spaghettimiAvatar border
TS
spaghettimi
Dendam Loka || Cerpen Chat History Thriller


Quote:



emoticon-exclamationPERHATIAN emoticon-exclamation
CERITA INI MEMUAT DESKRIPSI YANG SADIS DAN PERBUATAN YANG TERCELA



Bulan nampak jelas di langit malam itu. Angin dingin berhembus di tengah kesunyian. Jalanan sepi yang hanya diterangi oleh lampu jalanan kuning tiba-tiba dilalui oleh dua mobil polisi tanpa sirine. Di dalam salah satu mobil, jam digital menunjukkan pukul 11:15 dengan warna merah cerah.

Dua mobil putih itu kemudian berhenti di depan satu rumah kecil, memenuhi seluruh halaman. Semua polisi di mobil pertama keluar dan berlari ke dalam rumah itu, sementara polisi di mobil yang lain turun dan hanya berdiri berjaga-jaga.

Perwira ikut keluar untuk mengecek tempat kejadian perkara. Ia datang didampingi beberapa polisi lain. Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Seorang wanita tergeletak di atas karpet. Karpet itu sudah berubah warna menjadi merah akibat cairan yang muncul dari kepala wanita itu.

Di tengah ruangan bercahaya remang-remang itu, Inspektur Amir sudah menunggu kedatangan polisi yang lain. Ia sedang berdiri kebingungan dengan wajah yang takut. Pria malang itu merupakan polisi baru yang matanya masih suci dari darah.

"Kondisinya sudah seperti ini ya?" Perwira membuka pembicaraan. "Nampaknya tidak bisa kita selamatkan. Jangan sentuh apa-apa, sekarang kita keluar dan menunggu tempat ini diperiksa."

Inspektur Amir bingung. Kepalanya menoleh ke polisi-polisi yang baru datang, tetapi badannya seakan-akan tak bergerak. Salah satu polisi melihat tangannya yang terkena bercak darah dan nampak sedang memegang sesuatu.

Polisi itu bertanya, "Em, Inspektur Amir. Apa yang ada di tangan kirimu?"

"Amir, apa kamu melihat ada petunjuk?" Perwira menambahkan.

Perlahan, Inspektur Amir mulai berbicara, "I- Ini.." "Wanita ini tadi hidup meminta pertolongan. Tapi aku tidak bisa membantunya. Wanita ini berteriak seraya kepalanya mengalirkan darah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Perkataan itu menarik perhatian semuanya. Polisi yang sedang berjalan keluar menghentikan langkah mereka, dan perlahan menengok ke polisi junior itu.

"Tidak papa, ini bukan salahmu. Hal buruk sering kita saksikan dalam pekerjaan ini," balas Perwira.

Amir mengangkat tangannya sambil menunjukkan barang yang ia pegang, "Ponsel berdarah ini, memiliki bukti."

Salah satu polisi menerima ponsel itu. Lalu, mereka berkumpul dan mulai mencerna barang bukti yang dibicarakan.

Quote:



Perwira selesai membaca, ia pun mulai bertanya-tanya, "Jadi, apa Si Loka ini sedang bersembunyi di sekitaran sini?"

Tak ada jawaban dari pertanyaan tersebut. Tanpa disadari yang lain, Inspektur Amir sudah keluar dari rumah. Perwira menengok ke depannya, kanan dan kiri, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Amir.

"Loka.. tidak ada disini," suara Inspektur Amir dari belakang.

Perwira dan beberapa polisi di sampingnya menengok ke belakang. Ia pun bertanya lagi, "A- Apa maksudnya ini?"

Bola matanya menciut. Sang Perwira menyadari bahwa beberapa polisi yang ada di luar rumah beserta Inspektur Amir sedang menodongkan pistol mereka ke arah rumah.

Banyak suara tembakan mulai terdengar. Darah memenuhi pintu masuk rumah itu, seakan-akan mereka membuat karpet merah. Inspektur Amir pun mulai melangkah dan mengambil kembali ponsel itu.

Quote:


Diubah oleh spaghettimi 20-04-2024 05:20
bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
1
330
3
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan