KOMUNITAS
Pengumuman! Kuy Ikutan Survey Feedback Kaskuser, Isi di Sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pesugihan Gua Setonggo (Horror Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62e2a2b53304bf78bb7bcc97/pesugihan-gua-setonggo-horror-story

Pesugihan Gua Setonggo (Horror Story)

Pesugihan Gua Setonggo (Horror Story)

emoticon-Haiemoticon-Hai
Selamat Datang Di Thread Horor Terbaru Ane Gan!

Kali ini ada sebuah cerita yang cukup mengerikan. Kalian pasti pernah mendengar soal pesugihan, kan? Sebuah jalan pintas bagi mereka yang putus asa dan berpikiran pendek, meski awalnya menguntungkan tapi efek lanjutannya sangat mengerikan dan berbahaya.

Kisah ini menceritakan tentang Leo yang hidupnya hancur. Usahanya gagal, diceraikan sang istri dan kehilangan anak satu-satunya. Saking putus adanya, ia pun memilih jalan pesugihan untuk kembali mendapat kejayaan. Namun pada akhirnya yang ia temukan justru malapetaka.

Petaka macam apakah yang menimpa Leo? Simak cerita lengkapnya!

Disclaimer: emoticon-Bookmark (S)

- Dilarang copas dan menjiplak cerita ini untuk keperluan apapun. ❌
- Apabila ingin bekerja sama, hubungi TS. emoticon-shakehand
- Izin dahulu apabila ada yang ingin membawakan cerita ini ke podcast ataupun YouTube. Biasakan memberi keterangan dari channel mana Anda berasal. emoticon-Cool
- TS akan berusaha semaksimal mungkin untuk update setiap hari. Apabila TS lupa mohon diingatkan. emoticon-Blue Guy Peace
- Baca cerita secara berurutan biar paham.
emoticon-Blue Guy Smile (S)
- Mohon maaf bila ada kesamaan nama, tempat atau kejadian. emoticon-Malu (S)

Prolog:

Suara kaki melangkah terdengar begitu lemah. Sepatu kulit itu berjalan lunglai di atas tanah basah yang lembek. Pria berwajah pucat itu terus berjalan ke depan. Seperti tanpa nyawa bahkan pikiran. Tujuannya ada di depan, tak jauh lagi.

Bak zombie yang lemas, pria itu terus berjalan. Beberapa orang sekitar melihatnya dengan tatapan aneh. Bajunya basah kuyup terkena hujan. Napasnya pun tersengal-sengal, dia bagai manusia paling putus asa di dunia.

Hingga tak lama kemudian sampailah pria itu di depan sebuah rumah tua berbahan anyaman bambu. Di sana sudah berdiri seorang kakek tua yang memandanginya dengan tatapan datar. Seolah ia sudah menunggu kedatangan si pria.

Sang pria mengangkat kepalanya dan menatap kakek itu.

"Ki, saya butuh bantuan!" ucap si pria dengan wajah penuh harap. Sedangkan kakek tadi hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala.

Bersambung ....

Apakah yang akan dilakukan pria itu dengan si kakek tua? Nantikan kelanjutan kisahnya!

Untuk bagian selanjutnya bisa kalian baca melalui INDEX berikut! Baca berurutan ya! emoticon-Blue Guy Peace

⬇️⬇️⬇️

Part 1 - Awal Mula
Part 2 - Gua Setonggo
Part 3 - Siasat Iblis
Part 4 - Pulang
Part 5 - Kematian Misterius
Part 6 - Uang Gaib
Part 7 - Ada Yang Datang
Part 8 - Tamu Tak Diundang
Part 9 - Golok Setan
Part 10 - Mencari Mangsa
Part 11 - Tumbal
Part 12 - Darah Kedua
Part 13 - Haus Darah
Part 14 - Semakin Gila
Part 15 - Budak Setan
Part 16 - Iblis Terus Datang
Part 17 - Si Gila Mencari Darah
Part 18 - Iblis Itu Bernama Leo
Part 19 - Tertangkap
Part 20 - Akhir Segalanya

Mampir juga ke cerita ane lainnya yang gak kalah serem berjudul Kuntilanak Pemakan Bayi di link berikut

Kuntilanak Pemakan Bayi [Cerbung Horor]


Terima kasih bagi kalian yang sudah menyempatkan mampir dan membaca. Salam kenal!


emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
grandiscreamo dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh harrywjyy
Halaman 1 dari 4
Ditunggu lanjutannya
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Setonggo
Sepiring lontong gosong

emoticon-Hammer2Pesugihan Gua Setonggo (Horror Story)
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi

Part 1 - Awal Mula

Di bawah pohon yang lebat nan rindang itu, seorang laki-laki duduk termenung sambil memegang sebotol air putih di tangannya. Pandangannya tampak kosong menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul dari genangan air bekas hujan di ceruk jalanan. Rambutnya rapi tersisir ke belakang. Usianya baru menginjak 27 tahun.

Laki-laki berkulit putih itu bernama Leo, laki-laki malang yang hidupnya kurang beruntung. Anak tunggal yang sejak menginjak SMA sang ayah sudah meninggal dunia, dan beberapa tahun setelah hari kelulusannya, ibunya menyusul. Membuatnya tidak memiliki siapa-siapa lagi, hidup dalam kesepian dan harus bertahan mencukupi kebutuhannya sendiri.

Dahulu ia seorang pengusaha di bidang makanan, tapi semuanya harus lenyap seketika saat seseorang membawa kabur uang miliknya. Sedangkan masih banyak tuntutan yang harus ia penuhi. Karyawan-karyawan perlu ia bayar, padahal kerugian di pihaknya juga amat besar. Sampai akhirnya di tengah situasi yang pelik itu, ia terpaksa meminjam uang ke bank yang justru membuat dirinya semakin kesusahan.

Uangnya tak cukup untuk menopang usaha yang memerlukan banyak biaya, sampai akhirnya semua usaha yang ia bangun bertahun-tahun harus gulung tikar. Tak ada modal untuk memulai dari awal, menjadikan dirinya menjadi seorang pengangguran. Padahal di saat itu ia juga sudah menikah dengan seorang perempuan idamannya. Bahkan mereka sudah memiliki seorang anak berusia dua tahun.

Keadaan semakin buruk dan memburuk. Sudah jatuh tertimpa tangga. Di tengah kesulitannya mencari pekerjaan baru. Para penagih hutang mulai mendatanginya. Ia mulai pontang-panting. Semua temannya tidak ada yang membantu. Tiap kali Leo datang dan meminta bantuan, mereka selalu bilang sibuk dan tidak ada waktu. Leo benar-benar ditinggal sendirian oleh teman-temannya. Tak ada yang peduli saat ia sedang terpuruk.

Ia semakin stres ketika tekanan datang dari sana dan sini. Sang mertua terus menekan sang istri untuk segera meninggalkan Leo. Hingga puncaknya, pertengkaran hebat Leo dengan sang istri pun terjadi. Semua itu tak lain adalah ulah sang mertua yang menjadi provokator. Sejak saat itu istrinya memilih meninggalkan Leo, anaknya yang masih balita dibawa oleh sang istri. Leo ditinggal oleh semua orang, tak ada yang mempedulikannya.

Setelah resmi bercerai dengan sang istri, Leo semakin menderita. Ia jauh dari anaknya, seorang diri di dalam rumah yang kecil. Para penagih hutang silih berganti datang ke rumahnya. Mengetuk pintunya dan memanggil namanya dengan suara lantang. Padahal untuk makan sehari-hari saja, Leo sudah pas-pasan.

Di tengah keputusasaan itu, datang semua ide gila di pikirannya. Seorang teman memberikannya saran. Sebuah tempat yang disebut dengan Gua Setonggo menarik perhatiannya. Hingga akhirnya Leo memilih meninggalkan rumah, menghilang ke tempat yang dimaksud tersebut temannya itu.

***

Singkat cerita, sudah tiga hari Leo menghilang. Ia meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat yang sangat jauh dari perkotaan. Sebuah pedesaan di kaki gunung, ia tinggal di sebuah rumah anyaman bambu sederhana. Hampir tidak mungkin para penagih hutang datang ke sini. Keberadaannya sulit ditemukan.

Malam itu, dirinya masih duduk merenung di bawah pohon besar. Di atas sebuah akar besar yang berlumut, berhadapan dengan sebuah jalan tanah yang mengarah ke pemukiman penduduk. Sesekali warga desa yang membawa rumput dan  kayu bakar lewat menyapa Leo. Cahaya lampu minyaknya sekilas menyinari wajah Leo yang terbenam dalam gelapnya malam. Saling bertukar senyum seperti warga desa pada umumnya.

Dari seberang jalan, sebuah rumah anyaman bambu berdiri. Dari luar, Leo bisa melihat remang-remang lampu minyak yang berwarna oranye. Dari dalam rumah sederhana itu, seorang pria tua keluar. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Leo. Pria tua itu berpakaian serba hitam dengan rambut dan janggut yang sudah putih beruban, usianya sekitar 60 tahun ke atas. Tapi tubuhnya masih tegap dan gagah. Orang-orang desa akrab memanggilnya dengan nama Ki Danang.

“Kita berangkat nanti, sebelum jam dua belas malam,” kata pria tua tersebut.

“Siap, Ki,” jawab Leo dengan yakin.

Ki Danang lalu duduk di samping pemuda itu. Dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan sebatang rokok. Ia nyalakan rokok itu, sehingga baranya tampak menyala di tengah kegelapan. Di sekitar mereka, semak belukar dan rumput berdiri setinggi pinggang. Asap tipis mulai mengepul dan menari-nari di udara. Mereka berdua sempat tak bersuara selama beberapa saat. Hanya suara jangkrik dan cicak yang sesekali terdengar menemani mereka yang diterpa sinar rembulan.

Saat datang ke rumahnya beberapa hari lalu, Leo dengan memelas meminta pertolongan kepada Ki Danang. Meski sudah beberapa kali menolak, pria tua itu tidak tega mendengar cerita malang yang menimpa pemuda itu. Sehingga timbul niat dari hati Ki Danang untuk membantu Leo yang sedang dalam kesusahan.

Selama tiga hari di rumahnya, Leo diberi makan dan tempat tinggal oleh Ki Danang. Sambil setiap malam, Leo melakukan beberapa ritual dengan bimbingan Ki Danang. Ia juga melakukan puasa yang agak berbeda dengan puasa pada umumnya, tidak ada sahur dan ia hanya diperbolehkan buka puasa dengan sepotong singkong rebus dan segelas air. Leo tidak boleh makan lebih dari itu selama ritual ia jalankan.

“Ketika nanti udah ada kesepakatan, kamu gak akan bisa lari, Leo,” ucap Ki Danang sambil menatap ke depan dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Saya gak mau lari lagi, Ki. Sudah lelah saya lari, kali ini saya mau buktikan ke mereka kalau saya juga bisa berdiri menghadapi mereka,” jawab Leo.

“Kamu dendam?” tanya Ki Danang.

Leo menggeleng. “Saya hanya orang yang kecewa dan gak punya kuasa buat melawan. Saya cuma ingin tunjukkan pada mereka, kalau saya juga bisa,” kata Leo.

Ki Danang mengangguk. “Bagus, bagus kalau sudah mantap,” katanya.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ki Danang bersama Leo tengah menyusun berbagai macam kembang dan dupa di atas sebuah nampan bambu. Temaram sinar lampu minyak menerangi mereka. Tak hanya kembang, ada juga telur, buah-buah dan air kelapa yang disiapkan.

Setelah semuanya selesai, Ki Danang membuka pintu rumahnya. Pria tua itu memakai ikat kepala dengan corak batik di dahinya. Tak lama kemudian, Leo keluar dengan memakai pakaian serba hitam yang persis seperti Ki Danang pakai. Tangannya membawa sesaji yang sudah disiapkan.

Mereka mulai melangkah meninggalkan rumah. Di bagian depan, Ki Danang memimpin perjalanan sambil membawa lampu minyak. Di belakangnya, Leo berjalan mengikuti sambil membawa nampan berisi sesaji. Suasana sudah amat sepi saat itu, desa sudah terlelap dalam pekatnya malam. Warga sudah tidak ada yang di luar rumah, masing-masing berdiam di dalam rumahnya.

Sedangkan mereka berdua menerobos gelapnya malam dan masuk ke dalam hutan belantaran yang lebat. Pohon-pohon besar berdiri di sekitar mereka, suara jangkrik terus terdengar. Mereka melewati sebuah jalan setapak yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke dalam hutan menuju tempat yang menjadi tujuannya. Kiri dan kanannya begitu gelap, sehingga mereka hanya bisa menatap ke depan di mana cahaya lampu minyak menuntun mereka.

Perjalanan mereka tidaklah dekat, sudah hampir setengah jam mereka belum kunjung sampai. Aliran sungai sampai jalanan menanjak sudah mereka lewati. Hawa dingin pun kian terasa menusuk tulang. Tapi tak ada waktu bagi mereka untuk beristirahat. Meski sudah tua, Ki Danang sama sekali tidak mengeluh. Ia sudah terbiasa dan hafal betul jalan kecil ini.

Hingga pada akhirnya, perjalanan mereka membuahkan hasil. Sampailah mereka di sebuah gua yang dingin dan lembab. Gua itu berada di sisi bawah tebing, cukup besar untuk dimasuki manusia. Akar-akar pohon bergantungan di mulut gua. Sejak sampai di sana, hawa sudah tidak enak. Inilah yang disebut dengan Gua Setonggo.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 2

Setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka beristirahat beberapa menit di depan Gua Setonggo. Ki Danang menatap ke arah gua, memperhatikan sekitar yang gelap. Sementara binatang malam mulai bersuara dari balik semak belukar dan pepohonan yang lebat.

“Leo, sini kamu,” panggil Ki Danang. Leo lalu menurut dan mendekati pria tua itu sambil tetap memegang nampan sesaji di tangannya.

Di depan gua itu, Ki Danang melakukan sesuatu kepada Leo. Sambil berdiri memegang dupa, Leo memejamkan mata menghadap ke gua. Tangan Ki Danag mulai bergerak. Tangan kanannya menyentuh kening Leo. Sedangkan tangan kirinya bergerak-gerak ke udara seakan sedang mengumpulkan suatu energi dari tempat tersebut. Sambil melakukan gerakan ritual itu, mulutnya komat-kamit membaca mantra.

Yang tak ada menjadi ada, yang tak bisa menjadi bisa, yang tak terlihat jadi terlihat... Hadir, hadir, hadir, di sini ada suguhan.

Setelah beberapa detik melakukan gerakan-gerakan itu, Ki Danang melepas tangan kanannya dari kening Leo dan mengusap wajah Leo dengan tangan kirinya. Setelah Leo dipersilahkan untuk membuka matanya.

Setelah membuka mata, pandangan Leo berbeda dari sebelumnya. Suasana gua dan hutan yang semula gelap, kini berubah menjadi terang. Seakan ada cahaya yang menerangi sekitarnya, sehingga sudut-sudut gelap seperti semak dan dahan-dahan pohon yang semula gelap dan tak terlihat, kini bisa dengan jelas ia lihat. Entah bagaimana caranya, seakan ada cahaya yang masuk ke dalam matanya dan menerangi pandangannya.

“Kenapa jadi terang begini?” tanya Leo.
“Sana masuk,” perintah Ki Danang tanpa menjawab pertanyaan Leo.

“Masuk? Saya masuk ke gua?” tanya Leo lagi, Ki Danang hanya mengangguk mengiyakan. “Saya masuk sendiri?” tanyanya sekali lagi.

“Iya, sekarang kamu masuk ke dalam. Terus berjalan sampai jauh ke dalam. Sepanjang perjalanan, kamu akan melihat berbagai hal. Apa pun yang kamu lihat dan dengar, jangan berhenti! Terus fokus ke dalam. Kamu boleh berhenti ketika kamu sudah menemukan sebuah batu yang menyerupai meja, ada banyak bekas sesaji di sana,” tutur Ki Danang memberitahu Leo.

Awalnya Leo takut, ia sempat menelan ludah. Tapi ia kembali ingat akan tujuannya datang ke sini. Ia ingat bagaimana orang-orang memperlakukannya, bagaimana orang-orang meninggalkannya dan bagaimana sang sitri mencampakkannya di tengah kesusahan. Sehingga rasa takut itu tidak terasa lagi.

Ki Danang lalu menyalakan dupa yang ada di dalam nampan sesaji tadi. Asap dan wanginya mulai tercium. Ia mempersilahkan Leo untuk masuk, sementara dirinya berdiam di luar menunggu semuanya selesai. “Semua perjanjian yang kamu buat di dalam, bukanlah urusan saya,” ucapnya sesaat sebelum Leo masuk ke gua.

Kakinya mulai melangkah masuk. Leo mulai masuk ke dalam gua yang gelap itu, tanpa membawa lampu ataupun penerangan lainnya. Meski berada di tengah kegelapan, matanya bisa dengan jelas melihat sekitar. Hasil dari ritual yang sempat dilakukan Ki Danang barusan.

Bebatuan gua yang kasar dan tanahnya yang keras mulai menyapa Leo, langkahnya terus masuk ke dalam. Gua yang lembab itu penuh dengan lumut di bagian dindingnya dan genangan air di sepanjang jalan masuk. Hawa dingin semakin terasa, matanya terus menatap ke depan. Sesekali ia berjumpa dengan kelelawar yang beterbangan ke luar.

Mau apa?

Sebuah suara tiba-tiba terdengar berbisik di telinganya, sontak ia terkejut dan merinding. Akan tetapi Leo ingat dengan yang Ki Danang katakan. Ia tak boleh berhenti berjalan sebelum menemukan batu meja yang dimaksud itu. Ia mengatur nafasnya dan mencoba mengendalikan dirinya dari rasa takut.

Ada perlu apa kamu?

Cari apa kesini?

Ngapain masuk kesini?

Bisikan-bisikan itu terus terdengar, semakin ia abaikan justru semakin menjadi-jadi. Bisikan itu semakin ramai seolah ada banyak mulut yang berbicara di sekitar kepalanya, tapi Leo tidak bisa melihat sosok yang berbicara itu. Ia mulai berkeringat, tapi ia masih tetap teguh dengan niatnya datang ke tempat ini.

Tak hanya bisikan, gangguan yang ia alami semakin parah. Selama ia berjalan, mulai ada kontak fisik. Sesekali terasa ada yang membelai lehernya, menyentuh kakinya dan meniup wajahnya. Tapi sekali lagi, tidak ada orang selain dirinya di dalam gua itu.

Hihihi ....

Sekilas terdengar suara tertawa dari belakangnya, nada tawanya seolah menertawakan dan mengejek Leo. Sampai puncaknya, Leo mulai peka dengan keadaan sekitarnya. Ia merasakan banyak orang yang sedang mengelilinginya. Hingga akhirnya, mata Leo menangkap beberapa makhluk yang berdiri di dalam gua.

