KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Tech / ... / Komunitas NFT Indonesia /
Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61f411b37835f516cd5ef2e1/fenomena-nft-permainan-destruktif-kapitalisme

Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?

NFT sederhananya adalah aset digital yang tidak bisa diganti. Tidak seperti aset yang dapat dipertukarkan (fungible) seperti uang kertas yang kita gunakan sehari-hari, aset non-fungible adalah aset yang memiliki identitas unik dan tidak dapat dibagi serta ditukar dengan barang lain yang serupa. Ibarat satu buah handphone yang unik dimiliki oleh kita sendiri, suatu barang NFT hanya dapat berpindah tangan jika pemiliknya setuju untuk dibeli dengan harga yang sekian rupa. Pembelinya kemudian mendapatkan bukti kepemilikan, umumnya berbentuk digital melalui teknologi blockchain.

Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?
Sumber

Lalu, apa yang menentukan harga dari sebuah aset NFT? Setidaknya ada empat faktor penting. Pertama, adalah utilitas atau kegunaan. Mayoritas barang NFT adalah hal yang memiliki kegunaan virtual ataupun dunia nyata, seperti peralatan atau skin dalam suatu video game, dan suatu tiket konser berbentuk digital, begitu juga sebuah karya seni yang bisa ditunjukkan dalam sebuah galeri pribadi di dunia nyata.

Kedua, sejarah pemilik dan pembuatnya. Tidak jarang, suatu aset NFT yang memiliki harga astronomis adalah bekas kepemilikan seorang tokoh besar, seperti cuitan pertama di Twitter yang dijual oleh CEO-nya, Jack Dorsey, yang berhasil terjual dengan harga US$ 2,9 juta, dan juga kode pertama World Wide Web karya Tim Berners-Lee yang berhasil dijual sebagai NFT seharga US$ 5,4 juta.

Ketiga, kelangkaan. Selain karya seni dan musik yang memang jumlah aslinya terbatas karena sesuai ciptaan pembuatnya, para pengembang program yang dilibatkan dalam penerbitan aset NFT dapat mengatur keterbatasan dari sebuah barang yang ditetapkan untuk menjadi barang langka. Selain itu, mereka juga mampu mempertahankan kelangkaan suatu barang dengan memberikan sebuah sandi pada kode digitalnya. Suatu barang NFT dapat mempertahankan orisinalitasnya meskipun diduplikat berkali-kali.

Keempat, likuiditas. Likuiditas yang tinggi menjamin harga yang aman pada sebuah aset NFT. Kemampuan perdagangan instan dari NFT menghasilkan likuiditas yang tinggi. Pasar NFT dapat melayani berbagai audiens, mulai dari pedagang yang memang ahli, pemain pemula, dan hal ini kemudian memungkinkan eksposur aset yang lebih besar ke kelompok pembeli yang lebih luas.

Dari keempat faktor di atas, kita bisa menemukan satu poin penting yang mencerminkan NFT secara keseluruhan, yaitu harga aset NFT murni benar-benar tergantung dari kewenangan pengembang teknologi NFT dan permintaan dari para peminatnya, yang sesungguhnya saat ini hanya terdiri dari segelintir orang kaya saja.

Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah speculative capitalist madness atau kegilaan spekulatif kapitalis. Istilah tersebut berangkat dari kenyataan bahwa NFT dan cryptocurrency tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, melainkan nilai tukarnya ditentukan berdasarkan penentuan subjektif yang sangat spekulatif dari penjual maupun pembeli barang NFT.

Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?
Sumber

Dalam aktivitas ekonomi dan pertukaran uang di dunia nyata, pembayaran yang dilakukan dalam suatu transaksi perdagangan dijamin oleh keberadaan sebuah otoritas negara yang mengatur nilai mata uang, seperti bank sentral. Sementara itu, nilai bitcoin dan mata uang digital yang digunakan untuk transaksi aset NFT tidak dijamin oleh lembaga otoritas publik mana pun. Nilai ekonomi NFT benar-benar ditentukan oleh seberapa besar seseorang rela untuk membayar, dan itu semua juga bergantung pada tingkat kepercayaan orang untuk mengakui ETH atau mata uang digital lain sebagai suatu hal yang bisa dianggap sebagai mata uang. Dengan demikian, selalu akan ada potensi penurunan nilai drastis bila muncul narasi untuk tidak memercayai NFT.

Anggapan bahwa NFT menyandarkan dirinya pada spekulasi kapitalis, menjadi semakin rumit ketika dihadapkan pada paradoks yang selama ini menghantui aktivitas ekonomi barang digital, yaitu NFT berusaha memperkenalkan konsep kelangkaan ke dalam domain di mana suatu barang dapat diakses oleh semua orang secara gratis (internet). Untuk alasan ini, fenomena NFT memaksa kita untuk memikirkan kembali tentang alasan untuk memiliki sesuatu di ruang digital. Dari sini muncul pertanyaan besar yang barang kali jadi unek-unek banyak orang. Apakah sensasi NFT dapat diandalkan untuk waktu yang lama?


Menuju Feudalisme Baru

Sensasi jual beli barang yang fenomenal tidak hanya terjadi pada kasus NFT. Kalau kita lihat sejarahnya, banyak barang yang tiba-tiba saja memiliki nilai ekonomis sangat tinggi, tetapi kemudian jatuh dengan cepat, contohnya seperti penjualan Tulip Belanda yang terjadi pada abad 17. Kalangan ekonom menyebut fenomena ini dengan istilah bubble economy karena sifatnya yang cepat naik turun. Apakah NFT akan jadi bubble yang selanjutnya?

Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?
Sumber

NFT memiliki benih-benih untuk menjadi bubble. Mulai dari upaya untuk membuat kelangkaan secara artifisial, padahal sesungguhnya kelangkaan tersebut tidak benar-benar ada karena aset NFT dapat dengan bebas dan mudah disalin, bahkan didistribusikan oleh siapa saja di internet. NFT juga tidak mewakili karya seni yang nyata sebab mereka hanyalah data dan informasi yang dapat diduplikasi hanya dengan pencetan mouse. NFT hanyalah skema cepat kaya lainnya dari kelompok kapitalis yang telah didorong ke popularitas astronomis oleh spekulasi dan sensasi media sosial. Tidak ada nilai aktual dalam NFT itu sendiri dan “gelembung” di sekitar mereka hanyalah cerminan dari irasionalitas sistem kapitalis.

Fenomena NFT, Permainan Destruktif Kapitalisme?

Sebuah gelembung ekonomi memiliki karakteristik, yaitu kenaikan suatu nilai ekonomi yang disebabkan oleh proyeksi yang terlalu optimis dari para investor tentang masa depan, seringnya muncul sebagai dampak perkembangan teknologi. Orang-orang kemudian melihat harga tersebut naik dengan cepat, namun selalu menemukan alasan untuk mengatakan itu adalah fenomena yang rasional. Lalu, seiring waktu, muncul keraguan dari para aktor yang terlibat langsung dalam bubble economy.

Terkait ini, contohnya sudah ada, yaitu pernyataan dari seniman digital dengan nama Fvckrender, yang mulai meyakini bahwa NFT dapat membunuh karya seni karena mengacaukan fungsi utilitas dari barang-barang seperti lukisan dan gambar digital. Tanda-tanda bahwa NFT hanya akan menjadi gelembung ekonomi sudah di depan mata. Tinggal sikap orang-orang saja yang menentukan, apakah akan menggunakan kesempatan sempit ini, atau justru menghindari jauh-jauh.



profile-picture
profile-picture
ahfaloomz dan amdar07 memberi reputasi
Diubah oleh biohazard89


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di