CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61ad240a04457d6635195d96/melepas-untuk-bebas

Melepas Untuk Bebas

Spoiler for Instagram@melepasmu:



Quote:



Quote:




Quote:



Masih sinopsis pisss....

Quote:


Fiksi ....
Sumber gembar dari Instagram
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariemail dan 44 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Halaman 1 dari 5
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Spoiler for :
profile-picture
nona212 memberi reputasi
Diubah oleh andrerain5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
jika mau cri teman hidup

jngn awali dgn yg salah

"pacaran pegang2n/mojok
'

jika ingin bermain2 saja

"ingat hukum karma nyata"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Spoiler for :

Pagi, jan lupa ngopiemoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Nice story, lanjutkan sist
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sheema.israel dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Episode Satu

Hujan berjatuhan di antara langit langit rumah Sinta, sejak dari siang hari, bahkan dia pun pulang kehujanan. Saat melihat bagaimana kondisi keadaan sekitar rumah nya, nampak dari kejauhan terlihat jelas, wajah ayahnya sedang berjalan menuju ke rumah, pakaian nya sudah basah dan wajahnya pucat pasi, Sinta menjadi sangat khawatir, apalagi semenjak ibunya telah berpulang ke dalam bumi, semangat untuk hidupnya sedikit berkurang, bahkan terkadang melamun di sepanjang areal rumah dengan tatapan mata kosong.

Hal inilah yang membuat Sinta begitu sangat khawatir dengan ayahnya. Semakin dekat semakin nampak wajahnya yang benar-benar tidak sehat. Santi mendekatinya dan bertanya.

"Ayah, apakah kau sakit?"

"Tidak! Ayah sehat-sehat saja!"

Namun tidak seberapa lama tubuhnya ambruk di muka pintu. Santi kemudian mengurusinya, membawanya ke arah kamar di bantu dengar adik-adiknya, membuka pakaian dengan menggantikan pakaian yang bersih.

"Kak, air panasnya sudah siap."

"Terimakasih, Nias."

"Kak apakah ayah kita akam meninggal seperti ibu?"

"Insyaallah tidak! Berdoalah saja."

Setelah beberapa kali mengoleskan minyak ke hidung ayahnya, pada akhirnya matanya terbuka dan menatap Sinta dengan tatapan mata yang lebih sayu dari biasanya.

"Maafkan ayah yang telah membuatmu khawatir, Sinta. Sekarang sudah tidak apa-apa, ayah sudah sehat!"

"Ayah, ayo kita ke dokter saja!"

"Tidak apa-apa, ayah beneran sudah sehat. Hanya membutuhkan air hangat untuk mandi, kemudian istirahat."

"Mandilah, Ayah! Air panasnya sudah siap."

Ayah kemudian menuju kamar mandi dan membersihkan semua kotoran yang menempel di dalam tubuhnya. Setelah merasa puas membersihkan diri, pada akhirnya keluar kamar mandi. Kemudian melihat ke arah sebuah foto yang diambil dari ruang tengah dan di letakkan di dekat tembok kamar mandi. Menatapnya sejenak dan berkata: "Sayang, ternyata Sinta kita sudah besar dan pandai merawat keluarga. Bagaimana jika aku menyusul mu?"

"Ayah! Bicara apa? Apakah tega meninggalkan aku?" Tiba-tiba Nias, anak ke-tiga nya menjawab pertanyaan yang tidak sengaja didengarkan nya, dari mulat sang ayah.

"Eh anak ayah yang paling cantik! Bagaimana ujianmu hari ini? Apakah bisa mengerjakannya?"

"Bisa! Nyonyek dari google dan nilainya seratus."

"Wah wah wah .... Itu tidak benar, Nak! Tidak di perbolehkan untuk melakukan hal-hal yang keliru. Belajarlah untuk jujur dalam segala hal."

"Tapi ayah! Soalnya sulit dan aku lupa untuk mempelajarinya."

"Nak, jika dalam hal sepele saja kau sudah tidak jujur, maka hidupmu nantinya akan terbiasa menipu. Jangan lakukan hal itu, walaupun hanya untuk sekedar nya saja."

"Baiklah ayah."

Sinta tiba-tiba datang dari arah kamar dan melihat ayahnya sudah nampak lebih baik. Die menyuruhnya makan dan berinteraksi dengan semua keluarga seperti biasanya. Ayahnya melahap makanan dengan senyum kepuasan, sebab mereka nampak tumbuh dengan segala peraturan dari istrinya yang memang benar-benar di lakoni.

"Anak-anakku, jangan pernah melupakan semua pesan-pesan dari ibu ya? Tetap hidupkan roh almarhum ibu dengan mengenang semua petuah yang diberikan olehnya."

Anak-anaknya mengangguk tanda setuju. Bahkan kembali dengan keceriaan seperti biasanya. Sedangkan Santi mengolah bahan-bahan untuk berdagang esok hari di pintu jalan tol seperti biasanya, setiap minggu pagi.

"Santi, apakah jualan esok hari banyak? Kenapa tidak mengunakan waktumu untuk istirahat?"

"Tidak banyak, Yah! Hanya lima liter beras dan lima kilo terigu untuk bala-bala. Lumayanlah untuk tambahan membeli pakan ayam jago."

"Nak, tidak usah merawat ayam-ayam itu, apalagi musimnya tidak bagus untuk memelihara ayah bangkok."

"Nanti aku kesepian, Ayah! Hanya para hewan yang bisa membuat aku tidak merasakan sepi yang panjang dan ...."

"Kak, Si Jalu kena kanker."

Santi segera menuju kandang dan menghampiri jalu ayam kesayangan miliknya.

"Oh em gue jaluuu ...."

"Apakah dia akan mati, Kak!"

"Tidak boleh! Ambilkan obatnya di kotak sebelah kanan."

Nampak wajah Sinta sebegitu paniknya melihat wajah Jalu yang tanpa daya, meringkuk lemas dengan wajah yang membiru.

"Nak, tidak lazim kau begitu panik karena ayam tersebut sakit! Berinteraksi lah dengan manusia."

"Ayah, apaan sih! Antara hobi dan rasa sayang untuk manusia bitu beda yah, semua ada takarannya, para hewan hewan ini adalah kekuatan untuk aku hidup, yah, mengandung cuan yah!"

Mengacuhkan ayahnya dah kembali sibuk dengan ayamnya yang nampaknya sudah stadium satu.

"Kak, apakah dia akan mati?"

"Tidak! Dia kan sehat besoknya. Iyakan Jalu?" Melirik Jalu.

Jalu hanya berkokok lemah entah mengerti bahasa Sinta, atau karena memang sudah wataknya ayam yang gemar berkokok. Namun setidaknya ada perubahan setelah tangan Sinta menyentuhnya dengan kasih sayang.

"Ayo kita tidur, adik adik! Jalu sudah membaik. Besok kokoknya akan lebih nyaring dari pada hari ini."

Pada akhirnya mereka semuanya terlelap, hanya Sinta yang masih asik dengan adonan tepung dan rasa khawatirnya untuk Jalu. Nampak beberapa kali dia melihat ke arah kandang dan memasang wajah datar.

Azan berkumandang kemudian. Santi terkejut karena dia mulai melamun sendiri tentang ayamnya yang lainnya, yang sudah waktunya di vaksin. Tiba-tiba ayahnya mendekatinya dan berkata, "kamu tidak tidur, San?"

