Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #71 : Tetangga Pacaran
Short Story #71 : Tetangga Pacaran


Sudah beberapa hari ini aku suka mengintip Julia yang tinggal di seberang rumah. Di malam hari dari balik gorden jendela aku melihatnya duduk di depan pintu rumah dengan seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya.

Tampaknya Julia sudah punya pacar dan duduk di luar rumah lalu mengobrol selama beberapa jam adalah gaya pacaran mereka. Gaya pacaran yang sangat jadul, menurutku. Namun mengingat orangtua Julia cukup keras dalam urusan semacam ini kurasa itu bisa dimaklumi.

Aku suka duduk di sebelah jendela sembari ngopi dan menonton Youtube. Keberadaan Julia dan pacarnya hanya selingan yang menghibur. Dulu jaman aku abg pacarannya juga seperti itu. Kebetulan istriku itu anak ustad jadi tak pernah ada ngedate ala anak jaman sekarang di sejarah kami.

Biasanya pacar Julia akan pulang jam 10 malam. Aku memang tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi tampaknya pembicaraan mereka santai-santai saja. Sesekali tertawa, sesekali hening lama.

Hampir setiap malam mereka menghabiskan waktu di sana. Kurasa umur mereka sudah cukup matang untuk menikah jadi aku cukup menantikan kapan ritual pacaran di depan rumah ini akan berakhir.
Itu berakhir lebih cepat dari dugaanku, tapi dengan cara yang tidak disangka.

Suatu malam, untuk pertama kalinya, pacar Julia masuk ke dalam rumah. Kukira dia hanya menumpang toilet atau sejenisnya, tapi aku tak pernah melihatnya keluar. Kukira dia sudah pulang saat aku tidak melihat jadi aku tak terlalu memikirkannya. Baru saat hendak tidur aku teringat kalau orangtua Julia sedang menghadiri pesta di luar kota.

Keesokan harinya aku bisa melihat kegusaran yang tidak biasa dari rumah Julia. Orangtuanya sudah pulang dan mereka menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Sedikit banyak aku punya pikiran buruk yang ternyata menjadi kenyataan.

Pacar Julia tak pernah datang lagi, tapi seminggu kemudian tersiar kabar bahwa Julia akan menikah. Kurasa ritual pacaran mereka akhirnya akan berlanjut di tempat yang lebih baik alias di kamar tidur. Namun bertapa tercengangnya aku saat melihat foto undangan pernikahan mereka. Pria itu bukanlah pacar Julia yang kutahu.

Aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang, tapi sayangnya rasa penasaranku terlalu tinggi sampai-sampai tak bisa tidur rasanya aku memikirkannya. Namun, tak mungkin aku menanyakan pertanyaan yang sensitif seperti itu. Akhirnya aku pun memendam pertanyaanku dalam-dalam.

Di hari pernikahan Julia aku datang dan menyampaikan ucapan selamat. Sebenarnya aku berencana langsung pulang, tapi sebuah sosok di tempat parkir mencuri perhatianku. Mungkin karena aku sudah sering melihatnya di kegelapan malam aku jadi hafal betul sosok itu.

“Kau mantan pacarnya Julia kan?”

Dia mencoba kabur tapi aku langsung sigap menyergapnya. Aku tak peduli tentang drama apa yang menghiasi percintaan mereka. Aku cuma mau tahu kebenarannya.

“Tenang, aku bukan polisi. Aku cuma penasaran kenapa kau nggak nikah sama Julia?”

Untungnya aku tak perlu memitingnya agar dia mau mengaku. Dia bernama Armin, seorang pegawai PDAM berwajah alim.

“Kami … putus. Dia mutusin aku,” ucap Armin setelah kami duduk tenang di sudut lahan parkir. “Aku cinta Julia, tapi ternyata dia nggak kayak yang aku bayangin.”

“Kenapa? Susunya kecil?”

Dia menatapku jijik. Padahal kukira anak jaman sekarang sudah biasa bicara begitu. Apa jangan-jangan sumberku yang salah ya?

“Hubungan kami sehat, kami jaga jarak. Aku nggak pernah nyentuh dia karena janji ke orangtuanya. Kalau kami ngedate, kami cuma ngobrol di depan pintu rumah. Cuma itu, nggak lebih.”

“Hallah! Aku liat kok kau masuk ke rumahnya terus nggak keluar lagi.”

Wajahnya memucat seperti sayuran layu. Aku tak menyalahkan Armin. Pria se alim apa pun pastilah bisa tergoda. Yang penting itu bukan tergodanya, tapi apakah dia akan bertanggungjawab atas perbuatannya.

“Sumpah! Aku nggak ngelakuin apa-apa. Dia ngajak aku masuk gara-gara dingin, tapi dia di dalam tiba-tiba buka baju. Aku nggak mau, tapi dia maksa. Aku nggak tau kenapa dia tiba-tiba begitu, kukira dia perempuan alim. Akhirnya aku kabur saat itu juga. Besoknya dia langsung mutusin aku.”

Aku cuma garuk-garuk kepala mendengar cerita Armin. Terlalu sedikit bukti yang membuat banyak tempat untuk spekulasi.

“Mungkin dia kebelet nikah jadi dia maksa kau begituan?”

Aku mencoba memberi kemungkinan yang hanya ditanggapi Armin dengan diam.

“Kami udah sepakat nggak nikah sebelum cicilanku lunas. Lagian buat apa tiba-tiba nikah? Dia tiba-tiba aja jadi begitu!”

Aku sama sekali tak menemukan jawaban yang memuaskan. Yang jelas Julia sekarang sudah menikah dan meninggalkan Armin dalam kepusingan. Aku pun cuma bisa pulang dengan sejuta pertanyaan.

Waktu pun berlalu. Suami Julia tinggal di rumah mertuanya yang berarti sekarang kami bertetangga. Dia orang yang baik, tapi masih kelihatan terlalu muda dan naif. Dia tampak seperti remaja dengan libido yang masih terlalu tinggi. Buktinya tak lama kemudian Julia hamil.

Tak ada hal yang aneh sejak saat itu. Aku sudah nyaris melupakan Armin, tapi kelahiran anak Julia membuatku kembali mengingat ceritanya. Bukan cuma aku yang heran, hampir semua tetangga merasa heran.

Baik Julia dan istrinya, serta ayah dan ibu mereka, semua berkulit putih, tapi kok bisa anaknya berkulit hitam?

Gosip-gosip tak enak pun mulai menyebar. Suami Julia tampaknya tak lagi pulang ke rumah. Siapa pun pasti bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi walaupun tak ada bukti.

Saat malam tiba aku jadi sering mengingat kembali masa-masa Armin pacaran dengan Julia. Aku akan duduk di dekat jendela dan mengamati teras tempat mereka dulu asik bercengkrama. Siapa yang menyangka hidup Julia akan berubah drastis kurang dari satu tahun?

Suatu malam tanpa sengaja aku melihat seseorang berjalan linglung di depan rumah. Kukira itu odgj yang sering lewat, tapi setelah dilihat baik-baik ternyata itu suami Julia yang sudah lama tak kelihatan. Dia bergoyang, terjuyung, dan akhirnya jatuh. Panik, aku bergegas keluar dan menghampirinya. Ternyata dia sedang mabuk.

“Fik? Fikri! Bangun, jangan tidur di sini!”

Dia mengigau. Susah payah aku mengangkatnya ke sisi jalan karena ada mobil yang akan lewat. Aku mendudukkannya di depan rumahku. Tampangnya mengenaskan. Mata merah, belum bercukur, ludah berceceran. Apa sebenarnya yang sudah orang ini alami?

“Sialan …,” dia mengutuk pelan, “dia bunting duluan … bunting duluan!”

Aku sudah curiga begitu, tapi tetap saja ucapan orang yang terlibat jauh lebih bisa dipercaya. Entah bagaimana, Julia hamil dengan seseorang. Dia mencoba menjebak Armin untuk menikahinya, tapi Armin kabur. Akhirnya Julia mencari pria lain dan Fikri menjadi korbannya.

Aku menarik Fikri masuk rumah dan membaringkannya di sofa. Entah apa yang akan dia lakukan mulai sekarang, aku cuma bisa berdoa.

Tak lama setelahnya keluarga Julia pindah secara diam-diam. Tak butuh waktu lama sampai ada keluarga baru yang menghuni rumah mereka. Keluarga itu punya anak perempuan yang cantik. Pacarnya sering datang ke rumah dan setiap malam mereka mengobrol di luar, menjaga diri dari hal-hal terlarang.

Aku suka mengamati mereka sembari mengenang kembali Armin dan Julia. Awalnya kukira gaya pacaran mereka kolot, tapi gaya pacaran itulah yang sudah menyelamatkan Armin. Kalau saja mereka punya gaya pacaran layaknya anak muda kelewat gaul maka mungkin Armin lah yang akan berakhir seperti Fikri.

Armin beruntung, tapi kuyakin banyak orang lain di luar sana bernasib seperti Fikri. Aku tak bisa membantu apa-apa. Aku hanya bisa berjanji pada diriku sendiri untuk mendidik anakku sebaik-baiknya agar dia tak jatuh pada perangkap yang sangat menggoda.

***TAMAT***
itkgidAvatar border
enjitariefAvatar border
jembloengjavaAvatar border
jembloengjava dan 21 lainnya memberi reputasi
20
1.4K
20
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan