KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62e6754bff19532b965a860f/kuntilanak-pemakan-bayi-cerbung-horor

Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]

Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]
Sumber gambar: freepik

Salam kenal, semuanya. Aku mau mulai cerita bersambung yang lumayan panjang. Semoga lancar ya.

Cerita kali ini mengenai sepasang suami-istri yang menempati sebuah rumah baru. Sejak saat itu gangguan dari makhluk halus datang dan mengincar bayi dalam kandungan istrinya.


Langsung saja kita ke ceritanya!

emoticon-2 Jempol

Prolog:

Sore itu menjelang magrib. Adik melakukan sepeda motornya di jalanan desa. Di belakangnya ia membonceng sangat istri yang tengah mengandung anak pertama mereka. Keduanya baru pulang dari rumah sakit setelah melakukan kontrol kandungan bersama bidan.

Setelah melewati area persawahan, mereka berdua pun sampai di dekat rumah. Adi mengurangi kecepatan motornya lalu berhenti tepat di depan rumah. Sebuah rumah tua yang baru mereka beli sekitar satu bulan yang lalu. Rumah ini sangat nyaman ditempati. Apalagi di samping rumah berdiri sebuah pohon beringin besar yang rindang membuat udara sekitar menjadi sejuk.

"Mas, aku masuk duluan ya!" ucap Lia istri Adi yang sedang mengandung.

"Iya silahkan, aku di luar dulu mau cek mesin motor. Kamu istirahat ya," jawab Adi.

"Iya, Mas."

Lia pun berjalan masuk ke rumahnya sambil mengelus perut buncitnya. Hari mulai gelap, cahaya matahari mulai memudar di langit sana. Alunan doa dan sholawat sudah terdengar dari masjid terdekat. Menandakan segera datangnya waktu sholat magrib.

Lia berjalan masuk ke kamarnya, kemudian membuka pintu. Ia merasa heran sebab jendela kamar yang menghadap ke pohon beringin terbuka. Segera ia mendekat untuk menutupnya kembali.

"Ini siapa yang buka? Perasaan udah dikunci."

Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah angin kencang masuk dan meniup badan Lia. Rambutnya terbang dan suatu aura negatif masuk.

"AAAAAA!!!" Lia berteriak sekuat tenaga.

Adi yang mendengar suara istrinya langsung berlari masuk ke rumah dengan wajah panik. Segera ia menuju ke kamar sumber suara. Di kamarnya, ia melihat sang istri terkulai lemas tak berdaya di lantai. Adi segera mendekatinya.

"Lia, kamu kenapa? Lia!" ucap Adi yang panik.

Adi kaget bukan main. Saat ia memegang perut istrinya, perut sang istri yang semula buncit tiba-tiba kempes. Bayi yang ada di dalam kandungannya menghilang entah ke mana. Awalnya ia tak percaya, tapi setelah beberapa kali mengecek. Ternyata benar, bayinya dalam kandungan istrinya hilang!

"Lia!!!"

Adi semakin histeris saat menyadari bahwa istrinya sudah tidak bernapas lagi.

Bersambung....

Untuk part-part selanjutnya, akan saya posting di INDEX di bawah ini.
⬇⬇⬇

Part 1 - Rumah Baru
Part 2 - Kakek Tua Yang Aneh
Part 3 - Barang Pemberian
Part 4 - Bersama Ranti
Part 5 - Sesuatu Di Balik Sesuatu
Part 6 - Penunggu Pohon Beringin
Part 7 - Anak Pertama
Part 8 - Kunjungan
Part 9 - Suara Tangis
Part 10 - Sikap Aneh
Part 11 - Hilang
Part 12 - Kendali Setan
Part 13 - Kebaya Putih
Part 14 - Ancaman Dalam Diam
Part 15 - Pasutri Licik
Part 16 - Masa Lalu Ranti
Part 17 - Rahasia
Part 18 - Skakmat
Part 19 - Ratu Kuntilanak
Part 20 - Kisah Sang Ratu
Part 21 - Kabur
Part 22 - Pengejaran
Part 23 - Ki Dana
Part 24 - Dendam
Part 25 - Penyelidikan
Part 26 - Kepala Desa Baru
Part 27 - Bangkitnya Sang Ratu Kuntilanak
Part 28 - Balas Dendam



Jangan Lupa Mampir ke Cerita Ane yang baru gan berjudul: Pocong Keliling

Bercerita tentang hantu pocong yang meneror seluruh warga desa setiap malam, ikuti keseruannya! emoticon-Angkat Beer

Klik link di bawah ini untuk membaca Pocong Keliling!

https://www.kaskus.co.id/show_post/6...2f0762992c9cb4

Terima kasih bagi yang sudah membaca!

Tunggu update dari ane gan! Mohon maaf bila ada kesalahan.

emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rbrataatmadja dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh harrywjyy
Halaman 1 dari 3
emoticon-Sundulemoticon-Sundul Up
profile-picture
profile-picture
666cat dan .noissssssscat. memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 1 - Rumah Baru

Sebuah mobil boks berjalan dengan kecepatan sedang, melewati jalan yang berkelok-kelok. Dengan barisan pohon rindang nan hijau di sisi kanan dan kiri. Mobil boks itu mengangkut berbagai furnitur dan perabotan rumah yang hendak dipindahkan ke rumah yang baru.

Tak lama kemudian, pemandangan berubah. Pepohonan telah dilewati, kini berganti dengan pemandangan sawah hijau nan luas. Membentang begitu jauh hingga ke cakrawala. Di mana sebuah gunung berdiri dengan megahnya, samar-samar tertutup kabut tipis. Gugusan bukit juga tampak di sekitar gunung besar itu.

Beberapa kilometer terlewati, sampailah mobil tersebut di sebuah desa yang tak terlalu ramai. Beberapa petani tampak sibuk menggarap sawah, dan beberapa lainnya tengah memberi makan kambing. Rumah-rumah warga yang sederhana berdiri di sepanjang jalan.

"Masuk jalan sini?" tanya sangat supir sambil menelepon.

Mobil boks itu berbelok arah, menuju ke sebuah rumah yang tak besar juga tak kecil. Dengan pohon beringin tua dan besar yang berdiri di samping rumah tersebut. Dedaunannya yang lebat menaungi halaman sekitar rumah yang merupakan lahan kosong. Sehingga pada siang hari, suasana menjadi sejuk dan asri. Rumah ini sendiri agak jauh dari rumah lainnya, berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah terdekat.

“Stop!” kata seorang pria yang berdiri di depan rumah.

Mobil boks itu berhenti. Tanpa disuruh, beberapa orang langsung  datang dan berbondong-bondong mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Mereka semua bekerja sama membawa barang-barang pindahan itu ke dalam rumah. Ada yang menggotong lemari, membawa meja dan kursi serta beberapa perabotan kecil.

Di bawah pohon beringin yang lebat daunnya, sepasang suami istri tengah duduk bersantai di tengah sejuknya suasana. Sang suami memakai jaket parasut kelabu dengan kaos putih di dalamnya. Rambutnya yang tersisir rapi agak berantakan kala angin menerpanya. Tangannya merangkul sang istri yang tengah hamil tua.

“Kamu gak apa-apa tinggal di sini?” tanya sang suami.

“Gak apa-apa, asalkan sama kamu. Pokoknya apapun pilihan kamu, asalkan niatnya baik aku pasti ikut, Sayang,” ucap sang istri sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.

Laki-laki itu bernama Abbas, berusia sekitar 27 tahun. Ia berprofesi sebagai guru sekolah dasar sekaligus bahasa Inggris. Abbas tertarik untuk ikut program pemerintah untuk mengajar di pedesaan terpencil yang kekurangan tenaga pengajar. Semua kebutuhan hidupnya dijamin oleh pemerintah provinsi, segenap perangkat desa pun akan membantu apapun yang dibutuhkan sang guru.

Istrinya Nina, seorang gadis yang sangat penurut dan penyayang. Di tengah masa kehamilannya, ia rela ikut sang suami untuk tinggal di daerah terpencil. Meninggalkan teman dan keluarganya di kota. Semua itu demi idealisme sang suami yang ingin meningkatkan mutu pendidikan di desa-desa.

Ya, semua itu Abbas lakukan demi tujuan yang mulia. Ia tak berorientasi pada uang, melainkan tujuannya untuk membantu sektor pendidikan di pedesaan yang dirasa kekurangan tenaga pengajar.

“Pak Guru,” sapa seorang pria berkumis yang bernama Pak Jamal. Ia tak lain adalah sang kepala desa. Sosok pria paruh baya dengan badan yang cukup tegak dan gagah. Kedua bahunya yang kekar dan wajahnya tegas penuh wibawa.

“Pak Kades,” jawab Abbas. “Maaf barang bawaan saya banyak ya, jadi ngerepotin,” tambahnya.

Pak Jamal menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. “Gak apa-apa, Pak. Tenang aja, sudah sepantasnya kita bantuin, Bapak. Toh nantinya, Bapak juga akan bantu anak-anak kita buat belajar di sekolah. Terutama bahasa Inggris ya,” ucap Pak Jamal.

Abbas lalu tersenyum mengalihkan pembicaraan. “Di sini adem ya, Pak.” Matanya memandangi sekitar.

Pak Jamal mengangguk. “Jelas, Pak. Namanya di desa ya pasti adem, apalagi ini di bawah pohon rindang, kan?” jawab Pak Jamal. Ia lalu mengambil sebuah kursi kayu kecil yang sudah usang. Tangannya lalu mengusap-usap kursi kecil itu, menyingkirkan debu-debu yang menempel.

Setelah bersih, barulah ia pakai kursi itu untuk duduk. “Hamil berapa bulan?” tanya Pak Kades sambil tersenyum menatap Nina.

“Delapan bulan, Pak,” jawab Nina sambil memegang perutnya yang dilapisi gaun santai yang panjangnya selutut.

Pak Kades mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah rumah. “Dahulu, ini rumah keluarga saya. Dulu sekali, kakek saya tinggal di sini. Lalu setelah anak-anaknya dewasa, kakek tinggal sendiri. Sampai akhirnya ia meninggal, lalu rumah ini kosong.” Pak Jamal memulai cerita.

“Jadi, rumah ini udah lama kosong atau gimana, Pak?” tanya Abbas.

Pak Jamal menoleh ke arahnya. “Enggak, sebelumnya ada saudara saya yang tinggal di sini. Sekitar dua bulan lalu dia pindah ke kota karena pekerjaan,” jawabnya. “Sepeninggalan saudara saya, sebenarnya banyak yang mau sewa rumah ini. Tapi setelah saya denger soal kedatangan guru di desa ini dari Pak Camat, saya urungkan niat. Gak jadi saya sewakan, mending buat Pak Guru,” tutur Pak Jamal melanjutkan cerita.

“Wah, makasih banyak, Pak. Karena sudah kasih kita rumah untuk tinggal di sini," kata Abbas. “Beruntung banget saya ya, tapi saya gak bisa selamanya tinggal di sini. Nanti kalau tabungan saya cukup, saya akan beli rumah di sini, doakan ya, Pak,” kata Abbas.

“Amin.” Pak Jamal mengamini. Matanya lalu melirik ke arah rumah itu sambil memasang ekspresi dingin.

Setelah semua barang di keluarkan, Abbas dan Nina sang istri masuk ke dalam rumah. Ia melihat-lihat bentuk rumah yang klasik dan bernilai seni. Terlihat beberapa ukiran di bagian depan yang memanjakan mata. Para warga gotong-royong menata dan menyusun berbagai perabotan rumah sesuai dengan arahan Abbas dan Pak Jamal.

Hingga tak terasa, berjam-jam sudah mereka mengerjakan pekerjaan melelahkan itu. Rumah sudah siap ditempati, tinggal beberapa warga di dalam yang tengah membersihkan debu-debu. Sementara sisanya sudah selesai dan bersantai di depan rumah sambil menikmati makanan yang disiapkan oleh Pak Jamal.

Nina tengah duduk di ranjang besi tua yang terdapat di kamar tidur. Tangannya tengah sibuk mengeluarkan baju-baju dari dalam koper. Lalu melipat dan menyusunnya di atas kasur sebelum masuk ke dalam lemari.

Jendela kamarnya mendadak terbuka dengan sendirinya, angin dari luar bertiup dengan kencang. Nina membiarkannya, ia nikmati angin sejuk yang masuk ke kamarnya itu. Sambil matanya menatap pohon beringin rindang nan hijau itu.

Tangannya terus melipat baju-baju dengan rapi. Sampai akhirnya sesuatu mengalihkan pandangannya. Ia tak sengaja melihat ke arah jendela dan mendapati seorang pria tua sedang berdiri di luar rumahnya. Pria tua dengan rambut panjang berantakan dan jenggot tebal itu menatap dingin ke arah Nina. Posisinya berjarak beberapa meter, tak jauh dari pohon beringin.

"Pak," sapa Nina dengan kikuk.

Nina menganggukkan kepala dengan sopan sambil tersenyum dengan maksud menyapanya dari jauh. Tapi pak tua itu tetap diam sambil menatapnya dengan wajah datar. Pandangan matanya aneh dan sedikit menakutkan.

Awalnya Nina biasa saja, sampai akhirnya ia merasa risih. Lalu dengan cepat ia berdiri, berjalan dan menutup jendela. Tapi karena memang angin berhembus kencang, jendela itu pun terbuka kembali. Saat jendelanya terbuka lagi, tiba-tiba sosok pria tua itu sudah hilang entah ke mana.

“Lho?” gumam Nina bingung.

“Sayang?” Abbas memanggil dari luar. “Makan dulu yuk, Pak Jamal bawain makanan nih!” ajaknya.

Nina lalu menoleh dan melupakan soal pria tua itu. “Iya!” sahutnya yang langsung berjalan cepat ke luar kamar untuk menyusul sang suami. Jendela ia biarkan terbuka, sehingga udara segar dari luar bisa masuk dan menyegarkan kamarnya.

Namun anehnya, saat Nina sudah berjalan keluar dan menutup pintu kamar. Jendela itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, seolah ada yang menggerakkan.

Kreeet....

Jendela kayu itu berbunyi saat tertutup dengan sendirinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Ada gojek
Ada nas goreng kaki 5
Ada jual kebab
Tetangga juga jual pizza


Dan dia memilih makan bayi...





Kuntilanak gak ada selera memang.
profile-picture
.noissssssscat. memberi reputasi
terlalu ngeri

Part 2 - Kakek Tua Yang Aneh

Pada malam harinya, semua kelelahan. Warga sudah masuk ke rumahnya masing-masing. Rumah baru Abbas dan Nina sudah rapi. Lantai dan dinding sudah bersih dari debu dan sarang laba-laba. Mereka bekerja keras hari ini. Sebagai gantinya, kini mereka berdua bisa duduk bersantai menghadap sebuah TV tabung di ruang tengah.

Tangan Abbas sejak tadi berulang kali menekan tombol remot, mengubah-ubah channel yang ditontonnya. Kebanyakan channel mempunyai gambar yang tidak terlalu bagus. Entah masalah sinyal atau apa, Abbas tak paham.

“Udah deh, Sayang. Emang gak ada yang bagus. Ini udah paling bagus,” kata Abbas saat menghentikan pencariannya di salah satu saluran.

Nina sedikit kecewa karena tak bisa menonton acara favoritnya. Ia beralih ke layar ponsel. Tangannya mulai bergerak mengoperasikan benda itu. Tampilan layarnya berubah-ubah. Sementara Abbas duduk bersandar di sofa dan menikmati siaran TV apa adanya.

Tap, tap, tap

Tak lama ia mendengar suara langkah kaki dari depan rumah. Abbas menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Nina.

“Ada yang dateng ya?” tanya Abbas.

“Siapa?” Nina malah balik bertanya.
Sang suami lalu beranjak dari posisi duduknya. Lalu berjalan cepat ke arah pintu, terdengar suara seseorang sedang mengobrol di depan. Tak lama, pintu pun diketuk beberapa kali. “Assalamualaikum!” ucap sang tamu dari depan rumah.

“Waalaikumsalam!” Abbas langsung membuka pintu. Ternyata Pak Jamal yang datang. Memakai jaket dan membawa sebuah bungkusan di tangannya. Di belakangnya, berdiri sesosok wanita cantik yang rambutnya disanggul dengan rapi. Mengenakan kebaya berwarna hijau dan bawahan berupa kain batik corak bunga yang indah.

“Duduk, Pak!” Abbas mempersilahkan tamunya duduk kursi yang ada di beranda rumah. Dia pun turut duduk di samping mereka. Di atas mereka, temaram cahaya lampu menjadi satu-satunya penerangan. Sedangkan di luar, suasana agak gelap. Beruntung rembulan bersinar terang dan langit cerah malam ini.

“Saya bawa makanan untuk kalian. Spesial ini! Untuk warga baru saya,” kata Pak Jamal sambil memberikan bungkusan. Abbas dengan senang hati menerimanya.

“Terima kasih banyak, Pak Kades. Udah malem gini, jadi ngerepotin lho,” ucap Abbas.

Pak Jamal tertawa kecil. “Sebenarnya, Pak Guru. Saya yang mau ganggu waktu Bapak sebentar,” kata pria berkumis itu. “Ini lho, kenalin. Wanita cantik ini namanya Ranti. Dia istri saya,” tambahnya sambil memperkenalkan sang istri.

Bila dilihat, istri dari Pak Jamal sendiri masih sekitar tiga puluh tahun. Terpaut umur cukup jauh dengan Pak Jamal. Ranti sendiri adalah jenis perempuan idaman semua laki-laki. Badannya ramping dan tinggi, wajahnya cantik khas wanita Nusantara. Rambutnya disanggul rapi. Dia sangat anggun dan menawan bak putri keraton. Siapa pun pasti terpikat dengannya.

“Salam kenal, saya Abbas,” kata Abbas memperkenalkan diri. Ranti hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

Pak Jamal tersenyum. “Dia ini emang agak pendiam. Padahal tadi dia yang paksa saya buat main ke sini. Katanya dia penasaran sama warga baru yang akan mengajar di sini. Jadi yaudah, saya bawa dia ke sini malem-malem,” tutur Pak Jamal. Abbas hanya mengangguk sambil membalas senyum.

Dari dalam, Nina berjalan ke luar untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini. Tangannya tak lepas memegangi perutnya yang sudah hamil besar. Ia sampai di beranda, Pak Jamal dan istrinya langsung melihat ke arah Nina.

“Bu Guru!” panggilnya.

“Oh, Pak Kades ya. Selamat malam, Pak,” sapa Nina.

Melihat kondisi Nina yang hamil besar. Wajah Ranti langsung berubah, ia tersenyum lebar sambil menatapnya. “Bu Guru, udah berapa bulan?” tanya Ranti.

“Udah delapan bulan, sedikit lagi saya lahiran kok,” kata Nina dengan percaya diri.

Ranti lalu berdiri dari posisi duduknya. Ia berjalan ke arah Nina sambil terus memperhatikan perutnya. Sesampainya di depan Nina, perempuan berpostur tinggi itu membungkuk sambil menatap dari dekat perut Nina. Membuat ibu hamil itu bingung dan tersenyum kaku sambil melihat suaminya.

“Dia memang begitu, maklum kami berdua belum dikaruniai anak. Jadi maaf kalau dia terlalu antusias melihat perempuan hamil,” kata Pak Jamal.

Abbas mengangguk. “Gak apa-apa. Semoga cepat punya anak ya, Pak,” ucap Abbas.

Sementara mata Ranti terus menatap perut buncit Nina. “Dia bakal jadi orang yang bermanfaat,” gumam Ranti yang suaranya didengar oleh Nina.

“Amin!”  balas Nina.

Ranti lalu berdiri tegak, lalu tersenyum lembut. “Jaga diri ya, semoga kalian sehat dan dilancarkan dalam persalinan.” Setelah berkata demikian, Ranti kembali duduk di posisinya semula. Matanya sedikit mendelik ke arah Nina dengan senyuman misterius di wajahnya.

Setelah tahu Pak Jamal yang datang, Abbas menyuruh istrinya masuk dan beristirahat. Sementara Abbas beserta tamunya tetap duduk bertiga di depan dan mengobrol beberapa hal. Pak Jamal memastikan warga barunya ini mendapat kesan pertama yang bagus kepada desanya. Ia menanyakan banyak hal mulai dari air, listrik dan lain-lain. Bila ada kendala, ia siap membantu.

Kedatangan mereka tidaklah lama. Kira-kira setengah jam, Pak Jamal dan istri pamit pulang. Nina sempat keluar, melihat kedua tamunya berpamitan. Kedua pasangan suami-istri itu lalu kembali masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat. Tak lupa mereka membawa bungkusan makanan itu. Sementara Pak Jamal dan Ranti berjalan pulang menembus kegelapan malam.

***

Esok paginya, Abbas telah rapi memakai seragam serba cokelat dan tanda nama di salah satu sisi kemejanya. Matahari baru terbit dan udara di desa itu amat asri dan menyegarkan. Sedikit dingin khas pedesaan. Embun-embun tampak membasahi dedaunan dan dari kejauhan kabut tipis melayang-layang di udara.

Abbas memakai sepatunya di beranda depan. Hari ini ia harus datang ke sekolah tempatnya belajar untuk melakukan peninjauan sekaligus pengenalan lingkungan sekolah sebelum dirinya benar-benar aktif mengajar di sana.

“Sayang, kamu lama di sana?” tanya Nina.

“Kayanya begitu, tapi nanti siang aku pulang kok. Tenang aja. Kamu belum terbiasa di sini ya?” Abbas balik bertanya. Nina mengangguk pelan. “Gak apa-apa, besok aku senggang. Kita jalan-jalan kenalan sama orang sekitar ya,” kata Abbas sambil berdiri dan merapikan kemejanya.

Nina memberikan tas ransel milik suaminya. Abbas menerima dan dengan memakai tas itu di punggung. Tak lupa ia menghabiskan segelas teh hangat yang manis. “Aku berangkat ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Atau telepon Pak Kades kalau aku gak bisa dihubungin,” pesan Abbas.

“Iya,” jawab Nina singkat.

Setelah itu, Abbas berjalan ke luar. Mendekati sepeda motor berwarna hitam dengan sedikit hiasan perak. Kendaraan yang akan ia gunakan selama bertugas di desa ini. Suara mesinnya terdengar halus saat dinyalakan.

Abbas naik dan mulai melajukan motor itu. Perlahan dirinya berjalan menjauh, meninggalkan sang istri seorang diri di rumah. Nina hanya bisa berdiri sambil mengelus perutnya menatap kepergian sang suami.

Saat hendak merapikan gelas dan masuk ke dalam, lagi-lagi ia dikagetkan dengan hadir sosok pria tua yang berdiri di samping rumahnya. Pria tua itu memakai kaos lusuh dan kotor, bawahannya berupa celana pendek. Wajahnya dekil dan kusam, persis pria tua yang kemarin ia lihat.

Pria tua itu terus menatapnya. Bahkan kini berjalan mendekatinya dengan tatapan mata kosong. Nina ketakutan, buru-buru ia rapikan gelas dan sendok kecil. “Siapa? Bapak butuh apa?” tanyanya sambil mundur perlahan ke arah pintu. Sementara pria tua itu kian mendekati rumahnya.

“Pak? Jangan bikin saya risih!” kata Nina dengan wajah cemas. Wajahnya celingak-celinguk, mencari siapa saja yang bisa menolongnya. Tapi tak ada orang.

Sampai tiba-tiba, sebuah batu terlempar dari arah samping dan mengenai kepala pria tua itu hingga kesakitan lalu berlari kabur meninggalkan Nina. Tak lama datang seorang petani laki-laki yang membawa cangkul.

“Gak apa-apa?” tanya petani itu kepada Nina.

Nina yang lega sudah diselamatkan pun menggeleng. “Gak apa-apa, makasih,” jawabnya. Saat si petani hendak pergi, Nina menghentikannya. “Dia siapa?” tanya Nina membuat si petani berhenti.

“Dia Kakek Adi. Hati-hati sama dia, orang tua itu punya gangguan jiwa,” jawabnya yang kemudian pergi begitu saja.

Takut Kakek gila itu datang lagi, Nina buru-buru masuk dan mengunci pintu dari dalam. Setelah itu, ia merasa aman dan bisa mengerjakan beberapa keperluan rumah lainnya dengan tenang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Subs dulu dah. Moga2 lancar update nya nih
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut gaaan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 3 - Barang Pemberian

Petang itu, langit perlahan pudar. Cahaya mentari mulai hilang menyisakan gelap. Angin bertiup dengan sejuk, menerbangkan daun-daun dari pohon beringin besar di samping rumah. Berserakan di tanah sekitar pohon.

Sebelum azan magrib berkumandang, Abbas sudah sampai di rumah. Suara motornya terdengar hingga ke dalam, membuat sang istri berjalan ke luar dan menyambut kepulangan suaminya. Abbas turun dari motor dan buru-buru masuk ke dalam rumah, senyuman merekah di wajahnya kala melihat sang istri menunggunya di ambang pintu sambil mengelus perut buncitnya.

"Gimana hari ini?" tanya Abbas.

"Baik-baik aja sih, cuma ada sedikit masalah," jawab Nina dengan wajah sedikit lesu.

"Kenapa-kenapa? Cerita dong." Abbas duduk di kursi sambil melepas sepatu dan kaos kakinya. Pelan-pelan Nina lalu ikut duduk di kursi kosong samping suaminya.

"Ada orang aneh yang liatin aku terus, aku takut deh," kata Nina. "Katanya warga dia orang gangguan jiwa, gimana ya? Aku jadi takut sendirian di sini," lanjutnya.

Abbas sedikit berpikir, matanya menatap ke atas sambil terdiam. "Emang dia ngapain?" tanya Abbas.

"Tadi pagi dia hampir masuk ke sini lho! Aku takut banget!" ucapnya.

Abbas mengangguk sambil menatap ke depan. "Yaudah, besok kan kita mau jalan-jalan. Sekalian kita mampir dan lapor ke Pak Kades ya. Semoga dia punya solusi, kamu tenang aja," ucap Abbas sambil menenangkan dan mengelus kepala istrinya.

Sang istri lalu mengalihkan topik. Wajah lesunya kini berganti dengan senyuman. "Sekarang, coba cerita soal hari pertama di sekolah!" ujar Nina penasaran.

"Yuk, di dalem aja. Sholat dulu," ajak Abbas yang kemudian berdiri.

Nina memegang tangan sang suami dengan wajah manja. Keduanya berjalan masuk ke dalam dan menutup pintu. Sementara di luar, suara azan magrib pun berkumandang. Para warga mulai masuk ke dalam masing-masing rumahnya. Beberapa berjalan mendatangi masjid setempat untuk menunaikan ibadah salat magrib.

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah berjam-jam berlalu. Abbas memasak makanan sederhana untuk sang istri. Di meja makan, keduanya mengobrol hingga lupa waktu. Perutnya yang kenyang serta badannya yang letih membuat mata Abbas kian meredup. Sekitar pukul sembilan malam ia sudah mengantuk. Keduanya lalu masuk ke kamar untuk beristirahat.

***

Pukul 23.30

Nina terbangun dari tidurnya. Entah bagaimana, matanya tiba-tiba terbuka. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang suami yang tertidur dengan pulas. Tampak ekspresi lelah di wajah pria itu. Nina tersenyum, tangannya dengan lembut mengelus pipi sang suami. Sedangkan tangan satunya mengelus perutnya. Merasakan sang anak yang akan segera lahir ke dunia.

Namun, tiba-tiba dirinya merasa haus. Nina ingin membangunkan sang suami, tapi tak tega rasanya. Mau tak mau, ia bangkit dari kasur. Badannya terasa berat saat turun dari kasur. Sambil memegangi perutnya, ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu.

Karena lampu ruang tengah dan ruang tamu dimatikan, suasana pun gelap gulita. Hanya lampu dapur dan kamar mandi yang menyala. Nina berjalan perlahan ke dapur sambil mengucek matanya yang sedikit berair karena menguap.

Sayang kulkas miliknya masih belum bisa menyala. Jadi ia mendekat ke sebuah termos untuk mengambil air. Satu gelas keramik ia isi penuh dengan air, lalu sambil bersandar di meja ia meminum air itu untuk melegakan dahaganya.

Suuurrrrrtt

Terdengar suara dari kamar mandi, Nina agak kaget. Ia melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara itu seperti suara keran yang menyala. Air keran itu mengucur ke bak mandi. Padahal tidak ada orang di sana. Ia itu lalu menaruh gelas dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengeceknya sendiri.

"Apa Abbas lupa matiin keran ya?" pikirnya dalam hati yang penuh tanda tanya.

Nina membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, lalu kepalanya masuk untuk melihat ke dalam. Suara keran itu mendadak menghilang saat ia datang. Dan keran itu pun dalam keadaan tertutup, sehingga tak mungkin air bisa mengucur dari sana. Aneh. Dari mana suara kucuran air itu?

Nina kembali menutup pintu kamar mandi.Setelah suara keran itu menghilang, suasana rumah kembali hening dan sepi. Ia merapikan kembali gelasnya. Dirinya sudah kembali mengantuk. Nina lalu meregangkan tubuhnya sesaat sambil menghirup napas panjang.

Anehnya saat menghirup napas panjang, dirinya mencium wangi yang asing. Wangi bunga melati tiba-tiba tercium di dapurnya. Nina mengendus asal wangi tersebut, tapi tak bisa ia temukan asalnya. Wangi melati itu terus memenuhi seisi rumahnya, ke ruang tamu hingga ke kamar.

"Ini wangi dari mana lagi?" gumamnya.
Lagi-lagi, Nina yang sudah sangat mengantuk memilih untuk mengabaikan wangi itu. Dirinya buru-buru masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya. "Kita bobo lagi ya, Sayang," gumam Nina sambil mengelus si jabang bayi yang ada dalam perutnya. Ia masuk dan menutup pintu.

Tanpa ia sadari, tampak sesosok perempuan berambut panjang acak-acakan dengan memakai gaun putih yang panjang sedang duduk di atas kulkasnya. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, sosok itu sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Nina dengan pupil matanya yang kecil.

***

Keesokan paginya menjadi hari yang cerah bagi Abbas. Dengan memakai celana bahan sutra yang halus, ia mengikat sepatun ya di depan rumah. Sementara sang istri sudah siap menunggunya di samping pohon beringin. Keduanya telah sepakat untuk jalan-jalan keliling desa untuk mengenal lingkungan dan warganya. Abbas memanfaatkan momen ini untuk sekaligus berolahraga.

Nina memakai baju dan celana yang longgar. Di kepalanya terpasang sebuah topi yang melindunginya dari silau matahari. Setelah sepatu terpasang, Abbas berdiri dan mulai berjalan kaki mendekati sang istri.

"Yuk," ajaknya untuk memulai perjalanan.

Pemandangan sawah yang membentang luas menyambut mata mereka. Hamparan padi hijau tampak di sana sini, di sekitarnya rumah-rumah warga berdiri. Hutan bambu terlihat dari kejauhan. Menambah aura hijau desa yang sejuk dan menyegarkan.

Mereka mengambil jalan desa yang cukup luas, namun sedikit rusak di beberapa bagian. Mereka juga sempat bertemu dengan para petani dan saling bertukar sapa, lalu ada gerombolan kambing dan bebek yang lewat. Mereka terlebih dahulu memberi jalan sambil melihat hal yang tak bisa mereka lihat di kota.

"Sayang, aku mau lari ke sana. Abis itu aku balik lagi, kamu tunggu di sini ya," kata Abbas sambil menunjuk ke tengah sawah. Nina mengiyakan dan membiarkan sang suami berlari, melatih tubuhnya agar tetap bugar. Sementara dirinya duduk di sebuah gazebo kecil yang sudah usang. Matanya terus melihat sang suami yang berlari di pematang sawah.

Sungguh sial nasibnya. Kakek Adi si pria tua dengan gangguan jiwa itu datang lagi, ditambah suasana sepi. Menyadari orang itu kembali datang. Nina ketakutan bukan main. Pria tua itu berjalan dari arah depan sehingga sangat sulit dirinya untuk kabur. Apalagi di tengah kondisinya yang sedang berbadan dua.

"Mau ngapain? Pergi!" usir Nina sambil menoleh ke sang suami. Sayangnya Abbas terhenti di tengah sawah dan asik mengobrol dengan seorang petani. "Habislah aku," gumamnya dalam hati.

"Saya bukan orang jahat," ucap si Kakek Adi sambil berdiri di depan gazebo.

Mendengar Kakek Adi bicara, Nina kembali menoleh. "Terus mau ngapain? Dari kemarin liatin saya terus, saya takut! Mending pergi aja deh!" usir Nina ketakutan.

"Saya kasih tahu, kamu dalam bahaya," kata Kakek Adi.

"Iyalah bahaya! Soalnya ada Bapak, justru bahaya kalo Bapak di sini! Aneh!" jawab Nina dengan nada panik.

"Bukan itu!" Kakek Adi lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia lalu memberikan sebuah barang kepada Nina. Ia menyodorkan sebuah gunting kecil berwarna keemasan yang tampak antik. Warnanya yang berkilau membuat Nina terpikat, gunting kecil itu tampak sangat indah. "Simpan ini untuk melindungi diri!" tambahnya.

"Gak, saya takut! Nanti ada apa-apanya lagi," kata Nina.

Si pria tua membuang muka dan mendengus kesal. "Ambil aja dulu, saya bukan orang jahat kok," lanjutnya.

"Buat apa ini?" tanya Nina yang dengan hati-hati menerima pemberian pria tua itu.

"Itu untuk menjagamu dari bahaya. Melindungimu dari 'dia.' Selalu pegang gunting itu saat di rumah. Dan ketika tidur, letakkan gunting itu di bawah bantal," ucap si pria tua.

"Menjagaku?" gumam Nina sambil terpaku menatap gunting antik di tangannya itu. Sementara Kakek Adi yang merasa sudah melakukan tugasnya lalu berbalik badan dan berjalan pergi.

Nina terus melamun memikirkan maksud dari gunting dan pria tua itu. "Sayang!" suara kedatangan Abbas pun memecah lamunannya. Ia buru-buru memasukkan gunting itu ke sakunya dan berjalan mendekati Abbas untuk kemudian mampir ke rumah Kepala Desa.

Bersambung....

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 4 - Bersama Ranti

Pagi itu, Abbas memakai sepatu di beranda depan. Sambil wajahnya celingak-celinguk menunggu kedatangan seseorang, sedangkan sang istri tengah duduk di kursi.

Hari ini Abbas sudah aktif mengajar, mungkin akan sibuk sehingga tak akan sempat pulang ketika siang nanti. Masih ada perasaan cemas apabila ia tinggalkan Nina sendiri di rumah ini, di lingkungan baru ini. Apalagi setelah ia mendengar soal pria tua gila itu. Ia semakin takut meninggalkan istrinya sendirian.

Rumah Abbas menghadap ke sebuah pemukiman penduduk, serta sebuah jalan setapak yang menghubungkan ke jalan desa. Dari jalan setapak itulah muncul seorang perempuan memakai kebaya yang tak lain adalah Ranti istri sang kepala desa.

Beberapa warga menyapanya saat berpapasan, Ranti tampak ramah dan membalas senyum mereka. Meski sudah berusia pertengahan tiga puluh, pesonanya memikat lelaki tua maupun muda.

Dengan anggun, Ranti berjalan menuju rumah Abbas. Dari jauh ia sudah melontarkan senyum kepada sang penghuni rumah. Nina berdiri dari kursinya saat melihat orang yang ia tunggu datang juga.

“Selamat pagi,” ucap Ranti saat sampai di depan rumah.

Abbas yang sudah selesai memakai sepatu lalu berdiri. “Pagi, Mbak,” balasnya.

“Udah mau berangkat ya?” tanya Ranti.

Abbas mengangguk. “Iya, ini udah mau jalan.” Ia lalu berjalan mengambil tasnya, lalu beralih menuju mototr yang sudah dipanaskan.

Ketika Abbas berkonsultasi soal pria tua gila itu pada Pak Jamal, ia diberikan satu solusi. Pak Jamal membiarkan istirnya yakni Ranti untuk berdiam di rumah Abbas untuk menemani Nina yang sendirian. Lagipula, baik Pak Jamal mau pun Abbas sama-sama sibuk. Sehingga Ranti pun sendirian di rumah. Pikirnya, daripada sendirian lebih baik bersama Nina.

“Aku jalan ya,” ucap Abbas yang sudah rapi di atas motornya sambil memakai helm. Kedua tangannya siap memacu sepeda motor itu.

Nina tersenyum dan mengangguk. Tangan kirinya memegang perut dan tangan kanannya melambai. “Hati-hati ya,” ucapnya.

“Saya titip Nina ya, Mbak.” Mata Abbas beralih ke arah Ranti.

“Iya, tenang aja.” Setelah mendengar jawaban dari Ranti. Abbas pun tenang dan langsung memacu sepeda motornya. Ia mulai berjalan meninggalkan rumah sampai akhirnya menghilang dari pandangan kedua wanita itu.

Nina mempersilahkan Ranti masuk ke rumahnya. Sambil memegangi sanggul rambutnya, Ranti berjalan masuk. “Nina, kamu punya cermin?” tanyanya.

“Ada, Mbak. Di kamar,” jawab Nina.

“Mbak mau pinjam. Kayanya rambut Mbak kurang rapi,” ucap Ranti.

“Boleh.” Nina lalu mengantar Ranti menuju kamarnya. Di dalam kamar, terdapat sebuah cermin panjang dan besar yang menempel di pintu lemari. Ranti berdiri di depan cermin sambil memperhatikan rambutnya. Sementara Nina duduk santai di kasur sambil memperhatikan Ranti.

Ranti membuka sanggulnya. Rambut panjangnya langsung tergerai ke bawah. Nina sedikit kaget saat melihat rambut Ranti yang panjang dan indah. Begitu lurus dan hitam. Panjang rambutnya melebihi pinggang, hampir menutupi bokongnya yang dibalut kain batik. Ia mengeluarkan sisir dan mulai menyisir rambutnya pelan-pelan.

“Mbak, rambutnya bagus banget sih,” puji Nina sambil menatapnya kagum.
Ranti tertawa kecil. “Masa sih? Biasa aja, ah. Emang dari dulu begini,” jawabnya.

“Ajarin dong cara merawat rambut. Kadang rambutku rontok satu helai, dua helai,” kata Nina.

“Merawat? Banyak-banyak dicuci aja, gak ada yang spesial kok,” balas Ranti.

Nina sedikit berpikir. “Mungkin memang bawaan lahir ya, punya rambut bagus begitu.”

“Ya, bisa jadi,” kata Ranti singkat.

Keduanya lalu saling berbincang di dalam kamar. Nina turut membantu Ranti menyisir bagian rambutnya yang tak bisa ia gapai. Setelah selesai, barulah ia rapikan rambutnya kembali membentuk sebuah sanggul yang rapi.

“Mbak mau minum?” tanya Nina menawarkan.

“Boleh,” jawab Ranti.

“Minum apa?”

“Apa aja.”

Nina langsung berjalan ke luar untuk membuat minuman di dapur. Sementara Nina pergi, Ranti berjalan ke salah satu sisi kamar. Ia lalu membuka jendela, sehingga sinar matahari masuk menerangi kamar. Matanya menghadap langsung ke arah pohon beringin besar itu. Matanya menatap datar pohon tersebut.

***

Ketika siang hari, Ranti dan Nina duduk berdua di beranda depan. Ranti mengajari Nina cara merajut dan membuat pola. Nina tampak asik dan antusias menyimak. Merajut memanglah hobi Ranti sejak dulu. Dengan lihai tangannya bergerak, membuat pola-pola dan gambar menggunakan benang wol warna-warni.

Hingga di tengah suasana yang tenang itu, si pria tua gila yaitu Kakek Adi tiba-tiba datang. Nina yang melihatnya lebih dulu langsung ketakutan. Wajahnya berubah. Pria tua itu berjalan menuju ke rumahnya dengan wajah marah.

“Mbak, Mbak. Itu dia orangnya, duh ngapain lagi dia ke sini?!” ujar Nina ketakutan.

Melihat itu, Ranti juga menjadi takut. Keduanya lalu berdiri saling berdekatan, Nina memegang erat tangan Ranti. Wanita itu takut, tapi ia berlagak berani supaya Nina bisa tenang.

“Dasar bajingan kamu! Wanita kurang ajar!” bentak Kakek Adi kepada Ranti. Membuatnya semakin ketakutan.

“Apa-apaan ini? Jangan berani-berani masuk! Aku laporin ke Mas Jamal!” ancam Ranti sambil mundur perlahan. Tangannya gemetar ketakutan.

“Jangan pura-pura dasar wanita iblis!” Kakek Adi mengabaikan ancamannya. Ia naik ke dalam beranda rumah tanpa ragu dan terus mendekat ke arah kedua wanita itu. “Sini kamu! Sini!” Pria tua itu langsung menarik tangan Ranti dengan kasar.

“Mbak!” Nina panik dan berusaha menahan badan Ranti dari tarikan orang itu. Tapi apa daya, tenaga Kakek Adi lebih kuat sampai-sampai Ranti terjatuh ke lantai.

“Aduh!” Ranti jatuh terduduk. Matanya berkaca-kaca. Lalu dengan begitu kasar, pria Kakek Adi langsung mengacak-acak sanggul rambut Ranti. Wanita itu berusaha melawan, tapi ia tak sekuat tenaga laki-laki.

“Tolong! Tolong!” Nina berteriak sekuat tenaga, berharap seseorang datang dan menghentikan pria tua ini. Sementara, rambut Ranti terus di acak-acak. Ia hanya melawan sebisanya saja.

Teriakan Nina tidak sia-sia, beberapa warga keluar dari rumah. Lalu muncul juga sekelompok warga dari arah sawah. Kebanyakan mereka adalah para petani yang sedang istirahat makan siang. Melihat pria tua itu menganiaya Ranti, warga segera mendekat.

“Woi! Berhenti!”

Semuanya langsung buru-buru menarik pria tua itu, sempat memberontak tapi para warga bekerja sama menahannya dan menariknya menjauh dari Ranti. Nina langsung duduk di lantai dan melihat keadaan istri kepala desa itu.

Ranti tampak berantakan. Rambutnya yang sudah rapi diacak-acak. Ia menangis dan menyembunyikan wajahnya dari balik rambut tebal yang jatuh ke depan. Pelan-pelan, Nina menyingkirkan rambut itu untuk melihat wajahnya.

“Mbak? Gak apa-apa, kan? Gak ada yang sakit, kan?” tanya Nina dengan wajah cemas. Akan tetapi Ranti tetap menangis dan tak menjawab. Dua orang warga lalu mendekati mereka berdua.

“Ayo, Mbak. Bangun? Gak apa-apa, kan?” Seorang perempuan membantu Ranti berdiri lalu mengantarnya masuk ke dalam rumah. Bahkan salah satu dari mereka membuatkan minum untuk Ranti.

Sebelum masuk ke dalam rumah, Nina berhenti dan melihat ke arah Kakek Adi sambil memegangi perut buncitnya. Si pria tua tengah memberontak dari pegangan warga. Para warga tak mau main kasar karena menyadari pelakunya adalah orang yang sudah tua.

Salah satu orang tua yang sudah mereka kenal sejak lama. Mereka hanya bisa menahan sekuat tenaga dan menyadarkannya dari emosi.

“Jangan percaya dia! Dia wanita bajingan! Iblis!” teriak Kakek Adi itu kepada Nina.

Tapi Nina mengabaikannya. Dengan wajah sinis, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk menyusul Ranti.

.
.
.

Apa yang terjadi dengan Kakek Adi ya? Apa alasan dari perbuatan brutalnya itu? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

Simak terus kelanjutan kisah ini untuk mengetahui jawabannya! 💀
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ane nyapin karpet bulu angsa paris buat rebahan nunggu kabar selanjutnya sambil nyeruput blackopi
Diubah oleh flamboyan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 5 - Sesuatu Di Balik Sesuatu

Akibat kehebohan yang terjadi siang itu, Pak Jamal sampai harus turun tangan. Ia meninggalkan pekerjaannya di kantor desa dan bergerak ke lokasi kejadian. Begitu dirinya sampai di rumah Nina, Ranti sedang duduk di ruang tamu sambil merapikan sanggulnya yang dirusak oleh Kakek Adi tadi. Di sampingnya, Nina duduk menemani.

Pak Jamal datang dan mengucap salam kepada beberapa warga yang masih terlihat di sekitar rumah. Pria berkumis tegas itu melepas alas kaki dan langsung masuk ke dalam. “Ranti?” panggilnya terus melangkah menuju pintu.

“Mas,” balas Ranti memanggil dengan lemas.

Pak Jamal menghela nafas saat melihat wajah sang istri yang masih lembab dengan air mata. Tatapannya lesu dan tanpa semangat. Buru-buru ia mendekat dan duduk di sampingnya. Tanpa disuruh, Nina langsung menuang segelas teh tawar ke gelas dan memberikannya kepada Pak Jamal.

“Kamu gak apa-apa? Gimana ceritanya bisa kaya gini?” tanya Pak Jamal yang mulai khawatir.

Ranti menggelengkan kepala pelan. “Gak tau, aku gak tau,” jawabnya sambil menunduk.

“Pak Kades, sebenarnya ada apa ini? Kenapa orang tua itu keliatan marah banget sama Mbak Ranti. Padahal kita lagi santai lho, gak usik dia,” tanya Nina penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, reflek mata Pak Jamal dan Ranti saling menatap satu sama lain. Tatapan mata Ranti seakan mengisyaratkan sesuatu. Seolah sudah tahu, Pak Jamal langsung memalingkan wajah ke arah Nina. “Hmm, begini.” Ia berhenti bicara, sesaat berpikir dan mengingat-ingat kejadian di masa lampau.

“Dia itu kena gangguan jiwa setelah ditinggal mati oleh anaknya.” Pak Jamal memulai cerita. “Namanya Pak Adi atau Kakek Adi kita panggil. Anak laki-lakinya dulunya menyukai Ranti, istri saya. Tapi, Ranti gak menyukainya. Alhasil, ketika Ranti memilih menikah dengan saya, anak Kakek Adi itu depresi bukan main. Sampai akhirnya meninggal gantung diri di pohon waru. Itulah mengapa Kakek Adi begitu dendam dengan Ranti,” tutur Pak Jamal menjelaskan.

Nina mengangguk sambil menatap ke arah lain. “Begitu ya.”

“Iya, Nina. Sampai sekarang dia menyalahkan Ranti atas kematian anaknya. Miris sekali, istri saya harus jadi korban,” ucap Pak Jamal sambil menggelengkan kepala. “Ngomong-ngomong di mana dia? Kakek itu?” tanyanya.

“Dibawa ke rumahnya sama warga,” jawab Nina.

Pak Jamal mengangguk. Ia beralih menatap istrinya, dengan lembut tangannya mengelus punggung Ranti. “Udah, tenangkan dirimu. Jangan pikir macam-macam. Ya,” ucap Pak Jamal menenangkan istrinya. Setelah itu ia berdiri dari posisinya.

“Nina, maaf ngerepotin. Niatnya Ranti yang mau temenin kamu, tapi malah dia yang kena.” Pak Jamal tertawa kecil saat berkata begitu. Nina mengangguk sambil ikut tertawa. “Saya mau pergi liat Kakek Adi. Saya titip Ranti ya,” kata Pak Jamal.

“Baik, Pak,” jawab Nina singkat. Setelah
Pak Jamal segera beranjak pergi. Ia berjalan ke luar dan meninggalkan rumah. Di tengah  cuaca terik itu, dirinya melangkah melewati sawah-sawah warga. Menuju ke sebuah rumah anyaman bambu yang kecil dan hampir roboh. Posisinya ada di pinggir sawah. Dan dari kejauhan sudah terlihat beberapa warga tengah berdiri di depan rumah tersebut.

“Permisi,” ucap Pak Jamal saat sampai di depan rumah dan berpapasan dengan warga.

“Iya, silahkan, Pak,” balas salah satu warga.

“Kakek ada di dalam?” tanyanya.

“Ada, Pak.”

Setelah itu, Pak Jamal membuka pintu perlahan. Pintu bambu yang sudah reyot di makan rayap, menghasilkan bunyi berdecit saat di buka. Cahaya matahari masuk melalui pintu, sedikit menerangi ruangan dalam yang gelap.

Saat dirinya masuk, ia melihat Kakek Adi sedang duduk di atas tikar bambu. Tangan dan kakinya diikat oleh warga menggunakan tali tambang yang tebal dan kuat. Sehingga orang tua itu tak bisa memberontak.

Mata mereka saling bertemu. Kakek Adi langsung marah dan menatap tajam ke arah tamunya. Sementara Pak Jamal membalas tatapan Kakek itu dengan sebuah ekspresi dingin dan datar. Perlahan Pak Jamal berjalan mendekat, tak lupa ia menutup pintu terlebih dahulu.

“Bajingan! Ngapain kamu ke sini?! Kades jahat, iblis!” bentak Kakek Adi saat menatap Pak Jamal yang berdiri tepat di depannya.

Kakek Adi terus memberontak, mencoba lepas dari tali yang mengikat kuat dirinya. Matanya melotot, wajahnya memerah. Mulutnya siap untuk mengumpat kembali. “Mati saja kamu, Jamal! Kamu pembunuh! Kamu dan istrimu harus dihukum! Aku tahu kebusukan kalian, kalian harus mati! Karena kalian yang telah—“

Bukk!

Pak Jamal tanpa ragu menendang wajah Kakek Adi dengan keras, sehingga kalimatnya terpotong. Kakek Adi pun tersungkur tak berdaya di lantai tanah yang berlapiskan tikar. Nafasnya terengah-engah, luka memar pun tampak di pipinya.

Pak Jamal lalu berjongkok di depan pria tua malang itu. Ia tatap datar Kakek Adi yang tengah kesakitan. “Dengar, aku gak main-main. Kalau kamu masih berani ganggu istri saya, dan mengusik semua rencana saya. Maka saya tak akan segan-segan, kamu tahu konsekuensinya!” ancam Pak Jamal.

“Apa konsekuensinya? Apa aku akan dibunuh? Bunuh saja, aku sudah tua. Tak masalah kalau aku mati untuk kebenaran,” kata Kakek Jamal dengan suara lemah.

“Bukan, bukan kematian. Aku tak akan bunuh kamu,” jawab Pak Jamal. “Ada yang lebih menyakitkan ketimbang dibunuh. Kamu akan tahu nanti,” tambahnya.

Setelah itu Pak Jamal kembali berdiri, berbalik badan dan mulai melangkah pergi. Meski sudah dihajar, Kakek Adi belum puas mengumpat. “Bajingan! Kades baik!” teriaknya  yang terus mengeluarkan kata-kata kasar. Pak Jamal mengabaikannya, ia buka pintu sehingga cahaya masuk menerpa wajah Kakek Adi sesaat. Pintu ditutup dan suasana pun kembali gelap.

***

Saat petang tiba, seperti biasa Abbas baru pulang. Bersamaan dengan Pak Jamal yang juga datang untuk menjemput Ranti. Kedua pasangan itu sempat bertemu, berbincang sebentar sampai akhirnya azan magrib membuat mereka berpisah. Pak Jamal pulang membawa sang istri, sementara Jamal masuk ke dalam rumahnya.

Malam harinya, setelah selesai dengan semua pekerjaan rumah. Nina duduk di sofa bersama Abbas sambil menikmati setoples cemilan ringan. Di sana, ia menceritakan pada Abbas tentang semua yang terjadi siang tadi. Abbas merasa geram dan kesal mendengar cerita soal Kakek Adi.

“Tapi kamu gak apa-apa?” tanya Abbas.
Nina menggeleng. “Enggak, cuma Mbak Ranti aja jadi korban,” jawab Nina.

Abbas menghela nafas. “Kasihan juga dia,” kata Abbas. “Tapi soal masa lalu Kakek Adi. Cukup kelam juga, sampai akhirnya ia menjadi seperti sekarang. Tapi dia tak bisa menyalahkan Ranti atas semua yang telah terjadi,” tambahnya.

Nina mengangguk setuju. “Tapi mau bagaimana lagi? Aku agak takut, gimana kalau nanti Mbak Ranti jadi gak mau temenin aku lagi,” kata Nina.

“Tenang aja, nanti aku cari solusi kalau Mbak Ranti kapok ke sini.” Abbas lalu beralih dan mengelus perut Nina.

“Jangan banyak pikiran, beberapa minggu lagi kamu akan melahirkan. Gak sabar lihat dia lahir,” ucap Abbas dengan begitu antusias.

Nina tersenyum lebar. “Iya,” jawabnya.

Setelah puas bercerita, keduanya memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Abbas masuk lebih dulu, sementara Nina merapikan meja sebentar. Saat sedang merapikan meja, Nina kembali mencium wangi itu. Wangi bunga melati yang entah dari mana asalnya. Ia melihat sekitar, tidak ada apa-apa. Tidak ada melati di sini.

Tapi pada akhirnya, ia masih berpikir positif. Buru- buru ia masuk ke dalam kamar dan bergabung bersama suaminya untuk mengistirahatkan diri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
emoticon-Sundul Up
profile-picture
.noissssssscat. memberi reputasi
lanjutin gan emoticon-Ngacir

Part 6 - Penunggu Pohon Beringin

Hari berikutnya, Ranti tetap datang untuk menemani Nina. Kali ini sudah tampak lebih baik. Kejadian kemarin sudah ia lupakan, tak ada bekas trauma pada wanita itu. Ia sepenuhnya kembali menjadi Ranti yang sediakala. Lengkap dengan memakai kebaya dan sanggul yang jadi ciri khasnya. Baik Abbas maupun Pak Jamal kini bisa tenang bekerja seharian dan meninggalkan istri mereka masing-masing.

Seperti yang mereka inginkan, hari itu pun berjalan baik-baik saja. Kakek Adi masih diikat di rumahnya, ia tak bisa bergerak kemana-mana. Meski begitu, para warga tetap memperhatikannya. Bergotong-royong merawatnya dan menyumbang makanan.

Siang harinya, setelah makan bersama Ranti. Nina mendadak mengantuk. Sesaat ia rebahkan dirinya di kamar. Jendela ia tutup, sehingga tak ada cahaya masuk. Kamar terasa sunyi dan gelap. Hanya suara kipas angin dan denting jam yang terdengar. Nina memejamkan mata dan tertidur.

Belum lama dirinya tertidur, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasakan kebas di kedua kakinya. Rasa seperti kesemutan yang mengganggu tidurnya. Sambil tetap berbaring, matanya pun kembali terbuka, ia terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit.

Namun, ia kaget saat membuka mata. Sesosok wanita mirip Kuntilanak sedang duduk tepat di atas  kedua pahanya. Rambutnya yang panjang tampak gimbal dan berantakan. Wajahnya pucat dan matanya amat besar melotot ke arah Nina. Entah kenapa, saat itu dirinya tak bisa bergerak. Tak bisa berteriak. Matanya terus terpaku menatap sosok menyeramkan itu.

Anakku ....

Terdengar suara gumaman dari si Kuntilanak. Nina mulai berkeringat, matanya berkaca-kaca. Tangan Kuntilanak mulai meraba-raba perut buncit Nina. Ia bisa merasakan bagaimana kuku-kuku panjang tangannya menyentuh perutnya dengan kasar.

Sosok itu terus mengelus-elus perut Nina Sampai-sampai air liur berwarna kehitaman keluar dari mulut Kuntilanak yang terus terpaku merasakan bayi di dalam perut hamil itu. Gigi tajamnya keluar, kemudian langsung menerkam perut Nina.

“Aaaaaa!!” Nina berteriak keras dan terbangun dari mimpinya. Ia langsung duduk dan  memegang perutnya. Aman. Anaknya masih ada. Nafasnya terengah-engah, wajahnya pucat penuh keringat. Air matanya tanpa sadar menetes.

“Nina!” panggil Ranti yang langsung buru-buru berlari ke dalam kamar. Melihat wajah pucat Nina, Ranti pun jadi khawatir. Ia segera duduk di pinggir kasur dan menemani wanita hamil itu. “Kamu kenapa?” tanyanya.

“Aku mimpi buruk, Mbak,” jawab Nina.

“Ya ampun.” Ranti lalu mengambil selembar tisu lalu mengelap keringat di dahi dan wajah Nina. Tak lupa ia berikan segelas air yang sudah ada di meja, supaya Nina bisa lebih tenang. Nina pun menurut saat Ranti memberikan gelas, ia dengan perlahan meminum air tersebut.

“Muka kamu kok sampe pucet gini sih,” ucap Ranti sambil mengelus punggung Nina. “Lain kali kalau mau tidur, baca doa dulu. Biar gak diganggu setan. Mau siang atau malam, setan itu pasti ada,” kata Ranti menasihati.

“Iya, Mbak. Aku jarang doa sebelum tidur.”

“Yaudah, dibiasakan ya. Sekarang mau tidur lagi?” tanya Ranti.

Nina menggeleng sambil melihat ke arah lain. “Enggak, aku udah gak ngantuk,” jawabnya.

“Jangan dipikirin ya. Mimpi itu bunga tidur. Jangan stess, kamu lagi hamil tua.” Ranti lalu beranjak dari kasurnya. Ia berjalan ke arah jendela. Jendela itu lalu dibuka olehnya, sehingga cahaya masuk mengusir kegelapan. Kamar Nina pun jadi lebih terang sekarang, hawa segar dari luar pun ikut masuk. “Biasakan buka jendela, biar udara segar dan cahaya masuk,” ujar Ranti.

Ranti berdiam sejenak di depan jendela. Menikmati angin sepoi-sepoi yang masuk, begitu sejuk. Pandangannya mengarah menuju pohon beringin besar yang ada di samping rumah Nina dengan wajah dingin, lalu tersenyum tipis.

***

Petang pun telah tiba. Seperti biasa, Abbas pulang ke rumah dengan motornya. Akan tetapi, kali ini Pak Jamal tidak datang menjemput sang istri karena ada keperluan di tempat lain. Abbas sempat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi Ranti menolak dan ingin pulang sendiri.

“Mbak, saya jadi gak enak kalo Mbak pulang sendirian. Saya antar ya?” kata Abbas menawarkan diri.

“Gak apa-apa kok. Saya udah biasa jalan sendiri di desa ini, jangan khawatir,” jawabnya sambil tersenyum. Pandangannya lalu beralih ke arah Nina.

“Kamu di sini aja, Pak Guru. Jaga Nina. Dia lagi hamil, jangan tinggal dia sendirian di rumah saat magrib seperti ini,” kata Ranti.

Abbas dan Nina pun bingung. “Eh? Emangnya kenapa?” tanya Abbas penasaran.

“Pokoknya jangan, sudah magrib,” jawab Ranti sedikit misterius. “Udah ya, saya mau jalan pulang. Keburu gelap. Permisi.” Ranti lalu berbalik badan dan mulai berjalan meninggalkan rumah. Kakinya melangkah dengan anggun dari balik kain batik yang dipakainya.

Abbas memperhatikan istri kepala desa itu hingga berbelok arah dan tak terlihat lagi. Kemudian, bersama Nina ia masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan bersiap menunaikan salat magrib.

Waktu magrib memang seakan menjadi waktu yang sakral bagi para penduduk desa ini. Tak ada yang berani keluar kecuali untuk menunaikan salat berjamaah di masjid. Saat langit sudah mulai gelap, semua warga kompak masuk ke dalam rumah masing-masing.

Ting! Ting!

Seorang penjual mi ayam mendorong gerobaknya di tengah magrib yang sepi. Roda gerobak itu berputar melewati jalan setapak yang mengarah ke rumah Nina. Sehingga ia berpapasan dengan Ranti yang hendak pulang. Si pedagang mi yang masih kisaran umur 20 tahun itu sudah pasti mengenal Ranti, semua anak seumurannya pasti mengenal sosok istri kepala desa yang cantik itu. Ia lalu berhenti dan memberikan jalan untuk wanita itu.

“Eh, baru pulang, Mbak?” tanya si pedagang dengan sedikit genit.

“Iya,” jawab singkat Ranti. “Magrib-magrib masih aja keliling, Mas. Siapa yang mau beli? Setan?” tanya Ranti sambil tetap berjalan melewati gerobak mi ayam itu.

Sang pedagang tertawa kecil mendengar ucapan Ranti. “Yeeee, mau yang beli setan juga gak apa-apa. Yang penting punya duit! Hahaha,” jawabnya bercanda. Kemudian lanjut mendorong gerobak nya.

Hingga sampailah ia di depan rumah Nina. Tapi ia tak berhenti dan terus berjalan mendorong gerobak sambil sesekali membunyikan mangkuk keramiknya dengan sendok untuk menarik pembeli. Wajahnya celingak-celinguk melihat sekitar yang sepi. Tidak ada orang sama sekali di tempat itu.

“Mas, beli dong!” Seorang perempuan tiba-tiba memanggilnya. Sedikit membuatnya kaget.

“Iya?” Si pedagang menoleh. Tapi tak ada siapa-siapa di sekitarnya. “Mana orangnya?” tanyanya dalam hati.

“Mas, ke sini dong!” Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Anehnya, suara itu berpindah arah. Kini terdengar dari arah pohon beringin di samping rumah Nina. Alhasil, ia menoleh ke arah pohon. Tetap tidak ada siapa-siapa.

“Duh, mana sih orangnya? Beneran mau beli gak? Saya mau mangkal di depan jalan nih! Buruan!” kata pedagang itu dengan sedikit kesal.

“Ya, jadi dong, Mas!” Suara wanita itu terdengar kembali. Kali ini suaranya berpindah ke atas pohon.

“Lah?” Sang pedagang bingung. Lalu ia mendongkakkan kepalanya dan melihat ke atas pohon.

Tampak sesosok Kuntilanak dengan gaun merah sedang duduk di dahan pohon sambil mengayunkan kakinya. Wajahnya putih pucat, terdapat warna hitam di sekitar matanya yang melotot ke arah pedagang itu. Rambutnya berantakan dan mekar seperti singa.

Hihihihi ....

Suara tawa sosok menyeramkan itu melengking begitu jelas, lalu tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah si pedagang itu sambil menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu dengan tangan pucatnya.

Aku punya duit kok, Mas. Hihihi....

Setelah terdiam beberapa saat, pedagang itu pun sadar kalau yang ada di hadapannya bukanlah manusia. Wajahnya pun berubah takut sekaligus panik.

“Spider-Man!” teriak si pedagang itu sambil menunjuk ke atas pohon. Wajahnya pucat dan kakinya gemetar. Kemudian ia lari kocar-kacir. Saking ketakutannya, ia bahkan sampai meninggalkan gerobaknya di tengah jalan.

Mas, sini! Saya mau beli! Hihihihihi ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
emoticon-Sundul Up
Punya duit asli atau mainan tuh Mrs K

Part 7 - Anak Pertama

Sejak kejadian yang menimpa pedagang mi ayam itu, warga pun menjadi heboh dengan berita Kuntilanak itu. Keesokan harinya, hampir semua warga membicarakan soal Kuntilanak di pohon samping rumah Nina. Mulai dari para ibu-ibu, sampai bapak-bapak yang sedang mencangkul di sawah. Beritanya terus tersebar dari mulut ke mulut.

“Udah lama gak ada muncul Kuntilanak di desa kita,” kata salah satu warga yang sedang berjalan ke sawah.

“Iya, dulu memang sempat ada. Terus menghilang, sekarang baru muncul lagi,” jawab warga lainnya.

Warga lainnya menimpali. “Iya, serem jadinya. Hati-hati aja kalo malem.”

Berita ini juga sampai ke telinga Abbas dan Nina selaku pemilik rumah yang dekat dengan pohon beringin itu. Namun, Abbas memilih diam dan mengabaikan berita itu. Ia tak terlalu percaya dengan isu adanya Kuntilanak di samping rumahnya. Tapi hal itu tak berlaku dengan Nina. Sang istri yang pernah dimimpikan oleh sosok itu merasa takut dengan isu yang beredar.

Sambil memakai sepatu dan siap berangkat, Abbas terus menasihati istrinya. “Tenang aja, cuma cerita warga-warga aja. Gak usah takut, gak ada apa-apa kok di sini. Yang penting sholat jangan lupa,” kata Abbas. Nina terdiam dan tak bicara apa-apa, tangannya terus mengelus perut. Merasakan sang calon anak yang akan segera lahir.

Dari depan, Ranti muncul dengan kebaya berwarna biru muda. Melihat itu, Abbas langsung berdiri. “Nah, coba aja tanya Mbak Ranti,” kata Abbas.

“Kenapa?” tanya Ranti.

Abbas lalu menatap wanita itu. “Apa bener ada Kuntilanak di sini? Mbak Ranti percaya?”

Ranti tertawa kecil. “Mana ada? Itu isu aja, biasa warga lagi kehabisan bahan gosip,” jawan Ranti.

“Denger, kan? Udah santai aja ya, Sayang,” ucap Abbas sambil mengelus kepala istrinya supaya lebih tenang. Nina terdiam dan menatap sang suami, lalu tersenyum untuk meyakinkan suaminya bahwa ia sudah baik-baik saja.

“Nanti juga isu ini akan menghilang sendiri kalau warga udah  bosan,” kata perempuan berkebaya itu. “Tenang aja, Nina. Selama ada Mbak, Kuntilanak gak akan berani ganggu,” tambah Ranti.

Setelah kedatangan istri kepala desa, Abbas pun berangkat mengajar seperti biasa. Motornya melaju meninggalkan rumah. Nina dan Ranti lalu sama-sama masuk ke dalam rumah dan bersiap masak untuk makan siang.

***

Siang harinya, Nina kembali tertidur. Awalnya ia masih takut tidur siang akibat mimpi kemarin, ditambah isu Kuntilanak yang semakin membuatnya ketakutan. Tapi Ranti memaksanya untuk istirahat. Demi kepentingan bayinya, ia tak boleh kelelahan. Ranti juga duduk di samping ranjang Nina. Menjaga wanita hamil itu selagi tidur sambil membaca sebuah buku. Sehingga Nina bisa terlelap dengan sedikit tenang. Kekhawatiran Nina pun terjadi.

Sesosok Kuntilanak datang menembus tembok kamar Nina dari arah pohon beringin. Rambutnya lurus dan panjang, menutupi wajahnya. Kuku-kukunya panjang. Tercium aroma busuk saat makhluk itu muncul. Ranti menyadari kehadiran makhluk halus itu. Sambil tetap duduk di kursinya, ia menatap ke arah si Kuntilanak. Wajahnya datar, tanpa rasa takut sedikit pun.

Makhluk itu lalu diam di tempat, tak berani maju mendekati Nina. Sementara Ranti terus menatapnya tanpa berkedip. Selama beberapa menit, situasi terus seperti itu. Sampai akhirnya si Kuntilanak menyerah dan mundur perlahan ke arah tembok lalu menghilang. Nina pun tetap aman dalam tidurnya. Ranti kembali mengalihkan pandangan ke arah buku yang sedang dibacanya.

***

Singkat cerita, waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, sudah hampir satu bulan Abbas dan Nina tinggal di desa ini. Semua berjalan lancar-lancar saja, Ranti terus menjadi teman bagi Nina. Wanita itu sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, selama ada Ranti, Nina selalu aman.

Hingga suatu hari, momen yang dinanti pun datang. Nina mulai merasakan sakit di perutnya. Hari itu hari Minggu, Abbas tengah libur mengajar. Melihat tanda-tanda istrinya yang hendak melahirkan, ia pun segera memacu motornya untuk memanggil bidan bersalin yang ada dekat dengan kantor desa. Sementara Nina ia tinggal bersama beberapa tetangga di dalam kamar.

Tak sampai setengah jam, Abbas sudah kembali membawa bidan. Nina pun segera diberi penanganan. Wajah Abbas sudah berkeringat dan tegang, sesekali ia mendengar suara sang istri yang berteriak saat berjuang melahirkan anak pertamanya.

“Tenang aja, Pak Guru. Santai, pasti lancar kok,” kata salah satu tetangga menenangkannya.

“Haduh, gimana saya mau tenang, Pak.” Abbas mulai tak karuan. Ia duduk lalu berdiri, berjalan ke sana kemari, lalu duduk lagi.

“Waduh, Pak. Tenang, sini minum dulu. Mau kopi?” kata seorang tetangga.

“Istri saya lagi lahiran, masa saya ngopi,” balas Abbas sedikit jengkel.

Beberapa warga yang ada di ruang tamu lalu tertawa mendengarnya. “Maklum ya, anak pertama jadi tegang begitu,” bisik salah satu warga.

Akhirnya, Abbas bisa bernafas lega setelah beberapa menit dalam ketegangan. Suara tangisan seorang bayi terdengar memecah keheningan. Sontak semua warga yang hadir pun bersyukur dan mengucapkan selamat pada Abbas. Laki-laki itu kini bahagia bukan main.

“Selamat, Pak Guru!” ucap para warga.

Abbas tak sabar melihat anak pertamanya. Ia masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan Nina serta sang bidan yang tengah menggendong bayinya. Nina masih terbaring lemas di kasurnya. Tapi ia langsung tersenyum tipis saat melihat suaminya datang. Abbas langsung mendekatinya.

“Sayang, syukurlah. Kamu berhasil!” ucap Abbas dengan penuh syukur. Ia cium kening sang istri yang sedikit berkeringat.

“Kita, kita berhasil, Sayang,” balas Nina.

Setelah membersihkan bayi. Sang bidan memberikan bayi tersebut kepada Abbas. Ia yang kini menjadi seorang Ayah sedikit gemetar saat harus menggendong anak pertamanya itu. Ia bawa anaknya mendekat ke Nina yang masih berbaring. Lalu keduanya berbahagia sambil memperhatikan anak laki-laki mereka.

***

Kabar mengenai kelahiran anak pertama Abbas pun sampai ke telinga Kepala Desa. Pak Jamal yang saat itu tengah bertugas di kantornya pun segera pulang ke rumah untuk menjemput istrinya Ranti. Pria berkumis itu berjalan masuk ke dalam rumahnya yang seukuran dengan rumah Abbas. Warna catnya hijau dan ada banyak macam bunga penuh warna yang menghias halaman depan rumahnya.

“Ranti!” panggil Pak Jamal saat masuk ke dalam rumahnya. Melewati ruang tamu yang penuh koleksi patung dan lukisan-lukisan kuno.

“Iya, Mas. Di kamar!” balas Ranti.

Pak Jamal berjalan mendekat ke kamar, lalu membuka pintunya. Tampak sang istri sedang menyisir rambutnya di depan sebuah cermin besar dekat dengan ranjang besar tempat mereka tidur. Sediki cahaya mentari masuk dari ventilasi. Ranti menatap sang suami melalui pantulan cermin. “Kenapa pulang, Mas? Ada perlu?” tanya Ranti.

“Nina sudah melahirkan,” kata Pak Jamal.

Mendengar itu, Ranti langsung berhenti menyisir rambutnya. Ia terdiam lalu berbalik badan melihat sang suami secara langsung. Mulutnya tak berkata apa-apa. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.

“Kamu udah menunggu saat-saat ini, kan?” tanya Pak Jamal. Ranti mengangguk. “Kalau begitu cepat rapi-rapi, kita harus jenguk mereka. Kita harus ikut dalam kebahagiaan mereka,” ucap Pak Jamal sambil tersenyum lalu beranjak pergi.

Ranti mengangguk. Ia mulai merapikan kebayanya yang berwarna putih dan kain batik yang ia kenakan saat itu. Tangannya bergerak membentuk sanggul dengan rambutnya yang panjang.

Setelah selesai, Ranti mendekat ke meja kecil di sudut kamar. Ia membuka sebuah toples kaca berisi bunga melati. Tangannya mengambil satu bunga melati, lalu ia masukkan melati itu ke dalam mulutnya. Sambil berjalan ke luar kamar, Ranti mengunyah dan memakan bunga melati tersebut.

“Ayo, Mas!” ajaknya saat melihat sang suami di sofa. Keduanya lalu sama-sama berjalan pergi untuk melihat anak pertama Abbas dan Nina.  
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 8 - Kunjungan

Setelah kelahiran anak pertamanya, hubungan kedua pasangan itu kian harmonis. Anak itu diberi nama Pasha. Setiap subuh Abbas selalu mengajaknya keluar dan menimang-nimangnya di depan rumah. Ia hanya memiliki sedikit waktu dengan sang anak apabila dirinya mengajar. Dan atas permintaan Nina, Abbas membuat sebuah ayunan sederhana di pohon beringin tua itu.

Nina sering duduk di ayunan sambil menggendong Pasha. Sebuah ayunan kayu dengan tali tambang yang sangat tebal. Terpasang pada dahan pohon yang cukup kuat. Para tetangga dan warga sekitar pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Selain itu, Ranti pun sangat menyukai anak itu. Ia jadi semakin betah berada di rumah Nina. Biasanya ia pulang setelah sebelum magrib, kini Ranti bisa pulang setelah isya saking asiknya bermain dengan Pasha. Kadang bayi itu menangis, membuat Ranti semakin gemas. Kemudian Nina akan mengambilnya dan memberinya ASI.

“Nak, Bibi pulang dulu ya,” kata Ranti sambil memainkan tangan mungil Pasha. Bayi polos itu menatap Ranti sambil mengemut dot di mulutnya.

“Iya, Bibi,” kata Nina mewakili anaknya.
Saat itu sudah malam sekitar pukul delapan. Ranti baru hendak pulang ke rumah. Sayangnya sang suami tak bisa menjemput karena pekerjaannya. Tidak seperti biasanya, kali ini Ranti menerima tawaran Abbas untuk mengantarnya pulang. Sehingga Abbas tak merasa bersalah membiarkan wanita pulang sendiri.

Ranti naik di jok belakang motor Abbas dengan posisi miring ke samping. Di depan, tangan Abbas siap untuk memacu motornya. Suara mesin sudah terdengar menyala. Ranti menatap  Nina yang berdiri di beranda rumah sambil menggendong Pasha.

“Aku pulang dulu ya, Nin,” ucapnya pamit.

Nina mengangguk. “Iya, hati-hati,” balasnya.

“Tunggu sebentar ya,” kata Abbas sambil tersenyum.

“Iya,” sahut Nina.

Motor Abbas lalu mulai berjalan. Lampu depannya menerangi jalan sekitar yang diselimuti kegelapan malam. Remang-remang oranye lampu jalan tak mampu menerangi hingga ke sudut-sudut jalan. Di langit sana, rembulan malu-malu mengintip dari balik awan gelap. Sehingga cahayanya sedikit meredup.

“Masuk yuk,” kata Nina sambil berjalan membawa Pasha dalam gendongannya. Ia masuk kemudian menutup pintu.

Cik! Cik! Cik!

Belum sempat pintu tertutup, tiba-tiba terdengar suara anak ayam dari beranda rumahnya. Suara anak ayam itu samar-samar dan kurang jelas. Tapi Nina sendiri yakin dengan suara itu. Karena penasaran, dirinya pun berjalan beberapa meter ke luar. Kemudian berdiri membelakangi pintu yang ia biarkan terbuka.

Tanpa Nina sadari, ketika dirinya tengah membelakangi pintu, sesosok perempuan bergaun putih serta rambut panjang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Panjang rambutnya sampai sepinggang dan gaun putih itu kotor dengan tanah basah.

Ketika Nina berbalik badan, sosok itu sudah masuk ke rumahnya dan tak terlihat lagi. Karena suara anak ayam itu sudah berhenti, Nina pun berjalan masuk ke dalam. Menutup pintu dan lanjut menuju kamar. Sekilas, aroma bunga melati kembali tercium di dalam rumahnya. Tapi Nina mengabaikannya, ia membaringkan Pasha di kasur. Lalu menyemprotkan pengharum ruangan, sehingga aroma melati itu berganti menjadi wangi jeruk lemon.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari arah depan. Ketukan itu terus terdengar tanpa henti. Sehingga Nina buru-buru berlari kecil ke arah depan. Pintu pun dibuka, dan tampak sang suami berdiri di sana.

“Oh, udah pulang ya,” kata Nina. “Kirain siapa,” tambahnya.

“Iya, hehe.” Setelah dibukakan pintu, Abbas langsung buru-buru berjalan menuju kamar mandi. Nina memperhatikannya, lalu menutup pintu.

“Kebelet ya?” gumamnya yang lantas berjalan kembali menuju kamar.

Belum sampai dirinya masuk ke kamar. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Saat ia menoleh ke jendela depan, sebuah cahaya lampu motor menerangi dan sedikit masuk ke dalam. Ia sangat hapal suara motor itu, suara motor suaminya.

“Lho?” Nina mulai bingung.

Suara langkah kaki terdengar, lalu pintunya diketuk beberapa kali. “Sayang! Aku pulang!” teriak Abbas dari luar meminta dibukakan pintu.

Kalau Abbas baru pulang sekarang, terus yang tadi itu siapa?

Nina mulai ketakutan, wajahnya berkeringat. Tangannya gemetar, pelan-pelan ia melangkah mendekat ke pintu. Tapi tiba-tiba, sosok Abbas yang lain keluar dari kamar mandi. Nina pun menoleh ke belakang, ia semakin takut. Ada dua sosok Abbas di rumahnya.

“Nina, jangan buka pintunya! Aku Abbas yang asli,” kata Abbas yang baru saja keluar dari toilet.

“Sayang, bukain dong!” Abbas di depan pintu kembali berteriak. Ia semakin kebingungan. Nafasnya terengah-engah, matanya berkaca-kaca.

“Jangan, Nina! Jangan buka!” tegas Abbas.

Mana Abbas yang asli? Wajah Nina mulai pucat, ia celingak-celinguk ketakutan.
Gagang pintu bergerak, kemudian pintu dibuka dari luar. “Oh, gak dikunci ternyata.” Entah itu Abbas asli atau bukan, ia lalu masuk ke dalam dan tersenyum kepada sang istri. Tangannya memegang sebuah bungkusan berisi makanan. “Lain kali dikunci ya, bahaya tau!” kata Abbas.

“K-Kamu?” Nina yang masih bingung kemudian menoleh ke belakang. Dan ternyata, Abbas yang tadi keluar dari kamar mandi sudah menghilang entah kemana. Nina terkejut bukan main, dirinya lemas. Seluruh tubuhnya gemetar, ia lalu berjalan sempoyongan dan langsung duduk di sofa untuk menenangkan diri.

“Kamu kenapa?” Abbas menghampiri istrinya yang terlihat aneh. Ia duduk di samping Nina dan menatap wajahnya.

Nina menggeleng. “Gak apa-apa,” jawabnya singkat.

“Yaudah, kita makan ya. Ini aku udah beli makanan.” Abbas lalu berdiri dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Nina masih ketakutan. Dengan wajah pucat, ia berjalan kembali ke kamar. Anaknya Pasha tampak nyaman di kasur sambil memainkan tangannya.

Nina membuka laci di salah satu meja. Dari dalam laci ia mengeluarkan gunting kecil yang pernah diberikan oleh Kakek Adi. Kini ia paham kenapa pria tua itu memberikan gunting kecil ini. Ia tatap gunting itu lekat-lekat, tanpa sadar dirinya hanyut dalam lamunan.

“Sayang!” teriak Abbas dari meja makan.

“Iya!” sahut Nina. Kemudian, ia letakkan gunting itu di bawah bantal tidurnya. “Sayang, mama tinggal sebentar ya,” ucap Nina sambil mengelus kepala Pasha. Baru setelahnya ia berjalan cepat menuju meja makan menyusul sang suami.

Pasha terdiam, tidak rewel dan tidak banyak merengek. Sambil berbaring, mata bayi laki-laki itu menatap lurus ke depan. Ke arah lemari kayu. Tempat di mana sesosok Kuntilanak tengah duduk di atasnya sambil menatap Pasha dengan kedua pupil matanya yang mengecil serta gigi-gigi runcing keluar dari mulutnya yang menyeringai lebar.

***

Keesokan harinya, sekitar selesai azan zuhur sebuah mobil keluarga berjalan masuk di jalan desa. Lalu berbelok arah ke sebuah jalan setapak yang ukurannya pas-pasan untuk satu buah kendaraan roda empat. Para warga sekitar melihat mobil itu melewati depan rumahnya, beberapa membantu agar mobil tersebut bisa berjalan dengan lancar.

Beberapa meter di depan, mobil itu berbelok arah ke sebuah halaman rumah. Tepatnya di rumah Abbas dan Nina. Keduanya sudah berdiri di beranda sambil tersenyum memandangi tamu mereka. Setelah mobil berhenti, keluar satu orang pria yang usianya lebih muda dari Abbas.

Pria dengan setelan kemeja biru dan celana hitam. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, dan jam tangan mahal terpasang di tangannya. Ia adalah Rio, adik dari Abbas. Keluar juga seorang wanita yang merupakan istri Rio.

Wanita berjilbab biru muda dan baju terusan berwarna senada itu bernama Rina. Tangannya menggendong bayi laki-laki berusia empat bulan yang mereka beri nama Niko. Di sampingnya, keluar juga Diva, anak perempuan usia lima tahun yang merupakan anak sulung Rio dan Rina.

“Assalamualaikum!” sapa Rio beserta keluarganya.

“Waalaikumsalam!” jawab Abbas. Dengan sopan, Rio mencium tangan kakaknya itu kemudian berpelukan sesaat. Begitu juga dengan Rina dan kedua anaknya. Nina juga tersenyum ramah kepada tamunya itu.

“Maaf kita baru jenguk nih, baru sempet. Tadinya mau diundur, tapi Rina maksa buat berangkat sekarang. Habisnya penasaran sih sama anakmu, Mas,” kata Rio sambil tersenyum lebar.

Abbas mengangguk. “Alhamdulillah ya. Masih ada kesempatan buat ketemu, jauh-jauh dari kota,” ucap Abbas.

Abbas dan kedua adiknya itu duduk di kursi beranda untuk berbincang-bincang. Abbas menanyakan soal kabar keluarganya di kota, sekaligus bercerita mengenai kehidupannya di desa ini. Rio dan Rina menyimaknya dengan serius, sambil sesekali Rina menenangkan bayinya yang menangis.

“Sssst ... jangan nangis ya, Sayang,” ucap Rina menenangkan Niko yang mulai rewel.

Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Ranti berjalan ke luar dari rumah. Sontak, mereka bertiga langsung menoleh. “Mbak, mau ke mana?” tanya Abbas.

Ranti lantas berhenti, tanpa menoleh ia langsung menjawab. “Mau pulang,” jawabnya dengan begitu singkat dan datar. Kemudian lanjut berjalan pergi meninggalkan rumah mereka tanpa alasan yang jelas.

“Siapa, Mas?” tanya Rio.

“Dia Ranti, istri kepala desa,” jawab Abbas.

“Oh, pakaiannya kok kaya sinden gitu ya,” kata Rio.

“Iya, penampilan dia selalu begitu,” balas Abbas.

Abbas memperhatikan perempuan berkebaya itu pergi. Dalam hatinya ia tampak bingung, tak biasanya Ranti tiba-tiba pulang seperti itu. Ia merasa ada yang aneh dengannya. Ekspresinya juga sangat datar dan cenderung jutek. “Apa aku ada salah ya?” batinnya dalam hati.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 9 - Suara Tangis

Abbas dan Rio menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol di beranda rumah. Sedangkan Nina mendapat teman baru yaitu Rina adik iparnya, keduanya sama-sama sibuk dengan  bayi mereka masing-masing. Rina yang lebih berpengalaman memberitahu Nina soal merawat bayi.

Sampai akhirnya malam pun tiba, kian larut hingga mata pun mengantuk rasanya. Apalagi setelah perjalanan yang mereka tempuh dari pagi buta untuk sampai ke rumah Abbas. Sang tuan rumah menggelar kasur lantai di ruang tengah untuk tidur Rio dan anak-anaknya. Alih-alih bisa tidur, mereka justru terjaga hingga tengah malam.

Sejak magrib tadi, Niko terus menangis tanpa henti. Sudah diberi ASI, dot sampai susu, tetap saja bayi itu terus menangis meraung-raung. Rio dan Rina kebingungan melihat anak mereka itu. Tak biasanya Niko nangis sampai selama ini.

“Kenapa ya, Mas?” tanya Rina.

“Gak tau, apa dia sakit ya?” Rio berbalik tanya.

Rina menyentuh dahi anaknya. “Enggak kok, gak panas,” jawabnya.

Suara tangisan bayi itu juga membuat Nina terbangun dari tidurnya, baru dua jam ia memejamkan mata. Kini dirinya bangkit dari kasur dan berjalan ke luar. Wajahnya sedikit cemas dengan keadaan Niko.

“Belum diem  juga, Rin?” tanya Nina sambil keluar dan menutup pintu kamarnya kembali.

“Belum,” jawab Rina sambil menimang-nimang Niko yang terus menangis. “Maaf ya, Kak. Jadi ganggu tidurnya,” ucapnya menambahkan.

Nina lalu berjongkok di depan Rina. Melihat bayi itu dari dekat. “Mungkin di sini dingin, kamu sama Niko pindah ke kamar aja ya sama aku dan Pasha. Nanti biar Abbas tidur di luar.” Nina langsung berdiri dan berjalan kembali ke kamar. Suaminya ia bangunkan, lalu keduanya kembali keluar dari kamar.

“Maaf ngerepotin ya,” kata Rina sambil berdiri menggendong Niko.

“Gak apa-apa. Ayo, Diva ikut ke kamar aja,” ajak Nina kepada anak perempuan Rina.

Setelah pindah ke kamar Nina, tiba-tiba saja Niko berhenti menangis. Kini bayi itu sudah tenang dan diam. Akan tetapi, matanya terus melihat ke arah lemari kayu di sudut ruangan.  Entah apa yang bayi itu lihat di sana, matanya seakan ditarik untuk terus menatap ke arah itu. Sayangnya, Nina dan Rina tak menyadari hal ganjil ini.

Mereka berbagi tempat tidur dan akhirnya istirahat dengan tenang. Termasuk Diva. Di luar, Abbas dan Rio tidur di kasur lantai. Kakak beradik itu tidur dengan cepat dan pulas. Sesekali terdengar suara dengkuran. Akhirnya, malam itu pun kembali tenang setelah tangisan Nika berhenti.

Baru tidur beberapa jam, Abbas kembali membuka matanya. Jam masih menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Entah bagaimana dirinya bisa tiba-tiba terbangun setelah sebelumnya tidur cukup pulas. Ia mengucek matanya dan sedikit menggeliat, mulutnya menguap lalu ia membalikkan badan ke samping. Ia melihat ke arah Rio, ternyata Rio ikut terbangun dari tidurnya.

“Lho, Rio. Belum tidur kamu?” tanya Abbas dengan wajah mengantuk.

“Sssstt!” Rio menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Menyuruh Abbas untuk tetap diam. “Diem, jangan berisik,” bisik Rio. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. Saat itu Abbas tersadar ada yang tak beres dengan Rio.

“Kenapa?” tanya Abbas.

“Coba deh, Mas gak denger?” bisik Rio lagi.

“Denger apa?” Abbas bingung.

“Coba pasang telinga baik-baik,” ujar Rio.

Keduanya lalu terdiam, saling berbaring miring dan berhadapan. Matanya saling bertatapan dengan ekspresi serius. Abbas memasang telinganya baik-baik, mencoba mendengar suara yang dimaksud Rio. Awalnya ia tak mendengar apa-apa, beberapa detik kemudian barulah ia mendengar sesuatu.

“Iya, aku denger!” kata Abbas.

Rio pun semakin ketakutan. Suara itu adalah suara tangisan perempuan yang entah dari mana asalnya. Tangisan yang sedih dan terisak-isak, perempuan mana yang menangis malam-malam begini? Suaranya terdengar samar-samar.

Hiks ... Hiks ...

“Suaranya jauh, Rio,” kata Abbas.
Rio menelan ludah. “Mas, katanya kalo suaranya terdengar jauh. Itu artinya dia deket!”  bisik Rio memperingati.

“Hah? Maksudnya?” Ternyata Abbas masih tak mengerti.

Karena sudah tak sabar, Rio langsung bicara blak-blakan. “Itu suara Kuntilanak, Mas!” katanya.

“Astaghfirullah! Jangan sembarangan kamu!” Abbas kaget mendengar perkataan adiknya. “Udah tidur aja, jangan didengerin. Baca doa dalem hati!” Abbas lalu memejamkan matanya kembali. Begitu juga Rio, keduanya sama-sama berusaha untuk tidur. Tapi sekuat apa pun mereka berusaha, tetap tidak bisa. Suara tangisan itu terus terdengar, saat menutup mata suara itu justru semakin terngiang-ngiang.

Hiks ... Hiks ... Hiks ....

Sampai akhirnya Abbas kembali membuka mata. “Rio, mungkin kamu ngawur. Bisa aja itu suara perempuan beneran lho,” kata Abbas.

“Kamu yang ngawur, Mas. Mana ada malem-malem gini perempuan nangis, di desa gini lagi,” balas Rio.

“Coba kita cek yuk!” ajak Abbas.

“Udah gila kamu, Mas. Gak, gak mau!” tolak Rio dengan tegas.

Abbas lalu bangkit dari kasur dan duduk di pinggiran. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya sedikit berantakan. Suara tangisan itu masih terdengar, mata Abbas melihat ke sana sini mencari sumber suara.

“Mas, jangan aneh-aneh, Mas! Udah tidur aja!” kata Rio ketakutan.

Abbas menoleh. “Mana bisa tidur aku, itu suaranya jauh kaya samar gitu. Tapi ganggu!” jawab Abbas. “Udah kamu di sini aja, aku cek keluar.” Abbas langsung berdiri dan berjalan ke luar.

“Mas!” panggil Rio berharap kakaknya itu mengurungkan niatnya, tapi Abbas dengan percaya diri terus berjalan tanpa rasa takut. “Duh, ada-ada aja!” karena takut ditinggal sendiri di ruang tengah, Rio akhirnya memutuskan untuk ikut.

Abbas membuka kunci, memegang gagang pintu dan menariknya ke dalam. Pintu itu terbuka, hawa dingin angin malam menerpa mereka. Suara tangis itu masih terdengar, namun tak ada siapa-siapa di luar sana. Suasana hening, sepi dan sedikit mencekam.

Mereka melangkah keluar, Abbas berada di depan. Ia lalu melihat ke segala arah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Hanya ada suara jangkrik dan sesekali kucing lewat depan rumah.

“Gak ada siapa-siapa,” kata Abbas.

“Udah aku bilang, Mas. Kuntilanak itu!” sahut Rio.

Hiks ... Hiks ... Hiks ....

“Mas, udah ayo masuk!” ajak Rio. Tapi Abbas tak bergeming, ia masih melihat sekitar. Ia sadar ada yang aneh, dalam diam ia merasakan sesuatu yang tak beres di sekitarnya.

Hiks ... Hiks ... Hiks ... Hi ... Hi .. Hihi ... Hihihihihihi ....

Mendadak suara tangisan itu berubah menjadi suara tawa perempuan melengking menusuk telinga. Mendadak angin dingin berhembus kencang menerbangkan dedaunan di pohon beringin yang lebat dan seluruh tubuh mereka pun merinding. Rio semakin ketakutan, dugaannya kini benar.

“Masuk, Mas!” Rio langsung mengambil langkah seribu dan masuk ke rumah.

Sedangkan Abbas menoleh ke asal suara, yaitu di atas atap rumahnya. Tak lama sebuah kain putih terbang dari atapnya lalu hinggap di pohon beringin. Kain putih itu berubah menjadi sosok perempuan pucat berambut gimbal berantakan, matanya merah dan mulutnya menyeringai lebar sampai ke telinga. Perempuan menyeramkan itu berdiri di atas dahan pohon sambil menatap Abbas.

Cari aku ya, Mas? Hihihihihi ....

Melihat itu, Abbas buru-buru berlari masuk ke dalam rumah. Menutup dan mengunci pintu, sosok Kuntilanak itu terus tertawa di luar. Abbas berjalan cepat ke kasur, Rio sudah meringkuk di sana. Memejamkan matanya sambil mulutnya komat-kamit membaca doa. Abbas langsung bergabung bersamanya dan ikut memejamkan mata.

Mereka berdua tidak bicara apa-apa sampai akhirnya bisa tidur dengan sendirinya dan teror malam itu pun berakhir.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Kenapa makan bayi sihh? Enakan juga telor dadar bener dehh
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 3


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di