Kaskus

Entertainment

tanmalako091539Avatar border
TS
tanmalako091539
Alako: Kata & Kuasa dalam Belantata Politik Lokal Sidrap
Alako: Kata & Kuasa dalam Belantata Politik Lokal Sidrap

Di negeri yang memiliki lebih dari tujuh ratus bahasa, kesalahpahaman bukanlah musibah linguistik, melainkan mekanisme pertahanan budaya. Di sini, kata-kata hidup seperti seniman jalanan: lincah, improvisasional, dan kadang-kadang---sangat menyesatkan. Mereka bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga perangkat semantik licik yang kerap tampil dengan kostum berbeda di setiap panggung. Ambil satu kata, dan ia bisa menjelma menjadi berkah dalam satu semiosfer, lalu berubah menjadi kutukan dalam semiosfer lain. Selamat datang di republik homofoni, federasi tafsir bebas bersyarat.

Bayangkanlah sebuah panggung kampanye di Kabupaten Sidrap. Spanduk berkibar, nasi kotak dibagikan, dan rakyat berkumpul seperti kawanan semut yang sudah mencium aroma gula program. Di atas panggung berdirilah seorang politisi flamboyan, Syaharuddin Alrif---yang lebih dikenal dengan akronim ramah media: SAR. Dengan gaya oratorik yang telah dikalibrasi oleh konsultan politik dan disemprot hairspray retoris, ia mengangkat tangan dan berteriak penuh semangat: "ALAKO!"

Seketika, penonton bergemuruh. Bukan karena mereka paham, tapi karena mereka ingin percaya bahwa mereka paham. Di telinga orang Bugis, "alako" terdengar manis seperti undangan makan gratis: "Ambil saja." Ia adalah kata yang menyerupai keramahan paman baik hati yang mempersilakan keponakannya mengambil permen di meja ruang tamu. Dalam semiosfer Bugis, "alako" adalah bentuk dermawan dari bahasa: sebuah restu kultural untuk menerima, menikmati, dan---jika perlu---mengambil dua kali.

Namun, bagi telinga Madura, kata yang sama memikul beban berbeda. "Alako" di sana tak lagi berarti pemberian, melainkan instruksi kerja paksa. Ia terdengar seperti bentuk ringkas dari manifesto neoliberal: "Kerja, sana!"---suatu perintah ekonomis tanpa basa-basi, tanpa subsidi, dan sangat anti rebahan. Ini bukan bahasa kemurahan hati, tetapi bahasa produktivitas. Sebuah panggilan suci bagi homo economicus untuk segera mencangkul, berjualan, atau menjadi konten kreator.

SAR, tentu saja, tahu persis medan bunyi tempat ia bermain. Ia bukan politisi sembarangan. Ia bukan sekadar pembicara, tetapi arsitek tafsir. Dalam dunia politik post-truth, kejelasan bukanlah kebajikan, melainkan kelemahan. Maka, ia tidak berkata, "Saya akan bagi-bagi bantuan." Ia juga tidak bilang, "Saya suruh kalian kerja." Ia hanya melempar satu kata---"alako"---dan membiarkan masyarakat menyusun harapan di atas suara yang ambigu.

Tindakan ini, dalam teori linguistik Roman Jakobson, bisa masuk ke dalam ranah fungsi metalinguistik, yaitu ketika bahasa digunakan untuk bernegosiasi tentang bahasa itu sendiri. Tapi dalam praktik politik lokal, ini bukan sekadar metabahasa. Ini adalah meta-tipuan. Sebuah speech act yang tidak benar-benar berkata apa-apa, tetapi mampu memproduksi harapan, tafsir, dan---jika beruntung---suara di bilik pemilu.

SAR tidak berbohong. Ia hanya bermain di wilayah ambiguasi terstruktur, sebuah teknik politik di mana makna sengaja dikaburkan agar bisa ditafsirkan sesuai kebutuhan. Ini bukan dusta, melainkan seni menyisipkan kebingungan dalam dosis yang bisa ditoleransi massa. SAR tidak memberikan janji palsu, ia hanya memberikan kata terbuka---semacam metafora demokratis yang bisa diisi siapa pun sesuai selera.

Strategi ini sejatinya bukan hal baru. Dalam dunia semiotika, ini disebut sebagai polysemous signifier---penanda yang membuka banyak pintu makna. Namun, dalam konteks politik elektoral, ini bisa dimaknai sebagai bentuk kamuflase retoris, tempat di mana satu kata menjalankan fungsi ganda: aspiratif dan imperatif sekaligus. Seperti pisau dapur yang bisa digunakan untuk memotong semangka atau memotong anggaran.

Tentu, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam kajian pragmatik interkultural, situasi seperti ini tidak dianggap sebagai kecelakaan komunikasi, tetapi sebagai peluang semiotik. Kesalahpahaman adalah semacam ice breaker linguistik yang bisa membangun relasi, menciptakan keintiman palsu, atau membuka ruang tawar-menawar makna. Bahkan, politisi lokal yang cerdik sering menggunakan celah ini sebagai alat untuk memikat konstituen dari berbagai etnis. Mereka menyusun pidato bukan berdasarkan ideologi, tetapi berdasarkan kemungkinan disalahartikan secara produktif.

Dengan kata lain, mereka tidak membangun wacana, melainkan jebakan bunyi.

"Alako" adalah simbol dari jebakan itu. Ia tidak memiliki bentuk janji yang eksplisit, tapi cukup untuk membuat orang berharap. Ia bukan kontrak sosial, tapi cukup menyerupai bentuknya. Ia seperti brosur properti dengan gambar rumah mewah, padahal yang dijual adalah kavling kosong di pinggir sungai.

Politik lokal, pada akhirnya, bukan hanya soal program dan janji. Ia adalah permainan linguistik yang licin, di mana kejelasan dianggap terlalu berisiko, dan ambiguitas adalah strategi pertahanan terbaik. SAR tahu bahwa jika ia terlalu jelas, ia akan dibantah. Tapi jika ia cukup kabur, maka siapa pun bisa merasa sepakat.

Lanskap linguistik ini juga membentang dalam kata lain yang tak kalah licik: "pessè." Dalam bahasa Madura, kata ini berarti uang---simbol janji kampanye yang konkret dan terukur. Namun, dalam bahasa Bugis, "pessè" berarti jahe---rempah tradisional yang sering digunakan untuk membuat sarebba, minuman hangat yang menenangkan, tetapi jauh dari nilai tukar rupiah. Ketika politisi berjanji akan membagikan "pessè" kepada rakyat, sebagian warga segera membayangkan amplop. Tapi saat yang datang hanya secangkir sarebba gratis, semua tafsir pun dikunci dalam campuran air jahe dan gula Jawa yang ambigu.

Dalam situasi seperti ini, penutur Madura yang mendengar "alako"dari politisi Bugis cenderung lebih beruntung. Kata "pessè" berarti uang, dan "alako" berarti "ambil saja"---kombinasi fonetik yang menyerupai kemenangan lotre. Sebaliknya, jika posisi dibalik, makna berubah menjadi sebaliknya: "pessè" hanyalah jahe, dan "alako" berarti "kerja, sana!"---sebuah paket lengkap penderitaan simbolik: kerja paksa dan suguhan sarebba panas.

Dan akhirnya, kita tentu berharap SAR bukanlah wija Madura yang fasih dua bahasa lalu menjadikannya alat siasat politik---memainkan bunyi untuk menyamarkan makna. Kita ingin percaya bahwa SAR-Kanaah, pasangan terpilih dalam Pilbup kemarin, benar-benar representasi aspirasi rakyat Sidrap, bukan hanya gabungan nama yang kebetulan menyerupai Sarkonah---nama khas di lingkungan penutur bahasa Madura, yang kini terdengar seperti metafora takdir linguistik: gabungan antara harapan dan strategi bilingual, dikemas dalam satu paket kampanye multisemantis.

Sebelum tulisan ini benar-benar ditutup dan kita kembali ke dunia nyata yang tak selalu fonetik, izinkan saya menyelipkan satu pantun Madura. Bila maknanya terasa mengambang, itu bukan karena saya tidak jelas---itu semata karena bunyi selalu punya cara sendiri untuk bersembunyi. Bagi yang bingung, jangan panik. Pojok sarebba tersedia, silakan antri dengan tertib. Ketidakmengertian adalah bagian dari keindahan. Silakan tersenyum, tertawa kecil, atau pura-pura paham sambil menyeruput sarebba. Dan kalau Anda langsung tertawa lepas tanpa perlu waktu mencerna, besar kemungkinan Anda memang orang Madura, atau minimal pernah hidup cukup lama di tengah percakapan warung kopi yang penuh dengan plesetan dan jebakan bunyi. 

Kagilia tade' ombe'
bede ombe' tade' gilina
Abinia tade' sè ande'
bede sè ande' tade' gigina

Saromase Sidenreng Rappang!!
Diubah oleh tanmalako091539 Hari ini 02:25
0
23
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan