KOMUNITAS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628099dc9f793a0b493bade0/non-profit-boyfriend

Non-Profit Boyfriend

Non-Profit Boyfriend

Dalam berhubungan, kita pasti pernah mendengar pasangan kita berucap seperti ini “jangan tinggalin aku ya…” atau seperti ini “jangan pernah lupain aku ya…” Bila kalian belum pernah mendengar ucapan tersebut, segeralah mencari pasangan.

Belakangan ini, kedua ucapan tersebut kian menghantui gw. Syukurnya, gw sangat bisa dan masih menepati janji untuk “ tidak meninggalkannya” tapi sayang, saat ini gw diambang “melupakannya”

Bukan karena gw udah gak cinta dia, bukan begitu. Karena seperti yang gw bilang sebelumnya, gw tidak meninggalkannya. Tetapi saat ini keadaanlah yang memaksa gw untuk mulai melupakannya. 

Dia disini adalah dia yang sudah bertahun lamanya bermukim di ingatan gw, dia yang terbentuk sejak lama dan terus bertumbuh, dia yang biasa kita sebut “kenangan”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Semakin bertambahnya umur aku, semakin terkikis lah ingatan tentang indahnya awal-awal hubungan kita dulu. Dan aku yakin bila diberitahu, kamu pasti akan marah mendengar pengakuanku.


Maka dari itu, diary ini sengaja aku tulis. Agar suatu saat nanti kita dapat membacanya bersama, dan mengingat bahwa di awal kisah, kenangan kita seindah itu loh. Dan betapa cintanya aku sama kamu, walau saat ini cintanya tetap sama. Tapi setuju kan kalau kekuatan cinta kita dulu sangat jauh lebih kuat, hehehe.”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

I Live My Life for You

You know you're everything to me
And I could never see
The two of us apart

And you know I give myself to you
And no matter what you do
I promise you my heart

I've built my world around you
And I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

I live my life for you
I wanna be by your side,
In everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true

I live my life for you

I dedicate my life to you,
You know that I would die for you,
But our love would last forever

And I will always be with you
And there is nothing we can't do,
As long as we're together

I just can't live without you
And I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

I live my life for you
I wanna be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true

I live my life for you
Oh, I've built my world around you
And I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

I live my life for you
I wanna be by your side,
In everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you, oh woah yeah
I live my life for you








profile-picture
profile-picture
profile-picture
regmekujo dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Halaman 1 dari 2
Non-Profit Boyfriend

Cerita ini berawal pada saat om SBY masih jadi Presiden Indonesia, saat gw masih masih bersekolah di salah satu SMP berstatus negeri di kota kecil sekitaran sumatera. Gw biasa dipanggil Tyo oleh teman teman. Anak pertama dari 2 bersaudara, gw punya adik perempuan yang terpaut 8 tahun dengan gw.

Keluarga gw masih lengkap, bahkan sampai kakek nenek pun masih ada. Tapi keluarga gw bukanlah keluarga yang harmonis, keluarga gw udah beberapa kali hampir hancur. Awalnya, gw yang dulu anak satu-satunya di keluarga ini tinggal di perkampungan sumatera. Namun harus rela menempuh perjalanan darat 2 hari 2 malam untuk ke kota gw yang sekarang hanya demi menyusul bokap gw yang kabur dari rumah.

Mama dan papa udah sangat sering ribut, bahkan saat gw masih duduk di kelas 2 SD, papa memutuskan untuk kabur ke kota ini, gw harus menangis sampai kehilangan suara untuk beberapa hari dulu baru mama mau menyusul papa.

Keadaan kelam keluarga gw lah yang membuat gw harus kehilangan beberapa momen indah masa kecil, papa dan mama hampir gak pernah ngajakin gw jalan ataupun liburan, dan gw selalu dipaksa untuk memaklumi hal-hal seperti itu.

Hal itu pula lah yang membuat gw harus terlihat dewasa sebelum waktunya. Disaat anak-anak yang lain sedang asik bermain kelereng atau layangan di lapangan, gw pasti lagi sibuk mengais sampah atau mencari rezeki di sungai yang bisa gua jadikan uang jajan.

Dan pun bila nanti di diary gw ini kalian hanya menemukan secuil humor, gw mohon maaf. Karena sejujurnya, gw sedikit susah untuk mengekspresikan perasaan komedi atau candaan.

Hubungan keluarga gw mulai berjalan baik saat kelahiran adik gw. Adik yang sebenarnya bisa lahir atas permintaan gw sendiri. Gw yang saat itu merasa sangat kesepian, karena baru pindah kesini dan tidak memiliki satu teman pun. Mama dan papa waktu itu baru merintis usaha mereka masing-masing, itulah kenapa perbedaan umur gw dan Tania adik gw nampak cukup jauh.

Cukup tentang background gw, karena diary ini gw buat bukanlah untuk menceritakan kehidupan gw sehari hari. Diary ini ada karena gw ingin menuangkan semua ingatan gw tentang cinta gw pada seseorang yang sangat berarti bagi gw sampai sekarang. Izinkan gw memulainya teman, bismillah.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Right Here Waiting

Oceans apart, day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain

If I see you next to never
How can we say forever?

Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I took for granted all the times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can't get near you now

Oh, can't you see it, baby?
You've got me goin' crazy

Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I wonder how we can survive
This romance
But in the end, if I'm with you
I'll take the chance

Oh, can't you see it, baby?
You've got me goin' crazy

Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

Waiting for you

profile-picture
profile-picture
profile-picture
regmekujo dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Non-Profit Boyfriend

Saat ini adalah semester pertama gw di kelas 2, dan minggu kedua pembelajaran. Gw gak masuk di minggu pertama karena minggu pertama dipergunakan sekolah untuk memperkenalkan lingkungan sekolah kepada murid baru dan murid tingkat satu, yang biasa disebut Masa Orientasi Siswa atau MOS.

Gw berangkat sekolah selalu diantar papa naik motor, hanya beberapa kali gw berangkat naik angkot. Seperti pagi ini, gw sengaja berangkat sekolah naik angkot karena ingin berangkat lebih awal. Karena hari ini adalah hari pertama sekolah bagi kelas 2 dan 3, maka hari ini akan ada pembagian kelas dan pemilihan tempat duduk. Gua gak ingin telat, karena gak ingin spot favorit gw di kelas direbut murid lain.

Gw sampai sampai gerbang sekolah saat jam menunjukkan pukul 06.40. Nampak beberapa murid sudah memenuhi mading di beberapa spot. Gua ikut masuk kedalam kerumunan tersebut untuk melihat kelas baru gw.

Di sekolah gw, tiap tingkatan kelas memiliki 5 cabang, dan berdasar urutan alfabet. Waktu kelas satu kemaren, gw berada di kelas 1E Maka gw putuskan untuk mengecek dari kelas 2E terlebih dahulu, sayangnya nama gw ga ada disana. Ternyata nama gw terdapat pada list 2D, gw coba liat lagi nama nama yang tertera disana, berharap ada nama nama yang gw kenal. Syukurnya, gw dapat menemukan beberapa nama yang gw kenal, serta beberapa nama yang dulu jadi teman gw di kelas 1E.

Kemudian gw mulai menyusuri koridor sekolah untuk mencari kelas 2D. Sekolah gw ini walaupun bukan unggulan dan tidak tingkat 2, namun lokasinya cukup luas. Setelah menelusuri dan menemukan kelas 2D, belum terlihat ada murid yang masuk sebelum gw. Maka gw dapat dengan bebas memilih bangku yang ingin gw tempati.

Di kelas 1 kemaren gw harus berbesar hati untuk duduk dengan murid perempuan, karena datang terlambat dan dapat kursi sisa. Gw memutuskan untuk menduduki kursi paling belakang di barisan meja guru. Gw yakin gak akan jadi perhatian guru kalau duduk disini.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya beberapa murid mulai memasuki kelas. Beberapa dari mereka menyapa gw, mereka adalah temen gw di kelas 1E dulu. Gw juga dapat menyimpulkan beberapa murid perempuan yang masuk ke kelas ini cukup cantik-cantik. Bakal betah gw kayaknya dikelas.

Saat sedang asyik merhatiin sekitar, tiba tiba temen akrab gw di sekolah muncul di kelas.

“Akmal !!!!” teriak gw.

Beberapa siswa cukup terkejut dengan teriakan gw, termasuk Akmal yang baru melewati pintu.

“Sini!!” teriak gw lagi agar dia menghampiri gw.

“Sekelas ni kita?” tanya Akmal sambil menaruh tasnya di kursi sebelah gw.

“Menurut lu” jawab gw rada judes.

“Suram dah”
“eh..”
“Gw pojok dong”
pintanya.

“Ye elah” keluh gw, berasa aja tukang rusak hidup orang.
“Ogah”
“Gw sengaja datang pagi buat duduk disini”
“Enak aja lu…”


Sekilas tentang Akmal, Akmal adalah salah satu teman yang gw temui di sekolah ini. Dan dia sudah bawa motor ke sekolah sejak kelas 1. Jalan pulang kita searah, jadi gw sering nebeng dia buat pulang. Orang nya asik, dan sangat setia kawan, walau sedikit jahil. Akmal adalah anak anggota dewan di kota gw, jadi bisa dibilang dia cukup tajir. Bahkan menurut penuturan dia, dia udah bisa bawa mobil sekarang, dan sering jalan jalan pake mobil bokapnya. Tapi entahlah, gw gak pernah liat dia bawa mobil sejauh ini.

Akmal berperawakan tinggi dan badannya cukup tegap untuk anak SMP, abangnya polisi, dan punya beberapa peralatan gym dirumahnya, jadi dia sering ikut abangnya latihan. Kulitnya sawo matang, dan dia lumayan ditaksir banyak kakak tingkat. Setahu gw, Akmal saat ini masih jomblo walau sedang dekat dengan beberapa teman dan kakak tingkat.

Tidak lama kemudian bell masuk pun berbunyi, diiringi seorang guru perempuan memasuki kelas. Ibu guru ini sudah cukup berumur, mungkin sudah berumur 45 tahunan, badannya berisi dan mengenakan hijab. Dari langkahnya, dia nampak tegas dan berwibawah.

“Pagi anak-anak” sapa beliau setelah meletakkan beberapa buku di meja nya.

“Pagi bu…..” jawab kita barengan.

Ibu tersebut memperkenalkan dirinya sebagai ibu Ima, dia akan menjadi wali kelas kita untuk satu tahun kedepan. Menurut beliau, beliau sudah mengajar di sekolah ini sekitaran 20 tahun. Dan beliau tinggal di kota sebelah, hal inilah nanti yang akan menjadi senjata beliau untuk memarahi kita bila terlambat masuk ke kelas. Beliau akan berkata bahwa beliau yang tinggal di kota sebelah pun gak pernah terlambat, maka ada apa gerangan dengan kita yang masih tinggal dalam kota bisa datang terlambat.

Ibu Ima datang ke kelas kita pagi ini bermaksud ingin membentuk perangkat kelas. Ibu Ima udah dapat referensi tentang kita semua dari para wali kelas kita pada saat kelas 1 dulu, jadi kemungkinan ibu Ima sudah dapat nama nama yang akan dia dia angkat menjadi perangkat kelas.

“Ibu akan menunjuk perangkat kelasnya”
“Tetapi kalian semua yang akan menentukan apakah mereka pantas atau tidak”

“............”


Kita cukup deg-degan mendengar ucapan ibu Ima. Terutama gw, gw sangat gak pengen menjadi perangkat kelas.

“Untuk ketua kelas”
“Ibu sudah mendapat rekomendasi dari beberapa guru kalian terdahulu
” Suasana cukup hening saat bu Ima berbicara.
“Ibu ingin mengangkat saudari Laras sebagai ketua kelas”
“Apa anak-anak setuju?”
tanya ibu ke arah kita.

Laras adalah murid yang berasal dari kelas 1B Gua cukup mengenalnya, walau gak gitu deket. Laras adalah tipe murid yang sangat bisa diandalkan dalam hal apapun, dikelasnya dulu pun dia dijadikan sekretaris oleh wali kelasnya. Sekilas, Laras ini tingginya kisaran 160, cukup tinggi buat cewe. Rambutnya hitam gak panjang, potongan polwan. Kulitnya berwarna kuning langsat, dan berdagu tegas.

Gw setuju kalau dia jadi ketua kelas, karena dari semua yang gw kenal, memang dia yang nampak paling berkompeten menjadi ketua kelas. Ternyata kebanyakan dari teman kita pun setuju, maka terpilihlah dia sebagai ketua kelas.

“Laras, ibu dan teman-teman mengandalkan kamu”

“Baik bu”
“Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaannya”
jawabnya sambil berdiri.

“Baik”
“Silahkan duduk kembali”
perintah ibu ke Laras.
“ibu juga sudah mendapatkan nama yang akan mendampingi Laras sebagai wakil ketua kelas”

. Keadaan kembali sunyi, gua sedikit menyingkir ke arah tembok, berharap ibu Ima gak liat. Bukannya gw geer bakal dipanggil namanya, gw hanya ingin menghilangkan keberadaan gw di kelas ini. Dan terbebas dari segala jenis pekerjaan yang bakal memberatkan kehidupan gw kedepannya.

“Untuk jabatan wakil ketua kelas”
“Ibu juga sudah mendapatkan rekomendasi dari guru kalian sebelumnya”
“Menurut Miss Eka”
Miss Eka adalah guru bahasa inggris kita saat kelas 1.
“Murid kepercayaannya, sekaligus ketua English club berada di kelas ini”
“Bisa berdiri sebentar?”


Mendengar ucapan ibu tadi, kita sekelas saling adu tatap. Kecuali Akmal, Akmal hanya menatap kearah gw.

“Kok orangnya ga berdiri”
“Apa dia salah masuk kelas ya?”
tanya ibu Ima keheranan.

Tiba-tiba Akmal yang berdiri, kagetlah gw. Masa si sengklek Akmal mau jadi wakil ketua kelas.

“Kamu yang berdiri..”
“Apa kamu yang ibu maksud?
” tanya ibu ke Akmal.

“Maaf bukan bu” kata Akmal cukup lantang.
“Tapi dia…” Akmal menunjuk ke bawah, ke arah gua.

“Babi…….” ucap gw pelan sambil narik celana Akmal.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ym15 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Non-Profit Boyfriend

“Coba mas nya disuruh berdiri sebentar” pinta bu Ima.

Mau gak mau gw mesti berdiri. Nyesel gw minta dia duduk disebelah.

“Saya bu” ucap gw lirih sambil menundukan kepala.

“Siapa nama kamu mas?” tanya ibu Ima lagi.

“Tyo bu”
“Saya yang tadi ibu maksud”
“Maaf untuk tidak berdiri sebelumnya”
mau gak mau gw harus minta maaf.

“Sekarang kamu ibu beri kesempatan buat nunjuk 1 teman yang akan gantiin posisi kamu sebagai wakil ketua kelas”

Mendengar perintah ibu, gw hanya bisa menundukkan kepala, lalu melihat sekitaran kelas. Teman teman yang lain pun sama, ngeliatin gw. Jatuh sudah harga diri gw, di hari pertama sekolah pula.

“Maaf bu”
“Saya minta maaf karena sudah berlaku tidak sopan ke ibu dengan tidak berdiri saat ibu panggil tadi”
“Dan saya pun meminta izin ibu untuk tetap memegang jabatan tersebut”
“Jabatan sebagai wakil ketua kelas”
gw mencoba untuk setenang mungkin saat mengucapkan itu.

“.........” kelas nampak hening setelah mendengar ucapan gw barusan.

“Ibu ga ada hak buat menentukan”
“Semua ibu serahkan pada teman yang lain”
“Tapi kalau ibu yang harus menentukan”
“Ibu kana mendiskualifikasi kamu untuk jabatan ini”
“Tidak bertanggung jawab”
ucapan ibu Ima cukup menohok hati.
“Jadi teman teman”
“Apa dia pantas mendapat kesempatan menjadi wakil ketua kelas kalian?”

“..........”
gw cuma bisa diem saat itu.

“Sangat pantas bu” ucap Akmal keras dan lantang.

Hampir semua orang di kelas, termasuk gw dan ibu Ima kaget mendengar teriakan Akmal.

“Baru satu suara”
“Yang lain gimana?”
“Apa kalian merasa pantas dipimpin oleh mas Tyo?”
bu Ima kembali bertanya.

“Pantes bu” jawab beberapa orang.

Setelah gw liat, yang ngomong pantas rata rata adalah temen gw dari kelas 1E dulu.

“Baiklah”
“Suka gak suka ibu harus terima pilihan teman-teman”
“Ibu harap kamu bisa diandalkan dan dapat mendampingi Laras dengan baik”
titah bu Ima.

“Terima kasih bu atas pengangkatannya”
“Dan saya meminta maaf pada ibu dan teman-teman karena sudah memberikan image buruk dan menyebabkan sedikit kekacauan pagi ini”



Setelah mengucapkan kata kata tersebut, gw kembali duduk. Saat berdiri tadi, gw sempat melirik sekitar dan menemukan beberapa teman gw di kelas 1E dulu.

Gw akan coba mendiskripsikan keadaan dan beberapa teman kelas yang nanti akan sering masuk ke dalam cerita ini. Karena garis besar cerita ini akan terjadi selama gw berada di kelas dua ini.

Yang pertama akan ada Nurul, dia duduk bareng teman dekatnya, berjarak 2 meja di depan kita. Nurul ini hitam manis, mungil, mungkin tingginya hanya sebahu gw. Rambutnya panjang lurus nampak sehat. Wajahnya tirus, dan ada lesung pipi. Dia lumayan cablak kalau sudah deket.

Yang kedua ada Rahmat, dia juga sama dengan gw, berasal dari kelas 1E. Rahmat tingginya sama dengan gw, tapi dia rada kurus, kulitnya sawo matang dan berambut ikal. Di Kelas 1 dia terkenal bucin dengan pacarnya, Desi. di kelas 2 ini pun kayaknya mereka masih bucin. Terlihat dari mereka yang memilih untuk duduk sebangku di barisan tengah kelas.

Lalu adalah pacarnya Rahmat, yaitu Desi. Desi adalah salah satu teman kita yang berhijab. Setiap ngeliat Desi, gw selalu keinget Zaskia Adya Mecca. Karena mereka mirip banget. Gak heran si kalau Rahmat bucin, pacarnya beneran cantik, mereka pacaran udah dari semester pertama kelas 1, dari bocil cuy.

Kemudian ada Firman, Firman adalah teman sekampung gw, dia juga ada di kelas 2D ini. Firman ini cukup ganteng menurut gw, no homo. Tapi sayang dia kucel, dan jarang merawat diri. Setiap hari kerjaannya main layangan atau permainan lain yang mesti panas panasan, makanya kulit dia nampak gelap dan sering bau matahari. Gw lumayan dekat dengan Firman, karena dia adalah salah satu temen gw buat mulung atau kerja serabutan.

Selain Firman, gw ada 1 teman lagi di kampung tapi sekolah ditempat yang berbeda. Namanya Ical, dia juga sama dengan Firman, sering gw panggil bolang. Tapi Ical dan Firman adalah temen gw yang paling setia kawan. Selalu memberi gw dan Firman kerjaan saat kita lagi butuh uang. Bapaknya punya usaha jualan udang. Jadi kita sering bantu bapaknya, dan juga kita sering diajak menangkap kepiting di sungai. Mereka berdua ini adalah teman yang sangat gw hormati, kita selalu sepenanggungan dalam hal apapun, hingga sekarang.

Dan yang terakhir ada Ramdhani, orangnya baik, baik banget. Sering bantuin gw dalam keadaan sulit, terutama masalah duit. Dari kelas satu kita sering pulang jalan kaki bareng kerumah, walau sering harus dipaksa dulu. Rumahnya sejalan dengan rumah gw, tapi rumah dia sedikit lebih jauh, berbeda beberapa gang. Dia pecinta jejepangan, cewek jepang, anime, manga, sampai hentai dia suka. Dan dia punya cita - cita buat kuliah di jepang dan punya pacar cewek jepang.

Mereka semua akan sangat sering masuk ke dalam cerita ini, dan akan bertambah lagi nanti seiring berjalannya waktu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wahyujayasagita dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
emoticon-mudik
profile-picture
benk.chibenk memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Non-Profit Boyfriend
Kita memang gak belajar di hari pertama ini, semua mata pelajaran diisi dengan perkenalan antara murid dan guru. Sekolah gw tetap gak mengizinkan kita balik lebih awal, tapi kita diperbolehkan untuk keluyuran di sekitar sekolah setelah mendapat izin dari guru yang mengajar. Hal ini dimaksudkan untuk kita bersosialisasi lagi dengan keadaan sekolah, serta temu kangen dengan teman yang sudah tidak bertemu karena liburan kenaikan kelas.

Gw, Laras, Dhani serta beberapa teman lainnya memutuskan untuk ke perpustakaan. Kita dikabari Miss Eka untuk menyusulnya kesana, ada oleh oleh katanya. Miss Eka adalah guru bahasa inggris kita, dia juga adalah guru gw, Laras dan Dhani di English Club, jadi kita lumayan dekat.

Saat kita tiba di perpus, nampak Miss Eka dan beberapa anggota lainnya udah kumpul di sebuah meja bulat di dalam perpus. suasana di dalam perpustakaan cukup riuh saat itu, penjaga perpus tak dapat berbuat banyak untuk meredam keadaan, karena hari ini adalah hari bebas.

“Laras, Dhani, Tyo !!!”
“Sini…..”
panggil Miss Eka cukup lantang.

Kita yang memang sudah tahu keberadaan mereka pun datang menghampiri, saat itu nampak salah satu murid sedang membagikan gantungan kunci bertulis nama kita, sepertinya itu adalah oleh oleh yang dimaksud Miss Eka.

“Salam Miss” ucap Laras yang mencium tangan Miss Eka, gw dan Dhani mengikuti hal serupa bergantian.

“Laras makin cantik aja loh” puji Miss Eka sambil mencium pipi kirinya.

“Dhani juga nih”
“Makin tinggi”
Gw juga ngerasa Dhani sedikit lebih meninggi saat ini.

“Kalo Tyo gimana Miss?” tanya Ria, dia salah satu member English Club tapi dari beda kelas, dan cukup sering jailin gw.

“Gak berani Miss kasih komen”
“Entar fans nya marah”
ucap Miss Eka tertawa kecil.

Fans yang dimaksud Miss Eka disini adalah para penyamun di English Club, termasuk Ria dan Laras. Dulu saat masih di kelas 1 Miss Eka pernah tiba tiba muji gw “ganteng”. Yang langsung diserbu sorakan “booooo” oleh mereka. Setelah itu gak pernah lagi gw dipuji puji. Gw yang aslinya ga ganteng pastilah senyum sendiri saat dipuji Miss Eka, namun harus kandas karena dikandaskan oleh teman sendiri, mereka memang biadab.

Oleh oleh yang diberikan Miss Eka cukup berkesan, Member English Club yang datang ke perpustakaan mungkin sekitar 15 orang, dan setiap orang mendapatkan gantungan Kunci bertuliskan kaligrafi dengan nama mereka masing-masing. Dan masih tersisa banyak lagi untuk teman yang berhalangan hadir, gw lumayan tersentuh dengan Miss Eka yang masih sempat memikirkan kita walau sedang mudik.

Setelah pembagian oleh-oleh, beberapa murid memutuskan untuk balik, murid yang lain memutuskan untuk ke kantin. Tersisalah gw, Laras, Dhani, Ria dan Miss Eka disini.

Pagi itu kita habiskan untuk mendengarkan cerita Miss Eka selama masa liburan, yang mana masa tersebut dia pergunakan untuk balik ke jogja, bertemu keluarga dan calon suaminya. Calon suami yang pasti sangat beruntung karena mendapatkan cintanya Miss Eka. katanya pula, dia sudah dilamar kemaren. Dan mungkin akan melangsungkan pernikahan segera, namun dia masih merahasiakan tanggal pernikahannya dari kita, biar jadi kejutan nanti katanya.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, selain berbagi cerita selama masa liburan, kita juga bermain Scrabble, salah satu gameboard favorit gw. Kita mulai main dari jam 11 hingga waktu pulang, jam 2.

“Dhan entar pulangnya jalan kaki bareng dong” gw ke Dhani.

“Baru hari pertama sekolah udah ngajak jalan kaki aja lu yo”
“Ogah gw, masih ada duit gw buat angkot”
tolak Dhani.

“Yah, sendiri dong gw”
“Temenin lah dhan”
gw sedikit memelas ke dia.

“Udah naik angkot aja napa si…”
“Kalo lu ga ada duit, pake duit gw aja dulu”
“Ada nih”
dhani mengeluarkan dompet dan menunjukkan isinya.

“Gak dhan”
“Gw ada kok duit kalo cuma buat angkot”
“Lagi pengen jalan aja si”

“Goodluck deh yo”
“Gw naik angkot aja”
Dhani pun berlalu meninggalkan gw sendiri di gerbang sekolah.

Entah kenapa, gw pengen aja pulang jalan kaki. Cuaca hari ini cukup bersahabat, lumayan kan buat hemat duit. Duit gw di kantong masih sisa 4000 rupiah, memang terbilang sangat dikit, tapi cukuplah kalau cuma buat angkot sampe rumah.

Akhirnya gw putuskan untuk pulang berjalan kaki walau sendiri. Sebenarnya ada beberapa murid lain yang memilih untuk pulang jalan kaki, tapi gw gak kenal mereka. Jadilah gw berjalan seorang diri sambil dengerin lagu pake earphones dan mainin gantungan kunci yang tadi pagi diberikan Miss Eka sebagai oleh oleh.

Selama perjalanan, gw cukup menikmati lantunan lagu dari salah satu grup band favorit gw, yaitu band Kotak. Masa itu, group band masih lah merajai pasar musik Indonesia. Boyband dan girl band belum lah setenar sekarang.

Saat sedang asik-asiknya bernyanyi, tiba tiba gantungan kunci yang diberikan Miss Eka terlepas dan menghilang dari tangan gw. Paniklah gw dibuatnya, gw akan sangat merasa bersalah bila kehilangan benda tersebut.

Jalanan yang memang berumput cukup mempersulit gw untuk mencari barang sekecil itu. Gw membutuhkan waktu cukup lama disana, bahkan harus sedikit menyingkap rerumputan untuk menemukan gantungan kunci itu.

“Ah akhirnya ketemu” ucap gw lega, karena berhasil menemukan gantungan kunci tersebut yang ternyata jatuh kebelakang gw dan ketutup rerumputan.

Karena enggan kehilangan benda itu lagi, akhirnya gw masukkan aja ke dalam tas. Saat membuka tas, gw gak sengaja melihat seseorang di seberang jalan sedang duduk di bangku jalan, entah gw yang kegeeran atau dia ngerasa hal yang gw lakukan tadi adalah hal konyol, tapi gw ngerasa dia merhatiin gw.

Gw gak bisa ngeliat dengan jelas orang itu, sepertinya perempuan dan anak sekolahan, karena dia pakai seragam, namun bukan seragam dari sekolah gw.

“Ah bodolah”
“Kenal aja kagak”
batin gw.

Gw pun sebodo amat dengan orang itu dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, saat gw tepat berada disamping dia, yang hanya dipisahkan jalanan aspal. Gw udah bisa liat dengan cukup jelas, ternyata dia beneran cewek dan dari tatapannya ke gw, gw bisa menyimpulkan kalau dia sedang gusar dan kebingungan.

Gw yang emang ga tegaan akhirnya memutuskan untuk menyebrangi jalan dan menghampirinya. Saat gw berada tepat di depannya, dia nampak menundukkan kepala. Padahal sebelumnya, dia selalu merhatiin gw, bahkan saat gw menyebrangi jalan dan mendekatinya.

“Mbak kenapa?” tanya gw kepadanya.

Sepertinya cewek ini seumuran gw, karena dari bet sekolah di lengannya tertulis salah satu nama SMP swasta di kota gw. Gw sengaja memanggilnya mbak agar mendapat responnya. Namun nihil, dia menundukkan dan menyembunyikan kepala di balik tas miliknya.

“Mbak nyasar ya?”
“Pasti bukan orang sini”
tanya gw lagi.

Gw bertanya demikian, karena memang gw gak pernah liat dia sebelumnya, dan lagi sekolah yang tertera di betnya berada sangat jauh dari sekolah gw. Sekolah dia terletak di utara kota, sekolah swasta unggulan di kota gw. Sekolah yang kebanyakan berisi kaum minoritas dan golongan menengah keatas. Dan dari penampilannya sekilas gw dapat menyimpulkan kalau dia juga berasal dari 2 kriteria tersebut.

Setelah beberapa kali mencoba dan masih gak ada tanggepan, gua akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya. Mungkin dia bukannya nyasar, tapi memang lagi mau sendiri. Saat gw memutuskan meninggalkannya dan berjalan beberapa langkah, gw sengaja berbalik badan untuk memastikan keadaan cewek tersebut. Ternyata bener aja, dia juga memutar kepala 30 derajat dan lagi merhatiin gw. Dia nampak sedikit syok saat gw membalikkan badan, kemudian langsung menyembunyikan kepalanya lagi ke bawah tas.

Karena merasa hal yang dia lakukan cukup lucu, akhirnya gw urungkan untuk meninggalkannya dan nyamperin dia lagi.

“Udah”
“Gak usah takut”
“Gw bukan penjahat kok”
“Nih, gw masih pake seragam sekolah”
“Sekolah gw disono noh”


Gw menjelaskan cukup panjang dan menunjuk ke arah asal gw berjalan tadi.

“Lu ngomong aja”
“Mungkin gw bisa bantu”
gw masih mencoba membuatnya bicara.

Akhirnya gw putuskan untuk ikutan diam, karena percuma juga gw ngomong panjang lebar, dianya bisu. Ternyata dengan diamnya gw membuat dia sedikit gelisah, mungkin dipikirnya gw kembali ninggalin dia. Dia nampak mengeluarkan kepalanya pelan-pelan dari bawah tasnya, mungkin ingin mengecek keberadaan gw.

Setelah dia mengeluarkan kepalanya dari bawah tas, barulah gw dapat dengan jelas melihat wajahnya. Dan wow, ternyata cewek ini cantik sekali, dan 1 hal yang paling menonjol darinya, dia sipit.

Wajahnya opal, dan nampak mulus. Rambutnya panjang bergelombang, sedikit dibawah dada. Kulitnya putih, sangat putih malah menurut gw. Gw lumayan tertegun saat melihatnya, gw emang sering ketemu amoy sebelumnya. Tapi baru ini gw liat amoy secantik dia. Gw yang gak pengen keliatan salting disampingnya, memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke arah depan. Tensin gw, pasti muka gw merah banget saat ini.

Terjadi keheningan lagi untuk beberapa saat setelah itu. Dia kini sudah tidak menutupi kepalanya lagi, tapi pandangannya sama dengan gw, memandang kosong ke depan. Gw yang ngerasa hal seperti ini akan sangat membuang waktu memutuskan untuk menanyainya sekali lagi.

“Lu nyasar?” tanya gw pelan tanpa melihat kearah dia. Tapi gw bisa ngerasa dia ngelirik gw saat mendengar pertanyaan gw.

“Iiya….” ucapnya hampir ga kedengaran.

Akhirnya ini bocah mau ngomong juga.

“Gak nyoba nelpon orang rumah?” tanya gw lagi.
“Nih gw ada hape kok kalau mau pinjem” gw mengeluarkan hape dari dalam saku celana.

“Gak hafal” jawabnya pelan.

“...........” gw berfikir sejenak.
“Alamat rumahnya dimana?”
“Mungkin gw tahu?”
tanya gw lagi, dengan sangat susah, gw nyoba mengatur tempo ucapan.

Akhirnya dia mau juga membuka mulut, setelah gw hampir habis kesabaran dengannya. Ternyata dia adalah pindahan dari seberang pulau, dan baru 1 bulanan tinggal di kota gw. Kata dia lagi, hari ini dia pulang lebih awal tapi gak tahu alasannya karena apa. Jadi seharian dia menghabiskan waktu di tempat mamanya kerja di daerah pasar di kota gw.

Dan karena merasa bosan disana dia ingin pulang, namun sopir keluarganya masih pergi menjemput sang kakak. Akhirnya dia meminta izin untuk pulang naik angkot, dan diberikan izin oleh mamanya sekalian agar dia mengenal rute perjalanan di kota gw. Tapi ternyata saat naik angkot, hape nya tertinggal di kantor mamanya, dan lagi dia salah ambil rute perjalanan, makanya dia terdampar disini. Gw sebenarnya penasaran dan ingin bertanya lebih kepadanya, tapi masih gw tahan.

Setelah mendengar cerita dari dia, gw tahu pokok permasalahannya. Di kota gw, angkot tiap jurusan itu dibedakan oleh warna angkot. Menurut dia, angkot yang dia naikin warnanya sama dengan angkot yang pernah dia naikin sebelumnya, berarti dia sudah pernah naik angkot sebelumnya.

Namun yang jadi masalah, dia ngerasa perjalanan yang dia lewati itu beda dengan perjalanan yang dia tempuh sebelumnya. Sebelumnya, dia selalu melewati beberapa gedung dan bangunan rumah sakit, namun hari ini, dia hanya melewati rumah warga dan sedikit hutan. Dan lagi karena merasa nyasar, dia memutuskan untuk turun dari angkot. Tetapi lagi, ternyata bukan hanya hape yang tertinggal. Dompetnya pun tertinggal di tempat mamanya, makanya dia nampak syok dan ketakutan.

Untuk menuju rumahnya dan sekolah gw, angkot yang lewat memang sama. Angkot berwarna merah. Yang membedakan hanya tujuan utama, setelah dari pasar, angkot akan melakukan 1 rute perjalanan ke arah taman kota. Nah setelah di taman kota angkot angkat mengambil satu dari 2 jalur, jalur ke arah sekolah gw yang melewati rumah warga. Atau jalur ke rumah cewek ini yang melewati pusat kota. Sebenarnya kedua jalur itu sama, karenapun bila angkot lewat jalur kesekolah gw, diujung dia akan melakukan putaran menuju rumah cewek ini lalu kembali ke pasar, begitu juga sebaliknya.

Hal seperti ini ga akan terjadi bila saat diawal naik angkot dia bertanya dulu kepada supir akan tujuan dari angkot tersebut. Tapi mungkin karena dia baru pindahan, maka hal tak terduga seperti itu dapat terjadi.

Sebenarnya dia gak kasih tahu gw alamat lengkap rumahnya, hanya sedikit clue yaitu stadion dan sering dilewati anak muda di sore dan malam hari. Namun, walau hanya sedikit clue tersebut yang dia beritahu, gw udah tahu dia tinggal didaerah mana.

Kota gw ini adalah kota kecil, walau berstatus ibu kota dari suatu provinsi, namun cukup waktu 30 menit untuk mengitari keseluruhannya. Jadi bisa dibilang gw cukup hafal segala sisi dari kota gw.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ym15 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Non-Profit Boyfriend

“Ayok gw antar” ajak gw kepadanya sambil mengulurkan tangan.

Dia nampak melirik gw dari bawah ke atas, mungkin dia mengira gw adalah orang dengan niat jahat.

“Tenang, gw bukan orang jahat kok”
“Gw cuma orang asli sini”
“Dan gw hafal daerah sini”
gw coba meyakinkan.

Tangan gw masih mengambang di angin, gak diraihnya. Mungkin dia masih gak percaya dengan gw. Akhirnya gw mencoba melakukan sesuatu, gw ambil gantungan kunci pemberian Miss Eka yang tadi gw simpan di tas, dan memberikan padanya.

“Benda ini”
“Benda yang tadi terjatuh dan memakan waktu cukup lama buat gw mencarinya”
“Dan gara gara mencari benda ini gw ngerasa diperhatiin oleh lu”
kata gw lagi.
“Jadi…”
“Bisa dibilang benda ini cukup berarti buat gw”
“Karena gw rela buat ngubek rumput disana”
“Dan rela diperhatiin seperti orang gila oleh lu”
gw memberikan gantungan kunci tersebut kepadanya.

Berharap dengan ucapan dan barang yang gw kasih tadi, sedikit mendapatkan kepercayaan darinya. Ternyata berhasil, dia mau berdiri dan menyambut uluran tangan gw.

Saat ini menunjukkan pukul 3 sore, sudah hampir 1 jam gw disini. Sejauh mata memandang, udah gaada lagi murid sekolah gw yang lewat. Tanpa terasa, selama menunggu angkot, tangan dia tak pernah lepas dari genggaman gw. Sementara tangan satunya masih pegangin gantungan kunci punya gw.

“**** Prassetyo” ucapnya lirih. Dia membaca tulisan yang tertera di gantungan kunci tersebut.

“Ya itu nama gw”
“Panggil aja Tyo”

“.................”
dia kembali diem.

Tak berselang lama, angkot yang kita tuju pun tiba. Gak banyak penumpang saat itu, hanya beberapa ibu dan anak sekolah sepantaran kita. Sepertinya mereka berasal dari pasar, sama seperti cewek ini sebelumnya.

Selama perjalanan tangan kita masih saling berpegangan, hal ini cukup menjadi perhatian penumpang yang lain. Tapi gw gak perduli, kapan lagi bisa pegangan tangan dengan cewek secantik ini, ya kan. Gw hanya melamun selama perjalanan, yang entah apa. Cewek yang tangannya gw pegang dari tadi sibuk melirik ke arah luar jendela angkot. Sepertinya dia mencoba mengingat ingat sekeliling, mungkin mencari objek yang familiar dengannya.

Waktu yang diperlukan angkot untuk tiba di gang kawasan rumah dia hanya sebentar, gak sampe 20 menit kita sudah tiba. Kita turun dari angkot setelah gw memberikan uang 2 ribu dua lembar. Saat turun dari angkot, cewek itu udah melepaskan tangannya dari genggaman gua.

“Rumah lu di daerah sini kan?” tanya gw kepadanya.

“Eh…”
“Iya…”
ucapnya kikuk mendengar pertanyaan gw.

Mukanya mulai menunjukkan sedikit gestur, dia tersenyum kecil. Oh god, ternyata gadis ini memiliki lesung pipi yang dari tadi tersembunyi. Bisa bisa gw yang jadi kikuk kalo gini.

“Yuk….” ajak gw berjalan sedikit di depan dia.

“Eh…”
“Yuk…”


Dia sepertinya tipe orang yang cukup kagetan, atau mungkin ngerasa aneh karena gw seakan sok akrab dengannya. Sebenarnya gw bukan sok akrab atau mencoba mendekatinya. Gw hanya ingin memastikan dia sampai ditempat tujuan dengan selamat dan tanpa drama apa apa lagi.

Selama perjalanan, kita gak banyak ngobrol. Posisi gw masih didepan, sementara dia mengekor dari belakang. Bila memang benar rumah dia di daerah sini, maka gw sangat familiar dengan daerah ini. Daerah ini adalah rute umum bagi kita yang suka motoran sore sore atau malam mingguan. Biasanya kita melewati jalan ini untuk ke stadion kota, tempat anak anak biasa nongkrong atau untuk trek-trek-an.

Kita berjalan sekitar 5 menitan, gw cukup merasa gerah, dan sepertinya belum ada tanda tanda bahwa kita akan segera sampai dirumahnya. Akhirnya gw putuskan untuk berhenti sejenak, bermaksud membiarkan dia berjalan didepan gw, dan sepertinya dia paham maksud gw. Kini posisi kita berubah. Dia di bagian depan, dan gw mengekornya. Dan lagi, kita masih diem dieman.

“Masih jauh?” gw coba membuka obrolan.

“Eh….”
“Gak kok dikit lagi sampe”
jawabnya kemudian.

Sambil berjalan, gw coba merhatiin dia. Ternyata dia cukup tinggi, walau masih tinggian gw. Badannya ramping, tapi gak kurus. Sejauh ini, lesung pipinya adalah yang terbaik darinya. Selain rambutnya yang terurai indah, dan wangi.

Kini giliran gw yang memilih diam dan menikmati lamunan gw sendiri. Saat itu gw sedikit bingung dengan apa yang terjadi hari ini, kok bisa gw tiba tiba ingin pulang jalan kaki sendiri, lalu entah hoki atau apa, gw bisa bergandengan tangan dengan cewek secantik dia yang sekarang harus gw antar pulang.

Kita sudah berjalan cukup jauh dari tempat angkot tadi menurunkan kita, dan sebentar lagi kita akan sampai ke kediaman cewek ini, menurutnya. Dan memang gak lama kemudian, dengan sedikit memicingkan mata, gw dapat melihat beberapa orang tampak sedang berdiri didepan sebuah gerbang rumah, gerbang bermotif kayu yang menjulang tinggi.

Sedetik kemudian, cewek ini nampak melihat kebelakang sebentar. Bukan ke arah gw, melainkan kearah jalanan. Lalu dia lari menyeberangi jalan dan dengan cukup tergesa dia nampak berlari ke arah kerumunan tersebut.

Gw yang melihat itu hanya berdiam di tempat, gaada niatan buat menyusulnya.

“Ah…”
“Sampai juga”
batin gw.

Gw yang merasa tugas gw untuk mengantarkan dia pulang udah selesai memutuskan balik arah dan pulang, what a day. Dan karena uang gw udah habis, mau gak mau gw mesti balik ke rumah jalan kaki. Sebenarnya dari sini gak terlalu jauh, paling 30 menitan lah. Tak apalah, seenggaknya gw udah berbuat baik hari ini. Tapi, gantungan kunci masih di dia. Ah biarlah, anggap aja itu kenang-kenangan dari gw agar dia ingat kalau pernah gw bantu. Tapi, gw belum tahu namanya. Ah bego nya gw gak pernah nanya nama dia siapa?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
regmekujo dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Non-Profit Boyfriend

Hari ini adalah minggu kedua aku bersekolah disini, di kota kecil ini. Aku adalah pindahan dari kota seberang, aku sebelumnya tinggal disana bareng nenek dan papaku. Namun karena nenekku sekarang sudah berpulang, dan papa yang semakin sibuk dengan pekerjaannya, maka aku dipindahkan kesini, ke tempat ibu dan kakakku. Tenang saja, keluarga ku masih utuh dan harmonis. Keluargaku terpisah hanya karena pekerjaan dan karena nenekku yang tidak mau pindah. Sedangkan mamaku mempunyai pekerjaan dikota ini juga tidak dapat dia tinggalkan.

Entah karena apa hari ini sekolahku dipulangkan lebih awal. Untungnya aku sudah mempunyai handphone, jadi dapat menghubungi supir mama untuk menjemputku. Tidak perlu waktu lama buatku menunggu supirku, karena dia datang cukup cepat. Kota kecil ini memang mengagumkan, kita tidak pernah terjebak dalam kemacetan. Sangat berbeda dengan kotaku sebelumnya, baru 5 menit dari rumah pun sudah terkurung oleh padatnya lalu lintas.

Karena hari ini masih terbilang pagi, aku memutuskan untuk menemui mamaku saja, mamaku punya showroom motor di sekitaran pasar di kota ini. Aku tidak ingin pulang kerumah, karena kakakku yang masih SMA belumlah pulang. Dan akupun belum punya tujuan lain dikota ini, aku belum mempunyai teman satu pun.

“Mama!!”
“Adek pulang!!”
teriak ku setelah keluar dari mobil.

Mama yang saat itu lagi duduk di salah satu kursi dan sedang mengerjakan sesuatu di komputer hanya menoleh sebentar dan melemparkan senyumannya kepadaku lalu kembali menatap monitornya. Begitulah mama, selalu sibuk.

“Adek kenapa pulang cepet?” tanya mamaku saat aku meletakkan tasku di meja di samping mama.

“Gak tau mah”
“Gurunya rapat mungkin”
jawabku sedikit asal.

Mama hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar jawabanku.

“Mah, adek pengen KFC boleh?” tanyaku pada mama.

Mendengar permintaan ku, mama mengecheck jam di tangannya sebentar, saat ini jam menunjukkan pukul 11 siang, masih ada satu jam lagi sebelum jam makan siang. Mama tidak menjawab permintaan ku, tapi mama nampak menelpon seseorang via telepon. Kalau dari sepintas omongan mereka, sepertinya mama menelpon pihak KFC. tidak jauh dari showroom mama memang terdapat kedai KFC, lebih tepatnya kedai tersebut terletak di bangunan yang sama dengan pusat perbelanjaan Ramayana.

Karena merasa cukup kebosanan disini, akupun memilih untuk mengeluarkan hape dari dalam dompetku. Saat ini hape ku cukup bagus pada masanya, nokia lipat keluaran N93 versi terbaru. Saat sedang menikmati serial kartun favoritku via hape, kurir dari KFC pun tiba.

“Itu pesanan adek”
“Ambil gih”
perintah mama.

Aku yang mendengar itu pun langsung bergegas menghampiri kurir tersebut.

“Pesanan untuk ku mas?” tanyaku pada kurir.

Mas nya sedikit merogoh saku nya lalu menyebut nama yang tertera di struk pembayaran.

“Iya mas”
“Namaku”

“Oh ok”
“Mohon diterima ya dek”
“Dan ini bukti pembayarannya.”
Mas itu memberikan resi pembayaran untuk mama.

Setelah mas kurir pergi, aku pun pergi menghampiri mama, dengan maksud mengajaknya makan bersama.

“Yuk mah makan” ajakku.

“Adek makan di ruangan mama dulu bisa?”
“Mama masih ada kerjaan”
“Dan gak enak sama karyawan mama kalau makan sekarang”
tolak mama secara halus.

Aku mengerti maksud mama, memang saat ini belumlah jam makan siang. Dan akan sangat tidak etis baginya untuk makan sementara para karyawannya masih kerja, namun hal itu tidak berlaku untukku. Karena statusku bukanlah pegawai disini dan bukan atasan mereka, aku hanya anak mama yang mampir ke tempat kerja.

Aku pun berlalu meninggalkan mama menuju ruangan pribadinya. Di ruangan ini cukup lengkap, ada TV, DVD player, serta sofa super empuk. Aku putuskan untuk makan sambil menonton acara TV, entah acara apa yang aku tonton waktu itu, fokusku hanyalah pada para ayam goreng krispi yang dibelikan oleh mama tadi.

Saat sedang asyiknya ngemil kulit ayam, tiba-tiba pintu ruangan diketuk, lalu mama muncul setelahnya.

“Dek”
“Masih makan?”
tanya mama sambil duduk di sebelahku.

“Ini masih ma”
“Mama mau?”
tawarku padanya.

Mama cuma menggangguk, lalu ku suapi dia beberapa gigitan.

“Masih lapar gak?” tanya mama lagi.

“Masih sih ma”
“Ga ada nasi soalnya”
memang ayam pesanan mama tanpa nasi, entah kenapa?

“Masa ga ada?” mama sedikit heran.
“Ikut mama makan diluar, mau?” tanya nya lagi.

“Mau mau” jawab ku antusias.

Ternyata hari ini ada karyawan mama yang ulang tahun, dan karena karyawan tersebut sudah cukup lama kerja dengan kita maka mama berinisiatif untuk mentraktir semua karyawan buat makan diluar. Dan showroom kita akan ditutup hingga jam makan siang selesai.

Setelah berunding dengan para karyawan, akhirnya kita memutuskan untuk makan di salah satu warung masakan bangka yang cukup terkenal di kota ini, sekalian memperkenalkan ke aku tempat tempat makan yang enak disini.

Acara makan bersama karyawan mama terasa cukup seru, mama terlihat cukup dekat dengan karyawan-karyawannya. Tak jarang mereka saling melemparkan candaan, bahkan mama nampak nyambung saat para karyawan saling ejek. Mamaku memang yang terbaik.

Kita memutuskan kembali ke tempat kerja saat jam menunjukkan pukul 13.30. Ngaret 30 menit memang dari jam makan siang, tapi karena kali ini mama yang bawa mereka. Maka semua dapat dimaklumi.

Setelah sampai di tempat kerja, supir mama memutuskan untuk langsung menuju sekolah kakakku. Kakakku pulang sekolah sedikit lebih lama dariku, sekolah dia bubar di jam 2 siang, sementara sekolahku bubar di jam 1 siang.

Aku yang saat itu bingung mau ngapain, akhirnya memberanikan diri meminta izin ke mama untuk pulang ke rumah duluan. Di rumah memang ga ada kerjaan juga, tapi setidaknya aku bisa tidur siang dulu, begitu pikirku.

“Mama, adek mau pulang” ucapku pada mama.

“Sekarang?”
“Bentar, mama telpon pak Ahmad dulu”
jawab mama sambil mengeluarkan ponselnya.

“Aku mau naik angkot aja boleh ma?” pintaku lagi.

Selama pindah disini, aku sudah pernah naik angkot sebelumnya, bareng kakakku. Dan lagi rumah kami tidaklah terlalu jauh dari sini, akupun masih ingat jalannya.

“Yakin kamu?”
“Yaudah tunggu bentar”


Mama berlalu ke dalam ruangannya sebentar lalu balik lagi, akupun turut mengambil tasku yang tadi ku letakkan di meja mama. Ternyata mama mengambil sweaternya, dan bermaksud mengantar aku ke pangkalan angkot yang terletak tidak jauh dari tempat kerja mama.

Cuaca hari ini cukup dingin, langit sedang mendung, mungkin akan turun hujan sebentar lagi. Saat sampai di pangkalan angkot aku minta mama singgah sebentar untuk membeli minum, mama lalu memberikan ku uang kecil pecahan 5 ribu. Setelah itu mama memutuskan untuk kembali ke kantornya, aku memang udah tahu angkot mana yang akan ku tumpangi. Karena seperti kataku sebelumnya, aku sudah pernah naik angkot sebelumnya.

“Kak aquanya 1 ya”
“Yang kecil aja”
pintaku ke kakak penjual.

“Ini neng”
“3000 aja”
dia memberikan sebotol air mineral, lalu menerima uang dariku
“Ini kembaliannya”

Setelah menerima kembalian dan berterima kasih, aku berdiam diri sebentar sambil memperhatikan sekitar. Aku sedikit melirik beberapa angkot di seberang jalan. Walau tujuan mereka semua sama, namun rupa angkotnya berbeda. Aku pun sedikit memilih angkot yang menurutku tampilannya bagus dan cantik, setelah menemukan angkot yang menurutku bagus, aku pun menyebrangi jalan dan menaiki angkot tersebut.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Non-Profit Boyfriend

Angkot ini ngetem tidaklah lama, terbukti dia tetap melaju walau keadaan di dalam angkot belum penuh. Sepertinya pilihanku tidaklah buruk, aku akan sampai dirumah sedikit lebih cepat, pikirku saat itu.

Awalnya perjalanan ku terasa biasa, tidak ada hal yang aneh. Namun semua berubah saat pemandangan yang aku lihat berbeda dengan yang pernah aku lihat sebelumnya, tempo hari saat naik angkot, aku hanya melihat gedung dan bangunan yang tinggi-tinggi, kok sekarang kebanyakan rumah warga. Apa aku nyasar ya, pikiranku mulai kalut. Akhirnya tanpa berpikir lagi, aku menyetop angkot dan meminta bang supir untuk menepi.

Setelah turun dan membayar biaya angkot, aku mencoba berfikir sejenak. Memikirkan tindakan yang perlu aku lakukan, jangan panik. Aku lalu menuju bangku taman yang tersedia disana, untuk menenangkan diri sebentar.

Sambil duduk, aku coba buka tas. Untuk mengeluarkan dompet dan hape, aku harus menghubungi mama atau pak Ahmad, agar mereka bisa menjemputku. Tapi setelah diubek-ubek, hape ku tidak ada didalam tas. Astaga aku lupa, terakhir aku meletakkan hapeku di meja kerja nya mama. Saat mengetahui hal tersebut barulah aku merasakan kepanikan, aku tidak tahu harus apa. Aku tidak tahu sekarang dimana, dan aku tidak bawa hape ataupun uang. Aku ketakutan.

Saat pikiranku sedang kalut, terlihat banyak anak sekolahan yang berjalan ke arahku. Sepertinya di sekitar sini juga terdapat sekolah, tapi aku sedikit malu untuk bertanya pada mereka. Hampir semua yang melewati ku selalu memperhatikanku, aku memang berbeda dengan mereka. Dari tadi aku memang tidak menemukan orang yang mirip denganku. Semuanya seperti mereka, semuanya sama dan mereka semua melirik aneh kearahku.

Aku tidak tahu apakah orang sepertiku diterima di kota ini atau tidak. Aku memang minoritas di negara ini, dan itu pula yang membuatku pribadi cukup canggung untuk mengekspresikan sesuatu dikalangan ku. Aku takut salah mengambil tindakan, yang nantinya akan menimbulkan celaka bagiku.

Saat sedang kalut dengan pikiranku sendiri, tiba tiba di seberang jalan terlihat seorang anak muda yang sedang mengais rerumputan. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, mungkin saja dia sedang mencari sesuatu yang tidak sengaja dijatuhkannya.

Entah kenapa, pandanganku tetap tertuju padanya. Walau dia nampak beberapa kali menoleh ke arahku, mungkin dia terasa bila sedang ku perhatiin. Tak lama muka pemuda tersebut berubah ceria, mungkin dia menemukan apa yang dia cari, syukurlah. Eh kenapa aku jadi peduli dengannya, harusnya aku pusing memikirkan jalan keluar untukku sendiri.

Entah karena tersinggung karena aku perhatiin, atau dia ingin menggangguku. Pemuda itu nampak ingin menhampiriku, dia terlihat sedang menunggu jalanan lenggang dan ingin menghampiriku. Aku yang ketakutan langsung menyembunyikan kepalaku di balik tas, terlihat konyol memang, tapi cuma ini yang dapat kulakukan untuk menghindarinya.

“Mbak kenapa?” Tanyanya pelan.

Siapa dia? Enak aja panggil aku mbak. Emang aku mbaknya, berani sekali dia. Ingin rasanya ku memarahi dia untuk memanggilku begitu, tapi aku terlalu takut untuk mengangkat kepala. Dia kemudian nampak mengeracau beberapa kali, aku kurang memahami apa yang dia ucapkan.

Berseling cukup lama, akhirnya suaranya menghilang. Hanya suara kaki yang kian menjauh yang terdengar, akhirnya aku bisa kembali bernafas dengan lega. Akupun mengeluarkan kepalaku dari bawah tas, dan sedikit melirik ke belakang untuk memastikan bahwa dia sudah pergi atau belum. Namun sialnya dia juga melirik kebelakang, yang mana itu ke arahku yang sedang melihatnya, mati aku.

Dan benar saja, dia kembali. Dia kembali ke arah ku, aku pun segera menyembunyikan lagi kepalaku ke bawah tas
.
“Mba nyasar ya?” dia bertanya lagi.

Jangan pake mba bisa gak si, kesel aku dibuatnya.

“Aku bukan orang jahat kok, tenang aja” lanjutnya.

Entah kenapa, mendengar pernyataannya barusan cukup membuat ku tenang. Dia masih mencoba mengajakku bicara, akupun mulai luluh. Akhirnya aku pun mengangkat kepalaku lagi dari bawah tas dan dapat melihat wajah pemuda didepanku ini.

Sekilas, tidak ada yang aneh darinya. Walau matanya kurasa cukup tajam saat melirikku, tapi sepertinya ketakutanku saja yang keterlaluan. Akhirnya aku putuskan untuk sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan dari nya, tapi aku masih mencoba menjaga jarak darinya.

Tiba tiba pemuda itu memberikan aku sesuatu, yang menurut penuturannya ialah barang yang cukup berharga baginya. Barang yang tadi sempat hilang dan yang bikin dia kesusahan saat mencarinya. Dia berikan padaku agar aku percaya bahwa dia tidak bermaksud jahat padaku, aku lumayan tersentuh dengan ucapannya.

Karena melihat niatannya yang baik, dan jaminannya yang kunilai cukup bagus, aku mau menerima uluran tangannya. Dia bermaksud ingin mengantarku pulang, baik juga ternyata. Akupun berdiri dari tempat dudukku, berdiri di sampingnya sambil menunggu angkot yang katanya akan menuju daerah rumahku.

Tidak berselang lama, angkot yang kita tunggu pun tiba. Aku naik duluan yang lalu dibarengi olehnya, tangan kita masih bergenggaman. Aku tahu bahwa kita sedari tadi sedang jadi bahan omongan penumpang lain, tapi aku tidak ingin melepaskan tangan pemuda ini. Aku hanya takut bila dia nanti meninggalkan aku sendiri di angkot ini, aku tidak punya uang lagi untuk membayar biaya angkot.

Dia kemudian sedikit menjelaskan kesalahan ku, aku tidak seharusnya berhenti disini dan tetap saja mengikuti angkot ku tadi. Karena menurutnya, angkot ku tadi walau salah jalan tapi tetap akan mengantarku pada tujuan. Angkot di kota ini hanya akan berputar diujung nanti, dan pun bila aku nyasar, angkot pasti akan kembali ke pasar lagi, begitu katanya. Andaikan aku juga berpikir seperti itu sebelumnya, mungkin aku tidak akan sepanik tadi.

Tidak lama kemudian kita telah sampai di depan sebuah mushola, nah aku ingat mushola ini. Mushola ini juga yang tempo hari menjadi penanda saat aku dan kakakku turun dari angkot, ternyata pemuda ini memang baik karena mau mengantarkanku pulang.

Akupun melepaskan genggaman tangan kita saat turun dari angkot, dia mengajakku untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Aku yang mengira dia hanya akan mengantarku sampai disini hanya bisa tersenyum dan mengikutinya dari belakang.

Saat mengikutinya dari belakang, aku berpikir sejenak. Ternyata masih banyak orang baik didunia ini, dia yang walau berbeda dalam hal apapun dengan aku. Dia yang seharusnya orang asing, masih mau membantuku. Dan semoga bantuannya ini tanpa pamrih, tapi walaupun dia pamrih dan menginginkan uang dariku pun tak apa. Akan ku bayar, karena dia sudah baik ingin membantuku.

Setelah berjalan cukup lama, dia berhenti sejenak lalu membuat gestur seakan menyuruhku untuk berjalan didepan. Ah ya, mana mungkin dia tahu rumahku dimana. Kita pun berubah posisi, aku sekarang didepan.

Dalam perjalanan, sebenarnya dia tidak diam aja. Beberapa kali dia mencoba mengajakku bicara, namun hanya ku balas seadanya. Sebenarnya aku ingin berterima kasih dan mengajaknya ngobrol juga, tapi aku terlalu merasa canggung. Mungkin nanti saja saat sudah tiba dirumah, begitu pikirku.

Saat sudah dikawasan rumahku, aku dapat melihat mama, kakakku dan pak Ahmad di depan gerbang rumah, sepertinya mereka menantiku. Dan mungkin mereka juga panik karena aku tidak kunjung sampai dirumah.

Aku yang tidak ingin membuat mereka lebih khawatir lagi memutuskan untuk berlari menghampiri mereka, saat sedang berlari, mama sepertinya juga melihat kearahku. Aku berlari menerjangnya, aku menangis dalam pelukannya. Sepertinya mama mengerti keadaanku, dia lalu merangkulku dan membawaku kedalam rumah.

“Mba”
“Tolong ambilkan minuman dingin ya”
pinta mama ke karyawan kami dirumah.
“Adek dari mana aja?”
“Mama dan kakak panik loh”


Saat itu disekitar ku ada mama, pak Ahmad dan kakak yang sedang menelpon seseorang, sepertinya papaku.

“Adek tadi nyasar mah”
“Tapi tadi ada orang baik yang bantuin adek ma”
aku coba menceritakan kronologi pada mama.

“Siapa orangnya sayang”
“Mama mau berterima kasih”
tanya mama.

“Di Depan ma” kataku.

Kakak dan pak Ahmad yang mendengar ucapanku kemudian berlalu kedepan, bermaksud menjemput pemuda baik yang tadi mengantarku pulang. Namun sayang, menurut kakak sudah tidak ada siapa siapa didepan rumah. Apa dia sudah pergi, ah aku tidak sempat berterima kasih padanya.

Tidak lama kemudian hujan turun, untunglah aku sudah dirumah. Dan semoga pemuda itu pun tidak kehujanan, akan sangat merasa bersalah bila dia harus kehujanan gara gara aku. Setelah menceritakan semuanya, mama memerintahkan pak Ahmad untuk mencari pemuda itu esok hari. Mama ingin berterima kasih langsung padanya, aku pun begitu.

Setelahnya aku putuskan untuk masuk ke kamar, ingin membersihkan badan. Capek sekali hari ini. Saat dikamar, aku coba keluarkan semua isi tasku dan mengeluarkan semua isi di seragamku. Karena seragamku akan ku cuci, seragamku sudah lumayan lusuh karena tidak ku salin seharian ini.

Saat sedang mengeluarkan isian saku baju, aku menemukan sesuatu. Aku menemukan gantungan kunci, gantungan kunci milik pemuda tadi. Disana tertulis nama dia, pemuda yang menyebut namanya sebagai Tyo.

Tyo, terima kasih karena sudah membantuku hari ini, dan terima kasih karena sudah bersedia mengantarku pulang. Aku berharap kita dapat bertemu lagi nanti, dan aku sangat ingin berteman dengan orang baik sepertimu. Kenalkan, namaku Vellin.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
lanjutkan gan.. ditunggu updatenya...
profile-picture
benk.chibenk memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Non-Profit Boyfriend

Sudah 2 hari gw tidak bersekolah, gw izin tidak masuk sekolah karena flu berat. 2 hari yang lalu, saat balik dari mengantar cewek itu, gw kehujanan. Mana jarak yang harus gw tempuh cukup jauh. Gw sedikit menyesal karena tidak pulang langsung hari itu, dan harus bersusah mengantar orang yang gw tidak kenal. Tapi gw segera menepis semua pikiran negatif gw barusan, kalau cewek itu gak gw antar pulang, entah apa yang akan terjadi padanya. Bodohnya gw sempat berpikiran buruk begitu.

Pada hari ketiga gw memutuskan untuk berangkat ke sekolah, karena memang surat izin gw hanya untuk 2 hari. Jadi gw harus tetap masuk sekolah walau keadaan belum pulih total, dan mesti mengenakan masker medis. Gw berangkat sekolah hari ini dianterin papa, dan uang jajan gw sedikit ditambah mama. Mungkin mama gak ingin kejadian serupa terulang lagi.

Saat di sekolah, gw banyak menghabiskan waktu di ruang UKS. Gw hanya mengikuti 2 pelajaran awal, untungnya para guru cukup mengerti keadaan gw. Saat sedang asik tiduran di kasur UKS, Laras dan Nurul nyamperin gw.

“Tyo….”
“Udah baikan?”
tanya Laras saat memasuki UKS.

Nampak dia dan Nurul membawa beberapa bungkusan kecil berisi makanan.

“Ginilah ras”
“Hai rul”
gw nyoba menyapa Nurul.

“Hi….” jawabnya manis.
“Nih kita bawain makanan”
“Udah jam makan siang sekarang”
ucap Nurul sambil mengeluarkan beberapa isian dari plastik yang mereka bawa.

Tidak ada hubungan spesial antara gw, Laras, maupun Nurul. Laras menghampiri gw dan membeikan makan karena memang sudah tugasnya sebagai ketua kelas. Dan lagi Nurul kesini karena menemani Laras, bukan karena sengaja ingin bertemu gw.

Siang itu kita ngobrol cukup panjang, mereka sedikit menanyakan apa yang jadi penyebab gw sampe tidak masuk 2 hari. Padahal saat di hari pertama gw baik baik aja, malah cukup aktif saat bermain.

Gw gak menceritakan secara gamblang apa yang terjadi.

“Gw cuma kehujanan saat pulang sekolah” jawab gw seadanya.

“Lu si ada ada aja”
“Udah tahu mendung, masih aja jalan kaki"
dari nadanya, Laras cukup kesal dengan alasan gw. Mungkin karena tidak masuknya gw menyebabkan pekerjaan yang harus dia handle menjadi double.

"Kalo lu lagi ga ada duit ngomong aja ke kita”
“Gw kan sekarang jadi sekretaris kelas”
“Bisalah kalau cuma minjem si”
tawar Nurul kemudian.

“Kemaren masih ada kok duit”
“Cuma lagi pengen aja si”
ya karena gw memang gak punya alasan lain kemaren.

Tak terasa hari itu berlalu cukup cepat, Laras dan Nurul kembali ke kelas setelah bel masuk berbunyi, gw masih stay di UKS hingga sekolah bubar. Hari ini gw akan pulang bareng Akmal, dia udah mewanti wanti agar gw gak pulang duluan. Gw emang gak bisa pulang duluan, karena tas gw masih didalam kelas.

Tak lama, Akmal pun muncul di depan UKS, dia memanggil nama gw dari luar. Berisik amat ini bocah, gak tahu orang lagi sakit juga. Setelah membereskan kasur gw keluar menghampirinya.

“Kenapa gak masuk aja si?”
“Ke orang gila aja treak treak”
pusing gw, dengerin dia treak treak dari tadi.

“Males buka sepatunya gw” ucapnya simple.
“Udah buru”
“Gw diizinin balik 10 menit lebih awal biar gak macet di parkiran”

“Kok bisa?”
setelah gw melirik ke jam, dan memang saat ini belumlah jam pulang.

“Mau nganterin lu lah bego”
“Emang lu mau lagi demen nyangkut di parkiran?”
jawabnya rada kesal.

“Biasa aja si”
“Kok lu sensian hari ini?”
gw ikutan kesel dibuatnya.

Kita berdebat cukup alot selama perjalanan ke parkiran, kayaknya Akmal lagi jelek moodnya. Karena memang masih ada beberapa menit lagi sampe jam pulang sekolah, jadi kita dapat keluar sampe gerbang dengan cukup mulus. Saat di depan gerbang, pintu masih tertutup. Akmal turun dari motor dan menyuruh gw untuk stay diatas motor, dia nyamperin pak satpam sebentar dan memberikan secarik kertas.

Setelah sedikit ngobrol dengan pak satpam, Akmal kembali ke motor dan mulai menstarter motornya. Tak lama kemudian, pagar pun dibuka, khusus buat kita kata pak satpam. Saat keluar dari gerbang, terlihat banyak mobil yang terparkir disini, mereka adalah orang tua yang sedang menanti anaknya pulang sekolah.

“Eh yoo”
“Lu kenal gak mobil itu?”
Akmal menunjuk sebuah mobil CRV putih.

“Mana gw tau mal”
“Gila aja gw merhatiin mobil orang”
jawab gw rada sewot.

“Kali aja lu tau”
“Soalnya gw udah 2 hari ini liat itu mobil”
“Dan selalu parkir disana”
dia menunjuk ke arah mobil tersebut.

Mobil itu memang parkir tepat di seberang pagar sekolah, mungkin yang jemput sedang terburu-buru pikir gw.

“Mungkin jemput anak kelas 1 kali mal”
“Kepo amat si lu”


Kita pun melanjutkan perjalanan pulang, tidak ada lagi yang terjadi setelahnya. Akmal beneran nganterin gw pulang, gak mampir kemana-mana lagi. Biar gw cepet istirahat katanya.

Karena tiba cukup awal hari ini, belum ada siapapun di rumah saat gw tiba. Setelah bersalin pakaian dan makan siang, gw putuskan untuk tidur di teras rumah, di teras rumah gw terdapat hammock kesayangan gw. Yang biasa gw pake untuk santai di sore hari, atau saat gw overthinking.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Ini yang nulis 2 orang ya? Cara nulisnya agak beda.
Tyo kaya gue nih baik hati, polos dan lugu emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
regmekujo dan reine. memberi reputasi
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
Non-Profit Boyfriend

Kejadian di hari jumat akan gw skip, karena tidak ada yang spesial hari itu. Sekolah berjalan cukup monoton, gw berangkat masih diantar oleh papa, dan gw masih mengenakan masker medis. Yang tidak biasa paling cuma tingkah Akmal yang masih sedikit lebih rese dari biasanya, dan dia masih penasaran dengan mobil CRV yang juga masih terparkir tepat di seberang gerbang sekolah.

Dihari sabtu ini, gw udah sembuh total. Gw pun udah berangkat naik angkot, dan tidak mengenakan masker medis lagi. Kita belajar masih seperti biasa, tidak ada yang terlalu mencolok juga hari ini. Namun saat pulang sekolah barulah hal yang tak terduga itu terjadi.

Gw memang gak diantar Akmal lagi, gw gak enak kalau harus ngerepotin dia terus menerus. Siang itu gw sedikit terlambat untuk pulang, karena gw harus menemani Laras mengantar buku yang cukup banyak dari kelas kita keruangan guru.

Setelah mengantar buku-buku, kita pun memutuskan untuk pulang. Namun kita harus berpisah di gerbang sekolah, karena Laras sudah dijemput papanya. Gw yang saat itu memang free memutuskan untuk singgah sebentar di toko dekat gerbang sekolah.

Saat gw melewati gerbang sekolah, nampak mobil yang beberapa hari ini kita lihat masih terparkir disana. Gw yang emang gak terlalu memperdulikannya hanya lewat disamping mobil tersebut, namun mobil itu tiba-tiba mengklakson saat gw melewatinya. Lalu nampak jendela mobil bagian penumpang belakang terbuka cukup lebar. Gw yang sedikit terkejut pun berhenti, sedikit melirik kearah jendela mobil tersebut.

“Hi….” panggilnya sambil tersenyum. Lesung pipi itu nampak tak lagi takut untuk menunjukkan keberadaannya.

Gw langsung mengenali wajah cewek itu, wajah cewek yang tempo hari gw antar pulang. Kemudian dia nampak melambaikan tangan, membuat gestur agar gw nyamperin dia. Gw berjalan menghampiri, manis sekali wajah cewek ini ya tuhan. Saat gw samperin, dia malah sedikit bergeser tempat duduk, lalu pintu mobil tersebut sedikit terbuka. Gw pun membuka pintu tersebut.

“Masuk yuk…” pintanya dengan suara yang dibuat manis.

Gw yang mendengar permintaannya sedikit berpikir, mungkin dia ingin berterima kasih masalah tempo hari. Gw masuk ke dalam mobil, lalu menutupnya kembali. Mobil pun mulai melaju meninggalkan area sekolah. Saat mobil mulai memasuki jalan raya, dia mulai mengajak gw ngobrol.

“Vellin” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Prass” ucap gw.

“Eh kok Prass”
“Bukannya………… "
dia cukup kaget mendengar jawaban gw, jawaban yang berbeda dengan yang gw ucapkan saat tempo hari ketemu dengannya.

“hehehe”
“Kirain lupa”
“Yep, panggil aja gw Tyo”
gw meluruskan.

Keadaan kita mulai mencair, awalnya dia memperkenalkan supirnya ke gw yang bernama pak Ahmad. Dia juga bercerita bahwa dia udah beberapa hari ini sengaja menunggu gw disekolahan dengan maksud ingin berterima kasih ke gw, karena dia belum sempat mengucapkannya tempo hari. Dan lagi, mamanya ingin bertemu gw dengan maksud yang sama.

Gw pun menceritakan apa adanya, gw ceritakan bahwa setelah mengantarnya pulang gw harus rela untuk berjalan kaki sampai rumah, karena sudah tidak memiliki uang lagi.
Dan gw harus hujan-hujanan sampe rumah, yang mengakibatkan gw demam dan harus libur sekolah 2 hari.

“Kenapa langsung pulang coba”
“Kan bisa diantar pak Ahmad”
air mukanya berubah beberapa kali, seperti ingin memarahi gw.

“Ya ga enaklah”
“Kenal aja enggak”
gw coba membela diri.

“Ya diajak kenalan dong”
“Bukannya ninggalin gitu aja”
ucapnya sedikit ngotot.

Gw yang mendengar ucapan barusan merasa ada yang salah, kok seolah gw yang
salah. Perasaan dia deh yang ninggalin gw.

“Bentar-bentar”
“Kok disini jadi gw yang salah ya?”
“Perasaan situ deh yang ninggalin duluan”
gw yakin gw bener soalnya.

Saat itu kita berdebat cukup sengit, berdebat siapa yang meninggalkan siapa. Dia bersikukuh kalau gw gak seharusnya pergi pulang begitu aja. Gw seharusnya menyusul saat dia lari nyamperin mamanya, gak balik pulang tanpa pamit. Sedangkan gw ngerasa keberadaan gw saat itu udah gak dibutuhkan lagi, karena dia sudah sampai dirumahnya. Pak Ahmad nampak beberapa kali melirik ke spion tengah, mungkin dia sedikit bingung melihat kita yang berdebat seperti orang sudah lama dekat.

“Trus itu bisa demam kan?”
“Salah siapa coba?”
perdebatan masih berlanjut.

“Lah mana gw tau bakal ujan”
“Kalau gw tau bakal hujan juga gak bakal pulang sekolah jalan kaki”
“Udah udah naik angkot gw”
gw coba mengcounter serangan dari dia.

“Oh gitu……”
“Jadi gak ikhlas nolongin gw?”
“Pak turunin aja pak”


Lah apa lagi ini, kok malah larinya ke ikhlas gak ikhlas. Pak Ahmad yang mendengar ucapan Vellin nampak gak menanggapi, mungkin dia tahu kalau Vellin gak beneran mau nurunin gw dari mobil.

“Dih ngancem”
“Yang jemput siapa?”
ini cewek cantik si, tapi kelakukan itu bikin geleng-geleng.

“Biarin”
“Mobil, mobil gw kok”


Gw kira, ini cewek cuma ngeselin saat kemaren doang, saat dia lagi panikan. Ternyata dalam keadaan normal pun dia masih ngeselin, mungkin memang begini sifat aslinya. Kok gw jadi sedikit nyesel bantuin dia, udah dibantuin sampe gw demem masih aja gak sadar diri.

“Yaudah” gw naikin sedikit nada bicara.
“Pak turunnin di depan ya” gw meminta pak Ahmad untuk menepi.

“Eh….” Vellin cukup terkejut mendengar permintaan gw ke pak Ahmad.
“Jangan pak”
“Bawa kerumah aja''
perintahnya ke pak Ahmad, kemudian dia hanya diam dan memalingkan muka ke arah jendela mobil.

Sebenarnya gw gak beneran minta diturunin, gw cuma mau menggertak dia aja. Karena menurut gw candaan yang dia kasih cukup berbahaya kalau diteruskan, mungkin aja kalau dia tetap melontarkan candaan seperti itu akan menyinggung gw. Walau sebenarnya gw bukan tipe yang mudah tersinggung, namun tidak menutup kemungkinan kalau dia tetap melancarkan candaan seperti itu.

Setelah cukup lama diperjalanan, yang menurut gw supir Vellin sengaja berputar putar di sekitaran kota, entah apa maksudnya. Kita sampai di pekarangan rumah Vellin sekitar 30 menit kemudian, seharusnya kalau naik mobil hanya butuh waktu 15 menit paling lama.

Setelah pak Ahmad dan Vellin turun dari mobil, gw pun ikutan turun, buset gw dianggurin dong. Saat ini di depan gw terdapat sebuah rumah yang cukup gede, walau gak segede yang sering gw liat di TV. Namun kalau dibanding dengan rumah gw, sudah pasti ga ada apa apanya dengan rumah di depan gw ini.

“Masuk aja mas”
“Dek Vellin emang begitu kalau bercanda”
pak Ahmad sedikit memberi clue, kalau beginilah sifat aslinya Vellin
“Nanti juga terbiasa?”
“Mari mas, saya kebelakang dulu”

“Mari pak”
“Makasih ya pak udah dijemput”
“Jadi gak enak”

“Gapapa mas”
“Lagian nunggunya di dalem mobil kok”
“adem”
“Jadi gak masalah”
pak Ahmad kemudian berlalu kearah belakang rumah lewat samping.

Saat ini, gw sedang terpatung di depan rumah yang menurut gw cukup gede. Gw masih belum masuk ke teras rumah, gw gak tahu harus berbuat apa. Pak Ahmad sudah menghilang, Vellin pun setelah keluar dari mobil langsung lenyap entah kemana.

“Lah sekarang gw mesti ngapain jir”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
semangat gan nulisnya... bikin index biar enak bacanya...
profile-picture
reine. memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Non-Profit Boyfriend

Gw berdiam cukup lama, sempat terbesit untuk keluar dari sini dan pulang. Gw berjalan ke arah gerbang rumah, lalu melihat sekitar. Gak jauh dari gerbang rumah Vellin, gw dapat melihat gerobak bakso sedang nongkrong di samping toko kelontong. Letaknya gak jauh, hanya berjarak 3 rumah dari sini. Gw yang saat itu merasa bego, dan gak tahu harus ngapain pun memutuskan untuk kesana. Bodo amat dengan Vellin, tuan rumah kok gak perduli ama tamunya.

“Bakso nya 1 pak” pinta gw bapak penjual, yang saat itu sedang ngaso di teras toko.

Saat sedang menunggu bapak penjual meracik bakso gw, gw liat dari kejauhan kalau Vellin nampak celingukan di depan pagar rumahnya. Gw memang gak bisa melihat jelas, tapi dari seragamnya, gw dapat menyimpulkan kalau itu dia.

“Sukurin…”
“Siapa suruh ninggalin gw”
gw bicara sendiri.

Gw merhatiin dia cukup lama, dia masih gak liat gw. Setelah pesanan gw selesai barulah Vellin ngeliat keberadaan gw, dan sedang berjalan ke arah sini sekarang.

“Sore dek Vellin”
“Mau bakso?”
tawar penjual ke dia, mungkin Vellin juga sering beli disini.

“Entar dulu pak” ucapnya lantang, gw yang mendengarnya cukup terkejut.

“Elu ya…”
“Bukannya masuk kerumah”
“Malah nongkrong disini”
ucapnya sedikit emosi, sambil menjewer telinga gw.

Gila dia menjewer gak pake perasaan amat, kepala gw ampe sedikit terangkat. Belum lagi mulut gw yang saat itu sedang mengunyah ondel bakso hampir keselek dibuatnya. Pak penjual yang melihat kejadian tersebut kemudian berlalu kembali ke teras toko.

“Bentar-bentar”
“Ampun”
“Lepasin bentar”
“Nelen dulu”
ucap gw cukup terbatah.

Akhirnya dilepaskan juga kuping gw, merah pasti nih. Dia masih melototin gw dengan tajam, gw gak berani liat matanya, serem sumpah. Gw yang saat itu udah mempersiapkan beberapa kata kalau seandainya dia nyamperin kesini pun gak mampu berucap. Dia gak ngomong lagi, masih nungguin gw makan, tapi gw sengaja lama-lamain.

“Pak boleh deh satu”
“Seperti biasa ya”
“Ga Pake kacang, gak pake mie”
pintanya ke pak penjual.

“Oke…”
“Bentar ya”
ucap pak penjual.

Karena pesanan dia cuma bakso doang, jadi lumayan cepet disiapin. Kita makan dalam diam, gw yang awalnya pede banget buat ngadepin dia yang sekonyongnya ninggalin gw sendiri didepan teras rumahnya, ternyata bisa kicep juga kalau liat dia mode emosi. Gw udah kelar makan sedari tadi, dan masih nungguin dia.

“Ini orang makan kok lama banget” batin gw.

Padahal dia cuma pesen bakso nya doang, gak pake mie atau yang lain. Tapi bisa selama ini. Gw yang sedari tadi selalu mengalihkan pandangan ke arah lain pun mencoba melirik ke arahnya.

“Buset” gw sedikit kaget.

Pantesan makan gak kelar kelar, ternyata dia makan sambil liatin gw. Mana matanya tajam lagi, mati gw. Kalian pernah gak si liat orang makan dengan keadaan marah, ya itu yang gw liat keadaanya sekarang.

“Yaudah yaudah”
“Maaf deh”
gw meminta maaf.
“Tadi gw gak tahu mesti kemana”
“Lu ngilang”
“Pak Ahmad ngilang”
“Yakali gw masuk kerumah orang seenaknya”
“Bisa dikira maling gw”
jelas gw panjang lebar.

“...................”

Dia gak ngomong apa apa, tapi tatapannya mulai melunak. Setelah mendengar ucapan gw barusan, barulah dia makan dengan normal. Pandangannya pun kini fokus ke mangkuk bakso, gak lagi ke gua. Selama dia makan, gw putuskan untuk mampir sebentar ke warung sebelah. Bermaksud ingin membeli minuman buat kita.

“Kemana lagi?” tanya nya, namun kali ini dengan nada biasa.

“Ke warung bentar”
“Beli minum”
jawab gw singkat lalu berlalu meninggalkannya.

“oohhh…..”

Setelah mendapatkan minuman dingin dari dalam kulkas, gw juga membeli satu ce cream conne. Buat Vellin, biar dia gak marah marah mulu. Padahal baru kenal hari ini, tapi gw udah ga ada harga diri lagi dibuat olehnya.

“Nih..” gw kasih 1 botol air mineral dingin serta 1 ice cream.

“Eh…..”
“Makasih”
ucapnya.

Setelah hampir setengah hari ini gw habiskan dengannya. Ini senyuman kedua yang gw terima darinya, dari tadi mesem aja itu muka. Vellin ini cantik, terutama kalau dia senyum. Karena lesung pipi nya itu nampak sangat manis di wajahnya.

“Lu manis tuh kalau senyum”
“Senyum aja trus”
gw coba menggodanya.

Dia mengacuhkan godaan gw, apa dia udah kebal ya digodain cowok. Setelah makan dan minum serta istirahat sebentar, dia mengajak gw untuk balik kerumahnya. Nah ini baru bener, tamu tuh diajak masuk, bukan ditinggalin gitu aja.
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan benk.chibenk memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Non-Profit Boyfriend

Setelah memasuki rumahnya, gw cukup terpukau dengan interior rumahnya. Rumah bertema modern. Terdapat beberapa gucci dan 2 sofa yang berhadapan dibagian kiri, lalu ada lemari berukuran raksasa di sebelah kanan yang berisi banyak piala, serta beberapa piagam terpanjang di dalamnya. Masuk sedikit lewat tengah, ada ruang keluarga serta ruang nonton. Lalu ada tangga untuk ke lantai 2, mungkin kamar mereka terletak di lantai 2. terakhir di bagian ujung ada ruang makan, mini bar serta dapur dan pintu yang sepertinya untuk ke teras belakang rumah.

Saat kita memasuki rumah, keadaan rumah cukup sepi. Sepertinya belum ada keluarganya yang pulang, saat itu jam masih menunjukkan pukul 15.45.

“Tunggu disitu bentar yo.” perintah Vellin ke gw sambil menunjuk ke arah sofa didepan TV.

Gw hanya mengikuti arahan dia tanpa bertanya, karena dia berlalu kearah dapur. Sambil menunggu Vellin di dapur, gw ambil remote yang terdapat di meja lalu menghidupkan TV nya. Gw lupa acara apa hari itu, gw hidupkan biar gak kerasa sepi aja.

Tak lama kemudian dia kembali menghampiri gw, dia masih ngemilin ice cream pemberian gw. Ternyata dia ke dapur bermaksud mengambil minuman buat gw. Setelah itu dia baringan di sisi lain sofa, dia berulah seolah gw bukanlah cowok. Padahal bisa aja gw nafsu liat dia, dianya cantik gini.

“Gak usah repot-repot Vell”
“Kan udah minum kita tadi”
bisa kembung gw kalo minum mulu.

“Gapapa”
“Entar juga lu minum kok”
jawabnya yakin.
“Kata mama”
“Kalo ada tamu tuh yang pertama kasih minum dulu”
“Biar gak tegang”
dia melanjutkan.

“Dikasih minum kalo gak dikasih masuk ya percuma Vell” gw bermaksud mengejeknya.

“Mulai lagi?”
dia menatap gw sinis.

“Gak deh”
jawab gw sambil membuat simbol 2 jari.
“Btw ini kita ngapain?”
“Lu jemput gw”
“Terus marah-marah”
“Sekarang malah gak ngapa-ngapain”
gw belum tahu maksudnya menjemput gw hari ini.

Dia melirik kearah jam tangan mungil ditangan kanannya sebentar, lalu sedikit mencocokkan dengan jam yang terletak dikiri ruangan.

“Mama mau ketemu”
“Bentar lagi pulang kok”
“lagi dijemput pak Ahmad”
ucapnya kemudian.

“Buset”
“Baru hari pertama udah mau ketemu camer aja” jawab gw reflek.

“Camer palelu” dia noyor kepala gw pelan.

“Itu keluarga lu?” tanya gw sambil menunjuk ke foto keluarga berukuran 15R di dinding diatas TV.

“Iya, keluarga bahagia” jawabnya seperti menyombongkan sesuatu.

Di foto tersebut ada 4 orang. Sepasang suami istri sedang duduk di sofa, lalu ada Vellin berdiri di bagian kanan serta ada 1 lagi perempuan dibagian kanan. Di foto tersebut Vellin nampak sama dengan yang sekarang di samping gw, jadi bisa dibilang itu foto baru dicetak.

“Itu yang dikanan kakak lu?” tanya gw.

“Hooh”
“Cakep kan?”
tanyanya tanpa melirik ke gw.

“Banget jir, jauh amat ama lu” ledek gw.

“APAA!!!!!” dia berteriak tepat di samping gw.

“Eh ga deh”
“Lu juga cakep”
gw coba meralat pernyataan gw.

Vellin ini cantik, cantik banget malah. Kalau mau diilustrasikan dengan artis, dia sangat mirip dengan Natasha Rizki istrinya Desta. Namun disaat Natasha Rizki belum berhijab, mereka sekilas nampak mirip. Perbedaan hanya di hidung dan lesung pipi, hidung Vellin tidaklah pesek, tapi tidak segede hidungnya Natasha Rizki juga, serta Vellin sedikit lebih sipit. Gw mulai menyadari kalau mereka cukup mirip saat Natasha Rizki berperan di filmnya yang tentang radio galau, itu juga yang membuatkan gw menggunakan nama Vellin untuk karakter dia.

Dan untuk kakaknya, dia juga nampak mirip dengan Natasha Rizki versi lebih dewasa. Gw gak tahu kalau dia punya lesung pipi juga apa gak, karena belum pernah ketemu dengannya. Tapi sekilas dari foto, kakaknya Vellin nampak anggun. Beda dengan Vellin yang walau di foto itu mengenakan kostum yang sama, tapi masih terlihat seperti bocah. Memang kita masih bocah si.

“Lu ama kakak lu beda berapa tahun?” gw kembali bertanya.

“Nampak banget bedanya ya?” dia berbalik bertanya.

“Gak si” cuma penasaran.

Kalau ditanya keliatan gak perbedaan keduanya. Maka kalau cuma dilihat sekilas, mereka gak akan nampak jelas perbedaan dari keduanya. Gw cuma penasaran, serta merasa sangat tertarik dengan kakaknya. Yang terlihat dewasa memang lebih menggoda, wkwkwk.

“4 tahun” ucapnya singkat.

“Deket itu si” kata gw.
“Kelas 3 SMA dong?”
“Sekolah dimana?”

“Iya…”
“Kepo deh lu…”

“Gw ama adek gw beda 8 tahun coba”
gw coba bandingin dengan adik gw.

“Lu punya adek juga?”
“Cewe cowok?”
tanyanya sedikit antusias.

“Cewe”
“Masih sd kok”


“Ohhh……”


Kita sedikit ngobrol mengenai keluarga kita setelahnya, mulai saling mengenal satu sama lain. Dia cerita tentang dia yang sebelumnya harus terpisah dari mama dan kakaknya, dan sangat bahagia karena keluarga mereka sekarang udah kumpul lagi. Walau papa nya masih sering keluar kota mengurusi bisnis, seenggaknya dia gak ngerasa jauh dari mama dan kakaknya.

Setelah selesai bercerita tentang keluarganya, dia juga bertanya tentang keluarga gw. Namun belum sempat gw bercerita, tiba tiba terdengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah. Dia yang juga mendengar suara mobil tersebut bangun serta sedikit merapikan pakaiannya yang nampak sedikit kusut karena tadi baringan di sofa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
3038925 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh reine.
Deprok dimarih aaahh....lancrootkaan pokoknya...
profile-picture
reine. memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Cendol rate subskrepp ngeengg
Semangat sis update nya
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
mnantappp,, bagus ceritanya..
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di