"Tidurlah yah! Aku bukan robot yang tidak pernah lelah untuk bekerja."

"Kamu salah, San! Bahkan robot pun juga membutuhkan istirahat."

"Ya ya Ayah, aku sudah tidur kok. Lihat saja, tidak ada mata panda di wajahku."

"Boleh ayah bertanya, San? Kenapa begitu gemar bekerja?"

"Aku ingin membeli rumah, oh tidak! Aku ingin surat tanah milik ibu bisa diurus, ayah!"

"Susah, Nak! Tanah itu termasuk ke dalam tanah sengketa. Hanya orang tertentu yang bisa menyelesaikan semua kekacauannya. Dan itu tidak mudah."

"Tapi aku yakin dengan uang segalanya bisa di permudah, ayah!"

"Nak, kalian bisa tinggal di sini saja! Untuk apa mencoba sesuatu yang sulit?"

"Rumah ini milik ayah, namun anak ayah bukan kami saja! Ada yang lebih berhak atas rumah ini!"

"Nak tapi ...."

"Yah, aku mau memasak. Sudah waktunya semua gorengan tersebut matang. Aku ingin berjualan lebih pagi."

"Semoga berhasil, Nak!"

Sinta menyelesaikan semua kegiatannya untuk hari ini. Ada banyak gorengan yang beraneka jenis rupanya. Bahkan nasi kebuli sudah matang dan telah siap untuk di luncurkan ke meja perdagangan di pintu masuk jalan tol. Yang mana selalu menjadi tempat paling strategis untuk membuat dagangannya lekas habis.

Dengan bantuan dari para adik adik yang mensuport Sinta, pada akhirnya semua dagangan hari itu laris manis, padahal waktu masih sangat pagi untuk pulang ke rumah. Namun karena dia masih mengkhawatirkan Jalu, maka pada akhirnya pulang dengan tergesa-gesa.

Sampai di dekat kandang Jalu, Sinta kemudian bertanya kepada adiknya yang sedang berada di sana.

"Bagaimana keadaan Jalu, Farhat?"

"Sehat, kak! Tetapi ayah ...."

"Ayah kenapa?"

"Encang Wardi membawanya ke Rs dan meminta kita untuk cek kesehatan di balai warga dua."

"Baiklah ayo kita ke sana!"

Pemeriksaan dilakukan dengan sangat cepat, namun Santi merasa aneh sekali, kenapa harus cek kesehatan. Apakah ayahnya tersebut terdeteksi penyakit yang sedang booming tersebut? Pertanyaan-pertanyaan nya terjawab kemudian, itupun setelah Encang Wardi datang dan menjelaskan semua masalah yang dihadapinya tersebut.

"Ya, ayahmu terjungkit covid. Dia harus masuk perawatan intensif."

Terbesit dalam hatinya jikalau ayahnya tidak akan selamat. Entah mengapa pikiran busuk itu tiba-tiba masuk. Mencoba menghilangkan pikiran tersebut dengan bernyanyi riang. Kemudian petugas memanggilnya dan berkata, "kalian semuanya negatif."

Lega perasaan Encang Wardi untuk berita tersebut. Karena dia berpikir akan sangat merepotkan sekali, jikalau harus mengurusi para piatu yang dalam masa pertumbuhan, karena sudah pasti akan sangat merepotkan, terutama bagian dapurnya.

"Tidak usah mengkhawatirkan kami lagi! Hidup kami sudah terbiasa mandiri sejak almarhum ibu masih ada."

Senyuman manis tersungging di pipinya. Dia benar-benar lega mendengar perkataan Sinta.

Sinta boleh balik RS demi untuk kebutuhan ayahnya. Walaupun untuk melihat kondisi nya tidak diperbolehkan. Namun diperbolehkan untuk vidio call, sudah menghapus jejak kerinduan mereka semuanya.

Suatu hari, tiba-tiba ayahnya tidak bernapas, Santi segera di hubungi, namun tidak diperbolehkan untuk melihat lebih dekat, dia hanya menunggu di depan pintu Rs, tepatnya di sebelah ambulans yang akan mengantarkan mayat ayahnya ke liang lahat.

Penguburan nya juga tidak seperti biasanya. Santi hanya melihat dari kejauhan saja proses dari penguburan tersebut, sejarak puluhan meter. Dia sangat berduka sekali, bahkan jenazahnya tidak bisa di lihat bentuk dan wujudnya. Matanya berulang kali berair.

Tik titik hujan membasahi halaman rumah Sinta, hujan yang tidak kunjung mereda, nampak wajahnya masih menunjukkan rasa duka, dengan keadaan yang menimpanya pada saat ini. Begitu cepat kejadiannya berlangsung, bahkan hanya dalam hitungan belom genap seminggu di rumah sakit.

"Ayah, kenapa kau tinggalkan aku?"

Wajahnya nampak masih pucat paci, bukan hanya karena masih dalam kedukaan saja, akan tetapi perutnya belum terisi sejak dia mengambil jenazah ayahnya. Duka yang sangat dalam, saat penyakit laknat tersebut menyerang tubuh. Membuatnya mondar mandir mencari informasi untuk kesembuhannya, obat-obatan yang harus di beli dan segala macam kebutuhan yang harus dipenuhi, membuat waktu Santi banyak dihabiskan di RS dan kasur, bahkan saat rindu datang, untuk mencuri pandang lewat kaca jendela saja, agak begitu sukarnya. Penjaganya sangat ketat dan sulit untuk di terobos olehnya.

"Sin, makanlah! Kau harus lebih kuat untuk menghadapi hari esok. Karena hidup tidak hanya terbungkus dalam kedukaan saja, masih banyak jalan panjang yang harus kau lalui di antaranya." Ibu Ana istri pertama ayah, dia mencoba membuat anak tirinya tersebut untuk lebih tegar dan tidak merasa sendirian.

"Ya, akan aku makan nanti, setelah adik adik pulang dari rumah Encing, Bu."

Setengah jam kemudian adik-adiknya berdatangan, mereka langsung menyerbu makanan, tanpa melihat air mata Sinta masih belum kering. Akhirnya memaksakan diri untuk makan dan menikmati kehidupan ini dengan senyuman yang sangat pahit, pahit sekali.

"Abis makan kita lihat ayah ya kak! Aku tadi belum sempat melihatnya."

"Esok saja, hari ini kakak lelah sekali."

"Tapi kak ...."

Mata Sinta memberi kode untuk tidak di bantah. Dia memang orang yang tidak banyak bicara, namun jika sudah melirikkan mata dengan kode etik, maka urat keberanian para adik adiknya tidak akan hidup untuk membangkang.

Akhirnya Sinta juga mampu membujuk semua adik-adik, bahkan mereka menuruti apa yang diinginkan olehnya, untuk segera membantu proses tahlilan, yang mana harus segera di laksanakan sehabis magrib.

"Sinta, ibu Ani harus ke gereja. Apakah kamu sanggup mengerjakan semuanya sendirian?"

"Bisa, Bu Ani, terimakasih atas kunjungannya!"

Sinta segera menyiapkan segala sesuatunya, untuk acara tahlilan nanti malam, kepergian ayah kali ini telah membuat dirinya sangat tidak berdaya, merasa sangat lemah dah ketakutan untuk menghadapi hari esok, sebab kini dia sudah tidak memiliki ayah ataupun ibu.

Bersambung ....

What happened nantinya....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Anak anak yang malang.

Semoga tabah dan kuat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mantaap.
Aku penasaran pasal hubungan yang bagiku kurang sehat ini.
profile-picture
nona212 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nice one.
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan nona212 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

2. Masa-masa Yang Sulit

Duka yang di terima Sinta menjadi tangisan di antara setiap malamnya, yang tidak pernah lupa untuk dibagi, bahkan setelah dia mengembalikan semua takdir atas hidupnya, hanya kepada Allah di atas sajadah panjang saja, dia masih menangis, walaupun sudah sangat kerasnya mencoba. Namun tangis itu masih ditemukan di antara dua sujudnya. Apalagi terlampau banyak beban yang dipikulnya setelah kematian sang ayah.

Sinta menatap langit-langit ruangan, tempat dia biasa mengadukan apa yang berada dalam pikirannya, Yang mana sejak mereka menemukan napas islam, ruangan santai di rumahnya tersebut, menjadi tempat ibadah untuk keluarga, yang pasti beragama islam.

Ya walaupun mereka mualaf, bukan berarti done berhenti untuk tidak menambahkan ilmu agama, bukan? Ya walaupun ada beberapa hal yang pada intinya isi dalam kitab tersebut sama, yaitu mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan, dengan segala peraturan dan semua aturannya yang ada. Bahkan sejarah yang cukup sama. Walaupun harus memahaminya dengan nalar yang benar-benar sedang sehat.

Kemudian Santi melihat ke arah dinding dinding ruangan. Sedari ruang tamu hingga dapur. Terlampau banyak yang harus di perbaikan.

"Ayah, bagaimana aku harus membetulkan langit-langit itu? Sedangkan aku sudah tidak memiliki uang sama sekali." Sambil terus saja menatap langit langit rumahnya tersebut.

Pagi ini Sinta berjalan sangat lunglai, untuk mencari rezeki pada tumpukan sampah, areal penyaringan sungai, walaupun matanya nampak sayu dan tidak bersemangat, akan tetapi dia masih mampu berusaha untuk lebih baik lagi dalam hal menghadapi semua masalah yang akan membuatnya menangis tersedu-sedu nantinya.

Kemudian suara azan sudah memanggil, lalu dia mulai menyerahkan semua kehidupannya di antara tiap-tiap gerakan yang di lakukan dalam kecintaan nya yang sangat luar biasa. Yang membuatnya lebih kuat dari hari ke hari.

Walaupun senyuman manis sudah mengisi kekuatan dalam tubuhnya, namun demikian matanya belom lagi bisa berpura-pura untuk ceria dan bahagia. Masih nampak raut kesedihan yang mendalam.

Saat sedang melamun di tepian sungai, setelah keluar dari mesjid, tiba-tiba ada seorang pria menelpon, usianya lebih tua puluhan tahun darinya. Dan dengan penuh kasih dia mencoba beramah-tamah, sambil tersenyum sangat manisnya.

"Ada apa Sin?"

Nampak seorang pria yang sekarang sudah berada dekat dua jengkal dari ponsel Sinta, sosok yang lebih tua darinya ini memang menegurnya dengan sangat ramah lewat sebuah ponsel. Seolah-olah menawarkan kebahagiaan untuk sebuah senyuman manis di pipinya. Wajah yang sangat bersahabat dan bijaksana.

"Ayahku sudah meninggal, Om."

"Sabarlah! Semua yang hidup pasti akan pergi. Tidak ada yang abadi di dunia ini."

"Tapi aku ...."

"Katakanlah ada apa, Sayang?"

"Langit-langit rumahku sudah runtuh dan membentuk lubang yang sangat besar, sekitar dua papan plafon, yang mana menghabiskan dua meter papan dibagi empat."

"Kau butuh berapa, Sin?"

"Ah tidak, Om. Aku masih mampu mencari nya, hanya saja sedikit bingung saat memasangkannya di atas langit-langit tersebut. Karena belom aku pikirkan caranya."

"Mau aku pasangkan, Sin?"

"Ah tidak, rumah Om sangat jauh dari rumahku. Tidak usah. Biar aku kerjakan nanti bersama adik adik."

Wajahnya Sinta nampak bersemangat, setelah pria tersebut berkelakar, membuat tawa renyah yang benar-benar lepas, walaupun hanya sebatas ponsel ke ponsel, akan tetapi dia sudah mampu membuat senyuman Sinta merekah dengan lepas, apalagi setelah beberapa kali pria tersebut membuat semangatnya lebih terpicu ribuan oktaf.

"Don't ever shed tears easily, because they are too expensive to remove."

"Baiklah, Om! Sekarang bolehkah aku menyimpan semua foto-foto milikmu? Walaupun untuk sebagai wallpaper saja?"

"Of course honey! Go ahead."

Sinta kembali bekerja, karena masih banyak yang harus dilakukan, hari pun masih begitu siang, sehingga dia tidak lantas bergegas untuk pergi dari lahan pembuangan sampah tersebut.

"Sinta, kamu lagi butuh triplek bukan?"

"Iya, pak Warso! Apakah ada?"

"Coba kau cari di antara puing-puing yang baru saja di buang di lahan dekat spider."

"Baiklah! Terimakasih, Pak Warso atas informasinya."

Sinta menuju ke sebuah tempat, yang mana di sana sudah berdiri dengan tegaknya, sebuah spider yang telah siap untuk beratraksi pada siang hari ini.

"Hai Neng Sinta! Apa kabarnya kamu?"

"Baik, Paman!"

Sinta mencari papan di antara tumpukan puing dan sampah-sampah hasil pembongkaran rumah, dia kemudian melihat beberapa lembaran papan yang hanya berukuran sekitar sepertiga meter. Di ambilnya bersama beberapa balok kayu yang masih nampak baik dan bisa digunakan.

Di antara tumpukan puing, dia juga menemukan beberapa benda berkilau, seperti menemukan emas saja, dia kemudian mengambilnya. Sebuah ponsel Android yang nampaknya masih bisa digunakan, walaupun tampang wajahnya sudah tidak bisa di terima oleh mata semua orang yang melihatnya. Namun dia pada akhirnya membawa benda tersebut pulang. Bersama beberapa potongan kayu dan papan yang masih layak untuk dipakai.

"Dapat emas lagi, Sinta!"

"Eh Burhan, hehehe iye! Mayanlah buat punya punyaan, adek gue pan lagi butuh, kemaren merengek aja minta dibelikan, Alhamdulillah nemu di marih."

"Ini aye tambahin untuk beli casingnye, biar entuh ponsel jadi key baru. He he he he."

"Ealah, makasih ya! Jadi kaga enak gue."

"Anytime, lagian gue banyak elo tolong, waktu almarhum masih hidup. This time to me, untuk mengembalikan kebaikan terdahulu."

"Eleh, bisa aja elo tuh!"

Sinta kembali bekerja, menarik sampah dan mengangkatnya menuju tangan-tangan beko yang sedang di operasikan pada hari ini. Dia bahkan nampak sangat bersemangat untuk melakukannya.

"Dari sekian banyaknya pekerja wanita, elo yang kuat berada di antara tumpukan sampah busuk ini. Hebat loe, Sin!"

"Semua orang akan menjadi lebih hebat ketika dia memahami artinya sebuah pekerjaan. Di manapun beradanya."

"Dia mah bukan cewek, tuh tulangnya aja dah key laki. Ha ha ha ha."

"Haiii, berisik! Kerja elo semuanya."

"Wih takut!" emoticon-ceyem

Saat waktunya pulang, Sinta bergegas untuk segera sampai ke dalam rumahnya. Dia kemudian membawa semua benda-benda yang sudah dirapihkan, untuk di bawanya pulang. Semua pekerja hanya berdecak kagum, namun ada sebagian yang menyinyir karena kecantikan Sinta mampu membuat semua orang tak jemu memandangi dirinya. Walaupun saat panas teriknya matahari membakar tubuh Sinta, namun demikian tidak membuatnya takut jikalau kulitnya akan hitam terbakar matahari. Bahkan dia lebih memilih untuk berbaur dengan matahari, ketimbang diam saja di balik pohon-pohon besar untuk istirahat dan memanjakan kemalasannya saja.

Sesampainya di rumah, dia melihat adik-adiknya sedang melamun. Mendekati mereka dan bertanya ada apa. Ternyata lauk yang sudah di masak pagi ini telah di rampas paksa oleh para hewan milik Sinya yang sedang kelaparan, hingga membuat mereka tidak bisa menikmati sepiring nasi untuk sore hari ini.

"Ini kakak tadi di kasih uang kawan. Belilah makanan, setelah itu bereskan semua papan-papan ini, letakkan di lantai tiga dekat kandang di Jabrik."

"Kakak sudah makan?"

"Jangan pikirkan kakak, di sana banyak makanan yang bisa membuat kakak kenyang dengan kenyataan. Kakak pergi kembali ke penyaringan sampah dulu ya! Jaga kesehatan kalian!"

Di tengah perjalanan menuju tempat kerja, Sinta bertemu dengan seorang pria si trotoar jalan, yang mana dia nampaknya sedang kesulitan untuk membuat mesinnya kembali hidup. Sinta mendekatinya dan mencoba melihat kondisi keadaan mobil tersebut.

"Pak, kanvasnya harus di ganti sore ini! Akinya juga kendur dan karatan. Nah sekarang coba di gas!"

"Berhasil, Nak! Terimakasih."

Sambil menyodorkan beberapa uang kertas ke tangannya.

"Ini untuk cuci tanganmu yang kotor, Nak!"

Namun tanpa sengaja topinya terlepas karena angin yang berhembus dengan kencang, sampai-sampai rambutnya nampak terurai dengan bebasnya.

"Jadi kau wanita?"

"He he he, iye Pak! And then makasih ya untuk uang ini!" Berlalu dari hadapan pria tua tersebut, setelah merapihkan kembali semua rambut keriting yang sudah nakal keluar dari dalam sangkarnya.

"Ah ya Allah, terimakasih untuk rezeki hari ini! Lelahnya menjadi lillah, semoga saja Aaamiin."

Sinta menuju tempat kerja lalu kembali merapihkan semua pekerjaan yang belom sempat dirampungkannya tadi, untuk mengumpulkan papan dan beberapa balok. Walaupun dia melupakan bahwasanya perutnya tersebut belom terisi oleh makanan. Namun karena aktivitasnya yang padat, dia menjadi lupa atas rasa laparnya sewaktu keluar dari dalam rumah.

"Sin! Gue nemu jam tangan G-Shock! Hahaha ...."

"Widih, ori bray!"

"Emang elo aja yang selalu beruntung nemu, gue jugaan nih! Iri kan elo, Sin?' Hahaha."

"Masalah keberuntungan mah udeh di kasih bagiannya, jadi gue kaga iri sekalipun elo dapat emas. Nikmati aja bray! Eh elo shift malam sama siapa?" emoticon-Stick Out Tongue

"Berno, ujang dan divisi lima."

"Anjay awas jangan tidur, bahaya bisa kena SP nanti."

"Iye gue tau dah! Eh elo kenapa balik ke sini lagi? Lagi nyari apa?"

"Ngambil papan yang udeh gue pisahin dari sampah."

"Owh, kirain nyari gue. Ha ha ha ha!"

"Mending nyari semut ketimbang elo hahahaha."

"Suel, awas elo jatuh cinta ama gue!"

"Gam bakalan! Cinta gue hanya untuk coklat ama Jalu."

"Dasar sinting!"

"Ha ha ha ..."

Senja yang membuat kegaduhan semakin ramai, ketika ada yang berhasil mendapatkan bonus dari baunya sampah yang menumpuk di pembuangan sampah, terkadang kita tidak akan pernah tau, apa yang sudah di takdirkan untuk kita pada hari selanjutnya. So nikmati saja semua skenario alam, lalu melintasinya dengan bebas, sebebas kita menterjemahkan bahasa lapar dan haus.

Be hope to Allah, then You will find out what satisfaction is.

Bersambung.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Class! emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
sheema.israel dan delia.adel memberi reputasi
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 17 balasan
Melepaskan yang membebaskan.....tak terbebani lagi.....berkembang dan bergembira.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
aku kira real, ternyata fiksi ya sis. mampukah jika itu semua benar2 menimpa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ajiiibbb!!! Makin keren ceritanya sist, makin salut ama Shinta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sheema.israel dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Encang Wib

Ah edit aja part ini
profile-picture
profile-picture
sheema.israel dan banditos69 memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 11 balasan

3. Malam Mingguan

Selepas membereskan papan papan dan balok yang di kumpulkan dari tempat kerja, Sinta pun pulang, bergegas mandi untuk segera mengikuti pengajian, selepas magrib. Ya hari ini sudah genap empat puluh hari kematian ayahnya, seharian para adik adiknya sudah nampak sibuk mengurusi segala macam urusan untuk acara tahlilan, bahkan buku yasin untuk di bagi-bagikan sudah tersedia, rapih di atas meja.

Pria tua yang bernama Biyan peda akhirnya menghubungi Sinta. Seperti biasanya, menanyakan kabar untuk sekedar basa-basi.

"Sin, lagi apa?"

"Abis mandi, Om."

"Tumben mandi, biasanya langsung merebahkan diri."

"Hari ini tahlilan ayah yang ke ...."

"Iya, om tau. Kenapa tidak mau om transfer untuk meringankan bebanmu, walaupun sedikit saja?"

"Tidak, Om. Bagi aku cukup menjadi tempat sampahku saja, bukan rekening berjalanku."

"Kenapa?"

"Aku pergi dulu, sudah waktunya untuk menghadap Allah."

Hari ini Sinta nampak sangat sibuk, padahal malam minggu. Adik-adiknya bahkan sudah meminta izin kepadanya untuk melakukan aktivitas yang biasanya mereka lakukan pada saat malam mingguan. Namun untuk kali ini Sinta tidak mengizinkan.

"Kenapa tidak diizinkan, Kak? Aku kan bukan beragama Islam. Jadi tidak seharusnya mengikuti acara tersebut."

"Setidaknya kalian membantu untuk menyambut para tamu."

"Ya sudah baiklah!"

"Nias, bisakah mengambil karpet yang berada si atas lemari?"

"Ya, baiklah kak!"

Tamu yang datang ternyata lebih banyak dari biasanya. Untung saja Sinta membuat makanan berlebih, sehingga semua tamu yang datang semuanya kebagian, bahkan dia sangat bersyukur karena acara selesai dengan tanpa mengecewakan.

Namun Ibu Ani nampak menitikkan air mata, saat semua makanan khas kesukaan ayah, habis tak tersisa.

"Terimakasih atas bantuannya, Bu!"

"Nak, besok ibu akan pulang ke Cepu, jaga diri kalian ya!"

"Ya, bu. Tapi aku hanya bisa kasih sangu untuk ibu sekedarnya saja. Maaf ya!"

"Tidak usah, Nak! Simpan kembali uang itu. Plafon rumah sudah harus banyak yang diganti, maka pikirkan saja itu terlebih dahulu. Sudah musim hujan, jangan sampai kalian tidak terlindungi dari cuaca buruknya."

Saat semua kembali hening, tanpa suara suara tawa dan obrolan. Santi masuk ke dalam kamar, sudah malam pula. Dia duduk di antara balkon dekat kamarku, lalu melihat langit dan memandangi nya dengan tatapan kosong. Tiba-tiba Biyan menelponnya.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"

"Waalaikum salam wr wb. Bagaimana acaranya, sayang? Apakah air matamu masih menetes? Kesinlah, biarkan aku membasuhnya."

"Seperti biasa, namun tanpa air mata untuk kali ini,"

"Good girl. Pasti hari ini kamu cantik sekali, apalagi jika sudah makan. Ayo segera ambil piring dan fotoin!"

"Ah Om, aku malas!"

"Kalau begitu aku akan menghilang darimu, Sayang!"

"Ya, baiklah! Aku ambil makan then fotoin makanan nya ya!"

Sinta mengambil sepiring nasi, sudah menjadi kebiasaan, jika setip makan harus setor foto untuk Biyan, seolah-olah dia akan sangat tenang jika sudah melihatnya makan. Walaupun jumlah nasinya tidak sebanyak yang seharusnya. Karena memang kadar makanannya tidak banyak.

"Aku sudah absen makan tuh, Om. Sudah tidur belom?"

"Belom, menunggu kamu untuk bermain-main bersama para bintang. Aku kangen sekali, Sin."

"Ya sudah lama kita tidak bermain-main dengan bintang, nanti setelah selesai makan, mari kita melepaskan rindu dengan permainan para bintang."

Malam ini sengaja Biyan mencoba untuk begadang, padahal biasanya dia tidak akan mau melakukannya. Karena dia sangat menjaga kesehatan, di tanah perantauan, yang mana jumlah saudara tidak ditemukan, hanya saudara seiman dan sependeritaan saja.

Tiba-tiba datang saudara dari pihak ayahnya dan menyapanya dengan penuh kasih sayang yang konyol.

"Eh monyong! Pacaran mulu. Cieee mukenye merah. Abis di apa-apain tuh. Mesuman ya?"

"Apaan sih abang!" Lalu berlari menuju kamar dan menutup pintunya."

"Wah pintunya di tutup. Masturbasi ya?"

"Abang apaan sih! Ngeres ih."

"Ha ha ha ha, becanda dek! Kamu sudah makan ya! Ayo taruhan catur sama kawan abang. Siapa tau menange. Kan kamu jago tuh!"

"Wah iya, mauuu hahahaha." Sinta keluar dari kamar menuju ruang tamu dan bergabung dengan kawan abang-abang nya di teras depan, sambil menawar papan catur. Tetapi itupun setelah dia mengakhiri percakapan dengan Biyan, yang nampaknya sudah mengantuk. Karena memang dia tidak terbiasa untuk bergadang.

"Siapa yang berani menantang aku nih!"

"Jadi adek elo yang jago catur cewek? Gak mau gue! Nanti kalau kalah nangis lagi. Lagian permainan cewek pasti banyak tipu muslihatnya."

"Adek gue ini profesional, kalau elo bisa menang lawan dia, gue kasih bonus cepek. Ha ha ha!"

"Will see!"

Permainanpun di mulai, Sinta banyak menawarkan pion-pion untuk di makan oleh kawan abangnya yang bernama Sujuli. Dia membiarkan pria tersebut lengah karena kekenyangan memakan semua perangkapnya, bahkan merasa dirinya akan segera memenangkan pertandingan tersebut. Tapi tiba-tiba Sinta mulai menekan kuda-kudanya.

"Skak!"

"Waduh, itu terlampau mudah neng!"

"Skak!"

"Waduh!"

"Skak mat!"

"Anjirrr permainannya alus, gila ini baru wanita seribu akal bulus."

"Udeh gue bilang dia jago, kaga percaya sih!'

"Kenapa kaga ikut kontes catur tunggal di aruma saja, Neng?"

"Sibuk! Banyak kerjaan di rumah. Permainan itu memakan waktu, biaya dan tempatnya jauh. Malas. Lebih baik taruhan seperti ini, nyata uangnya. Hahaha ...."

"Anjayyy mati lagi gue! Gila elo licin banget, Neng! Pertahanan nya kuat. Gila. Gak bisa main-main nih gue!"

"Taruhan lagi gak?"

"Untuk banteng, lima puluh ribu."

"Cepe aja bang! Berani kaga?"

"Wait, mikir dulu."

Saat abangnya hendak membuat kopi untuk kawan-kawan nya yang lain, Sinta juga memintanya. Sambil menunggu Sujuli berpikir.

"Abang, bikinin aye kopi sekalian ya!"

"Wah dasar adek songong! Ya dah pakai jahe kaga?"

"Eh buset, kopi kok pakai jahe?" Kata rifal, pria yang berbaju merah yang sedang meronce anyaman.

"Adek gue itu unik, dia kopinya penuh sentuhan mental, makanya jago main caturnya."

"Wah, gue juga mau deh nyobain rasanya."

"Deal, seratus ribu."

"Ok, jalan kalau begitu."

"Skak buat elo neng! Ha ha ha ha."

"Skak mat buat elo, bang! Ha ha ha ha ...."

"Anjirrr gila, nyerah gue. Ngadepin cewek macem elo nguras keringat. Ha ha ha ha."

"Abis berapa elo, Jul?"

"Delapan ratus rebu, taruhan dia gede mulu, kaga mau kecil. Mainnya di nominal cepek. Gila ...."

"Siapa lagi nih!? Gakda lawan apa dah?"

"Main remi aja, Neng! Mau kaga?"

"Ayo dah! Jangan nangis kalau uang kalian abis ama gue ya! Ha ha ha ...."

"Tawanya ngeri bray .... Gue kaga ikutan dah. Kuntilanak kalau malam malam bisa bikin nyawa ilang. Horor." Iwan yang berbaju putih menyerah tanpa mencobanya terlebih dahulu.

"Kopi jahe datang ...."

"Eh buset, jahenya segede ini?"

"Nikmati aja rasanya, bawel amat dah!"

"Slurp ... Anjayyy gila enak nih!"

"Ayo dah bagi kartunye."

Mereka asik bermain judi hingga larut malam, bahkan sampai menjelang dini hari. Sampai pada akhirnya di tegur oleh Nias yang tergangu karena bising nya.

"Perasaan, kamar ini kedap suara dah, kenapa bisa pada keganggu?"

"Pintunye elo buka, bang! Dasar dodol. Udeh ah mau bikin adonan untuk jualan besok di pintu tol."

"Sin, elo kaga ngantuk?"

"Kaga bang, udeh biasa susah tidur."

Sinta menuju ke dapur dan mengolah bahan makanan, hingga pada akhirnya kawan-kawan abangnya mencicipi masakannya. Dan akhirnya tertidur karena kekenyangan.

"Kak, sejak kapan abang datang?"

"Sekitar jam sebelas malam, dek! Ibu ani yang membukakan pintunya. Bagaimana keadaan Putri, apakah masih demam?"

"Tidak! Dia sudah membaik, sekarang lagi melipat pakaian di kamar."

"Kamu bantu kakak bawakan dagangan ke pintu tol ya!"

"Iya, kak!"

"Hoammm ...."

"Eh Farhat, baru bagun? Mandi dan segera bergegas lah ke Gereja, jalan pasti macet. Lepaslah!"

"Kakak kali ini tidak mengantarkan aku?'

"Tidak! Sehabis dagang kakak mau tidur saja. Belom istirahat."

"Baiklah, kak!"

"Uangnya ada di rak, seperti biasanya. Kak pergi dulu ya! Hati-hati di jalan, ingat jangan ngebut pakai motornya."

"Iya kakak."

Sinta dan Nias segera berlalu, mereka menuju pintu jalan tol untuk menawarkan nasi uduk dan nasi kebuli, yang mana sudah memiliki pelanggan tetap yang membuat dagangan mereka lekas laris. Bahkan sangat di sukai oleh banyaknya orang.

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Beuh boleh nih kapan kapan tanding catur emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan delia.adel memberi reputasi
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 12 balasan

4. Melek Untuk Hidup

Saat Sinta pulang dagang bersama Nias, sudah ada Siti kawan masa kecilnya di depan pintu rumah, nampak wajahnya sangat sedih, bahkan ketika melihat Sinta, air matanya langsung tumpah begitu saja. Hingga membuat banyak tetangga, yang memperhatikan mereka berdua.

"Sudahlah jangan menangis, masuk ke kamarku yuk! Duduk di balkon itu lebih enak, sambil menikmati langit siang yang kurang asupan matahari."

Siti mengikuti Sinta masuk ke dalam rumah, naik tangga dan menuju ke arah balkon. Sedangkan Nias membuat kopi dan secangkir teh untuk Siti.

"kak Nias, putri lapar!"

"Kenapa tidak makan?"

"Lauknya tinggal dua, putri jadi tidak tega memakannya, kak!"

Sambil tersenyum dengan manis, kemudian Nias berkata, "makan saja! Di kulkas masih banyak makanan yang tidak akan habis untuk seminggu."

"Tapi bukankah ini tanggal tua, Kak?"

"Rezeki itu bisa datang tidak terduga duga, dik! Kak Sinta menang judi semalam. Dia tadi belanja banyak di pasar sehabis dagang di pintu tol."

Akhirnya putri makan dengan lahapnya, bahkan sambil tersenyum dan mengucapkan syukur atas karunia yang diberikan Allah kepada keluarganya, hingga selalu menjaga mereka dari rasa lapar dan semua kesulitan. Sampai pada akhirnya dia mengingat kalimat ibu nya yang berbunyi: "jangan pernah takut untuk menjalani kehidupan ini, selama dalam hati kita mempercayai Allah untuk mengurus segalanya, percayalah dan yakin, karena hanya itulah yang terpenting dalam hidup ini, percaya hanya kepada pemberi rezeki yang seharusnya."

Nias kemudian menghampiri Sinta dan Siti, nampaknya mereka sedang asik meronce bunga, walaupun air mata Siti masih terus saja mengalir deras.

"Ini minumnya, Kak!"

"Terimakasih, Nias."

Nias kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil sekantor bunga, untuk dironce, karena hari ini ada pesanan buket bunga.

"Sin, yang gue kaga terima adalah dia itu lebih memilih lonte itu! Menjijikkan sekali."

"Jangan menilai orang berdasarkan covernya. Apakah kamu merasa lebih baik dari wanita itu?"

"Ya iyalah, Sinta!"

"Sejauh mana hubungan kalian? Apakah sampai kepada permainan di atas ranjang? Berapa kali dilakukan dalam seminggu?"

"Eh itu, itu ...."

"Apa bedanya dengan wanita yang kamu sebut lonte itu? Bukannya aku membela wanita itu. Tapi jangan suka merendahkan wanit lain demi untuk sebuah pembenaran. Lihat diri sebelum kita mencela. Kadang manusia itu kebanyakan micin, hingga lupa jilaau tanpa garam, maka tidak akan ada rasa yang lebih ditemukan."

"Tapi dia benar-benar lonte, tarifnya itu seharga ...."

"Masih bagus dia memberikan harga, terang-terangan mengakui bahwasanya dia lonte, lah kamu apa ada harganya?"

"Sin, aku ...."

"Siti, berapa bulan usia kandungan kamu?"

"Dua bulan."

"Sudah bilang sama Mas Angga?"

"Ya, dia mau tanggung jawab tapi dengan syarat aku harus menerima wanita lonte itu, bisa kau bayangkan bagaimana kehidupan aku nanantinya bersama dengan lonte itu?"

"Sudah kau tanyakan alasannya kenapa harus mendua?"

"Belom."

"Kadang rasa cemburu itu merusak cara mata pandangan kita kepada dunia lain. Merasa paling benar dan istimewa. Namun jika saja kamu mau melihat lebih ke dalam, kamu pasti memahami kenapa Mas Angga tidak bisa memilih di antaranya."

"Memangnya ada apa dengan mas angga dan wanita itu, Sin?"

"Coba kau tanyakan saja dia, Sit!"

"Tapi aku takut kenyataan yang akan terjadi berikutnya."

"Jika takut untuk melangkah, maka selamanya kamu tidak akan pernah bisa mendewasakan diri."

"Baiklah, akan aku coba. Sinta, jikalau nantinya bayi ini tanpa ayah, apakah kamu mau mengajariku untuk lebih ikhlas dan merelakan?"

"Aku rasa jawabannya bukan dari mulutku, tapi hati kecilmu. Ikuti saja apa yang menjadi keputusannya."

Siti pada akhirnya pergi dari rumah Sinta, dia pamit pulang untuk menstabilkan dirinya dan menyelesaikan semua masalah yang sedang dihadapinya tersebut.

Nias dan putri menghampiri Sinta dan bertanya tentang buket bunga yang sedang di roncenya. Karena ternyata pemesanannya sudah datang untuk mengambil semua pesanannya tersebut.

"Sudah jadi, adik-adik! Itu di atas meja."

"Baiklah, Kak! Aku akan mengantarkannya sekarang."

"Kakak mau istirahat sejenak, kalian jangan ganggu kakak ya! Atur apa yang harus di atur, jaga apa yang harus di jaga. Kalian paham bukan?"

"Ya, kak!"

Akhirnya Sinta masuk kamar dan mencoba untuk tertidur, itupun setelah dia membalas chat sari Biyan yang sejak tadi tidak dibalasnya, karena kesibukan di hari ini membuatnya jauh dari ponsel.

"Apa kabarnya hati ini sayangku, matahariku?"

"Baik, Om. Bagaimana dengan kamunya?"

"Kangen setengah hati."

"Jadi belom bulat toh kangennya?"

"Belom, sebab aku belom di kasih rasa sayang dari wanita si hidung jambu."

"Hum, aku cemburu. Siapa dia?"

"Ha ha ha ... Rahasia manis!"

"Ah ya sudah aku tidur saja. Daripada emosi karena cemburu."

"Okelah, coba ngaca dan perhatikan hidungmu itu!"

Sinta melihat ke arah cermin dan tertawa sendiri.

"Sudah belom? Cieee pasti merah pipinya tuh!"

"Ah apaan sih, Om!"

"Ha ha ha ... Sekarang kangennya sudah hilang! Tidurlah, lalu bermimpilah bersamaku. Kita tidur sama-sama dalam buaian rasa sayang."

"Hoammm, iya selamat siang! Sampai jumpa nanti."

Sinta pada akhirnya tertidur dengan pulasnya. Padahal seharusnya hari ini dia membetulkan plafon rumah yang sudah tidak layak pakai tersebut. Karena jikalau hujan sangat deras, maka di dalam rumahnya pun akan mengalami hujan yang akan membanjir rumahnya, hingga semua barang-barang yang berada di bawahnya sudah pasti basah semuanya.

Datang farhat dari gereja dengan membawa banyak sekali makanan. Lalu di panggil nya semua adik dan kakak untuk bisa menikmati semua makanan bersamaan. Namun putri mengatakan bahwasanya Sinta tidak ingin di ganggu, dia butuh istirahat dalam waktu tiga jam, sebab rasa kantuknya tadi sudah tidak bisa di bendung.

"Kalau begitu susahkan untuk kakak!" Farhat mulai mencari wadah untuk menyisihkan makanan yang dibawanya.

"Kak Farhat, ini apakah daging anjing?"

"Bukan! Tidak ada daging anjing yang aku bawa. Sebab aku tau kalau kak Sinta tidak memakannya."

"Kalau ini, apakah isinya daging anjing?"

"Tidak ada yang berisi daging anjing! Apakah kamu ingin makan daging anjing, Kristen?"

"Ya kak, aku ingin sekali."

"Makanya jika di bangunkan jangan sulit. Dik, nanti malam akan ada acara di rumah Atuk Alang. Kita bisa makan anjing nanti di sana."

"Baiklah, kak!"

Mereka menikmati semua makanan tersebut. Yang mana berasal keluarga Jhon, yang mana karena banyaknya makanan tersisa, maka ibunya Jhon membekalinya untuk di bawa pulang. Dan dari semua bekalnya tersebut, dia tidak membawakan daging anjing ataupun makanan yang mengandung unsur-unsur anjing di dalamnya.

"Kak, di gereja itu setiap hari pasti ada makanan ya?"

"Tidak juga! Sudah makanlah. Jangan banyak bertanya, nanti tersedak."

Tak seberapa lama, azan berkumandang. Nias segera membangunkan Sinta untuk segera melaksanakan ibadah. Namun saat mau mengetik pintu kamar, ternyata kakaknya sudah terbangun dan bergegas untuk mandi.

"Tumben kakak mandi?"

"Abis kejatuhan kotoran dari lantai atas tadi."

"Apakah Bogel keluar dari kandangnya lagi, Kak!"

"Nampaknya seperti itu. Cobalah kamu lihat lagi kandangnya yang berada di lantai tiga."

"Baiklah kak! Tapi apakah sebaiknya dia dipindahkan saja di bawah kandangnya kak?"

"Jangan dulu, tunggu saja tiga hari lagi, dia masih dalam posisi penuh virus. Bahaya untuk kesehatan."

"Tuh dia berkokok lagi, kak!"

"Ya jelas berkokok, dia itu sudah membuat tubuhku kotor dengan stabil, mendarat pas di atas kepalaku. Coba nanti katakan kepada Farhat untuk membeli paku, kakak mau membetulkan flafon dan genteng-genteng yang bocor."

"Baiklah, kak!"

Setelah Sinta sudah selesai melakukan aktivitas nya, kemudian dia mengajak adiknya untuk membetulkan genting dan flafon. Terutama di lantai atas. Setelah itu barulah di lantai bawah. Tepatnya di ruang tamu.

"Sinta ....sin ...sinta ...." Abangnya ternyata sudah terbangun dan mencari-cari dirinya. Lalu bertanya kepada Nias yang sedang sibuk membersihkan rumah.

"Nias, Sinta mana?"

"Di atas genting, kak!"

"Sudah aku bilang panggil saja tukang, kenapa juga nukang sendirian. Sok bisa saja.'

"Biar lebih hemat, kak! Lagian kerjaan itu kelihatan, sudah pasti kak Sinta mampu melakukannya."

Abang langsung menyusulnya ke arah atap rumah, melihat seorang wanita yang sederhana itu sedang memaku bagian genting di sisi kanan menuju bagian dapur. Kemudian dia berteriak. "Woii wanita besi! Nanti malam ada balapan liar, mau ikutan tidak? Taruhannya Revo dan ...."

"Sudah tau, maaf aku tidak bisa ikutaan lagi. Sudah janji sama pacar ku untuk tidak ikutan."

"Tapi hadiahnya bukan hanya Revo loh!"

"Sudah tau!"

"Ada tiket ke palu juga tuh!"

"Tidak mau! Aku sudah tidak ingin ke Palu, musuhan sama kawan yang ada di Palu."

"Ya sudahlah! Mau aku bantu tidak?"

"Mau, tolong betulkah plafon di ruang tamu."

"Baiklah!"

Abang pada akhirnya turun dari atap dan mencoba membantu Farhat untuk membetulkan plafon.

Sejam sudah berlalu, Sinta nampak sudah puas dengan pekerjaannya, walaupun tidak sebagus yang seharusnya, namun intinya adalah terlindungi dari hujan dan aman untuk digunakan.

Saat sedang duduk santai di ruang tamu, tiba-tiba abang bertanya kepadanya, "Sin, apa uang elo cukup untuk hidup bersama dengan adik-adik elo?"

Quote:


"Jika ada apa-apa, bilang sama abang ya!"

"Untuk apa bang?"

"Kita nangis sama-sama! Ha ha ha ha."

"Sama Linda juga gak?"

"Boleh, apalagi kalau dia mau aku ajak hum ...."

"Jangan pernah berpikir ke sana, jika belom mampu kedisiplinkan diri untuk lebih dewasa."

"Hai apa maksudmu aku itu kurang dewasa?"

"Kurang uang yang jelas ha ha ha ha."

"Dasar! Aku ingin menikahi Linda, tahun depan pokoknya!"

"Aamiin kak!"

"Bantu ya!"

"Ogah! Ha ha ha ...."

"Sintaaa ...."

"Abang ...."

"Laper, Sin!"

Pada akhirnya senja menambah suasana menjadi lebih riuh untuk di jalani. Tidak ada hujan yang membasahi halaman rumah, bahkan tidak ada mendung yang membuat kekhawatiran keluarga Sinta akan sebuah kata "hujan"



Bersambung .....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 16 balasan

5. Dia Itu Bajingan

"Sintaaa ...." emoticon-Mewek

Siti langsung memeluk Sinta yang baru saja keluar dari tempat kerja dan hendak pulang ke rumah. Aksinya nampak menghebohkan, hingga semua orang di tempat itu memperhatikan mereka berdua. Hingga pada akhirnya pelukan Siti dilepaskannya dengan paksa oleh Sinta. Kemudian sedikit berkelakar dengan kawan-kawannya.

"Apa elo lihat-lihat, Bang! Masih normal gue!"

"Aduh, hampir aja jantung abang copot karena cemburu, Neng!"

"Neng, bilangin kawannya, aye jugaan mau di anu." emoticon-Malu

"Neng, gantian dong!"

"Woii gue lagi sedih! Jangan di becandain napa! Kalau nanti elo gue suruh nikahin gue, apa pada mau?"

"Mauu, mau neng! Sekarang aja yuk!"

"Sin, apa mereka ...."

"Hanya bercanda saja! Tidak ada yang benar isinya. Udeh hapus air matamu, naik ke motor kita pulang."

"Gue lapar, ke warteg dulu, Sinta!"

"Gue lagi bokek! Elo makan sendirian aja ya!"

"Ich kaga mau! Gue traktir deh!"

Sebenarnya Sinta merasa tidak enak di traktir, makanya dia tidak segera bergegas masuk warteg, walaupun Siti sudah memesan dan makan dengan lahapnya. Sinta berada di tempat parkir, bahkan memarkirkan banyak mobil mobil yang hendak menikmati makanan di warteg tersebut.

"Eh, elo ngambil lahan gue! Siapa elo?"

"Kaga ngambil lahan, Bang! Cuma tadi bantuin yang pada susah cari lahan parkir, nih duitnya buat elo tuh." Sambil berlalu pergi. Namun saat hendak ke dalam warteg, Sinta bertemu dengan Mas Angga, yang mana sedang bergandengan tangan bersama kekasihnya.

"Eh, Sinta! Kebetulan, ini ada oleh oleh dari mami. Tadinya mau kerumahmu, tapi karena sudah bertemu, ya sudah tidak jadi."

"Terimakasih, Mas. Mau makan di warteg?"

"Iya, Melda ngidam mau makan di sana."

"Sebaiknya jangan ke sana! Ada ...."

Angga melirik ke arah warteg dan akhirnya paham kenapa dia tidak diperbolehkan untuk masuk ke sana.

"Mel, kita cari warteg yang lainnya yuks!"

"Tidak mau! Aku hanya mau di sana, Angga!"

"Ya sudah jikalau seperti itu. Maaf Sinta, kemauan Melda lebih penting dari apapun juga."

Akhirnya mereka mendatangi warteg dan bahkan melihat Siti dengan pandangan acuh saja. Hal ini membuat Sinta serba salah dibuatnya.

"Sit, ayo kita pulang!"

"Makanan kamu belom habis."

"Bungkus sajalah!"

"Halo lonte, bajingan! Rupanya kalian lagi bulan madu di warteg ya? Pantesan aja tiba-tiba panas. Ternyata ...."

"Hai sayang! Apa kabarmu cantik."

"Hai, manis! Makan sama-sama yuk. Aku lagi kepingin makan empal goreng bu nunik nih."

"Dasar tidak tau malu ...."

Sinta menangkis serangan yang akan segera lepas landas menuju ke arah Melda. Karena rasa kesalnya sudah mulai naik ke ubun-ubun dan dia tidak bisa mengontrolnya lagi. Sinta membawanya ke motor dan segera membawanya pulang.

Di sepanjang jalan Siti mengumpat dan mengeluarkan banyak air mata. Sampai-sampai semua orang memperhatikan dirinya.

"Udeh cukup nangisnya! Kalau eli key gini, apa mereka kasihan? Tidak! Mereka bahkan mentertawakan dari belakang tentang kelakuanmu yang seolah-olah bagaikan bidadari yang terluka."

"Elo gak tau perasaannya gue sih!"

"Gue tau dan paham! Tapi apa perlu memusuhi mereka sedalam ini? Balas dendam yang tepat ialah elo nunjukin, bahwasanya laki bukan die aja."

"How to be?"

"Lebih tegar. Bukan buat elo. Tapi buat janin yang ada di dalam rahim elo. Cukup minta tanggung jawabnya aja, dalam bentuk apapun itu. Setelahnya elo bisa hidup dengan anak elo, tanpa virus mematikan perasaan. Dendam itu hanya bikin elo semakin bego, paham gak?"

"Iya iya, seminggu lagi kita nikah. Dia gak bisa melepaskan lonte itu karena dia adalah cinta pertamanya. Dan sedang hamil besar. Mereka menikah siri.'

"Elo nanti nikah siri juga?"

"Ngaklah! Nikah KUA tanpa keramaian."

"intinya kedua belah pihak keluarga mengetahuinya bukan? Lalu untuk apa lagi menangis. Jangan terlampau murah mengeluarkan air mata. Sayang! Apalagi untuk pria yang tidak pantas, untuk apa?"

"Sintaaa ...."

"Hari ini nangis sepuasnya di kamar gue, besok kudu baik-baik aja ya!"

Siti mengangguk lalu Sinta pun mandi untuk membasuh semua kotoran yang melekat sejak pagi harinya. Sedangkan Nias baru saja pulang dari mengantarkan buket bunga, kemudian menyiapkan makanan untuk makan malam nantinya.

Sehabis mandi Sinta mengecek ponselnya, ada hanyak chat yang belum di balasnya, karena sejak siang dia sibuk dengan pekerjaannya, hingga lupa untuk membalasnya satu persatu. Bahkan ada chat dari Biyan yang nampaknya dia sangat kesal karena tidak kunjung dibalasnya.

"Hai sayang! Sudah makan belom? Mana setoran fotonya?"

"Yank kok tidak di balas?"

"Yang lama banget, lagi apa sih!?"

"Yank,"

"Ya sudahlah! Badmood."

Kemudian Sinta membalas nya.

"Maaf aku seharian sibuk sekali. Nanti aku post fotonya waktu makan malam."

"Tidak mau nanti! Harus sekarang, atau ..."

"Haduh, ya dah iya. Aku ambil nasi dulu."

Kemudian Sinta bertanya kepada Siti, apakah dia mau makan bersama dengannya atau tidak. Namun Siti memilih diam tanpa ingin diganggu.

"Baiklah! Nanti jika kau lapar ambim saja di dapur ya!"

Sinta kemudian memoto makanan dan minuman. Bahkan dia menyelipkan foto ayam jagonya juga.

"Gue kaga butuh foto ayamnya, dodol!"

"Itu baguslah! Artinya kamu normal. Tidak jatuh cinta sama ayamnya."

"Tarik pipinya nih!"

"Tarik bibirnya nih!"

"Ha ha ha ha ...."

"Ha ha ha ...."

"Saling tarik nanti bisa ..."

"Zonk ha ha ha ha."

Mereka berkelakar hingga lupa jikalau Siti masih berada di dalam kamar dalam keadaan duka. Hingga pada akhirnya malam semakin larut dan Sinta pun merasa kantuk. Saat masuk kamar dia sangat terkejut.

"Oh em gue ...."

"Ternyata dia maaih di sini sampai tertidur. Maaf ya Siti, aku kelamaan pacaran nya."

Sinta membiarkannya Siti untuk terlelap dalam tidurnya.

.......

Bersambung

Ngantuk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Lagi curhat realita hidup yg lagi di jalani kah?? emoticon-Coblos
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh sheema.israel
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Halaman 1 dari 5


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di