Kaskus

Entertainment

mr.spaghetiAvatar border
TS
mr.spagheti
Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?

PendahuluaN

Dalam dunia politik, kita sering mendengar kata "Munafik". Kata ini identik dengan kepura-puraan, berkata A tapi melakukan B, berbicara seolah pro-rakyat tapi kebijakan justru menyakiti rakyat, menjanjikan perubahan tapi setelah berkuasa justru mempertahankan status quo( Sebuah kondisi yang ada sekarang, dipertahankan apa adanya ).

Meski secara moral dianggap buruk, kenyataannya kemunafikan justru sering dipakai sebagai “alat” politik yang efektif.

Para pemimpin, partai, hingga lembaga pemerintahan terkadang tidak bisa selalu berkata jujur. Ada kalanya mereka harus menampilkan wajah yang berbeda demi menjaga stabilitas, meraih dukungan, atau mempertahankan legitimasi Politik.

Namun, sejauh mana kemunafikan ini bisa dianggap “berguna”? Mengapa ia begitu lekat dalam dunia politik? Mari kita bahas lebih dalam melalui lima sudut pandang yang berbeda.


Bab 1
Wajah Ganda Politik

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?

KASKUS


Politik adalah sebuah panggung besar. Apa yang ditampilkan ke publik seringkali berbeda dengan kenyataan di balik layar. Seorang politisi bisa berdiri di podium, berbicara lantang tentang keadilan sosial, tetapi di ruang rapat tertutup ia sibuk melobi demi kepentingan kelompok tertentu.

Contoh nyata sering kita lihat dalam janji kampanye. Banyak calon pemimpin daerah atau presiden berjanji tidak akan menaikkan harga bahan bakar, listrik, atau tarif dasar lain yang membebani rakyat.

Namun begitu menjabat, kebijakan yang diambil justru sebaliknya, dengan dalih demi kestabilan ekonomi. Rakyat kecewa, tapi bagi sang pemimpin, itu adalah langkah yang dianggap realistis.

Ilmuwan politik menyebut fenomena ini sebagai “politik dua wajah.” Satu wajah ditujukan kepada publik agar tampak idealis, satu wajah lain ditujukan untuk dunia nyata yang penuh kompromi. Inilah bentuk kemunafikan yang paling kasat mata.

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?


BAB 2
Menjaga Stabilitas

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?
KASKUS


Salah satu alasan mengapa kemunafikan dipraktikkan adalah kebutuhan menjaga stabilitas. Dalam situasi tertentu, kejujuran penuh justru bisa berbahaya.
Ambil contoh kondisi ekonomi.

Bila pemerintah secara gamblang mengumumkan bahwa perekonomian sedang sangat buruk, risiko kepanikan massal bisa muncul, investor menarik modal, Pajak semakin mencekik, dan harga-harga melambung. Karena itu, pemerintah biasanya memilih kata-kata yang lebih diplomatis, Seperti “ekonomi kita stabil, tantangan ada tapi masih bisa kita atasi.”

Di level internasional, hal yang sama terjadi. Amerika Serikat, misalnya, sering berbicara soal demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi tetap menjual senjata ke negara-negara yang melanggar prinsip tersebut.

Indonesia pun demikian, kerap menyerukan solidaritas dunia, tapi ragu mengambil sikap tegas ketika ada kepentingan dagang yang terancam.

Kemunafikan di sini bukan sekadar kepura-puraan, tapi strategi meredam konflik. Ia dianggap sebagai cara “menjaga wajah” di depan publik maupun mitra politik.

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?



BAB 3
Citra dan Elektabilitas

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?


Dalam politik elektoral, citra adalah segalanya. Survei menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap kepribadian dan citra kandidat lebih berpengaruh daripada program kerja yang rumit. Menurut data Lembaga Survei Indonesia (LSI), citra kandidat bisa menyumbang lebih dari 40% keputusan pemilih, sedangkan program kebijakan kurang dari 20%.

Hal ini membuat banyak politisi lebih fokus membangun pencitraan ketimbang bekerja nyata. Seorang calon legislatif yang jarang turun ke masyarakat tiba-tiba mendadak rajin masuk pasar, memakai baju sederhana, bahkan ikut makan di warung kaki lima.