Ada banyak makhluk halus yang dibungkus kain kafan, siluman dan jin-jin yang berdiri di sisi kiri dan kanan gua. Semuanya menatap ke arah Leo. Bentuk mereka sangat mengerikan dan beragam. Sesosok pocong berdiri sambil menunjukkan wajahnya yang hitam gosong, tapi bola matanya yang hampir keluar mengikuti setiap gerak-gerik Leo. Ada pula beberapa siluman aneh dengan mata besar dan lidah yang menjulur ke luar.

"Mas? Ngapain? Mau ngelamar aku ya? Mau nikahin aku?" tanya seorang wanita cantik dan seksi yang tiba-tiba muncul di tengah gua. Dengan pakaian ketat yang tubuhnya dan bibir merah menggoda.

Tapi Leo tetap teguh mengabaikan meski wanita itu terus mencoba mendapatkan perhatiannya.

* Sekilas Info: Selain tempat pesugihan, Gua Setonggo juga sering digunakan untuk pernikahan antara manusia dan jin.

Nafas Leo sudah tidak teratur lagi, tubuhnya gemetar melihat sosok-sosok mengerikan yang ada di dalam gua tersebut. Tapi ia harus menahannya, ia teguhkan niatnya untuk sampai di titik yang dimaksud oleh Ki Danang. Hingga langkahnya terhenti saat kakinya menabrak sebuah batu datar berbentuk meja.

Inilah yang ia cari, usahanya membuahkan hasil. Setelah lebih dari sepuluh menit berjalan memasuki gua dengan berbagai gangguan yang ia alami, akhirnya ia sampai di posisi yang menjadi tujuannya.

Leo lalu menaruh nampan sesaji di atas batu tersebut. Ia melihat sekitar, sosok-sosok menyeramkan itu masih berdiri di belakangnya sambil menatap Leo. Tapi sekali lagi, ia tidak peduli. Ia hanya fokus dengan apa yang sudah diajarkan oleh Ki Danang selama tiga hari ini. Dan di malam ini, ia akan membuktikan hasilnya.

Leo duduk bersila di depan batu itu, memejamkan mata dan mulai membaca mantra-mantra yang sudah ia hafalkan. Sementara dupa terus menyala di tengah kegelapan gua. Ia mencoba untuk fokus.

Percuma, kamu gak akan bisa ....

Sebuah bisikan kembali terdengar dari arah belakang.

Pulang saja, kamu gak akan bisa ....
Sia-sia, tidak ada gunanya ....

Kamu gak akan dapat apa-apa di sini ....

Bisikan dan gangguan terus terdengar, tapi Leo tetap diam di sana. Tidak mempedulikan semua gangguan yang datang padanya. Sambil terus menutup matanya, ia tarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan lepas. Beberapa kali ia ulangi seperti itu sambil terus komat-kamit membacakan mantranya.

“Mau apa kamu datang ke sini?”

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah depan. Suara itu terdengar begitu berat dan serak. Lumayan keras hingga menggema di seluruh gua. Dan saat itu juga, Leo merasakan hawa yang sangat berat di sekitarnya. Seperti ada sebuah energi besar yang menekan dirinya. Sehingga ia merasa sedikit sesak di tempat itu.

Leo membuka matanya perlahan, langsung menatap ke arah depan. Tampak sesosok makhluk berbadan besar dengan kulit berwarna hijau tua, taring yang mencuat dari dalam mulutnya, mata besar dan merah menyala melotot ke arah Leo. Rambutnya gimbal berantakan terurai ke bawah. Auranya amat negatif. Ialah sosok iblis yang berkuasa gua Setonggo. Di sekitar makhluk itu, berdiri berbagai makhluk halus lainnya seperti pocong, dan wanita-wanita berambut panjang serta berpakaian serba putih yang merupakan bawahannya.

“Saya punya permintaan!” jawab Leo dengan tegas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Trus mahluk itu memberi 3 permintaan

Part 3 - Siasat Iblis

“Apa yang kamu inginkan sampai datang ke sini?” tanya sosok iblis itu kepada Leo.

“Saya ingin harta, kekayaan. Keadaan saya sedang susah, hutang di mana-mana, saya ditinggal istri. Usaha juga gagal, saya butuh bantuan. Tolong berikan saya bantuan,” kata Leo memohon.

“Lantas apa yang bisa kamu berikan ke saya?” tanya sang iblis lagi.

“Segalanya! Apa aja!” jawab Leo dengan tegas.

Si makhluk menyeramkan itu belum menjawab, ia justru melotot dan menatap ke arah Leo. Seakan ingin menguji kesungguhan pemuda itu. Perlahan Leo sudah kehilangan rasa takutnya, meski energi iblis itu sangat kuat hingga membuat wajahnya pucat. Ditambah makhluk-makhluk seperti pocong dan lainnya yang juga terus mengganggunya sejak tadi.

Beberapa saat kemudian, iblis itu melempar sebuah golok ke arah Leo. Besi pipih itu menghantam tanah batu gua dengan begitu keras hingga membuat suara yang begitu nyaring. Hampir saja Leo terkena lemparan benda tajam tersebut, beruntung ia sempat menghindar.

“Ambil golok itu!” perintah sang iblis menyeramkan itu.

Leo kemudian menurut, ia ambil golok yang tergeletak di tanah itu. “Sekarang pejamkan matamu!” tambahnya. Lagi-lagi Leo menurut dengan apa yang diperintahkannya.

Leo menutup matanya sambil mengucap mantra-mantra perlindungan yang diajarkan oleh Ki Danang. Mantra itu ditujukan untuk berjaga-jaga, apabila makhluk tersebut berniat buruk mengerjainya. Sehingga tubuh Leo sudah terproteksi.

“Buka matamu! Apapun sosok yang kamu lihat setelah membuka mata, kamu harus membunuhnya dengan golok yang kuberikan tadi. Apa kamu sanggup?” tanya iblis bergigi runcing itu.

“Siap!” jawab Leo sambil memegang erat golok di tangannya dan siap menebas apapun di depannya setelah ia membuka mata.

“Buka matamu!”

Setelah mendengar perintah, Leo langsung membuka matanya. Betapa kagetnya ia saat melihat sosok yang ada di depannya setelah ia membuka mata. Ia melihat anaknya sendiri sedang duduk di atas batu di depannya. Lengkap dengan baju dan mainan yang ia belikan khusus untuknya. Kulitnya yang halus dan wajahnya yang lugu, menatap ke arah Leo.

Tubuh Leo bergetar hebat saat melihat anaknya yang tiba-tiba hadir di dalam gua, sudah lama ia tidak bertemu dengan anak laki-lakinya itu. Tangannya sudah siap mengangkat golok. Tapi setelah melihat apa yang ada di hadapannya, ia menurunkan kembali golok itu. Nyalinya seketika ciut. Ayah mana yang tega membunuh anaknya sendiri yang begitu lucu dan lugu. Golok itu pun akhirnya terlepas dari tangan Leo dan jatuh ke tanah.

“Hahahahaha ....” Iblis itu tertawa puas melihat Leo yang ciut. “Ayo bunuh! Kamu tunggu apa lagi? Kamu mau kekayaan, kan? Ayo bunuh dia!” perintah makhluk jahat itu dengan nada keras dan penuh semangat.

“Ayah?” panggil anak itu.

Suaranya membuat Leo semakin gemetar, nafasnya tak karuan. Matanya berkaca-kaca sambil menatap sang anak. “Raffa?” panggil Leo kepada anaknya. Ia tersenyum miris, sesaat sadar tentang betapa buruknya apa yang ia lakukan saat ini. Ia membuang muka, menahan tangisnya. Dirinya semakin dikendalikan oleh emosi dan kesedihannya. Di depan anaknya, Leo yang tidak berdaya. Padahal sebelumnya ia telah membulatkan tekad.

Tinggal selangkah lagi, apabila Leo sanggup membunuh anaknya sendiri maka perjanjian dengan setan dapat terpenuhi. Di tengah kesedihan itu, Leo mencoba mengontrol dirinya. Ia mencoba menggunakan akal dan logika. “Kenapa anakku ada di sini?” tanyanya dalam hati.

Bagaimana caranya sang anak tiba-tiba bisa berada di dalam gua ini? Pikiran itu sontak membuat Leo sadar bahwa semua ini adalah bagian dari permainan sang iblis. Ia sengaja menghadirkan sang anak untuk memainkan sisi emosional Leo. “Ini gak nyata? Ini Cuma permainan!” kata Leo sambil meyakinkan dirinya sendiri.

“Kalau menurutmu, ini cuma permainanku. Maka bunuhlah dia, Leo! Hahaha!” Iblis itu kembali tertawa.

Saat itu juga ia ambil kembali golok yang terjatuh ke tanah, ia tatap anaknya itu. Berusaha yakin dalam hati bahwa itu bukan anaknya. Ia menarik nafas panjang, matanya melotot ke arah sang anak. Ia berteriak lalu menebas leher anaknya dengan menggunakan golok yang ia pegang.

Darah segar pun muncrat saat golok tajam itu menebas leher anaknya. Luka robek mengaga tercipta, memutus pembuluh darah dan tenggorokan anaknya seperti kambing yang disembelih. Bahkan kepala anak malang itu hampir putus. Anaknya lalu terkulai lemas dan jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.

Setelah Leo menebasnya, anak itu pun berubah menjadi asap dan perlahan menghilang dari pandangan. Benar saja, semua ini hanyalah ujian dari sang setan kepada Leo. Pemuda itu pun lega, dirinya yang lemas lalu jatuh terduduk ke tanah sambil menghela nafas.

Tangannya menyentuh tanah gua yang dingin, ingin rasanya ia segera menyelesaikan semua ini. Iblis itu pun puas melihat Leo yang sangat tunduk dengan perintahnya.

“Hei, anak manusia! Ingatlah bahwa aku akan memberikanmu harta dan kekayaan. Kemudian kau akan memberikanku segala yang aku inginkan darimu!” tegas sang iblis.

“Siap!” ujar Leo dengan tegas.

Setelah Leo tegas mengatakan itu, tiba-tiba sebuah telur yang ada di dalam sesaji yang dibawanya pecah dengan sendirinya. Pecahnya telur itu menggambarkan perjanjian antara Leo dengan sang iblis yang sudah mencapai kata sepakat. Sejak saat itu, Leo tidak akan bisa lepas dari perjanjian yang telah dibuatnya.

“Sekarang pulanglah ke rumahmu, bawa dan simpan baik-baik golok itu! Kekayaan sudah menunggumu,” kata sang iblis.

“Terima kasih! Terima kasih!” Leo sangat senang dengan tujuannya yang telah tercapai, sampai-sampai ia membungkuk ke arah iblis yang merupakan penguasa Gua Setonggo itu

Setelah semuanya selesai, Leo buru-buru berjalan keluar dari gua sambil tetap membawa golok itu di tangannya. Selama perjalanan ke luar, tak ada lagi gangguan dari para penunggu gua. Ia keluar sebagai pemenang. Anehnya, perjalanan menuju ke luar gua hanya berlangsung selama satu menit. Padahal ketika masuk ia sampai sepuluh menit untuk mencapai posisi yang dituju.

Leo kaget saat sampai di luar gua. Secercah cahaya oranye bersinar dari arah timur, masuk melalui celah-celah pepohonan yang lebat. Matahari sudah terbit, dan malam perlahan berganti menjadi pagi. Samar-samar suara kokok ayam terdengar dari arah pemukiman warga, bersahutan dengan suara burung-burung dahan pohon. Waktu berlalu begitu cepat. Padahal Leo merasa hanya beberapa menit di dalam gua.

Ki Danang yang menghabiskan malamnya dengan bermeditasi lalu bangkit dari duduknya, ia segera berjalan mendekat ke arah Leo. “Semuanya lancar?” tanya Ki Danang.

“Lancar, Ki!” jawab Leo dengan senang hati. “Dia bilang saya bakal kaya, dia juga—“

“Ssst!” Ki Danang menghentikan Leo bicara sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. “Gak usah cerita sama saya, itu urusan kamu sama dia. Saya gak mau tahu,” katanya.

“Sekarang ayo pulang,” ajak Ki Danang yang kemudian kembali memimpin perjalanan kembali ke rumahnya.

Meski matahari sudah muncul di langit, tapi lebatnya hutan membuat suasana menjadi gelap. Sehingga Ki Danang kembali menyalakan lampu minyaknya. Mereka melewati kembali jalan setapak yang mereka lewati semalam.

Leo pulang dengan wajah sumringah, ia tak sabar untuk menikmati apa yang sang iblis janjikan kepadanya. Ia sangat bersemangatm hasratnya menggebu-gebu ingin segera melihat langsung apa yang ia dapat dari perjanjiannya dengan setan. Pagi itu, merupakan pagi yang ceria untuk Leo.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Lanjutttkeeeeeeunnnn
profile-picture
harrywjyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
emoticon-Sundulemoticon-Sundul Upemoticon-Sundulemoticon-Sundul Up
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 4 - Pulang

Leo berdiri di sebuah gua yang gelap dan sepi. Suara air menetes terdengar menggema saat tetesannya menyentuh genangan air di tanah. Suara jangkrik dan samar-samar bunyi binatang malam lainnya terdengar. Leo kebingungan, tiba-tiba dirinya kembali ke gua ini. Dengan wajah takut ia melihat sekitar.

“Ayah ....” Suara seorang anak kecil memanggilnya. Suara itu berasal dari Raffa anaknya sendiri. Dengan jelas, Leo bisa mendengar dalam tidurnya.

“Kenapa ayah begini? Kenapa, Ayah?” tanya Raffa dengan nada yang hampir menangis.

“Raffa?” panggil Leo, akan tetapi Raffa tidak kunjung muncul. Hanya suaranya saja yang terdengar.

Tak lama kemudian, Leo membuka mata. Akhirnya ia sadar bahwa semuanya hanyalah mimpi. Setelah malam yang melelahkan itu, Leo memang mengistirahatkan badannya di rumah Ki Danang. Di atas sebuah ranjang bambu sederhana dirinya berbaring, terlelap sepanjang hari dan baru terbangun ketika mengalami mimpi itu. Melewati jam demi jam dalam tidurnya, sementara Ki Danang pergi entah kemana meninggalkannya seorang diri.

“Cuma mimpi,” gumamnya yang masih terbayang-bayang dengan apa yang terjadi di gua semalam.

***

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, keesokan harinya sudah saatnya bagi Leo untuk berpamitan. Tak ada alasan lagi baginya untuk menetap lebih lama di rumah Ki Danang. Pagi itu ia mulai mengemas barang-barangnya. Baju-bajunya ia masukkan ke dalam tas, ia memakai pakaiannya dengan rapi. Mengenakan sepatu dan jaket, siap untuk pergi meninggalkan rumah reyot yang menampungnya selama beberapa hari ini.

Di luar, Ki Danang duduk sambil menghisap sebatang rokok di antara kedua bibirnya. Matanya memperhatikan ayam-ayan peliharaannya yang berwarna hitam legam. Sesekali ia sebarkan beras ke arah ayam-ayamnya agar mereka bisa makan.

Tak lama kemudian, Leo keluar dengan pakaian rapi. Ki Danang sudah tahu bahwa pemuda itu akan meninggalkannya hari ini. Leo duduk di samping Ki Danang, pria tua itu menoleh dan tersenyum ke arahnya. “Udah?” tanya Ki Danang.

“Udah,  Ki. Saya harus pulang,” kata Leo.
Ki Danang mengangguk. “Pulanglah sana, banyak yang nunggu kamu di kota,” ucap pria tua itu sambil membuang asap rokok dari dalam mulutnya.

“Ki, terima kasih banyak ya. Atas semuanya,” ucap Leo. “Setelah apa yang Ki Danang berikan ke saya, makanan, tempat tinggal sampai bantu urusan saya. Semuanya belum bisa saya balas sekarang,” kata Leo.

“Gak apa-apa,” jawab singkat Ki Danang.
“Sebenernya saya gak mau pergi, saya nyaman di sini. Di desa ini. Rasanya tenang dan tentram, apalagi saya bisa ketemu sama orang baik seperti Ki Danang.” Leo kembali bicara.

Ki Danang menoleh dan menatap Leo. “Kamu bisa main ke sini kapan-kapan. Yang penting sekarang, kamu pulang dan kamu selesaikan urusan kamu di kota, kalau ada apa-apa boleh telepon saya,” ucap Ki Danang.

Setelah sekian banyak terima kasih yang Leo ucapkan kepada pria tua itu, mereka akhirnya beranjak dan mulai berjalan meninggalkan rumah. Bersama Ki Danang, Leo diantar menuju ke gerbang desa. Melewati sawah dan ladang penduduk, kemudian masuk ke dalam pemukiman yang ramai oleh rumah-rumah warga. Sesekali penduduk menyapa mereka saat berpapasan di jalan. Hawa pegunungan terasa sejuk, ditambah ramah senyum para warga desa.

Bagi Leo sendiri, selama beberapa hari ini Ki Danang bagaikan ayah baginya. Dan kini, ia kembali menatap gerbang desa yang menjadi pertanda bahwa dirinya akan segera meninggalkan desa ini untuk kembali berkecimpung ke dalam sibuknya perkotaan.

Sesampainya di gerbang desa, mereka mendekat ke sebuah saung bambu. Di mana tampak beberapa orang berjaket duduk di sana dengan santainya sambil mengobrol. Di depannya, motor-motor berjajar rapi.

“Ojek, Mang!” kata Ki Danang.

Dengan sigap, salah satu orang turun dari saung dan buru-buru memajukan motornya. Wajahnya amat senang melihat datangnya penumpang. Segera ia nyalakan motornya, suara mesin pun mulai terdengar dan asap tipis keluar dari knalpotnya. Leo lalu naik ke jok belakang motor tersebut.

“Leo, jaga dirimu baik-baik,” ucap Ki Danang mengucapkan pesan terakhirnya pada pemuda itu.

“Baik, Ki. Terima kasih atas semuanya,” balas Leo.

“Jalan, Mang. Sampe jalan raya ya,” ucap Ki Danang. Setelah itu motor pun mulai melaju meninggalkan gerbang desa membawa Leo di belakangnya. Ki Danang masih berdiri di posisinya semula, menatap Leo yang perlahan jalan menjauh meninggalkannya. Pelan-pelan mulai hilang melewati tikungan.

Dalam diamnya, mata Ki Danang melihat sesosok perempuan tak kasat mata berbaju putih dan berambut panjang selutut yang terbang mengikuti Leo dari belakang. Hanya dirinya yang bisa melihat. Pria tua itu menghela nafas, kemudian berjalan pergi masuk kembali ke memasuki gerbang desa.

***

Singkat cerita, Leo menumpang sebuah bus antar kota untuk sampai kembali ke kota asalnya. Selama beberapa jam dirinya duduk melewati jalan-jalan yang menghubungkanm antar daerah. Sepanjang jalan dirinya menatap hijaunya sawah melalui jendela, dan megahnya pegunungan yang berdiri di kejauhan sana.

Di atas aspal yang halus itu, bus berjalan tanpa halangan. Angin sepoi-sepoi masuk dari jendela yang terbuka sedikit. Pelan-pelan Leo terlelap, tertidur bersandar di kursi bus yang nyaman. Membiarkan bus itu membawanya ke tempat tujuan.

