KOMUNITAS
Informasi! Kaskus Update Fitur Baru! Intip di Sini!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61ee8f34f056f30b6d4edec9/shape-of-your-soul

Shape Of Your Soul

Shape Of Your Soul

Setiap pagi, pemandangan pertama yang menungguku saat terbangun selalu sama. Wajah, wajah seorang wanita cantik yang masih terlelap menikmati mimpinya. Wajah itu tampak begitu damai, tak terganggu dengan aktivitas para tetangga yang sudah memulai hari. Segaris cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jatuh tepat di dahinya, membuatnya tampak seperti malaikat. Tak peduli berapa kali dilihat pemandangan itu selalu membuatku terpana.

Pertama, aku akan terpana oleh hidung mancungnya yang nyaris bersentuhan dengan hidungku, nafasnya yang hangat bisa kurasakan pada kulit leherku layaknya angin panas gurun sahara yang menghangatkan tubuh di pagi yang dingin ini. Di telingaku, nafasnya terdengar teratur yang menandakan dia sedang tidur nyenyak.

Kedua, dahi lebarnya yang tampak siap menerima kecupan selamat pagi. Rambut poninya yang agak bergelombang sedikit menutupi keindahan itu jadi kusisir rambutnya dengan jari agar aku bisa melihat betapa halus permukaan kulitnya. Dari jari-jari tanganku aku dapat merasakan suhu tubuhnya yang hangat yang menandakan demamnya sudah turun.

Ketiga, bibir tipisnya yang imut menggoda. Kusentuh bibir itu dengan jari telunjukku, merasakan tekstur dari bibirnya yang kering. Setiap kali aku melakukan itu kelopak matanya akan berkedut yang menjadi tanda untuknya kembali ke kenyataan.

Dan yang terakhir, momen yang menurutku paling spektakuler dan tak akan kutukar dengan apapun di dunia adalah saat-saat dimana dia membuka matanya. Fenomena itu dimulai dengan kedutan-kedutan kecil di sudut matanya dan perlahan kelopak mata itu akan terbuka, memperlihatkan permata yang sudah bersembunyi selama delapan jam lamanya.

Ahh, matanya sungguh indah. Iris matanya yang kecoklatan tampak seperti buah almond matang menggoda. Pupil matanya gelap layaknya lubang hitam yang dasarnya tak terlihat. Bahkan sklera matanya pun tampak seputih susu dengan gurat-gurat merah pembuluh darah yang halus. Namun yang paling mengesankan adalah mata itu bercahaya, mata itu memancarkan kehidupan dan sekilas, untuk waktu yang amat singkat, aku merasa bisa melihat jiwa Soni bersembunyi disana.

"Selamat pagi."

Suaraku terdengar agak serak dikala aku menyelimutkan telapak tanganku ke pipinya. Dia mengangkat tangannya dan menaruhnya diatas tanganku, menjaga tanganku agar tetap berdiam di pipinya. Perlahan kedua sudut bibirnya tertarik menciptakan senyuman selamat pagi yang amat indah dan tanpa bisa ditahan aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, mengecup bibirnya dengan mesra.

Segera saja tubuh telanjang kami kembali bersentuhan, membangkitkan gairah birahi yang masih tersisa meski sudah dilampiaskan semalaman. Apakah bijak untuk melakukannya lagi disaat matahari sudah meninggi? Ahh persetanlah, siapa yang peduli dengan matahari? Satu hal yang kutahu adalah aku menginginkannya dan aku tak ingin ada yang mengganggu waktu pribadi kami.

Dan karnanya aku pun merengkuh Soni, membenamkan wajahku dalam kehangatan tubuhnya. Aku yakin masih ada cukup waktu hingga pameran dibuka jadi aku ingin menikmati lebih dan lebih banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Halaman 1 dari 5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kawulo_Mataram dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Bab 1

Sudah berapa lama sejak aku pertama kali bertemu Soni? Aku tidak mengingat tanggalnya dengan jelas namun aku yakin saat itu malam hari, malam bulan purnama. Malam itu mungkin malam ketiga atau keempat sejak kepindahanku ke rumah susun lima lantai ini dan yang kulakukan malam itu adalah meratap, menatap bulan tanpa benar-benar memperhatikannya.

Dengan sengaja aku membiarkan seluruh ruangan gelap gulita sementara aku duduk di balkon, menatap cahaya bulan seolah mencari inspirasi disana. Saat itu udara malam amatlah dingin namun aku membiarkan tubuhku menggigil hanya dengan berlapiskan pakaian tipis murah yang ibuku beli saat diskon.

Dan kemudian, akupun merenung. Diam, begitu tenang namun begitu sedih sampai-sampai air mataku mengalir tanpa sadar. Kuakui saat itu adalah saat-saat terburuk dalam hidupku dimana seminggu sebelumnya ibuku, satu-satunya orangtuaku yang tersisa, mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

Rasa sakit itu tak bisa digambarkan, meski tak terlihat namun rasa sakitnya melebihi siksaan fisik manapun dan tanpa berpikir panjang aku memutuskan pindah dari rumah, kabur dari semua kenangan yang akan membuat rasa sakit itu semakin tak tertahankan.

Meski demikian kenangan itu terus mengejar kemanapun aku pergi. Tak peduli apa yang aku lakukan aku pasti akan segera teringat akan senyum ibuku. Seluruh beban emosional itu membuatku tak bisa tertidur hingga aku terpaksa duduk diam menatap bulan, membiarkan semua kenangan itu menguasaiku.

Dan disitulah, aku merasa mendengar suara dari Lorelei, sang perayu dari sungai Rhine. Suara nyanyian itu tidaklah merdu, suaranya terdengar sumbang namun yang membuatku penasaran adalah, siapa orang yang bernyanyi pada pukul 3 pagi?

Suaranya berasal dari luar, tepatnya dari balkon kamar sebelah. Aku pun mencondongkan tubuhku keluar untuk memeriksa apa yang ada disana dan apa yang kulihat adalah sosok seorang wanita yang tengah berdiri diatas pagar pembatas, siap untuk melompat dari lantai lima tanpa kepedulian atas nyawanya sendiri.

Jika seseorang melihat orang lain hendak melakukan bunuh diri maka apa yang akan orang tersebut lakukan? Menghentikannya? Memanggil pemadam kebakaran? Merekam dan melakukan live streaming? Aku tidak melakukan semua itu, yang aku lakukan hanya berdiri disana, mencoba merekam seluruh lukisan itu dengan kedua mataku.

Ooh, langit yang gelap dengan cahaya putih kebiruan. Seorang wanita cantik yang ingin bertemu dengan kematian. Seluruh keluh kesah hidup dituangkan dalam nyanyian. Aku menyusun tema-tema tersebut dalam kepalaku sementara mataku mencoba menangkap seluruh detail kecil demi menyempurnakan lukisan tersebut.

Rambutnya panjang bergelombang namun tampak tidak terurus. Pakaiannya kusam dan berkerut dibanyak tempat seolah lama tidak dicuci. Dan dibalik pakaian yang serba kebesaran tersebut bisa kulihat tubuh kurus yang tidak terawat. Kakinya tampak gemetar mencoba mempertahankan keseimbangan diatas palang besi tersebut dan getaran itu ikut menggetarkan suaranya.

Namun dia terus saja bernyanyi.

Aku pun bertanya-tanya, apakah dia akan melompat setelah lagunya selesai? Tidak… jangan! Aku belum puas memandangi keindahan itu. Jika aku bisa menghentikan waktu maka aku rela hidup di waktu yang terhenti selamanya agar bisa terus menatap wajah wanita itu.

Namun akhirnya wanita itu mencapai akhir dari lagu. Dia berhenti bersuara dan hanya berdiri dengan tangan terentang menatap bulan sehingga aku bisa melihat sisi wajahnya dengan jelas. Dia cantik, alisnya panjang, hidungnya mancung dan matanya memantulkan sinar bulan hingga terlihat seperti bola kristal yang berkilauan.

Akupun berkedip sekali untuk melembabkan mataku yang kekeringan karna menatapnya terlalu lama. Aku melangkahkan kaki sedekat mungkin agar bisa melihat wajahnya lebih jelas dan disaat itulah aku menyadari sebutir air mata turun membasahi pipinya. Aku tak tahu mengapa dia menangis, apakah dia sedih karna harus berpisah dengan dunia? Yang jelas, aku bisa melihat semacam cahaya mengelilingi tubuhnya.

Cahaya itu tipis layaknya selubung, membungkus tubuhnya. Selubung itu bergetar mengikuti tarikan nafasnya yang semakin lama semakin berat. Disitulah aku menyadari bahwa selubung itu melambangkan ketakutannya. Ohh, ternyata dia juga takut akan kematian. Jika sudah seperti itu, apa dia akan tetap melompat?

Akupun memutuskan tetap diam, menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Satu menit… dua menit… sepuluh menit. Pelan-pelan dia pun bergerak turun, kembali mengijakkan kakinya ke lantai. Aku yang melihat itu entah mengapa sedikit merasa kecewa. Sejujurnya, aku yakin dia pasti akan memasang ekspresi yang begitu memukau jika saja dia melompat terjun ke bawah.

Dan seolah sudah kembali pada kesadarannya, dia menoleh menatapku yang sedari tadi memandanginya. Matanya yang bulat melebar dan bibirnya gemetar seolah mencoba berkata sesuatu namun akhirnya dia kembali masuk ke ruangannya, meninggalkanku sendirian dalam balutan hawa dingin yang semakin menusuk.

Ditinggal begitu saja membuatku kembali mengarahkan pandangan ke bulan. Dari yang aku tahu ada banyak sekali seniman yang menggambarkan bulan sebagai eksistensi keindahan yang tiada tara namun kenapa sekarang aku merasa bulan itu tampak biasa saja? Benar juga, setelah apa yang tadi aku lihat bahkan bulan pun hanya terasa seperti pelengkap, tokoh utama dari lukisan itu kini tengah bersembunyi di kamar sebelah.

Dengan segera akupun diliputi oleh rasa kehilangan yang amat besar. Ingin rasanya aku pergi ke kamar sebelah dan menjumpai dirinya secara langsung namun sebelum aku memikirkan hal lain aku mendengar suara ketukan dari pintu. Akupun berjalan kearah sumber suara dan tepat saat aku membuka pintu dia sudah berdiri disana.

Pencahayaan lampu koridor yang redup pun tak bisa menyembunyikan kulitnya yang pucat. Sekarang setelah kami berdiri di ketinggian yang sama ternyata dia pendek, masih terlihat begitu muda.

"Kenapa kau tak menghentikanku?"

Pertanyaan itu menjadi awal dari hubungan kami. Aku tergagap untuk sesaat, masih terpana dengan apa yang tadi aku lihat dan setelah aku menemukan suaraku kembali aku hanya mampu menjawab, "Karna kau terlihat... sangat indah."

Ohh, dia terkejut. Keterkejutan itu terpancar di matanya dan perlahan digantikan oleh kesedihan yang amat kentara. Dan tanpa aba-aba dia langsung maju dan medekap tubuhku erat, suara tangisannya memecah keheningan malam.

"Tolong… tolong aku."

Oohh! Itu dia. Ada sesuatu di mata itu, sesuatu yang selama ini tak pernah aku lihat, sesuatu yang selama ini tak pernah dunia lihat, dan aku menginginkannya.

Itu adalah awal dari obsesi kotor yang menjadi warna tambahan dalam hidupku. Kutatap matanya lekat-lekat dan tersenyum lebar. Disana ada suatu keindahan yang jauh melampaui deskripsi seni manapun dan yang aku inginkan adalah melukisnya.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ace.file dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul

Bab 2

Dia duduk dengan gemetar. Kuberikan secangkir susu panas untuknya dan juga selembar tisu untuk mengusap air matanya. Kini dengan lampu ruangan menyala terang aku mendapat gambaran lebih baik akan penampilannya.

Dia benar-benar muda, mungkin umurnya tak lebih dari 15 tahun namun begitu kurus dan berantakan. Dia mengenakan kaos pria berukuran ekstra besar sehingga kaos itu menutupi tubuhnya hingga ke lutut dan tampaknya dia tidak mengenakan apa-apa selain kaos itu.

Namun ekspresinya lah yang menarik perhatianku. Dia tampak begitu ketakutan. Dia terus melihat kiri dan kanan seolah memastikan dia tidak diikuti oleh siapapun dan kedua tangannya begitu gemetar sampai-sampai menumpahkan hampir setengah susu di gelas yang dia pegang.

"Boleh kutau siapa namamu?"

Dia tidak menjawab spontan, dia melihat kearah pintu keluar cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Soni. Itu namaku."

"Soni? Namaku… panggil saja Shade. Apa kau tinggal sendiri?" Dia mengangguk. "Orangtuamu?" Dia menggeleng. "Kalau begitu kenapa kau kemari?"

"Tolong aku," pintanya tiba-tiba. "Ada… ada hantu yang mengejar-ngejarku."

"Hantu?"

Dan tiba-tiba saja hawa dingin seolah berhembus di bawah meja. Soni menjerit dan mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangan sementara mataku dialihkan oleh sesuatu yang tiba-tiba muncul menembus pintu.

Itu bukanlah makhluk hidup, bukan pula gas maupun cairan. Kata yang paling cocok untuk menjelaskannya adalah bayangan yang dipadatkan hingga membentuk bola seukuran kepala manusia dan benda itu melayang menembus segala hal, mendekat kearah Soni.

Shape Of Your Soul

"Oioioi, itu apaan?!" tanyaku sembari mencubit tanganku sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan halusinasi.

"Dia disini! Dia disini!" seru Soni tanpa berani mengangkat kepalanya.

"Kau tidak lihat itu? Itu mendekat!"

Segera aku bangkit dari dudukku dan mundur menjauh sementara benda itu terus melayang kearah Soni. Secara refleks aku menarik Soni mundur dan saat aku menyembunyikannya di belakangku benda itu mendadak berhenti dan pudar seketika.

Hawa dingin yang tadi mengiringi kemunculan benda itu lenyap seketika dan aku bisa merasakan Soni gemetar tak terkendali. Perlahan-lahan aku memapahnya kembali ke kursi.

"Hoi! Itu tadi apa? Beneran hantu?"

Soni tampak begitu ketakutan sehingga tak mampu menjawab. Akupun kembali mengarahkan pandanganku ke pintu, siapa tahu benda misterius itu muncul lagi. Namun setelah beberapa menit tak ada tanda-tanda benda itu akan muncul lagi dan Soni akhirnya buka suara.

"Aku dihantui," bisiknya pelan. "Aku tahu ada yang menghantuiku."

"Maksudmu bola asap yang tadi?" tanyaku dan dia menatapku heran.

"Kamu bisa lihat hantu?"

"Kau nggak lihat yang tadi?"

Dia menggeleng dan seketika keringat dingin mengalir keluar dari pelipisku. Apakah Soni berbohong atau memang hanya aku yang bisa melihat benda hitam tadi, dua-duanya tetap tak merubah fakta ada sesuatu yang mistis tengah terjadi.

Aku tak ingin terlibat dengan sesuatu semacam ini namun begitu melihat Soni aku merasa iba. Aku tak tega mengusirnya karna aku tak tahu apa saja yang mungkin benda hitam itu lakukan jika dia kembali ke kamarnya dan karna itulah aku berkata, "Kau disini saja sampai pagi. Tenang, hantu tidak berani keluar melawan matahari."

Menanggapi itu Soni mengangguk dan berterima kasih. Perlahan-lahan dia mulai bisa mengendalikan gemetarannya. Aku sama sekali tidak merasa mengantuk dan begitu juga dia jadi kami melewatkan waktu dalam diam.

Kutatap wajahnya sekali lagi. Aku tak bisa memungkiri bahwa dia memiliki wajah yang begitu menawan, terutama matanya yang menyimpan kilau yang begitu indah. Sulit membayangkan bahwa kurang dari satu jam yang lalu dia mencoba untuk bunuh diri. Benar juga, kenapa tadi dia hendak bunuh diri? Aku tak bisa memaksakan diriku untuk menanyakannya. Yang kulakukan hanyalah terus menatapnya hingga matahari terbit dan saat Soni pamit untuk kembali aku merasa begitu kehilangan.

Dia perempuan yang aneh, semakin aku memikirkan tentang dirinya semakin banyak pertanyaan yang tak bisa aku jawab. Namun entah mengapa aku merasa semua pertanyaan itu tidaklah penting, aku sudah terpukau dengan kilauan matanya, terpukau oleh jiwa yang ada di dalam dirinya. Rasanya seperti obsesi yang membuatku tak bisa memikirkan hal lain.

Dan karna itulah saat aku melihatnya lagi malam harinya aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dia tengah berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup. Di depan pintu tersebut terdapat koper dan beberapa kardus berisi barang yang tampak dikemas secara terburu-buru. Dari ekspresi Soni aku tahu apa yang telah terjadi, dia pasti sudah diusir karna tak bisa membayar sewa.

Kedua mata kami bertemu dan sekali lagi dia menunjukkan ketakutan yang begitu indah. Aku tak begitu mengerti mengapa aku melakukannya namun yang kutahu aku sudah menjulurkan tanganku dan berkata, "Kau boleh tinggal di tempatku."

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ace.file dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Post ini telah dihapus

Bab 3

Jika aku mengingat apa yang sudah aku katakan, aku menyadari itu adalah pilihan kalimat yang sangat bodoh. Aku dan Soni nyaris tidak saling kenal dan tiba-tiba saja aku menawarinya untuk tinggal denganku. Dilihat dari sudut pandangnya aku pasti tampak seperti pria mencurigakan dengan segudang niat jahat dan karna itulah aku amat kaget saat dia menerima tawaranku dengan senang hati.

Aku menenteng kopernya sementara dia mengekor di belakangku. Untungnya penghuni kamar lain tidak melihat apa yang tengah aku lakukan karna ini bisa menjadi masalah yang berbuntut panjang. Saat aku menutup pintu dengan rapat aku pun sadar akan satu masalah. Ruangan tempatku tinggal ini sama sekali tidak cukup untuk ditinggali dua orang.

Rumah susun dengan sewa satu setengah juta perbulan yang kutempati ini hanya memiliki ukuran 5x5 meter, sudah termasuk kamar mandi dalam yang menjadi satu dengan toilet. Di dalamnya sudah ada tilam berukuran 2x1 untuk tidur, meja kecil, lemari baju, kompor dan beberapa kotak perlengkapan yang ditumpuk di sudut. Nyaris tak ada tempat untuk melakukan lompat tali bagi satu orang dan sekarang Soni akan tinggal disini. Dimana dia akan tidur?

Untungnya Soni tidak membawa banyak barang dengannya. Ada cukup ruang di dalam lemari untuk pakaiannya yang tidak seberapa dan barang-barangnya berhasil kami susun dibawah meja. Untuk merayakan kepindahan ini aku mengeluarkan beberapa botol soda dan kami pun minum dengan tenang sembari memikirkan kembali apa yang sudah kami lakukan.

Gila! Aku ini ngapain sih? Kalau ada yang tahu aku meminta anak Sma untuk tinggal denganku aku pasti akan dituntut dan masuk penjara. Belum lagi jika para tetngga sampai tahu, bisa-bisa aku diusir dari sini. Tidak mudah mencari tempat tinggal yang sesuai dengan kantongku. Tempat ini tidak dibangun di lokasi yang strategis, terlebih tak ada lift untuk para penghuninya sehingga membuat kamar di lantai 5 cukup murah untuk ukuran ibukota. Pokoknya aku tidak boleh diusir dari sini.

Namun pemikiran untuk mengusir Soni sama sekali tak terlintas di benakku.

"Umm… Soni, kau tak masalah kan tinggal disini?"

Aku bertanya demi kenyamanan kami berdua dan meski aku tak tahu apa yang dia pikirkan aku punya firasat bahwa dia tidak akan macam-macam. Dia kelihatan seperti orang yang begitu penurut dan karnanya dia pun mengangguk.

"Kalau begitu mulai sekarang aku minta kau jangan keluar dari kamar ini."

Bukannya aku mau mengekangnya, aku hanya tak ingin orang lain tahu kami tinggal berdua. Aku tahu itu permintaan yang benar-benar berat namun sekali lagi Soni mengangguk patuh sehingga membuatku heran.

"Kau…. Memangnya kau nggak perlu sekolah?" tanyaku dan dia menggeleng.

"Aku sudah berhenti sekolah," jawabnya.

"Terus, kau nggak kegiatan lain diluar? Atau orang lain yang mencarimu?"

Dia menggeleng sekali lagi. "Aku kerja lewat internet dan… aku sebatang kara."

Aku tak bisa mempercayai keberuntunganku. Seseorang yang bekerja melalui internet dan tak punya sanak saudara yang akan mencarinya, itu artinya dia benar-benar tak perlu pergi kemanapun dan bisa tetap diam di rumah. Dengan begini aku tak perlu cemas ada yang memergoki kami.

Diluar malam sudah semakin larut. Sisa-sisa panas dari siang hari sudah hilang tak berbekas sehingga hawa dingin mulai terasa di kulit. Aku bisa melihat Soni ikut melihat keluar jendela dan kemudian pandangannya beralih padaku, ada suatu emosi yang kompleks dalam tatapannya.

Dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri dan berjalan kearah kasur. Tanpa meminta ijin dia membaringkan tubuhnya begitu saja seolah kasur itu kini menjadi miliknya. Memang benar bahwa tak ada tempat lain untuk tidur tapi harusnya dia tahu betul bahwa dia cuma penumpang, kasur itu milikku. Aku pun menghampirinya, berniat untuk menceramahinya namun saat sudah dekat aku akhirnya paham apa yang dia pikirkan.

Soni masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi pagi, kaos yang kebesaran. Karna itulah saat dia berbaring kaos itu mencetak tubuhnya dan mempertontonkan lekuk tubuh feminimnya. Dia kurus namun ajaibnya dia memiliki gunung kembar yang besar untuk perempuan seumurannya. Baik pinggang dan pinggulnya membentuk lekukan yang bagus sementara pahanya yang putih mulus terekspos di hadapanku. Entah apakah dia memakai celana pendek atau malah tidak memakai celana sama sekali.

Dengan jari telunjuk dia memelintir ujung rambutnya dan ekspresinya pasrah seolah-olah mengatakan "lakukan apapun yang kau mau."

Bagaimana bisa setiap ekspresi yang ia buat terasa begitu murni? Dia seperti bayi yang mengatakan segalanya melalui tindakan secara terang-terangan dan belum pernah dalam hidupku aku bertemu orang seperti itu.

"Bagus! Pertahankan posisimu."

Aku segera melangkah ke sudut ruangan dan mengobrak-abrik isinya. Masih ada satu kanvas yang bersih namun sialnya semua cat air maupun pensil warna tidak dapat kutemukan. Aku pun harus puas hanya dengan sebatang pensil dan penghapus yang sudah kotor. Cepat-cepat aku kembali ke tempat Soni berada, mengatur posisi easel dan mulai melukis.

"Engg, apa yang kamu…."

"Ssstt!"

Aku mengeluarkan desis yang panjang. Untuk saat ini aku tak butuh indra pendengaran, yang aku butuhkan hanyalah mata untuk melihat dan tangan untuk menuangkan setiap gurat ekspresi yang kulihat. Pertama adalah gelombang rambutnya, disusul dengan mata lalu hidung dan akhirnya mulut. Aku bisa merasakan gerakan tanganku menjadi begitu lambat karna lama tidak melukis dan jumlah penghapus yang aku punya untuk membereskan setiap kesalahan amatlah terbatas sehingga aku tak punya keberanian untuk lanjut melukis hingga ke bawah leher.

Aku pun melihat lukisan pertamaku setelah sekian lama dan membandingkannya dengan objek lukisanku. Jelek, sangat jelek.

"Selesai, kau boleh berdiri sekarang."

Sudah berapa lama aku tidak memegang pensil? Aku yang dulu tak mungkin membuat garis dagu sekaku ini, aku yang dulu tak mungkin membuat rambut tampak seperti untaian mi instan. Tanpa sadar rasa frustasi itu menumpuk dan pensil yang kupegang menjadi korbannya.

"Kamu sedang apa?"

Soni sudah berdiri di sebelahku, melihat kearah lukisan jelek yang kubuat dan entah mengapa dia tampak terpesona.

"Bagus sekali."

"Ini jelek," gumamku, "sepersepuluh… mungkin seperlimabelas kecantikanmu."

Aku melihat pipinya memerah karna pujian itu namun itu hanya terjadi sesaat karna setelahnya dia tampak bingung.

"Kamu nggak mau… ehh, gimana bilangnya ya—"

"Aku lapar," potongku cepat, "kau bisa masak nggak?"

Soni tampaknya ingin mengatakan sesuatu namun akhirnya dia hanya mengangguk dan berjalan pergi. Bukannya aku tak mengerti apa yang dia maksud, aku hanya merasa lebih baik bagi kami untuk menjaga jarak satu sama lain.

Akupun melirik kearah lukisanku sekali lagi sebelum meremas dan membuangnya ke tong sampah. Aku coba menenangkan diri, masih ada banyak waktu dan sekarang aku memiliki Soni. Semuanya akan baik-baik saja.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ace.file dan 2 lainnya memberi reputasi

Bab 4

"Kau mau masak apa?"

"Telur dan… mungkin sedikit tumisan."

"Aku tak punya sayur. Hanya nasi dan… telur. Dan mi instan tentunya."

Kedua bola mata Soni melirikku dengan tatapan kasihan dan aku sendiri paham betapa mengerikannya sumber nutrisiku. Akhirnya dia pun merebus dua bungkus mi instan sementara aku duduk tenang di kursi, melamun menatap langit yang kali ini tanpa bulan.

"Selesai, kujamin rasanya enak."

Aku cukup yakin rasa mi instan tak akan ada bedanya tak peduli siapapun yang membuatnya, terlebih ini hanya mi instan polos tanpa bumbu lain maupun sayur sebagai pelengkap. Aku tidak mengeluh, bagiku selama mengenyangkan itu sudah cukup.

Sekali lagi keheningan pun menyelimuti kegiatan kami, hanya ada suara garpu yang beradu dengan piring dan sesekali suara gelas yang diletakkan kembali keatas meja. Selama makan pikiranku terus melayang pada lukisan yang tadi kubuat dan itu membuatku merasa kenyang hanya dengan tiga suapan. Aku melirik kearah Soni yang secara ajaib sudah menghabiskan seluruh isi piringnya dan kini tengah memandangi mie ku dengan ekspresi lapar.

"Boleh untukmu," ucapku sembari mendorong piringku kearahnya dan dia tampak benar-benar salah tingkah.

"Umm, nggak apa-apa nih?"

"Tak masalah. Aku juga nggak nafsu makan."

Dengan pipi yang memerah Soni pun menarik piringku dan mulai menghabiskan isinya dengan cepat. Aku mengamati setiap gerakan yang dia buat dan merasa takjub saat dia menghabiskan semua mie itu kurang dari lima menit dan yang paling mengerikan dia masih belum terlihat kenyang.

"Umm… bo-boleh aku minta nasi?"

Pelan-pelan aku mengangguk mengiyakan. Aku melihat Soni mencampurkan nasi yang dia ambil dengan sisa kuah mie dan menghabiskan semuanya tanpa sisa. Ya Tuhan, dia makan banyak sekali tapi tubuhnya begitu kurus, kemana semua makanan itu pergi? Tanpa sadar pandanganku pun turun ke dadanya. Ohh, jadi itu jawabannya.

"Bi-biar aku yang cuci piring," ucapnya dengan wajah yang tak kalah merah dengan tomat. Jujur saja, jika setiap kali dia makan butuh tiga piring untuk membuatnya kenyang maka aku tak yakin isi dompetku bisa bertahan lama.

"Maaf merepotkan," ucapnya segera setelah dia mencuci piring, "itu makanan pertamaku setelah tiga hari jadi aku benar-benar lapar."

"Tiga hari? Apa ini semacam diet atau kau mencoba bunuh diri dengan mogok makan?"

"Aku… tidak punya apapun untuk dimakan."

Kepalanya yang tertunduk akhirnya membuatku paham. Dia yang diusir, penampilan yang tidak terawat sampai usahanya untuk bunuh diri semua berakar pada satu masalah, uang. Entah bagaimana aku bersyukur dia tidak punya uang, jika punya maka kami mungkin tidak akan duduk berhadap-hadapan seperti ini.

"Anak malang," bisikku tanpa sadar. Aku bisa melihat dia gemetar, mencoba menahan tangisnya jadi aku bangkit dan menepuk kepalanya pelan. "Tenang, kau boleh tinggal disini selama yang kau mau."

Rambutnya sungguh kering dan kasar, kira-kira kapan terakhir kali dia keramas? Aku pun menyuruhnya untuk mandi dan selagi dia mandi aku mencari-cari segala yang kupunya untuk melapisi lantai agar dia punya tempat untuk tidur. Seprai, selimut dan bantal, kurasa ini cukup.

"A-aku selesai."

Saat dia berjalan keluar dari kamar mandi aku benar-benar tak bisa mengalihkan pandanganku. Dengan rambut kusut dan kulit kusam saja Soni sudah benar-benar cantik namun sekarang penampilannya yang sudah membersihkan diri bahkan menyaingi model-model dari Timur Tengah.
Bagaimana cara mendeskripsikannya ya? Menurutku rambut basahnya yang menempel ke jubah mandi itu tak kalah indah dari senyum Monalisa. Lukis, benar, aku harus melukis itu.

"Diam di tempat, jangan bergerak!"

Entah mengapa dia mengangkat kedua tangannya dalam posisi seseorang yang ditodong menggunakan pistol. Aku kembali mengambil pensilku dan setelah mengingat aku kehabisan kanvas aku mengambil buku tulis dan melukis apa yang kubisa ke dalamnya. Kutajamkan penglihatanku, membayangkan tetesan air mengalir dari ubun-ubun menuju ujung rambut dan kemudian terserap oleh kain.

"So beautifull."

Soni adalah sumber keindahan yang tak akan pernah kering dan karna itu membiarkannya tinggal bersamaku sama sekali bukan sesuatu yang merugikan. Aku bisa merasakan obsesi itu terpompa ke setiap pembuluh darahku namun ternyata tindakanku itu menciptakan ekspresi ketakutan di wajah Soni.

"Maaf membuatmu tak nyaman. Aku cuma… kau cantik sekali."

Layaknya bunga yang layu dengan cepat, semakin cantik sesuatu maka semakin cepat itu akan hilang. Karna itulah orang-orang selalu ingin mengabadikan kecantikan itu agar bisa bertahan lebih lama sehingga orang-orang di masa depan dapat melihatnya juga. Itulah hal yang dilakukan setiap seniman di dunia dan aku tidak berbeda, aku hanya ingin mengabadikan kecantikan yang kulihat saat ini karna tak ada jaminan aku bisa melihatnya lagi.

"Kamu orang yang aneh," bisik Soni pelan saat dia duduk di tempat tidur dadakan yang kubuat, "kamu pasti sangat suka melukis sampai-sampai punya kebiasaan aneh begitu."

"Maaf kalau aku aneh. Kau mau langsung tidur?"

Kata terakhir itu seperti menggantung di udara.

"I-iya," jawabnya gugup.

"Akan kumatikan lampunya."

Saat lampu dimatikan seluruh ruangan berubah gelap. Hanya ada sedikit penerangan dari cahaya-cahaya diluar sehingga aku bisa menangkap kilasan gerakan yang Soni lakukan saat dia menyesuaikan posisinya. Setelah itu, tak ada apapun yang terjadi. Aku bisa mendengar suara nafasnya yang berat namun itu tidak merubah apapun, aku masih tidak bisa tidur.

Aku tak mengerti kenapa tapi sudah satu minggu ini aku sama sekali tidak bisa tidur. Setiap kali aku mencoba untuk tidur aku malah merasa semakin segar dan sebagai hasilnya aku harus mencari sesuatu untuk menghabiskan waktu di malam hari.

"Soni, kau masih bangun?"

"Y-ya?!"

Dia juga terdengar sama segarnya jadi aku kembali menghidupkan lampu sehingga bisa melihat wajahnya.

"Aku nggak bisa tidur… mau main catur?"

"Catur? Umm, aku nggak tahu cara mainnya."

"Kalau gitu kau bisanya main apa?"

"M-main…."

Soni tampak benar-benar gelisah sekarang dan harus kuakui ekspresinya itu lucu sekali. Namun kegelisahan itu tidak berlangsung lama karna mendadak saja hawa dingin yang tidak normal menyelimuti tubuhku dan tanpa alasan yang jelas aku mulai berkeringat dingin.

"Datang… ada yang datang!"

Soni berteriak histeris dan melompat kearahku, mencoba bersembunyi dibalik punggungku sementara mataku kembali terpaku kepada benda misterius yang kulihat tadi pagi. Benda hitam yang menyerupai gumpalan asap itu kini tidak lagi berbentuk bulat, ada sedikit perubahan yang membuat benda itu tampak seperti kodok bulat dengan empat kaki.

Tapi apa sebenarnya apa itu dan kenapa cuma aku yang bisa melihatnya? Benda itu melayang begitu saja, tidak bergerak sama sekali namun memberiku perasaan yang misterius. Meski tak memiliki mata tapi aku merasa benda itu melihat kearahku.

"Pergi!" seruku kepadanya dan sama seperti munculnya, benda itu lenyap begitu saja.

Soni meringkuk di belakangku, tak berani mengeluarkan kepala dari balik kedua tangannya. Aku pun melingkarkan tanganku ke pundaknya dan membelai kepalanya dengan tangan yang lain.

"Tenang, dia sudah pergi. Dia sudah pergi."

Butuh waktu untuk membuatnya berani mengangkat kepalanya lagi. Aku merasa aku sudah terlibat dengan sesuatu yang berbahaya namun tangan Soni yang dingin membekukan ketakutan itu. Melihatnya seperti itu membuatku merasa seperti merawat bayi kucing yang tengah kedinginan. Sangat lemah, sangat rapuh, butuh pertolongan. Aku tak boleh membiarkannya mati.

"Kau nggak bisa tidur kan? Kalau gitu ayo bicara sampai pagi."

Mata Soni mengerjap indah dikala dia mengangguk. Dengan selimut menyelimuti kaki kami agar tetap hangat, Soni membuka pembicaraan lebih dulu.

"Umm, Shade? Itu namamu kan?" tanyanya.

"Ya, semua orang memanggilku begitu."

"Shade, boleh kutahu berapa umurmu?"

"Aku dua puluh dua. Kau?"

"Umm… delapan belas."

"Jangan bohong!"

"… Lima belas," jawabnya jujur, tepat seperti perkiraanku. Namun tampaknya Soni punya hal yang lebih mendesak untuk dibicarakan dibanding usia.

"Shade…. Kau… umm, kau tak mau…." Butuh banyak waktu dan usaha baginya untuk mengatakan itu namun akhirnya dia berhasil menyusun pertanyaannya dalam satu kalimat lengkap. "Kamu nggak mau ngeseks denganku?"

"Bukannya kau masih terlalu muda untuk menawarkan dirimu seperti itu?"

Pertanyaanku membuatnya benar-benar salah tingkah dan aku tak tega terus membiarkannya memikirkan itu.

"Aku nggak akan macam-macam denganmu," ucapku pasti.

"Nggak? Kalau begitu kenapa kau ijinin aku tinggal disini?"

"Karna aku butuh model untuk lukisanku."

Sebelah alisnya terangkat keheranan tapi itu adalah jawaban yang jujur dariku. Hanya karna dia cantik dan… ehm, seksi bukan berarti aku menginginkan sesuatu yang lain darinya. Itu melanggar hukum.

"Model? Kamu pelukis?"

"Aku masih nggak yakin. Kubilang umurku 22 kan? Sebenarnya aku belum lulus kuliah, masih mahasiswa yang sedang cuti. Aku…." Sejenak aku ragu untuk bilang namun Soni adalah seseorang yang asing, memberitahunya sama sekali tak akan menjadi masalah. "Aku cuma ngerasa jadi pelukis nggak bisa memberiku makan jadi benar-benar nggak tahu harus lanjut atau nggak."

Di jaman sekarang tak banyak tempat bagi seorang seniman tradisional untuk berkarya. Beberapa orang berhasil sukses dengan menjadi graphic designer namun bagiku melukis di komputer amatlah berbeda dibanding menggunakan pensil dan kanvas. Jaman telah berubah, semua serba digital sekarang sementara aku tetap terjebak pada sesuatu yang tak lagi ada peminatnya.

Dan karnanya aku ragu untuk melanjut kuliah. Apakah apa yang kupelajari saat ini sanggup memberiku makan di kemudian hari? Apakah lebih baik aku menyerah dan mengikuti arus jaman?

"Aku paham yang kamu rasakan," bisik Soni yang tengah menatap pola bunga di selimut. "Aku juga dari dulu suka menulis dan pernah berharap bisa menerbitkan novelku tapi meski aku terus mengirim naskah tak ada penerbit yang pernah membalasnya. Aku paham era emas novel cetak sudah berlalu tapi karna hanya itu yang bisa kulakukan akupun berakhir dalam kondisi seperti ini. Bedanya denganmu, aku sudah benar-benar menyerah, tak ada harapan lagi dalam mimpiku."

Sekali lagi dia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Tanpa sadar aku sudah mengelus kepalanya dengan perasaan sayang yang entah muncul darimana. Kami senasib, dia mengerti diriku dan aku mengerti dirinya. Mungkin ini sudah semacam takdir bagi kami untuk saling bertemu.

"Tapi, tolong jangan menyerah," bisik Soni lagi, "lukisanmu yang tadi sangat-sangat bagus."

Ada kenyamanan yang tercipta diantara kami dan itu membuat kami terus bercerita tanpa terputus. Hal berikutnya yang kusadari adalah aku terbangun dari tidurku dengan Soni yang juga tertidur di sebelahku. Aku merasa segar, sensasi khas bangun tidur yang nyenyak. Sudah seminggu lamanya aku menderita karna tak bisa tidur dan keberadaan Soni mengobati masalah tersebut. Soni juga mengaku bahwa dia memiliki masalah dengan tidur namun kami berdua benar-benar tertidur nyenyak semalam.

Dan karna itulah, di malam-malam berikutnya, kami memutuskan untuk selalu tidur bersama.

Tbc...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ace.file dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Lanjut
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nice kakak.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi

Bab 5

Tiga hari setelah kehidupanku bersama Soni dimulai aku mendapat pesan whatsApp yang kurang mengenakkan. Hari Senin, hari dimana aku wajib masuk kerja. Jika bisa sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu di rumah saja dan melukis Soni seharian namun jika aku tidak bekerja maka aku tak bisa dapat uang. Tak ada uang berarti tak ada makanan untuk kami berdua.

Aku pun meletakkan ponselku diatas meja dan melirik Soni yang tengah memasak. Selama tiga hari ini aku menyadari bahwa Soni merupakan asisten rumah tangga yang begitu luar biasa. Tak hanya memasak, dia membersihkan setiap sudut ruangan tanpa diminta dan jika diberi bahan yang tepat dia bisa menyajikan makanan selevel restoran. Jika aku mengabaikan senandungnya yang sumbang itu maka pemandangan pagi hari ini bisa dianggap sempurna untuk memberikan semangat kerja.

Dan tentunya Chef Soni adalah objek lukisan yang tak kalah nilainya jika dibandingkan dengan patung The Thinker. Maksudku, lihat celemek itu. Jika aku yang memakainya maka tak ada siapapun yang akan melihatku dua kali namun saat dikenakan oleh Soni maka seluruh pria dalam radius 500 meter akan mengantri untuk berjabat tangan dengannya.

Sangat sulit untuk menggambarkan pesona celemek itu ke dalam buku tulis. Aku akan bersyukur jika memiliki kanvas besar namun dengan sisa uang di dompetku maka kebutuhan pangan perlu diprioritaskan.

"Maaf lama~"

"Tidak masalah."

Apa yang dia taruh diatas meja adalah roti panggang, salad, telur dadar dan kopi. Tampaknya pagi ini kami akan sarapan dengan gaya Amerika tapi selama itu enak dan bernutrisi aku tak punya masalah dengan itu. Kami menghabiskan sarapan dengan berbasa-basi singkat dan dalam sekejap waktu sarapan pun selesai. Sialan, kenapa waktu selalu berjalan cepat saat ada hal tak mengenakkan yang menunggu?

"Emm, Soni. Hari ini aku harus pergi, cuti kerjaku sudah selesai."

Soni yang tengah mencuci piring menghentikan kegiatannya untuk sejenak. Aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan namun aku cukup yakin dia gelisah. Soni benar-benar mudah gelisah jika sendirian, terlebih benda hitam itu masih mengganggunya setiap malam.

"Aku janji akan pulang sebelum malam, kau tak perlu khawatir."

"Aku mengerti, aku akan jaga rumah kalau begitu."

Aku sendiri merasa tak enak meninggalkannya sendirian dalam waktu lama namun aku memaksa diri menggerakkan kakiku untuk mandi dan bersiap-siap.

Satu hal yang masih sulit untuk kami lakukan adalah mengatur ruang privat kami di ruangan yang kecil ini. Bisa dibilang satu-satunya tempat dimana kami tak bisa saling melihat satu sama lain hanyalah di kamar mandi jadi sebuah peraturan tak tertulis pun tercipta tanpa ada yang membicarakannya. Berganti baju harus dilakukan di kamar mandi.

Dan bersamaan dengan itu beberapa masalah lain pun tercipta seperti baju kotor kami. Biasanya aku meletakkan baju kotorku dalam kantung plastik dan membawanya ke laundry saat plastiknya penuh namun dengan keberadaan baju Soni maka pergi ke laundry akan sedikit menyulitkan. Apa yang harus kulakukan untuk itu? Ahh, akan kupikirkan itu nanti saja.

"Kalau begitu aku pergi dulu."

Aku sudah selesai memakai sepatu namun Soni menarik lengan bajuku sebelum aku keluar. Dia tampak salah tingkah, yang mana sudah menjadi pemandangan biasa selama tiga hari ini, namun salah tingkahnya kali ini diiringi dengan semburat merah di pipinya.

"Bi-bisa aku minta tolong?"

"Ya, katakan saja."

"Saat kamu pulang nanti… bisa beli deterjen?"

Satu detik… dua detik… tiga detik. Permintaannya terdengar terlalu normal untuk membuatnya merasa malu.

"Kau mau nyuci baju?"

"I-iya. Nyuci… ini dan itu."

Aku paham maksudnya namun yang menjadi pertanyaanku adalah, apa yang akan dikatakan tetangga jika melihat pakaian dalam wanita dijemur di balkonku? Ehh bukan bukan, ada pertanyaan yang lebih mendasar. Entah dimanapun dia menjemur pakaiannya, apa dia tak risih jika aku melihat itu?

Namun ini adalah permasalahan yang pasti akan kami hadapi, inilah resiko tinggal berdua seperti ini. Masalah risih atau tidaknya akan kami bicarakan nanti.

"Baiklah, aku mengerti."

Namun tangannya masih mencengkram lengan kemejaku.

"Ada yang lain yang mau kau beli? Katakan saja, selama harganya terjangkau aku tak keberatan."

Wajah Soni pun mencapai level merah tertinggi yang pernah aku lihat. Mendadak saja aku mendapat dorongan kuat untuk melukisnya namun jika aku melakukan itu maka aku akan terlambat kerja dan itu sama saja cari mati. Karnanya aku pun mendesak Soni untuk cepat. Demi dirinya dan demi keselamatanku.

"Tolong… belikan aku…. P-pembalut."

"…. Oke."

Tbc...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ace.file dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul

Bab 6

Aku baru bisa bernafas lega saat aku sudah menginjakkan kaki di lobi kantor. Aku melirik kearah jam dinding dan bersyukur karna masih ada beberapa detik lagi sebelum jam delapan pagi yang artinya aku berhasil lolos dari status terlambat. Di meja resepsionis berdiri Luna yang mengangguk padaku seolah meyakinkan bahwa aku memang tidak terlambat. Syukurlah.

Ada satu hal yang membuat kami semua sangat takut untuk terlambat dan suara orang yang tengah berteriak dari balik koridor adalah alasan dari ketakutan itu.

"AKU NGGAK PEDULI APA ALASANMU ATAU BERAPA BANYAK JERAWATMU YANG KEMPES! YANG PENTING KAU KIRIMKAN DOKUMEN ITU ATAU AKAN KUBUAT KAU MENYESALI HARI DIMANA AYAHMU MENIDURI IBUMU!"

Ya Tuhan. Meski tak mendengarnya selama seminggu namun tubuhku benar-benar mengingat ketakutan yang sudah tertanam dalam-dalam pada setiap organku. Lebih baik aku cepat pergi sebelum pemilik suara itu menyadari keberadaanku.

"SHADE!"

Kampret.

Suara yang tercipta akibat ketukan high heels 7 senti dengan lantai itu perlahan mendekat kearahku. Aku mencoba untuk menurunkan pandanganku kearah high heels nya agar tak perlu menatapnya secara langsung namun saat dia sudah berdiri tepat dihadapanku aku pun menyadari tak ada ruang untuk menghindar.

"Selamat pagi Cecile."

Aku mencoba menyapanya seramah yang aku bisa namun ekspresi seram Cecile tak luntur sedikitpun. Dia melirik kearah jam dinding lalu bertanya secara non-verbal kepada Luna yang menjawab dengan gelengan. Akhirnya Cecile pun melunakkan ekspresinya lalu menepuk pundakku pelan.

"Aku turut berduka cita untuk ibumu. Tak perlu memaksakan diri untuk hari ini, schedule kita sedang longgar."

Schedule kita sedang longgar, petik dua. Itu artinya hari ini akan menjadi satu-satunya kesempatanku untuk bersantai sebelum kembali menuju medan perang yang berisi lembur dan revisi. Terkadang aku bertanya mengapa aku bisa berakhir di peperangan ini tapi meskipun aku bertanya tak akan ada yang berubah.

"Thanks Cecile tapi aku akan menyicil kerjaku. Apa ada tugas yang mendesak?"

Dan dengan cepat seolah sudah dihafalkan Cecile mulai berbicara dengan nada monoton layaknya komputer yang menyajikan data.

"Bagian pemrograman menyuruhmu segera melapor karna ada beberapa bug pada desainmu. Boss memintamu menghadap karna dia ingin memberi tugas baru. Ryan bilang dia punya beberapa masalah dengan warna pilihanmu dan yang terakhir kau belum menyetorkan surat permintaan maaf karna tiba-tiba menghilang minggu lalu tapi itu cuma formalitas jadi lakukan saja belakangan. Apa kau akan mencatat itu atau perlu aku ulangi?"

"Nggak perlu. Bagian pemrograman, Boss, Ryan, terima kasih untuk tugasnya."

"Dan surat minta maaf," tegurnya mengingatkan hal yang sengaja ingin kulupakan, "kalau kau menganggap itu enteng akan kupastikan bonus tahun barumu masuk ke anggaran makanan kucing."

"…."

Dari semua makhluk hidup yang berjalan di dunia ini Cecile mungkin adalah yang paling cantik diantara yang paling kejam. Jika saja dia mau menutup mulutnya selama 24 jam saja maka aku yakin Sultan Abu Dhabi akan jatuh cinta padanya namun kenyataannya dia punya lidah berbisa yang mana salah satu efek dari racun lidahnya adalah memaksa seseorang untuk bekerja sampai mati.

Cecile adalah seorang General Affair di perusahaan tempatku bekerja. Meski disebut perusahaan sebenarnya ini hanyalah sebuah perusahaan startup yang masih berjuang mempertahankan keberadaannya. Pekerjanya masih bisa dihitung dengan jari dan kebanyakan pekerja masih benar-benar muda karna boss kami yakni si pemilik perusahaan adalah seorang pria berumur 26 tahun yang dulu menjadi seniorku di kampus.

Dia memilih memulai usahanya sendiri kira-kira setengah tahun yang lalu dan karnanya orang-orang yang dia minta untuk mengisi jabatan adalah kami yang satu circle dengannya di kampus, itulah sebabnya perusahaan ini dipenuhi oleh fresh graduate.

Cecile sendiri hanya satu tahun lebih tua dariku. Dia adalah mahasiswa yang cemerlang namun dipecat dari tempat kerjanya karna tanpa sengaja membuat rekan kerjanya menangis. Alasan itulah yang membuatnya terdampar disini. Aku sering bertanya-tanya kapan dia akan dipecat karna alasan yang serupa namun meski kenyataannya pahit ditelan, lidah tajamnya lah yang membuat perusahaan ini bisa berjalan di jalan yang benar.

Dan apa yang sebenarnya perusahaan ini lakukan? Aku sendiri ingin tahu jawabannya.

"Shade! Selamat datang kembali Sobat!"

Karna masih benar-benar baru dan pekerjanya sedikit maka perusahaan ini belum menetapkan ruangan untuk masing-masing kebutuhan. Disini kami hanya menyebutnya ruang serbaguna satu, dua dan seterusnya jadi banyak orang dengan urusan yang bermacam-macam berkumpul dalam satu ruangan. Tentunya ini bukan area kerja yang ideal tapi karna belum pernah ada masalah maka sistem ini tetap dipertahankan.

Aku sendiri biasanya melakukan tugasku di ruang serbaguna satu dan di tempat itulah aku bertemu Ryan yang katanya punya masalah untuk dibicarakan.

Ryan adalah karyawan paling tua disini. Di umurnya yang mendekati kepala tiga dia punya wajah bundar yang ramah dengan mata yang masih menunjukkan semangat anak Sma. Sebenarnya dia bukanlah karyawan tetap, lebih tepatnya dia adalah rekan bisnis yang sering mampir demi wifi gratis.

"Kau bilang ada masalah sama… warna ya? Masalahnya emang apaan?"

"Terlalu cerah," jawabnya, "seperti masa depanku."

Dengan mengabaikan tambahan kalimatnya yang tidak perlu aku pun melihat apa yang dia sodorkan kepadaku. Itu adalah sebuah kartu yang mirip dengan kartu ATM namun yang tercetak di permukaannya adalah karakter robot mekanik dengan desain burung garuda yang kubuat tempo hari tapi dengan beberapa perubahan yakni warnanya yang lebih mencolok karna saturasinya ditingkatkan.

"Kok jadi gini? Aku nggak masalah sama bagian lain tapi punggungnya jangan total biru gelap gini dong."

"Tapi kalau dicetak begitu warna putih bahan kartunya bakalan membayang lo. Lagian jika desainnya terealisasikan pasti bakal kelihatan transparan."

Aku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku. Aku tak begitu mengerti bagaimana desain ini akan dipergunakan karna contoh nyatanya belum berhasil diselesaikan oleh pihak pengembang dan karna itulah aku hanya bisa bicara sebagai seorang Character Designer.

"Jadi begini, Garuda itu adalah kendaraan Dewa Wisnu dan Dewa Wisnu terkenal akan kulitnya yang biru gelap. Kalau punggung Garuda kita buat biru gelap juga warnanya bakalan nyatu dan kelihatan jelek. Aku sengaja pilih warna biru yang lebih muda biar kontrasnya dengan kulit Dewa Wisnu kelihatan."

Ryan terstun untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk-angguk dengan tangan di dagunya.

"Masuk akal masuk akal. Pendapatmu ada benarnya tapi aku juga punya pendapatku sendiri sebagai orang yang bertanggungjawab untuk mencetak kartunya. Terus gimana dong?"

"Yaudah, serahin aja ke beta tester nanti. Mereka lebih pengalaman ngurus ginian. Kuharap."

"Yep, kita harap."

Aku mengeluarkan buku catatanku untuk mencatat hal itu sebagai kemungkinan masalah di masa depan dan saat aku membukanya tanpa sengaja mata Ryan mencuri pandang kearah isinya.

"Wow, lukisan yang cantik. Itu siapa?"

"Ini… seorang dewi dalam imajinasiku."

"Ngehalu terus, cari pacar sana!"

Aku lupa kalau aku sudah menghabiskan begitu banyak lembar untuk melukis Soni sehingga aku harus menulis catatan di sudut-sudut yang masih kosong. Meski demikian aku merasa sedikit bangga saat Ryan memuji kecantikan Soni dalam lukisan itu.

"Ngomong-ngomong Yan, istrimu apa kabar? Udah melahirkan?"

"Belum, mungkin satu bulan lagi atau kurang," jawab Ryan yang kecerahan wajahnya naik satu tingkat. Dia tersenyum sumringah dan permasalahan warna pun terlupakan begitu saja.

"Kami kemarin nyoba cari tahu jenis kelamin bayi kami dan ternyata jenis kelaminnya perempuan. Harus kukasih nama siapa ya? Selena? Carla? Atau Bidadari?"

"Gimana kalau Cecile saja?" saranku setengah bercanda dan Ryan tampak ngeri.

"Kau gila. Cecile itu—"

"Aku kenapa?"

"ASTAGANAGA ALAMAKJANG!"

Serempak kami langsung bersembunyi di bawah meja untuk menghindari arah pandang Cecile yang tiba-tiba muncul begitu saja. Usaha yang sia-sia karna sekali seekor ular mendeteksi mangsa maka ular itu akan terus menjulurkan lidahnya.

"Oi, aku kenapa?" tanya Cecile yang sudah membungkuk agar matanya bisa mencari tempat yang sempurna untuk dipatok. Tampaknya bersembunyi pun percuma, lebih baik kami jujur saja.

"Ryan bilang anaknya nanti akan diberi nama Cecile," ucapku tanpa dosa sementara Ryan yang tampak pucat dan panik menggigiti kukunya sendiri sembari mengharapkan keajaiban.

"Oh ya? Ohh, sebuah kehormatan. Aku turut senang untuk anakmu Ryan, aku akan lebih senang lagi kalau kau berhenti memakai wifi perusahaan untuk mendownload film bajakan."

Headshot! Bahkan pujian dari Cecile tetap mengandung hinaan terselubung. Ryan tampak malu sekali dan mungkin itulah sebabnya dia buru-buru mengemasi barangnya.

"Ngomong-ngomong Shade, Boss sudah menunggu jadi sebaiknya kau cepat kesana," tambah Cecile sebelum dia berbalik pergi, tampaknya dia hanya datang kemari untuk memberitahuku itu.

"Sumpah deh, kalau sifatnya begitu dia nggak akan bisa menikah," gumam Ryan sembari menutup laptopnya. "Tapi aku jadi keingat, kau dulu pacaran sama dia kan?"

"Hmm, waktu Sma."

"Kok bisa keajaiban semacam itu terjadi? Dia maksa kau atau dulu mulutnya belum begitu?"

Aku hanya memberi kedikan bahu yang menandakan aku tak ingin membicarakan itu. Ryan mengerti dan memberiku tepukan simpati di bahu.

"Ngomong-ngomong jangan sedih terlalu lama," ucapnya sembari bangkit berdiri untuk pulang, "dengarkan baik-baik Nak, kita akan selalu kehilangan sesuatu tapi disisi lain kita akan mendapat hal lain sebagai gantinya. Semangat, oke?"

Aku hanya mengangguk sekedarnya. Tampaknya berita kematian ibuku sudah menyebar dari mulut ke mulut dan aku bersyukur punya rekan kerja yang pengertian. Meski demikian selepas membicarakan tentang warna, istri, anak dan pacar, entah mengapa aku malah merindukan Soni.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Up.......
profile-picture
profile-picture
mr.fiberglass dan ih.sul memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut lagi lanjut wkwk seru ceritanya
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Bab 7

"Boss" besar perusahaan RxG adalah seorang pria yang meninggalkan kesan kuat dalam otak. Dia memiliki penampilan tinggi besar berkat darah Rusia yang mengalir dari pihak ayahnya sekaligus kulit putih bening dengan rambut hitam legam khas orang Jepang dari pihak ibunya. Namanya juga tidak kalah unik, Abe Vladimir. Abe yang merupakan marga ibunya dan Vladimir yang merupakan nama pemberian ayahnya namun karna kedua nama itu sulit dan tidak familiar kami pun menyingkat namanya menjadi Amir. Sungguh pelecehan besar atas nama presiden Rusia.

"Shaaaadeeeeee~~~~"

Suara yang berat namun diulur-ulur itu masih belum berubah. Dia duduk di kursinya dengan kaki diletakkan sembarangan diatas meja sementara pemilik kaki itu tengah sibuk memandangi layar tablet.

"Ada apa Bos? Kerjaan baru?"

"Ahh, don’t call me Boss, kayak kita baru kenal aja. Panggil Amir aja is fine."

Kalau harus memilih aku benar-benar tak ingin memanggilnya Amir namun entah bagaimana dia tampak menyukai nama itu. Selera orang luar negeri memang aneh-aneh.

"So Shade~ aku tahu kau baru saja berduka cita tapi sayangnya ada… ehh, little problem dengan jadwal kita. Did you know apa yang sebenarnya kamu lakukan sepanjang tahun ini?"

"To be honest, nggak sama sekali. Sebenarnya aku menggambar semua itu buat apa sih?"

"Tentu saja untuk game, kita ini kan perusahaan game. Isn't?"

"Kalau itu aku juga tau. Masalahnya, kita sekarang ngebuat game apa?"

"Tepat! Kalian tak tahu game apa yang kalian buat, but you guys always work so hard. Tenang, hari jumat nanti kita akan adakan rapat besar untuk menerangkan program kerja kita. Dan karna itu rapat besar so you need to do some extra work. Can you?"

"Well, ada biaya lemburnya kan?"

"Pasti dong. For you, gue udah nyiapin hadiah khusus. Don’t tell anybody, oke?"

Dengan tangan panjangnya dia meraih sebuah bungkusan tebal dari atas lemari dan menyerahkannya padaku. Aku mengangkat bungkusan itu, merasakan beratnya dengan kedua tanganku dan mendadak merasa bersemangat.

"Gila, ini buatku? Gratis kan?"

"Of course… no! Itu properti perusahaan."

"Eh kampret!"

Baru saja aku merasa senang karna diberikan laptop spek dewa dan sekarang aku harus menahan godaan untuk membanting laptop itu ke lantai. Sudah lama aku kepingin beli laptop dengan resolusi Ultra HD namun harganya amatlah tidak bersahabat. Tapi okelah, setidaknya dengan ini pekerjaanku bisa lebih optimal.

"Di dunia ini nggak ada yang gratis," tambahnya lagi. "Kamu boleh pake laptop itu, boleh kamu bawa pulang tapi itu tetap punya perusahaan. Detail tugasmu akan kukirim lewat email jadi selamat bekerja. Bonus besar menantimu Shade."

Dengan bahasa isyarat singkat aku pun dipersilahkan meninggalkan kantornya. Di ruang serbaguna satu aku pun membuka bungkus laptop tersebut yang mana di dalamnya terselip amplop dengan tulisan,

"Buat jajan."

Aku nyengir sedikit, kurasa sepulang kerja nanti aku bisa mampir ke toko alat lukis. Inilah hal yang paling kusuka dari Boss, dia orang yang murah hati, tahu bagaimana cara memperlakukan pegawainya dan diatas semua itu dia bukanlah orang yang memberikan tugas yang tidak masuk akal. Yep, dia orang yang baik.

Namun semua opini itu lenyap begitu saja saat membaca email yang dia kirimkan. Hahaha, ingin rasanya aku tertawa. Kok aku kaget ya? Apa karna tadi Cecile mengatakan schedule sedang longgar? Ngimpi! Kalau kerjaannya begini bisa-bisa aku baru akan pulang tengah malam.

Dan beginilah keseharian pekerjaanku. Diberi tugas dan bekerja sampai mata terasa akan copot. Sudah benar-benar waktunya bagi perusahaan untuk merekrut pegawai baru dan meringankan beban pegawai lain namun sebuah perusahaan tanpa pencapaian tak akan menarik minat siapapun. Stress yang menumpuk karna duduk terlalu lama di depan komputer selalu membuatku berpikir ingin berhenti namun jika aku berhenti aku benar-benar tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Yang kulakukan hanya bekerja dan bekerja.

Saat cahaya matahari berubah jingga aku teringat akan janjiku pada Soni. Tanpa ragu aku mematikan komputerku dan bersiap untuk pulang. Aku tahu aku akan menyesal karna tidak mengerjakan lebih banyak namun laptop yang Boss berikan harusnya cukup untuk menyicil pekerjaanku dari rumah.

Yang jelas, aku benci pekerjaan ini.

***


Sudah benar-benar gelap saat aku akhirnya mencapai lantai lima. Aku berdiri di depan pintu, membuka kuncinya perlahan-lahan. Jika ditanya mengapa aku mengunci pintu maka jawabannya adalah karna aku belum mempercayai Soni sepenuhnya. Bisa saja kan dia sebenarnya anggota grup kriminal yang berpura-pura menjadi anak sebatang kara untuk merampok barang-barangku?

Dan karnanya aku merasa lega saat mencium aroma rebusan sayur menyambutku pulang. Setelah pekerjaan yang begitu melelahkan aku jadi merasakan keinginan untuk makan banyak, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak aku pindah kemari.

"Selamat datang," sambut Soni dengan senyum lebar. Entah mengapa aku merasa kami ini seperti pasangan pengantin baru yang masih lovey-dovey.

"Aku… pulang."

Saking lelahnya aku langsung membanting diri ke tempat tidur tanpa repot-repot mengganti pakaian. Samar-samar aku merasakan seprai sudah diganti sehingga debu dan pasir yang masih ada pagi tadi menghilang tanpa jejak.

"Kamu mau langsung makan? Atau mandi dulu?" tanya Soni. Aku tak merasa berkeringat banyak seharian ini jadi aku mencoba bangkit untuk berjalan ke meja makan namun kakiku mendadak terasa seperti jelly. Padahal hanya satu minggu aku cuti kerja namun rasa lelahnya membuat tak bisa berdiri.

"Aku mau disuapin boleh?"

Tak ada yang serius dari perkataanku, sebenarnya aku hanya ingin sedikit menggodanya namun Soni benar-benar membawa piring ke tempat tidur dan menyuapiku layaknya seorang ibu menyuapi bayi.

"Aaaaa…."

Ciyus?

Kupaksakan diriku untuk duduk namun aku tak menolak suapannya. Aku membuka mulut dan membiarkan diriku disuapi namun satu kunyahan sudah cukup untuk membuat kami berdua merasa malu sendiri.

"Kalau boleh tahu, kamu sebenarnya kerja apa?" tanya Soni begitu kami sudah duduk dengan piring di tangan masing-masing.

"Nggak jelas," keluhku, "aku bisa jadi graphic designer, character designer, animator dan bahkan photo editor. Ya ampun, kapan sih Si Boss rekrut lebih banyak karyawan?"

"Banyak kerjaan artinya gajinya tinggi kan?"

"Yah… nggak juga. Namanya juga perusahaan baru, gaji masih seadanya."

Bahkan uang jajan yang diberi Boss tadi nyaris tak cukup untuk membeli semua yang kuperlukan. Kalau boleh jujur, uangku sudah benar-benar menipis. Aku bahkan tak yakin apakah uang itu bisa bertahan hingga akhir bulan.

Saat selesai makan dan Soni mencuci piring, aku diam-diam membuka dompetku dan merasakan perasaan cemas mengalir ke kepala. Sudah kuduga, harusnya aku memang tidak membeli semua tipe kuas itu. Kenapa sih aku selalu tak bisa menahan diri untuk tidak membeli semua jenis cat yang terpajang? Apa jangan-jangan para pegawai disana menghipnotisku?

"Kamu beli banyak sekali barang."

Samar-samar aku mendengar suara Soni jadi aku buru-buru menutup dompetku. Untungnya Soni tengah mengamati barang-barang yang kubeli di pojok ruangan.

"Pesananmu yang di plastik hitam. Aku tak tahu mana yang harus kupilih jadi kubeli saja beberapa."

"E-em, terima kasih."

"Dan satu lagi, bisa kau kurangi masak daging mulai besok?"

"Kenapa? Mahal ya?"

"Enggak enggak… iya. Bukannya aku nyalahin kau tapi uangku benar-benar tipis sekarang. Aku nggak nyangka ngatur keuangan itu sesusah ini."

Sebelum pindah aku sama sekali tak punya masalah dengan makanan karna tanpa keluar uang aku bisa makan apapun yang dimasak ibuku namun sekarang mengatur pengeluaran untuk hidup akan sepenuhnya menjadi tanggungjawabku. Awalnya kukira aku akan baik-baik saja namun keberadaan Soni sedikit memberatkan.

Aku mungkin butuh pekerjaan baru namun aku bahkan belum lulus universitas dan pengalaman kerjaku baru beberapa bulan. Mau tak mau aku harus bertahan dalam keadaan ini dan mengurangi pengeluaran sebisa mungkin. Singkatnya, aku harus menahan lapar.

"Umm… kalau masalahnya uang, aku punya beberapa."

Dengan agak terkejut aku menatap Soni lekat-lekat saat dia mulai membongkar barang-barangnya. Aku belum pernah melihatnya menyentuh barang-barangnya yang sedikit itu. Dari kotak itu sebuah laptop tebal yang tampak jadul, ponsel yang sama jadulnya dan akhirnya dia mengeluarkan sebuah tas sekolah. Dari tas itu dia mengeluarkan sebuah kartu atm dan menyerahkannya padaku.

"Harusnya udah ada beberapa ratus ribu disitu. Nggak banyak tapi tolong ambillah."

Kuterima kartu atm itu, mengangkatnya kearah lampu untuk memastikan keasliannya tapi tak ada apapun yang mencurigakan, kelihatannya ini benar-benar asli.

"Bukannya kau diusir karna nggak bisa bayar sewa?"

"Iya, uang disitu benar-benar nggak cukup buat bayar sewa."

Itu artinya uang di dalamnya tidak terlalu banyak. Mungkin cukup untuk biaya makan beberapa waktu tapi memakan sesuatu milik orang lain rasanya tidak mengenakkan. Karna itulah aku mengembalikannya ke Soni namun Soni bersikeras mendorongnya kembali padaku.

"Dengar, jangan keras kepala!" tegurku.

"Kamu yang keras kepala. Aku menumpang jadi wajar kalau aku bayar. Setidaknya aku harus bayar uang makanku sendiri."

Aku ingin membantah namun yang Soni katakan itu benar. Porsi makannya yang dua kali lipat orang normal adalah masalah utamanya disini. Rasanya sangat tidak keren jika mengingat aku yang mengajaknya tinggal disini tapi aku tak sanggup memeliharanya.

"Okay… okay. Okay… oh entahlah Soni. Kuharap kau tidak menganggapku seperti suami yang malah minta uang ke istrinya."

"Bodoh," serunya sembari memalingkan wajah, "sejak kapan kamu jadi suamiku?"

"Tapi kalau boleh aku tahu, kau dapat uang darimana? Kau bilang kau kerja online tapi kerjaanmu apa sih?"

"Aku… nulis artikel."

"Oh?! Kedengaran keren. Kudengar banyak orang bisa sukses lewat blog di jaman sekarang."

Menanggapi itu Soni dengan sopan menggeleng.

"Aku cuma penulis tanpa nama. Satu bulan lima ratus ribu aja udah banyak. Benar-benar pekerjaan yang tanpa harapan. Tapi kalau kamu benar-benar nggak ada uang aku pasti bantu kok. Kebetulan tadi aku lihat website novel online. Mungkin disana bisa dapat uang lebih banyak."

Tanpa sadar aku sudah kembali mengelus kepala Soni. Aku memang tak mengharapkan apa-apa darinya namun dia seringkali mengejutkanku. Kami sebenarnya sama-sama muak dengan pekerjaan kami tapi dia tahu bahwa berjuang untuk hidup lebih penting dibanding kenyamanan dalam bekerja. Aku harus meneladani itu darinya.

"Oke, tapi jangan paksakan dirimu. Bagaimanapun pekerjaan utamamu adalah menjadi modelku."

"Tentu. Mau melukisku sekarang?"

Ingin sekali aku berkata iya tapi rasa lelah pekerjaan kembali menyerangku.

"Tidak, tidak malam ini. Aku lelah dan mau tidur."

Aku kembali berbaring di tempat tidurku dan setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya Soni pun berbaring di sebelahku. Aku tak tahu mengapa tapi jika tidak seperti ini kami benar-benar tak akan bisa tidur. Mungkin keberadaan kami satu sama lain bekerja seperti obat penenang yang mana jika tidak tersedia akan membuat kami terjaga semalaman.
Awalnya kami memang merasa risih namun kini hal itu sudah menjadi biasa. Wajahnya, senyumnya dan kelopak matanya yang perlahan tertutup pun mengantarku ke alam mimpi.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 3 lainnya memberi reputasi
Mantab! emoticon-Cendol Gan

Bab 8

Hal itu terjadi dikala aku masih menikmati sarapan buburku. Bubur putih simple nan lezat yang dicampur dengan ginseng itu cukup efektif mengeluarkan tenaga dari dalam tubuhku dan tenaga itu membuatku langsung merasa panas di pagi hari. Soni, yang sudah selesai makan, meletakkan laptopnya diatas meja dan mengetik dengan cepat.

Suara kipas yang dihasilkan oleh laptopnya begitu berisik dan suara ketikannya tak kalah berisiknya. Soni melirikku seolah meminta ijin atas keributan kecil itu dan aku hanya mengangguk, penasaran dengan apa yang dia lakukan.

"Aku sedang membuat sinopsis," jawab Soni tanpa ditanya. "Semalam sudah kubilang kan? Aku akan mulai menulis novel online."

Aku ingat dulu dia bilang dia pernah menulis novel jadi kurasa dia bukan sama sekali amatir di bidang itu. Aku bisa melihat dia sedikit gembira dengan kegiatan kecilnya dan aku merasa akan bagus jika dia punya kegiatan lain selain tugas rumah tangga.

Meski Soni bilang dia sudah menyerah akan mimpinya, ekspresinya tidak bisa berbohong.

Setelah sarapan aku segera berangkat kerja dan memulai rutinitasku seperti biasa. Dengan banyaknya pekerjaan yang kutinggalkan kemarin membuatku merasa dikejar-kejar oleh waktu namun saat tiba waktunya untuk makan siang aku menyempatkan diri untuk mengikuti Ryan ke warung padang terdekat.

"Ohho, aku rindu tempat ini," ucap Ryan yang secara tidak etis mengendus aroma rempah-rempah di udara. "Waktu kau cuti aku nggak ada teman buat kemari. Kenapa sih orang-orang di kantor hobi banget makan di kafe?"

"Buat gaya-gayaan mungkin," jawabku yang juga sudah lama tidak kemari, "kan banyak yang bilang, kalau mau enak makan di warung padang, kalau mau selfie makan di kafe."

Nasi padang memang sesuatu yang tak bisa ditemukan di kafe. Nasi padang itu berat, cara makannya harus pakai tangan dan aromanya akan tertinggal di tangan untuk waktu yang lama, bukan makanan yang cocok untuk orang yang begitu menjaga penampilannya. Tapi bagi aku dan Ryan yang masa bodoh dengan pendapat orang lain nasi padang adalah berkah yang diturunkan ke bumi ini bagi perut kami yang lapar.

Dan tiba-tiba aku teringat pada Soni lagi. Aku sendiri heran mengapa aku begitu sering teringat padanya namun kurasa itu adalah hal yang wajar. Saat ini dia mungkin sedang makan siang, memakan kembali bubur sisa sarapan. Aku ingin menghubunginya untuk bertanya apakah dia suka nasi padang atau tidak namun aku pun sadar aku tak punya nomor kontaknya.

"Ngomong-ngomong Yan, bisnismu apa kabar?" tanyaku berbisik. Ryan yang tengah sibuk mengoyak ayamnya menyadari makna dibalik bisikanku dan meletakkan kembali ayamnya di piring.

"Biasa aja. Kenapa memangnya?"

"Bukan apa-apa sih. Aku cuma penasaran, nerbitin buku memang susah ya?"

Ryan memiliki bisnis percetakan yang mana dia mencetak beragam macam hal sesuai pesanan. Skripsi, kartu nama dan segala macam buku. Namun dibalik bisnisnya itu dia melakukan satu bisnis ilegal yakni menjadi produsen buku bajakan. Dia membeli satu buku, menyalin dan memperbanyaknya sebelum dijual dengan harga lebih murah. Dia mengaku alasannya melakukan bisnis itu adalah sebagai bentuk pembalasan dendam pada suatu penerbit yang selalu menolak karyanya.

"Susah," jawab Ryan tanpa jeda. "Jaman sekarang semua serba susah, terlebih kalau kau nggak punya nama. Sebagus apapun karyamu kalau nggak laku maka penerbit nggak akan mau nerbitin. Banyak yang bilang kalau penulis pemula lebih baik mulai dari situs-situs online tapi karyamu situs-situs itu juga nggak bakalan laku kalau kau nggak punya banyak kenalan untuk share di sosmed. Singkatnya, semua cuma masalah view. Kalau kau nggak punya setidaknya seratus ribu follower instagram maka lupakan saja. Dunia kepenulisan itu bisnis, nggak ada ruang buat yang nggak punya koneksi."

"Sabar Yan, sabar."

Tanpa sadar Ryan sudah mengoyak daging ayamnya dengan cara yang amat tidak pantas. Karna merasakan aura berbahaya dari topik ini maka aku memutuskan untuk tidak menyinggungnya lagi.

Tapi aku terus memikirkannya di dalam kepalaku. Semakin aku memikirkannya semakin pula aku merasa kasihan pada Soni dan itu membuat nafsu makanku hilang. Aku ingin melakukan sesuatu untuknya tapi aku juga bukanlah siapa-siapa.

"Ngomong-ngomong tadi kau lihat si Amir nggak?" tanya Ryan tiba-tiba, "itu dia ngobrol sama siapa? Petugas PLN?"

"Aku juga nggak kenal. Mungkin petugas PLN, mungkin juga rekan bisnis baru."

Sekitar satu jam sebelumnya kami melihat beberapa orang berpakaian layaknya teknisi datang ke kantor untuk menemui Boss. Kami tak tahu pasti apa yang mereka bicarkaan namun kami melihat mereka mengangkut beberapa alat berat masuk dan setelahnya Boss memberitakan pada seluruh pegawai untuk pulang sebelum jam 3 sore. Entah apapun maksudnya namun kebanyakan pegawai merasa bersyukur, mungkin ini akan menjadi pulang cepat terakhir dalam 5 tahun ke depan.

Aku sendiri ikut merasa senang. Pulang lebih cepat artinya lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama Soni dan itu saja sudah cukup untuk mengembalikan selera makanku. Benar juga, aku harus belikan sebungkus nasi padang agar dia bisa menikmatinya untuk makan malam.

Namun semua berubah saat nada dering notifikasi whatsapp terdengar dari kantong celanaku. Awalnya aku mengira itu Cecile yang menyuruhku untuk segera kembali dan bekerja namun ternyata itu berasal dari seseorang yang sepuluh—seratus kali lebih buruk. Ya Tuhan, mengapa berita baik selalu saja dibalas dengan berita buruk?

Aku sebenarnya ingin mengabaikan pesan tersebut namun jika aku melakukannya maka akan menimbulkan efek bola salju yang mengarah pada longsor dan mengakibatkan korban jiwa. Tentunya yang kumaksud korban jiwa disini adalah diriku sendiri. Mau tak mau akupun membalas pesan tersebut dan berjanji akan menemuinya sepulang kerja.

Tampaknya hal yang disebut pulang cepat memang cuma mitos.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
ace.file dan Kawulo_Mataram memberi reputasi

Bab 9

Ibuku dulu pernah bercerita tentang kelahiranku. Saat itu ibuku adalah orang yang tidak menyukai bau rumah sakit dan karnanya beliau tak ingin melahirkan di rumah sakit. Akhirnya mereka pun mencari bidan kandungan terdekat yang membuka praktek dan disanalah rencananya aku akan dilahirkan bila waktunya tiba.

Namun rupanya Tuhan berkata lain. Saat ibuku merasa dia akan melahirkan, hujan deras tengah melandak seluruh kota dan jalan menuju tempat praktik lumpuh total. Ayahku yang mengemudikan mobil terjebak di tengah kemacetan dan tanpa punya pilihan lain beliau mengambil jalan lain hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Disana aku pun dilahirkan dengan selamat.

Pengalaman itu membuat ibuku banyak mengeluh dan entah mengapa itu membuatku merasa tak nyaman setiap kali berada di rumah sakit. Sebenarnya kenapa bisa begitu? Aroma alkohol dan obat-obatan? Para dokter dengan stetoskopnya? Para suster dengan suntiknya atau bill pembayarannya yang super mencekik?

Namun untuk hari ini jawabannya bukan semua itu. Sore ini aku datang (dipaksa) ke rumah sakit untuk menemui seseorang yang jujur saja aku tak mengerti mengapa harus kutemui. Sejak pertama bertemu dengannya aku sudah kurang menyukainya dan sekarang pertemuan ini akan terus terjadi secara rutin.

Pelan-pelan aku melangkahkan kaki memasuki ruang konseling. Disana sosok wanita 30-an tahun sudah menunggu dengan clipboard mini di tangannya. Dia memiliki figur yang menawan dengan rambut panjang yang disanggul layaknya bagsawan Jawa. Gaya rambut yang tidak biasa jika aku boleh bilang namun cocok sekali dengannya. Dia cantik, itu fakta yang tidak terbantahkan namun tatapan matanya sungguh sesuatu.

Di ruangan itu ada banyak barang yang tidak kumengerti kegunaannya. Dindingnya juga ditutupi dengan hiasan berpola aneh dan di sudut ruangan terdapat pemutar piringan kuno yang tengah menyala, memainkan lagu Bohemian Rhapsody dengan merdunya. Bohemian Rhapsody sudah lama jadi lagu kesukaanku dan mungkin itulah satu-satunya kesamaan yang kami berdua punya.

"Oh? Kau datang Shade? Cukup mengejutkan."

Dia menceklis sesuatu di clipboardnya sembari memberi isyarat agar aku duduk di kursi yang sudah disediakan. Diatas meja aku melihat sebuah papan nama kecil bertuliskan Dr. Rui SpKJ. SpKJ adalah gelar khusus spesialis kejiwaan.

"Jadi Shade, apa ada perkembangan yang perlu aku ketahui?" tanya Rui dengan suaranya yang merdu.

"Tidak ada. Sebenarnya saya bahkan tak mengerti kenapa Anda memanggil saya kemari. Saya sama sekali tak punya masalah."

"Oh ya, kau dan semua pasienku mengatakan hal yang sama. Katakanlah apa saja, kita punya dua jam untuk mengobrol."

Aku benar-benar tak ingin mengobrol dengannya selama dua jam. Meski sesi konseling ini gratis namun aku merasa hanya membuang-buang waktu dengan datang kemari. Terlebih lagi aku malah dianggap memiliki gangguan jiwa. Sumpah, tak ada yang salah dalam diriku.

"Kudengar kau pindah dari rumah dan hidup sendiri," ucap Rui, lebih seperti mengutarakan fakta dibanding bertanya. "Itu artinya rumah kalian sekarang kosong. Apa kau merasa bisa gila jika terus berada di rumah itu?"

"Yah… ada benarnya. Maksudku, rumah itu penuh kenangan jadi aku tak akan bisa move on jika terus teringat Ibu."

"Singkatnya, kau melarikan diri. Itu bukan tindakan yang seratus persen benar tapi mengingat umurmu maka pilihanmu sudah tepat, lingkungan baru akan membantu pertumbuhanmu. Jadi, ada sesuatu yang menarik disana?"

Secara mendadak aku langsung teringat Soni namun mustahil aku bicara tentangnya. Rui adalah teman kakakku dan kakakku jugalah yang memaksaku melakukan konseling dengan Rui jadi apapun yang kukatakan disini pasti akan sampai ke telinga kakakku. Karnanya akupun memilih kalimatku dengan hati-hati.

"Tidak banyak hal menarik. Ruangannya sempit, listrik sering terputus dan ada beberapa anjing liar suka berkeliaran di halaman. Tapi disana sinar mataharinya bagus, orang-orangnya juga menyenangkan."

"Bisa kau ceritakan lebih jauh tentang orang-orang disana?"

"Kenapa?"

"Karna untuk sesaat kau menunjukkan ekspresi kegirangan yang tidak wajar saat menyebut 'orang-orangnya.' Tampaknya seseorang disana menarik minatmu. Apa dia cantik?"

Apa semua psikiater memang punya mata sejeli ini? Kurasa untuk kunjungan berikutnya aku perlu menggunakan topeng Kamen Rider agar dia tak bisa melihat ekspresiku. Atau mungkinkah topeng ski lebih baik? Aku bisa merampok bank sekalian.

"Orang-orang disana… menyenangkan. Mereka banyak membantuku saat aku baru pindah. Mereka kadang memberiku makanan, kadang juga mengajakku berburu diskon dan jika sedang luang kami bisa saja membahas dalang pembunuhan Munir. Hahaha, habis ngobrol kami langsung ditangkap Petrus."

Aku cukup yakin aku baru saja mengatakan sesuatu yang lucu tapi kenapa dia malah menatapku curiga sembari menulis sesuatu di clipboardnya? Kuharap dia tidak mengarang suatu penyakit yang bukan-bukan.

"Bisa kau beritahu siapa saja nama para tetanggamu itu?"

"Apa itu penting?"

"Hanya untuk catatan. Setelah itu kau boleh pergi."

Serius? Aku boleh pergi hanya dengan lima menit konseling?

"Disana ada… Cecile, Ryan, Amir, Luna, Douan, Firmi, Soni, Carla, Stephanie, dan Brad Pitt."

"Oh? Cukup banyak. Ngomong-ngomong si Soni ini orangnya gimana?"

Disaat itulah aku langsung sadar bahwa aku sudah masuk dalam jebakan. Dasar perempuan licik, melihat senyum puasnya itu membuatku sangat muak.

"Yah, kurasa cukup sekian untuk hari ini. Pastikan kau kembali di jam yang sama minggu depan."

"Aku tak bisa. Aku banyak pekerjaan."

"Is that so? Kalau begitu hari Sabtu, akan kuluangkan waktuku sekitar jam dua siang."

Aku sudah ingin segera angkat kaki namun dia menahanku dengan isyarat tangan. Kira-kira apa lagi yang dia mau?

"Ini bukan konseling," ucapnya, mendadak terdengar ramah. "Aku… kita semua merasa sedih Shade. Tak ada yang menyangka ibumu akan pergi secepat ini. Rasanya baru kemarin aku menuang teh ke cangkirnya."

"Ya, aku baik-baik saja."

Karna tak ada yang tahu kapan datangnya lah makanya itu disebut takdir yang tak bisa dilawan. Semua manusia pasti akan mati dan terkadang kematian itu datang dengan cara yang amat tidak terduga dan di waktu yang tidak terduga pula. Orang-orang yang ditinggalkan semula akan menolak, menganggap semuanya hanya mimpi namun perlahan kenyataan itu mau tak mau harus diterima. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan semuanya.

"Aku tahu kau terpukul," ucap Rui lagi, "karnanya aku harap kau mau datang setiap minggu. Banyak orang menganggap sepele konseling semacam ini dan baru menyesalinya saat itu sudah tumbuh besar. Jika kau punya masalah, cerita saja padaku."

"Aku benar-benar tak punya masalah," balasku sembari menggerutu, "lagipula apa maksudnya sakit jiwa? Memangnya kau bisa mengeluarkan jiwa dan menutup lukanya menggunakan hansaplast? Itu terdengar seperti hal yang bukan-bukan bagiku."

"Kalau itu memang hal yang bukan-bukan maka tak akan ada orang yang membuat gelar sarjana untuk itu," jawabnya lancar sembari mengetuk papan nama di dadanya.

"Di dunia ini ada banyak hal yang tak kau mengerti. Contohnya hantu, apa kau percaya hantu?"

"Tidak," jawabku cepat. Aku masih tidak percaya akan keberadaan hantu meski aku sudah melihatnya sendiri.

"Menurut rumor masyarakat, hantu adalah perwujudan jiwa dari mereka yang mati tidak tenang. Jika Jiwa orang mati saja bisa sakit seperti itu maka sangat wajar jika jiwa orang hidup juga bisa sakit. Jiwa yang sakit membuat tubuhmu melakukan hal-hal mengerikan tanpa kau sadari dan karnanya jiwa itu sendiri perlu diobati. Atau setidaknya, diberi makanan yang sehat."

"Dan apa itu makanan jiwa?"

"Hubungan dengan orang lain."

Ada senyum misterius yang tersungging di bibirnya yang sayangnya tak bisa kutembus tak peduli berapa lama aku menatap kedua bola matanya. Seperti yang diharapkan dari spesialis kejiwaan, dia menjaga jiwanya dengan baik sampai tak bisa dibaca oleh orang lain.

"Hubungan dengan orang lain? Itu artinya aku tak punya masalah, aku bukan orang yang anti sosial."

"Yang kumaksud itu hubungan yang lebih dalam. Makanya tadi aku penasaran dengan si Soni yang kau sebut. Apa dia pacarmu? Kalau benar maka itu sangat baik untuk kesehatan jiwa. Berbagi beban dengan orang lain akan membuat hidupmu jauh lebih mudah."

Ada terlalu banyak kebenaran dalam kata-katanya sehingga aku tak mampu membalas. Rui tidak mendesakku lebih jauh dan akhirnya mempersilahkanku pergi. Aku bangkit berdiri, masih memikirkan kata-katanya, dan saat aku mencapai ambang pintu suaranya kembali mengejarku.

"Satu lagi Shade, apa kau sudah kembali melukis?"

Aku merasa alisku naik secara spontan saking herannya. Mataku menatapnya tanpa menyembunyikan keterkejutan apapun dan dia menjawab, "Ada sedikit serbuk pensil di tanganmu jadi kupikir kau akhirnya menemukan sesuatu yang ingin kau lukis. Ahh, apa si Soni ini adalah objek lukisanmu?"

Aku tidak menjawab, sebaliknya aku malah melangkah mundur dan disaat aku yakin dia tak bisa melihatku lagi aku pun berlari.

Rui, dia orang yang sangat menakutkan.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Yang baca, komen dong emoticon-Ngacir
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Bab 10

Setelah mengalami sore yang tidak biasa aku menghembuskan nafas lega karna akhirnya bisa kembali ke rumah dengan selamat. Pelan-pelan akupun memutar kunci di tanganku untuk membuka pintu, berharap mendengar sambutan "selamat datang" yang biasa.

Namun tepat disaat aku memasuki ruangan ternyata Soni baru saja keluar dari kamar mandi. Kami saling tatap satu sama lain, sama-sama membeku selama beberapa detik dengan pikiran kami masing-masing. Soni mungkin merasa heran mengapa aku pulang lebih cepat sedangkan aku membeku karna Soni hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.

Dan kemudian akal sehat kami pun kembali dan sedetik sebelum Soni berteriak aku mengacungkan tanganku ke depan dan berseru, "Stop!"

Soni membeku. Tentunya itu bukan karna aku memiliki kemampuan menghentikan waktu melainkan karna Soni sendiri mengerti situasi kami. Buru-buru aku menutup pintu dan meletakkan barang-barangku sebelum akhirnya mendekati Soni.

"Bisa kau pertahankan pose itu? Lima menit—ahh, sepuluh menit."

Wajah Soni yang begitu serba salah itu amat memanjakan mata. Kuambil kanvas yang kini selalu siap sedia di pinggir ruangan, mengatur sudut yang tepat lalu menajamkan pensil. Situasi dimana aku tiba-tiba memintanya menahan pose sebenarnya sudah biasa namun karna kali ini pose Soni sedikit berbahaya dia tampak ingin menangis. Itu malah menambah pesonanya.

"Bisakah setidaknya aku pakai baju dulu?" pintanya lirih.

"Maaf tapi tidak, tolong jangan bicara."

Jika dia memakai baju maka ekspresi malu-malunya jelas akan hilang jadi ini akan jadi lukisan langka yang hanya bisa dibuat saat dia hanya memakai handuk. Itulah pesona dari lukisan erotis. Kudengar banyak sekolah seni diluar sana yang memiliki kelas khusus untuk melukis wanita telanjang. Jika aku meminta Soni yang seperti itu apa kira-kira dia akan bersedia?

Dengan lebih banyak kulit yang terekspos aku jadi semakin menyadari sekurus apa Soni. Tulang selangkanya tercetak jelas dibalik kulitnya dan memerlukan fokus yang tinggi untuk melukis itu secara detail. Meski demikian semakin sulit justru membuatku semakin tertantang.

Selesai dengan sketsa aku pun mengambil cat air dan memberi sentuhan warna agar lukisan itu hidup. Kira-kira warna apa yang cocok untuk Soni? Aku akan menggunakan warna jingga matahari terbenam sebagai dasar lalu memberi tinta hitam ke rambut… atau tidak, mungkin ada baiknya sedikit melenceng dari kenyataan. Akan kulukis rambutnya seperti api, membara anggun nan kuat dibawah mentari. Tapi itu artinya ekspresinya tak akan cocok. Aissh, dilema oh dilema.

Pada akhirnya aku tak bisa menemukan tema yang cocok dan karna Soni mulai menggigil kedinginan aku pun menyudahi kegiatanku. Aneh, ini belum pernah terjadi saat aku melukis benda-benda atau buah-buahan tapi kenapa aku kesulitan melukis Soni dalam warna?

"Maaf membuatmu tak nyaman," bisikku sembari menatap dinding karna Soni tengah berganti pakaian, "tapi aku tak menyangka kau keluar kamar mandi sesantai itu."

"Aku tak tahu kau akan pulang cepat," balas Soni cemberut, "tapi kau malah bersikeras melukisku begitu. Dasar orang aneh. Kau boleh berbalik sekarang."

Ohh, jadi Soni sudah belajar mengumpat rupanya. Aku tak marah, kesannya justru menyegarkan karna selama ini dia selalu bersikap terlalu sopan.

"Kau udah masak belum? Kalau belum aku belikan nasi padang. Kau suka nasi padang?"

"Suka banget!"

Ekspresi cemberutnya mendadak hilang begitu saja. Semakin aku mengenalnya semakin aku sadar dia itu seperti anak kecil yang senang dibelikan es krim. Tunggu, jika dia anak kecil bukankah itu artinya aku ini orangtua? Hmm, semakin lama aku merasa hubungan kami semakin aneh.

Hubungan….

Kata-kata ahli kejiwaan itu terus saja membayang di benakku.

"Hei Soni," panggilku saat dia bersenandung membuka bungkus nasi, "sebenarnya hubungan kita ini apa?"

Tangannya berhenti bergerak dikala aku menyampaikan pertanyaanku. Aku yakin dia juga tengah memikirkan hal yang sama. Kami bukan keluarga, bukan teman apalagi kekasih. Kami hanya dua orang yang semula tak saling kenal… dan masih tidak saling kenal. Selain nama dan sedikit latar belakang yang dia ceritakan sendiri aku tak tahu apapun tentang Soni.

"Aku model," jawab Soni dengan mata mengarah ke langit-langit, "dan kau seniman. Kurasa itu cukup jelas kan?"

"…. Ya, itu mudah dimengerti."

Kami saling tatap beberapa saat dan kemudian tertawa kecil. Kurasa aku terlalu berlebihan memikirkannya, aku senang dengan hubungan kami yang seperti ini dan itu sudah cukup.

"Sudah kuduga, kau memang paling cantik saat tertawa."

Aku memindahkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya agar aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia tersipu malu dan mau tak mau aku merasakan dorongan untuk mengenalnya lebih dekat. Karnanya aku menjulurkan jari telunjukku dan menyentuh pipinya. Dia melirikku keheranan namun dia tidak memprotes apa yang aku lakukan jadi aku menjulurkan jari jempolku juga dan mencubit pipinya pelan.

Sekarang aku mengerti mengapa aku tak bisa menyelesaikan lukisanku tadi. Aku tak tahu apa-apa tentang Soni dan karnanya aku tak bisa memilih mana yang paling cocok untuknya. Kulitnya yang pucat namun lembut ini sama sekali tak cocok dengan api dan sifatnya sama sekali tidak cocok dengan kekuatan. Harusnya aku memberi latar kuning cerah dan beberapa daun yang gugur. Hutan, atau mungkin taman bunga, itu akan jadi lokasi yang indah.

Hubungan dengan orang lain adalah obat untuk jiwa. Meski enggan mengakuinya namun yang Rui katakan ternyata benar, aku merasa jauh lebih baik setelah mengenal Soni. Entah seperti apapun hubungan kami namun dia adalah obat bagiku dan aku berharap, sangat-sangat berharap agar obat itu tidak akan pernah habis.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ih.sul
Hmnm menarik
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Bab 11

Hari-hari berikutnya berjalan damai dengan pekerjaan yang semakin tidak manusiawi. Deadline yang semakin dekat membuatku sering kali begadang hingga lewat tengah malam dan berujung pada Soni yang tidak bisa tidur. Untungnya Soni telah menemukan kesibukan lain yang bisa dia lakukan untuk menemaninya begadang jadi kami pun menghabiskan malam bergelut dengan laptop masing-masing.

Hingga akhirnya hari dimana seluruh pekerjaan itu selesai akhirnya tiba. Aku menghirup nafas penuh kebebasan sembari menyambut mentari pagi yang melambangkan kemeredekaan. Tanpa sadar aku sudah tidak tidur semalaman namun hasilnya setimpal, seluruh pekerjaanku akhirnya selesai.

Aku pun mengirimkan pesan konfirmasi pada Boss dan meminta ijin untuk masuk siang. Sekarang yang tersisa hanya sarapan lalu tidur dengan perut kenyang.

"Aku leluaaaaahhhhh."

Soni menguap lebar-lebar sembari menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Melihatnya seperti itu langsung membuatku merasa mengantuk namun aku menahan godaan untuk ikut berbaring dan berjalan kearah meja untuk minum segelas air.

"Kau menulis banyak sekali," ucapku sembari menatap laptopnya yang masih menyala. Kira-kira ada 25 halaman word yang terisi penuh disana.

"Aku… agak bersemangat. Inspirasi-inspirasi itu datang begitu saja," jawabnya.

"Bolah kubaca?"

"Jangan!"

Dengan cepat dia bangkit dan menggunakan tubuhnya sebagai penghalang antara aku dan laptop. reaksinya itu membuatku tersenyum secara refleks. Aku ingat dulu juga bereaksi seperti itu, sangat malu saat ada yang melihat lukisanku.

"Aku paham aku paham, gimana kalau sekarang kita sarapan?"

"Oh, kau lapar? Akan kumasakkan sesuatu yang cepat."

Dia memastikan diri mematikan laptopnya sebelum beranjak. Aku sungguh penasaran cerita seperti apa yang dibuat oleh Soni namun aku akan menahan diri, akan tiba waktunya untuk itu.

***


Siang hari yang begitu terik membuatku malas pergi bekerja namun karna hari ini ada 'rapat penting' maka aku mengurungkan niatku untuk bolos. Kupilah-pilah baju yang akan kupakai dan menyadari jumlah baju bersihku hanya sisa sedikit, sudah waktunya mengunjungi laundry.

Namun di bagian bawah lemari aku melihat baju-baju Soni terlipat dengan rapi. Aku cukup yakin jumlahnya tidak sebanyak itu kemarin.

"Hei Soni, kau udah nyuci baju ya?"

"Iya. Kemarin karna cuacanya panas jadi jemurannya cepat kering."

"Memangnya kau jemur dimana? Nggak di balkon kan?"

Sebagai jawaban Soni mengeluarkan sebuah tali dari kardus barangnya. Dia mengikat ujung tali di atas lemari dan ujung yang lain di pintu kamar mandi sehingga menciptakan gantungan sederhana. Normalnya akan ada tetesan air di lantai namun karna cuaca yang panas tetesan itu akan menguap seketika. Ide yang cerdas.

"Jadi bajunya habis dijemur langsung dilipat? Memangnya nggak kusut?"

"Ya… kusut sih. Tapi kan aku nggak pakai kemana-mana."

Dengan kata lain dia tak masalah jika harus memakai pakaian kusut di depanku. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan itu namun pikiran ekonomisku tengah bekerja dengan cepat.

"Kau mau kubelikan setrika?"

Pertanyaanku membuatnya termenung sejenak dan seolah pikiran kami terhubung dia pun bertanya, "Mau kucucikan bajumu sekalian?"

Aku merasa tak enak membebani Soni terlalu banyak namun untungnya Soni sama sekali tidak keberatan. Dengan begini uang laundry pun bisa disimpan untuk hal lain.

Setelah sepakat aku pun berangkat kerja. Seperti yang kuduga, cuacanya begitu panas membakar kulit sampai-sampai keringatku menguap sebelum basah. Jujur, cuaca seperti inilah yang paling aku benci. Kertas-kertas akan menjadi lembab dan cat akan mengering dengan cepat sehingga cuaca panas adalah musuh untuk para seniman.

Untungnya perusahaan RxG memiliki AC yang selalu menyala di ruang serbaguna. Hembusan angin yang sejuk bahkan membuat lidah berbisa Cecile lebih bisa ditoleransi dan Luna si resepsionis baik memberikan minuman botol dingin bagi siapapun yang menginginkannya. Ini adalah salah satu dari sedikit hal yang membuatku betah di kantor.

"Shade, kau sudah siapkan semua datanya kan?"

"All clear."

"Okay, kita ke ruang rapat sekarang."

Dengan menenteng laptopku akupun mengikuti Cecile ke ruang rapat. Suasananya agak tidak biasa, aku bisa merasakan Cecile agak tegang dan karnanya rapat ini pastilah amat penting, mungkin rapat terpenting dalam sejarah perusahaan.

"Sebenarnya projek baru ini projek apaan sih?"

"Lah? Kau nggak tau?" Bukannya menjawab Cecile malah balik bertanya jadi aku cuma menggeleng. "Ini projek AR, Augmanted Reality. Kurasa kau bisa membayangkan sendiri konsepnya."

Sebagai pecinta film sciFi aku bisa membayangkan jelas konsep game yang Cecile maksud, game yang tengah kami buat. Tentunya akan ada aplikasi atau beberapa alat pendukung lain sesuai konsep game yang diusung. Mungkin game baru ini akan memiliki tema yang mirip dengan Pokemon Go. Projek yang sangat besar dan antusias, tak kurang dari seorang Abe Vladimir.

Saat kami tiba di ruang rapat hampir seluruh meja telah terisi penuh. Meja-meja yang disusun membentuk huruf U itu diisi oleh nyaris semua karyawan di perusahaan ini namun ada juga beberapa orang yang tak pernah kulihat sebelumnya dan orang yang menjadi pusat perhatian seluruh meja tak lain tak bukan adalah Boss yang kurang kami cintai.

"Welcome Ladies and Gentleman, silahkan duduk dan silahkan snack nya dimakan. Santai saja, tak akan ada siapapun yang di-PHK hari ini because hari ini adalah hari yang berbahagia untuk saya, Anda dan kita semua. Hari ini… tanggal berapa sekarang?"

"26 September," jawab Cecile cepat, tampak berang.

"Yes, itu. Hari ini tanggal 26 September saya dengan bangga mengumumkan pada kalian semua project terbaru perusahaan kita, Project Beyond Life."

Gumam-gumam kecil yang sedari tadi memenuhi ruangan mendadak hilang saat lampu tiba-tiba mati dan proyektor menyala menampilkan trailer sederhana dari projek baru kami. Disana aku bisa melihat karakter-karakter yang kubuat berjalan, terbang dan bertarung dengan latar belakang yang tidak asing, tempat yang ditunjukkan disana adalah kantor kami sendiri.

Teknologi AR sudah tak lagi terlalu asing di masyarakat namun yang menjadi perhatian semua orang pastilah alat apa yang akan menjadi penghubung antara 2D dan 3D. Apakah smartphone? Smartphone adalah pilihan yang paling masuk akal dan mudah dijangkau oleh siapa saja.

Namun saat trailer mencapai bagian yang dimaksud, kami semua sontak berseru, "Wooowww!" Tampaknya darah orang Rusia di tubuh Boss kami bukan sekedar penghantar oksigen semata, sungguh berani dan bergairah. Mau tak mau aku merasa darahku ikut dipompa lebih cepat, malam-malam kurang tidur yang kugunakan untuk mendesain semuanya terasa tidak percuma.

Kalau projek ini sukses, aku akan traktir Soni makan beef steak selama seminggu penuh.

Tbc....
profile-picture
profile-picture
widi0407 dan Kawulo_Mataram memberi reputasi
Halaman 1 dari 5


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di