CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61aaee98aa91d93c51341382/never-ending-drama

Never Ending Drama

Tahun 2012, Semester Pertama.

Aku tercekat, badanku kaku, tak percaya. mobil kijang itu menjauh dan perlahan mengecil, aku tak sempat berpikir bahwa aku, Riangga Septa, akan ditinggal seperti ini. Perlahan aku merasakan dadaku sesak, dibuat, dipaksa, tinggal di tempat asing, mengasing, di sebuah Pesantren.  

sebetulnya, aku tidak tahu pesantren itu seperti apa, saking kolot dan kampungnya. inikah sekolahku? tanyaku dalam hati, sambil melihat ruko dua petak berlantai dua. di lantai dua itulah asramaku, dibawahnya malah ada yang jualan lontong dan ruko, disebelah ruko ternyata ada warnet, iyuh, ketika itu aku masih jijik dengan tempat hiburan seperti warnet, ps, dsb. melihat sendal-sendal yang berserakan di depan warnet itu saja aku sudah ingin muntah, becanda.

sebetulnya, adegan tadi cuma seperkian detik, iya gak nyampai 3 menit. setelah mobil kijang yang berisi keluarga gue pamit. gue yang gak nyangka masuk pondok pesantren masih aja mematung di pinggir jalan, depan ruko lontong itu. 

Barang-barang sudah dimasukan ke asrama, mulai dari kasur dan lemari, semuanya sudah tertata rapi di kamar yang berisi 4 orang itu, dengan dua ranjang bertingkat. sialnya gue dapat ranjang yang mengarah pintu, di bawah pulak. bukan ranjang atas yang gue pengen. hadehh.

gue melangkah menaiki tangga yang ada disamping ruko. diatas masih disibukkan dengan anak-anak pondok yang berdatangan dan memasukkan barang ke kamar masing-masing. saat diatas, ada satu anak yang tersenyum liat gue.

saat itu langsung aja gue tembak. "kenapa? ada yang lucu?"  

"hahaha, enggak, lucu aja liat lu dicium sama nenek lu"

"itu bukan nenek gue, tapi emak"

"oh" ucapnya, gue pun berlalu dan tuh bocah yang tinggi, berisi dan badannya jauh lebih besar dari gue mengikuti gue dari belakang. karena diikutin mulu, dah kek kucing sama tuannya akhirnya kita temenan. Namanya Fajri. sahabat atau hewan peliharaan yak? canda dengg!

hmmm. gue tidak menyangka akan masuk pesantren saat itu, lebih tidak menyangka lagi akan nulis cerita perihal itu disini, bisa dibilang ini adalah kisah hidup gue yang saat itu mulai ada drama-dramanya. cerita ini akan bikin lu bosan. yakin mau baca?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Haaztre13 dan 2 lainnya memberi reputasi
lanjut gan.
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-Hi

Lanjut gan. emoticon-Recommended Seller

Bosen ga bosen lihat nanti di kelanjutannya. emoticon-Recommended Seller
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
semoga ini adalah drama dengan bumbu eksyen-semi-horor emoticon-Angkat Beer
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Kepingan Pertama

Gue terbangun sambil mendekap dada. Udah hampir seminggu gue merasakan hal magis semacam ini. Juga sudah menjadi topik hangat dikalangan santri lainnya. Bahwa hanya dengan mendengar suara langkah kakinya, kita bisa kebangun dari tidur. Gue melirik ke ranjang sebelah, Taufik–teman sekamar gue juga terbangun karena kekuatan magis sang ustad.

Hal yang mengagetkan dan membangunkan gue adalah bunyi kresek saat pintu sang ustad terbuka. Dada gue bergemuruh rasanya, kayak baru terbangun dari mimpi buruk. Gue kemudian mengusap mata dan menghidupkan lampu kamar yang berada dekat dengan ranjang gue.

"Click" lampu hidup.

Sekilas gue bisa melihat tatapan tidak suka di wajah Taufik. Dengan santai gue melangkah keluar. Menuju kamar mandi dan ternyata sudah banyak yang terbangun subuh itu. Gue bisa melihat 2 santri sedang mengantri

"Ustad kemana bang" tanya gue kepada salah satu santri senior bernama Khairil.

Dengan wajah mengantuk dia menjawab "tuh dari tadi di dalam".

"Kok antum udah bangun?" Tanyanya.

Gue yang keheranan teringat sesuatu. Sejak tadi gak ada kedengaran suara pengajian di masjid. Jangan-jangan sekarang masih...

Gue melangkah ke ruang tengah. Melewati lorong-lorong yang temaram. Pintu kamar yang berhadap-hadapan di pinggir masih tertutup. Setelah sampai disana gue melihat jam yang berdetik. Menunjukkan pukul 3:21 am. Sialan gue tersihir sama si ustad yang kayaknya kebelet berak malam itu juga. Bajingan!

Gue melangkah masuk ke kamar gue yang berada di sisi kanan ruang tengah tersebut jika kita berjalan dari kamar mandi. Lampu sudah mati dan gue lihat Taufik sudah menyelinap dalam selimutnya.

Hmmm, bisa-bisanya gue di prank tengah malam begini.

Saat gue merebahkan badan di kasur. Gue gak sengaja mendengar Taufik ngomong dengan sinisnya.

"Baru juga jam 3 udah lu hidupin lampunya"

"Apa lu bilang?" Tanya gue saat itu mendadak emosi. Lama-lama nih anak pengen gue ajak gelut. Sedari masuk pondok udah songong kelakuannya.

Tapi tidak ada balasan dari Taufik.

Gue mencoba menutup mata, tapi gak berapa lama terdengar ...

"Bangun, bangun. Udah mau adzan ini" terdengar suara senior yang gue sapa tadi di depan kamar mandi.

Ah, sialan! Gak jadi tidur gue.

~~~

"Udah seminggu, gini-gini doang?" Tanya Fajri.

"Diem!" Umpat gue sambil jari tunjuk gue acungkan dibibir. Nih anak, suaranya gede kek badan bongsornya.

Gue mengangkat bahu. Kita belum sekalipun mengecup pelajaran formal. Masuk kelas pun hanya disuruh baca al-Qur'an dan solat Dhuha. Lalu habis dzhuhur pulang. Guru yang masuk pun baru pembina asrama yang punya kekuatan magis itu. Namanya ustadz Zainal. Zainal Arif LC. Dia lulusan timur tengah, di Mesir tepatnya. Jadi selama di kelas dia cuma bercerita soal gimana dia kuliah disana. Hmm, gue sebetulnya tidak terlalu tertarik sih.

Saat itu gue yang lagi asik ngobrol sama Fajri di bangku belakang merasakan sesuatu menimpa kepala gue. "Njir, apa nih?" Tanya gue melihat sekeliling.

Semuanya kelihatan normal, tanpa ada gerak gerik mencurigakan. Gue pun tidak tahu apa yang menimpa gue. Rasanya kayak ditimpuk kerikil.

Gue melihat ke ke lantai, mencari-cari sesuatu.

"Plak" Lagi-lagi kepala gue headshot.

Sebuah bulatan kertas yang besarnya sebiji jagung bergelinding di meja gue lalu jatuh ke lantai. "Siapa yang ngelempar Bro?" Tanya gue saat itu.

Fajri cuma ketawa sambil menutup mulutnya, tapi di matanya gue bisa melihat dia menoleh ke kursi seseorang yang berada di sudut kanan kelasnya, tepatnya meja kedua dari belakang, sedang gue dan Fajri di meja paling belakang deretan tengah.

"Kalau gak salah nama dia Adit kan?"

Fajri yang masih saja ketawa sambil menutup mulut mengangguk. Kampret lah.

Bulatan kertas yang ada ditangan, gue lempar ke si Adit. Sayangnya meleset dan mengenai kaca. Adit kemudian membalikkan badannya dan tertawa puas menatap gue yang kesal.

"Adit, antum suka sama Fajri? Noleh kebelakang mulu dari tadi"

"Hahaha". Gue tertawa puas mendengar dia dimarahin. Santri lainnya pun ikutan ketawa meski sebentar, terhenti karena melihat tatapan tajam Ustad Zaina ke sekeliling Suasana kembali hening.

Gue yang saat itu masih polos berasumsi bahwa ustad ini punya semacam kekuatan gitu. Makanya dengar langkahnya aja kami langsung bangun dari tidur, makanya lihat tatapan tajamnya aja kami langsung terdiam.

Gue yang asik menyimak penjelasan sang ustad yang lebih kedengaran kek ceramah. Tersentak oleh sentuhan tangan Fajri. Sorot matanya seolah bilang kalau Adit manggil gue. Gue pun menolah ke arah sana dan ternyata yang gue dapatkan adalah jari tengah.

"Fuck"

Bibirnya berkali-kali mengeja kata itu tanpa suara. Gak kapok kapok nih bocah, ujar gue dalam hati.

To be continued
Diubah oleh rennevarte
Baru nemu ini thread emoticon-Blue Guy Cendol (L)
semoga ini adalah drama dengan bumbu eksyen-semi-horor


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di