KOMUNITAS
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61e969bf5b0a40265e058503/kesurupan

Kesurupan


Kesurupan

Oleh : Joy 


“Devina!” Veta mengguncang badan Devina yang terlelap. Devina perlahan membalik badannya dan bertanya ada apa dengan mengangkat kedua alisnya.

“Si June... kayanya kesurupan,” bisik Veta dengan tatapan waspada ke arah June yang sedang duduk berselonjor di pojok ruangan, kepalanya tertekuk seakan bobot kepalanya bertambah 1 kuintal. Perlahan Devina berusaha duduk, sedikit kesulitan karena ternyata tanpa sadar Veta menggenggam lengannya erat.

“Gue cuci muka sama sikat gigi dulu,”

“Sempet-sempetnya lu?” Veta menatap kesal Devina. Devina tidak perduli dan tetap beranjak menuju kamar mandi. Dengan gesit, Veta turut berdiri dan mengekor Devina ke kamar mandi. 

Acara cuci muka dan gosok gigi Devina sudah selesai. Wajah Devina tampak jelas kaget menemukan Veta yang ternyata berdiri tepat di balik pintu toilet. Hasrat hatinya ingin memaki namun yang keluar hanya sebuah senyum berujung cengirang yang di sambut pelototan kesal oleh Veta. 

“Hihihihihihihihihi...” suara tawa June yang aneh, menakutkan dan memberi kesan pilu seketika membekukan Devina dan Veta. Keduanya saling pandang dan refleks tangan mereka saling mencari. Dengan isyarat, Veta menyuruh Devina melihat kondisi June yang langsung di tolak Devina dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lagi-lagi,Veta melototin Devina, mengekspresikan kekesalannya. 

“Lo aja, kalo berani.” kata Devina yang nyaris tak bersuara namun tetap dapat dimengerti Veta melalui gerakan bibir Devina yang kayanya sengaja diperlambat. Kembali, Veta melotot bahkan kali ini menjitak pucuk kepala Devina. Devina pura-pura meringis menahan sakit.

“Katanya, Lo pemberani?” bisik Devina, yang langsung di jawab tatapan menusuk dari Veta. Kata-kata Devina rupanya memberi efek lain selain tatapan menusuk, tiba-tiba Veta melonggarkan genggamannya dan dengan santai menuju ruang tengah kemudian duduk santai sambil memperhatikan June. 

Sementara Devina memcoba hal lebih extreme dengan berjalan menuju lemari yang tidak jauh dari tempat June terduduk lesu. Dia bermaksud mengambil hp yang biasa dia letakakan di atas lemari. Dalam beberapa detik mata Devina dan June bertemu. Nyali Devina tiba-tiba menciut bahkan nyaris hilang. Tatapan June begitu menusuk, liar dan penuh ancaman. Sambil melafalkan doa-doa dalam hati, Devina tidak berpaling dan terus menahan tatapannya tepat ke mata June. 

Seolah kalah adu tatap, June berpaling dari Devina dan beralih menatap Veta. Perlahan tangannya terangkat dan menunjuk tepat ke arah Veta, “Setalah ini giliran kamu!” suara June yang entah bagaimana caranya bisa berubah jadi seperti bukan June seketika membuat Veta siaga. Devina yang sedari tadi memang sudah ciut nyalinya, perlahan mendekati Veta. Di lihatnya waktu dari hp nya menunjukan hampir pukul 1 dini hari. 

“Gimana nih, Ve?”

“Hiiii... hihihihihi... Hahahahahaha...” pertanyaan Devina di jawab dengan suara tawa yang menakutkan dari June. 

June terlihat mulai bergerak seolah ingin berdiri. Gerakan June reflek membuat Veta dan Devina teriak ketakutan. Dengan gesit keduanya serentak berdiri dan berlari menuju pintu keluar. Devina dan Veta tertahan di pintu karena kebodohan mereka. Pintu yang tidak begitu lebar itu tidak cukup untuk mereka keluar bersamaan. Awalnya mereka merasa seperti di dalam mimpi seram. Sekuat apapun berlari, seakan badan mereka tidak bergerak sama sekali, sementara bayangan June terasa semakin dekat untuk meraih mereka. Akhirnya Devina menyadari kondisinya yang berebut dengan Veta untuk keluar. Akhirnya, dia mengalah membiarkan Veta keluar lebih dulu lari tunggang langgang kemudian dia menyusul, sama tunggang langgang. 

Lingkungan kontrakan sudah sangat sepi, sepertinya semua penghuni rumah petakan itu sudah sangat lelap. Teriakan Devina dan Veta sama sekali tidak mengganggu ataupun membangunkan mereka. Devina berlalri ke ujung kontrakan menyusul Veta yang beberapa langkah sudah jauh di depannya. Keduanya ngos-ngosan mengatur napas dan debaran yang seakan bisa kapan saja meledakkan jantung mereka. 

“Kita gak mungkin ninggalin June, kalo June sampai di bawa sama mahluk lain itu bisa bahaya.” suara Veta terpatah-patah karena napasnya yang ngos-ngosan. 

“Kalau gak boleh di tinggalin, ngapain Lo lari?” Devina terlihat lelah dan stres, sama-sama mengatur napasnya yang juga ngos-ngosan. 

“Ya, gue takut lah Dev!” kembali Veta mengatur napas yang terasa begitu sesak setelah lari sprint. 

“Ayo, balik lagi…!” Veta perlahan berjalan kembali menuju kontrakan di susul Devina yang lunglai. 

Veta bergeming di pintu, tidak berani masuk. Sementara Devina memilih duduk di teras kontrakan sambil sesekali melongok berusaha melihat ruang tengah. June terlihat masih duduk menundukan kepala. Perlahan June bangkit dan mulai mendongak melihat langit-langit. Melihat June seperti itu, dengan sigap Veta menutup pintu dan menguncinya dari luar. 

Veta melihat Devina yang terlihat mulai kelelahan menahan kantuk. “Sabar ya, Dev. Bentar lagi temen gue dateng buat nyadarin June” 

“Si June kok bisa kesurupan, gimana ceritanya?” pertanyaan Devina di sambut senyuman tipis Veta dan nyanyian pilu June dengan bahasa jawa yang memberikan kesan semakin mencekam dan menakutkan.

“Tulang rusuknya katanya renggang. Dan ini bukan kejadian pertama. Lu siap-siap aja. Nanti juga Lu terbiasa.” jelas Veta datar, sementara Devina terlihat shock mendengar kenyataan itu secara Devina itu penakut akut. 

“Gue harus pindah!”kalimat itu menggaung di dalam hati Devina. Untuk beberapa saat keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, terutama Devina yang kini mulai menyesali keputusannya untuk ngontrak bareng dengan June.

***

 

“Sampe juga akhirnya lo, Bang.” suara dan gerakan Veta yang tiba-tiba membuat Devina sedikit kaget. Sekitar 5 orang pemuda terlihat santai mendekat ke arah Veta dengan senyum yang lebar. Veta bergegas mendekati pria yang paling tengah dan menyalaminya. 

“Sudah berapa jam si June kesurupan?” pria yang di salami Veta sepertinya tidak suka basa basi, tanpa menunggu jawaban Veta dia bergegas menuju kontrakan. 

Veta berlari kecil menyusulnya dan membukakan kunci pintu kontrakan. Keningnya masih terlihat berkerut karena berpikir “Mungkin 2 atau 3 jam bang” kata Veta yang sepertinya tidak di gubris oleh pria yang di panggilnya Abang itu. 

Devina terlihat kikuk ketika 4 pria yang masih di luar menyalaminya. Mereka tidak berkata atau bertanya apapun, setelah menyalami Devina mereka duduk di teras, salah satunya mulai menyulut sebatang rokok. 

“To, Gus, lo berdua bantu gue ya pegangin June!” To dan Gus, dengan sigap beranjak mengikuti arahan pria yang di panggil Abang oleh Veta. Ketiganya kembali masuk ke dalam kontrakan. 

“Kamu…? Katanya bisa ngaji, ya?” Suara pria yang di panggil abang itu membuat Devina dan dua pria yang tengah menunggu proses penyembuhan June seketika berbalik melihatnya. Mata pria itu fokus menatap Devina, dan Devina sadar itu, dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang dia arahkan tepat ke hidungnya sendiri sebagai tanggapan dari pertanyaan pria itu. 

“iya, kamu… tolong bantu saya ngajiin surat As Saffat, wudhu dulu, ya!” tanpa basa-basi pria itu kembali masuk ke dalam kontrakan. Walaupun merasa kesal, Devina tetap mengikutinya masuk ke dalam kontrakan.  

Devina langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, selintas di lihatnya June tengah meraung, matanya nyalang penuh kebencian menatap pria yang di panggil Abang oleh Veta, tangannya meronta meminta lepas dari genggaman dua pria yang tubuhnya dua kali lebih besar dari dirinya. Sementara Veta tampak siaga menjaga kepala June yang sepertinya terus mencoba membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. 

Setelah mengambil wudhu, Devina mengenakan mukena dan mengambil Al Qur’an, dia duduk menghadap kiblat. Devina kaget dan hendak beranjak ketika June di paksa terlentang dengan kepala tepat di pangkuannya. Pria yang di panggil Abang, menahan pundaknya, tanda melarangnya untuk beranjak. “Ayo mulai bacakan suratnya!” 

Devina mulai membaca ta’awuz kemudian membaca surat As saffat. June meraung, dan berontak semakin kuat ketika Devina mulai melantunkan ayat demi ayat surat As Saffat. Bahkan di ayat ke-7 June berhasil melepas genggaman tangan Gus dan menjambak Devina sehingga mukenanya berantakan. “Gak papa, teruskan baca nya!” Seru pria yang di panggil Abang, yang juga sibuk membacakan doa-doa. 

Dengan badan gemetar Devina terpaksa melanjutkan bacaannya. June mulai mengoceh tidak jelas, beberapa kalimatnya berupa ancaman. June mulai meraung, berteriak, badannya seperti kesakitan, matanya menatap nanar seakan memohon pengampunan. “HENTIKAAANNN!!!!!” teriak June yang di tanggapi Si Abang dengan hentakan kalimat “Allahu Akbar!!!” 

Badan June seketika lemas, perlahan matanya menutup mengeluarkan air mata yang mengalir ke sela-sela telinganya. Veta yang sedari tadi fokus memegang kepala June langsung memeluk kepala June, menghapus air matanya dan mencium pucuk kepala June dengan sayang. “Kamu yang kuat ya, Dek…” bisik Veta 

Perlahan June terlihat mulai tenang, Veta memberinya teh manis hangat. “Teteh… ini kok tangan aku lebam biru gini, sih?” semua mata serentak tertuju pada June dan memastikan kebenaran dari ucapannya. 

Veta mengamati kedua pergelangan tangan June. “Ini, bekas Tito sama Agus yang megangin kamu Dek, lagian kamu tadi parah benget kesurupannya.” 

“Iya, tenaga lu jadi kuat banget Jun, gak sanggup gue.” Agus yang tadi tidak tahan memegang June sehingga Devina jadi korban, menguatkan pernyataan Veta. 

“Yaudah, yang penting sekarang udah aman. Abang balik sekarang, ya. June kamu jangan banyak ngelamun!” pria yang di panggil Abang beranjak berdiri, sebelum keluar kontrakan dia sempetin membelai kepala June dengan sayang.

“Makasih ya, Bang.” ucapan makasih Veta di balas anggukan dan senyuman yang tulus. 

Suasana mendadak hening setelah kelima pria tadi pergi. Veta mengunci pintu kontrakan. Devina melihat jam di hp nya telah menunjukan pukul 3 dini hari. Sementara June masih seperti orang bingung. 

“June, kamu tidur di tengah, ya!” Veta merapihkan ruang tengah yang memang khusus untuk mereka tidur. Biasanya dialah yang selalu tidur di tengah sementara June lebih memilih dekat dinding. 

Setelah rapih, mereka bertiga bersiap melanjutkan tidur yang tertunda.

 

 ***


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lanjutttttt
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
plis deh gak cocok banget nama june, veta, devina utk trit kerasukan


cocoknya tuh iyem, pok minah, atun
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nyimak dulu.
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
Gsssssssssss
profile-picture
bonita71 memberi reputasi
masih nunggu lanjutannya emoticon-Angkat Beer
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di