KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Menelisik Hatimu, Cinta yangTertambat Kembali
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62b9c0214786803a512e997e/menelisik-hatimu-cinta-yangtertambat-kembali

Menelisik Hatimu, Cinta yangTertambat Kembali

Menelisik Hatimu, Cinta yangTertambat Kembali

pinterest


Ketika sepasang anak manusia jatuh cinta tentu saja semua hal akan berubah menjadi indah. Perasaan yang tersimpan pun terkadang bisa membuat hati resah.

Seperti kisah cinta yang sedang kualami. Pertemuan yang tak terduga dengan seirang pemuda menjadi awal berseminya benih cinta. Benar-benar bisa melambungkan angan hingga ke langit ke tujuh.

Kelik, itu namanya. Laki-laki bermata sayu, sering duduk menyendiri di sudut lapangan ketika pelajaran olah raga tiba. Senyum misteriusnya sering tersungging ketika aku menyapanya.

"Kelik, ngapain duduk di situ. Ayo, entar dimarahin Bu Klara, baru tau loh!"

Lagi-lagi, dia tersenyum. Mempermainkan ranting di tangannya.

"Nggak, ah. Ntar aja. Toh, belnya juga belum bunyi."

Aku pun diam. Tak berani terlalu mendekatinya. Kelik terkenal dengan sebutan si gunung es. Banyak cewek yang ingin mendekatinya mundur teratur.

Salah satunya Duri, teman satu bangkuku. Awalnya dia menaruh perhatian. Lama kelamaan, kapok, tak mendapat lampu hijau, katanya.

Dia pun tak lagi berusaha mencati perhatian lelaki muda bermata sayu itu. Aku sendiri hanya menganggapnya teman, tak memiliki keberanian untuk memupuk rasa padanya.

"Hei, kok jadi ngelamun. Ayo, duduk di sini. Sambil nungguin lonceng masuk bunyi."

Aku tersentak. Lonceng berbunyi tak lama lagi. Lima menit waktu tersisa untuk masuk. Enggan rasanya duduk di samping Kelik.

"Nggak, ah. Lain kali aja. Aku mau masuk dulu. Ngeri denger omelannya Bu Klara kalo telat."

Tawa kerasnya segera membahana. Lepas sekali. Aku terkejut. Ternyata laki-laki di hadapanku ini tak seperti yang dikatakan Duri atau teman cewek-cewek yang lain.

"Ya, udah. Masuk, gih! Ntar kapan-kapan aja kita ngobrol."

Aku tersenyum, melambaikan tangan dan segera berlalu. Cap guru killer yang dipegang Bu Klara benar-benar membuatku tak berani terlambat masuk kelas.

Semenjak kejadian itu, aku dan Kelik jadi sering bertemu. Terkadang duduk di pojok lapangan sambil melihat siswa yang lain lalu lalang.

"Sudah ada kampus yang dituju, Kin?"tanyanya sewaktu kami membahas rencana untuk kuliah.

Aku tertawa kecil. Takut untuk berterus terang. Kemampuan keuangan Bapak tentu tak akan cukup untuk membiayai kuliahku.

Aku menggeleng. "Entahlah!" ucapku sendu.

Kelik memandangku dengan mata sayunya. Mungkin ingin bertanya lebih jauh, tapi tak ingin membebaniku. Aku pun hanya diam, tertunduk menatap daun-daun kering yang terus berguguran.

"Kamu sendiri mau daftar di mana Kelik?" tanyaku memberanikan diri.

Mata sayunya berbinar. Laki-laki muda itu tersenyum, siap menyambut masa depan yang cemerlang.

"Aku daftar di Universitas A, yang ada di kota sebelah."

Aku menelan ludah. Serat rasanya tenggorokanku. Kelik tentu saja bisa melanjutkan pendidikan ke sana. Dia memiliki orang tua yang berada dan otak encer. Paket lengkap yang diperlukan memenuhi persyaratan untuk masuk ke Universitas ternama.

"Oh, mudah-mudahan keterima ya!" ucapku tulus.

Senyumnya melebar. Ah, taukah kau, pemilik mata sayu, jantungku berdegup kencang takkala melihat senyummu? batinku.

Kelik tersenyum lagi dan berkata, "makasih ya, Kinan. Semoga, kamu juga bisa diterima di universitas yang kamu suka."

Aku pun tersenyum. Tak ingin membuat senyumnya menghilang. Terasa teduh saat menikmati senyumannya. Kami pun terlibat dalam pembicaraan seru ssmpai bel masuk berbunyi.

Duri berbisik ketika aku sudah duduk di sampingnya. Dia sepertinya penasaran melihat keakrabanku dengan si gunung es. Julukan yang diberikan pada Kelik.

"Kin, kamu kok bisa ngobrol kayak gitu sama Kelik? Biasanya dia suka pasang tampang dingin kalau berhadapan dengan cewek-cewek yang lain.

"Aku juga nggak tau, Duri," sahutku sembari mengeluarkan beberapa buku dari tas ranselku.

Duri semakin penasaran. Sementara Kelik yang duduk di pojok kelas memasang tampang cuek. Pura-pura tak melihat adegan di hadapannya.

Sebelum cewek bertubuh semampai itu bertanya lagi buru-buru aku mengingatkan kalau Bu Klara sudah mulai memasuki kelas. Duri pun terdiam. Pesona guru yang satu ini mampu membuat semua murid diam mendengarkan penjelasannya. Tak ada yang berani berkutik menghadapi guru seperti Bu Klara.

Sepulang sekolah, Kelik menghampiriku, menawarkan untuk pulang bersama. Untuk sepersekian detik otakku berpikir menerima atau menolak permintaannya. Sementara banyak pasang mata memperhatikan kami.

Kelik tak sabaran, segera menarik tanganku, menyuruhku untuk duduk di boncengan. Pandangan beberapa cewek yang masih memperhatikan kami segera berubah. Ada yang terpana, mencibir ke arahku bahkan ada yang terkejut melihat tindakan Kelik.

"Kelik, kok kamu mau pulang bareng sih?" tanyaku, iseng.

Tawa lepasnya terdengar di telingaku. Ternyata si gunung es ini telah mencair.

"Nggak apa-apalah, Kin. Lagi pula rumah kita kan satu arah," ucapnya sambil melajukan sepeda motor matiknya dengan kecepatan sedang.

Aku ikut tertawa, tapi tak selepas Kelik.Perasaan berdebar itu kembali lagi.

"Kin, ntar perpisahan sekolah perginya bareng aku, ya?"

Permintaannya membuatku terkejut. Mau menjawab, iya, takut. Mau menolak rasanya tak ada alasan pasti. Akhirnya aku pun mengiyakan.

Semenjak saat itulah hubungan kami semakin dekat. Bahkan setelah acara perpisahan sekolah selesai. Aku masih sempat bertemunya ketika cap tiga jari. Setelah itu ia seperti menghilang. Tak tahu rimbanya.

Quote:


Aku bahkan menganggap Kelik, si gunung es itu kembali ke habitat lamanya. Tak pernah ada khabar beritanya. Hingga enam tahun kemudian, secara tak sengaja aku melihatnya di sebuah perusahaan kontraktor terkenal.

Saat itu aku sedang mengantarkan seorang teman untuk wawancara pekerjaan. Kelik tampak lebih gagah sekarang, hanya saja matanya tetap terlihat sayu.

Aku menunduk ketika melewati tempatnya berdiri. Gemetar. Beruntung dia tak mengenaliku. Mungkin karena penampilanku yang kini memakai hijab.

"Kin, kamu tunggu di sini aja. Kalo dah selesai, ntar aku hubungi" ucap temanku tadi.

"Aku nggak bisa lama-lama, masih ada kerjaan!" balasku segera. Aku juga punya pekerjaan yang harua segera diselesaikan.

Dia mengangguk lalu setengah berlari menuju ruang wawancara. Sementara aku memilih duduk di salah satu kursi di sana. Kupilih kursi yang ada dekat pojok ruangan.

Suasana di sekitarku duduk terlihat cukup lengang. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin mereka sedang ada kepentingan juga.

Untuk mengusir kejenuhan, aku membuka smartphone mencoba membaca beberapa ayat. Setelah menis beberapa pesan pada rekan kerjaku.

Mesti tidak duduk di bangku kuliah, aku berhasil lulus dari sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris, sehingga bisa melamar di salah satu perusahaan. Hanya jabatan kecil saja. Namun, gajinya cukuplah untuk membiayai hidupku sehari-hari.

"Permisi, apa kita pernah saling kenal, ya?"

Tiba-tiba Kelik telah berdiri di hadapanku. Entah sejak kapan dia berdiri di sana.

Aku mengangkat wajah menatap mata sayunya. Lelaki itu tersentak.

"Kinan ... kamu beneran Kinan kan?" tanyanya tak percaya.

Aku juga tak percaya kalau Kelik masih mengenaliku. Gunung es yang menghilang begitu saja.

