JurnalisBatmanAvatar border
TS
JurnalisBatman
Setuju Pak Wamenhan, Perlu Waspadai Perang Siber

Sedia payung sebelum hujan. Pepatah ini sering kita dengar. Artinya, segala sesuatu harus dipersiapkan. So, ini yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) kita.

Kementerian Pertahanan kita terus mengembangkan pertahanan negara. Tidak hanya itu berbagai macam ancaman diwaspadai oleh Kemhan kita.

Jempol buat Kemhan kita. Dengan harapan pertahanan negara kita kuat ditangan Pak Menhan Prabowo Subianto.

Lembaga negara kita ini terus mengupayakan membangun industri pertahanan. Agar negara kita kuat dari segi alutsista.

Tak hanya itu pengembangan pertahanan siber pun dilakukan. Sebab 
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) M. Herindra mengingatkan mengenai pentingnya mewaspadai perang siber karena perang tersebut dapat menimbulkan kehancuran lebih parah daripada perang fisik.

Setuju dengan Pak Wamenhan. Konsep ancaman itu  telah berubah, dari yang semula berupa perang fisik, kini penghancuran pada ketahanan suatu bangsa dapat ditembus melalui jejaring siber.

"Dampak kerusakan dari perang siber ini lebih parah daripada kehancuran yang diakibatkan oleh perang fisik," kata Herindra saat menyampaikan pidato kunci Defense Industry Collaboration: For Better Economy and Stronger Defense pada Indo Defence 2022 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis.

Herindra menjelaskan perang yang memanfaatkan medium siber itu memiliki dampak kehancuran lebih parah daripada perang fisik karena langsung menyerang pola pikir suatu bangsa.

Akibatnya, perang tersebut dapat menimbulkan kehancuran mental, ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan ideologi.

Oleh karena itu, menurut dia, bangsa Indonesia, terutama yang terlibat dalam sektor pertahanan negara, perlu meningkatkan penguasaan teknologi guna menjaga Indonesia dari serangan perang siber.

Selain perang siber, Herindra juga menyampaikan beberapa spektrum ancaman pertahanan lain yang perlu diwaspadai oleh bangsa Indonesia.

Spektrum ancaman itu adalah pelanggaran kedaulatan negara, pencurian sumber daya alam (SDA) di laut, radikalisme, ancaman serangan biologis, serta bencana alam.

"Spektrum ancaman lain meliputi pelanggaran kedaulatan, pencurian SDA di laut, radikalisme, dan ancaman biologis, serta bencana alam. Semuanya ini telah berubah dari (ancaman) tradisional menjadi non-tradisional," jelasnya.

Meskipun begitu, Herindra mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak mengabaikan perang tradisional, seperti perang fisik.

Menurut dia, perang tradisional tetap berpotensi terjadi, seperti perang yang bergejolak saat ini antara Ukraina dan Rusia.

"Kita juga sebagai suatu bangsa dan negara jangan lupa, kita kadang-kadang diberi pengetahuan bahwa ke depan tidak akan ada perang fisik atau tradisional ataupun konvensional, tapi ternyata terjadi," ujarnya. 



Sumber : Antaranews.com
Diubah oleh JurnalisBatman 08-11-2022 22:55
azhuramasdaAvatar border
azhuramasda memberi reputasi
1
1.1K
0
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Komunitas Pilihan