KOMUNITAS
Informasi! Kaskus Update Fitur Baru! Intip di Sini!
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Little Women, Buku Self Improvement Berwujud Novel
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a05cf721098135f2659fcd/little-women-buku-self-improvement-berwujud-novel

Little Women, Buku Self Improvement Berwujud Novel

Little Women, Buku Self Improvement Berwujud Novel

Judul : Little Women
Penulis : Louisa May Alcott
Tebal buku : 436 halaman
Penerbit : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka
ISBN : 978-602-402-168-9

Alasan membeli buku ini :
Waktu pertengahan tahun 2020, aku pergi ke toko buku Gunung Agung dan melihat ada judul novel yang tidak asing, karena setahuku novel itu sudah difilmkan jauh sejak bulan Februari. Tapi, alasan utamanya adalah aku tertarik karena di cover terpampang Emma Watson (salah satu pemeran Harry Potter favoritku). Selain itu, aku pun penasaran dengan judul novel tersebut. Meskipun begitu, lama sekali novel ini hanya bertengger di rak bukuku selama berbulan-bulan tanpa kusentuh. Hal itu disebabkan karena saat melihat profil penulisnya, ternyata Louisa lahir pada tanggal 29 November 1832. Otomatis aku terbayang bahwa buku ini memiliki gaya bahasa yang cukup berat karena termasuk novel sastra klasik dari abad 19.

Isi dari buku ini :
Tapi, setelah dibaca, ternyata Little Women ini sangat seru. Novel ini menceritakan kehidupan sederhana empat perempuan bersaudara. Awalnya, mereka adalah keluarga yang berada, hidup berkecukupan dan tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Namun, karena ayah mereka harus bertugas menjadi tentara perang, kehidupan mereka berubah drastis.

Di tengah adaptasi mereka dengan kehidupan yang kurang 'menyenangkan',
masing-masing dari mereka masih menggenggam ambisi tentang harapan yang mereka punya untuk masa depan. Di samping itu, keempat saudara ini memiliki sifat dan ciri khas masing-masing.

Yang pertama, ada kakak tertua yakni Margareth (Meg), usianya 16 tahun. Ia bekerja sebagai guru privat yang memiliki cita-cita menjadi perempuan kaya yang menikmati kemewahan duniawi. Ia begitu cantik dan senang berdandan. Namun, karena ia begitu miskin, Meg harus terus merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang punya banyak gaun bagus dan renda-renda baru. Sehari-hari, Meg mengeluh dan mengkhayalkan kemewahan itu.

Anak kedua, adalah Josephine (Jo) yang berusia 15 tahun. Ia berperangai tomboy, pecicilan, dan senang membaca dan menulis. Sehari-hari, ia bekerja untuk menemani Bibi March tua yang galak dan kasar. Ia bermimpi sebagai penulis hebat yang karyanya dikenal semua orang. Ia memiliki teman bernama Theodore Laurie yang merupakan tetangga laki-laki kaya yang kesepian.

Anak ketiga adalah Elizabeth (Beth), yang hanya tinggal di rumah karena tubuhnya kurang mampu untuk terlalu lincah. Jadi, ia dirawat oleh Ibunya dan mendapat pendidikan akademis dari Jo. Hobinya adalah bermain piano dan ia sangat pemalu.

Yang terakhir ada Amy. Ia adalah satu-satunya anak yang masih sanggup untuk bersekolah. Walaupun ia manja dan senang mengeluh, namun cita-cita terbesarnya adalah sebagai pelukis terkenal. Ia senang melukis dan berambisi sebagai seniman yang mampu dikenang.

Little Women menyuguhkan empat karakter berbeda yang menghadapi tantangan masing-masing. Mereka setiap hari bertahan hidup dengan mengerjakan pekerjaan yang mereka tak sukai. Mereka selalu mendambakan kehidupan yang lebih baik. Kegiatan mereka adalah memasak, berkebun, menjahit, atau melakukan hal-hal yang sebisa mungkin mengatasi rasa bosan mereka. Selain itu, harap-harap cemas mereka menunggu surat berisi kabar dari sang ayah.

Ibunya yang mereka panggil Marmee, adalah seorang wanita penyayang yang aktif mengedukasi anak-anaknya setiap hari. Marmee membimbing para gadis untuk menjadi seorang yang terhormat dan selalu bersyukur dengan takdir mereka.

Gaya bahasa :

Gaya bahasa klasik khas sang penulis begitu indah dan setiap kalimat dalam dialognya begitu menenangkan. Perlu tingkat fokus yang cukup tinggi jika ingin memahami secara mendalam setiap kata yang dituliskan di sana.

Kekurangan :

Little Women memang bukanlah sebuah cerita dengan konflik menantang seperti di novel-novel romance, thriller atau horror. Alurnya cenderung mengalir dengan perlahan dan menuntut para pembaca untuk lebih bersabar menikmati setiap kata yang ditata sang penulis. Pertengahan cerita agak membosankan, tapi jika diikuti lebih jauh, Little Women membuat betah semua yang membacanya.


Kelebihan :

Meskipun tidak ada masalah yang begitu klimaks, tapi Little Women bisa kusebut sebagai buku pengembangan diri dalam bentuk novel fiktif. Selain menikmati satu cerita yang menghangatkan, Little Women semacam buku tata cara untuk bersyukur, bertoleransi, menghormati setiap keputusan, hidup bersosialisasi, dan keunikan hidup intrapersonal.


Kesan :

Little Women mengajari para pembaca bagaimana keadaan pada abad ke 19 saat semua masih dalam situasi perang. Pergaulan pada masa itu begitu memperlihatkan strata sosial yang terlampau jelas. Pendidikan bagi wanita masih begitu langka, pekerja dini tidak asing, dan situasi perang masih menggebu-gebu—menimbulkan kecemasan tersendiri saat salah satu anggota keluarga berjuang membela negara.

Bahkan, salah satu pengulas di sebuah artikel berkata bahwa Alcott memang sangat sukses dengan karyanya ini. Dia membuktikan buku bagus tak harus berisi cerita bombastis. Kisah sehari-hari semisal intrik antarsaudara bisa menjadi konflik menarik. Transisi gadis remaja menjadi wanita dewasa ternyata seru untuk dibicarakan. Lebih jauh lagi, ada terselip perjuangan perempuan secara univ ersal.


Pesan :

Jadi, untuk para pembaca yang mendambakan alur yang meledak-ledak, kusarankan untuk tidak berharap dengan novel yang satu ini. Tapi, jika sesekali ingin mengisi waktu luang dengan mengambil banyak pelajaran berharga dari suatu novel dengan sudut pandang yang berbeda, Little Women adalah pilihan yang tepat. Kita akan belajar banyak dari keempat saudari yang belajar banyak dalam kehidupannya. Keseruan Little Women berhasil menjadikannya sebagai film yang wajib ditonton oleh semua orang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mashbrow dan 2 lainnya memberi reputasi
sampulnya mirip sama pemain filmnya. sebenernya enggak happy ending di film tapi publishernya minta diubah biar menjual
profile-picture
muthialaqilah memberi reputasi


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di