ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
[Cerpen #4] Bahkan Aku Pun Ingin Kau Hidup


“Laura, apa kau percaya pada Dewa?”

Saat aku berumur 10 tahun, ibu menanyakan hal itu padaku. Sebuah pertanyaan yang terlalu berat untuk anak sepuluh tahun mana pun.

“Dewa? Maksud Mama?”

“Tuhan. Allah. Jesus. Buddha. Shiva. Apa pun bentuk Sang Pencipta yang kau percaya. Apa kau percaya Mereka ada?”

Saat itu aku hanya memiringkan kepalaku dengan bingung tanpa menjawab pertanyaan Mama. Mama tidak mendesakku menjawab, dia hanya tersenyum lembut dan menutup mata untuk selamanya.

“Maaf,” itulah kata terakhir yang Mama ucapkan padaku. Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.

Lima tahun kemudian, saat aku berumur 15 tahun, Papa sakit keras. Saat terbaring di ranjang rumah sakit, dia menanyakan hal yang sama padaku.

“Laura, apa kau percaya pada Dewa?”

Kali ini, aku sudah punya jawaban samar.

“Tidak, aku tidak percaya.”

“Kenapa?”

“Kalau Tuhan memang ada, kenapa dia harus merenggut Papa dan Mama dariku?”

Papa tidak menjawab. Jika ada satu hal yang aku yakini pasti itu adalah kenyataan bahwa tak peduli seberapa keras aku berdoa, Papa tetap tidak akan sembuh. Sama seperti Mama, Papa akan meninggalkanku. Meninggalkan kami.

“Maaf,” ucap ayah untuk terakhir kali sebelum pergi. Lagi-lagi, aku tidak mengerti apa maksudnya.

Dan kemudian aku menjadi yatim piatu. Yatim piatu bukan berarti sebatang kara, aku masih punya seorang adik. Adik kembar yang lebih muda lima menit dariku.

Namanya Laila, dan dia pun tampaknya tak akan berumur panjang. Sejak kecil Laila memiliki tubuh yang lemah, dia begitu sering sakit-sakitan. Saking seringnya, dia bahkan tak bisa pergi bersekolah dan menghabiskan seharian di tempat tidur. Mungkin hari-hari yang dia habiskan tanpa merasa lelah bisa dihitung dengan jari.

Karena itu kami jarang menghabiskan waktu berdua. Meski kembar identik, aku tak merasa terlalu terikat dengannya. Kami terlalu berbeda, baik secara fisik maupun psikis. Dia tidak terasa seperti saudara, melainkan sekedar seseorang yang perlu dikasihani.

Setelah Papa dan Mama tidak ada, akulah yang bertugas merawat Laila. Aku melakukannya atas dasar tanggungjawab, tapi aku tak benar-benar menyukainya. Pekerjaan ini mengurangi waktuku untuk melakukan banyak hal.

“Maaf ya, Kak. Kau jadi ikut terkurung gara-gara aku.”

Laila terbatuk pelan. Tampaknya aku sudah mengeluarkan sedikit ekspresi jenuh tanpa kusadari.

“Nggak apa-apa. Habis ini kau makan ya, terus minum obat biar cepat sembuh.”

Laila membalas dengan senyum tipis yang entah mengapa mengingatkanku akan senyuman Mama. Perasaanku menjadi semakin buruk. Meski tak dekat, aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi.

“Kak, kau sungguh punya tubuh yang kuat,” ucapnya sembari memegang lenganku. Sentuhan itu membuat perbedaan kami terlihat begitu jelas. Aku punya tubuh yang sehat dengan kulit agak gelap sementara tangan Laila begitu kurus dan pucat.

“Makanya kau juga sehat. Kau juga—”

Kalimatku dipotong dengan batuk keras dan menyakitkan dari Laila. Buru-buru aku mengambil air dan menyodorkan minum ke mulutnya. Setiap hari kesehatannya terus memburuk.

“Lima belas tahun,” ucapnya saat batuknya mereda, “lima belas tahun aku sakit, gimana caranya tiba-tiba bisa sehat?”

“Kau harus optimis dong. Kalau terus minum obat dan berdoa—”

“Hmm? Kakak percaya Tuhan?”

Itu ketiga kali aku mendapat pertanyaan itu. Laila, seperti aku, pastinya tidak percaya. Jika Tuhan memang ada, mengapa Tuhan membiarkan Laila terus kesakitan seumur hidupnya? Laila punya alasan lebih besar untuk tidak percaya pada Tuhan. Dia mengalami kemalangan lebih banyak dariku.

“Tuhan memang nggak ada, tapi ada yang namanya dokter dan obat-obatan. Biar mereka yang membuatmu sembuh.”

“Tapi Tuhan sungguh-sungguh ada lo. Aku buktinya.”

Aku menggaruk kepalaku kebingungan. Melihat reaksiku, Laila tampak benar-benar terkejut.

“Kakak … Papa dan Mama nggak pernah bilang?”

“Bilang apa?”

Matanya membulat, bibirnya gemetar. Di saat itulah aku sadar bahwa hanya aku yang tak pernah mengerti apa yang terjadi di tengah keluarga ini.

“Ku-kukira Kakak udah tau.”

“Tau apa sih?”

Perlahan-lahan ekspresi wajahnya berubah menjadi teror. Rasa penasaranku yang sudah bertumpuk sejak lima tahun lalu meluap menuntut untuk dipuaskan. Aku mencengkram kedua tangannya dan mendesak Laila untuk memberitahu semua yang dia tahu. Dia ketakutan, tetapi rasa penasaranku mengabaikan fakta itu.

“Tuhan,” ucapnya, “Tuhan memberiku nyawa.”

Jika yang dia maksud adalah Tuhan memberi kehidupan pada kita semua maka aku bisa sedikit mengerti, tetapi apa yang Laila sampaikan jauh lebih tidak masuk akal daripada itu.

“Saat kita lahir … saat aku lahir, aku sebenarnya sudah mati. Cuma Kakak yang hidup. Papa dan Mama sangat sedih, mereka pun berdoa pada Tuhan. Dan … Tuhan sungguh-sunggh datang.”

***


Tuhan datang menghampiri mereka berdua. Sang ibu menggendong si kakak yang terus menangis sementara sang ayah menggendong mayat si adik yang semakin dingin. Tuhan pun memberi mereka penawaran.

“Anak ini punya 40 tahun untuk hidup, tetapi Aku bisa membagi setengah umurnya untuk adiknya. Namun, tubuh ini sudah pernah mati. Meski hidup kembali dia hanya akan jadi anak yang sakit-sakitan. Bagaimana?”

Mereka berdua, didorong oleh rasa cinta yang baru mekar, menyetujui tawaran Tuhan. Akhirnya si Adik pun mulai menangis. Jantung yang semula hanya hiasan mulai berdetak. Kehidupan pun kembali dengan bayaran yang akhirnya mereka sesali di kemudian hari.

Sang Kakak tumbuh dengan penuh energi kehidupan sementara si Adik berusaha keras hanya untuk sekedar mempertahankan kesadarannya. Sesuai perjanjian, si Adik akan terus hidup sakit-sakitan sedangkan si Kakak yang tumbuh dengan begitu sehat juga akan menemui ajalnya di umur 20 tahun.

Setelah menyadari hal ini, pasangan suami istri itu pun mulai mempertanyakan keputusan mereka. Apakah 20 tahun kehidupan seorang gadis sehat layak ditukar dengan 20 tahun hidup sakit-sakitan? Pantaskah mereka mengorbankan separuh umur sang Kakak demi mengurangi kesedihan sementara dari kematian si Adik?

