KOMUNITAS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62c69959291b867bff21bde3/gairah-dan-dendam

SWEET REVENGE

Cerbung

Gairah Dan Dendam


Bagaimana perasaan kalian ketika pernikahan yang tinggal beberapa hari digelar tiba-tiba dibatalkan begitu saja?
Down?
Putus asa?
Atau balas dendam?

Mending kayak Alexa, yuk. Menyusun strategi untuk menyiapkan balas dendam paling manis. Gimana tuh? Kepoin, yuk!



Gairah Dan Dendam



Bagian Satu Pernikahan yang Dibatalkan

"Gio, please! Jangan lakukan ini!"

Wanita dengan piyama tidur yang sudah berantakkan itu akhirnya jatuh terduduk di lantai. Jemarinya terasa tidak kuat lagi menggenggam ponsel yang masih menempel di pipi kirinya.

"Pernikahan kita tinggal dua hari lagi. Please ...."

Lagi, wanita itu merengek. Di seberang sana hanya terdengar helaan napas panjang lawan bicaranya. Seorang lelaki dengan suara berat dan terkesan payah.

"Maaf, Alexa. Aku nggak bisa!"

Wanita yang dipanggil Lexa menjerit tertahan. Ponselnya tak urung jatuh juga ke lantai. Sama seperti air mata dan juga pertahanan hatinya. Semua luruh sudah. Tidak peduli bagaimana dia memohon, keputusan Gio tidak akan berubah.

"Maaf, lupakan semua tentang kita. Selamat tinggal!"

Kalimat terakhir Gio sebelum akhirnya sambungan telepon terputus terdengar jelas di telinga Lexa. Gadis itu menjerit keras dan meremas ponselnya. Dia menangis tergugu. Menjambak rambut, menepuk dadanya sendiri yang terasa sangat sesak, hingga akhirnya melempar ponsel di tangan ke tembok. Benda itu membentur tembok marmer dengan keras lantas terhempas ke lantai dengan keras. Suara berderak pecah terdengar kemudian. Alexa hanya menatap nanar ke arah benda pipih yang selama ini menjadi temannya itu. Benda itu retak pada layarnya, tapi tetap menyala. Menampilkan fotonya bergaun pengantin kuning gading danmenunjukkan cincin di jari manis. Dia berdiri memeluk Gio yang mengenakan jas hitam juga menunjukkan cincin di jari manisnya. Foto kesempurnaan pasangan kekasih yang saling mencintai.

"Tidak! Ini mimpi!" Alexa menggeleng keras. Menepuk kepalanya sendiri seolah berusaha bangun dari sebuah mimpi buruk. "Gio tidak mungkin begitu!" gumamnya lagi. Bibir sensual tipis yang pucat itu tersenyum getir. "Gio tidak mungkin melakukannya!"

Alexa tiba-tiba bangkit berdiri dan langsung melangkah cepat menuju pintu. Dia membeku saat pintu sudah dibuka. Ada sang papa yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki tinggi besar itu baru saja melepas kepergian dua orang lelaki dan seorang wanita. Tamu yang hanya bisa dilihat Lexa ketika sudah hampir hilang di balik pintu.

Ayah dan anak saling tatap. Dari sorot mata mereka jelas terlihat rasa kecewa, putus asa, marah, dan dendam yang menjadi satu.

"Pa ...."

Belum juga Alexa melangkah mendekat dan bertanya, Pak Dirga sudah melangkah lebih cepat menuju putri semata wayangnya. Tubuh besarnya langsung mendekap sang putri dengan erat. Pelukan hangat dan perlindungan seorang ayah untuk anaknya.

"Pa, apa mereka ...."

"Sstt ...."

Pak Dirga mengusap rambut Lexa dengan lembut dan semakin mengeratkan pelukan.

"Pa ...."

"Tenang, Sayang. Ada Papa!"

Lexa menjerit tertahan. Dia menggigit bibirnya sendiri hingga terasa kebas. Tanpa dijelaskan pun Lexa sudah tahu jawaban apapun pertanyaan yang akan dia ajukan.

"Janji ke papa kamu harus kuat! Kamu pasti bisa!"

Lexa membenamkan wajah di dada sang papa. Menumpahkan tangis yang sudah tertimbun sejak tadi. Gadis itu menggeleng lemah dan memukul-mukul dada sang papa.

"Jangan sampai mama tahu, ya!" Pak Dirga memegang kedua pipi sang putri. Lexa terdiam. "Kita beri tahu pelan-pelan, ya!" Lexa mengangguk.

Pak Dirga lantas membimbing putrinya memasuki kamarnya kembali. Mereka harus terlihat tenang dan tidak terjadi apa-apa sebelum akhirnya memberanikan diri menemui Mama Wina. Wanita yang dipanggil Mama oleh Lexa. Wanita yang sejak remaja sudah mengidap penyakit jantung. Mereka hanya tidak ingin kabar mengejutkan itu akan membuat sang mama shock.

Prang ....

Pak Dirga dan Lexa terkejut. Begitu juga dua emban yang tengah berada di dapur. Mereka saling tatap dan menatap daun pintu kamar Wina yang masih tertutup.

Tanpa pikir panjang, Pak Dirga melepas pelukan pada sang putri dan langsung berlari menuju kamar. Diikuti Lexa dan dua embannya.

"Ma!"

Pak Dirga menjerit ketika daun pintu terbuka. Wina sudah terkapar di lantai dengan gelas yang sudah pecah di sampingnya. Wanita itu terengah-engah dengan mata melotot. Tubuhnya kejang perlahan. Tangannya juga menggapai-gapai seolah meminta tolong. Dirga dengan cepat mengangkat tubuhnya keluar kamar.

"Siapkan mobil! Kalian siapkan pakaian!" titah Dirga yang langsung dipatuhi Lexa dan dua embannya.

Lexa berlari keluar menuju garasi. Sementara Dirga menuju teras menunggu mobil Lexa. Mereka lantas dengan cepat menuju Rumah Sakit langganan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Lexa yang panik dan masih menangis berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus menyetir. Di belakang, Dirga berusaha membangunkan sang istri yang masih kejang-kejang. Lelaki itu tak henti memanggil nama sang istri untuk tetap tersadar.


Rem diinjak dengan kuat, membuat Lexa nyaris membentur kemudi. Dirga dengan cepat membuka pintu dengan Wina di dalam dekapannya. Lexa menyusul dengan setengah berlari. Tidak peduli jika kini banyak pasang mata yang menatap penampilannya. Ya, siapa yang tidak akan menoleh ketika berpapasan dengan Alexa malam itu. Hanya mengenakan piyama tipis setengah paha dengan bagian bahu terbuka. Kulit putih dan halusnya terlihat menyatu dengan keemasan warna piyamanya. Belum lagi rambut yang diikat berantakkan, menunjukkan leher jenjangnya.

Wina segera dibawa kereta dorong menuju ruang gawat darurat. Lexa dan Dirga terus mengikuti. Jemari Wina tidak lepas dari genggaman Dirga. Hingga mereka akhirnya mereka dipisahkan oleh petugas medis. Meninggalkan Lexa dan Dirga yang menatap kosong pada pintu kaca bertirai biru.
**

"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan ibu."

Lexa dan Dirga bagai disambar petir di tengah malam itu. Mereka melongo. Namun Lexa kemudian menjerit histeris dan langsung memasuki ruang gawat darurat di mana sang mama masih terbaring.

"Mama!"

Lexa menubruk tubuh yang sudah ditutup kain biru di ranjang. Gadis itu terus menjerit dan memanggil sang mama. Sang mama yang tidak akan kembali. Meski sekuat tenaga Alexa atau pun Dirga memanggilnya.

Ruangan itu mendadak sendu. Lexa terus meratapi sang mama sementara Dirga harus sudah kuat karena dia harus mengurus kepulangan jenazah sang istri secepatnya.

Semua berjalan cepat. Kini Wina sudah terbujur di tengah ruangan. Sudah bersih dan siap diberangkatkan. Di sampingnya Lexa hanya duduk diam. Air matanya tidak lagi mengalir. Kini hanya hatinya yang terus menjerit dan meratap. Dirga yang melayani para pelayat sesekali melirik sang putri. Dirga tidak punya pilihan selain terus berusaha tegar. Terutama di depan Lexa, putri semata wayangngnya yang kini menjadi satu-satunya harta berharga dalam hidupnya.
**

"Gimana, Pa, kita datang nggak ngelayat?" tanya Alin, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Lelaki yang sudah berpakain rapi dengan name tag Bimantara di sampingnya hanya menghela napas panjang. Dia melirik pemuda yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

"Tuh, tanya anak kamu!"

Alin menghela napas panjang.

"Biar aku sama mama aja yang ke sana," sahut Gio. Pemuda atletis dengan setelan necis itu bangkit berdiri dan mendekati papa dan mamanya.

"Ya memang kamu harus ke sana, kan? Belajar tanggung jawab!" sahut papa Gio ketus. Gio hanya berdehem dan menunduk. "Lagian sok-sokan banget pakai acara batalin pernikahan!"

Alin mendekat dan mengusap dada sang suami. "Udah, Pa. Udah terjadi juga, kok!"

"Iya, kan, karena kamu juga!"

Alin menunduk dan melirik sang putra yang salah tingkah.

"Ngapain ngebet nikahin dia kalau akhirnya dibatalin, hah?" bentak Bima menatap istri dan anaknya bergantian.

"Ya, kan kita nggak tahu kalau kejadian bakal—"

"Bakal labil begini?" potong Bima cepat. Dia lantas bangkit berdiri dan melangkah cepat meninggalkan anak istrinya. Alin hanya menghela napas menatap Gio yang salah tingkah.

"Ayok!"

Alin lantas menggamit lengan Gio untuk keluar. Dengan setelan serba hitam mereka akan mendatangi rumah Alexa. Melayat calon besan yang baru saja diputuskan hubungan.

Bersambung ....

Sedih pasti ya jadi Alexa. Si Gio minta digampar, nih
profile-picture
ariefdias memberi reputasi
Diubah oleh amyjk02
awesome.. Gairah Dan Dendam
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi
Jejakin dlu gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
ariemail memberi reputasi
Ninggalin jejak dulu, TS
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Jejak
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi
Lanjut di play store?
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Diperkosa di atas ranjang karena gairah dan dendam
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Bagian Dua Alasan yang Tidak Jelas

Gairah Dan Dendam


Lexa hanya diam. Menatap gundukkan tanah merah bertabur aneka warna kelopak bunga. Harum semerbak, tapi sungguh menyayat hati. Gadis itu tidak mampu lagi menangis. Air matanya sudah ikut terkubur bersama jasad sang mama. Ada Dirga yang menatap sang putri dari balik kacamata hitamnya. Dia tidak ingin berlama-lama di depan pusara sang istri. Bukan. Bukan tidak sayang atau tidak merasa kehilangan. Namun dia harus segera bangkit demi sang putri. Dia juga harus menyembunyikan sedihnya untuk dirinya sendiri.

Gio turun bersama sang mama. Dengan langkah mantap lelaki itu mengajak sang mama mendekati mantan calon mertuanya. Dirga yang hanya melirik terlihat khawatir. Bagaimana reaksi Lexa nanti?

"Saya turut berduka cita, Om." Dirga menerima uluran tangan Gio dan memaksa untuk tersenyum.

"Maaf, Mas," timpal Alin pelan. Dirga terkekeh.

"Tak apa. Sudah takdir!" jawab Dirga singkat tanpa bertanya apa maksud permintaan maaf mantan calon besannya tersebut.

"Ehm, boleh saya bicara berdua dengan Lexa?" tanya Gio sopan meminta ijin. Namun belum juga Gio melangkah atau sang papa mengiyakan, Lexa sudah berdiri dan berbalik. Gadis itu melepas kacamata hitamnya dan menatap Gio dengan lekat. Keduanya bersitatap untuk sesaat.

"Ayo, Pa, kita pulang!" ajak Lexa pada sang papa tanpa menoleh ke arah Gio. Lelaki yang pernah membuat harinya dimabuk asmara itu hanya menghela napas panjang. Membiarkan Lexa melewatinya. Mengurungkan niat untuk berbicara empat mata dengannya.

"Lexa?"

Langkah Lexa berhenti. Gio mengejarnya dan memegang lengannya.

"Aku minta maaf. Aku bisa jelasin semuanya!"

Lexa tersenyum getir. "Bukannya sudah kamu jelaskan?" jawab Lexa tanpa menoleh. Gadis itu lantas meneruskan langkah diikuti sang papa. Meninggalkan Gio yang diam mematung.

Di mobil, Lexa akhirnya menangis. Tangis pertama setelah hancur dan redam hatinya. Gadis itu menumpahkan tangis di dada sang papa. Lelaki yang mencoba tegar itu ikut menangis. Roboh sudah pertahanan hatinya mendengar isak tangis menyayat putri yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang.

Pikiran Lexa terus berkecamuk. Bermula dari setelah penentuan hari pernikahan mereka hingga hari ini.

Tiga hari sebelum hari itu Gio membuat pernyataan mengejutkan.

"Kayaknya aku nggak bisa lanjutin hubungan ini!"

Lexa yang baru saja meneguk jus jeruknya melongo.

"Nggak tau kenapa perasaan aku ke kamu kayak berubah tiba-tiba gitu!"

Lexa menelan ludah. "Maksud kamu gimana?" tanya Lexa hati-hati. Gadis itu terus menatap kekasih hatinya, menunggu mata tajam Gio balas menatapnya, seperti biasanya. Namun sayang, Gionya ternyata memang sudah berubah seperti apa yang dipikirkannya. Lelaki itu bahkan tidak mau menatapnya sejak pertama duduk berhadapan.

"Pokoknya aku nggak bisa!"

Hanya itu. Gio lantas pergi tanpa pamit. Meninggalkan Lexa dengan berbagai pertanyaan tanpa jawaban. Gadis itu menangis sendiri di taman, tempat dia membuat janji bertemu dengan Gio.

Merasa butuh penjelasan, Lexa nekat mendatangi rumah Gio. Gadis itu menemukan sang kekasih yang tengah tertidur di ranjangnya. Tanpa dosa dan tanpa beban.

"Maksud kamu ngomong gitu apa, Gi?" tanya Lexa dengan suara bergetar. Gadis itu duduk di tepi ranjang. Di mana Gionya tengah menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.

"Gi ... aku—"

"Aku nggak bisa, Lex! Nggak bisa!" jawab Gio tiba-tiba membuka selimut dan menatap Lexa dalam. Yang ditatap hanya menangis.

"Tapi kenapa?" tanya Lexa di sela isaknya. Gio menggeleng keras dan meremas kepala.

"Aku bahkan nggak tahu kenapa, Lex! Please jangan desak aku!"

Lexa menjerit pelan. Menggigit bibirnya sendiri agar isaknya tak terdengar keluar kamar. Gio hanya diam menatapnya. Sangat berbeda dengan sikapnya sebelum ini. Biasanya lelaki itu akan langsung mendekapnya untuk menenangkan.

"Please, Gi, jangan begini!" rengek Lexa pelan.

Keduanya diam. Hanya isak tangis Lexa yang terus menggema.

"Udahlah, aku butuh sendiri! Biar aku berpikir dulu!"

Gio bangkit dan keluar kamar. Meninggalkan Lexa yang semakin menangis. Gadis itu meremas sprei, meratapi nasibnya. Hingga akhirnya memilih ikut keluar kamar Gio dan pulang. Ya gadis itu memutuskan pulang tanpa pamit. Hal yang pernah dia lakukan ketika bertengkar dengan Gio. Biasanya setelah itu Gio akan menyusul dan memeluknya. Meminta maaf, mengucap ribuan kata cinta yang manis, dan mereka akan kembali bersama.

Akan tetapi kali ini berbeda. Hingga Lexa pergi dengan motornya, tidak ada bayangan Gio yang mengejar. Gadis itu nelangsa.

Malamnya Lexa terus berharap jika Gio akan kembali menghubungi dan memperbaiki hubungan mereka. Lexa sangat berharap akan hal itu.

Gio memang menelpon, tapi bukan dengan kabar bahagia.

"Maaf, Lex. Sepertinya memang aku nggak bisa walaupun dipaksakan. Aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita!"

Lexa menangis di sela senyum yang belum pudar. Gadis itu gemetar memegang ponsel di tangannya yang hampir terjatuh.

"Kamu tenang aja, aku akan tanggung semua kerugian karena keputusan sepihakku ini!"

Dada Lexa sesak. Bukan tanggung jawab seperti itu yang diinginkan Lexa, tapi .... Bagaimana dengan hatinya yang kini hancur berantakkan?

Belum juga sambungan telepon terputus, tiga orang tamu memang datang ke rumah Lexa. Papanya yang menerima langsung. Mereka adalah utusan keluarga Gio untuk mengabarkan pembatalan pernikahan mereka.

"Gio sudah memutuskan hubungan bersama Nak Lexa, Mas. Kami harap kita sebagai orang tua saling mengerti!"

Begitu pesan kakak tertua Bima pada Dirga. Utusan keluarga Bima itu langsung pulang setelah memastikan jika keluarga Lexa menerima. Ya, apalagi yang bisa mereka lakukan selain menerimanya saja?
**

Masih dengan suasan berkabung, Lexa dan sang papa menemukan hal menyakitkan lainnya. Mereka menemukan history chat dan panggilan telepon sang mama. Ternyata pihak catering menghubungi Wina langsung setelah mendapat konfirmasi pembatalan pernikahan. Mereka juga menemukan chat Wina dengan Alin.

[Pernikahan anak kita dibatalkan?]

Tanya Wina pada Alin. Dua jam kemudian pesan itu baru dibalas. Balasan yang cukup membuat Wina syok.

[Iya. Mereka sudah sepakat begitu. Semua juga sudah tahu!]

Lexa ingin rasanya mengejar sang mama, menghidupkannya kembali dan memeluknya dengan erat. Lexa tahu percakapan itulah yang membuat sang mama syok dan mendapatkan serangan jantung mendadak. Lexa tidak kuasa membayangkan bagaimana sakitnya sang mama di akhir hidupnya.

Dalam pelukan sang papa, Lexa kembali meraung-raung. Tangis dan jeritan dia tumpahkan di ranjang sang mama. Mengadukan ses¹ak di dada dan hancurnya hati pada sang mama.

Lelah menangis Lexa tertidur. Dirga membiarkan sang putri tertidur di ranjangnya. Dengan selimut yang biasa menghangatkan sang istri, Dirga menutupi tubuh dingin dan lelah Lexa.

"Kamu harus kuat untuk papa, Nak," bisik Dirga pelan mengecup puncak kepala Lexa. Dia lantas meninggalkan sang putri dan menitipkannya pada sang emban.

Menjelang malam, masih dengan pakaian serba hitam, serta masih dengan bau duka Dirga mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Dia harus melakukan sesuatu.

Dirga berhenti di depan sebuah kantor bergengsi. Dengan langkah mantap dia memasuki area kantor yang sudah sepi. Hanya beberapa karyawan yang masih lembur. Termasuk orang yang akan dia temui.

Seperti sudah hapal dan sering ke berkunjung, Dirga langsung menuju ruangan orang yang dia cari. Lelaki yang tengah membereskan peralatan kerjanya itu sedikit terkejut melihat kehadiran Dirga yang tanpa mengetuk pintu.

"Eh, Mas ...."

Bima salah tingkah. Dia lantas mempersilahkan tamunya duduk. Dirga hanya tersenyum getir.

"Ehm, Mas ke sini—"

"Saya cuma mau minta maaf," potong Dirga cepat. Bima terdiam. "Maaf kalau seandainya ada tingkah anak saya yang membuat Gio kecewa dan membatalan pernikahannya."

Bima menelan ludah dan meremas tangannya sendiri.

"Sekali lagi maaf."

Dirga lantas bangkit dan berlalu. Meninggalkan Bima–mantan calon besannya–yang masih diam terpaku. Lelaki itu hanya bisa menatap kepergian Dirga dari pintu yang dibiarkan terbuka. Menghitung setiap langkah Dirga yang semakin menjauh. Seolah tengah mencetak setiap luka yang ditorehkan sang putra pada mantan calon mantunya.
....

Bersambung

Baper banget sama Pak Dirga.
profile-picture
ariefdias memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hayuk, gaes bab 2
Lanjutkan ganemoticon-Toast
profile-picture
amyjk02 memberi reputasi

Bagia Tiga Terpuruk

Setelah kejadian itu keluarga Gio sibuk membuat pernyataan pada media tentang batalnya rencana pernikahan yang akan digelar dua hari kemudian. Alasan karena Gio lebih memilih untuk melanjutkan kuliah di Amerika nyatanya tidak membuat media puas. Para pemburu berita masih terus berspekulasi. Ini bukan hal aneh, mengingat keluarga Gio memang bukan keluarga sembarangan. Papa Gio, Bimantara Adiguna adalah pengusaha sukses dengan perusahaan menggurita di mana-mana sekaligus seorang pejabat daerah cukup berpengaruh. Sedangkan Gio adalah pemuda sukses yang merintis karir sendiri bersama anak perusahaan yang diwariskan sang papa. Gio juga mewarisi sifat kepemimpinan sang papa. Di usia mudanya Gio sudah menjadi salah satu anggota legislatif yang cukup disegani.

Sementara itu kediaman Lexa tetap diam dan tenang. Suasana berkabung masih terasa. Hanya saja Dirga sudah menutup rapat pintu rumah untuk tamu. Dia seolah menutup diri dari dunia luar. Sama seperti Lexa yang hanya diam di kamar dan nelangsa. Gadis itu sudah tiga hari tidak keluar kamar. Dirga tidak terlalu khawatir karena Lexa membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka. Jadi dia bisa tahu jika sesuatu tengah terjadi pada Lexa.

"Papa mau keluar sebentar. Kamu mau nitip apa?" tanya Dirga pelan duduk di tepi ranjang. Dia hanya menatap penuh iba pada sang putri yang duduk diam menatap jendela. Sama seperti hari-hari sebelumnya.

"Cokelat."

Dirga mengangguk dan langsung berlalu. Meski hanya sepatah kata setidaknya Dirga tahu jika Lexa masih tetap waras dan masih pada tempatnya.

Setelah menitipkan sang putri pada dua embannya, Dirga berangkat. Dia tidak ingin pergi ke mana-mana, hanya saja dia ingin menumpahkan kerinduan di pusara sang istri. Dia ingin mengadu dan berkeluh kesah pada wanita yang sudah dinikahinya hampir 30 tahun itu.

"Lexa sehat, kok, Sayang."

Air mata Dirga perlahan mengalir. Dadanya semakin sesak.

"Bantu aku kuat, ya!"

Dirga menabur kelopak mawar putih di atas gundukkan tanah yang masih merah.

"Aku janji akan jaga dia terus!"

Tangis Dirga pecah. Tidak tertahankan lagi. Lelaki itu memeluk papan nisan bertuliskan nama sang istri dengan erat.

"Kami kangen sama kamu, Sayang. Aku kangen sama kamu, Ma ...."

Sedu sedan Dirga menyayat hati. Hati seorang gadis yang kini diam mematung tak jauh darj Dirga. Buket mawar putih di tangannya kusut teremas. Sama seperti hatinya yang juga hancur berkeping-keping.

"Pa?"

Dirga menoleh. Lexa langsung menghambur dalam pelukannya. Mereka berpelukan erat saling menguatkan. Niat Lexa pergi mengunjungi sang mama ternyata didahului oleh sang papa. Ini adalah kunjungan Lexa untuk pertama kalinya di makam sang mama setelah dia lelah terpuruk tiga hari yang lalu.

Hingga menjelang siang Dirga dan Lexa tetap di makam Wina. Mereka saling bercerita, menumpahkan kerinduan, lantas menangis bersama. Perlahan anak dan bapak itu menjadi terbiasa dengan luka mereka sendiri. Tawa dan canda sudah mulai ada.

Saat matahari tepat di atas kepala, Dirga mengajak sang putri pulang. Mereka memutuskan untuk makan di luar saja. Menikmati hidup, begitu kata Dirga.

Lexa memilih restoran favoritnya bersama Gio. Ada nyeri tersendiri saat gadis itu memasuki resto. Biasanya mereka akan memilih tempat duduk paling pojok. Selain jauh dari jangkauan mata, Lexa dan Gio bisa bebas bercanda dan melakukan apa saja. Termasuk saling memagut mesra di sela makan mereka.

Lexa tersenyum nyeri membayangkan apa yang pernah dia lakukan bersama Gio di resto tersebut. Semua kenangan manis yang baru beberapa hari yang lalu dia rasakan dengan cepat berganti menjadi kenyataan pahit yang bahkan tidak pernah dia bayangkan.

Saat makan tanpa terasa air mata Lexa terjatuh. Dirga yang sempat melihatnya hanya bisa terdiam dan menebak apa gerangan yang menyebabkan putrinya menangis.

"Kamu mau pindah nggak?"

Lexa tergagap dan dengan cepat menghapus air mata yang sudah terlanjur mengalir.

"Pindah ke mana, Pa?" tanya Lexa penasaran. Dia menatap sekeliling, mencari kursi kosong yang mungkin bisa mereka pakai untuk pindah.

"Bukan pindah kursinya, tapi kita yang pindah tempat tinggal."

Lexa terdiam.

"Ya, mungkin kamu butuh suasana baru biar lebih ...."

Lexa tersenyum getir dan mengusap lengan kokoh sang papa.

"Memangnya papa punya rencana pindah ke mana?" tanya Lexa kemudian. Dirga berpikir sejenak. "Lexa maunya kalau kita pindah, yang jauh sekalian."

Dirga menghela napas panjang.

"Lexa nggak mau terus ingat semua yang ada di sini."

Dirga tersenyum dan mengusap pipi Lexa lembut.

"Baik! Kita pindah yang jauh, ya?"

Lexa melongo.
**

Di kamar dengan nuansa serba abu-abu, Gio tengah sibuk memilih foto yang berjejer rapi di meja dan rak bukunya. Itu adalah deretan fotonya dengan berbagai suasana dan kenangan. Termasuk foto bersama Lexa, sang mantan kekasih yang tidak jadi dia nikahi.

Foto-foto Lexa dan semua foto yang terdapat gadis itu sudah ada di dalam sebuah kotak kardus. Menyisakan hanya foto-fotonya saja. Kenangan akan kesuksesannya selama ini. Gio tersenyum puas saat menatap hasil kerjanya. Namun kemudian sesak merasuk ke dalam dadanya. Apalagi saat matanya menatap sebingkai foto lama yang pernah dia ambil secada diam-diam. Itu adalah foto pertama Lexa yang dia simpan. Saat itu mereka masih sama-sama mahasiswa baru. Lexa yang polos, cantik alami, pintar, pendiam tapi gampang bergaul menarik perhatian Gio. Jadilah Gio mengabadikan foto gadis penyuka cokelat itu diam-diam.

"Maafin, aku, ya," gumam Gio sebelum akhirnya menutup kardus dan membawanya keluar kamar. Kardus itu akna disimpan bersama barang tidak berguna lain di dalam gudang. Tersimpan entah sampai kapan dan dilupakan.

[Lagi sibuk, nggak?]

Gio mendadak ceria saat membuka pesan yang baru masuk.

[Sibuk apa emangnya?]

Tanya Gio balik sembari melangkah kembali ke kamar.

[Ya siapa tahu sibuk menenangkan hati karena gagal nikah!]

Emot tertawa terbahak-bahak disematkan di akhir chat. Membuat Gio sukses tertawa.

[Nggak! Aku kuat, kok!]

Percakapan via media sosial itu terus berlanjut. Percakapan yang seolah menjadi pembangkit semangat bagi Gio. Lelaki yang juga sempat patah hati karena pernikahan yang dia batalkan.

[Aku ada jadwal pemotretan. See you, ya ....]

Percakapan selesai. Gio terdiam dan menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh, menatap plafon kamarnya.

"Kenapa begitu mudah hatiku berbalik?" gumam Gio pada dirinya sendiri. Pemuda itu gemas sendiri dan meremas kepala. "Tuhan, kenapa semua jadi begini?" tanyanya kemudian.

Gio tidak habis pikir dengan perasaannya akhir-akhir ini. Sebelumnya keinginan untuk menikahi Lexa begitu kuat. Namun setelah penentuan tanggal pernikahan hatinya mendadak berubah dan resah dibuatnya. Gio bersikeras membatalkan pernikahan dengan alasan yang bahkan tidak dia ketahui.

Ya, Gio hanya merasa menyesal telah melamar Lexa dan harus segera membatalkan pernikahan. Itu saja. Hatinya tiba-tiba tidak nyaman bersama Lexa. Dia bahkan menjadi benci dengan gadis yang membuatnya terjerat asmara hampir lima tahun ini.

"Banyak hal yang sudah kita lewati bersama, tidak kah kamu ingat itu?"

Pertanyaan Lexa sore itu kembali terngiang.

"Justru karena hal itu aku memutuskan begini!" jawab Gio kala itu. Jawaban yang membuat Lexa kecewa dan putus asa.

Kini Gio sadar, Lexa memang benar. Harusnya dia ingat bagaimana mereka melewati hari selama ini. Lexa yang selalu ada untuknya dalam kedaan apa pun. Bahkan Gio diterima dengan baik di keluarga Lexa. Ya, bagi Dirga dan Wina Gio sudah seperti anak mereka sendiri. Apalagi bersama Gio, Lexa terlihat sangat bahagia. Namun siapa yang menyangka jika semua akan berubah secepat dan sedrastis ini?

"Kamu ninggalin dia karena sekarang kamu sukses? Kalau iya, kamu salah! Dia yang menemani kamu selama ini!"

"Kalau karena alasan penampilan, bukankah bisa diubah? Lagipula Lexa nggak jelek-jelek amat! Cantiknya alami. Hal yang jarang kamu temui pada wanita sekarang!"

Wejangan sang papa kini memenuhi kepala. Wejangan yang dia dapat hampir sepanjang malam setelah dia mengutarakan niatnya. Marah? Tentu saja. Selama ini Bima sudah mengenal baik Lexa. Namun Bima tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Gio sudah bulat dengan tekadnya. Dia hanya bisa meminta bantuan sang kakak untuk menyampaikan pembatalan pernikahan sang putra.

[Apa kamu ninggalin dia?]

Gio mengerutkan kening. Matanya terus fokus menatap deretan nomor baru yang baru saja mengirim pesan padanya.
profile-picture
ariefdias memberi reputasi

Bagian Empat Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu?

Gairah Dan Dendam


Gio bernapas lega setelah sambungan teleponnya diangkat. Nomor baru itu adalah Bian, sahabatnya. Tepatnya sahabat Lexa semasa sekolah dulu. Dari Bian lah Gio mengenal Lexa.

"Kok kamu tega, sih?" tanya Bian tadi. Gio hanya menjawab entahlah. Karena memang hanya itu yang ada di dalam pikirannya.

"Hati-hati kena karma, Gi!"

Gio hanya terkekeh mendengarnya.

"Dia down parah kayaknya. Dia nggak pernah aktif di medsos. Nggak ada respon juga. Kasihan, lho, Gi!"

Gio tidak peduli. Pemuda itu bahkan bingung dengan dirinya sendiri. Gio tidak mengerti mengapa dia begitu tidak peduli dengan Lexa. Padahal Lexa adalah orang yang sangat dia cintai sebelumnya. Bahkan hingga seminggu yang lalu. Gio juga tidak tahu mengapa tiba-tiba dia merasa menyesal pernah menjalin hubungan dengan Lexa. Bagi Gio sekarang Lexa tidak lebih dari wanita biasa yang sering dia temui di luar sana.

Ya, Lexa memang hanya sosok biasa. Wanita lulusan sarjana merketing bisnis itu hanyalah seorang pebisnis outfit wanita. Butik kecil-kecilan dia dirikan tak jauh dari rumahnya. Keahlian dan hobi merancang busana sejak sekolah dia aplikasikan. Gio bahkan pernah mendapat setelan jas dan celana yang khusus dibuat oleh Lexa. Pakaian yang dulu terasa spesial. Namun tidak sekarang. Pakaian itu hanya teronggoi begitu saja bersama pakaian lama Gio yang sudah tidak terpakai lagi.

Menyoal penampilan Lexa memang kalah dengan wanita lain. Lexa hanyalah gadis sederhana dengan penampilan yang juga sederhana. Kemeja, jeans panjang, sneaker atau sepatu flat adalah outfit-nya setiap hari. Tidak pernah berubah meski dia merancang berbagai pakaian bagus.

Dalam berdandan, Lexa jauh dari kata wanita sempurna. Kulit kuning langsatnya tak pernah dipoles macam-macam. Hanya perawatan seadanya. Wajah cantik alaminya juga hanya disapu riasan tipis saja. Namun bagi Gio itu adalah anugrah yang membuatnya selalu mencintai Lexa. Gio cinta kesederhanaan itu.

"Maaf, ya, Lex ...."

Gio akhirnya lelah dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Akhirnya dia memilih tidur saja.
**

"Kamu yakin, Nak?"

Lexa yang tengah menyisir rambutnya tersenyum dan mengangguk. Ditatapnya sang papa dengan lekat, seolah mengatakan dia akan baik-baik saja.

"Papa kan bilang aku harus berdamai dengan diri sendiri."

Dirga tersenyum dan menarik sang putri dalam pelukan.

"Hati-hati, ya!"

Lexa mengangguk. Dengan motor kesayangannya gadis itu lantas pergi. Dirga tidak bisa mencegah saat Lexa pamit untuk menemui Gio. Untuk terakhir kalinya, kata Lexa. Lexa juga sudah mengatur jadwal bertemu dengan sang mantan di tempat biasa mereka bertemu.

Lexa sampai saat udara pagi benar-benar cerah. Gerimis semalam meninggalkan aroma khas pada jalanan yang sudah lama tidak tersiram air hujan. Lexa menghirup udara dalam-dalam. Ditatapnya sekeliling, mencari tempat duduk yang biasa dia tempati bersama Gio. Hati Lexa nyeri membayangkan apa saja yang pernah mereka lewati di tempat tersebut.

Bangku kayu yang menghadap kolam ikan berukuran sedang dengan bunga teratai di tengahnya membuat Lexa sendu. Bagi dia itu adalah tempat paling sempurna untuk mereka, dulu.

"Hai?"

Lexa menoleh. Gio tersenyum kaku dan mendekat. Lelaki itu langsung duduk di ujung bangku, sama seperti Lexa.

"Sudah lama?"

Lexa menggeleng dan tersenyum.

"Apa kabar?"

Kali ini Lexa yang bersuara. Gio mengangguk dan melirik sekilas.

"Baik, kok. Kamu?" tanya Gio balik.

"Ehm ... seperti yang kamu lihat!"

Gio terdiam. Lexa juga. Untuk waktu yang cukup lama mereka sama-sama terdiam. Menyelami perasaan masing-masing atau bingung harus memulai dari mana. Hingga akhirnya ....

"Lex, aku minta maaf untuk ...."

Gio memberanikan diri menoleh. Menatap Lexa yang juga tengah menatapnya. Gadis itu terdiam dengan hati berkecamuk. Pikirannya tidak menentu.

"Maaf untuk ...."

Lexa menggeleng, membuat Gio tidak melanjutkan ucapannya.

"Aku ke sini cuma untuk lihat kamu. Nggak lebih!" ucap Lexa jelas. Membuat Gio mengangguk ragu dan terdiam.

"Aku pamit!"

Gio tak mampu mencegah. Dibiarkan saja Lexa menggamit tasnya, berdiri, lantas berlalu meninggalkan dirinya seorang diri. Gio bahkan tidak berani melihat kepergian Lexa, apalagi mencegah langkahnya.

"Aku juga cuma pengin lihat kamu, Lex ...," gumam Gio pelan.

Saat terdengar deru motor Lexa, Gio baru menoleh. Ditatapnya sang mantan kekasih yang mulai meninggalkan area taman. Meninggalkan dirinya.

Di motor, air mata Lexa tidak lagi mampu dicegah. Gadis itu menangis. Pandangannya buram karena air matanya sendiri. Hati yang sesak sekuat tenaga dia tahan.

"Kamu jahat, Gi! Jahat!" umpat Lexa dengan suara bergetar.

"Tega kamu!"

Lexa menggeleng keras. Kini pikirannya terus terpaut pada Gio. Lelaki yang selalu sempurna di matanya. Tinggi besar dengan bentuk tubuh atletis dan tentu saja tampan. Rambut ikal pendeknya terus menggoda pikiran. Bagian tubuh Gio yang menjadi favorit Lexa itu bahkan seolah baru saja dia sentuh. Lexa yang hapal aroma rambut Gio semakin menangis.

"Aku sayang kamu, Gi. Kamu tahu itu, kan?" ucap Lexa dalam hati. Ucapan kejujuran yang akhirnya dia ucapkan. Meski hanya di dalam hati.

"Aku ... aku harus bagaimana tanpa kamu, Gi ...?"

Lexa terus menangis sembari mengendalikan laju motor yang semakin pelan. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai.

Sementara di mobilnya Gio belum juga berniat pulang. Dia hanya diam memegang kemudi dan menatap lurus ke depan. Hati dan pikirannya berkecamuk. Bayangan Lexa terus menari di kepala. Gadis cantik tinggi semampai dengan penampilan sederhana. Jelas terekam dalam ingatannya Lexa mengenakan sweater rajut yang pernah Gio belikan dulu. Swetar cokelat muda yang terlihat serasi dengan kulit Lexa. Gio juga terus teringat bibir sensual Lexa yang selalu menjadi godaan Gio. Bibir yang selalu dioles lipstick warna natural dan lembut itu menjadi candu bagi Gio, dulu.

"Oh, God! Please! Jangan bikin hatiku begini!"

Gio membenturkan keningnya pelan pada kemudi. Setelah pertemuan kali ini hati Gio sukses bimbang. Mendadak ingatan indah tentang kebersamaannya dengan Lexa terus menghantui.
**

"Kamu kedinginan?"

Lexa yang tengah menatap keluar jendela menoleh. Gadis itu menutupkan selimut hotel pada tubuhnya yang tak mengenakan selembar pakaian pun. Sama seperti Gio yang kini hanya mengenakan handuk selutut.

"Ehm, hangat, kok," jawab Lexa menunjuk selimut yang membungkus tubuhnya. Gio tersenyum kaku.

Untuk sesaat mereka saling tatap dalam diam. Berpacaran selama hampir tiga tahun ini adalah kali pertama mereka sedekat itu dalam keadaan tak berbusana. Ya, Gio dan Lexa dalam perjalanan pulang dari menonton. Dengan motor Lexa mereka berjalan pelan. Belum juga sampai rumah, hujan deras mengguyur. Entah pikiran siapa, Gio langsung mengarahkan motor ke pelataran hotel untuk berteduh. Karena melihat Lexa yang basah kuyup dan berniat mengeringkan pakaian sebentar Gio memutuskan untuk check-in. Lexa hanya manut.

Kini di sinilah mereka. Lexa yang mengeringkan pakaian dalam keadaan tanpa busana, hanya tertutup selimut. Sementara Gio hanya mengenakan handuk hotel.

"Lex?" panggil Gio pelan dan perlahan melangkah maju mendekati Lexa. "Aku sayang kamu ...."

Tubuh Gio sudah merapat pada tubuh Lexa. Selimut yang dikenakan Lexa melorot. Membuat bahunya terbuka bahkan hingga punggungya terkespos jelas. Beruntung tangannya erat menggenggam bagian depan, membuat tubuh bagian depannya selamat.

"Entah kenapa aku semakin sayang sama kamu," ucap Gio pelan. Pemuda itu terus menatap wajah Lexa yang bersih tanpa make up. Sungguh cantik alami, begitu pikir Gio. "Kamu sayang kan sama aku?" tanya Gio sedikit berbisik karena kini jarak mereka hanya beberapa inci.

Lexa yang salah tingkah dan bingung hanya mengangguk pelan. Dibiarkan saja jemari Gio membelai anak rambutnya dan menyibaknya hingga ke belakang telinga. Lexa memejamkan mata menikmati belaian demi belaian Gio. Hingga tidak menyadari jika kini bibir menawan Gio sudah menyentuh bibirnya. Hanya sekilas. Membuat Lexa membuka mata. Mereka bersitatap dan tersenyum.

"Aku juga sayang kamu," bisik Lexa pelan. Gio tersenyum.

"Aw ...."

Lexa terpekik perlahan saat tiba-tiba Gio mengangkat tubuhnya dan membantingnya ke ranjang empuk hotel. Deru napas mereka saling beradu. Dengan detak jantung yang semakin meningkat. Gio memeluk pinggul Lexa erat. Menyentuh kulit halusnya secara langsung. Membuat Lexa merinding dan melambung. Gadis itu menggigit bibir.

"Aku sayang kamu ...."

Lexa tidak menjawab. Karena kini bibirnya sudah dilumat habis oleh Gio seolah tanpa sisa. Kecupan dan pagutan semakin dalam terus mereka lakukan. Gio seolah tak ingin melepas bibir Lexa begitu saja.

Sore itu ranjang hotel menjadi saksi. Hal intim pertama kali mereka lakukan setelah tiga tahun menjalin cinta. Lexa dan Gio seolah lupa arah jalan pulang. Mereka terus berpagut. Saling memeluk dengan berbagai posisi dan terus menempel tak terpisahkan.

"Pulang, yuk!" ajak Gio mengecup bahu Lexa yang terbuka. Perlahan ditutupkannya selimut pada tubuh Lexa. Gadis itu menggeliat, menarik selimut untuk menutup tubuhnya bagian depan.

"Tapi aku masih pengin sama kamu," jawab Lexa yang dijawab gigitan kecik Gio pada bibir nya. Lexa menjerit kecil.

Menjelang malam mereka baru pulang. Dengan membawa sejuta kebahagiaan dan bunga asmara yang terus tumbuh merekah.

Kini bunga itu layu. Bahkan layu dan kering. Meninggalkan tanah kenangan yang juga kering kerontang. Namun berbeda dengan air mata Lexa yang terus mengalir. Gadis itu tergugu mengingat kenangan manis yang pernah dia rasakan bersama Gio.

"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Gio ...?"


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di