"Kamu Kelik kan ...?" balasku.

Dia mengangguk. "Kamu kok sampai ada di kota ini?" tanyanya lagi.

Aku menghela napas. Dadaku terasa terbakar. Pertemuanku dengan Kelik seperti menimbulkan percikan asmara yang dulu terpendam.

"Aku kerja di kota ini sejak dua tahun yang lalu. Ada keluarga yang nawarin kerja di perusahaan travel," jelasku.

"Pantas saja. Aku kehilangan jejakmu. Sering, aku menitip pesan lewat Duri, teman sebangkumu dulu, tapi katanya kau sudah pindah."

Tanpa sadar dahiku mengkerut. Apa-apaan Duri ini. Kenapa dia kok nggak pernah kasih tau kalau Kelik sering menitip pesan.

"Lagian.Nomor telephoneku kan ada, kenapa nggak ngubungi?"

Dia menggaruk kepalanya. Tampaknya ada sesuatu yang menyebabkan dia tak bisa menghubungimu.

"Aku kehilangan hansphone, Kin. Kena jambret. Jadi kehilangan semua nomor kontak teman-teman. Kebetulan, aku ketemu Duri di salah satu mall di sini, jadi aku tahu nomornya. Mau minta nomormu, dia bilang nggak ada."

Oa lah, ternyata Duri masih mencoba mengambil hati si gunung es ini. Jadi mencoba memakai cara ini.

"Pantesan aku nggak tau khabar beritamu. Kau seperti hilang ditelan bumi."

Kelik tertawa memperlihatkan deretan giginya yang bagus. Lalu berkata, "kamu tambah cantik Kin dengan hijabmu. Udah punya gebetan belum?"

Kali ini aku terperanjat. Benar-benar tak menyangka Kelik, si gunung es telah benar-benar lumer.

"Apaan, sih, Kelik?"

Aku bisa merasakan wajahku berubah menjadi panas. Bersemu. Kelik kembali menjadi seperti Kelik yang kukenal sebelum terpisah dulu.

"Iya, aku serius, Kin. Aku nggak ingin kehilangan kontak lagi. Mau ya jadi pendamping hidupku nanti?"

Wajahku semakin panas. Mungkin sudah seperti kepiting rebus. Lelaki yang berada di hadapanku sedang berusaha melamar secara halus. Aku sendiri jadi bingung. Tak tahu harus bilang apa.

"Kelik .... Ini sungguhan, nih?" tanyaku lagi. Tak percaya kugigit bibir kuat-kuat. Terasa sakit.

Kelik tertawa, sangat lepas. Bahkan membuat kaget beberapa orang yang sedang berada di sana.

"Ssst ... diam dikit, napa. Malu tau diliatin orang kayak gitu!"

Kelik menghentikan tawanya. Dia sekarang duduk di sebelahku, menatap dengan pandangan berharap.

"Mau ya, Kinan. Aku juga udah punya kerjaan tetap. Nih, di perusahaan ini."

Aku tersenyum. Perasaan itu berbunga kembali. Rasa yang dulu sempat hadir tapi belum sempat mekar. Aku pun mengangguk. Cukup menjawab dengan anggukan saja.

Senyum manis Kelik mengembang kembali. Senyum yang sering diperlihatkannya kala aku melewatinya di pojok lapangan. Senyum yang berhasil meluluh lantakkan hatiku untuk tak beralih ke cinta lain.

Cinta yang sama-sama terpendam akhirnya bertaut kembali. Kalau memang sudah berbicara tentang rasa maka mesti telah terpisah pun akan tetap dapat bertemu.

Dunia memang luas tapi kalau Allah sudah menetapkan takdir cinta maka sepasang manusia seperti aku dan Kelik pun dapat bertemu kembali. Merajut cinta yang dulu tak sempat terucap.

Link puisi

Melisik Hatimu by Uliyatis
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
Diubah oleh uliyatis
Pejwan
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Buat cerita lagi, mampir lagi yok emoticon-I Love Indonesiaemoticon-Shakehand2
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Senyummu terkadang membawa bahagia tapi sering membawa luka
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Ringan bacanya apa lagi bacanya masih pagi, bikin mood jadi ikutan segeremoticon-Rate 5 Star

Happy ending, nice storyemoticon-flower

***

Cek lagi, masih ada typo keknyaemoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
uliyatis memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Cerita yang asyik
profile-picture
uliyatis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Itu namanya gak bisa move on
profile-picture
uliyatis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Post ini telah dihapus
Post ini telah dihapus


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di