Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

littlesmithAvatar border
TS
MOD
littlesmith 
Kisah Perang Bubat : Konflik Berdarah di Tanah Jawa

Gansis pasti pernah denger Perang Bubat kan? Ini salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Nusantara, sekitar tahun 1357. Jadi, ada dua kerajaan besar nih, Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk, dan Kerajaan Sunda di bawah Raja Linggabuana. Waktu itu, Majapahit lagi jaya-jayanya banget, sementara Sunda juga cukup kuat dan mandiri.



Spoiler for Ilustrasi Perang Bubat:





Majapahit ini bener-bener super power-nya Nusantara, Gan. Ekonomi mereka maju banget, mulai dari sektor agraris sampai maritim. Daerah sekitar Sungai Brantas dan Bengawan Solo subur banget, menghasilkan padi yang melimpah. Majapahit juga jadi pusat perdagangan maritim, pelabuhan seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya rame banget sama aktivitas perdagangan internasional.

Mereka pakai mata uang koin tembaga yang disebut "picis". Sistem keuangan di Majapahit juga udah canggih dengan perbankan sederhana dan sistem kredit. Barang-barang kerajinan seperti perhiasan emas, kain batik, dan keramik diekspor ke luar negeri. Infrastruktur mereka juga top, dengan jalan, jembatan, dan sistem irigasi yang mendukung pertanian dan perdagangan.


Spoiler for Ilustrasi kerajaan Majapahit:



Kerajaan Sunda, meskipun lebih kecil, juga nggak kalah mandiri, Gan. Ekonomi mereka juga berbasis agraris, dengan wilayah sekitar Sungai Citarum dan Ci Tarum yang subur. Pelabuhan penting seperti Banten dan Kalapa (Jakarta sekarang) jadi pusat perdagangan mereka. Mereka juga punya hubungan dagang yang kuat sama negara-negara lain di Nusantara, India, dan Tiongkok.

Mata uangnya pake koin perak dan emas. Sistem keuangan di Sunda cukup maju dengan perdagangan barter dan mata uang. Kerajinan tangan mereka seperti perhiasan, tekstil, dan alat-alat dari besi dan perunggu juga diekspor. Infrastruktur mereka mendukung banget pertanian dan perdagangan, meskipun nggak sekompleks Majapahit.

Spoiler for Ilustrasi Dyah Pitaloka:



Nah, ceritanya, Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pengen nikahin Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Raja Linggabuana dari Sunda. Pernikahan ini diharapkan bisa memperkuat hubungan diplomatik kedua kerajaan. Raja Linggabuana setuju dan bawa putrinya serta rombongan besar ke Majapahit buat upacara pernikahan.
Pas mereka sampai di Bubat, mereka disambut sama Gajah Mada, patih Majapahit yang ambisius. Gajah Mada ngusulin kalo Dyah Pitaloka harus diterima sebagai tanda takluk, bukan sebagai calon istri yang setara. Raja Linggabuana merasa terhina banget dan nggak terima.

Karena penolakan Raja Linggabuana, ketegangan langsung memuncak jadi pertempuran. Pasukan Sunda, meskipun lebih kecil dan nggak siap, bertarung mati-matian lawan pasukan Majapahit yang lebih besar dan siap tempur. Pertempuran ini singkat tapi brutal, dan pasukan Sunda kalah telak. Raja Linggabuana dan banyak bangsawan Sunda gugur.

Dyah Pitaloka, yang lihat ayahnya dan banyak pengikutnya tewas, memilih bunuh diri daripada tunduk sama penghinaan Majapahit. Ini dilihat sebagai simbol kehormatan dan keberanian.

Dampak Perang Bubat
Hubungan Sunda-Majapahit:Setelah Perang Bubat, hubungan kedua kerajaan jadi sangat tegang. Luka batin ini bikin hubungan mereka sulit diperbaiki.
Dampak Diplomatik: Perang ini jadi pelajaran penting dalam diplomasi dan hubungan antar kerajaan. Kesalahan diplomatik bisa bikin tragedi besar.
Sastra dan Tradisi: Peristiwa ini diabadikan dalam berbagai karya sastra dan tradisi lisan di Nusantara. Naskah Kidung Sunda menggambarkan tragedi Bubat dengan dramatis dan emosional. Cerita ini sering diromantisir dan jadi legenda.
Pembelajaran Sejarah: Perang Bubat mengajarkan pentingnya menghormati martabat dan kehormatan bangsa lain. Tragedi ini jadi pengingat bahwa ambisi politik yang nggak terkendali bisa berujung pada konflik dan penderitaan.


Perang Bubat adalah salah satu peristiwa bersejarah yang paling terkenal di Nusantara, menunjukkan kompleksitas hubungan antar kerajaan pada masa itu. Tragedi ini mengilustrasikan bagaimana ambisi politik dan kesalahpahaman diplomatik bisa menyebabkan bencana. Meskipun terjadi berabad-abad lalu, Perang Bubat tetap jadi bagian penting dari sejarah dan budaya Indonesia, mengingatkan kita akan pentingnya diplomasi, kehormatan, dan kebijaksanaan dalam menjalankan pemerintahan.


Sumber


1. Kompas
2. Wiki

Gambar
1, 2, 3
si.matamalaikatAvatar border
hard.lineAvatar border
blacklegsanjaiAvatar border
blacklegsanjai dan 8 lainnya memberi reputasi
9
918
54
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan