KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6265c4b0040ac026a80cd622/treya-amp-tahun-kehidupannya

TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA

"....and after  all, we just have to move on."




TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA



"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."

Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.

Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.

Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.

Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.

Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.

Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.

Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.


Prolog

Tahun Pertama

Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
profile-picture
profile-picture
profile-picture
son498 dan 26 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gitartua24
Halaman 1 dari 3
Prolog

Ketika nama gue dan adik laki-laki gue dipanggil sama bokap, gue sedang berada di dalam kamar. Bukan lagi melakukan kegiatan yang berarti juga, cuman sekedar berselancar di dunia maya dengan mengulang-ulang halaman youtube berkali-kali berharap ada video baru yang diunggah untuk ditonton.

Saat itu hari sudah malam, pendingin ruangan sudah dinyalakan beberapa waktu yang lalu. Karena gue lagi gak mendengarkan apapun gue bisa mendengar suara bokap gue yang memanggil dari lantai bawah dengan jelas. Sebentar, balas gue dengan suara keras agar terdengar sampai bawah. Adik laki-laki gue nggak menjawab panggilan dari bokap, ia lebih memilih buat langsung keluar dari kamarnya dan turun. Gue bisa mendengar suara pintu yang terbuka dan kembali tertutup dengan jelas karena kamar kami yang bersebelahan.

Gue berdesah pelan dari atas kursi putar. Kalau boleh memilih, gue ga mau turun ke bawah buat menuruti panggilan bokap. Ada perasaan nggak enak yang gue rasakan saat bokap memanggil, gue bahkan bisa menduga-duga kenapa bokap menyuruh gue dan adik laki-laki gue ke bawah. Rasanya seperti harus bertemu teman yang nggak terlalu akrab karena kita sudah tahu sifat buruknya.

Dengan perasaan terpaksa gue bangkit dari tempat duduk, membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, kemudian berjalan menuruni tangga. Di ruang tengah seluruh keluarga gue sudah berkumpul. Di ruang tengah televisi tetap menyala meskipun suaranya dikecilkan sampai-sampai hampir nggak terdengar. Saat itu di televisi sedang menayangkan sinetron malam pada jam prime time. Yang jelas gue nggak tahu jalan ceritanya seperti apa, bahkan judulnya pun gue nggak tahu.

Bokap gue duduk di lantai sambil menghadap ke arah televisi yang tidak bersuara. Saat gue turun dari tangga tatapan kami bertemu. Dari wajahnya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi menunjukkan keseriusan yang amat sangat, sampai-sampai memuakkan. Adik laki-laki gue juga duduk di lantai tepat di seberang bokap dan hanya dihalangi oleh meja. Sementar nyokap duduk di atas kursi panjang tepat di sebelah bokap yang ia gunakan sebagai sandaran. Sementara itu gue hanya berdiri tidak jauh dari mereka sambil berharap perbincangan ini berlangsung tidak terlalu lama.

“Bapak mau ngomong sebentar.” Bokap gue memulai kata-katanya dengan pernyataan retoris. Suara yang dikeluarkannya terasa penuh dengan keprihatinan dan kekhawatiran. “Sekarang Bapak udah pensiun, jadi kalian harus hemat.” Pada kenyataannya, kedepannya Bokap gue lah yang paling boros dalam pengeluaran. Gak jarang nantinya gue dan adik laki-laki gue harus mendengar curhat dari Nyokap karena Bokap jarang makan makanan yang sudah dimasak.

“Tapi kalian berdua gak perlu khawatir mengenai uang kuliah nanti, Bapak sudah menyiapkan asuransi pendidikan dan uang buat kalian kuliah nanti, tapi jumlahnya terbatas. Jadi kalian harus serius kuliahnya.” Ucap Bokap gue dan setelahnya menyebutkan nominal yang ia terima dari kantornya.

Pada kenyataannya lagi, uang yang dimaksud oleh Bokap gue adalah uang pesangonnya dari kantor bank pusat milik negara. Memang jumlahnya tidak sedikit. Tetapi namanya sesuatu dalam bentuk nominal cepat atau lambat akan habis juga.

Memang tidak lama lagi gue akan menjalankan perkuliahan tahun pertama di universitas swasta di daerah Jakarta Barat. Sebuah universitas swasta yang terkenal cukup bagus dan juga mahal. Sementara itu adik laki-laki gue yang berusia dua tahun di bawah mau tidak mau juga harus memikirkan kuliahnya dalam kurun waktu dua tahun kedepan.

Permasalahan utamanya bukan terletak di sana. Belum lama ini keluarga gue baru saja ditipu oleh keponakan bokap. Penipuan berkedok investasi. Pada awalnya semua berjalan lancar, setidaknya dua tahun yang lalu. Namun makin kesini semuanya terkuak skema investasi yang keponakan Bokap gue lakukan adalah sistem ‘gali lubang tutup lubang’. Gue kurang tahu uang apa saja yang digunakan untuk mengikuti investasi tersebut, yang jelas jumlahnya lebih besar dari dana pensiun yang bokap gue dapatkan.

Yang lebih parahnya lagi (masih ada yang lebih parah), Bokap gue harus kehilangan uang dari sisa-sisa keuntungan investasi bodong keponakannya karena membayar uang muka pembelian rumah yang direncanakan jika penipuan itu tidak terjadi. Meskipun sebenarnya untuk pembayaran uang muka ini seluruhnya salah Bokap gue. Nggak ada hitam di atas putih yang ditanda tangani. Melaporkannya ke kepolisian pun sepertinya percuma.

“Kalau seandainya Bapak nanti ga ada, Bapak juga sudah menyiapkan uang dari asuransi jiwa.” Lanjut Bokap gue memberikan petuahnya.
Seketika gue langsung merasa sesak. Seolah-olah suhu dingin menjalar dari ujung kaki ke ujung kepala dan membuat gue terpaku sesaat. Nggak ada kata-kata yang bisa gue keluarkan untuk menanggapi ucapan Bokap gue barusan. Yang ada hanya perasaan muak dan kebencian terhadap apapun dan siapapun, Termasuk diri gue sendiri.

Kenapa Bokap gue bisa bicara seperti itu, seolah-olah kematian adalah sesuatu yang mudah. Yang membuat gue semakin membenci diri gue sendiri adalah ketika mendengar nominal yang disebutkan oleh Bokap. Tidak sebesar tunjangan yang didapatkan dari pekerjaannya, tetapi uang tetaplah uang, dan nantinya gue memang sangat membutuhkan uang. Buruknya yang gue butuhkan bukanlah untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder, melainkan tersier.

Di dalam benak gue langsung terbayang hal-hal apa saja yang bisa gue lakukan dengan uang tersebut, tanpa berpikir seberapa cepat uang tersebut bisa habis dan tentunya harga yang harus gue bayar untuk bisa memiliki uang tersebut. Pikiran-pikiran baik dan buruk bercampur menjadi satu seperti mencampurkan bahan makanan yang nggak seharusnya. Beruntung akal sehat gue kembali hadir dan membawa gue kembali berpijak pada daratan.

Nggak, gue nggak mau semua itu terjadi. Gue harus bisa melakukannya seorang diri tanpa mengharapkan sesuatu yang buruk. Pikir gue dalam kepala.

Ketika Bokap berhenti bicara, gue masih termenung selama beberapa saat tanpa memikirkan apapun. Adik laki-laki gue sedang berbicara dengan nyokap tentang berbagai hal kedepannya seperti masalah uang jajan atau kampus yang ia pilih. Tetapi gue nggak terlalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.

Sampai saat ini tentu saja adik laki-laki gue masih berharap dan berusaha untuk mendapatkan universitas negeri. Bagi sebagian besar siswa sekolah menengah atas yang akan lulus, universitas negeri menjadi pilihan utama untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Selain kualitas pendidikan yang lebih baik, harga yang dibayar per tahunnya kepada kampus bisa jauh lebih murah. Sementara itu kesempatan gue untuk mendapatkan universitas negeri sudah lewat, dan gue gagal mendapatkannya.

Gue kembali ke kamar nggak lama setelahnya. Menaiki anak tangga satu persatu sampai tiba di lantai atas, kemudian masuk ke kamar dan duduk di depan komputer yang sedang memutar kumpulan lagu blues yang suaranya gue nonaktifkan. Hanya sekedar memastikan komputer di kamar gue nggak mati.

Gue menengadah ke atas, memandang langit-langit kamar yang berwarna putih. Saat melihat waktu di layar komputer, jam digital menunjukkan pukul delapan. Sambil terus menengadah ke atas memandangi langit kamar berwarna putih, gue terus memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya pada diri gue. Nggak, lebih tepatnya gue berusaha memikirkan tersebut, tetapi yang terjadi adalah pikiran kosong dan nggak memikirkan apa pun. Gue hanya memandang dengan tatapan kosong ke arah langit-langit kamar berwarna putih tanpa memikirkan apa pun.

Pada saat ini, paling nggak untuk beberapa tahun kedepan, gue sadar kalau kejadian yang gue alami saat itu bukanlah sebuah awalan yang baik. Paling nggak itu yang gue rasakan. Dan kalaupun kejadian itu nggak sesuai dengan yang gue bayangkan, mungkin kalimat-kalimat ini bukan sebuah awal yang baik untuk menulis cerita.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
efti108 dan 6 lainnya memberi reputasi
Part 1

Encounter

Tanpa memperhatikan sekitar ketika mau keluar dari minimarket, gue hampir bertabrakan dengan seorang perempuan yang ingin masuk. Perempuan tersebut tampak terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya terdapat seseorang yang tidak ia kenal. Tangannya sudah bersiap untuk mendorong gagang pintu minimarket begitu gue menarik pintu tersebut dari dalam. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk menggenggam telepon genggam dan pandangannya tertuju ke sana sebelum ia menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.

Beruntung gue terbiasa mengikuti petunjuk yang ada setiap kali membuka pintu minimarket. Jika di pintu tersebut terdapat tulisan tarik untuk membukanya, maka gue akan menariknya. Begitu juga sebaliknya. Beruntungnya lagi ia cepat tersadar kalau pintu di hadapannya sudah terbuka. Mata kami sempat bertemu sesaat sebelum memalingkan pandangannya dan masuk begitu saja tanpa rasa sungkan. Biasanya ketika berada di keadaan serupa dengan orang lain yang nggak gue kenal, orang tersebut atau gue akan sedikit menunduk sebagai gestur permintaan maaf, atau mungkin mengucapkan kata maaf itu sendiri. Tetapi perempuan tersebut hanya berjalan begitu saja sesaat setelah kami berpandangan seolah gue hanya sebuah patung manekin yang berada di toko baju.

Tanpa memperdulikan perempuan itu lagi gue segera melangkah ke luar. Di luar udara terasa berbeda jika dibandingkan dengan berada di dalam minimarket. Hawa panas pagi hari langsung menyambut sesaat setelah gue keluar dari dinginnya pendingin ruangan minimarket. Padahal jam belum menunjukkan pukul delapan pagi tetapi sinar matahari sudah mengguyur dari atas langit.

Gue berdiri di bagian depan luar area minimarket, dimana biasanya digunakan oleh orang-orang untuk berteduh ketika hujan turun. Bedanya pagi ini bukan hujan yang turun, melainkan sinar matahari. Terdapat empat buah bangku besi yang berjajar menjadi bangku panjang tepat di belakang, tetapi gue lebih memilih untuk berdiri.

Di hadapan gue terdapat banyak sepeda motor yang berbaris rapi. Jumlahnya mungkin hampir mencapai dua puluh sepeda motor (gue nggak tahu pasti), yang jelas cukup untuk membuat tempat parkir kecil yang tersedia terlihat sempit. Mencoba untuk memastikan waktu, gue melihat jam tangan gue. Delapan kurang dua puluh. Masih ada banyak waktu pikir gue.

Ini adalah hari persiapan sebelum masa orientasi kampus dimulai. Bagaimana ya cara ngejelasinnya biar gampang. Pokoknya, sebelum masa orientasi yang sebenarnya dimulai seluruh mahasiswa baru diwajibkan untuk datang hari ini. Nantinya akan dijelaskan berbagai macam aturan untuk mengikuti masa orientasi yang sebenarnya lusa senin besok. Seperti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa saja barang-barang yang harus dibawa, serta pakaian seperti apa yang harus dikenakan. Oleh karena itu hari ini calon mahasiswa baru masih diperbolehkan menggunakan baju bebas asal menggunakan sepatu dan celana panjang dan tidak menggunakan kaos ketek dan sendal.

Karena hari ini calon mahasiswa diwajibkan untuk datang (saat masa orientasi juga diwajibkan), jalanan di sekitar kampus jadi dipenuhi oleh kendaraan roda empat maupun roda dua yang membuat macet sepanjang jalan. Jalanan yang hanya memiliki satu jalur masing-masing arah dan kendaraan yang berhenti sesaat menurunkan orang-orang seusia gue membuat kondisi lalu lintas tidak terkendali.

Belum lagi warga sekitar yang menggunakan jalan ini sebagai akses utama setelah keluar dari gang. Semuanya bercampur menjadi satu. Sebelumnya gue juga diantar oleh bokap dengan mobil, tetapi gue memilih untuk diturunkan agak jauh agar tidak menunggu terlalu lama dalam kemacetan. Bahkan saat gue tiba jalanan sudah macet.

Di sisi jalan -- benar-benar sisi jalan karena nggak ada trotoar -- juga banyak calon mahasiswa baru yang berjalan menuju gedung kampus. Sepertinya mereka anak perantau atau paling tidak calon mahasiswa yang rumah mereka jauh dari kampus dan memilih untuk kos. Di sisi jalan juga terdapat toko-toko yang sebagian besar adalah penjual makanan, berbaris tidak rapi seperti anak nakal di barisan belakang saat upacara bendera. Tidak termasuk tukang bubur ayam yang memarkirkan gerobaknya juga di sisi jalan yang terkesan memaksakan tempat. Belum lagi tiang listrik yang berjarak kurang lebih setiap empat puluh meter beserta kabel-kabel yang tersambung dari berbagai bangunan membuatnya terkesan kusut. Kalau ada seseorang yang iseng memotong salah satu kabel tersebut mungkin salah satu gedung kos di dalam gang akan mati total. Kalau beruntung bisa memadamkan satu area, sepertinya.

Memang, selain berada di pemukiman padat penduduk, peminat yang ingin masuk kampus gue sangat banyak, meskipun mungkin hampir setengahnya atau lebih calon mahasiswa yang mendaftar kampus ini karena tidak bisa mendapatkan kampus negeri. Bahkan saking ramainya yang masuk sampai harus dibuatkan lima kloter masa orientasi perkuliahan dan satu kloter tambahan bagi calon mahasiswa yang benar-benar telat mendaftar. Kebetulan gue masuk ke dalam kloter kedua, itu artinya masih ada waktu satu bulan untuk libur setelah masa orientasi gue selesai karena masing-masing masa orientasi berjalan selama satu minggu.

Pagi ini benar-benar panas, ditambah lagi dengan pakaian yang gue kenakan semakin mendukung untuk merasakan panas. Kaos polos dengan luaran hoodie, celana jins panjang, sepatu sneakers, dan semuanya berwarna hitam. Seharusnya gue pake flannel tipis aja, pikir gue dalam hati. Ingin rasanya untuk masuk lagi ke dalam minimarket hanya untuk merasakan dinginnya pendingin ruangan, tapi tempat duduk yang tersedia sudah terisi semua. Tempat duduk yang gue maksud adalah tempat duduk di dekat kaca tepat di belakang gue.

Alih-alih kembali masuk ke minimarket gue mengeluarkan rokok yang sebelumnya gue beli. Rokok mild putih berisi enam belas. Gue menepuk-nepuk bagian atas bungkus rokok pada telapak tangan, mengelupas segel, kemudian membuka penutupnya lalu mengambil sebatang rokok untuk diselipkan di antara kedua bibir. Menyalakan korek gas yang sebelumnya juga dibeli di minimarket lalu menempelkannya pada ujung rokok.

Gue menghisapnya kuat-kuat pada tarikan pertama, merasakan asap yang masuk ke dalam tubuh lalu perlahan-lahan membuangnya. Rasa pahit tembakau dan nikotin terasa di dalam rongga-rongga mulut sementara pada bibir terasa sedikit manis karena filter rokok. Bukan rasa manis yang kuat, tapi rasa manis yang tipis yang langsung menghilang ketika tersapu oleh lidah.

Sambil terus memandang ke arah kendaraan yang terjebak kemacetan, hembusan demi hembusan asap rokok keluar dari mulut gue. Layaknya asap yang terus keluar pada corong kereta uap, meskipun gue belum pernah melihat bentuk kereta uap seperti apa beserta asap yang terus keluar dari corongnya.

Ketika rokok gue tinggal setengah, seseorang menepuk pundak gue dari sebelah kanan. Gue menoleh dan mendapati seorang berdiri tepat di sebelah gue, perempuan yang hampir bertabrakan dengan gue saat di pintu minimarket. Mungkin jaraknya hanya beberapa senti. Gue yang terkejut mundur satu langkah untuk membuat jarak, untungnya rokok gue ga sampai jatuh.

“Boleh pinjam korek?” Tanya perempuan tersebut. Selain nada penggunaan tanda tanya di akhir kalimatnya, tidak ada ekspresi yang benar-benar menggambarkan suara perempuan tersebut. Semuanya terkesan datar, di saat yang bersamaan juga misterius. Tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu rendah. Tidak terkesan terlalu formal, tidak juga centil. Suara perempuan pada umumnya yang mencoba untuk meninggalkan kesan dingin dan misterius pada laki-laki yang ditemuinya.

“Permisi.” Sahutnya lagi ketika melihat gue hanya terdiam. Entah kenapa gue tidak bereaksi beberapa saat ketika ia berbicara ke gue. Gue harap ia sedang tidak melakukan praktek hipnotis.

“Sorry.” Ucap gue buru-buru lalu segera memberikan apa yang perempuan itu pinta.

Ia mengambil korek tersebut tanpa berusa menyentuh tangan gue, kemudian membuka plastik rokok yang sepertinya baru ia beli dari dalam mini market. Merek rokok yang sama dengan dengan milik gue, hanya berbeda varian. Ia membeli variant mint.

Ketika ia membuka plastik yang membungkus rokoknya, gue secara nggak sengaja memperhatikan tangan perempuan tersebut. Jari-jarinya lentik dan juga kecil jika dibandingkan dengan jari-jari milik gue. Gue nggak bisa membandingkan jarinya dengan perempuan lain karena nggak memiliki cukup referensi untuk membandingkan jadi wanita. Kukunya dipotong pendek serta tanpa cat kuku. Mungkin agar terkesan natural, atau ia kurang suka dengan cat kuku. Bisa juga karena nggak memiliki waktu untuk memakainya. Referensi gue tentang cat kuku juga sedikit.

Saat ia menempelkan rokok pada mulutnya sebelum dinyalakan dengan korek gas gue memperhatikan perempuan yang ada di hadapan gue dengan cepat dan seksama seperti mesin scan yang membaca barcode ketika ingin membayarnya di meja kasir. Perempuan di hadapan gue nggak bisa dibilang nggak menarik, dalam kalimat yang sederhana bisa gue bilang kalau ia cantik, tetapi sepertinya bukan cantik dalam pandangan laki-laki kebanyakan. Memang gue nggak tahu bagaimana standar kecantikan menurut laki-laki pada umumnya, namun sejak dulu gue memiliki preferensi yang berbeda ketika menilai kecantikan seorang perempuan. Banyak perempuan cantik di luar sana dan orang lain yang melihatnya akan setuju untuk mengatakan ‘perempuan itu cantik’, walaupun begitu mungkin menurut gue hanya sekedar ‘cantik’. Tidak banyak yang terlihat ‘berkarakter’ ketika pertama kali melihatnya, dan prempuan yang berdiri di hadapan gue termasuk ke dalam kelompok yang tidak banyak itu.

Kulitnya tidak bisa dibilang putih atau kuning langsat, tetapi tidak bisa dibilang terlalu coklat atau sawo matang. Jika putih atau kuning langsat dan coklat atau sawo matang menjadi dua spektrum tunggal dimana warna yang lebih gelap berada di sebelah kiri dan warna yang lebih terang berada di sisi sebelahnya dan di antara spektrum tersebut terdapat ‘garis pengukur’, maka garis tersebut berada sedikit di sisi kanan tidak jauh dari titik tengah. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang menjuntai sepundak dengan warna coklat kemerahan. Dalam sekilas pandang rambutnya terkesan halus dan tidak berantakan. Kemungkinan warna yang menempel rambutnya bukan berasal dari pewarna rambut melainkan gen keturunan.

Di wajahnya terdapat polesan make up yang tidak terlalu berlebihan. Bisa dibilang pas dan cocok pada dirinya. Rona merah muda pada kedua pipinya terlihat tipis hasil make up yang dikenakannya serta polesan lipstik dengan warna yang sama pada bibirnya yang tipis membuatnya terlihat lebih tebal. Hidungnya mancung terlihat serasi dengan kontur wajah yang ia miliki, seperti aksesoris yang ditambahkan pada pakaian sehingga pakaian tersebut terlihat lebih modis. Tentu saja hidung bukan aksesoris pakaian, melainkan bagian tubuh yang memiliki fungsi dan peran vital pada manusia. Matanya yang besar dan alis dan bulu matanya yang tebal dan lentik serta sorotnya yang tajam memberikannya kesan misterius dan, bagaimana ya gue menyebutnya. Sensual. Sebenarnya gue mencoba mencari kata-kata lain untuk menggambarkan matanya karena takut terdengar tidak sopan, tetapi gue kehabisan kamus atau istilah untuk menggambarkan matanya yang terkesan misterius dan sensual.

Meskipun begitu yang paling menarik perhatian gue bukanlah rambutnya yang sedikit bergelombang sepundak dan berwarna coklat kemerahan, bukan juga sorot matanya yang terkesan misterius dan sensual dari sudut pandang gue yang sulit gue deskripsikan dengan kata-kata lain. Melainkan tahi lalat yang ada di dekat mata kanannya. Setitik tahi lalat yang memiliki diameter tidak sampai milimeter berada pada sudut bawah mata kanannya, tepat berada di atas tulang pipi. Kalau diperhatikan dari jauh tentu nggak akan terlihat keberadaan tahi lalat tersebut yang berada di dekat matanya, Tapi kalau berada di dekatnya selama beberapa detik saja pasti akan bisa langsung melihat menyadarinya. Bagaikan pusaran air di tengah lautan, sekecil apa pun pusaran air tersebut jika berada di dekatnya pasti akan tersedot. Seolah-olah tahi lalat tersebut berbicara kepada seseorang yang sedang berada di dekatnya dan berkata ‘hei, ke sini dulu. gue nggak tahu bagaimana cara pandang lo terhadap bagian tubuh yang lain, tapi lihat dulu kesini’. Kalau sebelumnya gue mengatakan nggak banyak yang terlihat berkarakter ketika sekilas memandangnya, maka tahi lalat yang dimilikinya yang berada di sudut bawah mata kanannya seakan-akan menambah kuat karakter perempuan yang berdiri di hadapan gue.

Ia memakai atasan sejenis sweatshirt kain rajut berlengan panjang berwarna biru langit dengan motif garis-garis vertikal yang timbul dari kain rajut tersebut. Kenapa gue menyebutnya sejenis sweatshirt, karena biasanya luaran tersebut akan menutupi hingga ke pangkal leher. Sementara luaran yang dipakainya hanya sebatas bagian atas dadanya sehingga memperlihatkan pundak dan tulang belikat yang menonjol serta lehernya yang jenjang secara utuh. Pergelangan tangannya dibiarkan menutupi hingga separuh telapak tangan. Lalu ia memakai jins dan sepatu vans warna senada.

Sebagai laki-laki normal gue nggak bisa untuk nggak memandang ke arah dada yang dimilikinya meskipun hanya sekilas. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Namun gue hanya melihatnya sekelebat. Alih-alih gue malah memperhatikan tahi lalat yang yang berada di wajahnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
efti108 dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Part 2

A ‘Lil Chat

“Thanks.” Ketika tersadar korek api yang gue pinjamkan sudah selesai dipakai. Buru-buru gue ambil korek tersebut dan memalingkan pandangan sebelum ia menyadari kalau dari tadi sedang diperhatikan.

Setelah ia mengembalikan korek api gue pikir perempuan ini akan pergi atau paling nggak pindah ke suatu tempat. Menghampiri temannya yang sedang menunggunya atau sekedar mencari tempat baru untuk merokok. Tetapi perempuan ini malah tetap berdiri di sebelah gue sambil memandang ke arah jalanan.

Memang saat ini bagian depan minimarket sedang ramai dipenuhi oleh orang-orang yang terlihat seperti calon mahasiswa seperti gue. Kebanyakan dari mereka berdiri secara bergerombol sebanyak dua sampai empat orang. Bisa jadi mereka sudah saling mengenal karena berasal dari sekolah yang sama, atau bisa juga mereka adalah orang-orang yang mudah bergaul dan bertemu di grup LINE kelas orientasi mereka dan berjanji untuk bertemu sebelum masuk kelas. Kalau memang begitu, mungkin itu yang menyebabkan perempuan ini tetap berada di sebelah gue. Karena nggak ada untungnya juga untuk tetap berada di sebelah seseorang yang ia nggak kenal seperti gue.

Setelahnya terjadi kebisuan di antara kami berdua (gue dan perempuan yang ada di sebelah gue). Sebuah kebisuan yang memang seharusnya terjadi antara dua orang yang nggak saling mengenal. Nggak ada kewajiban bagi gue ataupun perempuan yang berada di sebelah gue untuk memulai percakapan. Jadi, kebisuan yang gue alami saat ini harusnya sangat wajar untuk gue alami.

Tetapi entah kenapa gue malah merasakan sesuatu yang mengganjal. Walaupun kami sudah bertukar satu atau dua patah kata, tetap saja hal tersebut nggak bisa dibilang sebuah percakapan untuk saling mengenal. Meski begitu mulut gue rasanya sangat gatal untuk mengucapkan satu atau dua patah kata lagi, seperti anak kecil yang berusaha menyeimbangkan saklar lampu. Keduanya sama-sama nggak diperlukan.

Maka gue sangat terkejut ketika perempuan yang berada di sebelah gue terlebih dahulu membuka mulutnya untuk memulai percakapan. Meskipun hanya sekedar pertanyaan basa-basi tapi kalau mendapatkan sesuatu yang tidak terduga pasti merasa terkejut juga.

“Anak baru juga?”

Gue terdiam selama beberapa saat, memastikan kalau gue adalah orang yang ia ajak berbicara. Kalau ternyata yang ia ajak bicara adalah seseorang yang berada di sisi yang lain pasti malu juga. “Iya. Teknik informatika.” Jawab gue setelah yakin pertanyaan tersebut ditujuan untuk siapa, sekaligus menjawab pertanyaan yang mungkin ia tanyakan selanjutnya. “Kalo lo?”

“Manajemen.” Jawabnya singkat setelah membuang asap rokok dari dalam mulutnya.

Kebisuan kembali terjadi di antara kita berdua selama sesaat. Padahal bisa dibilang keadaan di sekitar terdengar sangat bising oleh suara kendaraan bermotor dan perbincangan orang-orang sampai-sampai tidak terdengar dengan jelas karena terlalu bercampur, tetapi kebisuan yang terjadi antara gue dan perempuan ini seolah membuat telinga gue kehilangan fungsinya.

“Rame juga ya, jalanan di sekitar sini.” Tanpa saling berhadapan perempuan di sebelah gue kembali berbicara.

“Emangnya lo ngira bakal kaya gimana?” Tanya gue dengan nada suara ramah untuk menimpali percakapan yang ia buat

“Pasti rame sih, cuman nggak ngira kalau kendaraannya sebanyak ini.”

“Iya juga sih,” sahut gue nggak jelas arah. “Mau gimana lagi, jalannya udah dibuat cuman dua arah kendaraan.”

“Mau jalannya dilebarin juga pasti ribet ya.”

“Mungkin bisa, tapi harus ngerobohin bangunan di sekitar. Tapi pasti bakalan lama banget.” Gue membuang abu rokok ke tanah kemudian kembali menghisapnya.

“Belom lagi kabel di tiang listrik. Gue nggak bisa ngebayangin kalau ada gangguan. Mungkin harus matiin listrik semua wilayah.”

“Sukur-sukur nggak sampe kebakaran.”

“Kalau kejadian pasti repot. Orang-orang pada ngupul, jalanan ditutup, kendaraan ga bisa jalan. panikan dimana-mana.”

“Emangnya bisa sampe separah itu?”

“Barangkali. Cuman bisa ngebayangin.” Agak aneh sih sebenernya, baru pertama kali ngobrol udah ngobrolin bencana lokal. Tapi mau gimana lagi, gue juga belum mau percakapan ini berhenti.

“Kalau lo ada di posisi kayak gitui itu, lo bakalan ngapain?” Tanya gue sambil membuang asap rokok.

Ia terlihat berpikir sejenak seraya memainkan mimik wajahnya. “Mungkin gue bakal panik.” Jawabnya santai.

“Bukannya panik itu reaksi ya? Setelah panik terus apa?”

“Gue cukup bisa mengendalikan rasa panik. Jadi gue bakalan pergi ke tempat yang lebih aman sambil nyari bantuan.”

“Menarik.” Lebih tepatnya sebuah tindakan yang memang harus dilakukan.

“Kalau lo sendiri,” ucapnya kini. “Apa bakal ngapain?”

“Pergi ke tempat aman terus nonton orang-orang pada madamin api.”

“Cuman cabut terus nontonin kebakaran? Nggak ikut ngebantuin atau nyari bantuan gitu?” Dari nada suaranya, lebih terkesan seperti orang yang penasaran dibandingkan menghakimi.

“Kapan lagi bisa nonton kebakaran secara langsung. Selama yang kebakaran bukan tempat tinggal kita sendiri.”

“Benar juga, sih.” Perempuan di sebelah gue mendesah ringan sembari kembali membuang asap rokok dari dalam mulutnya. “Apa nggak gitu, ngelakuin tindakan pencegahan. Dibetulin susunan kabelnya, gitu. Kalau dibayangin jadi kuatir juga gue.”

“Kalau susunannya udah rumit pasti susah dibetulin.”

Mendengar ucapan gue barusan, ia tertawa kecut. Sebuah tawa penuh arti. Kemudian kami kembali terjebak dalam kebisuan sejenak.

“Padahal gue udah ngebayangin kehidupan kampus yang tenang.”

“Kalau di pinggir jalan begini pasti berisik, kalau di dalam kelas atau di dalam wilayah kampus nggak akan kedengeran suara knalpot motor atau klakson mobil, mungkin.”

“Maksudnya kayak di kampus-kampus negeri, gitu.”

Gue bisa dengan jelas membayangkannya. Di tahun terakhir masa sekolah beberapa universitas negeri ternama mengadakan acara open house dan mengundang banyak sekolah untuk melakukan kunjungan. Hampir semua universitas negeri berada di dalam lingkungan kampus itu sendiri, terpisah dari pemukiman warga dan sebagainya. Ditambah dengan banyaknya rindang pepohonan pasti ngebuat suasana sekitar kampus lebih tenang.

“Tapi di kampus negeri juga bisa ada kebakaran.” Ia kembali tertawa mendengar jawaban gue. Tetapi tawanya yang sekarang terdengar polos dan renyah. “Ngomong-ngomong kenapa lo milih ngampus di sini?” Tanya gue mencoba mencari topik pembicaraan yang lain.

“Kemungkinan sama kayak alasan lo memilih kampus ini juga.”

“Nggak diterima di kampus negeri, jadi sebenrrnya masuk mana aja nggak masalah. Terus karena orang tua punya uang lebih dan kemakan iklan atau omongan di suatu tempat jadi milih kampus ini.”

Perempuan itu terkikih, kemudian membuang abu rokok yang sudah memanjang ke tanah. “Sedih banget ya, kayak orang nggak punya tujuan hidup.”

Gue nggak membalas perkataannya dan membuat kami tenggelam dalam kebisuan. Rokok di tangan gue sudah mau habis, sementara rokok perempuan di sebelah gue tinggal seperempat batang ketika ia mengambil telepon genggam yang berada di kirinya. Setelah sepertinya membaca pesan yang dikirimkan seseorang ia membuang rokoknya lalu menginjaknya.

“Gue duluan ya, udah ditungguin teman.” Ucapnya selagi beranjak dan memberikan senyum tipis. Lagi-lagi gue terpaku pada tahi lalat yang berada di pojok matanya.

“Gue masih mau sebat lagi.” Balas gue sambil mengangkat rokok yang tinggal sedikit. Tanpa ada balasan kemudian perempuan itu menghilang dari hadapan.

Jam menunjukkan pukul delapan kurang enam menit. Mungkin masih cukup waktu untuk merokok satu batang lagi. Terlambat satu atau dua menit sepertinya bukan sebuah masalah. Lagi pula pasti bukan hanya gue yang akan datang terlambat, orang-orang di sekitar gue yang sepertinya juga mahasiswa baru masih terlihat santai dengan kegiatannya yang sekarang. Terlebih lagi nggak ada yang menunggu gue di ruang kelas. Nggak ada satupun orang yang gue kenal di dalam kelas, pikir gue.

Gue memutuskan untuk merokok satu batang lagi. Setelah mengambil, mengapitnya di antara bibir, lalu menyulutnya dengan korek api, gue memasukkan bungkus rokok dan korek api ke dalam tas selempang kecil yang gue bawa. Saat hembusan pertama keluar gue merasakan suatu keanehan atau keganjilan, tetapi gue nggak langsung menemukan keanehan atau keganjilan tersebut. Setelah batang rokok kedua gue habis dan jam tangan gue menunjukan pukul delapan lewat tiga, serta ketika orang-orang di sekitar gue satu persatu mulai beranjak pergi yang membuat gue memutuskan masuk ke dalam kelas baru tersadar akan keanehan atau keganjilan tersebut.

Nama. Gue tersadar kalau belum mengetahui nama perempuan yang sebelumnya berbicara denganku. Saat berbicara dengannya sama sekali nggak ada di pikiran gue untuk menanyakan namanya. Kalau dipikir-pikir aneh juga ketika dua orang sudah bercakap-cakap tapi nggak saling mengetahui nama satu sama lain. Mungkin pertanda kalau itu adalah pertemuan pertama dan terakhir. Sayangnya bukan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
efti108 dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Nandain wilayah dulu tre

emoticon-linux2
Wihh mantep ada lanjutannya
lanjut gan.
Jejak dulu.
Kasih tanda dulu deh
Nice story gan....
Melapak
Part 3

Introductions

Di sepanjang lorong menuju kelas ramai para mahasiswa baru yang berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Saking ramainya gue sesekali harus berhenti saat berada di tangga. Sepertinya bukan hanya gue yang berpikiran untuk masuk ke kelas melebihi sedikit waktu yang sudah ditentukan. Meskipun nggak semuanya berpikiran seperti kayak gitu, karena pasti ada yang benar-benar terlambat, seenggaknya pasti ada satu atau dua orang yang berpikiran seperti gue.

Buat gue sebenarnya bukannya ingin datang terlambat juga, tapi ada beberapa alasan tersendiri yang kalau dipikir-pikir nggak masuk akal. Pertama, tentu saja untuk menghindari kursi di barisan depan. Entah kenapa sejak masih berada di sekolah duduk di kursi di bagian depan sangat dihindari oleh semua siswa, seolah-olah kalau duduk di bakalan dapet sejenis kutukan setelahnya.

Selain itu pasti juga ada yang bertujuan untuk mendapatkan atensi untuk memberikan kesan pertama, dan gue adalah salah satunya. Sebagai jiwa muda yang sedang gencar-gencarnya mencari pengakuan dari orang lain, terlambat di hari pertama adalah salah satu cara untuk mendapatkan pengakuan tersebut entah apapun bentuknya. Baik dicap anak tidak tahu aturan atau sekedar diperhatikan oleh setiap orang di dalam kelas. Hal ini baru gue sadari jauh bertahun-tahun setelahnya yang kalau diingat-ingat lagi nggak masuk akal. Karena pada dasarnya nggak ada yang peduli dengan kedatangan gue.

Gue sudah melewati kerumunan yang membuat tangga tersendat. Ternyata banyak mahasiswa baru yang bertanya dimana letak kelas mereka. Nggak hanya satu atau dua orang, tapi hampir setiap mahasiswa baru yang ada bertanya kepada seseorang yang sepertinya pembimbing yang sedang berjaga di depan kelas di dekat tangga tersebut.


Kelas gue berada di lantai dua dan berada di gedung ke dua dari depan. Di depan kelas sudah ada dua orang senior yang mengenakan jaket almamater berwarna merah marun dengan lambang universitas di bagian dada kanan. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Kedua-duanya sama-sama keturunan tionghoa. Memang sejak dulu kampus gue terkenal karena banyak keturunan tionghoa yang berkuliah disini, meskipun sekarang antara keturunan tionghoa dan apa yang orang-orang sebut pribumi jumlahnya sama rata.

Kedua senior tersebut menyambut mahasiswa-mahasiswa baru yang masuk ke dalam kelas mereka dengan ramah sambil memberikan senyuman seperti pegawai toko gawai yang mencoba menarik pembeli. Gue memperlihatkan kartu tanda peserta orientasi mahasiswa kepada senior laki-laki yang berjaga, kemudian ia mempersilahkan gue untuk masuk dan menempati tempat duduk yang tersebut.

Di dalam kelas suasana terkesan sepi, padahal sudah banyak orang yang menunggu di dalamnya. Calon mahasiswa baru sudah memenuhi bangku-bangku yang tersedia di dalam kelas. Terdengar bisik-bisik dari arah tengah-tengah bangku, tetapi nggak terlalu jelas. Mungkin mereka yang sudah datang terlebih dahulu dan berkenalan dengan orang disekitarnya lalu membicarakan hal yang remeh temeh sebagai perkenalan awal. Sebelumnya di grup line kelas ini beberapa orang di kelas ini sudah saling berbicara satu sama lain. Kemungkinan besar mereka sudah membentuk kelompok sendiri sebagai masyarakat sosial di dalam kelas nantinya. Ada keinginan untuk bergabung di tengah-tengah mereka namun gue merasa terlalu cepat lelah jika harus berusaha masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang terjadi secara tiba-tiba.

Sementara itu para senior yang nggak berjaga di depan sedang berkumpul di bagian depan kelas dekat sebuah meja yang terdapat komputer. Sepertinya akan digunakan oleh dosen sebagai fasilitas pengajaran. Gue bisa membayangkan kalau meja yang terdapat komputer tersebut digunakan untuk keperluan lainnya. Kira-kira ada lima orang senior lainnya yang memakai jaket almamater yang sama yang digunakan oleh senior yang berjaga di depan.

Gue berjalan menuju meja bagian belakang melalui sisi kelas bagian luar. Masih ada beberapa kursi kosong yang nggak dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa baru yang juga berada di kelas ini, namun belum sempat beranjak dari tempat gue berdiri salah satu senior yang sebelumnya sedang berkumpul dengan teman-temannya menghampiri gue.

Tolong isi kursi kosong yang ada di depan terlebih dahulu, begitu katanya dengan suara yang nggak terlalu keras, atau bisa juga karena terhalangi oleh suara-suara obrolan dari kerumunan kelas. Tanpa bisa berbuat apa-apa akhirnya gue terpaksa menempati kursi yang berada di bagian depan, kursi yang memiliki alas untuk meletakkan alat tulis. Sengaja gue memilih kursi yang nggak ada orang lain di sebelah kanan atau kirinya, beruntung masih tersisa.

Gue melepaskan tas selempang lalu duduk di kursi tersebut sebelum meletakkan tas yang gue bawa di rak yang terdapat di bawah kursi. Sambil melepaskan tatapan kosong tanpa minat gue memperhatikan seisi kelas. Terdapat papan tulis besar yang membentang memakan hampir seluruh bagian dinding, di tengah-tengahnya terdapat kain putih yang digunakan sebagai layar proyektor. Ada mimbar besar yang panjangnya bahkan melebihi panjang papan tulis. Tingginya mungkin sekitar enam puluh sentimeter dan terdapat dua anak tangga di bagian tengah untuk memudahkan seseorang untuk naik. Microphone kabel tergeletak di atas mimbar tersebut dan tersambung pada stop kontak yang menempel di dinding.

Orang pertama yang gue kenal di tempat ini adalah seseorang yang duduk di sebelah kiri gue. Bukannya menjadi teman juga setelahnya, bahkan itu adalah percakapan singkat yang terjadi antara kami. Orang itu datang nggak lama setelah gue duduk di kursi. Sejak duduk gue selalu memandang ke arah luar pintu. Karena kursi di sebelah kanan dan kiri gue masih kosong jadi nggak perlu repot-repot melakukan basa-basi ala-ala perkenalan, sementara orang-orang di kursi belakang gue sudah akrab dengan kanan dan kirinya dan terdengar dari perbincangan yang mereka lakukan dengan suara pelan. Lebih terdengar seperti orang berbisik.

Ketentraman gue akhirnya terganggu nggak berapa lama setelahnya ketika orang itu datang dari arah pintu. Seketika orang tersebut menjadi perhatian mahasiswa baru lain yang sudah datang terlebih dahulu meskipun hanya sepersekian detik. Meskipun gue nggak melihatnya secara langsung, tetapi gue bisa mendengar dari perbincangan mereka yang terhenti selama sepersekian detik tersebut sebelum melanjutkannya lagi.

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan orang yang baru datang tersebut. Gerak-geriknya terlihat seperti manusia normal lainnya yang masuk ke dalam lingkungan baru, canggung dan gugup. Biasanya orang yang akan mendapat perhatian sebagai kesan pertama gerak-geriknya selalu menghebohkan sehingga mengundang tatapan orang lain, seperti gaya berjalannya yang aneh atau langkahnya yang terlalu berisik. Tetapi langkah orang tersebut bahkan nggak terdengar karena tertutup suara yang ada di dalam ruangan, menandakan sesuatu yang normal. Ia juga nggak melakukan tindakan aneh sampai-sampai memancing atensi orang di sekitar.

Jenis pakaiannya juga nggak bisa dibilang aneh, malah terkesan biasa saja. Kaos berkerah dengan celana chino dan sneakers serta tas pundak, seolah berusaha memberi kesan casual namun tetap rapi. Yang paling mengganggu dari kehadirannya hingga menarik menarik perhatian orang lain adalah warna yang dipadukan dalam pakaiannya. Bagaimana ya menyebutnya, pokoknya sangat nggak serasi dan saling bertabrakan satu sama lain. Dilihat dari manapun bukan campuran warna yang lazim dipadukan. Kaos berkerahnya berwarna kuning cerah dengan logo Polo Ralph Logo berwarna merah marun mengkilap berukuran besar di sisi kirinya. Sementara celana chino yang ia kenakan berwarna hijau tosca dan memberikan kesan murahan yang dibeli di pinggir jalan. Sneakers yang ia kenakan berwarna merah dan memiliki garis motif hitam sebagai logo. Nike Air Jordan yang nggak gue ketahui serinya yang sama terlihat murahnya dengan celana chino yang ia pakai. Belum lagi dengan topi snapback berwarna merah dan tas tas ransel berwarna hitam.

Orang tersebut mengambil tempat duduk tepat di sebelah kiri gue. Padahal di bagian kursi depan masih ada kursi kosong dimana nggak ada orang yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Mungkin ia mencoba untuk bersosialisasi. Kenapa ia memilih kursi kosong di sebelah gue, mungkin karena jaraknya yang paling dekat dari pintu masuk. Alasan yang cukup logis.

Sejak ia berjalan mendekat gue sudah mengalihkan pandanganku dan menatap ke arah papan tulis sambil memandangnya dengan tatapan kosong, berharap agar nggak disapa. Tetapi itu perbuatan yang sia-sia. Sesaat setelah duduk ia segera berusaha mengajakku berbicara.

“Anak baru juga?” Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya dan memaksa gue untuk menjawabnya. Kalau gue bukan anak baru gue nggak akan duduk di sini, jawab gue dalam hati.

“Iya.”

“Lo asalnya dari SMA mana?” Tanyanya lagi. Gue menjelaskan sekolah gue sebelumnya secara singkat, kemudian ia mulai menjelaskan sekolahnya juga meskipun gue nggak menanyakannya. Beruntung ia juga menjelaskannya dengan singkat. “Lo main Dota?”

“Dota?”

“Iya, dota. Gue udah join tim professional” Jelasnya tanpa menjelaskan apa pun.

Kalau sudah menjadi pemain profesional seharusnya ia nggak perlu repot-repot melanjutkan kuliah, pikir gue. “Pernah denger, tapi nggak pernah main.”

“Lo harus coba. Seru banget. Sekarang lagi banyak pemainnya, di kelas ini juga pasti ada yang main. Kalo lo mau coba gue bakal ajarin, nanti kita buat tim.”

“Kalau ada waktu luang mungkin gue coba.” Sebenarnya gue bisa menjawabnya dengan mengatakan hal yang membuatnya berhenti bicara. Maaf, gue nggak tertarik dengan Dota. Bahkan dengan semua permainan komputer. Jadi nggak perlu repot-repot ngajak gue ngebuat tim. Kira-kira kayak gitu. Tapi gue berusaha untuk nggak menyakiti perasaannya.

Kemudian seolah mendapat mukjizat yang turun dari langit, para senior bangkit dari duduk mereka dan berdiri mencari posisi di bagian depan ruangan. Orang yang memakai pakaian dengan warna nggak serasi serta duduk di sebelah gue seketika berhenti bicara dan mulai memperhatikan ke arah depan. Pintu yang sebelumnya dibiarkan terbuka kini sudah tertutup seolah menolak siapa pun yang ingin masuk lagi (kenyataannya masih ada yang datang terlambat meskipun sedikit). Kerumunan yang terjadi di setiap sudut kelas mendadak berubah menjadi kebisuan.

Setelah semuanya dirasakan sudah kondusif salah satu senior naik ke atas mimbar yang ada di depan kelas lalu menyambut kami semua dengan beberapa patah kata sambutan. Dilihat dari caranya berbicara dan berdiri di atas mimbar terlihat wibawa yang dimilikinya. Pakaiannya terkesan rapi namun nggak terlihat kaku, dengan kemeja polo yang dibalut dengan jaket almamater serta celana jins biru dan sneakers. Kalau dibandingkan dengan senior yang lainnya yang juga berdiri di depan, senior yang sedang berbicara di atas mimbar karisma sebagai seorang pemimpin. Gue kurang tahu bagaimana struktur yang ada di dalam pembimbing mahasiswa baru di kelas ini, tetapi sepertinya kepemimpinan dipilih secara sukarela.

“Selamat pagi semuanya.” Kemudian ia menyebutkan namanya. Suaranya yang tenang dan nggak menimbulkan kesan gugup membuatnya terlihat lebih berwibawa. “Selamat datang di kampus ini. Saya sebagai perwakilan dari senior-senior yang ada di depan mengucapkan selamat mengikuti rangkaian orientasi yang akan kalian lakukan satu minggu kedepan. Meski begitu masih ada kira-kira dua rangkaian orientasi mahasiswa baru yang akan jalankan setidaknya selama satu semester ini.”

Kemudian ia menjelaskan tentang rangkaian orientasi yang setidaknya harus kami lakukan selama satu semester tersebut. Rangkaian pertama adalah kegiatan yang akan kami lakukan terhitung sejak hari ini sampai seenggaknya satu minggu kedepan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Mulai dari peraturan, tradisi kampus, hingga kegiatan organisasi. Rangkaian kedua dimulai beberapa minggu sebelum perkuliahan sebenarnya dimulai. Inti dari rangkaian tersebut untuk mempelajari pemrograman dasar yang menjadi inti dari jurusan yang gue pilih. Kemudian rangkaian ketiga yang dilakukan selama satu semester penuh bertujuan untuk memantau kami sebagai mahasiswa baru dalam menjalani perkuliahan.

“Saya ingin memberitahu kalian semua kalau di kampus ini ga ada perundungan atau apa pun sejenisnya. Kita sebagai senior nggak akan menyuruh atau pun memperlakukan kalian dengan hal konyol seperti kampus-kampus lain atau bahkan seperti yang kalian dapatkan dulu waktu menjadi anak baru di SMA. Kalau ada senior yang melakukan hal-hal sejenis perundungan kalian bisa melaporkannya ke saya. Tetapi selama satu minggu kedepan kalian juga diwajibkan untuk memakai atasan kemeja putih polos dan celana panjang hitam. Tujuannya bukan untuk membatasi ekspresi bebas kalian, melainkan untuk menandakan kalau kalian adalah mahasiswa baru dan mempermudah mobilisasi nantinya.” Jelasnya. Pada praktek nantinya memang nggak terjadi perundungan. Semuanya bertujuan dan berjalan secara fungsional.

“Sepertinya belum lengkap rasanya kalau kita belum mengenal satu sama lain. Jadi untuk pertama-tama kita semua akan memperkalkan diri masing-masih di atas sini.”

Saat bagian perkenalan senior yang berada di atas mimbar menyerahkan microphone ke senior yang lain yang sedang berada di bawah setelah memperkenalkan dirinya. Satu persatu para senior yang memakai almamater berwarna merah marun memperkenalkan diri beserta beberapa hal fakta tentang diri mereka, seperti hobi dan kegiatan kemahasiswaan yang mereka ikuti. Setelah masing-masing dari mereka memperkenalkan diri microphone kembali diambil alih oleh senior yang berada di atas mimbar, kemudian ia menyuruh kami untuk memperkenalkan diri masing-masing dengan cara maju ke depan kelas.

Gue sempat berpikir akan berapa banyak waktu untuk memperkenalkan diri masing-masing mahasiswa baru yang berada di dalam kelas ini yang jumlahnya lebih dari enam puluh orang. Tetapi sepertinya waktu yang dimiliki untuk pembekalan masa orientasi hari ini lebih banyak dari yang gue duga sebelumnya.

Perkenalan dimulai dari barisan yang berada di paling depan di dekat meja dosen kemudian bergiliran secara menyamping. Satu persatu dari mahasiswa baru yang berada di kelas ini maju ke depan kelas dan naik ke atas mimbar untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing. Meskipun senior yang berada di atas mimbar memberikan kesempatan untuk mahasiswa baru lainnya yang sedang memperhatikan untuk menanyakan sesuatu, namun sampai saat ini nggak ada satu pun yang bertanya. Jadi mereka yang baru saja memperkenalkan diri bisa langsung kembali duduk ke bawah.

Begitu juga ketika gue mendapaktan giliran naik ke atas mimbar untuk memperkenalkan diri. Sejak berdiri dari tempat duduk gue sedikit merasakan kegelisahan. Bagaimana mereka akan memandang gue nantinya. Apakah pakaian yang gue kenakan cukup normal untuk dipakai. Gue berharap nggak disamakan dengan seseorang yang duduk di sebelah gue yang memakai pakaian dengan campuran warna yang nggak cocok sama sekali.

Sambil berusaha menutupi apa yang gue rasakan, gue berjalan ke depan dan menaiki mimbar. Senior sejak tadi berada di sana memberika microphone yang ia pegang. Micophone yang sama yang digunakan untuk memperkenalkan diri oleh mahasiswa baru selain gue yang berada di kelas ini. Gue berusaha memasang ekspresi wajah datar. Nggak terlalu ceria dan juga nggak terlalu murung. Meski begitu gue merasakan suara yang gue keluargan sedikit bergetar karena gugup.

Gue menyebutkan nama lengkap sambil memandang ke arah kerumunan orang yang berada di hadapan gue, tetapi gue sama sekali nggak bisa mengingat satu pun wajah yang berada di sana. “Gue biasa dipanggil Treya.” Ucap gue menjelaskan nama panggilan gue. Kemudian melanjutkannya dengan hal remek temeh seperti sekolah asal, tempat tinggal, sampai hobi.

“Ada yang ingin bertanya sesuatu?” Tanya senior yang berada di sebelah gue dengan menggunakan microphone yang baru gue kembalikan.

Keheningan terjadi selama beberapa saat. Keheningan yang membuat siapa pun merasa canggung. Terutama untuk gue yang saat ini menjadi pusat perhatian selama beberapa saat. Saking heningnya bahkan suara pendingin ruangan yang berada di kelas sampai terdengar dengan jelas. Seketika suhu ruangan menjadi lebih dingin dan membuat gue menggigil. Mungkin mereka yang sudah memperkenalkan diri di atas sini juga merasakan hal yang sama, begitu juga mereka yang akan naik, agaknya.

Setelah memastikan dan dipastikan nggak ada pertanyaan yang dilontarkan kepada gue senior yang berada di sebelah mempersilakan gue untuk turun. Dengan langkah yang agak terburu-buru gue turun dari atas mimbar dan kembali duduk di tempat duduk semula.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kubelti3 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


siap ganemoticon-Angkat Beer

Quote:


silahkan dinikmati ganemoticon-Leh Uga

Quote:


emoticon-Angkat Beer emoticon-Angkat Beer

Quote:


emoticon-Angkat Beer emoticon-Angkat Beer

Quote:


silahkan ganemoticon-Hammer2

Quote:


thank youuuemoticon-Shakehand2

Quote:


mantap ganemoticon-Hammer2

profile-picture
ayamkampung1823 memberi reputasi
Ijin mangkal di cerita baru ya bang tre..
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Part 4

Her name is…

Acara baru selesai pukul setengah dua siang ketika matahari sedang terik-teriknya. Acara yang awalnya gue perkirakan hanya berupa perbekalan awal sebelum masa orientasi sebenanrya ternyata lebih lama dari yang gue duga. Untuk perekenalan saja butuh waktu lebih dari satu jam sampai semuanya memperkenalkan diri. Setelah itu dilanjutkan dengan hal ini dan itu sebagai tetek bengeknya.

Saat senior yang memandu acara mengatakan acara hari itu selesai dan sampai bejumpa di hari senin gue menunggu selama beberapa saat untuk keluar dari kelas. Sengaja karena gue yakin calon mahasiswa baru lainnya ingin buru-buru untuk keluar kelas. Ketika suasana terasa lebih kondusif gue berdiri dari tempat duduk dan menyelempangkan tas di pundak.

Udara di luar sangat terasa pengap dan lembab. Sangat kontras terasa jika dibandingkan dengan udara kering dan dingin yang ada di dalam kelas. Langit terlihat bersih dari awan. Sementara itu angin silir berganti menerjang tubuh gue yang sedang berusaha menyesuaikan perubahan suhu. Bukan angin yang membawa suasana sejuk, melainkan suhu panas yang terasa sampai ke tulang.

Seperti yang gue duga, suasana di luar kelas dan di lorong - lorong gedung sudah nggak terlalu ramai. Memang nggak bisa disebut sepi juga, setidaknya nggak sampai tersendat ketika turun tangga seperti saat gue baru datang. Beberapa mahasiswa baru seperti gue memilih untuk bersantai sambil bersenda gurau dengan kenalan baru mereka di sepanjang lorong. Nggak dapat gue pastikan apa yang sedang mereka perbincangkan tetapi sepertinya cukup menarik untuk mereka semua. Seandainya ada satu atau dua orang yang gue kenal pasti akan lebih mudah untuk bergabung bersama mereka. Seandainya.

Gue berjalan menuruni anak tangga sambil memasukkan kedua pergelangan tangan ke dalam saku hoodie. Di setiap lantai yang gue lewati juga masih banyak mahasiswa-mahasiswa baru seperti gue yang masih berkumpul dengan teman baru mereka. Sepertinya ini adalah pemandangan yang wajar nantinya ketika perkuliahan yang sebenarnya dimulai. Sejujurnya gue merasa iri dengan mereka yang mudah bergaul dengan orang lain. Bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain tanpa membuat canggung. Tentang perbincangan yang mereka lakukan dan bisa dinikmati oleh semua.


Gue sendiri mengakui kalau gue sedikit selektif dalam memilih teman. adakalanya ketika gue terlalu memikirkan tentang anggapan orang lain tentang kelompok pertemanan yang gue masuki dan akan berimbas pada bayangan orang lain tentang diri gue. seperti ada sensor tersendiri ketika gue benar-benang nggak menginginkan dikelilingi oleh orang-orang yang gue inginkan. Tapi jika sudut pandang dirubah kepada lingkaran orang-orang yang gue inginkan, apakah kehadiran gue mereka inginkan. Bisa jadi gue adalah definisi yang mereka anggap sebagai orang aneh. Pemikiran seperti itu terus berkecamuk dalam kepala gue setiap kali berada di sekitar orang asing.

Tiba di lantai dasar gue terus berjalan menuju plaza di dekat gerbang, tiba-tiba awan mendung datang. Awan mendung yang belum terlalu kelabu tetapi cukup untuk menghalangi sinar matahari. Meskipun belum ada tanda-tanda hujan akan segera turun, namun yang namanya perubahan yang mendadak tetap terasa mengejutkan. Padahal beberapa saat lalu teriknya sinar matahari masih bisa terasa jelas. Belum lagi angin kencang yang membawa udara pengap yang menandakan hujan akan turun. Setidaknya sore nanti. Mungkin.

Telepon genggam gue berbunyi tanda pesan masuk. Gue segera mengeluarkannya dari saku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan melalui layar sentuh telepon genggam. Nama Cindy terlihat sebagai si pengirim pesan, kemudian ia menanyakan apakah gue membawa kendaraan atau enggak. Buru-buru gue membalas pesannya kalau gue lagi nggak membawa kendaraan dan pulang menggunakan angkutan umum. Setelah itu nggak ada pesan balasan.

Sekilas tentang Cindy, ia adalah teman gue dari sekolah menengah atas. Kami sempat berada di kelas yang sama saat kelas sebelas, kemudian ditempatkan di kelas yang berbeda pada tahun ajaran berikutnya. Sekarang kami memasuki kampus yang sama meskipun beda jurusan.

Gue segera menuju mini market tempat gue menunggu tadi pagi alih-alih langsung pulang. Di sisi depan masih ada tempat kosong yang setidaknya bisa diisi oleh dua orang yang berdiri. Gue langsung mengeluarkan satu batang rokok lalu mengeluarkannya lalu menghisapnya.

Seketika ada seorang perempuan yang mengisi tempat kosong di sebelah gue tanpa permisi maupun izin. Memang nggak diperlukan juga karena ini tempat umum. Tapi setidaknya kalau mengikuti adab yang berlaku di negara ini ia harus mengucapkan permisi. Namun ketika mengetahui siapa perempuan yang berada di sebelah gue, gue nggak terlalu memperdulikan hal tersebut lagi.

“Hey!” Sapanya saat berada di sebelah gue. Perempuan tersebut adalah perempuan yang meminjam korek dari gue pagi ini. Perempuan dengan tahi lalat di sudut bawah matanya.

“Hey.”

“Dari tadi gue panggil tapi lo nggak dengar kayaknya.”

Gue mencoba mengingat suara yang berusaha memanggil gue sebelumnya, namun banyaknya kerumunan orang membuat gue nggak mendengarnya. “Sorry, gue nggak denger tadi. Mungkin gue kira orang lain yang dipanggil.”

“Iya juga, sih. Emang rame banget dimana-mana.”

“Kenapa nggak panggil nama gue aja?” Tanya gue sambil mengeluarkan asap rokok. Namun yang terjadi setelahnya adalah ketenangan di antara kita berdua.

Gue berusaha mencari alasan kenapa membuat ia terdiam. Dalam kurun waktu yang singkat otak gue bekerja keras untuk berpikir kesalahan apa yang mungkin gue perbuat. Apakah intonasi nada yang gue ucapkan terdengar terlalu kasar sehingga ia merasa nggak nyaman. Atau mungkin gue sudah melontarkan pertanyaan yang seharusnya nggak gue tanyakan.

Kemudian seolah mengingat sesuatu yang penting, senyum di bibir gue mulai mengembang. Bagaimana mungkin gue bisa melupakan hal dasar yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang baru saling mengenal. Gue berusaha menahan tawa akibat kebodohan gue, namun ketika melihat senyum yang juga mengembang di wajah perempuan yang berada di hadapan gue, tawa kami berdua pecah sampai-sampai menarik perhatian orang di sekitar. Sadar sudah mengganggu kenyamanan sekitar, gue dan perempuan itu berusaha menjaga sikap.

“Kita belum kenalan, ya?” Tanyanya dengan senyuman yang nggak bisa disembunyikan.

“Iya, gue sampe lupa. Padahal tadi pagi kita sempet ngobrol.”

Dengan sigap ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tangan yang kecil dan ditumbuhi rambut-rambut haus. Di ruas jari tengahnya terdapat cincin perak yang mengkilap. Kemudian gue menyambut uluran tangannya dengan sigap namun selembut mungkin. Di tengah pengapnya udara, cincin perak yang ia kenakan terasa dingin di kulit gue.

“Nama gue Kirana. Temen-temen gue sih biasa manggil Kiran.”

“Gue Treya, biasa dipanggil nengok.”

Mendengar lelucon yang gue lontarkan, Kirana kembali tertawa. Kali ini ia berusaha menutup tawanya dengan tangan kiri selagi kita berjabat tangan. “Tapi tadi lo gue panggil nggak nengok tuh.”

“Bener juga sih.” Kini giliran gue yang tertawa mendengar ucapannya seraya melepaskan jabat tangan yang kita lakukan. “By the way, tadi ada apa sampe manggil gue?”

“Gapapa, sih. Biar ada barengan aja.”

Kemudian kesunyian kembali hadir di antara gue dan Kirana, sosok perempuan yang namanya baru gue ketahui beberapa saat yang lalu. Jujur saja, gue nggak punya banyak pengalaman ketika dihadapkan dengan seorang perempuan. Jangankan perempuan yang belum gue kenal, dengan yang bisa dibilang sebagai teman pun gue nggak tahu harus berbicara dan bersikap seperti apa. Gue ingat kalau Kirana nggak memiliki korek api untuk merokok. Jadi gue mengeluarkan korek api dari dalam saku celana lalu menawarkan kepadanya untuk memecahkan kesunyian.

“Boleh.” Ucapnya seraya mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya diiringi dengan senyum yang nggak gue mengerti arti di baliknya.

Kirana nggak langsung mengambil korek dari tangan gue, melainkan lantas menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya. Mengerti apa yang diinginkan, gue menyalakan korek untuk membakar rokok yang kini sudah terselip di bibirnya.

“Gimana tadi pengarahan ospeknya?” Tanya gue ke Kirana. Lalu mengikuti jejaknya untuk merokok.

“Nggak seru seniornya.”

Gue merasa terkejut dengan jawaban dari Kirana barusan. Biasanya orang yang baru saling mengenal dan diajukan pertanyaan basa-basi akan menjawabnya dengan jawaban normatif. Tapi kelihatannya Kirana bukan orang yang suka menjawab dengan jawaban normatif. Terlebih lagi dengan intonasi suara yang terkesan kesal.

“Kenapa emangnya?”

“Sok asik gitu deh seniornya.” Ucapnya gemas sambil membenarkan posisi rambutnya yang terjatuh di wajah. “Baru sehari tapi udah keganjenan sama anak baru.”

“Emang lo sampe diajak kenalan gitu?”

“Mending kalau cuman diajak kenalan, orang sampe minta nomer hp, instagram. Bahkan ada yang langsung ngajak jalan juga loh.”

“Masa sih, gerak cepet banget orang-orang.”

“Mangkanya, gue juga nggak ngerti.” Seolah merasa dirinya terbawa suasana, buru-buru ia mengambil nafas dan kembali menghisap rokok yang tersisa setengah. “Sorry ya, gue jadi heboh sendiri.”

Gue tertawa terkikir melihat perubahan sikapnya secara drastis. “Gapapa kok.”

“Gue pasti keliatan bacot banget, ya?” Tanyanya dengan nada memelas.

“Gue malah senang dibacotin.”

“Terus,” Kirana Mengambil jeda. “Lo sendiri gimana tadi? Ada kejadian apa di kelas?”

“Nggak ada apa-apa kok, kayaknya normal aja.”

“Masa, sih?”

Gue mencoba megingat-ingat apa saja yang terjadi selama di kelas. “Oh, ada,” sahut gue bersemangat seolah melupakan sesuatu yang penting. “Tadi di kelas gue ada orang yang pakai bajunya aneh banget.”

“Aneh gimana?”

“Gimana, ya, pokoknya semua warna yang dia pakai nggak ada yang nyambung deh.”

“Maksudnya?”

Lalu tiba-tiba seseorang yang gue maksud lewat di hadapan kami dengan sepeda motornya. Gue nggak begitu yakin mengapa orang tersebut masih ada di sekitar sini. Padahal gue yakin dia adalah salah satu orang yang keluar kelas terlebih dahulu. Mungkin dia berkumpul dengan orang-orang kelas lainnya sesaat setelah keluar kelas.

“Itu! Lo liat orang yang tadi naik motor, kan?” Secepat kilat gue menunjuk seseorang yang gue maksud.

“Yang pakai jaket merah, celana hijau tosca, sepatu kuning, eh, bener nggak sih urutannya?”

“Pokoknya yang tadi itu, deh. Gue juga nggak bisa inget saking banyak warnanya.”

Kirana terdiam selama beberapa saat, sedetik kemudian meledak lah tawanya yang membuat orang di sekitar melirik ke arah kami. Tawanya bahkan membuat kebisingan menjadi terdiam. Tetapi Kirana sepertinya nggak terlalu mempedulikan sekitarnya. Gue nggak yakin apakah cara penyampaian gue yang membuatnya tertawa, atau cara berpenampilan orang tersebut yang membuat Kirana tertawa.

“Terus, terus?” Tanyanya lagi sambil berusaha menahan tawa.

“Dia duduk di sebelah gue. Sesekali ngajak gue ngobrol, sih. Ya gue tanggepin sekenanya aja.” Jawab gue yang sebenarnya terjadi.

“Secara nggak langsung berarti dia temen pertama lo dong, ya.”

“Nggak. Nggak kayak gitu. Gue cuman nanggepin apa yang dia omongin.” Ucap gue gelagapan dan malah membuat Kirana kembali tertawa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kubelti3 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wihh ada lanjutan nya nihh, ditunggu UP nya tre...emoticon-Cendol Gan
Selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin
part 5

norwegian wood

Saat rokok di tangan kita berdua habis langit tiba-tiba berubah jadi mendung. Aneh emang, padahal tadi langit lagi terik-teriknya. Gue memutuskan untuk beranjak dari tempat tersebut agar hujan nggak turun terlebih dahulu.

Kirana melakukan hal yang sama. Takut keburu hujan, katanya. Ia mengikuti langkah gue masuk ke sebuah gang kecil yang hanya memuat dua mobil harus lewat secara bergantian. Kos tempat Kirana tinggal memang searah dengan jalan pintas untuk gue menaiki kendaraan umum yang gue naiki.

Gue mengambil sisi luar jalanan tanpa trotoar dan berjalan beriringan dengan perempuan yang baru gue kenal beberapa saat yang lalu. Terkadang karena gue harus menjaga jarang dengan kendaraan yang lewat, lengan gue sesekali bersentuhan dengan Kiran. Awalnya gue merasa nggak enak. Tetapi sepertinya Kiran juga memaklumi kalau jalanannya memang sempit.

Ketika di persimpangan jalan kami terdiam selama beberapa saat. Kiran mengatakan kalau kos-kosannya berada di arah yang berlawanan dengan jalan utama yang gue tuju. Gue hanya mengangguk sebagai jawaban. Tadinya gue pikir Kiran bakal langsung cabut meninggalkan gue, sementara itu gue bernia untuk menunggu dia supaya berjalan agak sedikit jauh. Tetapi kenyataanya Kiran juga ikut-ikut nggak bergeming.

“Mau gue anterin sampe stasiun?” Sahut Kirana memecah kebisuan.

“Anterin?”

“Iya, gue ada mobil di kosan. Dari pada nanti keujanan.”

Mobil? Gue sempet berpikir setajir apa dia sampe bisa ngekost dan bawa mobil di kosan. Kalau dia anak perantau udah pasti orang tuanya tajir melintir di kampung halamannya. Kalau pun dia bukan perantau, buat apa dia sampe ngekos kalau difasilitasin mobil. Tetapi keduanya juga bukan urusan gue juga sih.

“Ga usah, kalau langsung cabut sekarang keburu kok sampe stasuin sebelum hujan. Lagian nggak enak gue baru kenal udah ngerepotin.”

“Gapapa, bosen juga gue di kamar. Nggak ngapa-ngapain lagi gue abis ini.”

“Seriusan, gapapa. Gue naik angkot aja.”

“Yakin?”

“Iya.” Sahut gue mantap. “Btw thanks ya udah nawarin. Malah jadi nggak enak gara-gara nolak.”

“Gue juga nggak bisa maksa sih.” Mendengar ucapannya gue hanya bisa tertawa getir. “Kalo gitu gue cabut duluan yaaa. Daah!”

“Iya.”

“Sampai ketemu lagi.”

Saat langkah Kirana semakin menjauh, gue baru melanjutkan lahkan gue menuju angkutan umum. Sampai ketemu lagi, katanya. Seolah-olah dia yakin banget kalau kita bakal ketemu lagi. Gue bahkan nggak punya kontaknya Kirana.

Seketika gue langsung kepikiran apa yang gue pikirkan sebelumnya. Kenapa gue nggak kepikiran buat minta ID Linenya dia ya. Secara nggak langsung, Kiran adalah orang pertama yang gue kenal di lingkungan perkuliahan. Pertemuan dengan cewek cakep di kuliah, dan kita berdua sama-sama punya kesan nggak mengenakkan di hari pra orientasi. Ciri-ciri jodoh, pikir gue bodoh. Gue buru-buru balik badan dan berharap masih ada Kirana di ujung jalan. Nyatannya nggak ada. Nggak jodoh berarti, pikir gue lagi.

*****

Gue menunggu kereta di peron satu stasiun Palmerah menuju Serpong. Suasana stasiun nggak terlalu ramai dimandingkan dengan jam pulang kantor. Sesekali gue pernah naik kereta pas mau pulang, dan stasiun palmerah adalah stasiun yang paling banyak menaikkan penumpang yang juga mau pulang ke arah Serpong bahkan Rangkas Bitung.

Kondisi stasiun juga jauh terlihat lebih rapih dibandingkan tahun lalu ketika gue repot-repot mengembalikan formulir pendaftaran kampus seorang diri. Saat ini kondisi stasiun masih dalam tahan renovasi, serta peralihan sistem kereta ke commuter line. Sekarang, udah nggak ada lagi orang-orang yang menyebrang peron secara langsung. Lebih tepatnya udah nggak bisa karena sekarang terdapat jembatan penyebrangan yang menghubungkan peron.

Nggak sampai lima belas menit kereta yang gue tunggu tiba. Gue membiarkan penumpang lainnya naik terlebih dahulu. Udah menjadi kebiasaan gue akan naik dalam kereta paling terakhir. Tujuannya biar gue yakin kalau semua kursi udah terisi dan gue harus berdiri. Maksudnya,kadang gue males kalau buru-buru dapet duduk kalau ujung-ujungnya disuruh berdiri ketika ada ibu-ibu yang berdiri di depan gue. Tentu beda cerita kalau gue naik kereta bareng nyokap.

Melewati stasiun Kebayoran tiba-tiba langit kembali cerah. Hujan lokal, pikir gue. Padahal tadi di kawasan kampus awan udah keliatan gelap. Kalau dilihat dari kejauhan emang walayah asal gue terlihat lebih gelap. Nyatanya sekarang bahkan terik mata hari kembali gue bisa rasakan dari balik jendela.

Gue melihat jam tangan, masih menunjukkan sekitar pukul tiga. Entah dari mana perasaan buru-buru ingin sampai di rumah hilang dan berubah menjadi malas. Ngapain juga gue di rumah jam segini, toh belum ada ajakan buat cabut dari temen-temen gue, dan kemungkinan nggak bakal ada. Gue menimbang-nimbang apakah gue harus jalan-jalan dulu dan kemana. Lalu sebuah mall yang masih satu arah dengan rumah terlintas di pikiran.

“Kalau gue ke sana naik angkot, ngetemnya lama lagi. Kalau jalan, lumayan juga. Kalau naik ojek bakal buang ongkos.” Kira-kira begitu pergulatan pikiran gue.

Saat kereta tiba di stasiun Pondok Ranji, gue harus cepat-cepat memutuskan untuk beranjak atau tetap tinggal. Dengan perasaan yakin dan berusaha untuk nggak menyesal nantinya, gue melangkan ke luar dari kereta. Udara panas dan pengan sore hari menyambut gue dan seketika membuat usaha gue gagal. Gue menyesal. Harusnya gue langsung balik aja dan nyalain AC di kamar. Tapi udah terlanjur. Dari pada gue mengeluh lebih baik gue buru-buru sampai di mall tersebut biar bisa merasakan pendingin ruangan kembali.

Beruntung saat keluar stasiun ada angkot yang sudah mau jalan, dan tempat duduk yang tersisa adalah tepat di pintu. Buru-buru gue naik supaya nggak ketinggalan. Dan dengan mudah gue keluar dari dalam angkot ketika gue sampai di tujuan. Gue pun membayarkan sejumlah ongkos yang harus gue bayar.

Entah apa yang gue tuju dan apa yang gue cari, gue berjalan mengelilingi Bintaro Plaza tanpa tujuan. Tempat ini secara nggak langsung membangkitkan kenangan kenangan masa kecil. Tentu sekarang udah banyak berubah. Kondisi bioskop yang sekarang berbeda jauh, Sega udah berubah menjadi fun world. Udah nggak ada lagi bom-bom car. Beberapa restoran yang udah berganti nama. Tempat gue membeli kaset ps 2 bajakan udah berganti. Bahkan sekarang di bagian depan mall ada tambahan seperti di Mall sumarecon. Tetapi gue masih mengingatnya seolah kemarin.

Gue memasuki toko buku Gramedia sebagai tempat yang terakhir gue datangi. Saat itu jam udah menunjukkan pukul empat. Gue menelusuri rak-rak yang menjual bergakan jenis buku. Komik, majalan, sosial sains.

Ketika gue berada di deretan rak novel, gue memperhatikan satu-persatu novel-novel yang ada di dalam rak. Sejak dulu (entah kapan) gue selalu ingin untuk membeli satu novel lalu membacanya. Berkali-kali setiap kali gue mendatangi toko buku ini keinginan tersebut selalu ada, tetapi nggak pernah terealisasikan.

Ada satu buku yang cukup menarik perhatian gue. Buku karangan Haruki Murakami berjudul Norwegian Wood. Salah satu yang membuat gue tertarik adalah karena gue beberapa kali melihat postingan instageam cewek yang gue suka sampai sekarang dan menampilkan quotes dari sang penulis. Gue juga sempat melihat sinopsis yang ada di sampul belakang buku dan ngebuat gue tertarik. Jadi gue mengambil buku tersebut dan membawanya ke meja kasir.

Di meja kasir seorang perempuan berkerudung dan menggunakan kacamata menyambut gue dengan ramah. Kemudian mengambil buku yang gue letakkan di atas meja.

“Ini saja kak?” Tanya kasir tersebut dengan suara sesopan mungkin.

“Iya.” Jawab gue singkat. Kemudian si kasir menscan buku tersebut hingga menghasilkan suara ‘nit’.

“Mau diplastikin atau pakai tote bag? Kalau pakai tote bag kita ada tambahan sebesar sepuluh ribu.”

“Nggak usah mbak, nggak usah diplastikin. Langsung aja.”

“Baik.” Lagi-lagi si kasir menjawabnya dengan senyuman.

“Bisa bayar pake debit kan kak?”

“Oh, bisa kok kak.”

Gue menyerahkan kartu debit ke kasir, kemudian ia menggeseknya pada mesin sebelum gue menekan tombol pin. Saat kertas struk keluar, si kasir merobeknya dan mengembalikan kartu debit dan menyerahkan buku pesanan gue.

“Terima kasih, mbak.” Ucap gue sebelum meninggalkan meja kasir.

“Terima kasih kembali.”

Gue pulang ke rumah kembali menggunakan angkot. Meskipun masih harus berganti angkot sebanyak satu kali, tetapi ongkosnya bisa dua kali lebih murah jika gue menggunakan ojek. Gue tiba di rumah saat pukul lima. Gue naik ke kamar untuk meletakkan barang bawaan dan segera turun ke bawah untuk mandi sore. Sementara buku yang baru gue beli tergeletak di atas kasur dan belum tau kapan mau gue baca.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
khodzimzz dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


mantap ganemoticon-Sundul Up

Quote:


Mohon maaf lahir dan batin juga ganemoticon-Shakehand2
Wah cerita bersambung mantab.emoticon-Cool
Diubah oleh provocator3301
Ditunggu lanjutannya gan...mantappp.
Halaman 1 dari 3


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di