Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Alasan Sulitnya Bank Turunkan Bunga Kredit Versi Ekonom
Bloomberg Technoz, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai BI Rate tidak lagi menjadi acuan bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK).

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF Abdul Manap Pulungan mengatakan hal ini terjadi karena bank lebih mengacu pada suku bunga yang menentukan profitabilitas, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Suku bunga SRBI itu yang diacu bank, kalau itu turun baru bank bereaksi. Kalau BI rate-nya tidak diacu. Sebab, bank sama kayak perusahaan. Tujuannya untuk mencapai laba maksimal. Jadi yang diacu mereka suku bunga yang menentukan profitabilitas," ujar Abdul kepada Bloomberg Technoz, Kamis (17/7/2025).

Menurutnya, BI Rate sejak dahulu memang tidak diacu oleh perbankan. Sebab, pada dasarnya suku bunga acuan bank sentral hanya bersifat sebagai sinyal bagi bank bagaimana arah kebijakan BI ke depan.

Terlebih, pada September 2023, BI meluncurkan SRBI yang tujuan awalnya untuk memperdalam pasar keuangan. Namun, tujuan awal tersebut tidak tercapai karena menyebabkan distorsi terhadap penyaluran kredit. Penempatan likuiditas di SRBI juga dinilai lebih menguntungkan karena memiliki tingkat suku bunga yang tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit yang dinilai berisiko.

Dua Opsi

Abdul Manap menilai terdapat dua opsi yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Pertama, menurunkan tingkat suku bunga SRBI di bawah BI Rate.

Sekadar catatan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 5,25%.

Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan menurun masing-masing menjadi 5,85%; 5,86%; dan 5,87% pada 11 Juli 2025. Angka itu turun dari masing-masing sebesar 6,4%, 6,44%, dan 6,47% sebelum penurunan BI-Rate pada Mei 2025.

Kedua, mencabut instrumen SRBI. Menurutnya, dengan tingkat inflasi yang hanya berada pada level 1,87% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Juni 2025, keberadaan SRBI tidak lagi dibutuhkan.

"Dulu BI mungkin membuat instrumen karena pada 2022 ada kenaikan harga minyak dan inflasi tinggi. Makanya [SRBI] dimunculkan pada September 2023 untuk menyerap likudiitas yang berlebihan di perekonomian," ujarnya.

"Sekarang inflasi sudah turun, kalau banyak-banyak instrumen, justru nanti membingunkan pasar yang mana mereka [jadikan] acuan."

Bank Endapkan Dana di Surat Berharga

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengaku sudah mengambil semua langkah untuk mendorong pertumbuhan dan penurunan bunga kredit demi pertumbuhan ekonomi. Namun hingga kini pertumbuhan kredit bank masih melempem dan penurunan bunga kredit masih kecil.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi BI sudah menurunkan BI rate dan masih membuka ruang untuk menurunkan bunga acuan tersebut. Sepanjang tahun ini BI sudah menurunkan BI rate sebanyak 75 bps.

Selain itu, BI juga menggelontorkan tambahan likuiditas melalui operasi moneter dengan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan ini telah memberikan menyuntikkan likuiditas ke perbankan sebesar Rp376 triliun yang disalurkan pada sektor prioritas.

“Jadi BI sangat all out untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi bersama dengan pemerintah. Pertanyaannya, kenapa suku bunga bank belum turun? Kenapa kredit juga pertumbuhan bulan lalu juga turun?” ungkap Perry Warjiyo dalam konferensi pers digital di Jakarta, Kamis (16/7/2025).

Menurut analisis BI masalah perbankan saat ini bukan pada likuiditas. Buktinya indikator alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sangat tinggi mencapai 27%.

“Ini masalah preferensi, bank lebih suka menaruh dana di surat berharga dan terlalu berhati-hati dalam mendorong kredit. Jadi ekses likuiditas ditaruh pada surat berharga ketimbang dorong kredit,” ungkap Perry.

Dari sisi penawaran, memang permintaan masih belum tumbuh tinggi. Sektor ekonomi yang mendorong permintaan sebagian besar berorientasi ekspor dan perdagangan, konsumsi, transportasi dan jasa. Namun sektor lain terus didorong BI dan pemerintah demi pertumbuhan ekonomi.

“Oleh karena itu suku bunga BI kita turunkan, likuiditas kita tambah dalam operasi moneter. Ini akan mendorong perbankan lebih banyak alokasikan alat likuid bukan ke kredit tetapi kredit ke dunia usaha. Yuk, sama-sama turunkan suku bunga, sama-sama dorong pertumbuhan ekonomi untuk negara kita dan kesejahteraan rakyat,” pungkas Perry.

Sekadar informasi, pada Juni 2025 kredit perbankan hanya tumbuh 7,77% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy). Angka ini menurun dibandingkan pertumbuhan Mei 2025 yang mencapai 8,43% (yoy).

Bunga deposito 1 bulan perbankan mengalami kenaikan dari 4,81% pada Mei 2025 menjadi 4,85% pada Juni 2025 dan bunga kredit bank 12 bulan stagnan di 9,16%. Padahal indikator suku bunga lainnya sudah dalam mengalami penurunan. Suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan, masing-masing turun dari 6,4%, 6,44%, dan 6,47% menjadi 5,85%, 5,86%, dan 5,87% per 11 Juli.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah juga bergerak turun. Untuk tenor 2 tahun, terjadi penurunan dari 6,13% menjadi 5,86%. Sementara untuk tenor 10 tahun berkurang dari 6,71% ke 6,56%.

https://www.bloombergtechnoz.com/det...-versi-ekonom/


Bank Indonesia ga usah pura2 beg0.

Bunga ga akan turun kalau pemerintah masih rajin menerbitkan SBN, dan BI masih rajin menjual SRBI.

Yang mau ngutang sama bank disuruh saingan rebutan dana sama Pemerintah ya kalah.

Bank juga pilih yang aman2 aja, ngapain repot survey, risiko kredit, belom ngurus yang macet.

Padahal SRBI sama SBN bertebaran dimana2, dijual sama asing.

billy.ar15Avatar border
soelojo4503Avatar border
soelojo4503 dan billy.ar15 memberi reputasi
2
161
6
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan