KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62d8a46592ccb536e46842d5/mau-dieksekusi-mati-tapi-malah-terlihat-hepi-kamiskriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal


Joe Arridy lahir pada tanggal 29 April 1915 di Pueblo, Colorado. Ayahnya yang bernama Henry dan ibunya yang bernama Mary, merupakan imigran yang datang dari Berosha, Syria, pada tahun 1909, untuk mencari pekerjaan di Amerika. Kedua orangtua Arridy sama sekali tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris, namun ayahnya mengetahui jika sebuah pabrik baja terbesar di Pueblo saat itu sedang membutuhkan karyawan.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Perkembangan Arridy sebagai seorang anak kecil dalam hal berbicara terbilang cukup lambat, dia hanya mampu berbicara dalam beberapa kata saja. Karena walaupun fisiknya terbilang sehat, namun dia memiliki masalah mental. Setelah satu tahun sempat mengenyam pendidikan di sekolah dasar, kepala sekolah di sekolah tersebut mengatakan pada orangtua Arridy bahwa sebaiknya dia tetap berada di rumah karena dia tidak dapat menerima pelajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, selama tiga tahun berikutnya, Arridy hanya diam di rumah dan bermain seperti layaknya seorang anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, ayahnya berhenti dari pekerjaannya dan mulai melakukan penyelundupan untuk menafkahi keluarganya. Hal tersebut membuatnya keluar masuk penjara, dan ibunya tidak mampu mengawasi Arridy yang sering menghabiskan waktunya dengan berkeliling di kota Pueblo. Karena ayahnya merasa frustasi dan melalui bantuan seorang teman, Arridy dimasukkan ke State Home and Training School for Mental Defectives di Grand Junction, Colorado, hingga dia beranjak dewasa.

Namun, tidak hanya di tempat dia tinggal, di sekolah barunya pun Arridy mengalami perlakuan yang buruk serta kerap dipukuli oleh teman sebayanya. Bahkan, Arridy pernah didatangi oleh sekelompok anak laki-laki Afro-Amerika yang lebih tua dan memaksa Arridy untuk melakukan tindakan seksual dengan mereka. Seorang petugas yang kebetulan lewat, sempat melihat bahwa salah satu dari mereka sedang melakukan sodomi terhadap Arridy. Dan petugas tersebut pun kemudian segera menyelamatkan Arridy.
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Pada tanggal 14 Agustus 1936, dua orang gadis yang berasal dari keluarga Drain, mengalami penyerangan ketika mereka sedang tidur di rumahnya di Pueblo, Colorado. Barbara Drain yang berumur 12 tahun dan kakak perempuannya yang bernama Dorothy Drain yang berumur 15 tahun, dipukul oleh orang yang tidak dikenal dengan menggunakan kapak. Dorothy yang sempat diperkosa sebelum dianiaya, langsung meninggal di tempat. Sedangkan Barbara mampu bertahan hidup walaupun dalam keadaan koma.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Arridy yang memutuskan untuk meninggalkan sekolah dan melarikan diri dengan menaiki kereta api barang, serta perjalanannya berakhir disebuah stasiun kereta api di Cheyenne, Wyoming, ditangkap oleh petugas stasiun tersebut pada tanggal 26 Agustus 1936 karena menggelandang dan terlihat berkeliaran di stasiun. Dia kemudian diserahkan ke Laramie County Sheriff yang bernama George Carroll. Mengetahui beredarnya berita tentang penyerangan terhadap dua orang gadis keluarga Drain, Carroll mulai melakukan interogasi terhadap Arridy. Ketika ditanya, Arridy mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan dari Pueblo, Colorado, dengan menggunakan kereta api barang. Dan ketika dia ditanya mengenai pembunuhan yang terjadi, dengan mudahnya Arridy mengakui hal tersebut.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminalGeorge Carroll

Ketika George berusaha untuk mengkonfirmasi kebenarannya dengan menghubungi Kepala Kepolisian Pueblo yang bernama Arthur Grady, Kepala Kepolisian Pueblo tersebut justru menyebutkan bahwa mereka sudah menangkap pelaku yang sebenarnya yang bernama Frank Aguilar. Aguilar merupakan seorang buruh berumur 35 tahun yang berasal dari Meksiko, yang sempat bekerja untuk keluarga Drain, namun kemudian dipecat sebelum dia melakukan penyerangan. Dan barang bukti kapak yang digunakan untuk melakukan penyerangan pun ditemukan di rumahnya. Namun, Carroll yang mendengar hal tersebut sempat mengatakan bahwa Arridy mengaku berkali-kali bahwa dia berada di tempat kejadian dengan seorang pria yang bernama Frank.

Setelah dikembalikan ke Pueblo, Colorado, Arridy kembali membuat pengakuan dengan memberikan beberapa versi yang berbeda tentang peristiwa pembunuhan yang terjadi, dan dengan fakta yang keliru yang dikatakan olehnya secara berulang-ulang. Pada awalnya dia mengaku bahwa dia menggunakan tongkat pemukul ketika melakukan penyerangan. Namun, karena pihak berwajib mengatakan bahwa mereka sudah menemukan kapak yang digunakan untuk membunuh, Arridy kemudian mengaku bahwa selain menggunakan tongkat pemukul, dia juga menggunakan kapak.
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminalFrank Aguilar

Aguilar kemudian mengaku bahwa dia adalah pelaku yang sebenarnya, dan dia juga mengatakan bahwa dia belum pernah bertemu dengan Arridy sebelumnya. Pada tanggal 15 Desember 1936, Aguilar menjalani persidangan dan didakwa atas tuduhan perkosaan, penyerangan, dan pembunuhan terhadap Barbara dan Dorothy Drain. Selain itu, dia juga didakwa atas tuduhan penyerangan dan pembunuhan yang dia lakukan terhadap dua orang korban lainnya. Dan Aguilar diberi putusan hukuman mati dengan gas beracun pada tanggal 13 Agustus 1937.

Persidangan Arridy sendiri digelar pada tanggal 12 April 1937. Pengacara Arridy berusaha untuk mengajukan permohonan pembatalan dakwaan atas dalih penyakit jiwa untuk menyelamatkan nyawa Arridy. Namun, Arridy tetap dianggap waras, walaupun tiga orang psikiater dari tiga negara bagian yang berbeda, menyatakan bahwa dia mengalami keterbelakangan mental. Mereka juga mengatakan bahwa Arridy memiliki IQ 46 dan pemikiran seorang anak yang berumur enam tahun. Selain itu, mereka menganggap Arridy tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar ataupun salah, dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang berhubungan dengan kriminal.

Arridy tetap menerima dakwaan atas pengakuan palsu yang dia ungkapkan. Penelitian saat itu telah menunjukkan bahwa orang yang memiliki keterbatasan mental, cenderung lebih rentan terhadap paksaan ketika mereka menjalani interogasi, dan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk membuat pengakuan palsu. Ketika persidangan berlangsung, Barbara Drain sempat memberikan kesaksian bahwa Aguilar lah pelaku yang sebenarnya, bukan Arridy. Karena Barbara mengetahui persis ketika Aguilar bekerja untuk ayahnya.

Pada akhirnya, hakim memberikan keputusan bahwa Arridy dinyatakan bersalah dan menerima putusan eksekusi mati yang akan digelar pada tanggal 16 Oktober 1937. Namun, dia menerima perpanjangan waktu dan tanggal pelaksanaan eksekusi matinya dimundurkan menjadi tanggal 6 Januari 1939.
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Tanggal 6 Januari 1939 adalah hari terakhir untuk Arridy. Sebelum dieksekusi, dia sempat menerima kunjungan perpisahan dari ibunya, bibi, sepupu, dan saudara perempuannya yang berumur 14 tahun. Dan selama menunggu proses pelaksanaan eksekusi, Arridy sering bermain dengan mainan kereta apinya yang diberikan oleh seorang sipir penjara yang bernama Roy Best. Best mengatakan bahwa Arridy adalah tahanan paling bahagia di penjara, dan dia juga sempat menjadi pendukung agar Arridy tidak dihukum mati. Bahkan, ketika ditanya makanan terakhir yang ingin dia makan, Arridy mengatakan bahwa dia meminta es krim.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Arridy sempat ditanya mengenai eksekusi yang akan dijalaninya, dan dia terlihat kebingungan. Dan ketika dia ditanya mengenai ruang gas, dia hanya mengatakan bahwa dia tidak akan mati. Malam itu, Best dan pendeta penjara yang bernama Pastor Albert Schaller, menuntun Arridy menuju ruang gas. Menurut pengakuan Best saat itu, Arridy sempat merasa gugup ketika dia dibawa ke ruang gas, namun dia kemudian menggenggam tangannya. Dan disaat-saat terakhirnya, Arridy tampak tersenyum.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Kasus Arridy merupakan satu dari sekian banyak kasus yang mendapatkan perhatian untuk memastikan bahwa terdakwa menjalani interogasi dan pengakuan yang sesuai, serta hukuman yang adil. Selain itu, Mahkamah Agung Amerika memutuskan bahwa adalah hal yang dianggap tidak konstitusional untuk menerapkan hukuman mati bagi orang-orang terpidana yang mengalami gangguan secara mental. Sekelompok orang yang mendukung kasus ini membentuk sebuah organisasi nirlaba yang bernama Friends of Joe Arridy, untuk memberikan keadilan pada kasus tersebut dan memberikan batu nisan yang layak untuk makamnya.

Seorang pengacara yang bernama David A. Martinez memutuskan untuk ikut terlibat bersama dengan organisasi tersebut. Berbekal sebuah buku yang ditulis oleh Robert Parske yang mengisahkan kasus Arridy, arsip-arsip yang diberikan oleh organisasi Friends of Joe Arridy, serta penelitian yang dilakukannya sendiri, Martinez kemudian menyiapkan sebuah petisi setebal 400 halaman. Petisi tersebut ditujukan kepada Gubernur Bill Ritter, mantan pengacara distrik di Denver, untuk memohon pengampunan bagi Arridy. Dan berdasarkan bukti dan ulasan yang didapatnya, Gubernur Ritter memberi Arridy pengampunan secara penuh dan tanpa syarat pada tahun 2011, yang pada akhirnya mampu membersihkan nama Joe Arridy.

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal

Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Mau Dieksekusi Mati, Tapi Malah Terlihat Hepi #KamisKriminal
Sekian, dan terimakasih.

*
*
*
*
*

sumber 1, sumber 2, sumber 3, sumber 4

profile-picture
profile-picture
profile-picture
screamo37 dan 31 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4
Quote:
profile-picture
servesiwi memberi reputasi
Diubah oleh marywiguna13
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Gila kasihan banget ya Arridy. Innocent man yg jd
korban kebobrokan pengadilan. Inilah perlunya
scientific methods yg benar dalam penyelidikan.

Nice thread TS!
profile-picture
profile-picture
CoZiA dan bang.toyip memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
inspirasi film "Mirracle in Cell no.7" ?
profile-picture
ebureg memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Post ini telah dihapus
Aneh. Psikiater 3 negara bagian udah memberikan keterangan bahwa Arridy punya keterbelakangan mental, tapi kenapa hakim tetap memutuskan bersalah. Apalagi pelaku + korban tidak mengakui keterlibatannya
profile-picture
Soekarti memberi reputasi
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 17 balasan
Post ini telah dihapus
Quote:


Quote:


Quote:


Sebanyak apapun lu promo di lapak gw, selama itu pula gw bakal laporin lu. CAMKAN ITU!

Promo yang lu lakukan kaga bakal barokah karena lu kaga minta ijin ke gw.
profile-picture
mudokons memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


@azhuramasda

Om.. Tolong banned user di atas. Promo kaga kira-kira
Ini Polisinya, Jaksa sama Hakim bijimana dah emoticon-Cape d... (S) (eh ini pengadilan terbuka pake juri yg mutusin atau tertutup, yg hadir cuma Hakim, Jaksa, Pengacara, Saksi dan Tersangka maksud Ane Sis). Udah tau keterbelakangan mental masih di hukum plus kesaksiannya enggak meyakinkan. Kayaknya asas In Dubio Pro Reo di Amerika beda ama Indonesia, kalo di sini kalo enggak meyakinkan keputusan Hakim lebih baik bebasin tersangka (setau Ane Sis, udah rada lupa, taunya dolo gara2 pas pedekate ama anak hukum dikasih tau).

Kayak judulnya, di hukum mati tapi tersenyum. Karena enggak tau apa itu hukuman mati mungkin Pak Pendeta sebelum Andy dihukum ngasih sugesti atau perkataan yang menyenangkan pas ke ruang gas (opini ane pribadi kemungkinan salah). Jadinya bisa senyum dikiranya bukan dihukum mati di ruangan itu.

BTW great thread from Sis Marry
emoticon-Rate 5 Star

OOT

Asli masih bingung motif yg thread hari Senin mentok2 dapetnya malah persaingan usaha sama kepikiran mencari untung sama kayak kasus Glico yg di Jepang (dari penjualan saham maksudnya Sis, apa malah kasus Glico nyontek kasus ini emoticon-Hammer (S)).
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Kok gw sedih ya, mau dieksekusi mati justru kelihatan sikap anak kecilnya emoticon-norose
profile-picture
mantapsiip memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Tahun segitu mungkin penindakan kejahatan dan peradilan pun masih learning by doing yah?.

Penghakiman terhadap orang2 tanpa gelar perkara dan bukti2, based on Pengakuan.
profile-picture
caerbannogrbbt memberi reputasi
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Rest in peace, Arridy. Pengampuan tanpa syarat diterima ketika pelaku sudah tiada. Tentunya ada senyum di sana. Asyiknya penderita keterbelakangan mental. Mati penuh senyum, karena tidak mengerti apa2. Hukuman mati dianggap menakutkan bagi orang waras. Tapi kenapa banyak yang mendekatinya, seperti para koruptor.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
hmmm makanya ada Restorative Justice..
ya jadi pembelajaran kedepannya..
makanya ada sekolah berkebutuhan kusus, psikolog, pskiater..
karena bukan hanya ada karena niat pelakunya tpi kesempatan..



Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Us itu bener2 parah system peradilannya jaman dulu, jelas2 di persidangan arridy ini dah dinyatakan oleh 3 psikiater kalo dia ini puny keterblakangan mental, pelaku sebenernya juga dah di eksekusi ditambah dari keluarga korban juga dah bilang kalo pelakunya si aguilar, parah sih emang hakim nya pada saat itu. Kasian bgt arridy emoticon-Mewek
Diubah oleh delpieran
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Ceritanya mengharukan
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
harusnya hakim/polisi/jaksa yg salah vonis/salah tangkap juga dihukum...itu baru adil...sama aja secara ga langsung mereka yg bunuh
profile-picture
Soekarti memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Udah mati baru dah, kasian juga sih perjalanan hidup nya
profile-picture
Soekarti memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 4


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di