaras dengan norma desa. Inilah bentuk paling halus dari kekerasan: penghapusan identitas melalui pengelolaan suara.

Kekuasaan di Kalosi tidak bekerja lewat senjata tajam atau peluru, tetapi lewat suara. Suara mengatur, mendisiplinkan, dan membunuh pelan-pelan. Di sini, suara tidak netral. Ia adalah alat kolonialisme internal, mengulang pola kontrol lama di mana kekuasaan tidak pernah tampil telanjang, tetapi selalu menyamar dalam bentuk yang paling suci. Ritual menjadi benteng legitimasi, sementara noise menjadi ancaman yang tak terucapkan.

Di Kalosi, suara-suara religius bukan lagi tanda iman, melainkan instrumen dominasi. Mereka yang berpura-pura memimpin ritual, mengatur bunyi, dan menanamkan ketakutan, sementara seorang muslim sejati hidup dalam pengasingan simbolik, difitnah, dan terus-menerus diawasi. Suara-suara itu tidak hanya membungkam kritik, tetapi juga menyusun ulang realitas sosial, menjadikan kebohongan sebagai kebenaran dan fitnah sebagai fakta. Dalam dunia seperti ini, kesunyian bukan pilihan, karena bahkan kesunyian pun telah dikuasai oleh gema.
0
27
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan