KOMUNITAS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61f27fe21bc2b35b74765e3b/10-meter

10 Meter (Based On True Story)

Quote:


10 Meter

>>Part1Perjanjian Masa Kecil

Senin pagi di tahun 2004, gue tengah duduk menyantap sarapan nasi goreng telur mata sapi buatan nyokap, sambil nonton TV di ruang tengah.

"Indra! Berangkat bareng yuk!" Teriakan seorang bocah cewek menghentikan sesaat aktivitas makan pagi gue.

"Yak bentar!" ujar gue membalas teriakan tadi, dan buru-buru menyelesaikan sarapan gue saat itu. Bahkan sarapan gue masih sisa separuh karena tidak ingin teman baik gue menunggu lama.

"Buruan ayok!" tegur bocah cewek yang sedang berdiri di depan rumah gue ketika melihat gue nongol di pintu depan. Cewek yang tengah menunggu itu adalah Retta, dia seorang cewek tomboy tetangga gue. Dia sudah jadi teman main gue sejak gue masih balita. Wajar saja karena memang rumah kami hanya berjarak sepuluh meter.

"Kamu nggak sama ibu kamu?" tanya gue sambil memakai sepatu nike warna hitam yang sudah di sediakan di dekat pintu oleh nyokap.

"Bapak sama ibu aku harus kerja, jadi nggak bisa nganter," jawab Retta, alasan yang sama yang dikatakan nyokap bokap gue saat gue meminta diantar oleh mereka. Kedua orang tua gue seorang guru SMP. Nyokap mengajar di SMP1 bokap di SMP3, bagaimana mereka bisa bertemu? Gue juga nggak tau. Yang jelas arah sekolah SMP dan SD itu berlawanan. Itulah mengapa mereka nggak bisa antar gue di hari pertama gue masuk sekolah.

Retta duduk di teras beranda menunggu gue selesai pakai sepatu.

"Mah! Aku berangkat!" ujar gue usai sepatu terpasang dengan rapih, nggak berapa lama nyokap keluar rumah dengan seragam coklatnya, lalu gue mencium punggung telapak tangan nyokap gue.

"Hati-hati kalau mau nyebrang tengok kanan kiri dulu!" ucap nyokap gue yang gue balas dengan anggukan.

"Ayok!" ajak gue semangat, dan kami pun berangkat bersama.

Hari itu, hari pertama gue dan Retta masuk SD. Dan gue jalani itu, seperti kebanyakan bocah lainnya. Mungkin yang berbeda adanya Retta di samping gue. Apapun yang gue lakukan, selalu ada dia di dekat gue. Rasanya memang hari-hari gue selalu dekat dengan dia, aneh aja kalau nggak ada dia. Bukan hanya di sekolah, sebelum sekolah pun kami selalu main bersama.

Hal unik dari Retta adalah, meskipun dia cewek, dia bisa diajak main apa aja, main bola, main kelereng, pokoknya apa aja kalau gue yang ngajak pasti dia mau. Selain itu, bukan cuma gayanya saja yang tomboy, tapi kepribadiannya pun membuat gue kadang merasa dia teman cowok. Bayangin aja, Retta nggak segan-segan ngajak berantem saat ada yang bully gue, meskipun yang bully bocah laki-laki.

Nggak bisa di pungkiri kenyataan nya gue memang nggak seberani dia. Di masa itu bisa dibilang gue seorang bocah cupu (dulu gue sering diejek anak mama), yang cuma bisa bersembunyi di belakang seorang cewek.


*****


Lima tahun berlalu, kelas 1, 2, 3, 4, dan 5, bisa dibilang gue jalani dengan normal seperti kebanyakan bocah SD. Tidak ada hal menarik yang bisa gue ceritakan di saat-saat itu, selain gue yang selalu di lindungi Retta. Sampailah di tahun 2009 di masa-masa gue dan Retta sebentar lagi akan lulus SD. Ketika itu hanya tinggal sebulan lagi untuk merayakan kelulusan.

Suatu waktu, murid kelas enam di beri tugas rumah, untuk mengisi sebuah kertas yang di berikan oleh wali kelas. Dalam kertas itu berisi pertanyaan-pertanyaan tentang rencana ke depan dan cita-cita.

"Dra, punya kamu udah di isi?" tanya Retta melirik gue. Saat itu gue dan Retta sedang selonjoran di ruang tengah rumah gue, sambil memikirkan apa yang akan kita tulis untuk mengisi kertas yang di berikan Bu Ima (nama wali kelas gue saat kelas enam) di sekolah tadi.

Gue menatap selembar kertas itu sambil menggelengkan kepala, menandakan gue pun masih bingung, apa yang akan gue tulis di kertas itu.

Retta bangkit lalu mengeluarkan buku gambar dan krayon dari tas sekolah yang ia bawa.

"Kita gambar aja apa yang kita mau kalau udah dewasa nanti," kata Retta, tangannya yang memegang pensil mulai menari di atas selembar buku gambar.

"Emang kamu mau gambar apa?" Gue mendekatkan kepala ke arah Retta. Dengan cepat Retta menutupi buku gambarnya.

"Kamu gambar sendiri cita-cita kamu, kalau udah selesai, nanti kita tunjukin bareng-bareng!" hardik Retta.

Gue menjauh dari Retta mencoba menggambar cita-cita seperti apa yang Retta katakan. Sejujurnya saat itu gue nggak kepikiran ingin jadi apa gue nanti. Gue punya oranga tua yang sayang ama gue, punya teman seperti Retta yang selalu lindungi gue, lantas apalagi yang gue inginkan? Pikir gue saat itu.

Beberapa menit gue berpikir, terbesitlah untuk menggambar seorang pembalap. Meskipun gambar gue emang nggak ada bagusnya, tapi bisa dipastikan saat ada yang melihatnya mereka pasti akan langsung berpikir kalau gambar yang gue buat adalah seorang pembalap motogp terkenal.

"Itu gambar apa?" tanya Retta, melirik buku gambar gue.

"Rossi," ucap gue yang masih berkutat dengan gambar yang gue buat.

"Kamu pengen jadi pembalap?" Retta kembali bertanya.

Gue berhenti menggambar dan menempelkan pensil di dagu sambil melihat ke atas, seolah sedang berpikir. "Nggak juga sih, cuma keliatan keren aja kalau liat Rossi di TV." Gue melirik Retta yang sedang memperhatikan gambar yang gue buat. "Kamu gambar apa?" Kali ini gue yang bertanya.

Retta menunjukan apa yang dia gambar tadi.

"Power Ranger?" tanya gue dengan polosnya.

"Ini dokter," jelas Retta.

Gue mengangguk sambil menilik-nilik gambar punya Retta. Yang sebenarnya nggak lebih bagus dari punya gue.

"Mulai sekarang kita harus belajar sungguh-sungguh biar bisa seperti yang kita gambar," ucap Retta.

Sejujurnya saat itu gue nggak begitu memikirkan masa depan, namanya juga masih bocah. Tapi gue tetap mengangguki perkataan Retta.

Ruang tengah di rumah gue terdapat lemari kaca yang biasanya untuk menaruh piala, berhubung di rumah ini nggak ada yang berprestasi, lemari itu di pakai nyokap untuk menyimpan koleksi keramiknya. Di pintu lemari itulah gambar yang gue dan Retta buat, ditempel menggunakan slotip bening.

"Nanti kita harus jadi seperti di gambar ini!" ujar Retta meyakinkan.

Gue mengangguk.

"Janji!" Retta mengacungkan jari kelingkingnya.

"Ya." Kami mengaitkan jari kelingking seperti kebanyakan bocah ketika membuat janji.

Dan akhirnya yang di gambar itulah yang kami tulis untuk mengisi tugas sekolah yang di berikan Bu guru.

Esok paginya Bu Ima menyuruh semua murid, untuk menempelkan tugas rumah yang ia berikan di dinding belakang kelas, sekedar penyemangat untuk mengejar impian kami. Dan setelah satu bulan berlalu, hari kelulusan pun tiba. Semua murid dari kelas satu sampai enam berkumpul di lapangan depan sekolah. Sebuah panggung sudah berdiri di sana, satu persatu acara kenaikan sekaligus kelulusan, digelar. Puncaknya acara perpisahan murid kelas enam dengan semua guru, yang berjalan cukup mengharukan.

Bersambung ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh diyan96
Pertamax gan
oke gan lanjut.

>>Part2 Perubahan Retta

Suatu pagi, gue tengah asik main game di ruang tengah. Game PS1 yang bokap belikan sebagai pengganti karena gak bisa liburan. Kesibukan mempersiapkan tahun ajaran baru, menjadi alasan orang tua gue nggak bisa ngajak gue liburan.

"Kamu udah mutusin mau sekolah ke mana?" tanya nyokap yang terdengar di belakang gue.

"Belum," jawab gue singkat.

"Masa pendaftaran sebentar lagi habis, kamu harus cepat nentuin mau masuk ke sekolah mana!" ujar nyokap yang sekarang sepertinya duduk di sofa belakang gue.

Gue nge-pause game dan memutar badan gue menghadap nyokap. "Entar deh, tanya Retta dulu," ucap gue.

"Kenapa tanya Retta?"

Gue terdiam.

"Kamu itu udah gede, kamu harus tentuin sendiri!"

"Tapi Retta itu temen aku dari kecil, Mah."

"Mama tau, mama nggak ngelarang kamu terus berteman dengan Retta. Tapi suatu saat nanti kalian harus memilih jalan kalian masing-masing, kamu nggak bisa terus bergantung sama dia," jelas nyokap, kemudian dia berlalu menuju dapur.

Setelah obrolan tadi gue jadi kehilangan selera untuk melanjutkan main game WWE yang gue mainkan tadi. Gue memilih masuk ke kamar dan merebahkan diri.

Bodoh dan egoisnya gue, saat itu gue merasa Retta pasti akan selalu bersama gue.


*****

Pertengahan tahun 2009.

Pada akhirnya gue satu sekolah dengan Retta. Setelah berbicara dengannya, kita memutuskan sekolah di SMP2 dimana tidak ada orang tua gue yang mengajar di sana.

Seperti kebanyakan sekolah, di hari pertama semua murid mengikuti upacara bendera, lalu sesi memperkenalkan semua guru, setelah guru bubar di akhiri pidato seorang OSIS. Kurang lebih isi pidato itu tentang perkenalan anggota OSIS, peraturan sekolah dan penjelasan soal MOS.

Setelah di jemur selama satu jam semua murid baru disuruh bubar. Kemudian gue dan puluhan murid lainnya berjalan menuju sebuah mading yang berada di dinding dekat kantor guru. Di sana sudah tertulis daftar nama murid dan kelas yang akan di tempati.

Gue masuk ke sebuah kelas dengan nomer sesuai yang di tulis di mading. Sebagian bangku sudah dikuasai, hanya tinggal dua bangku kosong di pojok paling belakang. Tanpa berpikir panjang gue langsung mengisi bangku itu dan nggak butuh waktu lama, seseorang menghampiri gue bermaksud mengisi bangku di sebelah gue.

"Hey," sapanya. "Gue Diki." Dia menyodorkan tangan.

"Indra," ujar gue dan segera menjabat tangannya.

"Boleh gue duduk di sebelah lu?" Diki melirik bangku sebelah gue.

"Boleh," jawab gue singkat.

Perkenalan yang singkat karena beberapa detik kemudian seorang guru datang, dia mulai mengenalkan diri dan mengabsen satu-persatu murid di kelas ini.

"Ok, selanjutnya. Perkenalkan diri, satu orang satu orang maju kedepan, bergantian. Dari kanan dulu!" ujar guru yang mengaku bernama Budi itu.

Perkenalan pun dimulai, dari nama, tempat tinggal, sampai cita-cita ditanyakan oleh Pak Budi di depan semua murid. Ada yang tampak grogi, ada yang malu-malu, ada pula yang percaya diri, dan tentu saja ada juga yang ngelawak. Sampai akhirnya tiba giliran gue. Tentunya gue termasuk yang percaya diri, dengan yakin gue berjalan ke depan.

Walaupun gue cukup dimanja terutama oleh nyokap, namun gue bukanlah seorang pemalu. Berbicara di depan orang banyak bukanlah sesuatu yang sulit bagi gue.

"Nama saya Indra Baskara." Semua mata langsung tertuju pada gue.

"Tinggal?" tanya Pak Budi.

"Saya tinggal di (alasan privasi, gue nggak bisa nulis alamatnya)."

"Cita-cita?" tanya Pak Budi lagi.

"Untuk saat ini belum kepikiran soal cita-cita. Kalau harapan, saya cuma ingin lulus," ucap gue. Belajar dari yang lain yang ditertawakan saat mengatakan cita-citanya. Untuk nyari aman, gue nggak bilang itu.

"Punya kata-kata mutiara?" Pak Budi kembali bertanya.

"Waduh, nggak ada, Pak."

"Yang kepikiran aja, apa coba?"

Gue diam berpikir sebentar, melihat sekeliling tampak semua orang menatap gue menunggu gue bicara. Dan saat itulah gue baru menyadari tidak ada satupun teman sekolah SD gue dulu. Yang artinya Retta pun nggak sekelas dengan gue.

"Jika Tuhan menciptakan bintang untuk memperindah langit, maka Tuhan menciptakan sahabat untuk memperindah hari-harimu." Itulah yang terpikir di otak gue saat itu, dan nggak gue duga Pak Budi bertepuk tangan, disusul sorakan dari semua orang yang ada di kelas.

"Keren lu, Ndra," ucap Diki, ketika gue sudah kembali di bangku samping dia. Sementara gue cuma tersenyum puas.

Selanjutnya, tidak ada hal penting yang dilakukan di hari pertama sekolah. Setelah mengikuti beberapa kegiatan, jam dua belas siang, sudah diperbolehkan pulang.

*****

Masa SMP adalah masa keremajaan, di saat itu kita di ponis menjadi anak ABG. Selain itu, di masa itu kita mulai mencari jati diri, mencari apa yang kita sukai dan yang kita inginkan. Itulah yang gue lihat dan rasakan setelah beberapa bulan masuk SMP. Ada yang mulai menekuni olahraga, ada yang memperbanyak teman, ada yang membuat semacam perkumpulan. Termasuk Retta, beberapa kali gue memergoki dia sedang membaca di perpustakaan, padahal gue tau betul dia bukan tipe murid yang rajin.

"Ta, tumben rajin," celoteh gue, menghampiri Retta yang sedang membaca.

Retta menunjuk ke dinding yang terdapat sebuah tulisan. Tulisan itu berbunyi, [Dilarang Berisik!] Otomatis gue kaya orang g*blok, gue duduk diem nungguin orang yang lagi baca buku. Karena bosan, gue memilih keluar dari perpustakaan dan pergi ke kantin.

Saat itu gue cuma beranggapan, Retta hanya menemukan apa yang dia sukai. Gue baru benar-benar menyadari perubahan Retta, saat kenaikan kelas. Retta menjadi murid teladan dengan nilai ujian tertinggi. Jujur aja gue terkejut, tapi sebagai teman dekatnya gue senang, namun di saat yang sama, gue merasa Retta sudah menjauh beberapa langkah di depan gue.

Dari saat itu, ada semacam jarak yang mulai memisahkan gue dengan Retta. Kami mulai jarang bertemu di rumah, karena Retta selalu sibuk belajar. Di sekolah pun gue udah nggak pernah bertegur sapa. Retta sudah punya sirkel pertemanannya sendiri, begitupun gue. Ditambah kita memang berbeda kelas.

Perubahan Retta bukan hanya dia yang semakin rajin belajar. Retta mulai merubah penampilannya, dulu dia selalu berpenampilan seperti laki-laki, kini dia mulai bergaya selayaknya remaja cewek di jaman itu. Otomatis secara perlahan, gue tidak lagi mengenal Retta. Retta yang dulu satu frekuensi, yang dulu satu pemikiran, kini 70% telah berubah.


Bersambung ....
10 meter

1000 cm


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di