Semua direkam kamera, lalu disebarkan ke media sosial. Publik melihat itu dan merasa dekat, meski dalam keseharian sang politisi lebih sering berada di ruangan rapat hotel mewah.

Kemunafikan dalam bentuk pencitraan ini dianggap “wajar” dalam politik. Yang penting bagaimana tampil di mata rakyat.

Soal apakah sikap itu asli atau palsu, publik sering kali tak punya waktu untuk menyelidiki lebih jauh.

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?



BAB 4
Bagaimana Dengan Negara Kita ?

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?
KASKUS


Di Negara ini, praktik kemunafikan politik bukanlah hal asing. Hampir setiap partai, dari yang besar hingga kecil, punya rekam jejak janji manis yang tidak konsisten.

Isu korupsi adalah contoh paling jelas.

Hampir semua partai mengklaim mendukung pemberantasan korupsi. Namun, data KPK menunjukkan ratusan kader partai justru ditangkap karena kasus suap, gratifikasi, hingga jual beli jabatan.

Bahkan beberapa pejabat yang sebelumnya bersuara lantang soal moral politik akhirnya ikut terseret kasus.

Kemunafikan juga terlihat pada koalisi politik. Partai yang dulunya oposisi bisa tiba-tiba bergabung ke pemerintah dengan alasan “demi kepentingan bangsa.”

Padahal, motif sebenarnya lebih ke arah menjaga kursi kekuasaan. Publik pun bingung, mana yang benar-benar berpihak pada rakyat, mana yang sekadar bermain taktik.

Dalam kebijakan publik, fenomena serupa muncul. Pemerintah bisa berjanji soal “anggaran pro-rakyat,” tetapi realisasinya lebih banyak tersedot ke proyek mercusuar atau belanja birokrasi.

Rakyat kecil sering hanya menjadi objek pencitraan, bukan subjek utama kebijakan.

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?



BAB 5
Kebutuhan

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?
KASKUS


Meski sering dikritik, kenyataannya kemunafikan masih dianggap “berguna” di dunia politik. Ia ibarat pelumas mesin: membuat roda kekuasaan tetap berputar dengan mulus.

Tanpa kepura-puraan, konflik bisa pecah lebih cepat, koalisi bisa bubar, dan stabilitas negara terguncang.

Namun, risiko besar juga mengintai. Jika kemunafikan terlalu sering dilakukan, kepercayaan publik akan hilang. Demokrasi bisa lumpuh karena rakyat apatis: mereka merasa semua politisi sama saja, hanya pandai bicara tapi tak pernah menepati janji.

Sejarah mencatat, banyak pemimpin tumbang bukan karena lawan politik, tetapi karena kehilangan kepercayaan rakyat akibat sikap yang tidak konsisten.

Dari era kejatuhan Presiden Nixon di Amerika akibat skandal Watergate, hingga runtuhnya rezim-rezim otoriter di dunia ketiga, semuanya punya pola yang sama: kemunafikan yang terlalu lama dipelihara akhirnya terbongkar.

Politisi mungkin butuh kemunafikan sebagai strategi jangka pendek. Tapi bila terus-menerus dijalankan, ia bisa berubah menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi, partai, bahkan negara itu sendiri.

Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?


Penutup


Kemunafikan dalam politik adalah paradoks. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai strategi bertahan, menjaga stabilitas, dan membangun citra. Di sisi lain, ia bisa menjadi racun yang menghancurkan kepercayaan publik bila berlebihan.

Bagi rakyat, kesadaran kritis sangat penting. Kita tidak bisa hanya menelan bulat-bulat janji dan pencitraan.

Yang perlu dilakukan adalah memantau konsistensi antara ucapan dan tindakan politisi. Dengan begitu, ruang bagi kemunafikan bisa dipersempit, dan demokrasi bisa tetap sehat.

Politik mungkin memang tidak pernah benar-benar bersih dari kepura-puraan. Tapi masyarakat yang cerdas bisa membatasi sejauh mana kemunafikan itu mempengaruhi hidup mereka.

Pada akhirnya, kekuasaan tanpa kepercayaan rakyat hanyalah sebuah pondasi bangunan yang menunggu waktu untuk runtuh.






Bagaimana Kemunafikan Sangat Berguna Dalam Berpolitik ?

Terimakasih sudah membaca ^_^


0
9
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan