KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/623bd45fe2554f6a9e6eab31/remaja-senjata-dan-budaya-penembakan-massal-di-amerika-kamiskriminal

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal


Berdasarkan data dari lembaga nonprofityang bernama Gun Violence Archive, pada tahun 2018 setidaknya 101 insiden penembakan massal sudah terjadi di Amerika dan 23 insiden diantaranya terjadi di institusi pendidikan yang tidak hanya melukai, tetapi juga menewaskan siswa dan guru yang berada didalamnya.

Salah satu insiden yang pernah menyita perhatian adalah yang terjadi di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida, pada tanggal 14 Februari 2018 lalu. Pelakunya yang bernama Nikolas Jacob Cruz yang baru berumur 19 tahun, justru tidak lain adalah merupakan bekas siswa disekolah tersebut.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Dengan menggunakan senjata berjenis semi otomatis AR-15 yang dibeli secara legal dari sebuah toko senjata didaerah Florida Selatan, Cruz kemudian mulai melakukan penembakan yang terjadi pada siang hari itu, setelah sebelumnya secara sengaja menyalakan alarm kebakaran untuk mengalihkan perhatian. Penembakan yang hanya berlangsung selama enam menit tersebut mengakibatkan 14 orang siswa dan 3 orang staff sekolah tewas, serta 17 orang lainnya mengalami luka-luka.

Cruz kemudian membuang senjatanya di lantai 3 gedung sekolah dan berusaha membaur dengan siswa yang lain. Selanjutnya Cruz berjalan menuju Walmart untuk membeli minuman soda direstoran Subway yang berada didalamnya, dan kembali berjalan menuju McDonald. Pada jam 3.40 sore, Cruz dihadang polisi ketika sedang berjalan didaerah Coral Spring, 2 km dari tempat peristiwa penembakan.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Menurut keterangan beberapa siswa di sekolah tersebut, Cruz dinilai sebagai anak yang penuh dengan kemarahan, terlebih setelah kedua orangtua angkatnya meninggal.

Hal ini dipicu atas perasaan depresi, latar belakang keluarga yang bermasalah, perundungan yang dialami di sekolah dan lingkungan rumah, dan bahkan rasa kecewa dengan hubungan pribadi yang pernah dilakukannya. Beberapa hal tersebut mungkin bercampur menjadi rasa dendam sehingga kemudian Cruz mendatangi sekolahnya dan menyebarkan teror disana.

Dari penyelidikan yang dilakukan, ternyata Cruz didiagnosa menderita attention deficit hyperactivity disorder dan autisme. Selain itu, dia juga diketahui sering membuat pernyataan dimedia sosial yang isinya ujaran kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Meksiko, kulit hitam, LGBT, bahkan terhadap perempuan.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Dari persidangan awal yang sudah dilakukan, Cruz dijerat 17 dakwaan pembunuhan terencana dan 17 tuduhan percobaan pembunuhan. Dan oleh jaksa penuntut, Cruz dituntut dengan hukuman mati. Namun Howard Finkelstein yang merupakan pengacara pembela dari Broward County Public Defender mengatakan bahwa Cruz bersedia dinyatakan bersalah asalkan dia mendapat jaminan akan dihukum seumur hidup tanpa mendapatkan pembebasan bersyarat.

Selain itu, Finkelstein juga mengatakan bahwa ada banyak tanda peringatan bahwa Cruz secara mental memang tidak stabil dan berpotensi melakukan kekerasan, dan menurutnya hukuman mati mungkin akan terlalu jauh bagi dirinya.

Cruz, yang akan menerima warisan dari orangtuanya sebesar $800.000 atau sekitar 11 milyar, mengatakan bahwa dia akan menghibahkan semua warisannya tersebut bagi keluarga para korban insiden penembakan yang dilakukannya. Namun pihak keluarga dari para korban tersebut justru menolaknya.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Dan baru-baru ini terjadi insiden penembakan yang lain yang terjadi di Santa Fe High School, Texas, pada tanggal 18 Mei 2018. Insiden penembakan yang terjadi selama 25 menit itu menyebabkan 10 orang tewas, dua diantaranya adalah guru, dan satu orang siswa merupakan student exchange dari Pakistan yang bernama Sabika Sheikh yang berumur 17 tahun. Sedangkan 13 orang lainnya mengalami luka-luka.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Pelaku merupakan siswa sekolah tersebut yang bernama Dimitrious Pagourtzis. Menurut beberapa orang saksi, Pagourtzis merupakan korban dari perundungan yang dilakukan oleh teman-teman dan pelatih sendiri di sekolah.

Salah satu mantan gurunya menggambarkan Pagourtzis merupakan orang yang pendiam, tapi bukan dalam cara yang mengerikan. Selain itu guru tersebut mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat Pagourtzis menulis sesuatu didalam buku jurnalnya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak biasa dan sempat membuatnya manaruh curiga. Namun, Pagourtzis masuk dalam jajaran honour student dan anggota tim football sekolah.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Pada jam 7.40 pagi, Pagourtzis memasuki kelas seni di sekolahnya dan mulai menembakkan senjata. Kelas seni tersebut berada dikomplek seni sekolah yang terdiri dari empat ruangan yang terhubung satu sama lain, dengan lorong dan ruangan lainnya. Saksi mengatakan bahwa dua ruang kelas yang menjadi sasaran, terhubung dengan ruang keramik yang bisa diakses dengan merusak bagian pintu.

Seorang korban yang terluka mengatakan pada wartawan bahwa Pagourtzis memasuki ruang kelas dan menunjuk setiap orang sambil mengatakan, "Aku akan membunuhmu". Menurut saksi lainnya, para siswa memblokade diri mereka dengan tempat penyimpanan yang berada didalam ruang kelas seni. Dan Pagourtzis menembak melalui pintu dengan senjata yang digunakannya.

Pagourtzis kemudian meninggalkan ruangan tersebut, dan para siswa yang memblokade diri mereka dengan tempat penyimpanan segera keluar untuk memblokade pintu kelas tempat mereka berada. Namun Pagourtzis segera mendobrak pintu tersebut sambil mengatakan, "kejutan!". Kemudian menembak para siswa itu dibagian dada.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Beberapa petugas polisi yang sudah ditempatkan ditempat kejadian sempat terlibat baku tembak dengan Pagourtzis, dan satu orang petugas yang kritis karena terluka, segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah penembakan yang terjadi diruang keramik, petugas polisi dan Texas State Trooper berusaha membujuk Pagourtzis agar dia menyerahkan diri dengan tenang.

Pagourtzis dilaporkan mengancam akan menembak petugas polisi dan beberapa kali menembakkan senjatanya ketika berargumen dengan mereka. Namun Pagourtzis kemudian menyerahkan diri setelah sempat terluka ketika baku tembak dengan petugas polisi berlangsung. Pihak Galveaton County Sheriff mengatakan bahwa butuh waktu empat menit untuk membujuk Pagourtzis menyerahkan diri, dan membiarkan dia dievakuasi dengan aman dari para siswa dan staf guru lainnya.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Pagourtzis mengaku pada petugas polisi bahwa dia memang berniat untuk membunuh para siswa yang dia tembak, dan memisahkan para siswa yang dia sukai. Dengan begitu dia memiliki kisahnya sendiri.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Selain itu pada tanggal 30 April 2018 sebelumnya, Pagourtzis sempat mengunggah foto kaos bertuliskan "Born To Kill" di akun Facebook miliknya. Terdapat juga foto Pagourtzis yang tengah memakai mantel panjang berwarna hitam dengan beberapa kancing dibagian depan, dengan caption bertuliskan,

"Hammer and Sickle = Rebellion. Rising Sun = Kamikaze Tactics. Iron Cross = Bravery. Baphomet = Evil. Cthulu = Power."

Dari tangan Pagourtzis, petugas polisi menyita senapan Remington Model 870 dan revolver kaliber 38. Kedua senjata tersebut ternyata dimiliki oleh ayahnya secara legal. Selain itu petugas polisi juga menemukan berbagai jenis peledak seperti Molotov Cocktail yang ditemukan didalam dan diluar sekolah.

Atas kejahatan yang dilakukannya, Pagourtzis dituduh melakukan 10 pembunuhan dan penyerangan lainnya. Namun walopun seperti itu, berdasarkan aturan 2005 Roper v. Simmons Supreme Court yang menyatakan bahwa, "Hukuman mati bagi anak di bawah umur adalah hukuman yang kejam dan tidak biasa". Oleh karena itu, jika Pagourtzis terbukti bersalah, maka dia tidak akan mendapat hukuman mati karena dia dianggap tidak memenuhi syarat untuk hukuman mati tersebut.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Pertanyaannya, mengapa di Amerika terjadi begitu banyak insiden penembakan massal, terutama yang terjadi di institusi pendidikan?

Amerika memang mempunyai sejarah panjang yang berkaitan dengan hal tersebut. Terbukti pada masa kolonial, sebuah insiden penembakan pernah terjadi pada tanggal 26 Juli 1764 di Enoch Brown School di Greencastle, Pennsylvania. Ketika itu, empat orang Indian dari suku Lenape memasuki ruangan sekolah dan menembak hingga tewas kepala sekolah yang bernama Enoch Brown dan tujuh orang siswa lainnya. Sedangkan dua orang siswa dilaporkan hanya terluka dan masih bertahan saat itu.

Insiden tersebut dianggap sebagai insiden penembakan massal pertama di Amerika karena melibatkan senjata untuk melumpuhkan korban, walopun siswa-siswa yang tewas, dibunuh dengan menggunakan senjata berjenis melee.

Sebenarnya bukan tentang sejarah insiden penembakan massal itu sendiri, namun ada beberapa faktor yang memang bisa jadi merupakan pencetus dari insiden tersebut.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Ada beberapa peneliti percaya bahwa penembakan massal yang terjadi di Amerika bersifat menular. Dalam arti, ketika sebuah insiden penembakan terjadi disuatu waktu, maka insiden penembakan berikutnya kemungkinan akan terjadi dalam jangka waktu sekitar 2 minggu kemudian.

Namun, fenomena "The Copycat" ini juga dipacu oleh persoalan betapa mudahnya akses untuk mendapatkan senjata bagi orang Amerika itu sendiri. Saat ini, lebih dari sepertiga orang Amerika menyatakan bahwa salah satu anggota keluarga mereka dirumah memiliki senjata. Dan Amerika merupakan negara dengan kepemilikan senjata terbanyak pertama, dan urutan kedua ditempati oleh India.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Memang sedikit mengerikan jika memang ada hubungan antara penembakan massal dengan pelaku yang mempunyai keinginan untuk terkenal. Contohnya ketika terjadi penembakan terhadap kameramen dan reporter di Virginia pada tanggal 26 Agustus beberapa tahun lalu. Si pelaku dengan sengaja merekam aksi yang dia lakukan dengan kamera GoPro, kemudian mengunggahnya dimedia sosial.

Setelah melakukan penembakan tersebut, si pelaku mengirim 23 lembar fax ke kantor berita ABC News. Dia mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh pelaku penembakan Virginia Tech yang bernama Seung-Hui Cho. Selain itu, didalam fax tersebut juga mengatakan bahwa penembakan yang dilakukan terhadap kru wartawan berita itu merupakan bentuk tanggapan dari insiden penembakan massal yang terjadi di gereja Charleston pada bulan Juni sebelumnya.

Menurut beberapa ahli, pelaku penembakan hanya menginginkan perhatian. Itulah mengapa mereka mencoba mendapatkan korban yang lebih besar, untuk mencoba dan mengalahkan insiden penembakan massal yang terjadi sebelumnya, atau menciptakan sesuatu yang akan menyebabkan lebih banyak kegaduhan.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Menurut survey yang dilakukan oleh lembaga yang bernama "Mother Jones", penyakit jiwa merupakan faktor yang paling mempengaruhi seseorang melakukan penembakan massal. Faktanya, 38 dari 61 pelaku penembakan yang terjadi selama 30 tahun terakhir, mereka menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental sebelum insiden penembakan terjadi.

Ketika masalah seperti depresi dan PTSD muncul, mereka harus didiagnosa dan dirujuk sebelum sebuah peristiwa atau insiden penembakan massal terjadi. Jika tidak, persoalan seperti ini hanyalah sebatas asumsi.

Namun, ada juga beberapa pihak yang mengatakan bahwa menghubungkan penembakan massal dengan penyakit jiwa, adalah hal yang tidak benar. Sementara itu, kesimpulan logis yang mengatakan bahwa penyakit mental mungkin mengambil bagian, memang terbilang masuk akal. Apalagi jika kita benar-benar menganalisis angka-angka, sebagian besar insiden penembakan massal yang terjadi di Amerika dilakukan oleh mereka yang dinyatakan tidak gila atau memiliki tanda-tanda lain dari beberapa jenis penyakit jiwa yang signifikan.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa, jika sebuah insiden penembakan terjadi, hal tersebut merupakan bukti bahwa sejumlah negara bagian di Amerika harus mengevaluasi kembali Undang-undang mereka, dalam rangka melonggarkan pengendalian senjata, bukan memperketatnya, dan bertentangan dengan kepercayaan masyarakat secara umum.

Ketika Undang-undang tentang senjata berubah, bukan berarti kemampuan seseorang dalam mengakses senjata akan berubah secara signifikan. Itulah sebabnya, banyak yang menyalahkan Undang-undang karena tidak memadai dalam menghilangkan atau mengurangi kemampuan seseorang dalam mengakses senjata. Dan pemerintah Amerika atau negara bagian itu sendiri tidak menunjukkan sikap atau melakukan tindakan nyata yang berkenaan dengan hal tersebut.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Ada beberapa orang yang mengklaim bahwa di Amerika lebih sulit untuk mendapatkan binatang peliharaan ketimbang mendapatkan senjata. Ada ratusan toko yang menjual senjata, mulai dari toko besar seperti Walmart, sampai toko kecil yang dijalankan oleh sebuah keluarga. Selain itu, puluhan pameran senjata diadakan hampir setiap minggu. Orang-orang pun memiliki kemampuan untuk membeli senjata melalui anggota keluarga, teman, atau tetangga.

Sebelum membeli senjata, seseorang akan mengisi formulir dari AFT atau Federal Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives. Formulir tersebut berisi identitas calon pembeli dan riwayat yang berhubungan dengan kriminalitas atau penyakit jiwa.

Setelah itu, penjual akan menghubungi FBI dan mereka akan menjalankan background check melalui NCIS yang hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dari proses ini, kemungkinan penolakan pembelian senjata hanya terjadi kurang dari satu persen saja. Kalopun penolakan pembelian terjadi, seseorang bisa saja dengan mudah membeli senjata dari pameran yang sedang diadakan, karena disana tidak akan dilakukan background check seperti jika membeli di toko senjata biasa.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Ada beberapa pihak yang menyalahkan orangtua dari pelaku penembakan atas aksi yang dilakukan oleh anak mereka. Contohnya seperti ibu dari Chris Harper-Mercer yang menembak 9 orang hingga tewas di kelas Oregon Community College.

Laurel Harper, ibu Chris, berbagi tentang kesalahan yang dilakukannya. Dan berkat postingannya di forum online tentang anaknya, tampak sudah jelas bahwa dia khawatir tentang masalah perkembangan yang diderita anaknya, tetapi dia juga bersemangat tentang hak seseorang untuk memiliki senjata.

Meskipun tidak ada kejelasan untuk mengatakan orangtua adalah penyebab anak mereka melakukan penembakan, namun memang sebuah hal yang benar bahwa tidak banyak orang tua yang mencari perawatan yang diperlukan anaknya. Jika para orangtua ini menyadari apa yang sedang terjadi, mereka mungkin dapat meminimalisir potensi kejahatan kekerasan yang dilakukan diluar rumah.

Dan meskipun tidak ada kesimpulan pasti bahwa orangtua adalah penyebab pelaku melakukan penembakan massal, namun dalam kasus Harper, tampaknya orangtua memang menjadi faktor yang membuat anaknya melakukan kejahatan. Karena antara orangtua dan anak, mereka memiliki keterikatan dalam hal yang sama, yaitu senjata.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Selama masa kepemimpinan Obama berlangsung, telah terjadi 162 insiden penembakan massal. Jika dibandingkan dengan pemerintahan presiden sebelumnya, insiden penembakan massal terjadi enam kali lipat ketika Obama memimpin.

Sebagai contoh, ketika Ronald Reagan memimpin, 11 insiden penembakan massal terjadi. Ketika George H. W. Bush memimpin, 12 insiden penembakan massal terjadi. Ketika Bill Clinton memimpin, 23 insiden penembakan massal terjadi. Dan ketika George W. Bush memimpin, 20 insiden penembakan massal terjadi. 

Apa yang sebenarnya terjadi?

Setelah insiden penembakan massal di Sandy Hook Elementary School terjadi, Obama meloloskan 23 perintah dari lembaga eksekutif yang berkenaan dengan pengendalian senjata. Dia juga terus menyebutkan bahwa kontrol senjata di AS mencerminkan apa yang terjadi di Australia dan Inggris, di mana larangan senjata telah diterapkan.

Obama juga terus mengungkapkan keinginannya untuk meningkatkan apa yang bisa dia lakukan dalam hal pengendalian senjata, tetapi situasinya hanya tampak lebih buruk dengan setiap komentar dan hukum yang dibuat olehnya. Dan meskipun dia bukan satu-satunya yang menjadi penyebab insiden penembakan massal terjadi, tampaknya sudah jelas bahwa Obama merupakan sebuah faktor pencetus banyaknya senjata yang beredar dikalangan masyarakat Amerika.


bersambung ke.. #2


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Sekian, dan terima kasih.

*
*
*
*
*

sumber 1, sumber 2, sumber 3, sumber 4, sumber 5, sumber 6

profile-picture
profile-picture
profile-picture
myasanmia dan 6 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal
Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Jika pabrik pembuat senjata tidak memproduksi senjata secara besar-besaran, permasalahan insiden penembakan massal mungkin tidak akan pernah muncul. Oleh karena itu, pabrik senjata juga disalahkan karena dianggap tidak bertanggungjawab atas pembuatan dan penyaluran senjata. Dan hal tersebut menjadi faktor yang berkontribusi dalam semua insiden penembakan massal yang terjadi di Amerika.

Namun, argumen seperti ini tidak begitu saja dapat digunakan untuk menuntut setiap pabrik pembuat senjata. Dan bagaimanapun juga, pabrik senjata adalah bisnis yang besar. Semakin banyak pelanggan, maka semakin banyak pula keuntungan yang didapat oleh pabrik tersebut.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Kekerasan dalam berbagai bentuk media, terutama film dan video game, seringkali juga disalahkan sebagai inspirasi bagi pelaku penembakan massal. Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa, seseorang yang bermain video game selama berjam-jam dalam sehari, atau menghabiskan beberapa lama untuk menonton adegan kekerasan di televisi ataupun film, cenderung memiliki pemikiran yang agresif.

Selain itu, sebagian besar pelaku insiden penembakan yang tenggelam dalam mengkonsumsi kekerasan dari media, mereka juga dianggap sakit mental. Namun, kekhawatiran terbesar adalah bentuk "imitation crime", dimana ketika seseorang mempunyai keinginan untuk meniru apa yang mereka lihat dari yang orang lain lakukan.

Quote:


Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Pemberian resep obat mungkin bisa jadi salah satu pemicu seseorang melakukan penembakan. Mereka mengkonsumsi salah satu dari beberapa jenis obat-obatan psikotropika yang terbilang kuat, atau mereka sudah mengkonsumsi obat-obatan tersebut jauh sebelum insiden penembakan terjadi.

Ada beberapa penelitian ilmiah yang dilakukan selama lebih dari satu dekade, dan dokumentasi internal dari perusahaan farmasi yang memiliki informasi tersembunyi yang menunjukkan bahwa obat Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitors atau SSRI sudah diketahui, namun memiliki efek samping yang tidak dilaporkan. Termasuk perilaku kekerasan dan keinginan untuk bunuh diri.

Obat-obatan seperti ini sangat berbahaya dan memainkan peranan penting dalam insiden penembakan massal. Hanya dengan melihat fakta, maka hal ini bisa dibuktikan.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Jika berbicara tentang insiden penembakan massal yang sepertinya sudah menjadi insiden rutin yang terjadi di Amerika, maka wajar saja jika masyarakat Amerika mengalami ketakutan yang luar biasa. Bahkan ketika menghadapi sesuatu yang baru berupa ancaman.

Pada tanggal 27 Maret 2018 lalu, polisi Upper Darby, Pennsylvania, menangkap An Tso Sun, warga negara Taiwan berumur 18 tahun, atas tuduhan ancaman penembakan yang akan dilakukan di sekolahnya sendiri.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Ancaman tersebut dikatakan An Tso pada tanggal 26 Maret 2018 kepada salah seorang temannya, untuk tidak datang ke sekolah pada tanggal 1 Mei 2018, karena dia akan menembak orang-orang yang berada di sekolahnya saat itu.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Selain ancaman penembakan, An Tso juga ditahan atas kepemilikan satu pucuk senjata jenis AR-15, satu pucuk senjata jenis AK-47, 225 butir amunisi senjata laras pendek, 663 butir amunisi senjata 9 mm, 295 butir amunisi AR-15, 425 butir amunisi AK-47, dan beberapa jenis amunisi lainnya.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

Selain itu polisi juga menemukan sejumlah barang bukti berupa rompi anti peluru, busur berkekuatan tinggi, anak panah, masker ski militer, dan pelindung kuping untuk kegiatan menembak, ketika mereka menggeledah kamarnya.

Menurut pengakuannya, An Tso membeli barang-barang tersebut secara online melalui fasilitas iPad yang ada di sekolahnya, setelah sebelumnya sempat menanyakan pada beberapa temannya bagaimana caranya untuk membeli senjata. Sedangkan ibu An Tso sempat mengatakan pada media lokal Taiwan bahwa senjata yang dimiliki oleh anaknya berikut barang-barang yang lain tersebut, dibeli di Taiwan dan dibawa ke Amerika untuk dijadikan sebagai kostum Halloween.

Ibu An Tso yang bernama Di Ying, merupakan seorang aktris opera terkenal Taiwan. Sedangkan ayahnya bernama Sun Peng, juga merupakan seorang aktor terkenal Taiwan. Sun Peng mengatasnamakan istri dan anaknya, sempat meminta maaf dihadapan media Taiwan dan menyesalkan perbuatan anak mereka satu-satunya tersebut.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal

An Tso datang ke Amerika pada musim gugur tahun lalu, berstatus sebagai foreign-exchange student di Monsignor Bonner & Archbishop Prendergast Catholic High School di daerah Drexel Hill. An Tso sendiri selama di Amerika ditampung oleh sebuah keluarga pengacara di Pennsylvania yang namanya enggan dipublikasikan.

Namun setelah peristiwa ini, An Tso langsung dikeluarkan dari sekolahnya dan menempati ruangan sel dengan jaminan pengganti sebesar US$100.000, dengan tuduhan membuat ancaman terorisme.

Remaja, Senjata, dan Budaya Penembakan Massal di Amerika #KamisKriminal
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mimiesp1 dan 3 lainnya memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
jlamp dan servesiwi memberi reputasi
Diubah oleh marywiguna13
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
korban perudungan itu, makanya jangan ngebully lah, apapun yg terjadi jangan pernah ngebully
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
setuju dengan komentar atas ane

Bullying tidak membenarkan segala sesuatu alasannya. Mungkin kalau di Indonesia ada legalitas tentang senjata juga bakalan banyak baku tembak dijalan emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Tonozz dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Itulah dunia dan konfliknya.
Suatu negara bisa produksi senjata, sedangkan di negara lain mengalami kelaparanemoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jlamp dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pengaruh dari game GTAemoticon-Big Grin
profile-picture
ushirota memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Mantul juga neeemoticon-Leh Uga
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Amrik memang punya sejarah panjang tentang senjata api...

Zaman wild west, senjata ditenteng kesana kemari.
Betul kata Donald Trump pas menjabat.. bahwa senjata tidak membunuh orang tapi orang membunuh orang... Kesehatan mental sangat penting karena membunuh orang nggak selalu menggunakan senjata api.. tapi senjata api membuatnya menjadi mudah.

emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nurade247 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
melegalkan miras maka banyak pemabuk bermunculan
melegalkan narkotika maka banyak pemakai narkotika
melegalkan gay dan lesbi maka banyak bermunculan pasangan gay/lesbi
melegalkan senjata?? isi sendiri lah


cuman indonesia ajah yang ini itu ilegal tapi user nya banyak emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
nurade247 dan jlamp memberi reputasi
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 10 balasan
Wih gue demen nih ganti topik tiap hari.
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
emoticon-Matabelo
sangat mengerikan kalau peredaraan senjata dibiarkan bebas seperti ituu....
profile-picture
jlamp memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
banyak koboi disana, buat yg mau kerja atau sekolah disono mending dri skrg siapin duit buat beli rompi anti peluru biar kebal kyk CJ di gta SA emoticon-Takut
profile-picture
jlamp memberi reputasi
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 12 balasan
kepemilikan swnjata yg bebas, jd kasus penembakan massal pasti terjadi. disini aja remaja pnya senjata parang, golok, celurit jg banyak yg ngebunuh
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
senjata api kyny tetap jadi benalu dalam kehidupan warga Amrik. Kepemilikan senpi yg warisan dari jaman wild west lalu dibuat dalam amandemen kalau hak tiap warga negara memiliki senpi, skrng ini malah jadi alat pembunuhan bagi sesama warganya.

Tapi kalo amandemen itu mau diapus juga g mungkin, terlalu besar perputaran uangny, jadi bos2 industri senjata bakal melobi kongres.

G kebayang sih kalau ada anggota keluarga bos pabrik senpi yg terbunuh dgn senpi yg dia jual.

Tapi positifnya, bila tanah Amrik diserang oleh tentara asing atau ada wabah zombie menular di amrik, warga ny lbh siap mempertahankan tanah airnya.
profile-picture
ushirota memberi reputasi
Lihat 32 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 32 balasan
Korban game PUBG sama FF emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bata.enjenir dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Menurut pendapat ane, faktor terpenting adalah adanya UU tentang mudahnya seseorang memiliki senjata. Udah tau UU itu banyak mudharat nya, tetap aja dipertahankan. "Sesakit" atau segila apapun seseorang, gak mungkin dia mampu membunuh orang banyak dalam 1 hari, karena gak punya senjata api. Jack The Ripper aja atau pembunuh gila misalnya, yg banyak membunuh orang, diperlukan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
profile-picture
alvibasx memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wahh.. HT ya? emoticon-Big Grin
Bagus.. harap lestarikan 👍
Sebelum menginvasi negara orang, "invasi" aja dulu negara sendiri
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Post ini telah dihapus
Lihat 22 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 22 balasan
Halaman 1 dari 2


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di