KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/623a7426c77e6326dc4e87a7/pengalaman-bekerja-di-tempat-toxic-raburandom

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom


Tulisan ini merupakan sebentuk pengalaman pribadi. Apa tujuan saya menuliskannya disini? Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sebuah situasi yang pernah saya hadapi, dan mungkin pernah atau sedang dihadapi oleh sebagian kecil para pembaca, terlepas ada tidaknya hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut. Saya tidak bermaksud untuk menyudutkan atau menghina siapapun atau pihak manapun. Lokasi dan nama tokoh yang terdapat dalam cerita akan disamarkan.

**************************************************

Apa itu Toxic Workplace?

Menurut artikel yang saya baca, Toxic Workplace atau tempat kerja toxic adalah suatu kondisi di dalam sebuah tempat kerja dimana budaya perusahaan, rekan kerja, situasi kerja, atau kombinasi dari ketiga hal tersebut membuat seseorang merasa terganggu sehingga berpengaruh kepada kondisi kesehatan mental.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Mengapa tempat saya bekerja mencari nafkah saya sebut sebagai tempat kerja toxic? Saya memiliki banyak alasan. Beberapa diantaranya adalah, Bapak dan Ibu Bos cenderung akan meremehkan kondisi hidup para karyawannya sendiri. Bapak dan Ibu Bos cenderung memiliki sikap untuk mengadu domba para karyawannya sendiri. Bapak dan Ibu Bos cenderung akan melakukan tuduhan pencurian terhadap para karyawannya sendiri. Para karyawan akan saling mengadukan perilaku karyawan lainnya pada Bapak dan Ibu Bos. Dan para karyawan akan cenderung saling menjatuhkan, karyawan senior bisa dipastikan akan menjatuhkan karyawan junior bagaimanapun caranya.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Sedikit cerita tentang bagaimana saya bisa bekerja di tempat tersebut. Bulan Maret 2008 lalu, saya pernah melamar pekerjaan disebuah tempat les bahasa dengan posisi sebagai asisten guru les bahasa Inggris. Lamaran saya saat itu dinyatakan ditolak, namun saya justru direkomendasikan untuk bekerja sebagai private English tutor bagi sepasang anak kembar perempuan yang berumur 7 tahun yang merupakan anak dari pemilik salah satu toko mebel di Bandung. Saat itu saya langsung diterima, bahkan saya dijadikan sebagai "karyawan magang" di toko mebel tersebut. Dari jam 8-4 sore saya bekerja di toko mebel, dan dari jam 5-8 malam, saya bekerja sebagai private English tutor.

Satu tahun kemudian, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari toko mebel tersebut dengan alasan bahwa saya akan menikah lagi dan calon suami mewajibkan saya untuk ikut dengannya ke Kalimantan. Pada kenyataannya, saat itu saya sedang melakukan proses untuk menjadi seorang TKW dengan tujuan negara Taiwan. Jadi, yang menjadi alasan paling utama saya mengundurkan adalah, gaji yang saya terima saat itu hanya sebesar satu juta rupiah untuk dua pekerjaan yang berbeda, dengan 12 jam kerja. Bukannya tidak mensyukuri bentuk rejeki yang saya terima, tapi dengan kondisi hidup saat itu dimana saya seorang single parent dan anak saya masih berumur dua tahun, mendapatkan gaji yang hanya sebesar satu juta rupiah pastinya tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan.

Sembilan tahun kemudian dan sekembalinya dari Taiwan, Almarhumah Ibu memberitahu bahwa Bapak dan Ibu Bos sempat dua kali datang ke rumah. Secara garis besar, mereka menginginkan saya untuk kembali bekerja di toko mebel setelah mereka tahu bahwa alasan saya mengundurkan diri dari sana ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada akhirnya, sejak awal bulan April 2019, saya kembali bekerja disana tanpa perlu bekerja sebagai private English tutor bagi sepasang anak kembar mereka.

Untuk satu bulan pertama, para karyawan toko mebel dan hal-hal yang ada di dalamnya masih terlihat dan terasa manis. Selanjutnya, para karyawan akan menunjukkan keasliannya, dan hal-hal yang ada di dalamnya akan memberikan rasa yang sesungguhnya. Selama sembilan bulan bekerja di toko mebel tersebut, banyak hal-hal kecil maupun besar, hal-hal terbilang penting maupun sepele, yang tentu saja terjadi hingga membuat saya berkata, "Okay, I've had enough!". Dan saya akan menceritakan beberapa diantaranya di bawah ini.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Saat itu sudah masuk bulan Ramadhan, dan siang itu di toko di lantai satu hanya ada saya, Reni, supir, dan kenek. Saat itu kami sedikit nyantai karena memang tidak ada pekerjaan khusus yang harus dilakukan, lagipula Bapak dan Ibu Bos sedang berada di Jakarta untuk mengurus proses kuliah ketiga anak perempuan mereka ke Jerman.

Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang menjalankan puasa, rasa kantuk dan lapar akan datang menghampiri terutama dikala siang hari. Begitupun dengan saya yang saat itu menjadi satu-satunya karyawan yang menjalankan puasa. Saya masih bisa menahan lapar, tapi saya tidak bisa menahan kantuk, hingga secara perlahan saya kemudian tertidur. Saya sempat terlelap untuk beberapa saat, namun saya langsung terbangun ketika mendengar suara yang cukup keras yang sepertinya memang disengaja untuk membangunkan saya.

Menjelang malam, Bapak Bos menghubungi saya melalui Whatsapp dan bertanya tentang hal-hal yang terjadi di toko. Lalu Bapak Bos berkata,

Quote:


Mendengar hal tersebut saya langsung menjawab,

Quote:


Bapak Bos kembali berkata,

Quote:


Saat itu saya hanya mengiyakan, tapi apakah saya menuruti apa yang Bapak Bos sarankan? Tentu saja tidak. Sejak saat itu saya justru berusaha agar saya tidak tertidur lagi dengan melakukan pekerjaan yang bisa saya lakukan, menyapu lantai misalnya. Karena apa yang Bapak Bos katakan diakhir pembicaraan, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah bentuk toleransi terhadap umat yang sedang berpuasa, atau sebuah bentuk kebaikan yang berasal dari dalam dirinya. Tapi saya justru menganggapnya sebagai umpan agar saya bisa masuk perangkapnya, yang cepat atau lambat akan dibuang jika memang sudah tidak diperlukan.

Bapak Bos seringkali mengatakan bahwa dia merasa mampu untuk mendapatkan belasan bahkan puluhan karyawan untuk bekerja di tokonya. Saya berpikir, jika saya memang dianggap sudah merugikan, maka saya tidak keberatan untuk dikeluarkan saat itu juga. Toh Bapak Bos merasa mampu untuk bisa mendapatkan karyawan sebanyak yang Bapak Bos butuhkan. Tapi pada kenyataannya, saya tetap dipertahankan walaupun saya tidak tahu apa alasannya. Terlepas dikeluarkan atau tidak, yang menjadi pemikiran saya hingga saat ini justru adalah karyawan yang telah mengambil foto saya ketika sedang tertidur dan melaporkannya pada Bapak Bos.

Jika saya menjadi dia, saya tidak akan melakukan hal seperti yang dia lakukan, tapi saya justru akan membangunkan dia, melarangnya untuk tidur pada jam kerja, dan memberinya peringatan untuk tidak melakukannya lagi. Dan jika dia melakukannya lagi, maka barulah saya akan melaporkannya pada Bapak Bos. Bentuk pengaduan yang dia lakukan pastinya bertujuan untuk "cari muka" terhadap Bapak Bos, dan dia memang memiliki hak untuk melakukannya. Hanya saja, saya sangat menyayangkan sikapnya.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Di toko mebel tempat saya bekerja, seorang konsumen yang sudah membeli barang disana bisa melakukan pembayaran dengan cara tunai, menggunakan kartu kredit, atau dengan transfer melalui no rekening pribadi milik Bapak Bos. Dan setiap pemasukan yang akan dicatat, Bapak Bos pasti akan memberikan perintah kepada salah satu karyawannya untuk memprint out buku tabungan miliknya.

Pada suatu hari, saya mendapatkan tugas untuk melakukan hal tersebut. Saya tidak keberatan karena bank yang dituju lokasinya bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit. Setelah mengantri, saya mendapatkan giliran untuk berhadapan dengan seorang CSO, dan saya menjelaskan bahwa saya ingin memprint out buku tabungan untuk urusan pembukuan. CSO tersebut menolak untuk melakukannya, karena buku tabungan tersebut bukan milik saya. Dan sebagai persyaratan, saya harus membawa surat kuasa dari pemilik buku tabungan tersebut.

Mendengar aturan yang dijelaskan, saya langsung menghubungi Bapak Bos dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar cerita yang menurutnya dianggap tidak enak, Bapak Bos meminta saya untuk mengalihkan pembicaraan dengan CSO tersebut dan menyuruh saya untuk mengambil fotonya. Dari jarak sekitar 50-60 cm, saya bisa mendengar Bapak Bos memaki-maki CSO tersebut karena suaranya begitu lantang. Setelah mereka selesai melakukan pembicaraan dan dengan perasaan yang sangat tidak enak, saya meminta ijin untuk mengambil foto CSO tersebut.

Bagaimana saya bisa merasa enak jika CSO yang sedang saya hadapi, yang sedang berada dalam kondisi hamil, dimaki-maki oleh Bapak Bos yang menolak untuk mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak bank? Bapak Bos mungkin berpikir, karena Bapak Bos merupakan seorang nasabah member platinum, maka dia akan menerima perlakuan istimewa termasuk bisa menolak untuk mematuhi segala aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak bank. Saat itu saya yang justru merasa dilema dan kebingungan, disatu sisi saya harus mematuhi aturan dari pihak bank. Namun di sisi lain, saya harus mematuhi perintah yang Bapak Bos berikan.

Beberapa hari kemudian, Bapak Bos kedatangan seorang tamu yang merupakan salah satu petinggi bank yang pernah saya datangi beberapa hari sebelumnya. Dan Bapak Bos sempat meminta foto CSO yang pernah saya ambil untuk memperlihatkannya pada petinggi bank tersebut. Saya tidak tahu bentuk pengaduan apa yang dibicarakan oleh Bapak Bos, dan saya juga tidak tahu apa yang terjadi pada CSO itu. Hanya saja saya berpikir, apakah sulit untuk mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak bank, tempat dimana Bapak Bos tidak memiliki kekuasaan disana? Namun saat itu, yang saya bisa lakukan hanya berdoa semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada CSO itu.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Disuatu siang hari, saat itu di toko hanya ada saya dan Reni, sedangkan karyawan yang lain sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari luar arah sebelah kanan, muncul seorang pria yang berumur sekitar 60-65 tahun. Yang saya ingat, Bapak itu memakai baju koko berwarna putih, memakai peci takiyah berwarna krem, dan membawa tas selempang kecil berwarna hitam. Namun, saya tidak ingat dengan warna celana dan model sepatu yang dipakainya.

Begitu Bapak itu masuk, saya langsung menyambutnya, memberikan sapaan, dan dia juga langsung melihat perabotan yang berada dibagian depan. Sambil duduk disebuah sofa, Bapak itu menanyakan harga lemari pajang setinggi tiga meter dan sepanjang empat meter. Reni memberikan harga sekitar 22 juta. Lalu Bapak itu berjalan mendekati posisi lemari pajang itu berada sambil mengatakan bahwa dia akan menyimpan baju-bajunya di lemari pajang tersebut. Reni sempat memberikan sanggahan bahwa lemari pajang tersebut akan lebih bagus jika disimpan barang-barang hiasan. Dengan ketus dan bernada tinggi, Bapak tersebut kemudian memberikan jawaban,

Quote:


Mendengarnya berbicara seperti itu, saya dan Reni langsung terdiam. Bapak itu kemudian bertanya tentang pengiriman ke Medan dan sistem pembayaran dengan menggunakan cicilan. Kedua pertanyaan tersebut dijelaskan oleh Reni secara panjang lebar. Setelahnya dalam hitungan detik, Bapak tersebut keluar dari toko tanpa berpamitan atau mengucapkan terimakasih, dan berdiri di halaman toko seperti sedang menunggu sesuatu. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berjenis Nissan Xtrail berwarna putih muncul dari arah kanan menuju ke arah halaman toko sebelah kiri. Pengemudinya yang berpakaian rapi, keluar dari mobil dan menghampiri Bapak itu. Mereka berdua kemudian menyeberang jalan dan berjalan hingga menghilang dari pandangan.

Hari akan menjelang sore, tapi mobil yang diparkir di halaman toko masih tetap dalam posisinya, tanda si pemilik mobil belum muncul dan memindahkannya. Diduga sudah melihat dari CCTV, Ibu Bos sudah mulai menghubungi Reni untuk menanyakan tentang mobil yang diparkir di halaman toko. Mendengar penjelasan dari Reni, Ibu Bos turun dan mulai memerintahkan para karyawannya termasuk saya, untuk mencari si pemilik mobil, serta memintanya untuk segera memindahkannya.

Jam 7 malam, si pemilik mobil masih belum muncul. Sudah waktunya saya untuk pulang ke rumah, tapi mengingat saya yakin tidak akan diijinkan karena masalah belum selesai, saya memutuskan untuk mencari si pemilik mobil ke arah kiri. Ketika saya sudah berjalan sejauh 10-20 meter dari toko, saya melihat Bapak itu sedang berada disebuah warung makan. Saya mulai berjalan menghampirinya dan mengatakan,

Quote:


Seingat saya, saya berbicara dengan sangat sopan, dengan nada yang rendah dan halus, serta dengan iringan senyum manis yang saya miliki. Bahkan posisi badan pun saya bungkukkan. Namun, Bapak itu justru memberikan jawaban,

Quote:


Dari situ pertengkaran mulai terjadi, orang-orang disekelilingnya yang kebanyakan adalah para pedagang warung makan dan para driver online pasti mendengar, dan memutuskan untuk melihat hal yang terjadi. Pertengkaran yang berlangsung sekitar 10 menit tersebut dihentikan oleh seorang driver online, saya juga berhenti memberikan argumen dan melangkahkan kaki untuk segera pergi dari warung makan tersebut.

Saya menilai, pertengkaran tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi. Tapi apakah saya perlu diam, menunduk, lalu menangis dan meninggalkan warung makan itu ketika Bapak itu menyebut saya dengan kata yang cenderung kasar tanpa alasan yang jelas? Tentu saja saya tidak akan tinggal diam. Lalu apa alasannya? Seingat saya, ketika saya memintanya untuk memindahkan mobil, saya menggunakan gaya bicara dengan bentuk kesopanan terhadap orang yang umurnya jauh lebih tua dari saya. Dan ketika di toko pun, saya dan Reni merasa tidak memberikan sikap yang kurang baik terhadap Bapak itu. Tentu saja, karena prinsip "Pembeli adalah Raja" masih berlaku di toko kami.

Iya.. Pertengkaran itu tidak perlu terjadi jika Bapak itu menjawab,

Quote:


Bukankah jawaban seperti itu akan lebih menyejukkan hati? Orang-orang yang menonton pertengkaran yang terjadi pastinya akan berpikir macam-macam. Sebagian akan berpikir tentang masalah apa yang saya miliki dengan Bapak itu, dan sebagian akan berpikir mengapa saya bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Jika salah satu penonton pertengkaran memberikan pertanyaan dan saya memiliki kesempatan untuk memberikan jawaban, saya akan menjelaskan secara detail duduk perkaranya seperti apa. Agar mereka bisa menilai hal yang sudah terjadi dari berbagai sisi.

Sekitar 10-15 menit kemudian, pada akhirnya si pemilik mobil muncul untuk mengambil mobilnya. Dia sempat menganggukkan kepala ketika saya sedang berdiri di depan toko, dan dia sempat mengatakan pada saya,

Quote:


Saya membalasnya dengan senyuman manis alakadarnya, karena hati saya masih merasa kesal. Keesokan harinya, Bapak Bos bertanya pada saya tentang apa yang terjadi dan saya menceritakan kronologinya seperti apa, karena tadi malam Bapak Bos sedang tidak ada di tempat. Bapak Bos tidak mengatakan apapun, bahkan kata "maaf" atas kejadian buruk yang telah saya alami, atau kata "terimakasih" atas bentuk pembelaan yang saya lakukan demi tempat saya bekerja. Karena mengingat ketika pertengkaran itu terjadi, tidak ada satupun dari para karyawan toko laki-laki yang berani menghadapi Bapak itu, atau membela saya ketika bertengkar dengannya.

Mengapa pertengkaran itu bisa terjadi? Bapak itu bersikeras bahwa si pemilik mobil memiliki hak untuk memarkirkan mobilnya dimanapun karena menurutnya, saat itu si pemilik mobil memarkirkan mobilnya di tempat umum yang dikelola oleh pemerintah. Sedangkan menurut pembelaan Bapak Bos, teman Bapak itu telah memarkir mobil dimana jalan yang sering dilewati oleh para pejalan kaki dan lokasinya tepat berada di depan toko tersebut diakui sudah dibeli oleh Bapak Bos. Dan Bapak Bos mengaku memiliki surat-surat sebagai bukti atas pembelian lahan tersebut. Jika persoalan tersebut dibawa ke meja hijau, keduanya akan bersikeras mengungkapkan haknya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah surat-surat bukti pembelian lahan itu ada, atau justru tidak ada? Jika ada, berarti saya membela yang benar. Jika ternyata tidak ada, berarti saya telah dibohongi dan membela yang salah. Namun, terlepas ada tidaknya keberadaan surat-surat bukti pembelian lahan tersebut, menurut saya si pemilik mobil tetap melakukan hal yang tidak seharusnya dia dilakukan. Karena mobil yang dia miliki cenderung menghalangi tempat usaha orang lain dan bentuk kegiatan yang ada di dalam tempat usaha tersebut.


bersambung ke #2...


**************************************************

Sekian, dan terimakasih.
Thread merupakan tulisan pengalaman pribadi.

*
*
*
*
*

profile-picture
profile-picture
profile-picture
wikowiqo dan 23 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4
**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

beberapa hari sebelum hari "H"..

Siang itu, saya dan Reni sedang duduk di tempat marketing, dan Bapak Bos sedang berada di ruangannya. Lalu tiba-tiba Bapak Bos memanggil saya, dan saya segera menghampirinya. Bapak Bos tampaknya sedang ingin melakukan pembicaraan serius seputar kegiatan di toko, dan hal-hal yang ada di dalamnya. Ketika sedang mengobrol, tiba-tiba Bapak Bos berkata,

Quote:


Begitu mendengarnya, saya langsung memberikan sanggahan.

Quote:


Bapak Bos kembali berkata,

Quote:


Saya hanya diam, dan perasaan saya campur aduk. Saya merasa kaget karena dituduh, saya merasa tersinggung karena dituduh, saya merasa ingin marah karena dituduh, dan saya merasa ingin menangis karena dituduh. Dituduh melakukan hal yang sama sekali tidak terpikir untuk saya lakukan. Secara logika, jika saya memang tidak merasa mencuri, seharusnya saya cukup bersikap tenang saja. Tapi saya berpikir, ternyata pada akhirnya saya mengalami hal yang sama yang pernah dialami oleh para karyawan lainnya. Dari situ, satu-satunya hal yang kemudian terpikir adalah, saya harus bisa mengundurkan diri dari toko mebel tersebut.

Minggu, 1 Maret 2020

Hari itu saya harus mengurus barang pesanan dari konsumen yang pernah saya tangani, hari itu saya gajian, dan hari itu saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat saya bekerja. Iya.. I've had enough!

Siang itu ketika saya sedang mengecek barang pesanan konsumen yang akan dikirim, angin sedang berhembus dan secara tiba-tiba menjatuhkan posisi salah satu barang pesanan tersebut. Bapak Bos yang saat itu sedang mengawasi, langsung marah dan memberikan kata-kata umpatan yang cenderung kasar, kata "tolol", dan kata "goblok". Dua dari sekian banyak kata-kata kasar yang tidak saya suka. Bapak Bos berhak untuk marah, tapi apakah perlu dengan tambahan kata-kata kasar? Menurut saya tidak perlu, karena kata-kata kasar seperti yang Bapak Bos sebutkan tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang kaya, berpendidikan cukup tinggi, dan memiliki teman-teman yang berasal dari kalangan atas seperti para petinggi perbankan dan para petinggi Polri, termasuk mantan Kapolda Jawa Barat.

Barang pesanan berupa coffee table yang sempat jatuh akibat angin yang berhembus tadi, saya perintahkan untuk segera dibawa ke lantai tiga dan diperbaiki oleh supir, karena dia mempunyai kemampuan untuk memperbaiki barang mebel yang mengalami kerusakan. 1-2 jam kemudian, barang pesanan yang rusak sudah selesai diperbaiki, sudah selesai dikirim, dan saya menerima sisa pembayaran dari konsumen yang harus segera saya setorkan pada Ibu Bos.

Hari itu saya anggap sebagai hari terakhir saya bekerja, walaupun tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang hal tersebut. Jadi, ketika saya berhadapan dengan Ibu Bos, saya berpikir untuk meminta gaji terakhir saya karena secara kebetulan, tanggal 1 merupakan tanggal saya menerima gaji. Ibu Bos sempat menolak memberikannya dan menyuruh saya untuk menunggu sekitar 2-3 hari. Tapi saya berhasil meyakinkannya dengan sebuah alasan.

Keesokan paginya, saya bisa mendengar suara pesan Whatsapp terus menerus masuk dan voice call nya pun terus menerus berdering, saya sengaja tidak menggubrisnya karena saya sudah bisa memastikan dari siapa saja. Lagipula secara kebetulan saat itu saya sedang sakit dan secara tidak resmi, saya sudah mengundurkan diri dari toko mebel itu.

**************************************************

Mengundurkan diri dari sebuah tempat kerja tanpa memberitahukan hal tersebut sebelumnya pada pihak HRD, atau dalam hal ini pada Bapak dan Ibu Bos, memang bisa dianggap sebagai hal yang tidak beretika, dan saya mengetahui dengan persis tentang hal tersebut. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika saya mengajukan pengunduran diri, maka prosesnya sudah pasti akan dipersulit.

Alasan saya mengundurkan diri tidak semata-mata karena masalah gaji, karena saat itu saya menerima jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan masa kerja saya sebelumnya. Tuduhan pencurian dari Bapak Bos, rekan kerja yang cenderung bekerja sama untuk menjatuhkan saya, dan suasana kerja yang tidak membuat saya tenang, ketiga hal tersebutlah yang menjadi alasan utama. Dan saya sama sekali tidak merasa menyesal tidak memiliki pekerjaan yang bisa memberi saya penghasilan.

Sebuah tempat kerja yang baik tidak akan selalu ditentukan oleh besarnya gaji yang akan diterima dalam setiap bulannya. Namun, situasi kerja yang nyaman, rekan kerja yang bisa diajak untuk bekerja sama dalam hal yang baik, dan bos yang tidak otoriter, bisa menjadi aspek penentu apakah seseorang mampu untuk bekerja dalam waktu yang lama, atau justru akan bekerja dalam waktu yang singkat.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Dan alangkah baiknya jika seorang bos dan seluruh karyawan yang bekerja di dalamnya, saling bekerja sama dan bahu membahu demi tercapainya tujuan bersama, yaitu memajukan dan memberikan keuntungan bagi tempat mereka bekerja.

**************************************************

profile-picture
profile-picture
profile-picture
cungkringoke dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh marywiguna13
profile-picture
profile-picture
a.dirnt dan servesiwi memberi reputasi
Diubah oleh marywiguna13
Tindakan yg tepat berhenti kerja kalok udah gak cocok.emoticon-Recommended Seller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 33 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 33 balasan
Menurut ane.. Berhenti sprt yg ente lakukan wajar kok klo model bos nya kaya gt...
Ane pun akan melakukan hal serupa klo kejadian macam itu...
profile-picture
profile-picture
yuri21 dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
gue juga pernah punya pengalaman kerja di tempat toxic

akhirnya mental juga gue

emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
samanthadewitt dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Tetep semangat, selama kita ga aneh2 dan masih ada yg percaya sama kita yakin rejeki pasti ada emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
madjoeki dan nowbitool memberi reputasi
Diubah oleh knoopy
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
gw sepuluh tahun lebih... bertahan di lingkungan toksik parah... ujung2 nya PHK karena alasan COVID19 emoticon-Betty emoticon-Betty
sekarang gw udah mulai lembaran baru setelah berbulan bulan nganggur...
ada sebuah insting... lebih tepatnya medan tempur baru gw ini seakan akan TERANG BHENDERANG semua keliatan, walaupun gw baru dateng.. bahkan temen yang bawa pisau di belakang tangannya pun sampe kelihatan emoticon-Cool

intinya... lingkungan toksik gak selamanya buruk, itu melatih anda untuk survive, melatih anda untuk bisa mencari solusi, dan membentuk "pertahanan" terbaik buat anda dikantor emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zhaolq dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Wah seru nih , semoga bisa saling sharing antar warga kaskus, nice trit sist Mary emoticon-Kiss (S)

Quote:

Quote:

Quote:
Diubah oleh badbironk
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
alasan banyak orang di jepun banyak yang bundir itu juga lingkungan kerja toxic, logikanya orang kerja kan buat nyari kemakmuran, kebahagiaan, klo justru bikin depresi, kesehatan terganggu y cari yg laen ato usaha sendiri malah lebih adil dan berasa duitnyaemoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Pernah berada di situasi dan kondisi seperti itu, dan ane sanggup bertahan sampai hampir dua tahun.

Awalnya memang berat, tapi lama lama yaa jadi terbiasa dan berusaha menikmatinya
profile-picture
madjoeki memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
pernah ngalamin nih di BUMN tp jiah toxic abis apalagi masih make terlena kejayaan masa lalu ahirnya yg jd tumbal n kambing hitam ya pekerja kasta bawah yg ada dilapangan, sedangkan yg dikantor cuma pd asik ngrumpi, ngopi-ngopi, bosnya kalo kunjungan keluar mintanya ayam yg putih lupa umur, bini sama anak dirumah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Bakal seru tuh klo ngobrol sm org yg pernah kerja di situ jg.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
di daerah gue hal yang biasa kalo boss panglong itu kejam dan pelit

Btw itu si bapak berpeci jadi beli barang gak? dan apa hubungannya dengan si pemilik mobil?
profile-picture
wonxintinxxx memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nurutku bos km ga berkata kelewatan sih... kecuali yg bagian dia nuduh km ambil barang toko. Saat dia berkata kasar pas brg jatoh it sy rasa cm reflek, sm kek org kl lg kaget teriak latah. Bukan berarti dia nyalahin km jg x. Emg sehari2nya dia ngomong kasar jgkah?

Jujur, sy paling sebel kl lg negur karyawan secara baik2, baik2 loh ya. Dijawab "ya kl bos ngerasa ga cocok sy resign aj". Kesannya gimana sih? Kek ga boleh ditegur gt walau salah. Jd, bos disuruh diem aj gt? Kecuali kl dia negur kasar barulah km berhak ngo gt.

Yg perkara mobil jg sy masih heran, yg berkata "monyet kamu" kan customer, bukan bos km. Knp km malah nyalahin bos ya? Jd maksudnya km mau bos turun tangan biar ribut sm tu org belain km? Sy yakin bos km jg keki sm org it, tp dia nahan diri aj krn ga mau ad ribut2 di area pertokoannya. Lagipula dr awal yg inisiatif nyari org it kan km sdr, apakah bos yg nyuruh km? Kl iy, maaf sy ga baca bagian it.

Dan bagian km resign tanpa ngomong it sih nurut sy "engga bgt" deh. Sejelek2nya tempat km kerja, nurut sy ttp harus ngomong sih. Okelah, dipersulit. Tapi setidaknya km ttp hrs ngomong stlh terima gaji. Jgn main ilang gt. Mungkin km ngerasa diatas angin dgn begitu, tp ke depan2nya who knows? Someday maybe u need them.

Ini sudut pandang dr sy sih. Sy sdr pernah jd karyawan jg dan ngerti bgt yg namanya lingkungan toxic, bahkan sy ga kuat dn sampe resign. Tp keluar baik2lah. Waktu it sih krn yg toxic it teman2 kerja, bosnya sih baik. Waktu ajuin resign bosny sempet nahan, tp sy ttp keluar. Krn emg ad alasan pribadi jg sih. Eh, malah dikasih pesangon emoticon-Big Grin Yah sp tau sis kl bicara baik2 dikasih bonus jg pas keluar.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rianveron dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 16 balasan
Kak mau tanya nih saya kan lulusan baru dan masa training kemarin waktu bercanda" bareng rekan training dan trainer sempet tuh ada rekan training yg ngejoke "kalo dirumah ibunya di pasung" ibunya ini mengarah ke aku kak saran mending aku keluar atau gimana jujur sakit hati sih dibilang gitu dan dari diri sendiri pengen keluar gk lanjutin training ya bagusnya gimana kak ?
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
persis banged dengan yg gw alami ketika gw yg sedang sibuk kerja buat mencari sesuap nasi, nah giliran rekan kerja malah pada sibuk mau menjatuhkan gw, sudah hampir setahun gw kerja ditempat yg toxic parah ujung2nya gw resign sendiri...
profile-picture
profile-picture
rizaldi.sarpin dan AlbertPrima memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Senasib...
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
memang susah sih untuk mencari pekerjaan yang "nyaman" sesuai kriteria kita sis. tetap semangat ya. semoga dapat kerjaan yang sesuai dengan keinginan sista
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
sebenernya dari dulu biasa tuh situasi kerja yg kek gini, yg membedakannya itu level ke-toxic-annya.... emoticon-Embarrassment

temen2 ane dulu, waktu pada masih usia muda, kalo ngalamin yg macam gini, ya langsung cabut resign dari tempat kerjanya masing2, trus abis itu gampang cari2 kerja lagi...

tapi kalo sudah berumur, gak berdaya, terima kondisi yg ada, soalnya kalo resign, bakal susah nyari kerja lagi karena faktor usia.. emoticon-Embarrassment
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
Diubah oleh bocah..ababil
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Toxic dan cari muka paket komplet.
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan silentwalker88 memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di