Tak terasa, waktu berlalu berlalu begitu cepat. Setelah sampai di terminal tujuan, Leo naik kendaraan umum untuk sampai di rumahnya. Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya ia tiba dan melihat sebuah rumahnya penuh debu yang tak terurus. Sedangkan di sampingnya, rumah tetangga berdiri megah dengan mobil-mobil dan halamannya yang hijau.

Leo mulai melangkah mendekat ke rumahnya, melewati halaman depan yang kotor dan penuh dedaunan kering. Sehingga menimbulkan bunyi ketika menginjaknya. Ia menatap garasi mobil yang hampir semua isinya sudah ia jual. Rumah ini merupakan rumah minimalis di salah satu perumahan di kota, dengan dua lantai dan tiga buah kamar tidur yang Leo beli sekitar empat tahun lalu.

Kaki Leo menginjak lantai rumah, matanya tertuju ke arah meja kecil yang ada di pelataran. Terdapat berbagai kertas di atas meja itu. Satu per satu kertas itu ia ambil. Ia pun sadar bahwa kertas itu berasal dari para penagih hutang yang datang selama dirinya pergi meninggalkan rumah. Kertas bertuliskan ancaman dan peringatan untuknya.

Dengan kesal, Leo merobek-robek kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah. “Anjing!” bentaknya sambil menendang meja. Anehnya, meja yang ia tendang itu seketika langsung roboh. Meja yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi seketika patah. Bahkan Leo pun sampai kaget.

Tangan Leo lalu memegang gagang pintu yang penuh debu, lalu membuka pintu tersebut. Kakinya mulai melangkah ke dalam rumah yang sudah berantakan. Begitu sepi, karena sang istri mendapat hak asuh anaknya.

Ia lempar tasnya ke atas sofa. Buru-buru dirinya mendekat ke sebuah kulkas. Sayangnya, ketika kulkas itu dibuka, tidak ada apa-apa di dalam sana. Bahkan air mineral pun tidak ada.

Leo lalu menutup kembali kulkas itu dengan membantingnya. Suara dering handphone tiba-tiba terdengar dari arah kamarnya. Ia buru-buru, berlari ke dalam kamar. Sudah berhari-hari handphone itu ia tinggal di dalam kamar. Ia buka laci dan segera menyalakan layarnya.

Deretan pesan masuk dan panggilan tak terjawab memenuhi layarnya. Satu per satu ia membacanya. Rata-rata berasal dari bank dan para penagih hutang. Leo duduk di atas kasur dan fokus menggeser-geser layar melihat semua notifikasi di handphone-nya. Sampai akhirnya terdapat sebuah pesan yang membuat Leo begitu tercengang.

Sebuah pesan dari kerabatnya yang berbunyi, “Leo, anakmu meninggal.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Nungguin updatenya 😁
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkeeeeuuuunnnnnnnnnn
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan

Part 5 - Kematian Misterius

Leo begitu terkejut dengan kabar mendadak itu, ia semula tidak percaya. Ia berharap pesan itu salah kirim. Layar handphone terus ia usap-usap ke bawah, melihat berbagai notifikasi yang masuk. Tapi ia pun sadar, yang memberinya kabar adalah salah satu kerabat yang ia percaya.

Leo berjalan cepat ke luar kamar, dirinya tidak tenang. Wajahnya cemas dan nafasnya tak teratur, jari-jarinya yang gemetar terus bergantian menyentuh layar handphone. Sampai akhirnya ia menyandarkan dirinya di sofa yang penuh debu dan sarang laba-laba. Ia coba menelepon salah satu kerabat yang bisa ia percaya.

Satu menit handphone itu ia tempelkan di telinga, belum ada jawaban. Dengan harap-harap cemas, ia menunggu seseorang mengangkat teleponya. Siapa saja, sehingga ia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di tengah kegelisahannya, seseorang mengangkat teleponnya. Terdengar suara dari seberang sana.

“Halo? Nanda?” tanya Leo.

“Leo?” sapa seseorang dari dalam telepon.

“Nan, kenapa, Nan? Raffa kenapa?” tanya Leo panik.

Laki-laki bernama Nanda itu tidak menjawab, dirinya diam beberapa detik setelah Leo bertanya. “Dari mana aja lo, Leo?” Nanda justru bertanya balik. “Anakmu meninggal, Raffa meninggal,” ucapnya memberitahu.

Mendengar itu, Leo shock bukan main. Badannya semakin gemetar, matanya berkaca-kaca. Nafasnya terengah-engah. Ia cengkeram handphone itu kuat-kuat. “Jangan bercanda kamu. Jangan main-main,” kata Leo.

Terdengar helaan nafas dari Nanda. “Lo selama ini kemana aja? Gue di sini sama temen-temen sibuk urus pemakaman anak lo. Sedangkan lo entah berada di mana, dan sekarang gue kasih tau lo kenyataannya, lo justru bilang gue bercanda? Lo yang kayanya bercanda!” kata Nanda sedikit kesal dalam telepon itu.

Leo tidak bisa bicara lagi. Ia yakin sebelum pergi meninggalkan kota, sang anak masih dalam keadaan sehat wal afiat. Selama ini ia berikan yang terbaik untuk anaknya. Vitamin dan makanan bergizi, hanya agar sang anak bisa tumbuh dengan sehat. Tak sedikit pun ia menyangka kalau anaknya semata wayangnya harus meninggal mendadak.

Dalam diamnya, tiba-tiba suara Nanda membuatnya tersadar. “Sekarang lo mau gimana?” tanya Nanda. “Lo liat pesan-pesan di telepon lo?” tambahnya.

“Iya, Nan. Pesan-pesan gue isinya ucapan duka cita,” jawab Leo dengan suara bergetar akibat menahan tangis.

“Gue jemput lo sekarang juga, lo di rumah, kan?” tanya Nanda.

“Iya,” jawab Leo singkat.

Setelah itu Nanda mematikan teleponnya. Leo yang sudah lemas lalu melepas telepon dari telinganya. Lalu ia taruh handphone-nya begitu saja di atas sofa. Ia tatap langit-langit, matanya kosong, wajahnya tanpa ekspresi. Tapi bulir-bulir air mata siap jatuh membasahi pipinya. Pikirannya mulai tak karuan. Selama ini, sang anak memang diasuh oleh ibunya. Ia jarang sekali bertemu dengan anaknya karena sang mertua yang selalu mempersulit setiap kali ia mau bertemu. Kini tiba-tiba saja, ia mendengar kabar yang memilukan.

“Raffa,” panggilnya dengan nada lirih. Ia terus terbayang akan anaknya, memikirkan bagaimana anak kecil itu harus meregang nyawa tanpa sepengetahuannya. Ia menyesal telah meninggalkan kota dan menghilang tanpa kabar. Sehingga dirinya tidak ada di samping sang anak ketika hendak meninggalkan dunia ini.

Air matanya mulai menetes membasahi pipi. Suara tangisannya yang pilu terdengar mengisi ruangan yang sunyi itu. Leo kian terpuruk di tengah kesepian dan berbagai masalah hidup yang menimpanya.

***

Setengah jam kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di rumah Leo. Kendaraan itu terparkir di pinggir jalan komplek. Dari dalam mobil, Nanda keluar dengan setelan kemeja biru muda dan celana hitam, ia berjalan mendekat ke arah rumah Leo. Pria berusia 25 tahun itu tampak serius sambil sesekali melihat jam tangannya.

Sesosok perempuan tak dikenal memakai gaun putih berdiri di depan rumah Leo. Nanda mendekati lalu menyapanya. “Permisi, Mbak,” ucap Nanda ketika berjalan melewatinya dengan wajah bingung. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke pelataran rumah Leo.

“Leo?” panggilnya dari depan pintu. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia menoleh ke arah perempuan tadi. “Mbak, ini ada orangnya gak ya?” tanya Nanda. Tapi perempuan itu tidak menjawab dan tetap berdiri membelakanginya.

Nanda coba buka pintu itu, ternyata tidak dikunci. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah yang penuh debu itu. Begitu masuk ke dalam, matanya mendapati Leo sedang terduduk lemas di sofa dengan wajah sedih dan pipi yang telah basah dengan air mata. Nanda bisa mengerti dengan apa yang temannya hadapi. Ia melangkah mendekat, kemudian duduk di samping Leo.

“Kita ke makam sekarang,” ajaknya kepada Leo.

Dengan lemas, kepala Leo menoleh ke Nanda. “Anak gue beneran meninggal, Nan?” tanyanya dengan nada lirih.

Nanda membuang muka, enggan menjawab pertanyaan yang sudah berkali-kali ia jelaskan di telepon. “Ya,” jawab Nanda singkat sambil menganggukkan kepala.

Ia biarkan Leo beberapa saat mengendalikan emosinya. Lalu sekitar sepuluh menit berlalu, mereka bersama-sama meninggalkan rumah. Leo sudah cukup kuat untuk bangkit dan berjalan keluar. Nanda memastikan rumah temannya itu sudah aman dan terkunci rapat. Setelah melangkah keluar, ia teringat dengan perempuan yang berdiri di depan rumah Leo. Sekarang perempuan misterius itu sudah tidak ada.

Tapi ia tak mempedulikannya, segera ia bawa temannya itu masuk ke dalam mobil. Hawa sejuk AC terasa menyentuh kulit sesaat setelah mereka sama-sama masuk ke dalam kendaraan roda empat itu. Nanda menyalakan mesin. Entah kenapa, matanya seolah tergerak untuk kembali menoleh ke rumah Leo. Dan di sana, perempuan itu sudah kembali berdiri di posisinya semula. Karena penasaran, Nanda bertanya.

“Leo, itu siapa ya?” tanya Nanda sambil menunjuk wanita itu.

Leo yang enggan bicara hanya menjawab secukupnya. “Gak ada siapa-siapa di sana, Nan,” jawab Leo sambil bersandar lemas di kursi depan mobil dengan wajah sedih.

Sadar keadaan temannya yang sedang berduka, ia memutuskan untuk tidak mempedulikan perempuan misterius itu. Segera ia injak pedal gas dan melajukan mobilnya melewati jalanan komplek yang kasar. Sesekali mereka bertemu dengan polisi tidur, sehingga mobil mereka sedikit berguncang dan harus berjalan pelan. Setelah melewati portal keluar, barulah mereka bertemu jalan raya. Nanda pun mulai memacu mobilnya dengan lebih cepat lagi.

Setelah melewati perjalanan yang agak jauh, mereka berpindah dari jalan raya ke jalan kecil yang terhubung ke pemukiman warga yang padat penduduk. Rumah-rumah berdiri saling berhimpitan, dan jalan yang mereka lewati hanya cukup untuk satu mobil. Bila ada kendaraan dari arah berlawanan, maka salah satu dari mereka harus mengalah.

Beberapa meter masuk ke dalam, akhirnya mobil mereka berhenti di lahan parkir salah satu tempat pemakaman umum. Leo yang sampai dan melihat sekitar merasa tak siap. Ia tak siap dihadapkan dengan suasana ini. Teringat bagaimana dahulu ia kehilangan kedua orang tuanya.

“Ayo turun,” ajak Nanda.

Mereka berdua keluar dari mobil. Setelah memastikan mobilnya terkunci dengan aman, Nanda memandu Leo untuk masuk ke dalam area pemakaman. Ia melangkahkan kakinya di depan Leo untuk menunjuk arah, berpijak dengan jalanan kecil berbahan batu yang dibuat memanjang membelah area pemakaman. Dari belakang, Leo mengikuti.

Nanda berbelok arah, berjalan menuju sebuah makam baru yang berada di bawah pohon rindang. Tampak dua orang perempuan yang memakai kerudung abu-abu tengah berada di sana sambil membacakan doa-doa. Nanda dan Leo terus bergerak, menginjak tanah merah yang lembek khas pemakaman.

Mereka sampai di depan makam. Leo melihat dua orang perempuan yang sedang berdoa itu. Dialah mantan istri dan juga mertuanya. “Risa ...,” panggil Leo. Tapi setelah melihat wajah Leo, sang mantan istri memalingkan wajah dan enggan untuk melihatnya.

Melihat respon negatif dari sang mantan, Leo kemudian menolehkan pandangannya ke arah papan kayu yang tertancap di makam. Tertulis di papan kayu itu. Raffa Alvanda, nama anak semata wayangnya.

"Hah?" Dengan wajah tak percaya, Leo menatap nisan itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
emoticon-Sundulemoticon-Sundul Upemoticon-Sundulemoticon-Sundul Up
emoticon-Sundulemoticon-Sundul Up
Mantap... Ikut nenda di sini ...
Lanjut dongss gan mas emoticon-mudik
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Keren nih... gelar karpet disini dah nunggu update lanjutan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkeeeeeuuunnnn pokoke
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutan 6 bang
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mantap izin pantau bang 🙏
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 4


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di