Tidak, itu bukanlah tindakan yang pantas. Bagaimanapun, itu adalah nyawa si Kakak, bahkan orangtua sekalipun tak punya hak untuk mengaturnya.

Dan karenanya, mereka pun meminta maaf, selalu meminta maaf kepada keduanya. Maaf pada Laura karena mencuri umurnya dan maaf pada Laila karena membiarkannya hidup dalam derita. Bahkan hingga saat terakhir, hanya maaf yang mampu terucap dari mulut keduanya.

***


Aku mendengar dengan cermat, memproses kata demi kata yang keluar dari mulut adik kembarku ini. Selama bercerita, dia tak berani menatap mataku. Itu benar-benar cerita yang konyol.

“Kau bodoh sekali. Mau saja kau ditipu Papa dan Mama.”

“Itu benar!”

“Sekarang kau makan lalu minum obat. Kalau ada perlu panggil saja aku.”

Aku sudah mendengar banyak hal aneh dan supranatural, tapi tetap saja aku tak bisa mempercayai keberadaan Tuhan. Jika Tuhan penuh kasih itu memang ada, mengapa dia memberikan tawaran semacam itu pada orangtua yang satu anaknya mati?

Konyol. Tidak masuk akal. Cerita jelek. Buang-buang waktu. Kalau mereka punya waktu untuk mengarang cerita seperti itu artinya mereka cukup bahagia dengan hidup mereka sampai-sampai sanggup menertawakannya ….

“….”

Kalau dipikir-pikir, Papa dan Mama selalu memberiku kebebasan. Dengan besarnya biaya pengobatan Laila, mereka berdua harus bekerja keras sehingga mereka membiarkanku melakukan yang kuamu. Mereka tak pernah marah meski aku tak belajar dengan serius, mereka juga selalu membelikan apa pun yang aku mau. Mereka sangat memanjakan anak, seolah-olah mereka tahu waktu mereka terbatas untuk melakukannya.

Kubuang pikiran itu jauh-jauh dari kepalaku. Sekarang setelah Papa dan Mama meninggal kami hidup dengan mengandalkan uang pensiunan mereka berdua. Beberapa kerabat sudah berbicara untuk mengadopsi kami, tetapi mereka belum mencapai kesimpulan. Kesimpulan yang dimaksud di sini adalah, siapa yang akan mengurus Laila?

Mengadopsi Laila akan memberi beban yang amat berat. Semua kerabat kami pasti ragu-ragu akan hal tersebut. Benar juga, mengapa Papa dan Mama tak meninggalkan pesan apa pun pada kerabat tentang kami? Hal-hal seperti “tolong jaga mereka” atau yang mirip seperti itu. Apa Papa menganggap kami bisa menjaga diri kami sendiri? Atau ….

Sekali lagi, kubuang pikiran itu dari kepalaku. Namun kali ini, pikiran itu tidak mau pergi.
Jika yang namanya Tuhan memang ada, mengapa Dia membiarkan manusia menderita? Apakah melihat penderitaan memberi kepuasan bagiNya? Apakah Tuhan sama seperti manusia, suka berjudi dan bereksperimen? Jika yang Laila ceritakan memang benar, itu berarti Tuhan sangat tidak adil.

“Kak ….”

Suara itu terdengar begitu dekat. Tanpa kusadari Laila sudah berdiri di luar kamar dengan kedua tangan berpegangan pada ambang pintu untuk mencegahnya jatuh. Melihatnya sekarang membuat emosiku meluap-luap. Ini bukanlah kasih sayang maupun iba, ini adalah rasa benci dan takut.

Umurku, masa depanku, separuhnya hilang hanya untuk keberadaan semacam itu? Tak ada apa pun yang akan berubah meski Laila tiada. Keputusan Pada dan Mama 15 tahun yang lalu adalah sebuah tragedi. Kembalikan! Kembalikan nyawaku!

“Kak ….”

Suaranya yang lemah disusul oleh tubuhnya yang mendadak jatuh. Dengan cepat aku bergerak dan menangkapnya sebelum tubuh ringkih itu menghantam lantai. Tubuhnya panas, panas sekali.

Buru-buru aku membaringkannya di tempat tidur. Laila sudah pingsan, tubuhnya dalam kondisi buruk. Dia harus segera diobati. Cepat. Rumah sakit. Ambulan.

Atau … biarkan saja dia mati.

Mendadak, suara pecahan kaca memasuki gendang telingaku. Suara itu berasal dari pigura keluarga yang kuletakkan di atas meja belajar. Kacanya retak, secara sempurna memisahkan aku dan Laila. Itu foto yang diambil saat kami baru saja lahir. Aku digendongan Papa sementara Laila digendongan Mama. Kami masih begitu mungil. Sama sekali tak ada bedanya. Papa dan Mama pun tersenyum sama lebarnya menatap buah hati mereka.

Dan kemudian, aku segera menelpon ambulan. Laila dibawa ke rumah sakit dan untungnya kondisinya sama sekali tidak kritis. Kata dokter dia harus beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Ini bukan sesuatu yang baru.

“Kak … maafkan aku.”

Maaf, maaf, dan maaf. Aku sudah terlalu sering menengar kata itu. Jika melihat wajahnya dari mata ke mata, aku akhirnya sadar bahwa kami memang saudara kembar. Hidup yang kami jalani sungguh bertolak belakang, tetapi kami berbagi darah dan bahkan nyawa yang sama.

Semua terjadi begitu saja. Aku langsung bisa memahami perasaan depresi yang dia rasakan hari demi hari. Dia ingin bersekolah, dia ingin bermain di luar, dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku. Namun dia tak pernah mendapatkan semuanya. Aku yakin, jika dia bisa memilih maka dia lebih memilih untuk tidak hidup.

Namun, Papa dan Mama memilih memberinya kehidupan. Tak peduli hidup semacam apa yang Laila jalani, mereka tetap memilih untuk melihatnya hidup. Mungkin mereka berharap akan ada keajaiban lain. Mungkin mereka berharap Laila akan menemukan sesuatu yang penting yang membuatnya bersyukur untuk hidup. Karenanya, mereka memilih memberikannya kehidupan.

“Bahkan aku pun … ingin kau hidup.”

Kuelus rambutnya, kukecup keningnya. Bahkan jika separuh hidupku digunakan oleh Laila, itu tak berarti apa-apa. Apa gunanya hidup panjang jika ternyata aku kesepian begitu cepat? Sebagai ganti separuh umur, aku mendapatkan adik yang akan menemaniku selamanya. Itulah yang lebih penting dari semuanya.

“Karena itu, Tuhan, tolong biarkan kami hidup bersama dengan bahagia. Saat Papa dan Mama meninggal aku meminta kepadaMu, tetapi tak menawarkan apa-apa. Kali ini, ambillah separuh umurku, tolong beri Laila tubuh yang kuat. Berapa pun sisa hidup kami, biarlah kami menjalaninya semaksimal mungkin. Tolong, terimalah penawaranku.”

***


Keesokan harinya, Laila sembuh begitu saja. Seluruh penyakit dan kelelahan yang mengendap di tubuhnya selama ini menghilang seolah tak pernah ada sejak awal. Kata dokter itu keajaiban. Kataku itu pertukaran yang setara. Umur dan kesehatan adalah hal yang semua orang inginkan, tetapi terkadang kita hanya bisa memilih satu.

Berumur panjang tapi sakit-sakitan atau berumur pendek tapi sehat, aku memilih yang kedua. Aku mungkin akan menyesali ini di masa depan, tetapi saat ini aku paham apa yang orangtuaku rasakan 15 tahun yang lalu. Keluarga jauh lebih penting dari apa pun. Meski hanya sesaat, itu adalah sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan.

-END-
silohAvatar border
Ikan.SeluangAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.5K
16
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan